Tampilkan postingan dengan label metro tv. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metro tv. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

Merayakan Persaudaraan Ambon di Rumah Kopi Sibu-Sibu


Ini malam minggu. Malam terakhir saya berada di pulau ambon. Banyak orang bilang, ketika berada di sini, saya wajib mampir ke Walang Kopi Sibu-Sibu. Baru malam inilah, saran itu saya tunaikan.

Sebuah ruang terbuka seluas sekitar 10 x 15 meter persegi saya masuki. Padat sekali. Celah antar meja sempit. Pantas saja kedai ini bernama walang kopi. Walang dalam bahasa setempat berarti rumah kecil. Di sana, rupanya yang hadir tak hanya orang maluku. Beberapa wajah eropa tak sedikit juga terlihat. Sebuah meja kecil berkursi dua saya tuju dan duduki. Tak ada yang menghampiri, kasir pun saya datangi. Seorang perempuan meminta saya duduk dan membawa daftar menu. Saya turuti seraya memilih makanan dan minuman di kursi tadi. Angin yang bertiup dari kipas, bertubi-tubi menimpa dari atas. Ini baru sibu-sibu, sepoi-sepoi.
PAndangan saya melingkar. Dari sisi kiri, bagian depan, ke dinding kanan. Ketiga muka di dalam kedai penuh dengan bingkai. Di dalamnya sejumlah wajah memamerkan senyum. Dari penyanyi BelAnda Monica Akihary (saya menoton konsernya di Bogor 6 tahun lalu), Sharita Sopacua si Miss Netherland Universe 2005 (senyum simetrisnya tak bosan saya pelototi), pemusik di grup Vengaboys: Donny Latupeirissa (saya baru tahu ada personilnya yang orang ambon), hingga nama-nama yang saya yakin Anda sudah sering dengar, macam Daniel Sahuleka, Jopie Lattul, Broery Pesolima, Bob Tutupoli, Ronny Patinasarani, Ray Sahetapy. Nama-nama tersebut, saya comot secara acak sekadar sebagai contoh. Menyaksikan wajah dan nama-nama itu, kesan saya tentang orang ambon semakin kuat: dorang memang basudara (mereka betul-betul bersaudara).

Perhatian saya kemudian tertuju ke kerumunan yang semakin menyemut di hadapan meja. Nyanyian yang beriring organ tunggal semakin lantang didendangkan. Mulanya tiga orang, lalu bertambah satu. Seorang lain menghampiri. Makin ramailah suasana malam itu. Bahkan tak hanya dari pojong ruangan yang disulap jadi panggung kecil itu, tapi juga dari seberangnya. Ajaibnya, pengunjung berperawakan orang eropa pun turut menyanyikan lagu khas ambon itu.

Gandong, demikian si lagu bernama. Liriknya berisi pesan persaudaraan. Gandong berarti saudara. Kedekatan atas asal usul ikatan darah. Orang ambon sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat mereka. Bahkan struktur pemerintahan setara desa, terorganisasi dalam suatu susunan bernama negeri, yang dipimpin seorang Bapa Raja. Selain adat dalam tata masyarakat, aturan bertingkah laku juga dijaga dengan baik oleh para nyong ambon. Rumpun masyarakat yang terikat dalam satu gandong, tidak bisa menyatukan diri. Ibaratnya, dua negeri memiliki pela gandong masing-masing, artinya saling bersaudara. Contoh, Batumerah yang berpela gandong dengan Passo. Saking rekatnya, penduduk dari kedua negeri tersebut tidak bisa menikah, karena dianggap satu saudara. Pela gandong, di sisi lain juga membuat suasana panas di ambon dan maluku, kian menghangat. Kala mengingat pela gandong, kedua negeri yang mayoritas warganya saling berlainan agama, menjadi rukun. Semangat kerukunan dan persaudaraan itulah, yang saya saksikan dalam lagu gandong.

Usai gandong tandas dinyanyikan, seorang pengunjung lain bergantian jadi juru vokal. Ia menyanyikan lagu Piring Tatoki. Judul itu bermakna piring yang saling berdenting. Itu makna kiasan untuk sebuah konflik antar dua kelompok. Bila kedua bersaudara bertengkar, itu bagaikan piring yang saling menyinggung. Lagi-lagi, udara di dalam sibu-sibu dipadati semangat persaudaraan dari lagu-lagu tadi. Bahkan kini lebih meriah. Seorang pengunjung bule menari dipandu penyanyi kedai. Keluarga atau mungkin kawan-kawannya teriak menyemangati. Meriah sekali. "Mantaaaap!" seseorang di samping saya berseru. Seorang kulit putih, lirih saya menyadari. Saya takjub dengan pelafalannya yang fasih. Tapi saya tidak heran, karena memang tak sedikit orang ambon yang juga tinggal dan meneruskan jalan hidup di daratan eropa sana, di negeri kincir angin Belnda.


Pikiran saya melayang hingga tahun 1500an, ketika pengelana dari eropa pertama kali tiba di kepulauan Maluku. Mereka kemudian sempat menduduki nusantara dengan misi kolonialisasi. Singkat cerita, Indonesia kemudian merdeka. Sang republik yang masih muda, dilanda berbagai eksperimentasi bentuk pemerintahan, misalnya berupa Republik Indonesia Serikat, negara besar yang terbentuk dari negara-negara bagian, salah satunya, Republik Maluku Selatan (RMS). Setelah bentuk tersebut akhirnya mewujud menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, RMS menjadi gerakan pemberontakan. Setelah ditumpas pada tahun 1952, beberapa punggawa gerakan separatis itu hijrah ke Belanda, negara yang disebut-sebut mensponsori RMS untuk kepentingan penguasaan. Di antara mereka kemudian beranak-pinak di sana, seraya tak lupa bahwa dari kepulauan rempah inilah mereka berasal. Terlebih ada tradisi natal sedunia. Ya, natal memang sedunia tiap tanggal 25 Desember. Tapi bagi orang-orang dari negeri adat di pulau ambon, natal sedunia ini berarti bahwa semua perantau di seluruh dunia yang berasal dari suatu desa adat, bisa pulang ke tempat asal. Pesta jogetnya bisa berhari-hari. Duduk tepat seminggu sebelum natal, saya makin tak heran dengan kehadiran para perantau jauh ini.

Yang namanya kedai kopi, tentu jualan utamanya sang cairan pusaka itu. Ada banyak macam kopi yang ditulis dalam daftar menu. Saya pilih kopi rarobang. Kata rarobang yang disandang kopi itu, bermakna filtrat, atau zat (dalam hal ini cairan) yang tidak mengendap. Kata seorang pramusaji, itu kopi khas sibu-sibu. Tak ada di tempat lain. Kopi rarobang yang saya pesan dicampuri jahe, susu dan taburan rempah. Saya jadi ingat komentar seorang kawan: Beng Rahadian, komikus plus penggila kopi itu. Katanya kopi yang dicampur susu maupun krimer tidak jelas jenis kelaminnya. Kalau ditambahkan dua hal lumrah itu saja dia sudah bilang kopi menjadi androgini, apalagi ditambah banyak campuran ini. Haha. Tapi tak mengapa, justru di campuran itulah uniknya kopi di pulau ambon. Bayangkan, rasa dominan di lidah justru sensasi hangatnya di tenggorokan, yang bukan dihasilkan kopi. Lalu rasakan taburan buah palanya itu. Kalau pernah menikmati guraka di maluku utara, sensasi rasa Anda akan terlempar ke sana. Guraka sebenarnya sari jahe, tanpa kopi. Tapi memang beberapa orang sebut itu "kopi guraka". Ia nikmat disesap dengan diselingi pisang yang digoreng tipis lalu diolesi sambal dabu-dabu, sambal yang didominasi irisan cabe segar. Menu terakhir itu tak ada di kedai sibu-sibu. Sebenarnya ada pilihan menu kue-kue berbahan dasar sagu, tapi saya memesan roti yang dilapisi telur dadar sebagai pendamping kopi tadi.

Tiba-tiba ada teriakan dari arah jalan. Suara anak kecil riuh memekik. Semua orang menengok ke sumber suara. Rupanya sebuah mobil angkot dipenuhi anak-anak. Beberapa pengunjung menghambur ke jalan lalu berhenti di pintu angkot. Mereka membalas lambaian tangan anak-anak dari dalam angkot itu, seraya membalas senyum puas dari dalam sana. Anak-anak yang sebagian berkulit putih itu begitu riang melepas tawa. Si mobil sampai bergoyang-goyang naik turun. Tak lama kemudian para tetuanya turut masuk dan bergabung. Si angkot pun melenggang, dengan posisi melonjak-lonjaknya bak melaju di atas kasur. Melihat saya mengarahkan kamera video, seorang bule melambai dengan sunggingan senyum lebar.

Selepas mobil angkot ria itu melintas, beberapa kursi di dalam kedai tak lagi diduduki. "Bale bantal, bale bantal!" seseorang berteriak dari belakang saya. Satu persatu pernyanyi berganti. Sebelum Kedai Sibu-Sibu tutup pada jam 22.30, saya bayar semua pesanan malam itu. Ada lembar uang tambahan yang saya keluarkan. Itu ongkos untuk memiliki sekeping cakram padat album jazz instrumental gubahan Nicky Manuputty and The Dodz. Deretan lagu dominan saxofon itu pasti akan selalu mengingatkan ke tanah Ambon, ketika saya tak lagi di sana. []
 

Mengenal Pulau Moa dari Pantai Namalatu

Pantai Namalatu di Pulau Ambon mempertemukan saya dengan dua orang anak. Dari keduanya, terungkap kisah tentang sebuah pulau paling terpencil di Maluku.

Laguna, matahari tenggelam, debur ombak, ikan hias bergaris kuning. Itulah yang saya dapat dari Pantai Namalatu pada suatu hari. Tempat wisata itu sebenarnya tidak menyediakan fasilitas yang sempurna. Gerbang masuk ala kadarnya, dengan pos satpam yang dicat lusuh di sana-sini temboknya. Begitu masuk, seorang petugas tak berseragam menagih tiket. Cukup empat ribu rupiah per orang, tanpa bukti pembayaran. Mobil terparkir, pandangan menyeluruh ke kawasan pantai di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon itu pun terlihat. Sekelompok remaja menyanyi beriring gitar di tempat duduk berbahan beton yang bopeng. Tak jauh dari tempat mereka ada, toilet dan ruang ganti terlihat tak terawat. Meski hanya beberapa yang berfungsi karena pintunya rusak, dua fasilitas tadi tetap terkesan bersih. Saya dan tiga teman lainnya kemudian memilih satu tempat duduk terbaik: meja yang betonnya utuh meski ada bekas tumpahan sesuatu. Kursi beton yang menghadap ke lautan masih berbentuk meski tak berwarna lagi. Kursi beton lain yang ada di hadapannya, tergolek tak bisa dibuat berdiri. Matahari masih terik, kami menunggu setengah jam hingga ia benar-benar condong dari barat. Setelah wudu di laut dan solat di sebuah restoran yang tidak beroperasi (tidak ada musola di sana), saya baru kemudian turun ke laguna dengan kostum renang.
Laguna atau bagian pantai yang ombaknya dibendung di bagian muka adalah jantung tempat wisata ini. Banyak wisatawan bermain ombak kecil di satu bagian bibir pantai. Beberapa wisatawan asing memilih berjemur di dekat situ. Hal pertama yang menarik saya begitu seluruh tubuh basah, adalah tembok penahan ombak di muka si pantai. Banyak remaja Ambon memilih tempat itu sebagai pijakan sebelum melompat ke bagian laguna yang lebih dalam. Saya terpancing menuju mereka dan menirunya. Haha. Semua terjadi begitu spontan ketika akhirnya saya menghempaskan diri dari tembok setinggi dua meter dari permukaan air itu. Begitu melompat dari atasnya, sadarlah saya bahwa kedalaman air tidak begitu menenggelamkan. Saya masih bisa jinjit di bagian yang jadi landasan itu. Pada kesempatan berikutnya saya tak berani mengulang yang tadi. Haha. Di antara sejumlah anak berperawakan khas orang Maluku itu, ada dua orang anak bernama Ens dan Ona. Kami baru menyebut nama di akhir pertemuan, setelah selama pelesiran itu menikmati Namalatu bersama-sama.

Ens dan Ona adalah dua orang saudara. Mereka berdua berasal dari Pulau Moa, pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya. Ia lebih dekat dengan pulau Timor. Butuh waktu berhari-hari dengan kapal laut untuk menuju Pulau Ambon ini dari sana. Di Pualu Moa masih ada hutan lebat. Ens yang berusia sekitar 8 tahun mengisahkannya kepada saya. Dia bilang, ayahnya bos perusahaan kayu, ibunya bos perusahaan kutek. Awalnya saya pikir dia anak polisi. Soalnya ketika bilang bahwa saya wartawan, dia tanya bagaimana cara melamar kerja menjadi wartawan. Ketika saya bilang dengan menyerahkan ijazah, dia malah cerita bahwa untuk jadi polisi harus pakai surat pemeriksaan. Bagaimana bisa seorang anak tukang kayu mengenal kata “surat pemeriksaan” di usianya yang begitu hijau.

Ens sebenarnya nama panggilan. Pun begitu dengan Ona kakaknya. Saya lupa nama panjang kedua anak itu. Tapi itu membuktikan sebuah fenomena: orang Maluku tidak suka orang memanggil mereka dengan nama depan yang lengkap. Itu terkesan tidak sopan. Hehe. Aneh juga. Makanya mereka menggunakan nama panggilan yang dikutip dari nama panjang. Ens adalah singkatan dari tiga nama depan si anak lelaki itu. Nama Ona pun demikian. Tapi saya ingat nama depan Ona: Linda.  

Pulau Moa yang mereka tinggali, masih dikenal kental dengan ilmu hitam. Itu kata pengemudi yang mobilnya kami sewa selama berada di Ambon. Daerahnya yang masih memiliki hutan lebat dilengkapi dengan karakter lanskap lain berupa daerah tandus berkarang. Ada juga sebuah bukit bernama gunung kerbau. Disebut demikian karena memang banyak kerbau liar di sana. Beberapa kerbau besar itu dibawa dari Moa dengan ongkos pembelian 3 juta rupiah. Mereka lalu dijual di Tana Toraja Sulawesi Selatan dengan harga yang berkali lipat untuk keperluan adat, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Ternyata, kurang dari satu bulan, kerbau-kerbau itu mati karena habitat yang mereka tempati tidak cocok dengan daerah asalnya. Selain kerbau, yang juga bisa dijual dari Pulau Moa adalah kayu besi atau kayu ulin. Ternyata kayu yang terkenal kokoh itu tak hanya ada di Kalimantan. Per kubik kayu bahan kusen itu, di Ambon bisa dibanderol dengan harga mencapai 7 juta rupiah. Di sebuah situs penjual kayu, saya lihat harganya bisa jadi 10 juta rupiah per kubik.

Ens dan Ona tidak canggung ketika bertemu orang asing macam saya. Mereka mengajak kami menikmati Pantai Namalatu dengan berbagai cara. Dari membiarkan diri ditabrak deburan ombak yang dipecah tembok penahan, hingga berenang gaya punggung membentuk garis yang memotong laguna. Suasana cair serupa ditunjukan pula oleh anak-anak Maluku lain yang saya aja berinteraksi. Bahkan di akhir aktivitas kami, saya dilempari pasir oleh mereka yang entah siapa. Perang pasir putih halus pun tak terhindarkan. Meski tak silih mengenal, kami berkomunikasi dengan satu bahasa yang sama: bahasa tawa. []






Rabu, 02 Desember 2015

Romer di Malam Hari

Lebih baik tersesat daripada nanya. Semboyan dari sebuah iklan itu saya terapkan ketika sendirian jalan-jalan ke Romerberg di kota Frankfurt Jerman Oktober lalu. Romer adalah kawasan pusat kota perbankan Jerman itu. Di sana banyak tempat menarik yang jadi simbol Frankfurt. Seusai meliput Festival Buku Frankfurt (FBF), saya naik kereta menuju ke sana.

Sistem kereta bawah tanah di Jerman ada dua jenis: S Bahn dan U Bahn. Perbedaan keduanya sepengamatan saya, ada di jalur yang dilalui kereta itu di bawah tanah. Jadi lokasi jalur di bawah tanahnya beda tingkat. Nah untuk ke Romer dari Fest Halle, tempat  FBF dihelat, ada pergantian jenis kereta. Sedikit membingungkan sih, terutama nyari stasium Romer yang ternyata di peta tertulis Dom/ Romer. Lalu ketika menaiki kereta yang tampak fotonya di atas itu, saya ditolong seorang ibu untuk memencet tombol yang ngebukain pintu buat saya keluar. Kirain pintunya kebuka sendiri. Hehehe
Begitu keluar halte, saya langsung muncul dari bagian samping sebuah gereja katedral besar. Baru kemudian saya tahu bahwa kata dom yang ada di nama stasiun maksudnya gereja ini. Dom itu bahasa jerman dari gereja katedral, nama gerejanya St. Bartholomaus. Jadi ternyata setelah saya baca-baca, dom tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi museum. Yang dipamerkan di dalamnya adalah temuan seputar gedung yang berdiri sejak tahun 1356 itu, abad ke-14, alias 700an tahun lalu. Ckckck

Ini balai kota Frankfurt. Dulunya sampai tahun 1405, gedung ini fungsinya sebagai vila. Hingga saat ini, tempat itu jadi kantor wali kota. Ada suara merdu yang muncul dari sana, lalu saya hampiri.
Bagian dalam balai kota yang diramaikan penampilan sebuah kelompok musik. Lagu yang mereka mainkan seperti lagu-lagunya Pure Saturday
Tempat ini namanya Kunstverein, galeri yang selalu memamerkan karya seni kontemporer. Kontemporer itu maksudnya terbaru, lebih modern dari modern. Just in case kamu belum tahu. Hehe. Nah yang menghiasi pintu masuknya itu adalah karya instalasi buatan Joko Avianto. Di dalamnya juga ada sejumlah karya seni buatan artis dari Indonesia
Malam itu hujan gerimis. Kalau cerah, bakal ada tukang nasi goreng lengkap dengan gerobaknya yang khas Indonesia. Di kesempatan lain kunjungan ke Romer, saya menjumpai gerobak itu tapi nggak beli. Hehe

Berkalang gedung lain di kompleks Romer, tampak air mancur keadilan alias Fountain of Justice. Patung berbahan perunggu itu dibuat tahun 1887. Di depannya suka ada pengamen yang memainkan musik klasik atau pop akustik dengan syahdu.
Sebuah patung di pinggiran jalan menuju Romer
Sebuah foto ketika tempok berlin runtuh dipajang di jendela pertokoan
Ini bawaan saya malam itu. Kamera, tripod, koper berisi laptop dan kelengkapan liputan lain. Ribet dan berat memang.
Jalan utama yang terintegrasi dengan jalur tram begitu keluar dari gang menuju Dom. Malam itu sekitar jam 8 udah sepi. Saya sempat hampir tersesat karena keluar dari pintu yang salah. Tujuan utama saya malam itu sebenarnya ingin lihat instalasinya Joko Avianto tadi. Katanya begitu keluar langsung kelihatan, eh kok ini malah ke jalan antah-berantah. Hehe

Mural mewarnai dinding menuju pintu masuk kereta bawah tanah

Suasana sepi di stasiun kereta bawah tanah

Dua orang berpacaran di stasiun. Orang Jerman cuek dengan aktivitas seperti itu. Mereka maklum jika ada sepasangan yang saling peluk atau cium, bahkan yang lagi nyuntik narkoba pun dibiarin. Iya, saya lihat sendiri itu. Gak berani foto lah tar saya ditusuk sama jarumnya itu. Hehe
Begitu jalan ke hotel, saya mampir ke sebuah tempat makan dengan menu utama ikan-ikanan. Saya beli ikan salmon dan besar sekali ikannya tapi enak. Penjualnya muslim dari timur tengah dan ketika tahu saya dari Indonesia, mereka kasih roti gratis. Hehe. Nah ini foto diambil saat saya nunggu makanan pesanan selesai dibuat. Seorang pengunjung makan ikan di samping akuarium berikan dan di depannya sebelah kiri (alias di belakang saya bagian atas) ada sebuah TV yang menayangkan ikan-ikan hias yang berenang bebas. Total sekali restoran ini menghadirkan segala hal tentang ikan.

Rabu, 25 November 2015

Chanee: Saya Bule, Tapi Hati Saya Merah Putih



Ini satu dari 5 buku yang ditulis chanee. Meski bergambar sampul owa, isinya tentang anaknya. Anak chanee meninggal setelah lahir. Buku ini berisi percakapan pria kelahiran perancis itu dengan almarhum sang anak. Dalam buku itu ia bercerita tentang mengapa bertahan di kalimantan. Ia juga merenung tentang bagaimana jika keluarganya tinggal di perancis. Meski demikian, ketika ditanya apakah pernah menyesal jadi WNI? Dia jawab tidak pernah sedetik pun. Aurelien brule alias chanee (owa dalam bahasa thailand) jadi WNI 3 tahun lalu setelah berjuang demi status itu selama belasan tahun

Sebuah poster promosi acara diskusi, terpajang berbingkai dan dilapis kaca. Ia tergantung di hadapan meja kerja Aurelien Brule alias Chanee Kalaweit. Gelaran bertiti mangsa 2010 itu sangat spesial, karena di sanalah Chanee sejajar dengan idolanya. Di poster itu, ada nama Birute Galdikas, Jane Goodall, dan seorang yang namanya saya lupa. Yang jelas dia rekan alhmarhum Dian Fosey. Tiga nama tersebut lazim disebut Leakey's Angels, plesetan film Charlie's Angels. Sementara nama terakhir adalah tokoh fiksi dunia perfilman, tiga wanita tadi adalah pejuang para primata.


Adalah seorang palaeoantropolog bernama Louis Leakey. Ia menugaskan tiga orang peneliti untuk mencari simpulan kaitan antara perilaku primata dan tingkah laku manusia. Peneliti yang dikirim semuanya wanita, karena naluri dasar keibuan yang mereka miliki dapat menguntungkan pendekatan ke tiga jenis primata berbeda. Untuk mendalami tentang orangutan, Birute Galdikas ditugaskan. Bagi gorila, Dian Fosey yang berangkat. Sementara untuk simpanse, Jane Goodall yang meneliti. Ternyata seiring berjalannya waktu, misi penelitian itu berubah menjadi pelestarian. Mereka mendapati, ketiga jenis primata tadi ada di ambang bahaya. Bahkan Dian Fosey turut menjadi korban. Ia dibunuh oleh pemburu di kamp penelitiannya. Itulah kenapa wanita bermasa hidup 53 tahun itu tak hadir di forum yang dibanggakan Chanee. Kini, Jane Goodall menetap di tanah Afrika, sementara Birute Galdikas tinggal di Kalimantan Indonesia.

Sumber: Chanee Kalaweit

Selain karena berdampingan dengan para idolanya sebagai pembicara, Chanee juga senang karena ia menjadi wakil untuk berbicara tentang owa, atau gibbon. Chanee pun menjadi satu-satunya peneliti masyhur primata yang bukan perempuan. Dus, dia juga yang satu-satunya bukan doktor dan profesor. Bahkan bukan sarjana. Chanee hanya mengenyam bangku kuliah di Universitas Louis Pasteur selama 6 bulan. Ia belajar etologi. Perkuliahan itu mungkin bagi Chanee cuma lelucon, karena ilmu perilaku hewan itu, sudah dipelajarinya sejak berusia 12 tahun. 

Setelah kabur dari kampusnya, Chanee pergi ke Thailand untuk meneliti owa bertangan putih. Jenis owa tersebutlah yang membangkitkan kecintaan pria kelahiran 1979 itu terhadap dunia alam liar. Bahkan, pada usia remaja ia telah menerbitkan buku tentang primata. Saat ini, Chanee tinggal di Kalimantan Indonesia. Dua anak sudah ia miliki dari perkawinan dengan seorang wanita dayak. Namanya kemudian kembali mencuat ketika video protesnya tentang bencana kabut asap menyebar. Saya berkesempatan mewawancarai Chanee. Dalam suasana yang hangat dan cair, Chanee membuka semua hal tentang dirinya. Dari cerita anaknya yang meninggal, hingga perjuangannya menjadi WNI. Berikut transkrip lengkap wawancara itu:


Sumber: Chanee Kalaweit

apa yang terjadi setelah video kemarahan itu tersebar?

pada saat upload itu saya tidak sangka akan mendapat respon sedmikian besar terutam di internet. langsung vudenya jadi viral, kemarahan saya tentang situasi di kalimantan

saya sampaikan ke pak jokowi. sebenarnya lebih tepat seperti itu ukan kemarahan kepada pak jokowwi tapi kemarahan karena frustasi dilapangan saya mau sampaikan ke pak jokowi.

jadi memang begitu banyak respon dari masy dari media karena saya rasa mmomentum banyak orang merasa hal yang sama penederitaan yang sama langsung saya mewakilkan perasaan teman2 yang sama di palankaraya, sedangkan saya buat video ini betul2 secara spontan, tanpa pikir panjang untuk buat video ini dalam waktu 15 menit proses pun kurang lebih wktunya sama. pokoknya dalam satu jam sudah jadi paling lama sebetulnya untuk diupload karena koneksinya lama karena sama sekali saya buat di depan rumah saya dan didsarkan rasa frustasi

saking pekat dan menyiksanya ya


ya melihat situasinya lihat lebih daru 20 meter lihat anak2 batuk2 lihat infeksi saluran pernafasan dan rasa tidak bisa berbuat apa2. saya merasa nggak berdaya. jadi di situlah keinginan untuk buat viddo itu.

pemerintah kasih tanggapan?
 
yang saya luhat tanggapan ada langsung ketemu dept kehutana di jakarta beberapa hari kemudian dan saya lihat juga sejak video diupload tidak hanya dari video saya tapi tentang situasi yang ada di palangkarya. itu sebenarnya bukan thd vvideo saya yg terpenting adalah ttg situasi yg pada saat tu ada dii palangkaraya dari sejak 21 oktober banyak peratian di kota palangkaraya dan dari sisi penegakan hukkum misalnya yang mulai beralan.

jadi buat saya itu respon terbaik yang bisa dilakukan pemerintah. adalah daripada menjawab viideo saya sendir, melakukan kegiatan nyata di lapangan, jadi saya cukup senang dengan tu.

jadi, diresponde dengan panggilan ke jakarta dan membicarakan sejumlah hal?


betul. jadi saya ketemu dengan direktur konservasi keragaman hayataai hanya membahas memastikan kerjasama antara departemen kehutanan dan kalaweit ayayasan saya tetap searah tidak ada masalah i situ jadi utk memperkuat kerjasamanya.

kemudian saya dapat kesempatan harii berriktunya untuk ketemud engan dirjen konservasi sda dan ekosistem dgn kementerian kehutanan dan pada saat itu dapat dbahas, untuk kita bisa share info lbieh mudah utk masa yg akan daang saya juga dapat kesempatan memberi masukan thd apa yg saya lihat di kota palangkaryaa.

dan sangat2 positif dan memberi sekali lagi kesempatan untuk masukan. saya bukan pakar kbaaran hutan, saya cuma warga palangkaraya yang sudah mengalami ini sudah 17 tahun dan juga concern thd konservasi, hutn merupakan habitab satwa liar jadi itu yang dibahas saat itu dan saya lihat ada peluang ke depan mmugkin keterlambatan yg terjadi tahun ini. dengan helkopter yg tidak bisa terbang ketika ada titik api, tapi sistem yang tidak memungkinan saat itu helkopter. hal2 konkret seperti itu itu yang kita bahas kemarin.

shanee mengadukan bahwa helikopter telat memadamkan titik api?


ya, saat ini walaupun status masih siaga, helipkoter ada di bandara dia belum bleh terbang. sedangkan hal dasar saat kita menghadapi kebakaran hutan, apakah di gabut atau di tempat lain, itu sedini mungkin harus ada respon kuat sebelum apinya besar. hal2 teknis seperti itu yang dibahas kemarin.

sayangnya telat responnya ya?


ya tahun ini yang saya sampaikan di veideonya. tapi hal terpenditng menuut saya walaupun saya buat video, tahun 29915 ini semua pihak menyadari tanpa adanya hujan, manusia tidk akan padamkan api dan hilangin asap itu, sudah terlalu besar, manusia tidak berdaya lagi yang penting huja.

tetapi utk tahun yg aakn datang kita harus sekarang, itu belajar dari kesalahan peerintah tapi banyak pihak lain yang terlibat. masyr, perusahan, pejabat okum semua kita harus liat kita harus antisopasi tahun depan, mungkin tahu depan kemarau tdk terlalau panjang tapi tahun berikutnya akan eseprti apa? jadi haru skita antisipasi dari sekarang, ini yang inigin kia semua berpikir.

tanggapan positif, ada. nah apakah ada juga tanggapan negatif dr viideo yg shanee sebarkan?


kalo sesuau yg jadi sebegitu luas di internet itu jadi sesuatui yang kontra dan itu sesuatu yg waar sekali. tapi saya banyak menerima pesan dukungan dan banyak pihak yg mendukung dan saya tidk merasa sendir di depan semua orang justru sebaliknyam abanyak dukungan..

saya juga terus terang bersyukur ada di negara indonesia, diman bisa menyampaikan cvideo tanpa ada tekanan saya tau banyak negara lai dimana tanpa harus disebut tetapi video yg setegas yg saya sampiakn keluar dari hati kepada prsiden itu pasti dapat masalah. dan itu sama sekali sya tidk terima tekanan dari pemetintah ataua dari siapa saja, namu di lapaanga yasa hidup dikalimnatn saya, harus hati2

krena saya selama 17 tahun ini saya pernah diancam, pernah dapat pokokya penah ada masalah. pernah saya ddipukul. pernah dalam 17 tahun, jadi bukan sehari1 hidp dalam bahaya tidak.

dalam aktivitas pelesatarian?


betul dalam aktivitas pelestarian. pasti kita di hadapan orang yg punya tujuan lain. dan sselama 177 tahun memng terjadi ancaman tapi berkaitan dengan video yan saya bikin kemarin sejauh ini tidak ada.

lallu kenapa selama 17 taun berrtahan?


kenapa saya bertahan. saya mencintai kalimantan, indonesia saya ambil keputusan untuk hidup di sini membesarkan anak saya di sini. karena saya peduli, karena saya cinta, saa mau berjuang. sebenarnya saya buat video ini waktu saya upload saya tau akan ada yg bilang "lo orang eropa balik akake negara kamu kalo ga senang di sini". pasti ada org yg pikir begitu. itu wajar sekali. tetapi walaupun muka saya itu bule, hati saya menurrut saya sudah merah putih.

dan saya inin untuk anak saya sendiri. bukan sifat egois juga. bukan murni, saya arus jujur. tidak hanya masalsh bangsa, saya memmilih keputusan ubtuk membesarkan anak saya di sini, dan untuk mereka saya beru=juang agar masa depan tidak menjadi suram seperti yg saya takutkan pada musim semua jadi asap di sini. saya ttidak mau anak saya menderita. dan sebagai ayah saya tidak mau anak saya bertanya, "papapernah melakukan sesuatu wktu saya kecil batuk2?" saya dengan banggabilang "iya nak, saya bejuang", ini yang mendorong saya.

kecintaan itu awalnya dari primata?


say abetul. sya datang di indonesai awalnya untuk melinddungi owa, primata. dam ironisnya, ddulu yg membuat saya datang kebakaran juga.

oya?


1997-98 el nino juga, kebkaran juga, banyak orang lupa tapu 97-98nluar biasa dhasyatdan wwaktu itu saya 8 tahun saya mau membuat program konservasi owa dan indonesia adalah tempat yang dimana saya harus bangun program konservasi owa karena paling banyak masalah diantara kebakaran ddi situlah mei 98 saya datang di saat yang cukup sulit reofrmasi. tetapi meskpun saya datanguntuk alam utk primata sangat mudah saya sampbil berjuang utk alam saya juga mengenal budaya negaranya dan bahkan ssayajatuh cinta dengan negara ini.

kalau besok sudah tidak ada owa misalnya saya tidak harapkan itu tapi andai di sini tidak ada owa lagi, saa akan tetap tinggal di sini. rumah saya ada di kalimantan.

sudah pindah dari prancis ke indonesia


ya.

tapi awla kecintan thd idonesia thd owam tetap bermula dari perancis?

mulai dari perancis saya dari kecil memang bkan anak popoulaer yg di sekolah banyak teman. saya lebih ke satwa ke binatang. memang punya ketertarikan khusus dengan binatang.

umur 12 tahun say lihat primata dgn mata sy sebagai anak kecil itu berbeda dari primata lain, kaerna say melihat rasanya dia sedih di kandang. selalu sendir ada masalsh

jadi awalnya bkan jatuh cinta sama owa. tetapi penasaran, kenapa sih keliatan sedih dia, ada masalah apa. jad saya mulai belajar di buku. owa itu seperti apa, oh ternyata monogamus, memilih pasangan setia seumur hidup jadi say aminta izin emilik kebun binatang utk bisa setiap hari tidak sekolah, bisa masuk gratis gak bayar dan duduk di depan kandang owa dan ittu saya lakukan selama 5 tahun utk belajar bahasa mereka utn memahami apa masalah mereka dan apa yg bisa saya buat utk menbantu mereka.

sampai usia 16?


saya publikasi buku kecil, karena saat itu saya sombong sekali sya merasa akan ajarkan orang lain ttg owa, jadi saya bikin buku awalnya saya fotokopi dan irim ke kebun binatang. tapi saya pikir saya ccoba aja ke publisher dan ternyata ada yg mau tertarik. tidak ttg topik bukunya tapi kenapa anak muda ini menghabiskan waktu dengan primata daipada main bola sama temennya

16 tahun ya. lalu?


lalu buku saya keluar diterbitkan dan saya menjawab beberapa pertanyaan intv ekali lagi media pada heran "ngapain sih anak muda ini", dan setiap kali saya mengatakan bahwa kebun binatang itu kaena tidak punyapilihan. terlalu muda tapi saya mau berangkat dimana owa hidup di alam.

dan satu artis film di pernacis namanya murel robin sangat terkenal di perancis dia baca artikel ttg saya di majalah dia telpon publisherku, waktu itu saya SMA, dan saat itu saya pulang dari sekolah saya nagkat telepon bilang ini murel robin saya tidak percaya dan dia bilang betl aku, kamu mau berangkat ke asia utk selamatkan owa? kamu berangkat. aku bantu kamu danai kamu.

nah itu pertma kali saya ke thaialnd. lihat owa di alam, dan saat itu saya lihat di koran headlinenya kebakaran hebat di indonesia di situlah saya menyadari kalau saya mau membantu owa saya harus ke tempat di mana paling banyak deforestasi lingkungan dan saya putuskan ke indonesia.

nama chanee itu juga dari thailand?


betul. jadi waktu saya di thailand pertama kali di asia lihat ow saya menghabiskan waktu 3 bulan di perbatasan myanmar perbatasan kamboja

usia 18?


yah. jadi saya ditemani orang lokal yang temani tapi mereka susah sekali menyebut nama saya yg asli aurelien itu nama tipikal perancis tapi dalam mulut orang asia kan susah jadi tidak bisa sama sekali, ujungnya karena saya menghabiskan waktu mencari owa mereka panggil saya dalam bahasa thailand owa, yaitu chanee.

chanee dalam bahasa thailand artinya owa. di kalimantan pun namanya owa?


ya ujungnya semua memanggil nama chanee dan jadi nama saya sekarang

kalaweit juga artinya owa?


ya dalam bahasa dayak ngaju di kalimantan. jadi banyak orang pangil saya chenee kalaeit artinya owa owa owa owa. hahahahahaha

kalaweit itu kemudan jadi nama yayasan ya?


yayasan betul. kaerna program pertama yg saya bagun ada di kalimantan, jadi kalau saya mau bantu satwa, harus melakukan dengan masy, bukan dengan melawan masy. dan owa sangat tepat yayasan saya dipanggil kalweit dan sejak nama kalaweit juga muncul di media saya sering orang di kampung kecil di kalimantan beremrima kasih ada bahasa dayak masuk televusi kalaweit tadi, itu suatu kebanggaan sebtulnya.

di barito utara sana ya? itu awalnya gimana lahannya? chanee sendiri yg mengusahakan?


sebearnya di kalimantan kalaweit pindah 2 kali, pertama dibangun di taman nasional bukit raya. sangat jauh karena waktu saya kecil ambil peta kalimantan, saya ambil tangan suatu hari saya akan buat pondok kecil di tengah hutan kalimantan. saya berhasil bagun di titik yang saya tunjuk. tapi itu tidak reaslitis karena itu 3 hari dari palangkaraya di hulu sana. untuk membantu owa bukan tempat tepat jadi saya haru spindah jua.

sampai suatu saat kalaweit punya daya dukung cukup utk bisa beli lahan, jadi sekaran ada di barito utara, ada 8 hektar ada infrastrukturnya. tapi kalawei juga membantu pemerintah mwmpwrtahankan wilaayah yg dilindungi undang2. foto dari udara misalnya agar tdk ada gangguan dgn melaporkan ke bksda. patroli dengan menggunakan paramotor.

berati kalau ada titik api juga kelihatan?


betul. saya d palangkaray aserin terbang menggunakan paramotor dan saya mendokumentasikan selaa 2 tahun terakhir deforestasi lahan gambut di kotamadya itu sendii. dan pada saat kebakaran waktu belum terlalu parah api sudah parah tapi asap belum parah, masih bisa terbang sudah saya ilustrasikan sudah ada puluhan titik api kebakaran tapi tim adart naaah, tapi banyak api yg sulit dijangkau bukan semua api ada di pinggir jalan. pada saat itu contoh yg saya samapaikan helikopter belum noleh terbang saat itu. ini merupakan salah satu masukan.

berarti chanee juga punya solusi sendiri buat menghindari aggar kebakaran serpa tidak terrjadi?

saya atidak punya solusi say apunya masukan, saya yakin kita bisa bersama perbaiki sistem. saya bahas kebakaran bukan asal usulnya oknum dan andainya ada api, kita mesti turun daya kita yag paling luas di awal, jangan di akhir. di akhir daya kita setiap hari tifka akan ada hasil besar. jadi ketika api kecil, di situlah kita ngebom, uturnin kekuatan kita terbesar.

itu yang saaya lihat saya berasal dari negara di perancis selatan di mana serin gterjadi kebakaran hutan. tidak ada masalah gambut di sana, tetapi hutan pinusi tu apinya istilahnya apinya tidak menghasilkan banyak aasp di sini tetap berjalan dengn cepat. dan pada saat api masih kecil ada pesaawt yang bisa bom air lebih dari helikopter diturunkan sejak awal. ini hanya masukan, yang pasti ada rasa frusttasi dari udara melihat sekian banyak titik api tapi respon. sebenarnya kekuatan ada helikopter ada, tapi belum boleh terbang. jadi ada rasa kenapa

dan kita juga gak tahu kenapa ya? harusnya turun aja ya?


ya mungkin karen asecara teruka dibahas memang sistem kalau dianggap belum terlalu parah ga usah turunkan helikopter, jadi cara pemikiran aja yang kita sama2 haru smenilai positif mana negatif mana yang itu dipikir pada saatkebakaran parah turunkan helikopterr.

saya srankan itu dilakukan di saat asap belm jadi berita. itu helikopter sudah diturunkan. kalau pun dengan pesawat yang heli melakukan surbey dara utk deteksi api sebelum laporkan titik api itu betul2 sedini mungkin pada saat titik api belum terlalu besar belum dideteksi pun kita lihat asapnya dan kita di situ

kalau untuk menghidnari adanya api?


kalau saaya lihat belajar juga dari tempat lain, sering diberlakukan dilarang api, menyalakan api. bukan hanya membuka lahan, tapi menyalajan api. biasanya kalau masy ladang berpindah biasanya itu utk land clearing.

jadi kalau kita adanya  larangan api di lahan gambut, fokus ke lahan gambut. mungkin setiap tahun diumumkan oleh badan meteorologi yg mengetahui akan seperti apa musim kemarau tahun ini misalnya. dan penegakan hukum harus jalan.

itu bakar pun tumpukann dahan, tidak boleh. harus tunggu musim hujan. jadi tidak bahas perkebunan tapi larangan api di daerah gambut. jadi harus petakan daerah gambut. ituu satu masukan sekali lagi saya tidak billang itu sendir akan mengatasi keseluruhan. tapi hal2 aseprti itu kaau kita share brainstorming karena saya mellihat berdasarkan raat di jakarta keterbukan pemerintah itu ada, itu juga satu ha positif

saya puya harapan didengar, mungkin tema2 di bidang hidrologi, juga karena penting utk lahan gambut

sistem itu berlaku di negara asal chanee?


betl, tapi saya tidak bicara lahan gambut, cuma ada larangan.orang barbeque aja tidak boleh. jadi kalau ada bbq harus mohon ke wali kota abis itu didampingi pemadam kebakaran. dis ni akan susadh dengan tema2 yg jual sare

jaul sate dikawal pemadam kebakaran. hahaha


tap conrrohnya seperti itu krene amemang enis api menyebar cepat. larangan api liar di luar pemukiman, di daerah khuss gambut saya rasa itu hal yg bisa kita pakai. jadi tidak melihat itu utk apa dan siapa, tapi ada risiko kebakaran, jangan main api

apa opsi lain utk mempertimbangkan aturan pemerintah bahwa ada sekian hektar yang boeh dibaar setuju tidak?
oh pasti prang bilang chanee pasti tidak setuju. tetapi saya melihat gaya hidup masyarakat di klimantan. jangan samakan daerah yang ada gambut dan tidak ada gambut

utara kalimantan?

utara kalmantan tengah, itu bukan gambut, dan masy hidup dengan ladang berpindah. ladang yang dibuat masy dibuat dengan pohon dipotong, kemudan didiamkan beberap abuan utk dibakar dan ditanami padi. jadi bukan tanaan yg lain ta padi utk mereka bisa makan.

dan pada umumnya kalau kit aperharikan sumber hotspt tidk beasal dari wilayah itu dikalimantan. jadi kalau kita bikin larangan: tidak bolleh buka lahan. itu bukan buka lahan ya dalam bahasa hukum. mereka potong pohon dulu sisanya mereka bakar. jangan sampai mereka senndiri tidak bisa bikin ladang, tidak bisa makan ujungnya karena ada keputusan dimana tidak boleh sama sekali

mungkin saya bukan pakar dalam bahasa hukum dsb, tapi saya rasa pelu dipisahkan lahan gambut, lahan bukan gambut, itu sudah pasti. jangan diseragamkan

dalam perjuangan chanee memerjuangkan hal2 yg ddicintai di sini, berusaha bertahun2 jadi WNI, bagaimana perjuangannya?


ya cukup lama. saya baru 3 tahun jadi wni dan waktu itu sebenarny karena media saya baru dapat di imigrasi prosesnya sangat sulit, belum adapt jawaban persis seperti apa, sudah punya keluarga menikah punya naak. kok belum bisa agak bingung gitu.

ujungnya setelah di kick andy, itu dimana saya mengatakan kayaknya di indonesia harus bisa main bola deh untuk jadi wni karena pemain bola kok bisa gampang banget kenapa saya nggak. dan ujungnya saya dibantu mbak tine yang saya harus sangat terim akasih dia mengerahuo proses keimigrasian. dia bantu saya dampingi saya di imigrasi, 6 bulan kemudian dapet warga indonesai

setelah belasan tahun berusaha.


dan buat saya saat itu merasa akhirnya benar2 punya leegtimasi utk coba lindungi alam ini. saa cuma punya legitimasi utk bilang maaf ini gak pasa deh. sebelumnya saya masih mikir chanee kamu orang asing. diam dulu. kamu negara orang loh. jadi sebamrnya di lapangan tidak banyak berubah. tapi dalam diri saya jauh lebih percaya diri sekarang. tiap kali saya kritis itu dengan bahasa saya sendiri itu yang beera aorang katakan itu kasar. yang pasti itu cara saya bicara,

tetapi semua yang saya lakukan kaerna saya inign melindungi negara ini alam ini. saya ingin semuanya jadi lebih baik. dan saya malu  kalau saya di luar negeri dan citr aindonesai dijelkin karena asap. saya 2 bulan lalu ke perancisdan saat itu asap sudah pareah, sdeih melihatnya kenapa sih mesti serpti itu. jadi saya ingin berjuang hal itu berubahdan lihat yang positif. lihat semua yang kita berhasil bik dan lesatrikan. itu yang menbuat saya confdent ketika rapat di jalarta

otomatis saya merasa takut. ketika saya upload video saya ada rasa takut ketika melihat medi ablow up video dimna2 karena lbieh besar dari paa yg saya bayangkan. tapi setelah beberapa hari pemerintah terbuka dengan masukan saya. dengan pembicaraan teknis utk mencari jalan keluar berarti, dan ak bicara bagi saya sebagai wni dengan video saya tu sangat dihargai. dan itu membuat saya bangga certakan ke luar negeri.

terakhir chanee, meklihat indonesia dengan berbaga masalahnya, menyesal tidak adi wni?


oh tidak. saya tidak pernah menyesal satu detik pun. sekali lagi mungkin banyak masalah, mugkin egara lain juga banyak masalsa indonesia kalau kitabahas lingungan itu betul. anyak pertempuran yg luar biasa utk menyelamatkan apa saja itu deforestasi besar, tapi karena saya wni, saya merasa lebih bangga kaerna setiap hektar yg bis diselamarkan setiap satwa yg diselamakan. saya tidak sendiri saya punya > 50 org yg bantu melestarikan hutan. dengan mereak kita bangga buktikan bahwa kita bisa menyelamarkan alam asal jangan menyerah dan putus asa. memang situasi sangat sulit tapi ita bisa menyelamarkan hal2 yg sangat indah di sini []

Minggu, 22 November 2015

Melepas Orang Utan

Awal November lalu, saya meliput tiga kisah di Palangkaraya tentang musibah kabut asap dan kebakaran lahan. Salah satu cerita yang saya himpun adalah tentang penderitaan orang utan ketika bencana asap menyerang. Dari menyelematkan satu individu bayi orang utan dari seorang warga, hingga turut melepas orang utan ke alam liar, saya ikuti. Berikut ini dua video yang berkisah tentang itu. Yang pertama, video stop motion yang saya buat kala ikut melepas tiga orang utan di taman nasional sebangau. Video kedua adalah tayangan yang ditampilkan dalam program 360 Metro TV.





Pameran Seni di Frankfurt

Seiring dengan kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam gelaran pameran buku terbesar di dunia Frankfurter Buchmesse, digelar pula serangkaian acara yang juga bertema Indonesia. Salah satunya di sebuah galeri di area Romerberg kota Frankfurt. Nama galerinya Frankfurter Kunstverein. Di dalam tempat pameran seni kontemporer ini, empat seniman atau kelompok seniman Indonesia unjuk karya. Mereka adalah Joko Avianto, Jompet Kuswidananto, Eko Nugroho dan kelompok Tromarama (perupa dari Bandung yang terdiri atas Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena).


Saya berkesempatan mengunjungi langsung pameran tersebut dan menyaksikan betapa karya seni buatan anak bangsa jadi magnet tersendiri bagi penikmat seni di benua biru itu.


Pohon Besar. Instalasi buatan Joko Avianto yang tersusun dari beton dan 1500an batang bambu. Dikerjakan selama tiga minggu, pohon artifisial ini adalah kritik terhadap pengurangan pepohonan yang jadi pertanda perubahan alam. Saya sempat kesulitan menemukan lokasi pameran ini, karena keluar dari stasiun kereta yang salah. Hehe. Jika Anda keluar dari pintu yang tepat, maka pohon besar inilah yang menyambut Anda di sisi kanan.


Di bagian dalam galeri yang juga menempel dengan sebuah restoran, pameran lain ditampilkan. Sebenarnya bukan cuma karya perupa Indonesia yang juga dipamerkan. Tapi saya fokus ke karya-karya negara kita. Instalasi ini buatan Jompet. Sepatu, stang sepeda motor, kaos partai dirangkai hingga membentuk imaji massa pendukung sebuah partai politik. Menurut rilis pers yang disebar panitia, karya bertajuk "Power Unit" ini merupakan refleksi kritis Jompet terhadap perubahan kondisi sosial-politik sejak jatuhnya rezim orde baru.


Seorang pengunjung memotret karya 


Tromarama tampil impresif dengan handuk yang disusun menjadi sebuah video stop motion. Judulnya Break A Leg. Sebanyak 230 kain bersulam disusun hingga menampilkan seseorang yang berlari tanpa henti. Menggunakan media handuk merk Good Morning yang diproduksi massal, karya ini menjadi wujud keprihatinan kelompok seniman itu terhadap industrialisasi yang mengukur segala hal dari nilai ekonomi.


Galeri bertingkat-tingkat. Tiap lantai menampilkan karya seniman berbeda


Ada sebuah ruangan yang di dalamnya orang-orang mendengar sebuah paparan. Saya nggak ngerti apa yang mereka bicarakan, Skip. Haha



Eko Nugroho menampilkan tiga karya. Salah satunya mural ini, yang mendefinisikan demokrasi.


Karya lain Eko Nugroho. Semua karya tersebut akan dipamerkan hingga tanggal 10 Januari 2016