Tampilkan postingan dengan label finding nadia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label finding nadia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 April 2014

Don't Climb The Wall, Walk Through It

Saya punya gagasan tentang suatu rangkaian nada untuk dikemas dalam sebuah lagu. Salah satu yang sudah tersusun dalam formasi yang membentuk drama, ya lagu di bawah ini. Membentuk drama maksudnya sudah ada flow-nya gitu, ada pengantar, klimaks, lalu ending-nya juga sudah terpikirkan. Tinggal liriknya yang belum ada. Ketika Finding Nadia sepakat untuk merilis album terakhir dan membubarkan diri, lagu ini saya ajukan, karena nuansanya memang minor, sesuai dengan roh Finding Nadia yang emo. Setelah diperdengarkan ke teman-teman yang lain, mereka punya pemaknaan sendiri dengan lagu ini. Fan punya liukan nada sendiri untuk mengisi part gitar lain, demikian juga Cet dan Rona yang lebih nyaman dengan alur nada versinya sendiri. Liriknya rampung setelah diracik Rona, sesi vokalisasi  juga akhirnya beres. Tapi kami sempat kesulitan memberi judul. Setelah menyingkirkan sejumlah judul lain, disepakatilah titel lagu keenam di album terakhir Finding Nadia ini, adalah Don't Climb The Wall, Walk Through It. Video dibawah adalah janin dari lagu tersebut. Selamat menikmati!


Rabu, 25 Desember 2013

Mengenang Finding Nadia

Motor yang saya dan Fan tunggangi melamban di hadapan sebuah toko grosiran. "Udah ga ada lagi. Sempet jadi sengketa, akhirnya dirubah jadi toko", demikian kira-kira penjelasan Fan tentang tempat pertama kami berdiri sepanggung, Cibinong Billiard. Menjelang Agustus 2008 berakhir, Finding Nadia pertama kali menyatakan diri ada. Penampilan pertama Finding Nadia malam itu sempat saya abadikan dalam sebuah tulisan. Lima tahun berselang, jalan Cibinong kembali saya gilas bersama Fan. Jika dulu kami ke Cibinong untuk membuka eksistensi Finding Nadia, kini kami menutupnya.

Lahirnya "April is Our December"


Segmen pamungkas kisah Finding Nadia bermula dari tercukupinya tabungan karya untuk dibungkus dalam sebuah album. Sejak menelurkan "A Huge Diffenrence Between Zero And The Number After" pada 2010, band bentukan 2008 ini jarang mempresentasikan karya. Sesekali satu dua lagu tercipta, lalu rilis berupa single. Pertengahan September 2013, bulatlah rencana rilis album terakhir. Saat itu penyelesaian album juga mulai dicicil.
Vokalisasi lima materi album April is Our December

Dua hari menjelang rilis, saat finalisasi album terakhir Finad, Rona berhalangan hadir. Akhirnya sesi vokal di tiga track diisi tiga orang lain. Seperti ketika Hollow Lines direkam, ada momen konyol yang terekam dan rasanya sayang kalau dibuang. 
Suara batuk Cet masuk di lagu Run Something New
Pas hari natal, semua materi album sudah siap dipublikasikan setelah melalui tahap mixing dan mastering oleh Fan. Akhirnya tepat jam 12 siang April is Our December rilis dan Finding Nadia bubar. 
Cover album dibuat Windi berdasarkan interpretasi dia tentang pengalaman yang telah dijalani empat orang personil Finad
Finding Nadia: Awalnya Cuma Band


Sejak jadi anak SMA, saya selalu memimpikan punya sebuah band yang menyanyikan lagu sendiri, band yang jadi cerminan tentang musik apa yang saya suka. Baru ketika jadi mahasiswa, cita-cita itu jadi nyata. Awalnya dari pertemuan saya dan Fan di ospek kampus. Kami sama-sama suka Nirvana. Ternyata, kami juga seselera saat menyukai jenis musik lain. Sepakatlah kami merencanakan sebuah band emo, meneruskan proyek band yang Fan bangun sejak dia SMA, Second Story. 

Di asrama, saya kenal teman depan kamar yang juga suka musik, dan dia vokalis band Freshmilk, namanya Rona. Rona mengajak saya mengisi sebuah acara bentukan organisasi musik kampus. Akhir 2007 itu, kami nyanyiin lagu The Ataris dan New Found Glory. Di bagian scream lagu Catalyst, Fan tiba-tiba naik panggung dan tarik mikrofon, ikutan scream. Dari situlah kemudian saya, Fan dan Rona merancang pembentukan band baru. Belum punya satu personil lain, Cet kemudian diusulkan diajak. Lalu berkumpullah kami berempat di lobi asrama putra C1 IPB.


Siang 2008 itu di lobi asrama kami mencari sebuah nama band. Semua sepakat nama yang dipilih bernuansa feminin, padahal image band yang bakal dibangun jauh dari kesan itu, mirip band emo macam Alesana, Aiden, Emery, dll. Lalu muncullah nama Nadia, seorang mahasiswi yang kami kenal di event musik kampus. Dibubuhkan kata tambahan, jadilah Finding Nadia nama band baru kami. Lima bulan kemudian pengalaman panggung pertama kami jajal.

Poster event "Kota yang Hilang" di Cibinong Billiard 30 Agustus 2008. Waktu itu Cet berhalangan hadir. Bass diisi Roy
Kami tak jarang teriak-teriak nyanyi di asrama. Sering juga kumpul di rumah Rona. After Farewell jadi lagu pertama yang kami gubah. Di album pertama, lagu itu ada di urutan paling bontot. Album pertama berjudul "A Huge Difference Between Zero And The Number After" rilis Februari 2010. Pertama kali kami mendistribusikan kepingan CD-nya di gelaran Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA) bentukan sebuah komunitas seni. Dari situ kemudian pengalaman panggung kami bertambah. Dari panggung kecil sekelas kampus, pensi anak SMK, sampai manggung di luar kota, sudah kami coba. Sayangnya, kesibukan masing-masing personil jadi kendala. Finding Nadia lalu jadi empat orang setelah Deni pindah domisili ke Palembang. Sementara Finding Nadia vakum, saya ikut band Clumsy Little Boy dan Operasi Plastik, Fan bentuk Asphoria dan Various Flames, Rona rancang Nanoblast, dan Cet makin fokus di aktivitas penyelaman.


Meski jarang kumpul sebagai sebuah band yang aktivitas utamanya bermusik, kadang kami nonton bareng, nginep di rumah Rona, atau sekedar renang sama-sama. Itulah yang membuat Finding Nadia bagi saya akhirnya bukan cuma nama band. Meski bandnya sekarang bubar, aktivitas barengan kayak tadi bukan ga mungkin terus dilakukan.

Selasa, 24 Desember 2013

New Album: Finding Nadia - April Is Our December (2013)


Selamat hari natal, hari kelahiran Sang Juru Selamat. Momen kelahiran Kristus hari ini juga menjadi selebrasi kelahiran album baru Finding Nadia. Paket karya Finding Nadia kali ini bertajuk April Is Our December. Ada sembilan lagu yang dipasang di album pamungkas ini. Ya, setelah rilisan ini, Finding Nadia membubarkan diri.

April 2008, empat orang mahasiswa baru sebuah universitas di Bogor sepakat dengan sebuah nama band, Finding Nadia. Nama itu berawal dari inspirasi yang hadir dari sejumlah band emo/screamo yang hanya berkesan feminin di nama. Keempatnya lalu setuju meminjam nama seorang mahasiswi yang mereka kenal di sebuah kegiatan kampus. Jadilah Finding Nadia setelah awalan kata kerja ditambahkan sebagai pelengkap. Finding Nadia kemudian menjadi lima, setelah seorang drummer masuk. Empat bulan kemudian, mereka menjajal panggung pertama di sebuah gig bertajuk "Kota yang Hilang".

Dalam menjalankan Finding Nadia, para personilnya seringkali kesulitan menemukan irisan waktu di sela aktivitas primer mereka. Buntutnya, baru dua tahun setelah ada, album perdana Finding Nadia tercipta dengan judul "A Huge Difference Between Zero and The Number After". Kendala serupa tetap bersama mereka, meski sejumlah panggung sempat menjadi ajang presentasi karya Finding Nadia. Sejak 2012, Finding Nadia yang saat itu hingga kini kembali berempat, berkumpul lagi dan mengolah tabungan karya mereka. Mengenang April sebagai bulan kelahiran, album "April Is Our December" akhirnya dirilis.

Pencapaian progresif seorang kreator, terjadi ketika mereka menggubah karya yang berbeda dengan kreasi sebelumnya, namun tetap terhubung benang merah yang sama. Ikhtiar itu dilakukan Finding Nadia di album keduanya ini. Sembilan lagu dihimpun dari rentang masa tiga tahun proses kreatif. "Pagi Ini di Semester Akhir" sempat dirilis sebagai single. Pun demikian dengan "Tak Kan Pernah Sama" yang sempat muncul dalam wujud akustik. Sementara "Sejak Dekade Terakhir" berasal dari rilisan lama proyek Various Flames, "Tell You Something" ditarik dari album pertama dengan menghadirkan Rizka Zahra Tamira sebagai modifikator sektor vokal. Sisa lima lagu lain tercipta spesial untuk album penutup ini. Mereka adalah "Anthem of Birth", "Hollow Lines", "It Ain't Over 'Till It's Over", "Don't Climb the Wall, Walk Through It!" dan "Run Something New". Seluruh materi album direkam secara swadaya di sebuah ruang rekaman yang juga seadanya. Rekaman momen-momen selama proses vokalisasi sengaja dimasukkan di ujung dua lagu, sebagai perwakilan serupanya gambaran suasana saat Finding Nadia terbentuk, hingga kini terpisah. Semoga rilisan terakhir Finding Nadia ini menjadi hadiah natal yang berkesan.

track list:

1. Anthem of Birth
2. Pagi ini di Semester Akhir
3. Hollow Lines
4. It ain't Over 'till It's Over
5. Tak Kan Pernah Sama
6. Don't Climb the Wall, Walk Through It!
7. Sejak Dekade Terakhir
8. Tell You Something
9. Run Something New

Download link:
APRIL IS OUR DECEMBER (26 MB)

Finding Nadia:

Rona Jutama Yonanda
Rheza Ardiansyah
Raden Achmad Fauzan Alfansuri Rahili
Mohamad Iqbal Panggarbesi

Release date: December 25th, 2013

Copyright: FINAD 2013

http://soundcloud.com/findingnadia

http://twitter.com/finding_nadia

https://www.facebook.com/FindingNadiaMusic

Sabtu, 07 Desember 2013

Penampilan Terakhir Yas bersama Alone At Last

Foto dipinjam tanpa izin dari wadezig.com
Vokalis band Alone At Last, Yas Budaya, hengkang dari band tempatnya berkarya selama sebelas tahun. Sore tadi ia menghelat pertunjukan terakhir dengan band asal Bandung itu. Berarena di gelaran Jakcloth 2013, penampilan terakhir Alone At Last (AAL) bersama Yas saya saksikan sejak pertengahan sesi. Sejumlah hal menarik membuat saya tak sabar untuk mendokumentasikannya disini.


Saya merangsek ke hadapan panggung saat Muak Untuk Memuja dimainkan. Ada yang berbeda dari departemen gitar di kiri panggung. Tak ada Indra Papap disana. Yang terlihat justru seorang gitaris lain yang sepertinya berstatus additional karena dosen Hubungan Internasional di Unpad Bandung itu mungkin sedang berhalangan gabung. Rupanya itu gitaris band ALICE. Saya tahu setelah Yas mengenal dan mempromosikan band itu. 

Seorang pria entah siapa juga naik panggung. Mengaku tahu AAL sejak mereka baru band studio-an, orang itu disambut hangat para personil AAL. Dia lanjut curhat bahwa dirinya berhutang inspirasi. Di belakangnya, Yas duduk menunduk sambil sesenggukan. Dia juga cerita soal Papap yang sudah tidak lagi bersama AAL. Disitulah saya baru sadar bahwa ternyata Yas bukan yang pertama meninggalkan band emo-punkrock itu.

Di akhir pertunjukan, Takkan Berakhir Disini dialunkan. Lagu ini sekaligus jadi pernyataan sikap bahwa meski Yas keluar, AAL masih ada dengan tiga personil lain yang masih tersisa. Penampilan Yas sore tadi masih sama dengan aksi yang biasa ia tampilkan, diantaranya membagikan stiker (kali ini bersama uang kertas sepuluh dan dua puluh ribu), sampai berpantomim dengan mukanya yang ekspresif. Tanpa mikrofon, dia lalu minta maaf jika selama sepuluh atau sebelas tahun ini ada ucapannya yang salah. Terakhir, dia bilang "gue biasanya paling ga suka difoto-foto di panggung, tapi buat kali ini, boleh lah". Kelimanya berangkulan, menunduk hormat ke arah penonton, lalu usailah era Alone At Last bersama juru vokal Yas Budaya.

Saya dan Alone At Last


Di satu sesi pertunjukan terakhirnya bersama Alone At Last, Yas mengundang seorang remaja dengan kaos bertulisan pesan Positif Mental Atittude atau PMA. Dia ditanya-tanya soal band hardcore favoritnya. Ditanya soal AAL, dia mengaku ga ngefans banget. Saya tersenyum tipis dengan komentar dia. Saya juga begitu, ga ngefans banget tapi lumayan ngikutin karya Alone At Last, meskipun baru nonton live nya beberapa tahun setelah tahu lagunya.

Sebenarnya aksi panggung AAL yang fenomenal sudah saya dengar sejak SMA. Katanya bassisnya suka muter-muter instumen dia, terus loncat-loncatan. Penasaran dengan cerita itu, baru tahun 2011 saya kesampaian nonton AAL, di Java Rockingland. Saat itu saya mengalami pengalaman absurd. AAL manggung di Segara Stage yang tinggi panggunya sekitar 50 cm, dan tak ada pembatas antara penonton dan penampil. Di sebuah lagu, Yas berisyarat ke arah saya. Kira-kira maknanya "ayo naik sini, nyanyi bareng gue". Saya tentu salah tingkah ketika itu. "Serius saya boleh naik dan nyanyi bareng disana?" batin saya bertanya-tanya. Untungnya sebelum melompat naik, saya sempatkan tengok ke belakang. Rupanya Yas ngajak Ucay Rocket Rockers yang ada di belakang saya. Silahkan tertawakan saya (kalau kisah itu lucu. Hehe). Tapi di hari itu saya dapet sebuah stiker yang dilempar dari atas panggung, lumayan. Sampai sekarang stikernya masih melekat di gitar pusaka saya. 

Pertama kali saya tahu band ini, dari sebuah kaset yang dipinjamkan teman kakak kelas ketika SMA yang merupakan anak gaul Bandung. Saya sendiri saat itu tinggal di Garut. Di kaset tanpa kotak itu tertulis Alone At Least. Iya Least, bukan Last seperti seharusnya. Di sebuah kesempatan saya tanyakan hal ini ke Indra Papap. Katanya ga pernah AAL berkepanjangan Least di huruf L. "Salah tulis kali", kata dia saat itu. 


Lalu terpukaulah saya dengan lagu Amarah, Senyum dan Air Mata, tentu bersama Mainstream of Love, Valentine Love Song dan lagu lainnya. Berbagai rilis karya AAL saya ikuti dari lagu mereka yang masih sangat punk berjudul I Have No Feeling sampai single Takkan Berakhir Disini. Informasi nonmusik soal mereka juga saya ikuti. Dari berita rehatnya Indra karena harus studi ke Australia (ketika itu sekitar 2008, myspace masih sering dipakai), sampai ada kutipan pernyataan bahwa AAL bukan band emo, mereka menyerahkan penjenisan musik ke pendengar, meski kemudian mereka mengakui ke-emo-annya. Bahkan di sebuah konser besar mereka menyatakan "We Are Emo". Saya juga sisipkan kutipan kalimat AAL di blog ini, di bagian komentar tiap posting. Kalimat "Don't feel bad if people talk shit about you. Everybody has an opinion. Be true in your heart" itu berasal dari sebuah majalah indie berukuran A5 yang namanya sudah saya lupa. Selain itu, saking sukanya ke lagu mereka, bahkan di kelas saat SMA, saya tak jarang putar lagu mereka melalui DVD player, sampai teman sekelas saya bilang kalau giliran saya yang kuasai pemutar cakram itu, dia tutup kuping. Hehe. Saat itu memang tak banyak yang seselera musik sama saya.


Di bangku kuliah, tahun 2007, saya bertemu teman yang "berkuping" setipe. Saya dan mereka membentuk band emo-punk bernama Finding Nadia. Saat itu musik emo memang sedang bermekaran, meski di penghujung dekade pertama abad ke-21 itu kilaunya meredup. Finding Nadia cenderung sulit berproduksi karya, karena sulit menyempatkan diri dari aktivitas kuliah saat itu. Dalam empat tahun baru satu minialbum dirilis, judulnya A Huge Difference Between Zero And The Number After. Ketika AAL ditinggal vokalisnya di ujung 2013, Finding Nadia juga merencanakan bubar sebelum 2014 datang. Pembubaran dilakukan dengan merilis album terakhir yang judulnya April Is Our December. Meski nanti ga ngeband lagi atas nama Finding Nadia, saya sudah punya mainan baru, namanya Operasi Plastik. Sudah siap satu album, judulnya Tes. Band ini menggabungkan emo , punk, metal di sejumlah lagu. Meski tak merinci mau kemana dia setelah keluar dari AAL, saya yakin Yas masih punya proyek musikal lain. Dan karena aksi Yas di AAL sangat khas dan memberi warna cukup tebal di band itu, maka kiprahnya di aksi artisitik lain sangat layak untuk ditunggu. Jangan Berhenti Yas!

Sabtu, 23 Maret 2013

Finding Nadia and Operasi Plastik

Hello! my band Finding Nadia, actually off since a couple years ago. I, Fanfan, Rona and Cet have our own bussiness. We are not in the same college again. Then lately we are planning to record our new songs, and pack it in an album. Here is a preview of our upcoming album. Fanfan arranged it. I can't wait to play again in a band. Well, on the other side, Operasi Plastik is doing a new album too. First album. I love the songs. It's a blending of metal, punk, and something I cannot explain. Hahaha. Operasi Plastik's artwork album will be made by Thony. He's a great visual artist. OK, back to Finding Nadia. Below here I show you how Finding Nadia's second album will sounds like. Enjoy!

Sabtu, 26 Maret 2011

Memamerkan-Dipamerkan

Kata dasarnya “pamer”. Tanpa memakai asesoris lain, kata tadi memiliki rasa yang sama dengan kesan yang timbul dari kata “sombong”. Coba si “pamer” tadi ditambah sufiks “-an” menjadi “pameran”. Maknanya tentu sekarang berbeda. “Pamer” dalam pameran sekarang sudah berubah menjadi arena untuk pamer, atau tempat memamerkan, meskipun kesan yang timbul dari kata itu kini tak lagi dekat dengan kesan kata “sombong”. Baiklah, kita tidak akan membahas kaidah-kaidah berbahasa. Yang ingin saya ceritakan kali ini memang ada hubungannya dengan kata itu. Pertama mari kita bahas dulu, MEMAMERKAN.

Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra menggelar pameran seni rupa dan fotografi di Koridor Tanah Faperta minggu ini. Tema pameran itu adalah “Perdamaian”. Saya ikut serta dalam kegiatan itu, dua karya saya lolos proses kurasi. Karya pertama adalah sebuah foto yang saya ambil dengan kamera ponsel di masjid Salman ITB beberapa bulan lalu. Di foto itu diperlihatkan dua orang pengemis yang sedang membaca satu koran yang sama. Karya kedua adalah sebuah gambar (coretan tepatnya) yang saya buat diatas kertas ukuran A5. Gambar itu saya buat dengan crayon yang dihadiahkan Nadia Naomi sebagai kado perpisahan.

Selama pameran berlangsung, gambar itu dipajang sebingkai bersama mahakarya miliki Widyastuti Utami (Windi), ilustrator senior Koran Kampus yang juga menjabat sebagai (ehm) pasangan saya. Hehe. Pacar maksudnya. Gambar Windi tentu saja tidak usah diragukan lagi nilai artistiknya. Dalam sketsa berjudul “Namanya Juga Ibu-Ibu” itu, Windi memperlihatkan dua orang ibu yang membawa belanjaannya. Ibu yang satu terlihat rapi dengan kantong belanjaan dari kertas. Sementara ibu lainnya bermata sayu dengan busana seadanya dan barang belanjaan dalam kantong plastik hitam. Tema perdamaian mampu menyatu dengan estetika di gambar itu.

Sekarang mari kita tengok gambar saya. Orang pertama yang saya perlihatkan gambar itu adalah Windi. Saat itu ia bingung dengan orientasi arah gambar agar bermakna. Beberapa menit berlalu, akhirnya saya bocorkan rahasia makna gambar itu. Tak berbeda dengan Windi, Pak De juga bingung setelah melihat gambar saya. Dibolak-baliknya kertas itu, hingga akhirnya beliau menyerah, tak mengerti bentuk apa gerangan yang saya gambar itu. Saya pun mengalah. Itu adalah gambar tangan yang mengacungkan jari telunjuk. Kelima jari tangan kanan itu dibuat berwarna-warni. Maknanya, beda warna tapi tetap bersatu. Nah, lalu ada kesalahpahaman. Kak Titis SMS, tanya apa judul gambarnya. Saya kira beliau bertanya judul foto, lalu saya jawab “Berbagi Topik”. Jadilah judul gambar itu “Berbagi Topik”. Hehe.


Sekarang mari kita bahas topik kedua, DIPAMERKAN.


Tanggal 23 Maret ayah saya mengirim SMS bahwa di koran Pikiran Rakyat ada iklan Finding Nadia. Tentu saya tidak langsung percaya, mungkin beliau salah baca. Lalu beliau begitu detil memberi penjelasan tentang titel album Finding Nadia, A huge Difference Between Zero and The Number After, bahkan beliau menyertakan email penulisnya. Penasaran dengan kabar itu, saya lalu meminta Windi yang sedang ada di Bara untuk membeli koran itu. Ternyata benar, band saya bersama Rona, Van, Deni dan Iqbal itu benar-benar diliput media nasional, Harian Umum Pikiran Rakyat. Tapi rasa senang sore itu juga dicampuri rasa sedih. Tepat seminggu sebelumnya, Van menyatakan hengkang dari Finding Nadia. Padahal pencapaian ini tentu akan lebih terasa manis jika Finding Nadia berformat lengkap. Meski demikian, saya yakin Van akan kembali lagi bersama Finding Nadia (ya kan Van? Iya aja deh :D). Wah, mulai melankolis nih. Langsung saja kalau begitu saya perlihatkan penampakannya.

Finding Nadia ada di kiri bawah

Klik gambarnya, baca dalam gambar ukuran lebih besar :)


Tanggal 19-20 Maret saya juga mengikutsertakan dua foto saya ke pameran di daerah Taman Kencana. Sayangnya saya berhalangan hadir kesana. Inilah kedua foto yang saya maksud:

Sabtu, 15 Januari 2011

Finding Nadia: Dokumentasi di Peluncuran Album Kompilasi MAX!!

Sejak tadi siang gue manteng di SC buat ngupload foto-foto ini buat dikirim ke Dimas. Tapi koneksi di kantor MAX!! lagi gak bagus,jadinya baru malam bisa masuk,dan saking gedenya,g bisa dikirim lewat email. Jadinya lewat blogspot ini aja.Hehe. Sebenarnya posting ini spesial buat Dimas dan Vreezco, partner terbaik Finding Nadia yang telah mengendorse band itu dengan bajunya yang keren. Haha. Tapi temen-temen yang juga mau download foto-foto ini buat sekadar pengusir nyamuk atau gambar tempelan di kalender, silahkan klik gambar yang akan diunduh,nanti ukurannya jadi gede, baru deh disimpen. Well, that's all for today. Tetap apresiasi karya teman-teman kita yah. Mari bersulang bagi kedigjayaan apresiasi dan ekspresi seni. \m/