Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2015

Pameran Seni di Frankfurt

Seiring dengan kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam gelaran pameran buku terbesar di dunia Frankfurter Buchmesse, digelar pula serangkaian acara yang juga bertema Indonesia. Salah satunya di sebuah galeri di area Romerberg kota Frankfurt. Nama galerinya Frankfurter Kunstverein. Di dalam tempat pameran seni kontemporer ini, empat seniman atau kelompok seniman Indonesia unjuk karya. Mereka adalah Joko Avianto, Jompet Kuswidananto, Eko Nugroho dan kelompok Tromarama (perupa dari Bandung yang terdiri atas Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena).


Saya berkesempatan mengunjungi langsung pameran tersebut dan menyaksikan betapa karya seni buatan anak bangsa jadi magnet tersendiri bagi penikmat seni di benua biru itu.


Pohon Besar. Instalasi buatan Joko Avianto yang tersusun dari beton dan 1500an batang bambu. Dikerjakan selama tiga minggu, pohon artifisial ini adalah kritik terhadap pengurangan pepohonan yang jadi pertanda perubahan alam. Saya sempat kesulitan menemukan lokasi pameran ini, karena keluar dari stasiun kereta yang salah. Hehe. Jika Anda keluar dari pintu yang tepat, maka pohon besar inilah yang menyambut Anda di sisi kanan.


Di bagian dalam galeri yang juga menempel dengan sebuah restoran, pameran lain ditampilkan. Sebenarnya bukan cuma karya perupa Indonesia yang juga dipamerkan. Tapi saya fokus ke karya-karya negara kita. Instalasi ini buatan Jompet. Sepatu, stang sepeda motor, kaos partai dirangkai hingga membentuk imaji massa pendukung sebuah partai politik. Menurut rilis pers yang disebar panitia, karya bertajuk "Power Unit" ini merupakan refleksi kritis Jompet terhadap perubahan kondisi sosial-politik sejak jatuhnya rezim orde baru.


Seorang pengunjung memotret karya 


Tromarama tampil impresif dengan handuk yang disusun menjadi sebuah video stop motion. Judulnya Break A Leg. Sebanyak 230 kain bersulam disusun hingga menampilkan seseorang yang berlari tanpa henti. Menggunakan media handuk merk Good Morning yang diproduksi massal, karya ini menjadi wujud keprihatinan kelompok seniman itu terhadap industrialisasi yang mengukur segala hal dari nilai ekonomi.


Galeri bertingkat-tingkat. Tiap lantai menampilkan karya seniman berbeda


Ada sebuah ruangan yang di dalamnya orang-orang mendengar sebuah paparan. Saya nggak ngerti apa yang mereka bicarakan, Skip. Haha



Eko Nugroho menampilkan tiga karya. Salah satunya mural ini, yang mendefinisikan demokrasi.


Karya lain Eko Nugroho. Semua karya tersebut akan dipamerkan hingga tanggal 10 Januari 2016

Sabtu, 31 Januari 2015

Berkenalan Dengan Estetika Banal



“Apa yang kamu lihat dari foto ini?” Tanya pria bertopi itu. Saya kemudian menafsirkan sekenannya, “yang satu lari sebagai hobi, yang lain lari sebagai kewajiban”.  Dia tidak menyalahkan, pun tak menyebut jawaban saya betul sepenuhnya. Pria tadi, yang juga melingkarkan syal kain tenun di lehernya, kemudian memaparkan bahwa ada makna lain yang sebenarnya ingin dia sampai melalui foto itu. 


Sebuah foto memperlihatkan seorang perempuan berbaju olah raga lengan terbuka. Dengan topi Santa Klaus, ia berlari di sebuah jalan ibu kota. Di seberangnya, barisan tentara juga berlari, beberapa di antara mereka curi pandang ke si perempuan. Di belakang si tentara sebuah ucapan selamat natal dan tahun baru besar terpampang. Ternyata cara tafsir saya terlalu sederhana. Sang fotografer, Erik Prasetya, memaknai rekaman peristiwa itu sebagai mahalnya bayaran atas sebuah rasa aman. Bahwa agar si perempuan merasa nyaman merayakan natal dan tahun baru, atau jogging dengan busana demikian, perlu pengamanan yang jumlahnya juga diperlihatkan di foto. Dari momen itulah kemudian saya sekali lagi dibuat berdecak kagum dengan karya fotografi. Betapa ia multitafsir dan tetap indah. Yang juga membuat saya terkesan, adalah kisah dibalik fotografi jalanan dan tantangannya.


Adalah Erik Prasetya, seorang fotografer yang mendalami dunia pengabadian momen selama setidaknya 25 tahun terakhir. Ia pernah dinobatkan sebagai satu dari 20 fotografer Asia berpangaruh tahun 2012 oleh organisasi Invisible Photographers Asia. Erik kemudian menawarkan sebuah pendekatan fotografi bernama estetika banal. Dengan estetika banal, gerak manusia dan elemen keseharian yang banal atau terkesan biasa, ditampilkan dalam sebingkai keindahan. Estetika banal, juga jadi tajuk pameran foto Erik Prasetya. Sejumlah figur ditampilkan sejak 17 Januari 2015 dalam Galeri Salihara yang melingkar. Foto yang dijepret tahun 1990an berwarna hitam-putih. “Ini (foto hitam-putih) proyek pribadi. Saat itu saya sebagai profesional selalu bekerja dengan warna. Assignment-ku minta warna, sehingga ada rasa kalo pake warna itu kerja profesional, bukan buat saya. Yang kedua hitam putih itu filmnya murah”, ujarnya menjelaskan.


Meski ada yang hitam-putih dan banyak juga yang berwarna, foto Erik bernyawa sama: jalanan. Lokasi semua fotonya adalah jalan. Dari jalanan itu pula berbagai makna dan kisah ia perlihatkan. Misalnya, sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita berambut hijau, bertengger di sebuah jembatan penyeberangan dengan novel filsafat Dunia Sofi di tangannya. Bibir yang hampir tersungging direkam sebagai respon dari senyum yang lebih mengembang dari seorang pria di depannya. “Kalau saya selalu berusaha menebak apa yang akan terjadi. Sebelum terjadi saya harus tahu kejadian berikutnya”, ujar pria asal Padang Sumatera Barat ini mengawali kisah. “Saya foto sekali. Saya ingin lihat reaksi dia, ternyata dia cuek. Kemudian dia berdiri dan menyender. Saya set ukuran, jarak. Udah betul. Bergitu saya lihat gerombolan orang turun, nah ini momen saya. Nah inilah (jadinya). Tapi ini kan yang berhasil, yang gagal banyak juga”.


Pameran estetika banal, bagi Erik Prasetya adalah pertanggungjawaban. “Setiap tahun bikin semacam pertanggungjawaban, catatan tentang Jakarta. Tahun ini saya bikin street, rain and style, paling tidak 40 post card tiap tahun. Nanti setelah 3-4 tahun jadi buku dengan tema lain”, Erik menjelaskan. Selain melalui pameran foto, ia juga meluncurkan sebuah buku kolaborasi dengan istrinya, Ayu Utami. Tentang isinya, ia hanya menarangkan bahwa buku berisi 13 subjudul itu tentang pencarian estetika Erik dan Ayu. Judulnya Banal Aesthetics and Critical Spiritualism.


Buku ini dirilis pada 31 Januari 2015 sore di Serambi Salihara, bersamaan dengan penutupan pameran dan penerbitan buku pertama dari seri novel berjudul besar Spiritualisme Kritis yang digubah Ayu Utami. Titel pertama seri tersebut berjudul Simple Miracle: Doa dan Arwah. Seri spiritualisme kritis itu sendiri berarti bahwa kisah yang dihadirkan Ayu dalam seri bukunya, akan mengupas hal-hal spiritual yang dikaitkan dengan logika berpikir rasional. “Seri spiritualisme kritis adalah refleksi tokoh Parang Jati di seri Bilangan Fu”, ujar sosok yang kisah hidupnya dituliskan sang istri Ayu Utami dalam novel Cerita Cinta Enriko itu menutup percakapan. []

Minggu, 16 Maret 2014

Regenerasi ARTE

Rangkaian acara pameran seni ARTE hadir lagi. Kali ini ia datang dengan tema re:generation. Ada empat interpretasi dari tema ini. Pertama, karya-karya yang ditampilkan mewakili kondisi generasinya saat ini. Kedua, ada juga yang memaparkan kemungkinan yang terjadi di masa depan dengan karyanya. Ketiga, sejumlah karya memperlihatkan adanya jarak antar generasi. Lalu yang terakhir, ada juga yang berupaya mengenang masa lalu. Dari 400 karya yang masuk, telah lolos seleksi 72 diantaranya. Mereka lahir dari 57 orang seniman. Berikut ini akan saya ceritakan beberapa karya yang bisa saya bahas.



Seorang komikus bernama Azer menampilkan karya melalui goresan tinta diatas kertas yang berisi kritikan tentang sejumlah hal. Misalnya, tentang media sosial yang justru membuat seseorang antisosial. Ada juga tentang nostalgia super hero masa kecil yang dikaitkan dengan teknologi terkini. Azer juga menampilkan fenomena sosial yang tak hanya berkaitan dengan media sosial. Goresannya sederhana, minim warna, tapi sarat makna.

The Bomber's Heart. Demikian saya melihat karya The Popo Bertajuk D.O.A. Entah berarti doa entah maknanya dead or alive (you always be in my heart dad). Tahun lalu ayah Ryan "Popo" Riyadi berpulang. Sejumlah karya visual bernafas kenangan bersama ayah pernah ia produksi. Kali ini ia melakukannya lagi di ARTE. Ada lima adegan unik seorang ayah dan anak khas The Popo. Yang juga menyentil hati, di satu bagian Popo menuliskan kutipan kalimat ayahnya, "Tuhan memberikan surga-Nya lebih dulu di dunia kepada saya yaitu anak-anak saya".


Adalah seorang Bali bernama I Made Muliana Bayak, pelukis cum gitaris band Geekssmile. Serupa dengan yang selalu ia suarakan dalam lirik lagunya, Bayak kukuh melaju di tema kapitalisme. Dalam karyanya berjudul Raped Island ini, tampak peta pulau Bali yang ditandai kata SOLD di seluruh bagiannya.


Vokalis Seringai Arian13 juga menghadirkan karyanya. Satu diantaranya adalah cover dari album Taring. Arian tetap menampilkan tengkorak sebagai sidik jari karyanya, dan sindiran terhadap makna damai.
Seorang bernama Bunga Fatia menghadiahkan grafiti untuk ibunya yang berulang tahun. Dengan cat semprot diatas kayu tripleks, karya itu berhasil memudakan sosok ibu. Judul karyanya serupa dengan yang tertulis disana, Happy Birthday Mom.

Jatiwangi Art Factory hadir di ARTE. Pentolannya yang memajang karya adalah Arie Syarifuddin. Ia menampilkan sebuah performance art yang ditampilkan dalam bus di Singapura. Seorang pria masuk bisa dan meminta maaf di hadapan semua penumpang. Lalu dia menyalami semuanya satu persatu. Yang menolak ia minta "take my hand", sementara yang tetap menolak ia biarkan. Saya berharap orang-orang Singapura itu tak tahu kalau yang mohon maaf karena melanggar aturan itu orang Indonesia. Hehe.

Sebuah film lebih dari empat menit menampilkan perjalanan seorang siswa SMK yang berkenalan dengan seni. Penuturannya yang humoris membuat film ini menarik. Judul filmnya The Undifined Artist atau Seniman Bau Kencur. Pembuatnya Zulficzar Arie.

Karya satu ini menurut saya yang paling berkesan. Sebuah film 24 menit menampilkan dialog antara empat orang pendaki gunung di tendanya. Obrolan mereka direkam sekali tembakan kamera. Gaya mereka bertutur juga cair. Dari soal film, kebiasaan seksual pria, hingga kontemplasi keberadaan makhluk ekstra terestrial. Kejutan dari film ini ada di visualisasi bagian akhir. Sayangnya, film berjudul Pangeran Kesepian ini lalai memperhitungkan posisi tiduran para aktor yang aneh. Mereka berbaring diatas satu bantal dengan posisi membentuk tanda plus. Ukuran tenda yang terlihat di bagian akhir rasanya tidak memungkinkan untuk berbaring dengan pose demikian. Tapi toh kalau kita mau maklum, si ending mengejutkan tadi bisa jadi alasan. (Teks dan foto oleh Rheza Ardiansyah)

Senin, 26 Desember 2011

Pameran Not Fade Away

Saya dan Herry Sutresna sudah beberapa kali berbincang melalui email, tapi saya baru tahu beberapa waktu kemudian bahwa salah satu motor kelompok musik legendaris Homicide itu rutin menulis di blog pribadinya, gutterspit.com. Melalui salah satu postingnya, tahulah saya bahwa di suatu galeri di Bandung akan digelar pameran seorang seniman serba bisa bernama Andry Moch. Selepas membaca informasi disana, saya hanya sebatas tahu dan ingin datang, kendala jarak Bogor-Bandung menciutkan niat.

Beberapa minggu kemudian saya berkesempatan mengunjungi adik saya di Dago Bandung. Sewaktu melintas di depan kampusnya, saya menemukan baliho pameran yang dimaksud Ucok Homicide di blognya. Meski hari sudah petang, saya nekad menyisihkan waktu untuk berkunjung ke pameran itu. Sore itu pintu masuk galeri tertutup kawanan orang yang sedang berbincang. Saya nyatakan maksud ingin mengapresiasi, namun sayang waktu kunjung telah usai. Ketika ditanya dari mana saya berasal, barulah pengelola pameran mengasihani kehadiran saya yang demi pameran itu. Saya tak berkeberatan meski lampu besar tidak diaktifkan, meski demikian si pengelola yang wajahnya (dan rambutnya juga) mirip Tison itu berbaik hati menyempurnakan kelengkapan pameran. Saya berkeliling menikmati karya almarhum sambil berbincang dengan pengelola tadi, yang memperkenalkan diri sebagai Amenk, si perupa yang pamerannya sempat saya sesalkan tidak dihadiri, padahal ketika itu Ucok didaulat jadi penyampai opening speech. Melalui Amenk saya juga diingatkan untuk hadir beberapa hari lagi, karena Ucok akan tampil. (sementara hingga saat ini saya belum pernah menyaksikan penampilan sang legenda secara langsung). Akhirnya di hari penampilan Ucok akan berlangsung, saya benar-benar absen. 

Berikut foto-foto yang menggambarkan suasana pameran Not Fade Away karya Andry Moch, seniman jebolan UPI Bandung yang mangkat di usia muda dan karyanya sudah menembus gerbang pameran tingkat internasional di berbagai negara.






Sabtu, 26 Maret 2011

Memamerkan-Dipamerkan

Kata dasarnya “pamer”. Tanpa memakai asesoris lain, kata tadi memiliki rasa yang sama dengan kesan yang timbul dari kata “sombong”. Coba si “pamer” tadi ditambah sufiks “-an” menjadi “pameran”. Maknanya tentu sekarang berbeda. “Pamer” dalam pameran sekarang sudah berubah menjadi arena untuk pamer, atau tempat memamerkan, meskipun kesan yang timbul dari kata itu kini tak lagi dekat dengan kesan kata “sombong”. Baiklah, kita tidak akan membahas kaidah-kaidah berbahasa. Yang ingin saya ceritakan kali ini memang ada hubungannya dengan kata itu. Pertama mari kita bahas dulu, MEMAMERKAN.

Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra menggelar pameran seni rupa dan fotografi di Koridor Tanah Faperta minggu ini. Tema pameran itu adalah “Perdamaian”. Saya ikut serta dalam kegiatan itu, dua karya saya lolos proses kurasi. Karya pertama adalah sebuah foto yang saya ambil dengan kamera ponsel di masjid Salman ITB beberapa bulan lalu. Di foto itu diperlihatkan dua orang pengemis yang sedang membaca satu koran yang sama. Karya kedua adalah sebuah gambar (coretan tepatnya) yang saya buat diatas kertas ukuran A5. Gambar itu saya buat dengan crayon yang dihadiahkan Nadia Naomi sebagai kado perpisahan.

Selama pameran berlangsung, gambar itu dipajang sebingkai bersama mahakarya miliki Widyastuti Utami (Windi), ilustrator senior Koran Kampus yang juga menjabat sebagai (ehm) pasangan saya. Hehe. Pacar maksudnya. Gambar Windi tentu saja tidak usah diragukan lagi nilai artistiknya. Dalam sketsa berjudul “Namanya Juga Ibu-Ibu” itu, Windi memperlihatkan dua orang ibu yang membawa belanjaannya. Ibu yang satu terlihat rapi dengan kantong belanjaan dari kertas. Sementara ibu lainnya bermata sayu dengan busana seadanya dan barang belanjaan dalam kantong plastik hitam. Tema perdamaian mampu menyatu dengan estetika di gambar itu.

Sekarang mari kita tengok gambar saya. Orang pertama yang saya perlihatkan gambar itu adalah Windi. Saat itu ia bingung dengan orientasi arah gambar agar bermakna. Beberapa menit berlalu, akhirnya saya bocorkan rahasia makna gambar itu. Tak berbeda dengan Windi, Pak De juga bingung setelah melihat gambar saya. Dibolak-baliknya kertas itu, hingga akhirnya beliau menyerah, tak mengerti bentuk apa gerangan yang saya gambar itu. Saya pun mengalah. Itu adalah gambar tangan yang mengacungkan jari telunjuk. Kelima jari tangan kanan itu dibuat berwarna-warni. Maknanya, beda warna tapi tetap bersatu. Nah, lalu ada kesalahpahaman. Kak Titis SMS, tanya apa judul gambarnya. Saya kira beliau bertanya judul foto, lalu saya jawab “Berbagi Topik”. Jadilah judul gambar itu “Berbagi Topik”. Hehe.


Sekarang mari kita bahas topik kedua, DIPAMERKAN.


Tanggal 23 Maret ayah saya mengirim SMS bahwa di koran Pikiran Rakyat ada iklan Finding Nadia. Tentu saya tidak langsung percaya, mungkin beliau salah baca. Lalu beliau begitu detil memberi penjelasan tentang titel album Finding Nadia, A huge Difference Between Zero and The Number After, bahkan beliau menyertakan email penulisnya. Penasaran dengan kabar itu, saya lalu meminta Windi yang sedang ada di Bara untuk membeli koran itu. Ternyata benar, band saya bersama Rona, Van, Deni dan Iqbal itu benar-benar diliput media nasional, Harian Umum Pikiran Rakyat. Tapi rasa senang sore itu juga dicampuri rasa sedih. Tepat seminggu sebelumnya, Van menyatakan hengkang dari Finding Nadia. Padahal pencapaian ini tentu akan lebih terasa manis jika Finding Nadia berformat lengkap. Meski demikian, saya yakin Van akan kembali lagi bersama Finding Nadia (ya kan Van? Iya aja deh :D). Wah, mulai melankolis nih. Langsung saja kalau begitu saya perlihatkan penampakannya.

Finding Nadia ada di kiri bawah

Klik gambarnya, baca dalam gambar ukuran lebih besar :)


Tanggal 19-20 Maret saya juga mengikutsertakan dua foto saya ke pameran di daerah Taman Kencana. Sayangnya saya berhalangan hadir kesana. Inilah kedua foto yang saya maksud: