Kamis, 03 Juni 2010

Dakota

Tertanggal 28 Mei 2010 hari Jumat, saya bersama kawan-kawan sekelas bertolak menuju Jakarta. Tujuannya untuk mengisi waktu libur. Acara itu sebenarnya terselenggara atas nama Himaiko, tapi yang hadir ternyata hanya teman-teman IKK 44, ya sudah tidak apa-apa, mari berangkat.

Untuk selanjutnya, kita bercerita bersama foto. Let’s go!


Menuju kereta


perspektif burung


Menjual ilmu




Ini adalah anak pertama yang kami temui selama perjalanan. Hari itu perjalanan kami di kereta diwarnai tingkah unik para manusia sensori motor.


Setelah turun dari kereta, si anak diserbu para calon ibu.


titik hilang


rel cahaya


Untuk menuju monas, kami memilih berjalan kaki dari stasiun. Fenomena unik pertama diperlihatkan foto bertajuk “hold my hand” diatas. Ayo tebak, siapa mereka?


Anak pinggiran


Gerobak vitamin


Taman kontemplasi


Reparasi


Si roda tiga


Gerbang monumen


Miniatur


Dalam lorong


Si monas


Plasa diorama


Observasi Pak haji


Dua sejoli ini batal mengantri dan menjual tiketnya kepada kami. Tentu kami menolak, karena kami pun sudah membeli di loket resmi. Ternyata antrian sangat panjang, kami batal manuju puncak. Sepertinya dua sejoli itu juga malas mengantri.




Sang penjaja




Bapak ini dengan menggebu-gebu memberi pemaparan tentang teks proklamasi yang terpampang di belakangnya. Aura optimisme saya rasakan dari gaya bahasanya. Dia terlihat menikmati pekerjaannya.


Sekembali dari monumen, kami menemukan pasangan muda ini. Saya teringat kedua orang tua sewaktu saya kecil. Mereka selalu mengajak saya dan adik bermain ke tempat wisata, meskipun saya yakin mereka tahu repotnya membawa anak kecil bermain dengan menaiki kendaraan umum. Ode untuk orangtuaku, untuk para orang tua yang rela berpeluh demi warna ceria masa kecil anaknya.


Masih ingat mereka berdua? Ada yang sudah tau siapa mereka? Betul sekali, mereka adalah adik Isty dan pacarnya. Lengket sekali mereka berdua.


Di bawah monas, kami berkeliling dengan kereta. Di perjalanan, ada sekelompok manusia berkostum aneh. Sepertinya mereka musisi yang menjaga aksen visual biar terkesan betawi.


Selepas berkeliling, saya memotret rumput yang menyeret saya ke masa lalu. Rumput jenis ini adalah jenis rumput yang biasa saya injak sewaktu kecil. Waktu itu lahan bermain saya adalah halaman kantor balai desa yang asri. Disana saya mengamati ulat pohon beringin, memetik kepompong dan memecahnya hingga si calon kupu-kupu batal sempurna, bermain bola hingga memecahkan kaca, bermain petak umpet, dll. Sekarang pohon beringin itu tak lagi rimbun, mereka menebangnya hingga cabang. Tawa anak seusia SD tak lagi terdengar, entah dimana kini mereka bermain.


Kedua ekspatriat ini sedang asyik membaca dibawah rindang pohon. Mari membaca!


Waktu dzuhur tiba, saatnya saya dan Agus menghadiri majelis Jumat. Di halaman masjid kebanggaan Indonesia itu terdapat air mancur yang tetesan airnya tertiup angin hingga luar masjid dan terasa menyegarkan.


Koridor istiqlal


Mirip kuil arthemis


Kiddy on mosque


Sujud dzuhur


Monas dari istiqlal


Dari istiqlal, kami beranjak menuju kota tua. Tapi sebelumnya, perut kami akan diisi di atrium. Untuk menuju kesana, kami menaiki busway. Hari itu seluruh petugas pintu bis memakai busana ala muslim/betawi. What a beautiful, I love Indonesia.


Siang itu bis penuh, kami tak mendapat kesempatan duduk. Ada ruang kosong di samping supir, saya pun menuju kesana. Ternyata supir bis kami adalah seorang wanita. Sepertinya tak relevan lagi jika urusan mengemudi mobil identik dengan kaum adam.


Kami pun berhenti di sebuah halte untuk transit. Dari halte itu, terlihat sebuah plang ajakan untuk menghadiri semacam acara dakwah.


Ternyata, tepat di seberang plang dakwah itu, terpampang “Rayuan Arwah Penasaran”, “Akibat Pergaulan Bebas”, “Ratu Kost” dan “Roman Picisan”. What a contrary!


Souvenir asongan


Di bis selanjutnya kami mendapat tempat duduk. Sudah baca novel Supernova: Akar? Masih ingat tokoh Body? Si budhis ahli tato itu kini tertidur di samping saya.haha


Setelah tiba di halte atrium, kami dikejutkan dengan hilangnya ponsel De Tika. Figur diatas menggambarkan suasana saat Isti melapor ke petugas halte.


Petugas itu bersedia membantu. Sementara menunggu kabar, kami makan di atrium senen. Rasa sesal dan haru tak bisa disembunyikan De Tika. Dengan penuh rasa sabar, kakaknya berusaha menenangkan. Nampaknya Isti sudah mampu menerapkan ilmu manajemen sumber daya keluarga yang ia pelajari di bangku kuliah. Alih-alih rasa haru yang berlarut, makan siang kami dihiasi hikmah.


Kota tua adalah tujuan kami selanjutnya. Sepertinya stasiun kota diatas adalah stasiun terindah di Indonesia.


Akurasi


Sidewalk


Jika ada pre-wedding (pra-nikah), adakah pra-kawin?










Skaters


Tiga dara bercengkrama


Rotten beauty


Kartu: mainan kami kini




The show


Romantika onthel


Sinden leseh




Waktu maghrib pun tiba, kami bergegas pulang.


Standing sleep




Seperti yang saya katakan di awal, perjalanan kereta kami dihiasi manisnya para juvenil. Gadis kecil itu kerap terlihat sedang memperhatikan kami yang riuh berbincang. Sesekali ia menirukan gerakan yang dilakukan Ila.




Akhirnya Ila menyapa anak itu. Ternyata dia komunikatif. Tak lama, mereka pun larut dalam keakraban.


Anak ini sedang melakukan eksplorasi tentang cara kerja pintu kereta. Beruntung orang tuanya mendampingi, tidak melarang.


Farewell




Keluarga ini adalah potret menarik tentang sikap keluarga yang menerima kekurangan anaknya. Seorang ibu duduk di samping saya, suaminya berdiri di sisi lain. Kedua anaknya menghambur, satu orang menuju ibu, sementara yang lain menggapai ayah. Anak yang memakai sepatu boots biru terlihat seperti anak berusia sekitar 4 tahun dengan tampilan fisik biasa namun penuh keingintahuan. Ia tak henti bertanya berbagai hal kepada ibunya. Namun sayang sang ibu melarang. Akhirnya sikap kritis anaknya mati dalam lelap tidur. Lain halnya dengan anak lain yang berbincang dengan ayahnya. Meski terlihat mengidap sebuah kelainan, anak itu bersikap tak jauh berbeda dengan saudaranya. Dia beruntung karena sang ayah dengan senang hati menjawab tiap butir keingintahuannya. Respon itulah yang seharusnya dilakukan tiap orang tua dalam menghadapi anaknya yang haus ilmu.


akhirnya kami tiba kembali di Bogor.

Rabu, 26 Mei 2010

UN Bukan Segalanya

Beberapa waktu lalu, kita disibukkan sama Ujian Nasional (UN). Hasil ujian yang wajib diikuti siswa SMA tingkat akhir itu pun mencengangkan. Nilai kelulusan di beberapa SMA bahkan sangat jeblok. Beberapa teman kita disana terpaksa menelan kenyataan pahit bahwa mereka dinyatakan gagal dan harus mengikuti ujian ulang. Bayangkan kalau kamu jadi mereka, pasti sakit banget. Proses edukasi yang dijalani tiga tahun ternyata ditentukan oleh beberapa jam di akhir masa studi. Tapi ga lulus UN bukan berarti hidup kita ga ada gunanya lagi. Itu hanya penilaian yang ga mewakili kualitas seorang siswa secara keseluruhan.

Dalam sebuah buku bertajuk Pendidikan Holistik yang ditulis oleh Ratna Megawangi dkk., terdapat fakta yang menyatakan bahwa seorang ahli bernama George Boggs mendapati 13 indikator penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja. Ternyata dari ketigabelas indikator itu, 10 diantaranya (77%) adalah kualitas karakter seseorang, sementara hanya 3 indikator saja (23%) yang berkaitan dengan faktor kecerdasan. Indikator-indikator itu adalah:
1. Jujur dan dapat diandalkan
2. Bisa dipecaya dan tepat waktu
3. Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
4. Bisa bekerjasama dengan atasan
5. Bisa menerima dan menjalankan kewajiban
6. Mempunyai motivasi kuat untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri
7. Berpikir bahwa dirinya berharga
8. Bisa berkomunikasi danmendengarkan secara efektif
9. Bisa bekerja mandiri
10. Dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya
11. Mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan)
12. Bisa membaca dengan pemahaman yang memadai
13. Mengerti dasar-dasar matematika (menghitung)

Tiga indikator terakhir adalah kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan intelektual yang biasa ditonjolkan dalam proses belajar-mengajar secara tradisional. Artinya, selain kecerdasan intelektual yang kita peroleh dari sekolah, kita perlu diperkaya tujuh bumbu lagi agar bisa sukses. Lalu apa hubungannya sama UN? Setelah baca kriteria orang sukses diatas, sekarang kita tahu bahwa UN hanya mengukur nilai kemampuan kita di tiga hal terakhir tadi. Jadi lulus UN tanpa kualitas karakter yang baik bukan jaminan kita jadi sukses.

Seorang ilmuwan yang bernama Howard Gardner menyatakan bahwa manusia sebenarnya punya 9 jenis kecerdasan. Kesembilan aspek kecerdasan itu adalah:
1. Kecerdasan linguistik
2. Kecerdasan logika mateatis
3. Kecerdasan spasial
4. Kecerdasan kinestetik
5. Kecerdasan musikal
6. Kecerdasan interpersonal
7. Kecerdasan intrapersonal
8. Kecerdasan naturalis
9. Kecerdasan spiritual

Howard Gardner juga berpendapat bahwa kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan dan dapat menghasilkan barang atau jasa yang berguna dalam berbagai aspek kehidupan. Manusia yang berguna bagi masyarakat adalah mereka yang memiliki kesembilan aspek kecerdasan diatas dalam kadar yang seimbang. Hal itu bertolak belakang dengan konsep cerdas yang biasa kita anut berdasarkan perolehan IQ yang sebenarnya hanya mengukur 2 atau 3 aspek kecerdasan. Jadi, tidak lulus UN bukan jaminan seorang siswa akan gagal, karena tiap manusia dibekali bakat dan potensi unik dalam bidangnya tersendiri. Setidaknya masih ada beberapa kecerdasan lain yang bisa dikembangkan agar kita menjadi manusia yang benar-benar berguna bagi nusa dan bangsa.

Kamis, 20 Mei 2010

Unholy Vein

















































Akhirnya....setelah hampir 3 tahun hidup di IPB. Alhamdulillah!

Jumat, 14 Mei 2010

Mari Berpesta Sekuat Tenaga

Hujan membasahi Ampera Raya saat harusnya acara sudah dimulai. God bless rock n roll! Meskipun deras, tak lama rintik di siang itu reda jua. Setelah jeda cukup panjang pasca hujan, akhirnya gelaran rilis edisi terbaru Rolling Stone itu dimulai. Adalah Dead Squad, performer pertama yang berlaga di panggung besar Rolling Stone Live Venue. Empat lagu mereka gaungkan di hadapan audiens yang mayoritas terdiri dari kamtis (fans Endank Soekamti) dari berbagai daerah. Di awal acara, Soleh Solihun yang menjabat MC di acara ROLLING STONE Release Party edisi Mei 2010 itu sempat melontarkan beberapa lelucon yang diantaranya membahas eksistensi golongan sayap kanan di kancah politik negeri ini. Di lagu ketiganya, Dead Squad menjawab topik itu. “Lagu ini adalah bentuk pernyataan negasi kami atas pembenaran sepihak yang sering dilontarkan golongan sayap kanan,” demikian kelakar juru vokal band yang pernah dihuni Prisa Adinda itu.

Usai Dead Squad menunaikan aksinya, “Mars Kamtis” spontan bergema. Akhirnya trio humoris asal Jogja itu naik ke singgasana pesta. Kor-kor melodius macam “Mari Bercinta”, “Bau Mulut”, “Asu Tenanan” hingga “Go Skate! Go Green!” dengan syahdu mereka dendangkan. Aksi stage diving para kamtis menjadi fenomena banal di rentang penampilan Endank Soekamti. Sesekali dialog komedi Erick dan Dori menjadi selingan antar lagu. Hanya Ari yang tutup mulut dan terlihat khusyuk dengan drumset-nya. Spanduk-spanduk kamtis yang semula terpajang di penjuru arena pesta mulai bertanggalan usai Endank Soekamti pamit. Moshpit pun menyisakan spasi renggang setelah para kamtis turut idolanya meninggalkan Ampera Raya Nomor 16.

Selama dua band pertama menebar gema, seorang pria berambut panjang tampak asik dengan kameranya. Dialah Richard Mutter, drummer Pas Band semasa “Four Through The Sap” hingga “Psycho ID”. Bada Dead Squad dan Endank Soekamti, drummer legendaris itu ambil giliran unjuk taring bersama bandnya, Getah. Lirik–lirik ilahiah khas musik metal mereka dendangkan dengan penuh penghayatan. Selain aksi panggung yang berkesan mistis, hal unik lain dari penampilan Getah sore itu adalah cara Peter Mekel menekan fret gitar les paul yang dimainkannya. Satu-satunya gitaris di band itu beraksi dengan teknik yang serupa dengan cara Moldy Radja memainkan gitar.

Di akhir acara, giliran The Brandals menggeber melodi. Kombinasi flip-flop Toni dan PM serta setting snare drum Rully Annash tetap menjadi warna khas dalam aksi The Brandals. Pilihan lagu yang mereka bawa pun lebih aktual. Nomor-nomor monumental macam “Lingkar Labirin” atau “100 km/jam” tak terdengar hingga ujung performa. Beberapa saat sebelum kumandang adzan maghrib terdengar, acara bulanan ROLLING STONE ini pun usai. Momen bulanan edisi Mei ini, selain dihadiri para insan musik, juga dihadiri sineas Rudi Sujarwo yang tampak bersama anaknya. Bahkan keluarga PM hadir pula dan kompak menikmati aksi The Brandals.


"Hiperbola Dogma Monotheis", demikian tajuk komentar mereka untuk para sayap kanan


Mari berpacu dalam melodic


Getah Hell Yeah


Endah N Rheza


Mari bercinta sekuat tenaga. toss!!


Wuuuuuhuuuu