Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2015

Pelajaran Dari Kelas Angkatan 92


Saya baru khatam menonton sebuah film dokumenter, judulnya The Class of 92. Film ini berkisah tentang 6 orang pemain bola tim Manchester United yang direkrut divisi pengembangan pemain baru pada tahun 1992. Mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Gary Neville, Philip Neville dan Nicky Butt. Keenam orang ini, tujuh tahun setelah mereka merumput bersama, meraih gelar treble winner. Gelar itu disematkan bagi tim yang berhasil meraih juara di tiga kompetisi besar.

Saya suka film ini karena ia begitu intim dengan penontonnya. Maksud saya, pembawaannya seperti reuni para bintang lapangan itu setelah mereka lama tak berjumpa dan bahkan lama pula tak duduk di bangku yang biasa mereka gunakan untuk berganti kostum. Yang juga menarik, berbagai hal yang terjadi di lapangan kala mereka aktif bermain, diungkap satu per satu, dan dikomentari juga oleh tokoh lain di luar enam orang itu. Ada Mani basis band Stone Roses yang jadi penegas bahwa kota bandnya dan Manchester United bagaikan senar dan tala, atau gawang dan jala. Simak juga tuturan Zinedine Zidane yang mengomentari kawanan itu sebagai sesama pemain bola dari luar Inggris Raya. Tony Blair pun turut serta. Mantan perdana menteri Inggris itu memperhatikan betul bagaimana dinamika si setan merah saat para punggawa Kelas Angkatan 92 itu sama-sama dewasa.

Selain mengulas laga krusial ketika mereka meraih tiga tropi sekaligus, satu per satu personil kelas itu memperkenalkan diri dan dikenalkan teman-temannya. Tiap pemain punya ciri khasnya sendiri. Scholes yang ulung mengumpan, Giggs yang tak lelah bermain hingga 15 tahun setelah Platini pensiun (si pemilik tendangan kung fu ini juga jadi narasumber), hingga Beckham yang dijuluki si pria cantik (pretty boy).

Khusus tentang Beckham, saya merasa setuju dengan komentar Zidane bahwa suami Victoria eks-biduan di kelompok Spice Girls itu memang sepertinya rendah hati. Zidane bilang bahwa Becks selalu memperlakukan orang setara. Saya bisa merasakan dari suara dan cara bicaranya. Tapi entahlah. Yang jelas Becks ini mengingatkan saya ke buku Pandji Pragiwaksono dan pernyataan petinju Mohamad Ali.

Beberapa hari lalu saya baru baca buku Indipreneur, buku tentang cara hidup insan kreatif yang ingin bertahan dengan karyanya. Buku buatan Pandji Pragiwaksono itu begitu kaya informasi. Dalam bukunya ini ia merumuskan delapan hal penting yang jadi komponen kesuksekan mandiri dari karya sendiri. Yang pertama produk. Agar seorang seniman sintas, tentu ia harus punya produk yang bagus. Agar produk kita bagus, latihan rutin jadi syarat utama. Pandji mencontohkan Kobe Brant yang latihan teknik dasar basket 6 jam selama enam hari, hingga Lil Wayne yang selalu melatih bernyanyi hiphop tanpa lirik. Dalam film The Class of 92, diungkaplah bahwa rahasia dibalik tembakan akurat Beckham, adalah latihan rutin. Saya kemudian teringat ke sebuah poster bergambar petinju Mohamad Ali yang tegak memandangi lawannya yang tumbang. Di bagian kanannya tertulis: i hated every minute of training, but I said, "Don't quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion. []


Kamis, 07 Mei 2015

Mary Jane Veloso dan Film Tentang Hukuman Mati

Kemarahan Jelang Vonis Mati
Tahukah kamu, bahwa dalam proses persidangan di Amerika Serikat, hakim dibantu oleh juri. Sejak tahun 1898, Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa dewan juri harus terdiri dari setidaknya 12 orang. Mereka nantinya berdiskusi untuk memberikan masukan putusan kepada hakim sehingga putusan hakim benar-benar tepat. Para anggota juri adalah warga yang tinggal di daerah yurisdiksi pengadilan. Mereka memantau jalannya sidang sejak awal. Semua keterangan saksi, tuntutan jaksa dan pembelaan pengacara juga disimak untuk jadi bekal mereka merumuskan rekomendasi kepada hakim. Sebuah rekomendasi tim juri baru bisa diputuskan jika semua anggota setuju atas sebuah pendapat. Pada tahun 1970, Mahkamah Agung menyatakan bahwa angka 12 orang juri tersebut adalah kecelakaan sejarah, sehingga selanjutnya jumlah juri hanya 6 orang agar pengambilan keputusan lebih efektif dan efisien. Tantangan untuk bersatu suara dalam sebuah tim juri, tergambar menarik di film rilisan tahun 1957 berjudul 12 Angry Men.


Twelve Angry Men berkisah tentang perdebatan tim juri untuk memutuskan apakah mereka akan merekomendasikan ke hakim bahwa seorang pria 18 tahun benar-benar bersalah atas pembunuhan ayahnya. Jika mereka merekomendasikan bahwa anak itu memang bersalah, maka ia lebih rentan berakhir di kursi listrik untuk dihukum mati. Pengambilan keputusan tersebut sangat penting karena selain menentukan hidup atau matinya seseorang, terpidana yang dibincangkan ini usianya masih muda, meski pun memang sudah cukup dewasa. Saya jadi ingat kasus Yusman Telaumbanua, seorang terpidana mati pembunuhan asal Nias, Sumatera Utara. Ada simpang siur tentang usia Yusman. Sebuah dokumen menyatakan bahwa ia divonis mati ketika masih berstatus anak-anak. Sementara data lain justru menunjukkan bahwa usianya sudah 18 tahun ketika divonis, sehingga putusan itu wajar karena Yusman sudah dewasa. Baiklah kita lupakan dulu kisah Yusman.

Di film 12 Angry Men, alkisah sebuah pemungutan suara digelar. Sebelas dari dua belas orang juri sepakat bahwa si anak bersalah. Dasarnya, si anak adalah korban perceraian dan tinggal di daerah kumuh, sehingga stigma negatif atas dirinya kemudian melekat. Selain itu semua keterangan saksi di persidangan juga menguatkan dugaan bahwa si anak itulah yang membunuh ayahnya sendiri. Namun, ada seorang juri yang berbeda pendapat. Ia tak yakin bahwa si anak bersalah atas kematian ayahnya. Selama sekitar satu setengah jam, film ini kemudian bergulir mengisahkan perubahan keputusan bahwa si anak tak bersalah. Dari awalnya cuma satu orang, sampai semua setuju dengan pendapat itu berdasarkan fakta dan analisa yang didiskusikan bersama. Meski hanya berlatar suasana sebuah ruangan berisi meja dan kursi, film ini tetap menarik. Apalagi relevan dengan kondisi kekinian di jagat pemberitaan Indonesia.


Vonis Mati Mary Jane Veloso


Beberapa waktu lalu, Kejaksaan Agung RI mengeksekusi mati sejumlah terpidana mati kasus narkoba. Pada menit-menit terakhir, seorang terpidana bebas dari vonis tersebut. Saya jadi membayangkan, jangan-jangan suasana penundaan eksekusi Mary Jane Fiesta Veloso sedemikian sengit juga. Lalu benarkah Mary Jane layak selamat karena dia "cuma" kurier dan korban perdagangan manusia? Saya akan coba paparkan informasi yang sejauh ini saya ketahui.


Mary Jane Fiesta Veloso tertangkap membawa 2,6 kilogram sabu ketika "berlibur" di Yogyakarta. Barang haram yang dibawanya terdeteksi petugas bea cukai bandara Adi Sucipto. Enam bulan kemudian, wanita wanita asal Filipina ini divonis mati. Semua upaya hukum untuk meringankan vonisnya tak mampu membuat putusan itu berubah. Pada menit-menit terakhir ekskusi matinya, Mary Jane selamat. Vonisnya ditangguhkan karena keterangan Mary Jane diperlukan untuk mengungkap kasus perdagangan manusia yang diduga melibatkannya. Anehnya (atau uniknya), pembatalan vonis mati itu terjadi setelah penyerahandirian seorang bernama Maria Kristina Sergio yang mengaku orang di balik nasib sial yang menimpa Mary Jane. Benarkah Mary Jane Veloso korban perdagangan manusia? Betulkah ia "cuma" kurir dalam kasus penyelundupan narkoba itu? Layakkah Mary Jane tak dihukum mati? Mari kita cermati fakta-fakta berikut ini.


Sebelum tertangkap di Yogyakarta, Mary Jane bekerja di Malaysia. Maria Kristina Sergio-lah yang menawari Jane bekerja di Malaysia dan mengantarkan sebuah barang ke Yogyakarta. Setahun sebelumnya, ibu dua anak ini bekerja di Dubai. Di sana, ia jadi korban kekerasan seksual. Sebulan setelah dirawat di rumah sakit di Dubai, ia kembali ke Esguerra, Filipina. Bersama Michael Candelaria, suaminya, Mary Jane membeli becak motor dan menjual perabot rumah tangga. Sayangnya usaha itu cuma bertahan dua bulan. Jane kemudian ditawari tetangganya, Maria Kristina Sergio untuk bekerja di Malaysia. Pada 21 April 2010, mereka pun tiba di Malaysia. Tiga hari setelahnya, Mary diminta pergi ke Yogyakarta untuk memberikan sebuah tas kepada kepada seseorang bernama Ibon. Setibanya di bandara Adi Sucipto itulah, tas yang dibawa Mary Jane ternyata berisi 2,6 kilogram sabu.




Mary Jane kemudian menempuh jalur hukum agar dirinya bebas. Ternyata selama proses persidangan itu, Jane yang hanya bisa berbahasa tagalog (saat diwawancara Metro TV pasca hukuman matinya ditunda, Jane sudah bisa berbahasa Indonesia) didampingi penerjemah bahasa inggris (saya juga heran apa benar ini terjadi?). Dengan demikian, penyesalan Jane di hadapan hakim malah ditafsirkan pengakuan wanita 44 tahun itu atas barang haram yang dibawanya. Pemerintah Filipina pun baru mendampingi Jane saat ia menempuh peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.

Di bagian lain tempat Mary Jane tertangkap tangan menyelundupkan narkoba, Maria Kristina kembali ke Filipina. Ia berjanji kepada keluarga Veloso untuk mengganti kerugian finansial akibat keterlibatan Jane dalam kasus narkoba yang disulutnya. Namun nyatanya, janji itu tak pernah menjadi nyata. Malah ia melanjutkan perekrutan pekerja migran lain di daerah tinggalnya. Entah apa yang lalu mengubah jalan pikiran di otak Maria Kristina, menjelang eksekusi mati Mary Jane dilaksanakan, ia menyerahkan diri ke polisi di Filipina. Presiden Filipina pun langsung berkomunikasi dengan presiden Indonesia agar eksekusi mati terhadap Jane ditahan karena keterangannya diperlukan untuk mengusut kasus perdagangan manusia.

Kalau kita berpatokan ke kronologi di atas, nampaknya memang sepertinya Jane cuma korban. Tapi kenapa protes hukuman matinya baru dilakukan sekarang? Bukan ketika proses hukum masih berjalan? Itu juga pertanyaan yang diakui ditanyakan Jokowi, bahkan ke presiden Filipina-nya langsung. Tunggu, jangan-jangan Mary Jane cuma mengaku korban. Toh kata Sutarto Tri Antoro, petugas bea cukai yang memeriksa tas Mary Jane saat pertama kali ia tertangkap, ia kooperatif dan terkesan seperti memang tak mengetahui bahwa tasnya berisi sabu. Tapi, menurut orang yang sama, gelagat itu memang prosedur standar para penyelundup narkoba.


Sekarang mari kita simak analisa kepribadian seorang Mary Jane Veloso menurut ilmu grafologi. Grafologi adalah ilmu membaca karatker seseorang berdasarkan tulisan tangannya. Berdasarkan analisa grafolog Deborah Dewi, Mary Jane tak sebaik yang dicitrakan. Bahkan anggota American Handwriting Analysis Foundation ini berani bertaruh pensiun dari profesinya sebagai grafolog. Menurutnya, jika Mary Jane dibebaskan dan selama tulisan tangannya masih sama seperti ketika ia menulis surat permintaan pengampunan hukuman mati, ia bisa 10 kali lebih gila pergerakannya. Kata Debo, Mary Jane adalah seorang dangerous trouble maker. Berdasarkan analisa tulisan tangannya, ia memiliki kemampuan kontrol moral yang rendah. Artinya, ia berpikir yang penting senang dulu, urusan moral belakangan.


Nah, menurut kamu apakah Mary Jane layak mendapat pembebasan? Atau tetap divonis tapi bukan dimatikan? Apa pun itu, semoga keputusan pemerintah Indonesia benar-benar berdasarkan fakta dan analisa yang tepat. Tapi sejauh ini sih, jaksa agung masih bilang bahwa vonis mati Mary Jane bukan dibatalkan, tapi diundur. Kita tunggu kelanjutan kisahnya. []

Jumat, 24 April 2015

Tentang Passion, Gairah, Ketertarikan, atau Sesuatu yang Sejenis Dengannya

Kisah Tukang Cukur

Hari ini saya bercukur di tempat yang baru. Baru dua kali saya potong rambut di sana. Saya puas dengan karya tukang cukurnya. Sebenarnya saya tak terlalu mengerti mode dan muka saya entah sebaiknya dipasangkan dengan potongan rambut seperti apa. Tapi yang jelas, berpangkas di tempat itu membuat saya percaya diri. Bukan hanya soal potongan rambutnya, tapi juga penjelasan tukang cukur yang meyakinkan. Si tukang cukur yang saya maksud mulutnya besar. Dia banyak bicara. Bicaranya hiperbolik, sekaligus sinikal. Bukan sekali-dua kali dia menjelek-jelekkan barber shop sebelah. Tapi memang penjelasannya meyakinkan. Saya akan kisahkan buat kamu sebuah potongan pembicaraan kami.

Suatu hari dia menangani seorang klien yang ingin potongan rambutnya bagus. Mereka bertaruh. Kalau potongannya bagus, si pelanggan harus bayar 10 kali lipat, kalau jelek gratis. Singkat kisah dibilang baguslah gaya si pelanggan itu. Lalu dia memaksa agar si akang pencukur menerima uang itu. Sok-sok menolak, akhirnya dia mengaku terima juga. “Padahal bercanda”, ujarnya berkilah.
Si Aa ini orang Cibatu. Semua orang tahu lah biasanya tukang cukur itu orang Garut. Haha. Saya tanya, kenapa ya kira-kira? Si Aa bilang gak ada rahasia khusus. Cuma memang dia tertarik aja di sana, dan merasa berbakat dan dilahirkan untuk profesi itu. Menurutnya, ia mengerjakan karya seni. Siapa nama dia? Saya lupa. Haha. Tempat cukurnya namanya apa? Saya gak mau sebut entar dikira ngiklan. Tapi dia bilang rambut saya bisa lurus setelah empat kali cukur. Ini baru dua kali. Hahaha.
Jadi pembicaraan kami nyambung karena permintaan saya saat pertama cukur pas dengan apa yang ia harapkan. Dia merasa dipercaya ketika saya bertanya. Saya tanya, kalau rambut keriting begini baiknya diapakan. Dia jawab diluruskan. Saya tanya dong, emang bisa? Nah kalau ternyata bisa baru saya sebut nama barber shop-nya. Haha.

Filosofi Kopi


Ketertarikan Si Aa tadi dengan profesinya, mengingatkan saya ke film Filosofi Kopi. Film itu berkisah tentang nyawa yang sama: passion, gairah, atau hal semacam itu. Alkisah Ben adalah seorang barista. Ia bersahabat dengan Jodi, pemilik cafĂ© tempat Ben meracik kopi. Mereka sedang butuh suntikan dana. Kemudian sebuah kesempatan datang. Mereka ditantang untuk membuat kopi terenak, lalu tercipatalah racikan kopi bernama Ben’s Perfecto. Ternyata si perfecto itu bukan yang terenak. Seorang food blogger bernama El mengabarkan bahwa masih ada kopi tiwus, yang lebih enak. Ternyata, jenis-jenis kopi tersebut berkaitan dengan masa lalu tokoh-tokoh di film itu.

Menarik sekali menyaksikan film ini. Jalinan kisahnya indah. Akting para pemainnya brilian. Tokoh Ben ini gila juga sih kalo memang ada. Haha. Dia adalah anak seorang petani kopi di Lampung. Lalu pasca kematian ibunya, ia tiba-tiba diharamkan berhubungan dengan kopi, seperti putri tidur yang dilarang memintal benang. Ben lalu kabur dari rumah dan tidak pulang selama 18 tahun. Bayangkan saudara, 18 tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu Ben hidup bersama keluarga Jodi. Saya sih berharap kisah Ben kecil yang akhirnya diasuh ayah Jodi bisa dibuat film pendeknya, untuk melengkapi potongan tanggung itu.

Yang juga mengesankan adalah , scoring musiknya. Aduhai indah sekali. Jika suatu hari nanti Glenn Fredly berkolaborasi lagi bersama Angga Sasongko, maka hasilnya berstatus wajib dinikmati. Kolaborasi keduanya bermula sejak film Beta Maluku yang juara FFI itu. Kalau kamu sudah nonton Beta Maluku, pasti tahu dong sama Salembe. Nah di film Filosofi Kopi, dia tampil secara cameo. Entah memang demikian yang terjadi di dunia nyata atau itu sindiran. Salembe yang anggota skuad timnas U19 itu, menggandeng seorang wanita cantik di warung kopi Filosofi Kopi. Cihuy.

Buku Rene Suhardono


Hari ini petualangan saya juga nyangkut di sebuah toko buku. Saya tertahan di sebuah judul buku karangan Rene Suhardono dan timnya. Ia menulis sesuatu tentang karir dan gairah terhadap sebuah topic. Judul bukunya #passion2performance. Isinya tentang survey terhadap perusahaan-perusahaan yang pimpinannya sempat mengalami dinamika ketertarikan terhadap topic yang mereka geluti hari ini. Menarik sih isinya. Intinya yang saya ingat, passion itu ibarat biji. Nah biji itu akan berbuah dalam wujud karya. Jadi marilah kita berkarya sesuai ketertarikan kita. Rene dan timnya menarik topic itu dalam konteks perusahaan. Jadi ada juga pembahasan tentang perusahaan-perusahaan yang kebijakannya bisa dicontoh agar performanya maksimal. Kamu tertarik dengan pembahasan detil tentang itu? Segeralah cari buku terbaru buatan Rene dan tim Impact Factory itu.

Rabu, 08 Mei 2013

Kapan Terakhir Kali Kamu Pulang dan Menikmati Waktu Sama Keluarga?


Dua minggu setelah pulang ke rumah, saya balik lagi kesana. Padahal biasanya saya pulang ga sedekat itu jeda waktunya, rata-rata satu sampe dua bulan sekali lah. Kali ini saya pulang demi momen yang pas. Adik saya Rizki pulang juga, dan adik terkecil saya Sofi berulang tahun ke-10.

Di tengah ritual ngobrol kami malam itu, Bapak tanya, apa yang bikin saya perlu atau pengen pulang. Kata saya, salah satunya buat ingetin diri sendiri siapa saya sebenarnya, dari mana saya berasal, biar ga lupa diri. Singkatnya sih itu, dan saya selalu menyesal karena kurang maksimal memanfaatkan waktu sama keluarga. Rasanya malam itu saya harusnya matikan TV dulu, tinggalkan dulu komputer tablet, malah rasanya selama di rumah saya ga mau tidur, sayang kalo waktu disana ga dinikmati.

Balik lagi ke pertanyaan Bapak. Sebenarnya saya punya teori lain yang mendorong buat berusaha tetap intim sama keluarga. Tahun 2012 lalu ada penelitian buat cari tau warga negara mana yang paling bahagia di dunia. Saya lupa negara mana yang juara satu, tapi yang mencengangkan, Singapura dapet posisi bontot. Gimana ga aneh, Singapura kan negara sejahtera. Fasilitas lengkap, masyarakatnya teratur. Apa lagi coba yang kurang? Ternyata, penduduk negara kota itu merasa terbebani karena harus hidup sempurna, harus tertib dan teratur sampai kebutuhan diri sendiri dikorbankan. Saya pikir ada untungnya juga negara kita agak semrawut. Di jalan raya deh contohnya. Berarti kan ada yang "bahagia" dengan melanggar tata tertib karena ego pribadinya terpuaskan, meskipun ada juga yang ga bahagia karena dirugikan. Toh ada yang bahagia, beda sama orang Singapur yang ga bahagia "semua". Hehe. Lumayan, Indonesia ada di urutan 19. Nah posisi papan atas, ditempati negara-negara Amerika Latin. Mereka dapet skor bahagia tinggi karena kebiasaan mereka kumpul sama keluarga. Dengan demikian, jelas sudah posisi keluarga dalam indeks kebahagiaan kita. Maka berkeluargalah. Hehe.


Urgensi menjalin intimasi sama keluarga juga disadari presiden Amerika Barrack Obama. Dalam salah kampanye si pewujud mimpi Marthin Luther King Jr itu, Obama bilang "back to family values". Obama sadar bahwa keluarga punya posisi vital dalam pembentukan individu. Pesan untuk kembali ke keluarga juga dikisahkan Iwan Setiawan melalui novel dan film 9 Autumns 10 Summers. Saya sih belum nonton film dan belum baca bukunya, tapi kan bocorannya udah bocor banget. Iwan meninggalkan tahta empuknya di kota big apple dan kembali ke kota apel demi pulang ke keluarganya. Seperti yang dituturkan Iwan di program 360 Metro TV, dia mengaku menghabiskan dua tahun terbaik dalam hidupnya sebelum sang ayah berpulang. Pemeran Iwan di film itu, Ihsan Tarore, juga berharap dalam wawancaranya dengan Yasir Neneama, bahwa setelah menonton film itu, minimal kita angkat telpon dan tanya apa kabar ke orang rumah. Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali kamu pulang dan menikmati waktu sama keluarga? :)

Jumat, 08 Februari 2013

Antara Anis Matta, PKS, Konspirasi dan 1 Milyar


Pasca pamor Partai Keadilan Sejahtera disinyalir turun akibat kasus suap yang melibatkan mantan presidennya Luthfi Hasan Ishaaq, presiden PKS baru Anis Matta, getol menyemangati rakyatnya. Setelah Bandung dan Medan, hari ini mantan wakil ketua DPR itu menemui kader dan simpatisan PKS di Yogyakarta. Pertemuan akbar tersebut dihadiri ribuan orang. Dari bocah kecil yang merengek minta dibelikan jajanan, hingga ibu-ibu asal Bandung yang minta ditembak kamera liputan, semua memadati gedung Sasana Amongraga Yogyakarta.




Mata acara pertama diisi dengan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang itu mengisahkan parodi penangkapan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq yang dikisahkan sarat dengan kepentingan suatu golongan tertentu yang punya niat tersendiri terhadap partai agamis itu. Singkatnya, alur kisah dalam seni pewayangan yang ditampilkan, menceritakan konspirasi di penangkapan LHI. Beberapa menit kemudian, sang presiden tiba. Presiden yang kerap dipanggil "Bung" oleh pemandu acara itu, memaparkan beberapa hal terkait masalah (cobaan menurut istilah pak presiden) yang dihadapi PKS. Presiden PKS Anis Matta, memotivasi hadirin dengan berbagai kata mutiaranya. Ia juga menuturkan berbagai contoh kasus yang diakuinya terus menginspirasi. Dari kisah presiden Serbia yang dikaguminya perkasa, kisah film Mission Impossible 4 (Ghost Protocol), hingga Gangnam Style. Soal yang terakhir muncul ketika Anis berkisah tentang berpikir out of the box. Ia mengatakan bahwa meski gangnam style terkesan aneh, nyatanya punya banyak penggemar. "Satu milyar orang mengklaim," katanya. Mungkin maksudnya satu milyar menggambarkan betapa banyak yang mempraktikkan goyangan itu. Atau yang dimaksud satu milyar berarti jutaan orang yang mengakses tarian itu di situs YouTube. Di telinga saya, justru penggunaan kata satu milyar itu yang menarik. Pasca Luthfi Hasan Ishaaq ditahan, nominal satu milyar menjadi bukan angka biasa. 



Semalam sebelum Anis menghadiri pertemuan di gedung Amongraga Jogja, ia sowan ke kediaman budayawan Jogja Cak Nun alias Emha Ainun Najib. Satu milyar sempat menjadi kelakar tersendiri bagi Cak Nun. Saat berkisah tentang profesi budayawan yang dijalaninya, suami biduan Novia Kolopaking ini menyatakan kalau ia tak berdoa meminta rejeki sampai semilyar. Kabarnya kelakar itu ampuh membuahkan tawa, termasuk di shaf tamu dari PKS. Sore hari esoknya, ungkapan Anis Matta tentang satu milyar menurut saya perlu ditelaah lebih lanjut. Buat seru-seruan aja sih. Bisa aja itu sindiran Anis bagi si tersangka penerima suap sapi impor yang baru dicicil satu milyar. Jangan-jangan memang jurang antara Anis dan Luthfi memang ada. Meski di Tempo edisi 4-10 Februari 2013, Anis menyatakan penolakan. Di majalah mingguan edisi itu, dijelaskan juga penyebab disharmonisnya hubungan kedua petinggi PKS itu. Kabarnya, Luthfi minta setiap pemasukan partai dilaporkan padanya yang menjabat presiden PKS saat itu. Anis disinyalir tersinggung, karena ia jarang melaporkan "penghasilan" (di Tempo penghasilan Anis ini ditulis dengan tanda kutip).



Pasca terpilih (tertunjuk sebenarnya tepatnya) sebagai presiden PKS pengganti Luthfi, Anis Matta mengarahkan telunjuk atas prahara yang mendera Partai Keadilan Sejahtera, ke arah sesuatu bernama konspirasi. Cendikiawan Azyumardi Azra, dalam rubrik opini harian Kompas edisi 5 Februari 2013, mengingatkan kita dengan kutipan dari kerangka Tim Melley dalam Empire of Conspiracy (2000) bahwa sumber pemikiran tentang konspirasi ada dua: seseorang atau kelompok itu memegang sangat kuat nilai individualistik dan in-group belaka, dan kelompok/orang itu kehilangan sense of control sehingga mengalihkan masalah ke pihak lain. Dalam tulisan yang sama, Azyumardi memperkirakan justru penudingan terhadap konspirasi tadi berbuah kontra produktif. Soal ini, Ketua Bidang Humas DPP PKS Mardani Ali Sera punya jawaban tersendiri. Katanya kalimat konspirasi dan zionis itu ungkapan emosi belaka. Oh, ada kata zionis. Mari tengok logo Partai Kita Semua. Ada sesuatu antara logo PKS dan simbol bintang daud. Konspirasi?

ilustrasi diatas dipinjam tanpa izin dari sini

Selasa, 27 November 2012

Makin Bodoh

Sebuah informasi di halaman ini menyatakan bahwa menurut penelitian, manusia memang makin bodoh di era ini. Saya pernah menyinggung hal itu di tulisan ini dan tulisan ini, namun hasil riset yang dipaparkan semakin membuat wacana gambaran manusia di film Idiocrazy menjadi semacam kenyataan absurd. Berikut saya lampirkan isi artikel tentang di zaman modern, manusia semakin bodoh.




VIVAnews - Apakah kita semakin bodoh? Sejumlah peneliti mengklaim bahwa kecerdasan manusia semakin berkurang karena kita tidak lagi membutuhkannya untuk bertahan hidup.
Sekelompok peneliti dari Stanford University mengklaim bahwa peradaban modern yang praktis malah mendegradasi kecerdasan manusia. Masih menurut mereka, kecerdasan manusia mencapai puncak kejayaan 4.000 SM.
Kecerdasan dan kemampuan berpikir abstrak manusia berkembang pada leluhur prasejarah manusia yang tinggal di Afrika antara 50 ribu sampai 500 ribu tahun yang lalu. Mereka harus mengandalkan kecerdasan mereka untuk membangun tempat tinggal dan berburu mangsa.
Seiring berjalannya waktu, manusia tidak lagi perlu berjuang untuk bertahan hidup. Seleksi alam tidak membutuhkan manusia-manusia cerdas.
Selain itu, manusia pun menghadapi mutasi gen berbahaya yang mengurangi kemampuan kita 'berpikir keras". Dan ini diteruskan manusia dari generasi ke generasi dan dibiarkan menumpuk. Kondisi ini mengarah pada tahap mandulnya kecerdasan manusia sebagai spesies.
Prof Gerald Crabtree, ahli biologi perkembangan di Stanford University, menjelaskan penelitian ini dalam jurnal Trends in Genetics. Menurutnya, mutasi pada salah satu dari 2.000 hingga 5.000 gen tertentu dapat menurunkan kecerdasan dan kemampuan emosional manusia. Dan, gen-gen ini rawan mutasi.
Perkembangan gen kecerdasan manusia, kata Crabtree, "Kemungkinan terjadi di dunia saat manusia harus menghadapi seleksi alam dalam memenuhi kebutuhan dasar." Tekanan ini tidak berlaku di zaman modern saat ini.
Pada masa purba, manusia yang salah mengambil keputusan saat berburu atau mencari tempat tinggal dan berlindung mungkin akan mati bersama keturunannya. "Sementara, eksekutif di Wall Street di zaman modern yang membuat kesalahan konsep yang sama, bisa jadi malah mendapat bonus besar." Artinya, kata dia, seleksi alam ekstrim hanya ada di masa lalu.
Berdasarkan waktu terjadinya mutasi gen manusia dan kerentanan gen-gen yang terkait fungsi intelektual dan emosional, Profesor Crabtree menghitung. Kecerdasan manusia "mencapai puncak" pada 2.000 sampai 6.000 tahun yang lalu.
"Saya berani bertaruh, jika ada warga biasa dari Athena 1.000 SM tiba-tiba ada di antara kita, dia pasti jadi orang yang paling cerdas. Dengan ingatan yang baik, berbagai ide, dan pandangan yang jelas mengenai isu-isu penting," jelas Crabtree.
Dalam 3.000 tahun mendatang, dia memprediksi, manusia akan mengalami sedikitnya dua mutasi genetika yang akan menurunkan kecerdasan dan kemampuan emosional. Tapi, imbuhnya, ilmu pengetahuan akan berkembang sedemikian pesat sehingga manusia bisa menyelesaikan masalah.
"Tapi, kemunduran kecerdasan sangat lambat, dilihat dari kemajuan masyarakat dalam penemuan-penemuan baru. Teknologi masa depan akan menciptakan solusi untuk masalah ini," kata Gerald Crabtree. (Dailymail/The Telegraph | umi)

Sabtu, 22 September 2012

Beli CD

Saya baru beli beberapa CD dari sebuah toko CD dan kaset bekas di bilangan Jatinegara Jakarta Timur. Sebenarnya banyak kaset yang pengen saya beli, tapi karena saya ga lagi denger musik pake tape, jadinya beli CD aja. Padahal kaset Daft Punk sempet bikin penasaran. Kaset Scope juga pengen didengerin.

Sempet kaget juga liat koleksi CD sama kasetnya. Semuanya dijual rata, yang impor 30 ribuan, lokal 20 ribu. Saya lalu ngubek-ngubek tumpukan seperti terlihat di bawah ini.




Pilihan saya jatuh di empat CD teratas. Empat CD di bawah ini mengalahkan CD EGRV, Korn: Live and Rare, Marilyn Manson: Mechanical Animal, dll. Sebenarnya ada 2 CD bagus yang sayangnya ga bisa dijual. Jadi ada CD album kompilasi Headbangers Ball 2. Saya baca cover depan-belakangnya, ternyata ada 2 CD, lagunya keren-keren lagi, beruntung lah kalo dapetin ini. Pas dibuka, isinya CD Blink 182 album self titled. Pas ditanya ke abangnya, ternyata tumpukan CD di area itu emang belum disortir, sayang sekali. Di tumpukan yang belum dibenahi itu ada juga CD Enter Shikari.




Sekarang kita fokus ke 4 CD diatas. Di kiri atas ada CD Goodnight Electric album Electroduce Yourself, Kanan atas Drowning Pool: Sinner, Kiri bawah Pearl Jam: Riot Act, kanan bawah ada In Flames: A Sense of Purpose. Dua CD yang disebut terakhir, kondisinya masih sangat bagus. Mereka masih perawan, masih diplastikin. Akhirnya memang kedua CD itulah yang saya tebus.



Pearl Jam saya beli karena saya suka musik grunge, seattle sound atau apalah itu namanya. Tapi grunge yang saya tekuni dengan baik baru Nirvana. Saya cukup kafah mengoleksi karya-karya Nirvana, tepatnya semua beberapa hal tentang Nirvana, dari  poster Kurt Cobain sampe buku biografi Heavier Than Heaven, dari album pertama mereka, Bleach, sampe softcopy rare DVD With The Lights Out yang saya dapet dari Fanfan, sahabat sesama penyuka musik. Nah intinya beli Pearl Jam ini lebih ke pertanggungjawaban moral sih. Haha. Lagu Pearl Jam yang saya tau dan idolakan di album ini baru I Am Mine, sisanya gelap, saya ga punya bayangan soal kayak gimana album ini berbunyi.


Ternyata, musiknya ya begini (saya sambil denger albumnya pas nulis ini. Haha). Saya belum bisa ngomentarin banyak sih, baru denger juga, belum bisa nilai. Soal lirik apalagi, belum ditelaah lebih jauh. Yang menarik dari pembelian album fisik adalah, kemasannya yang suka jadi sumber kepuasan tersendiri. Album ini dilengkapi booklet yang isinya lirik lagu sama foto-foto Pearl Jam lagi latihan. Oiya FYI, album ini dirilis tahun 2002, waktu saya SMP. Saya inget waktu itu I Am Mine emang lagi hits banget, saya masih punya guratan memori tentang gimana suasana video klip lagu itu. Saya kan dulu suka belajar bahasa inggris dari lagu. Nah saya awalnya belum tahu artinya mine itu apa. Saya buka kamus dan mendapati arti mine adalah pertambangan. Saya jadi bingung sendiri kok lagu itu artinya aku adalah pertambangan. Haha. Beberapa waktu kemudian saya diajari arti mine yang sebenarnya, baru deh ngerti. Hahaha.


Album kedua yang saya beli adalah albumnya In Flames, A Sense of Purpose. Pertimbangan pembelian album ini adalah karena selain kualitasnya terjamin karena masih terbungkus plastik, saya berniat buat beli album lokal. Iya, awalnya saya kira In Flames ini band lokal. Soalnya di tulisan di cover belakang bagian bawah ada keterangan CSA Records, komplek bonagabe blablabla Jakarta Timur. Paling ini band (endorse-an) Crooz, simpul saya setelah liat art covernya yang kaos Crooz banget. Pas bayar pun, saya ga mau bayar 30 ribu, soalnya itu kan band lokal, ada label ak.sa.ra-nya lagi. Si abangnya entah pura-pura ga tau apa entah sudah ikhlas, membiarkan saya membayar In Flames seharga CD lokal. Hehe. Tapi beruntung juga sih itung-itung dapet diskon. Hehe. Nah, kesadaran saya bahwa In Flames band impor, baru muncul setelah plastik CD dikoyak dan dijamah isinya. Buset dah keren amat ini band Jakarta sampe niat banget begini bikin art concept sama packaging yang terkesan deluxe, pantesan mahal (ada label harga, 75 ribuan). Pas saya liat nama-nama personilnya, kok pada aneh namanya. Pas diliat album itu direkam dimana, eh Swedia katanya. Dimixing dimana, California katanya. Pas sleeve saya balik, keliatanlah foto personilnya yang ternyata para bule. Hahahaha. Kemana aja gue. Ternyata In Flames udah ada sejak tahun 90an. Album pertamanya aja keluaran 94. A Sense of Purpose ini keluaran 2008.


Gambar orang berkepala aneh di CD mirip konsep Lies For The Liar-nya The Used. Tapi kalo soal musik, In Flames ini mengingatkan kita ke Lamb Of God, atau Mudvayne, atau Killswitch Engage, atau System of a Down, bisa juga ke Mastodon. Keren deh pokoknya, musiknya bagus. Soal lirik saya belum mentadaburi dengan khidmat. Nantilah ya kita bahas. Kesimpulannya, kehadiran 2 CD diatas menambah daftar tunggu CD yang sebaiknya segera saya nikmati. CD Iwan Abdulrahman di bawah belum sempat saya curi dengar. Keasyikan sama musik lain sih, ga pas juga kali ya sama moodnya, apalagi judul albumnya Renungan Ramadhan. Ini kan bulan apa? Syawal aja udah lewat. Haha. tapi album Abah Iwan ini cukup keramat loh bagi saya, meskipun belum didenger yah.


Jadi waktu kuliah, saya dibimbing sama Pak Djemdjem yang ngefans banget sama bimbo. Beliau sering cerita soal musikalitasnya, sama aktivitas luar lapangannya yang demen naik gunung. Beliau juga alumni Lawalata, organisasi pecinta alam kampus IPB. Nah, nama yang cukup sering beliau sebut adalah Abah Iwan, atau Iwan Abdulrahman. Pak Djemdjem terlihat begitu salut sama abah ini. Katanya si abah suka naik gunung cuma buat bikin lagu, merenung, cari inspirasi. Itu demenan beliau juga kali ya, makanya klop. Beberapa minggu lalu, di awal September, saya bertugas meliput ulang tahun Abah Iwan yang ke-65. Ternyata benar, dia bukan orang biasa. Gila men, di umur 60an dia masih kuat naik gunung, ke kilimanjaro lah, elbrus lah, ckckck. Yang dateng ke ultah beliau juga selebritis semua, dari Suryadarma Ali, sampe Slamet Raharjo, ada. Abah Iwan juga ngajar di Unpad, pernah gabung di Bimbo juga. Malam itu di pentas ulang tahunnya, dia tampil jadi single performer. Dia nyanyi sambil diselingi ceramah, bukan ceramah sih, stand up comedy tapi agak serius. Pokoknya inspiratif deh beliau, nanti yah kita lihat rasa albumnya.

================================================================================

Satu lagi album yang saya tunggu, Siliwangi Squad. Itu album baru saya pesan kemarin. Penjualnya bilang besok (hari ini) CD nyampe. Nyatanya mana, ga ada (mulai emosi. Haha). Besok kali ya nyampenya. Album Siliwangi Squad ini album kompilasi hiphop berbahasa sunda. Album musik lain yang lagi pengen saya dengerin adalah albumnya Ras Muhammad. Sebenarnya di toko CD diatas saya nemu CD Steven and The Coconut Treez, tapi rasanya bukan reggae itu yang saya suka. Saya suka reggae-nya Ras Muhammad yang kesannya agak galak. Dua album digital yang baru saya dapat adalah Taring-nya Seringai sama Centralismo-nya Sore. Yang ini saya iseng dapet donlot. Hehe. Sekian dulu kisah tentang CD. Kamu bisa baca memoar soal koleksi kaset saya disini dan disini. Kalau mau beli CD atau kaset di tempat saya beli di Jatinegara, kontak aja orang di bawah ini, klik gambarnya.

Senin, 23 Juli 2012

Hari Anak? Sudah Lupa Tuh

Pemerintah menetapkan tanggal 23 Juli sebagai hari anak nasional. Faktanya, tahun ini pemerintah sendiri mengingkari adanya hari itu dengan tidak menggelar selebrasi. Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (KPA), Arist Merdeka Sirait menyayangkan hal tersebut. Katanya batalnya peringatan hari anak nasional bisa melukai perasaan anak Indonesia, sekaligus memberangus hak anak untuk menyatakan pendapat. 




Hari Anak Nasional, diperingati setiap tanggal 23 Juli. Peringatan itu sudah dimulai sejak tahun 70an, entah dengan latar belakang apa. Yang bertanggung jawab dengan pelaksanaan hari anak adalah kementrian agama. Saya juga gagal mencari tahu kenapa harus kementrian ini yang pikul pertanggungjawaban. Setiap perayaan hari anak akan digelar, anak-anak dari seluruh Indonesia berkumpul di sebuah forum bernama Kongres Anak Indonesia (KAI). Tahun ini adalah penyelenggaraan KAI yang kesebelas kali. KAI 2012 dihelat di Batam, dengan menghadirkan 400 anak Indonesia dari seluruh provinsi. Mereka merumuskan delapan pernyataan sebagai suara dan pandangannya untuk Indonesia. Nantinya, delapan poin tadi akan dibacakan di hadapan presiden ketika hari anak sedang dirayakan. Malangnya, anak-anak kita tidak diberi kesempatan untuk membacakan deklarasi itu, bahkan sejak perayaan hari anak beberapa tahun silam, entah mengapa. Tahun ini, rumusan yang mereka buat kembali harus tinggal di atas kertas. Presiden mengonfirmasi berhalangan hadir di perayaan hari anak nasional yang seyogianya digelar di akhir Juni lalu, agar tidak mengganggu aktifitas ibadah puasa. Ternyata, presiden sibuk dengan urusan lain yang dianggapnya lebih penting. Akhirnya, peringatan hari anak diundur hingga hari yang seharusnya, tanggal 23 Juli. Di bulan Juli ini, beliau juga urung hadir, acara kembali batal. Pemerintah berjanji akan memperingati hari anak tanggal 4-5 September 2012. Kata Arist, udah basi. Momennya udah lewat.

"Diundurnya hari anak nasional ini kegagalan kita, orang tua, bahkan pemerintah untuk memprioritaskan urusan anak. Hari anak nasional memang cuma selebrasi, tapi itu bisa memotivasi anak, menunjukkan bahwa kita peduli kepada mereka", begitu kira-kira tanggapan Arist menanggapi pengunduran hari anak nasional. Meski demikian, kegagalan yang Arist nyatakan bisa diobati dengan sebuah program bernama Peluk Anak Indonesia. Arist menganjurkan agar orang tua memeluk anaknya sebelum atau/dan setelah si anak melakukan berbagai aktivitas. Ketika kita memeluk si anak, kita bisa membisikan sesuatu untuknya. Dia juga bisa menyatakan apa yang ia rasakan. Arist menyimpulkan bahwa berbagai tindak kekerasan yang dilakukan anak, sebenarnya akarnya karena kurangnya perhatian orang terdekat.

Tentang ritual hari anak nasional, Arist juga mengusulkan agar hasil kongres anak Indonesia tetap dibacakan, meski lingkupnya tidak di cakupan nasional. Para anak Indonesia bisa membacakannya untuk pemimpin daerahnya. Pemimpin daerah si anak pun bisa menggelar "upacara" peringatan yang sederhana, namun tetap penuh makna penghormatan terhadap hak anak untuk berpendapat.

Hari anak nasional, sudah diusulkan untuk menjadi hari libur nasional, agar anak punya waktu untuk menikmati masanya, bersama orang-orang terdekatnya. Namun hingga kini usulan itu belum dikabulkan. Kita masih bisa memberi kebaikan lebih untuk anak-anak kita, seperti mengaplikasikan gerakan Peluk Anak Indonesia tadi misalnya. Beberapa minggu lalu, Jambore Sahabat Anak digelar di bumi perkemahan Ragunan, Jakarta. Acara itu diikuti oleh seribu anak kaum marjinal di Jabodetabek. Adanya kegiatan itu setidaknya menandakan bahwa kita tidak sepenuhnya lupa akan anak Indonesia.

Pemerintah mungkin bukan tidak mau memberi kado istimewa untuk anak Indonesia pada waktunya, namun kita juga harus maklum, dan fokus ke solusi. Pemerintah juga mungkin sedang mempersiapkan kejutan yang justru akan lebih berkesan bagi anak-anak kita, siapa tahu. Kita lihat saja awal September nanti. Sementara itu, kita lihat anak Indonesia sekarang, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka?

Selasa, 05 Juni 2012

Rabu, 04 April 2012

Tanggapan Untuk Tulisan Jaki

Waktu Rolling Stone bikin acara Music Biz On Campus di IPB, saya berbincang dengan Wendi Putranto yang ketika itu lagi ngobrol sama Fakhri Zakaria. Saya lalu dikenalin sama jurnalis musik yang biasa dipanggil Jaki itu. Dia ternyata orang Bogor, tapi kuliah di UGM, Jogja. Beberapa bulan kemudian, Jaki menulis surat untuk civitas akademika IPB di hujanradio.com. Di tulisan itu dia menggugah pegiat seni di IPB agar bisa unjuk gigi lebih tonggos lagi. Lalu saya kasih komentar cukup panjang di suratnya. Beberapa saat kemudian, akun @hujanradio menawarkan agar komentar saya dibuat posting khusus sebagai tanggapan atas tulisan Jaki. Saya menyanggupi, lalu dipublikasikanlah tulisan bertitel geliat tersebut ada di dalam kampus: tanggapan untuk Fakhri Zakaria. Beberapa jam setelah tulisan itu terbit, Jaki mengomentari. Komentar di tulisan Jaki lebih banyak lagi. Saya suka dengan diskusi macam itu. 
Berikut saya sertakan naskah asli yang saya kirim ke redaksi hujan radio. Terima kasih untuk tim hujan radio atas kesempatan dimuatnya argumen saya di situs pusaka mereka.

Saya adalah alumni IPB yang baru lulus akhir tahun 2011 lalu. Saya merasa terpanggil berbagi opini terkait tulisan yang digubah Fakhri Jaki tentang surat khususnya yang ditujukan kepada civitas akademika kampus pertanian yang saya banggakan. Pembaca yang budiman, dalam kesempatan ini saya akan berusaha menggambarkan kondisi apresiasi seni musik di IPB dan menjabarkan beberapa hal yang kiranya jadi penyebab tiadanya gelaran musik gigantik seperti dimiliki universitas lain. Paket argumen ini disarikan dari komentar yang saya tulis di laman tulisan Jaki ini http://hujanradio.com/features/surat-untuk-civitas-akademika-ipb/.

Di IPB, kegiatan artistik digerakkan oleh beberapa komunitas dan organisasi resmi kampus. Beberapa komunitas yang saya maksud diantaranya adalah Komunitas Ladang Seni dengan Panggung Mahasiswa-nya yang digelar tiap Rabu malam di kantin Stevia (http://www.canisaymagz.blogspot.com/2012/03/ladang-seni-ipb.html), atau Komunitas WTS (Wahana Telisik Seni dan sastra) yang konsisten menggelar Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA) tiap bulan (http://www.canisaymagz.blogspot.com/search/label/Komunitas%20WTS). Kedua komunitas itu menurut saya sudah produktif menggelar panggung apresiasi. Beberapa dokumentasi kegiatan komunitas lain di IPB bisa kamu lihat di tautan ini http://hore-punya-blog.blogspot.com/2011/08/iwan-fals-punya-tempat-khusus-di-ipb.htmldan ini http://hore-punya-blog.blogspot.com/2011/06/forum-basemen.html.

Selain komunitas, ada tiga organisasi seni mahasiswa yang legal formal diakui institusi. Artinya mereka diakui pihak rektorat IPB (Direktorat Kemahasiswaan IPB) sebagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang menerima subsidi dana dan dukungan lain untuk kegiatan mereka. Ketiga organisasi itu adalah Agriaswara, Gentra Kaheman dan MAX!!. 

Agriaswara adalah paduan suara yang fokus ke pementasan tahunan, konser pelantikan, dan lomba-lomba tarik suara hingga ke luar negeri. Gentra Kaheman adalah organisasi seni sunda yang juga aktif di pagelaran tahunan dan kompetisi/penampilan ke luar negeri. MAX!! mungkin secara identitas pergerakan, bentuknya mirip dengan FMF (Forum Musik Fisipol) di UGM. Bedanya, MAX!! ini cakupannya se-IPB. MAX!! dulu diantaranya pernah mengundang Glenn Fredly (itu yang saya ingat dari cerita-cerita senior MAX!!). Selain menggelar acara musik yang menampilkan bintang besar, MAX!! juga pernah melaksanakan pemecahan rekor MURI untuk rampak gitar terbanyak (2006), mengikuti konser kolaborasi MAX!!-Agriaswara-Gentrea Kaheman (2007), kompetisi band MIXMAX (2008), konser musik tradisional-modern ETNIX (2009), dll. Meski dulu MAX!! banyak menemui resistensi dalam menggelar wahana apresiasi, kini organisasi yang menjalani tahun kedelapannya ini, sudah stabil dengan beberapa programnya. MAX!! punya event-event untuk mewadahi musisi-musisi untuk tampil di kampus, sebut saja Music Corner, Coaching Clinic, dll. MAX!! juga memproduksi album kompilasi tiap 2 tahun. Hingga kini sudah tiga rilisan yang telah terbit. Saya pribadi bangga dengan album kompilasi ini, meski ga sebesar Masa Indah Sekali Pisan Banget, JKT:SKRG atau Jogja Istimewa, setidaknya MAX!! bisa bilang (melalui album itu) bahwa di IPB, musik/musisi juga ada. Soal gelaran yang mampu menyedot perhatian massa semagnetik JGTC (Jazz Goes To Campus) misalnya, IPB memang belum punya. Penyebabnya mungkin mahasiswanya terlalu study oriented, sehingga squad yang mau dan bisa mewujudkannya, kurang. Mungkin mata kuliah yang diajarkan di IPB susah dan banyak tugasnya, jadi harus banyak waktu belajar dan jarang ada waktu kosong buat bikin acara musik. Hal itu saya lihat ketika teman-teman yang mulanya aktif di MAX!!, mulai perlahan mengurangi aktivitas organisasi karena penambahan tugas kuliah seiring naik tingkatnya mereka. Atau mungkin ga banyak yang pengen IPB punya acara musik ikonik, mungkin sudah merasa nyaman dengan kondisi apresiasi yang sekarang, entahlah. Belum ada survey resmi tentang alasan-alasan itu. Saya sendiri sudah mengusulkan ke divisi riset Koran Kampus IPB agar dibuat survey kecil biar kita tahu sisi mana yang perlu diperbaiki, agar IPB juga punya keterkaitan dengan kata “musik”. Semoga para jurnalis kampus tertarik mengangkat isu ini.

Saya pribadi setuju jika IPB punya trik melalui jalur musik untuk menarik perhatian anak SMA agar mau kuliah di IPB dan belajar pertanian. Dengan begitu, masalah kurangnya peminat studi pertanian—yang dibahas khusus dalam ini http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/42660 —bisa juga teratasi. Harapan saya, event musikal khas IPB itu tidak yang bersifat mengokohkan keakuan. Jangan sampai hanya karena ingin menunjukkan bahwa IPB juga bisa seperti universitas lain, lalu dihelatlah acara musik yang akbar, tapi melupakan talenta lokal untuk turut ditampilkan.

Contoh gelaran besar yang melibatkan seluruh civitas akademika IPB adalah Gebyar Nusantara. Ini adalah event unjuk kebudayaan daerah asal masing-masing mahasiswa IPB yang berasal dari seluruh Indonesia. Selain itu, ada IPB Art Contest. Kedua acara yang sering digelar di gedung Graha Widya Wisuda (GWW) ini diarsiteki BEM KM IPB. Di IAC, musisi dengan basis massa besar diundang, tentu dengan tidak melupakan musisi-musisi kampus yang juga dipersilahkan berpentas. Selain Sheila On 7 yang Jaki ceritakan, Cokelat juga pernah hadir di gelaran ini. Seniman benderang macam kedua band tadi, Mocca, The Dance Company, Tompi, Afgan, White Shoes and The Couples Company, juga pernah hadir untuk sebuah event karya mahasiswa IPB. Sayangnya, menurut kabar yang saya dengar, karena menghadirkan artis senior yang argonya tidak murah, kas panitia jebol. Nah, sekarang kita ketemu satu lagi kemungkinan penyebab kenapa di IPB ga ada acara gede: dana. Subsidi dari rektorat mungkin terlalu minim, aktivitas pencarian dana ga bisa maksimal karena alasan yang sudah disebut diatas, akses ke IPB Darmaga (yang diusulkan Jaki buat jadi Woodstock-nya Indonesia) yang ga gampang karena sering macet, atau mungkin di IPB ga ada mahasiswa yang mau mengorbankan mobilnya digadaikan (saya dengar, panitia sebuah event musik kampus gede, ketuanya sampe harus berkorban sedemikian besar [mungkin menurut dia kecil] biar acaranya sukses). 

IPB mungkin terlihat sepi dari luar. Tapi kalau kita menelisik lagi ke dalam kehidupan kampus, kegiatan seni kecil yang rutin, masih hidup hingga saat ini. Saya yakin, FMF pernah melalui fase ini sebelum akhirnya menelurkan event-event keren diatas. MAX!! juga terpaut dalam hubungan perkawanan dengan organisasi musik APRES! dari ITB, Komunitas Musik Fikom (KMF) di UNPAD, juga BSO band dari UI. MAX!! tentu akan sangat senang jika punya sambungan silaturahmi juga dengan FMF di UGM. Di tahun 2010, MAX!! pernah bermimpi menggagas forum yang menyatukan semua organisasi musik mahasiswa di seluruh universitas di Indonesia, agar pergerakan mahasiswa tak hanya identik dengan demonstrasi, tapi juga dengan karya musikal. Tentu juga agar kampus yang belum punya ikon di dunia apresiasi seni, bisa sama-sama belajar. Semoga mimpi utopis itu perlahan tampak tegas seiring saling tersambungnya simpul komunikasi antar pegiat seni kampus.

Saya berharap sejawat pejuang seni di IPB meneruskan iklim kampus yang kini ramai dengan dengung ampilfier. Perkaya aksi musikal itu dengan nilai (sayang rasanya jika musik hanya digunakan sebagai alat untuk menyatakan keakuan). Dukung terus musisi asal IPB—dengan mengapresiasi karya musik mereka yang diantaranya sudah tersalur lewat album kompilasi— sampai nanti ada yang namanya seharum Melbi misalnya. Lalu biarkan dia jadi tuan rumah di kampus sendiri dan menjaga siklus kreatifitas agar tetap berputar.

Rheza Ardiansyah
Alumni IPB
General Manager Music Agriculture X-pression!! (MAX!!) 2010

Jumat, 24 Februari 2012

Tentang Kami dan Kita

Seorang teman rupanya tersinggung. Ketika itu saya memperbaiki penggunaan kata "kita" dan "kami". Mulanya saya kira tak ada buntut setelah di akhir koreksi saya berkata lirih, "sori". Ternyata setelah sekian hari berlalu dan kami dihadapkan ke satu sumber suara yang sama, ia menyinggung lagi urusan kita-kami. Katanya pembicara di depan saja bilang kita, bukan kami. Saya bilang si pembicara salah. Teman saya lalu tersenyum kecut.

Saya heran kenapa kita dan kami ini jadi sering tertukar begini. Mungkin ini gejala yang sama ketika kata "tuan" dan "nyonya" berganti menjadi "anda" di tahun 50an. Ketika itu Rosihan Anwar memperkenalkan kata ganti orang kedua itu sehingga berkesan setara. Meski mungkin memang benar ini gejala bahasa yang bisa benar-benar terjadi, saya merasa geli sendiri jika terus membiarkan gejala itu menunjukkan bahwa poin ketiga sumpah pemuda sedang memudar. Penggunaan kata kita (aku dan kamu) untuk menggantikan maksud kami (aku dan orang lain, tidak termasuk kamu), adalah proses membahasa inggriskan bahasa indonesia. Dalam bahasa inggris, kami dan kita diwakili satu kata yang sama, "us" atau "we". Lalu saat ini di Indonesia, pernyataan "kami putera-puteri bangsa indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa indonesia" sudah kehilangan esensi. Sumpah pemuda malangnya seakan diketok sebatas slogan. Maka dengan ini saya mengajak teman-teman untuk kembali menggunakan kami dan kita sesuai dengan porsinya masing-masing. Kalau kita terus memaklumi kosongnya eksekusi semboyan di Indonesia, sudahlah lebih baik bangsa ini melaju sendiri di atap kereta-kelas-ekonomi tren, tanpa identitas dasar yang menjadi pembatas lintasan. Lupakan bhineka tunggal ika, buang ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani, kasarnya demikian. 






Coba teman-teman tengok arti kata "kita" di sumber ini dan ini. Atau arti "kami" di sini dan sini. Terlihat kan bedanya?

Berikut bacaan yang sangat saya rekomendasikan untuk sejawat baca. 
“Kita” dan “Kami” pada 2012
Sarlito Wirawan Sarwono, PSIKOLOG SOSIAL
Sumber : KOMPAS, 5 Januari 2012
Beberapa tahun belakangan saya cemas melihat, mendengar, dan membaca media massa—elektronik atau cetak, juga media sosial—serta percakapan sehari-hari yang mencampuradukkan saja pengertian dan penggunaan kata ”kita” dan ”kami”.
Sekarang semua cenderung memakai kata ”kita”, padahal yang dimaksudkan adalah ”kami”. Sepasang selebriti yang sedang pacaran ketika ditanya media infotainment menjawab, ”Yah, kita jalani saja, sekarang kita belum serius.” Menteri menjelaskan kepada wartawan, ”Masalah itu sedang kita proses”; dan presenter stasiun televisi berkata, ”Kita menyiapkan sebuah acara menarik untuk Anda.” Padahal, semua ”kita” itu, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, seharusnya ”kami”.
Lebih kaget lagi ketika saya bertanya kepada mahasiswa saya (Psikologi, semester I): apa bedanya ”kita” dan ”kami”? Satu kelas, sekitar 50 mahasiswa, bingung. Salah satu mencoba menjawab, ”Kita itu kalau sedang berdua atau kelompok kecil. Kalau kelompoknya besar: kami.” Yang lain diam seribu bahasa. Gubrak! (bahasa gaul). Hampir pingsan saya. Orang Indonesia sudah tidak bisa lagi membedakan antara ”kita” dan ”kami”.
Fuad Hassan, dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku, Kita dan Kami: Suatu Analisa tentang Modus Dasar Kebersamaan, yang diterbitkan oleh Bulan Bintang, Jakarta, 1974 (dalam versi bahasa Inggris: Kita and Kami: The Basic Modes of Togetherness, Winoka, 2005), menyatakan bahwa ”kita” dan ”kami” bukan hanya merupakan ciri khas bahasa Indonesia, melainkan punya makna budaya dan cara berpikir bangsa ini. Bahkan, Fuad Hassan membuktikan tesisnya bahwa orang Indonesia menjadi neurosis (stres, depresi, cemas, dan sebagainya) karena kehilangan kemampuannya ber- ”kita” dan hanya bisa ber-”kami” saja.
Dalam bahasa Inggris (dan Belanda yang saya pahami sedikit selain Inggris), tidak ada pengertian ”kita”. Yang ada hanya ”kami” (Inggris: we) sebagai jamak dari ”aku” (Inggris: I), sebagai lawan kata dari ”kamu” atau ”kalian” (you). Adapun tentang pihak ketiga, bahasa Indonesia ataupun Inggris sama-sama memilikinya: dia (he/she) untuk tunggal dan mereka (they) untuk jamak.
”Kami” yang Melebur
Akan tetapi, bahasa Indonesia memiliki ”kita” yang berarti ”aku/kami dan kamu/kalian sebagai bagian dari satu kebersamaan”. Berbeda dari ”kami” yang berarti ”aku bersama teman-temanku atau kelompokku atau kerabatku, sedangkan kamu/kalian bukan bersama aku”.
Ketika seseorang ber-”kita”, dia meleburkan dirinya kepada diri-diri orang lain, tanpa harus kehilangan identitas dirinya (ke-”kami”-annya). Kami orang Ambon-Kristen dan kami orang Ambon-Muslim bisa saling berseteru, tetapi bisa saling bersatu, sebagai sesama orang Ambon. Kami orang Ambon, kami orang Jawa, kami orang Sulawesi, bersama menjadi kita bangsa Indonesia. Terjadilah Sumpah Pemuda (1928) yang berujung kemerdekaan Indonesia (1945).
Namun sekarang, ketika bangsa ini kembali ke ke-”kami”-an masing-masing (dengan salah sebut sebagai ”kita”), bisa diramalkan akan berkeping-kepinglah jadinya bangsa ini. Kita LSM (kamu pemerintah), kita rakyat (kamu polisi), kita Muslim (kamu Kristen, Syiah, Ahmadiyah), kita Madura (kamu Dayak, Melayu), kita STM anu (kamu SMA itu), dan seterusnya. Ujung-ujungnya bukan NKRI yang jaya dan rakyat sejahtera, melainkan jahit mulut, rakyat ditembak polisi, polisi dibacok rakyat, bom, dan sebagainya. Itulah keadaan bangsa ini pada tahun 2011.
Bagaimana 2012? Kita (bukan kami) harus kembali ke semangat ke-”kita”-an untuk mencapai Indonesia bersatu, bersama, damai, sejahtera, dan makin maju. Semua eksponen bangsa harus ber-”kita” bangsa Indonesia untuk selesaikan semua masalah. Dari kasus Mesuji sampai Bank Century, dari pilkada sampai pemilu, dari agama sampai etnik dan politik. Pokoknya semua.
Semangat ke-”kita”-an itu ada pada saat seluruh bangsa Indonesia bersorak ketika timnas sepak bola Indonesia mencetak gol ke gawang lawan. Yang Muslim, yang Kristen, yang Papua, yang teroris, yang Golkar, PDI-P, atau Demokrat, semua bersorak: ”Goool...!!!” Tak peduli apakah yang mencetak gol Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Titus Bonai, Andik Vermansyah, atau mungkin juga Markus Haris sekalipun.
Untuk memperkaya kasus keganjilan dan koreksi tentang penggunaan bahasa, coba teman-teman buka tautan dari the poskamling ini. isinya jelas, informatif dan menarik.