Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

Rahasia di Balik Penampilan Internasional White Shoes And The Couples Company

Bayangan sari menyanyi #gig #music #tempomusic #kemang #jakarta #wsatcc
Bayangan Sari menyanyi

Kamis lalu, saya memaksakan diri hadir ke diskusi #musiktempo. Bagi saya, nggak gampang buat ikut acara itu, karena jam kerja saya di Kedoya Jakarta Barat nggak seperti kebanyakan orang kantoran. Saya masuk baru pulang kerja jam 21.05. Sementara acara diskusi bulanan ini mulainya jam 19.00 di Kemang Jakarta Selatan. Akhirnya setelah beresin tugas mengisi berita untuk headline news, saya pulang duluan. Maksudnya buat ke diskusi itu.

Malam itu temanya tentang bagaimana membuat musik kita dikenal dunia internasional. Narasumbernya adalah band White Shoes and The Couples Company (WSATCC), lengkap dengan sang manager: Indra Ameng. Dipandu Robin Malau, diskusi berlangsung menarik. Ada beberapa fakta menarik yang saya dapatkan, meskipun nggak semuanya karena saya telat datang satu jam. Ameng memaparkan rahasia di balik band asuhannya yang sukses bermain di berbagai festival luar negeri. Ia kisahkan bagaimana mereka harus ngutang agar bekal tampil di festival luar negeri ada. Mereka juga perlu menyusun siasat agar penampilan mereka mendapat respon maksimal. Misalnya ketika akan tampil, Ameng sebarkan dulu pratinjau musik WSATCC ke berbagai media. Dengan demikian, ketika band kelahiran Jakarta tahun 2002 itu tampil, penontonnya banyak.

Selain diskusi dengan panduan mantan gitaris band indie legendari Puppen itu, tanya jawab dan tanggap-menanggapi dari kursi pemirsa juga ada. Dari barisan audiens, terlihat beberapa tokoh musik indie. Ada David Karto bos demajors yang juga buka lapak penjualan CD, ada Julius manager Bottlesmoker, ada juga David Tarigan, pemilik almarhum Aksara Records yang pertama kali mendistribusikan karya WSATCC. Tarigan juga membagi alasan kenapa ia tertarik untuk menjadi label rekaman band beranggota enam orang itu.

Rio Farabi, yang duduk di panggung bersama Ameng dan Malau, juga unjuk suara. Ia jawab pertanyaan yang berkaitan dengan musik WSATCC. Misalnya ketika seseorang bertanya via Twitter tentang musik apa yang berselera internasional, dan musik jenis apakah yang dimainkan WSATCC. Rio terlihat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengaku sering mendapat pertanyaan serupa. Rio menjawab dengan untaian kata yang saya sering dengar dari banyak musisi: "kami juga bingung musik kami ini tergolong apa". Pengakuan itu saya rasa wajar karena memang tiap band punya spesifikasi musikal yang khas dan sangat mungkin sulit dijelaskan dengan sebuah deskripsi. Secara umum, Rio menjawab bahwa musik bandnya itu adalah pop, yang juga dicampuri unsur-unsur jazz dan jenis musik lain. "Ale denger metal, Ricky dengerin musik yang aneh-aneh", demikian kira-kira Rio menggambarkan sumber kekhasan audio WSATCC. Di satu kesempatan tanya jawab, Rio juga menjelaskan tentang apakah ada rasa bosan karena bergaul dengan orang sama selama lebih dari sepuluh tahun sempat singgah. Ia mengakui hal itu, apalagi katanya mereka bersama sejak kuliah. Untungnya masing-masing orang punya pekerjaan lain. Ada yang jadi guru, ada juga ilustrator, "ada yang jadi traveller", ujar Rio sambil melirik Ricky Virgana yang kemudian diiringi tawa dan acungan dua jari tengah si bassis itu.

Diskusi malam itu ditutup dengan penampilan WSATCC yang membawakan sejumlah lagu. Saya lupa tepatnya berapa. Kalo ga salah 5 lagu dari album Menyanyikan Lagu Daerah sampai Vakansi. Usai panggung digulung, saya mencegat Ameng ketika ia melewati tempat saya duduk. Saya tanyakan sejumlah hal spesifik tentang posisinya sebagai manager. Sayangnya, sebelum saya puas bertanya, ia keburu menuju kumpulan kawanannya di bagian lain bar itu. Meskipun singkat, pembicaraan dengan Ameng itu cukup berisi untuk menambah kecakapan saya yang juga sedang belajar jadi manager sebuah band.

Manager Asphoria
Saya jadi manager Asphoria sejak awal 2012. Kala itu Asphoria baru merilis album penuh keduanya yang berjudul Eschatology. Di akhir tahun, saya juga sempat menemani mereka tampil di Kick Fest Bandung. Sayangnya, setelah itu saya tak bisa total mengelola Asphoria karena keterbatasan waktu. Akhirnya pengelolaannya diambil alih Fan. Akhir 2014, Asphoria resmi bekerja sama dengan Warner Music Indonesia. Saya kembali diajak jadi manager sampai sekarang. Asphoria saat ini sedang belajar memonetasi karya kami. Kami sedang membuka pemesanan kaos . Kaos ini didesain oleh Firsha Indhar, seorang ilustrator dari Malang. Ia terinspirasi dari lagu Living In A World Of Atrocity. Kalau kamu mau punya salah satu kaosnya, silakan pesan ke saya. 

Selasa, 24 Desember 2013

New Album: Finding Nadia - April Is Our December (2013)


Selamat hari natal, hari kelahiran Sang Juru Selamat. Momen kelahiran Kristus hari ini juga menjadi selebrasi kelahiran album baru Finding Nadia. Paket karya Finding Nadia kali ini bertajuk April Is Our December. Ada sembilan lagu yang dipasang di album pamungkas ini. Ya, setelah rilisan ini, Finding Nadia membubarkan diri.

April 2008, empat orang mahasiswa baru sebuah universitas di Bogor sepakat dengan sebuah nama band, Finding Nadia. Nama itu berawal dari inspirasi yang hadir dari sejumlah band emo/screamo yang hanya berkesan feminin di nama. Keempatnya lalu setuju meminjam nama seorang mahasiswi yang mereka kenal di sebuah kegiatan kampus. Jadilah Finding Nadia setelah awalan kata kerja ditambahkan sebagai pelengkap. Finding Nadia kemudian menjadi lima, setelah seorang drummer masuk. Empat bulan kemudian, mereka menjajal panggung pertama di sebuah gig bertajuk "Kota yang Hilang".

Dalam menjalankan Finding Nadia, para personilnya seringkali kesulitan menemukan irisan waktu di sela aktivitas primer mereka. Buntutnya, baru dua tahun setelah ada, album perdana Finding Nadia tercipta dengan judul "A Huge Difference Between Zero and The Number After". Kendala serupa tetap bersama mereka, meski sejumlah panggung sempat menjadi ajang presentasi karya Finding Nadia. Sejak 2012, Finding Nadia yang saat itu hingga kini kembali berempat, berkumpul lagi dan mengolah tabungan karya mereka. Mengenang April sebagai bulan kelahiran, album "April Is Our December" akhirnya dirilis.

Pencapaian progresif seorang kreator, terjadi ketika mereka menggubah karya yang berbeda dengan kreasi sebelumnya, namun tetap terhubung benang merah yang sama. Ikhtiar itu dilakukan Finding Nadia di album keduanya ini. Sembilan lagu dihimpun dari rentang masa tiga tahun proses kreatif. "Pagi Ini di Semester Akhir" sempat dirilis sebagai single. Pun demikian dengan "Tak Kan Pernah Sama" yang sempat muncul dalam wujud akustik. Sementara "Sejak Dekade Terakhir" berasal dari rilisan lama proyek Various Flames, "Tell You Something" ditarik dari album pertama dengan menghadirkan Rizka Zahra Tamira sebagai modifikator sektor vokal. Sisa lima lagu lain tercipta spesial untuk album penutup ini. Mereka adalah "Anthem of Birth", "Hollow Lines", "It Ain't Over 'Till It's Over", "Don't Climb the Wall, Walk Through It!" dan "Run Something New". Seluruh materi album direkam secara swadaya di sebuah ruang rekaman yang juga seadanya. Rekaman momen-momen selama proses vokalisasi sengaja dimasukkan di ujung dua lagu, sebagai perwakilan serupanya gambaran suasana saat Finding Nadia terbentuk, hingga kini terpisah. Semoga rilisan terakhir Finding Nadia ini menjadi hadiah natal yang berkesan.

track list:

1. Anthem of Birth
2. Pagi ini di Semester Akhir
3. Hollow Lines
4. It ain't Over 'till It's Over
5. Tak Kan Pernah Sama
6. Don't Climb the Wall, Walk Through It!
7. Sejak Dekade Terakhir
8. Tell You Something
9. Run Something New

Download link:
APRIL IS OUR DECEMBER (26 MB)

Finding Nadia:

Rona Jutama Yonanda
Rheza Ardiansyah
Raden Achmad Fauzan Alfansuri Rahili
Mohamad Iqbal Panggarbesi

Release date: December 25th, 2013

Copyright: FINAD 2013

http://soundcloud.com/findingnadia

http://twitter.com/finding_nadia

https://www.facebook.com/FindingNadiaMusic

Sabtu, 07 Desember 2013

Penampilan Terakhir Yas bersama Alone At Last

Foto dipinjam tanpa izin dari wadezig.com
Vokalis band Alone At Last, Yas Budaya, hengkang dari band tempatnya berkarya selama sebelas tahun. Sore tadi ia menghelat pertunjukan terakhir dengan band asal Bandung itu. Berarena di gelaran Jakcloth 2013, penampilan terakhir Alone At Last (AAL) bersama Yas saya saksikan sejak pertengahan sesi. Sejumlah hal menarik membuat saya tak sabar untuk mendokumentasikannya disini.


Saya merangsek ke hadapan panggung saat Muak Untuk Memuja dimainkan. Ada yang berbeda dari departemen gitar di kiri panggung. Tak ada Indra Papap disana. Yang terlihat justru seorang gitaris lain yang sepertinya berstatus additional karena dosen Hubungan Internasional di Unpad Bandung itu mungkin sedang berhalangan gabung. Rupanya itu gitaris band ALICE. Saya tahu setelah Yas mengenal dan mempromosikan band itu. 

Seorang pria entah siapa juga naik panggung. Mengaku tahu AAL sejak mereka baru band studio-an, orang itu disambut hangat para personil AAL. Dia lanjut curhat bahwa dirinya berhutang inspirasi. Di belakangnya, Yas duduk menunduk sambil sesenggukan. Dia juga cerita soal Papap yang sudah tidak lagi bersama AAL. Disitulah saya baru sadar bahwa ternyata Yas bukan yang pertama meninggalkan band emo-punkrock itu.

Di akhir pertunjukan, Takkan Berakhir Disini dialunkan. Lagu ini sekaligus jadi pernyataan sikap bahwa meski Yas keluar, AAL masih ada dengan tiga personil lain yang masih tersisa. Penampilan Yas sore tadi masih sama dengan aksi yang biasa ia tampilkan, diantaranya membagikan stiker (kali ini bersama uang kertas sepuluh dan dua puluh ribu), sampai berpantomim dengan mukanya yang ekspresif. Tanpa mikrofon, dia lalu minta maaf jika selama sepuluh atau sebelas tahun ini ada ucapannya yang salah. Terakhir, dia bilang "gue biasanya paling ga suka difoto-foto di panggung, tapi buat kali ini, boleh lah". Kelimanya berangkulan, menunduk hormat ke arah penonton, lalu usailah era Alone At Last bersama juru vokal Yas Budaya.

Saya dan Alone At Last


Di satu sesi pertunjukan terakhirnya bersama Alone At Last, Yas mengundang seorang remaja dengan kaos bertulisan pesan Positif Mental Atittude atau PMA. Dia ditanya-tanya soal band hardcore favoritnya. Ditanya soal AAL, dia mengaku ga ngefans banget. Saya tersenyum tipis dengan komentar dia. Saya juga begitu, ga ngefans banget tapi lumayan ngikutin karya Alone At Last, meskipun baru nonton live nya beberapa tahun setelah tahu lagunya.

Sebenarnya aksi panggung AAL yang fenomenal sudah saya dengar sejak SMA. Katanya bassisnya suka muter-muter instumen dia, terus loncat-loncatan. Penasaran dengan cerita itu, baru tahun 2011 saya kesampaian nonton AAL, di Java Rockingland. Saat itu saya mengalami pengalaman absurd. AAL manggung di Segara Stage yang tinggi panggunya sekitar 50 cm, dan tak ada pembatas antara penonton dan penampil. Di sebuah lagu, Yas berisyarat ke arah saya. Kira-kira maknanya "ayo naik sini, nyanyi bareng gue". Saya tentu salah tingkah ketika itu. "Serius saya boleh naik dan nyanyi bareng disana?" batin saya bertanya-tanya. Untungnya sebelum melompat naik, saya sempatkan tengok ke belakang. Rupanya Yas ngajak Ucay Rocket Rockers yang ada di belakang saya. Silahkan tertawakan saya (kalau kisah itu lucu. Hehe). Tapi di hari itu saya dapet sebuah stiker yang dilempar dari atas panggung, lumayan. Sampai sekarang stikernya masih melekat di gitar pusaka saya. 

Pertama kali saya tahu band ini, dari sebuah kaset yang dipinjamkan teman kakak kelas ketika SMA yang merupakan anak gaul Bandung. Saya sendiri saat itu tinggal di Garut. Di kaset tanpa kotak itu tertulis Alone At Least. Iya Least, bukan Last seperti seharusnya. Di sebuah kesempatan saya tanyakan hal ini ke Indra Papap. Katanya ga pernah AAL berkepanjangan Least di huruf L. "Salah tulis kali", kata dia saat itu. 


Lalu terpukaulah saya dengan lagu Amarah, Senyum dan Air Mata, tentu bersama Mainstream of Love, Valentine Love Song dan lagu lainnya. Berbagai rilis karya AAL saya ikuti dari lagu mereka yang masih sangat punk berjudul I Have No Feeling sampai single Takkan Berakhir Disini. Informasi nonmusik soal mereka juga saya ikuti. Dari berita rehatnya Indra karena harus studi ke Australia (ketika itu sekitar 2008, myspace masih sering dipakai), sampai ada kutipan pernyataan bahwa AAL bukan band emo, mereka menyerahkan penjenisan musik ke pendengar, meski kemudian mereka mengakui ke-emo-annya. Bahkan di sebuah konser besar mereka menyatakan "We Are Emo". Saya juga sisipkan kutipan kalimat AAL di blog ini, di bagian komentar tiap posting. Kalimat "Don't feel bad if people talk shit about you. Everybody has an opinion. Be true in your heart" itu berasal dari sebuah majalah indie berukuran A5 yang namanya sudah saya lupa. Selain itu, saking sukanya ke lagu mereka, bahkan di kelas saat SMA, saya tak jarang putar lagu mereka melalui DVD player, sampai teman sekelas saya bilang kalau giliran saya yang kuasai pemutar cakram itu, dia tutup kuping. Hehe. Saat itu memang tak banyak yang seselera musik sama saya.


Di bangku kuliah, tahun 2007, saya bertemu teman yang "berkuping" setipe. Saya dan mereka membentuk band emo-punk bernama Finding Nadia. Saat itu musik emo memang sedang bermekaran, meski di penghujung dekade pertama abad ke-21 itu kilaunya meredup. Finding Nadia cenderung sulit berproduksi karya, karena sulit menyempatkan diri dari aktivitas kuliah saat itu. Dalam empat tahun baru satu minialbum dirilis, judulnya A Huge Difference Between Zero And The Number After. Ketika AAL ditinggal vokalisnya di ujung 2013, Finding Nadia juga merencanakan bubar sebelum 2014 datang. Pembubaran dilakukan dengan merilis album terakhir yang judulnya April Is Our December. Meski nanti ga ngeband lagi atas nama Finding Nadia, saya sudah punya mainan baru, namanya Operasi Plastik. Sudah siap satu album, judulnya Tes. Band ini menggabungkan emo , punk, metal di sejumlah lagu. Meski tak merinci mau kemana dia setelah keluar dari AAL, saya yakin Yas masih punya proyek musikal lain. Dan karena aksi Yas di AAL sangat khas dan memberi warna cukup tebal di band itu, maka kiprahnya di aksi artisitik lain sangat layak untuk ditunggu. Jangan Berhenti Yas!

Selasa, 22 Mei 2012

Coming Soon: Asphoria - Eschatology


Dalam ilmu taksonomi atau penggolongan makhluk hidup, ras manusia memiliki nama resmi homo sapiens, artinya makhluk yang berpikir. Dorongan naluri berpikir itu mendorong manusia menelusuri jawaban atas berbagai hal, mulai dari misteri kehidupan sehari-hari, pencarian entitas bernama Tuhan, awal mula kehidupan, hingga akhir dari peradaban yang mereka bangun.
Rentetan koleksi temuan tentang dunia yang manusia tempati, mengantarkan spekulasi tentang apa yang akan terjadi di akhir tahun 2012. Ada yang punya data tentang saat itu, akhir peradaban manusia akan tiba. Ada juga yang punya pendapat tentang sebuah peristiwa yang menurutnya tak sekatastropik yang ditakutkan. Namun begitulah karakter prediksi, kita tak akan pernah tahu pasti hingga ajalnya tiba.

Reaksi atas penerawangan itu mungkin sudah begitu ramai di sektor kajian ilmiah dengan sajian opini berupa laporan penelitian, jurnal, dan bentuk publikasi lain. Asphoria, trio musisi yang memproduksi melodi indie rock ambient, memberi sumbangan paradigma atas topik akhir 2012 itu, dalam bentuk paket karya atau album yang terdiri dari dua versi. Versi pertama, album ini berisi 9 lagu, tersedia secara digital, halal diunduh dan terbit pada tanggal 6-6-2012 melalui net label Hujan! Rekords. Versi kedua, album ketiga Asphoria ini, muncul dalam wujud cakram padat (Compact Disk/CD), berisi 11 lagu dan dapat diakses di toko-toko CD mulai bulan Juli 2012. Eschatology, begitulah album ini memiliki nama. Kata "Eschatology" yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan akhir zaman, menjadi deskripsi singkat tentang apa yang terkandung dalam album ketiga band asal Bogor itu.

Eschatology diawali lagu dengan titel Copimentation. Lantunan 17 detik denting piano di lagu ini menjadi simbol gradasi perubahan warna pigmen kehidupan. Tentang dunia yang tak seutopis harapan, tentang harapan yang seredup lampu abu, dikisahkan di lagu kedua, Living In A World Of Atrocity. Lagu ketiga, bertajuk serupa judul album yang secara gamblang sekaligus misterius menceritakan tentang si topik sentral, serta deskripsi kejadian-kejadian yang menyertainya. Lagu ini juga menjadi menarik karena juga disertai data-data yang dikemas dalam nada. Departemen drum di lagu ini diisi oleh Irfan Hasibuan, drummer Eleven Fourth yang juga adik dari Maul Asphoria. Eschatology mencerahkan sekaligus menyenangkan.

Persuasi untuk tak lagi menoleh masa lalu yang bisa memancing penyesalan, disampaikan Asphoria di Never Look Back. Bahwa akhir itu ada dan akan tiba, dideskripsikan Asphoria di Descending Down yang berirama pesimis. Tentang kekosongan yang identik dengan akhir yang tak seperti kondisi sebelumnya dan tak bisa diputar balik, Asphoria paparkan dalam Dialek Ruang Hampa. Lagu ini adalah versi lain dari single berjudul sama yang rilis pada tahun 2011 lalu. Fiasco hadir sebagai penerimaan atas apa yang telah terjadi. Dalam lagu ini, Asphoria menghadirkan Pewee In The Garage sebagai rekanan bernyanyi. Leave! adalah gambaran situasi di akhir dunia, ketika ada beberapa yang mengajak menyelamatkan diri, sementara ada juga yang memilih bertahan dan menerima guliran tiap keping kejadian. Versi nonfisik Eschatology diakhiri dengan This Is Not The End yang padat dengan kidung nyanyin para prajurit yang berserah diri setelah berjuang. Nyanyian ini adalah penggalan dari salah satu adegan di film Atonement.

Versi fisik Eschatology akan terdengar lebih lengkap, karena disertai This Bright White Snow dan World Of Silence. This Bright White Snow pertama kali diluncurkan di tanggal 31 Maret 2012, bertepatan dengan perayaan Earth Hour. Sementara World of Silence direkam secara langsung (live) ketika Asphoria tampil di gelaran Panggung Mahasiswa di Cafe Stevia Institut Pertanian Bogor.

Track demi track dalam Eschatology, disusun menjadi sebuah cerita. Mulai dari dunia yang berubah, timbulnya kesadaran akan perubahan, kilas balik kejadian-kejadian lampau yang mengakibatkan perubahan dunia, munculnya penyesalan, mulai ikhlas menerima, menentukan pilihan hidup yg selanjutnya, hingga berserah diri pada Tuhan.

Bagi kalian yang penasaran materi mereka di album baru ini, langsung saja dengarkan teaser-nya di bawah ini.