Tampilkan postingan dengan label salihara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salihara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Berkenalan Dengan Estetika Banal



“Apa yang kamu lihat dari foto ini?” Tanya pria bertopi itu. Saya kemudian menafsirkan sekenannya, “yang satu lari sebagai hobi, yang lain lari sebagai kewajiban”.  Dia tidak menyalahkan, pun tak menyebut jawaban saya betul sepenuhnya. Pria tadi, yang juga melingkarkan syal kain tenun di lehernya, kemudian memaparkan bahwa ada makna lain yang sebenarnya ingin dia sampai melalui foto itu. 


Sebuah foto memperlihatkan seorang perempuan berbaju olah raga lengan terbuka. Dengan topi Santa Klaus, ia berlari di sebuah jalan ibu kota. Di seberangnya, barisan tentara juga berlari, beberapa di antara mereka curi pandang ke si perempuan. Di belakang si tentara sebuah ucapan selamat natal dan tahun baru besar terpampang. Ternyata cara tafsir saya terlalu sederhana. Sang fotografer, Erik Prasetya, memaknai rekaman peristiwa itu sebagai mahalnya bayaran atas sebuah rasa aman. Bahwa agar si perempuan merasa nyaman merayakan natal dan tahun baru, atau jogging dengan busana demikian, perlu pengamanan yang jumlahnya juga diperlihatkan di foto. Dari momen itulah kemudian saya sekali lagi dibuat berdecak kagum dengan karya fotografi. Betapa ia multitafsir dan tetap indah. Yang juga membuat saya terkesan, adalah kisah dibalik fotografi jalanan dan tantangannya.


Adalah Erik Prasetya, seorang fotografer yang mendalami dunia pengabadian momen selama setidaknya 25 tahun terakhir. Ia pernah dinobatkan sebagai satu dari 20 fotografer Asia berpangaruh tahun 2012 oleh organisasi Invisible Photographers Asia. Erik kemudian menawarkan sebuah pendekatan fotografi bernama estetika banal. Dengan estetika banal, gerak manusia dan elemen keseharian yang banal atau terkesan biasa, ditampilkan dalam sebingkai keindahan. Estetika banal, juga jadi tajuk pameran foto Erik Prasetya. Sejumlah figur ditampilkan sejak 17 Januari 2015 dalam Galeri Salihara yang melingkar. Foto yang dijepret tahun 1990an berwarna hitam-putih. “Ini (foto hitam-putih) proyek pribadi. Saat itu saya sebagai profesional selalu bekerja dengan warna. Assignment-ku minta warna, sehingga ada rasa kalo pake warna itu kerja profesional, bukan buat saya. Yang kedua hitam putih itu filmnya murah”, ujarnya menjelaskan.


Meski ada yang hitam-putih dan banyak juga yang berwarna, foto Erik bernyawa sama: jalanan. Lokasi semua fotonya adalah jalan. Dari jalanan itu pula berbagai makna dan kisah ia perlihatkan. Misalnya, sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita berambut hijau, bertengger di sebuah jembatan penyeberangan dengan novel filsafat Dunia Sofi di tangannya. Bibir yang hampir tersungging direkam sebagai respon dari senyum yang lebih mengembang dari seorang pria di depannya. “Kalau saya selalu berusaha menebak apa yang akan terjadi. Sebelum terjadi saya harus tahu kejadian berikutnya”, ujar pria asal Padang Sumatera Barat ini mengawali kisah. “Saya foto sekali. Saya ingin lihat reaksi dia, ternyata dia cuek. Kemudian dia berdiri dan menyender. Saya set ukuran, jarak. Udah betul. Bergitu saya lihat gerombolan orang turun, nah ini momen saya. Nah inilah (jadinya). Tapi ini kan yang berhasil, yang gagal banyak juga”.


Pameran estetika banal, bagi Erik Prasetya adalah pertanggungjawaban. “Setiap tahun bikin semacam pertanggungjawaban, catatan tentang Jakarta. Tahun ini saya bikin street, rain and style, paling tidak 40 post card tiap tahun. Nanti setelah 3-4 tahun jadi buku dengan tema lain”, Erik menjelaskan. Selain melalui pameran foto, ia juga meluncurkan sebuah buku kolaborasi dengan istrinya, Ayu Utami. Tentang isinya, ia hanya menarangkan bahwa buku berisi 13 subjudul itu tentang pencarian estetika Erik dan Ayu. Judulnya Banal Aesthetics and Critical Spiritualism.


Buku ini dirilis pada 31 Januari 2015 sore di Serambi Salihara, bersamaan dengan penutupan pameran dan penerbitan buku pertama dari seri novel berjudul besar Spiritualisme Kritis yang digubah Ayu Utami. Titel pertama seri tersebut berjudul Simple Miracle: Doa dan Arwah. Seri spiritualisme kritis itu sendiri berarti bahwa kisah yang dihadirkan Ayu dalam seri bukunya, akan mengupas hal-hal spiritual yang dikaitkan dengan logika berpikir rasional. “Seri spiritualisme kritis adalah refleksi tokoh Parang Jati di seri Bilangan Fu”, ujar sosok yang kisah hidupnya dituliskan sang istri Ayu Utami dalam novel Cerita Cinta Enriko itu menutup percakapan. []

Jumat, 11 Oktober 2013

Senyawa di Salihara


Dengan niat utama menyaksikan penampilan duo Senyawa, Minggu malam di penghujung September saya bertolak ke Salihara. Sempat ragu bisa tiba sebelum pertunjukan dimulai, saya akhirnya duduk di baris kedua, sebelum Sitok Srengenge menyampaikan prolog. Ia membacakan jalinan mata acara bienal Sirkus Sastra malam itu. Katanya bakal ada pembacaan cerpen karya Nukila Amal oleh Ayu Utami, potongan novel Seno Joko Suyono, dan pembacaan lima puisi karya Afrizal Malna oleh penggubahnya sendiri. 



Nukila Amal urung hadir, Ayu Utami menggantikan. Dalam balutan busana serba hitam, Ayu Utami beratraksi melalui kata-kata racikan penulis asal Ternate itu. Saya gak nyimak detil sajian sirkus Ayu, demikian pula ketika penulis lain ambil giliran. Mungkin karena niat utama saya ada di duo Rully Sabhara-Wukir Suryadi. Usai Ayu, redaktur rubrik seni majalah Tempo Seno Joko Suyono menghentak panggung. Iya menghentak, dia memulai pembacaan potongan novelnya dengan suara lantang. Dengan logat kejawaan, beberapa penonton tertawa. Saya? Ga tau harus berekspresi seperti apa. 

Lalu Afrizal Malna ambil giliran. Gak tanggung-tanggung, lima puisi ia jejerkan dalam satu penampilan pembacaan. "Saya sebenarnya benci membacakan puisi sendiri," kata penyair pelontos ini. Gaya pembacaan konstan, dengan visualisasi yang ternyata tidak cocok dengan puisi yang dilantunkan, terasa membosankan. Malam itu saya ketemu Michelle dan Anom, kawan sewaktu kuliah. Michelle bilang dia ga ngerti sama penampilan Afrizal Malna, katanya waktu Afrizal tampil, dia merasa pengen buru-buru beres. Saya diam. Dalam hati mengiyakan. Afrizal Malna namanya besar, tapi selera sastra saya mungkin masih terlalu kecil untuk menikmati puisi-puisinya. 


Barulah setelah tiga sastrawan tadi, kemudian Senyawa menghajar Teater Salihara. Mereka sebenarnya hadir juga di awal acara. Mereka menampilkan karya baru, beruntung saya sempat merekamnya. Prosa gubahan Nukila Amal dikonversi ke wujud musik. Di bagian versi-musik-karya-Nukila-Amal itu, Rully seperti biasa tampil dengan eksplorasi teknik vokal yang ajaib. Saya ragu ada orang yang menyerupai dia. Rully pasti satu-satunya di dunia dengan skill vokal khas sedemikian memukau. Wukir disini memainkan gitar-yang-pernah-ia-mainkan-bersama-akar-mahoni-di-pameran-OK-video-Galeri-Nasional. Saya lupa namanya. Saluang juga ia mainkan, tapi sepertinya itu bukan saluang biasa. Wukir kan suka punya alat musik buatannya sendiri, yang dia namai sendiri, dengan timbre (warna suara) yang juga punya istilah sendiri. 


Di penampilan paruh kedua, saya singkirkan kamera dari genggaman. Disini saya ingin benar-benar fokus menikmati Senyawa. Ada dua nomor cukup panjang yang ditampilkan. Entah apa namanya yang pertama, tapi yang pasti Wukir menggunakan Bambuwukir, senjata khasnya. Pertanyaan tentang bunyi dentuman semacam bunyi instrumen pukul pun terjawab sudah. Bunyi itu berasal dari sejumlah senar tebal yang terbuat dari bambu. Ya, ternyata suara berdebum itu suara bambu. Ah, Wukir. Ditanya soal nada tiap senar, Wukir cuma jawab nada dasarnya di G, beroktaf 4 dengan repetisi nada G-A-C-D di 16 senar (selain bambu, ada juga senar berbahan logam, seperti senar gitar atau biola). 


Masih dengan bambuwukir di tangan, Wukir-Rully memprologi lagu kedua. Katanya itu lagu dibuat tahun 2010 sewaktu Merapi bererupsi. Ah, ini saya pernah tonton di video buatan Vincent Moon. Ada banyak ekspresi yang ingin saya deskripsikan, namun cuma satu kata yang bisa mewakilinya, keren. Di penghujung pertunjukan (setelah semua penonton meninggalkan arena panggung teater), seorang pria bertanya bagaimana proses kreatif yang dilalui Senyawa. Wukir cuma jawab bahwa dia bertanggung jawab dalam produksi suara dari alat musiknya. Rully pun demikian, fokus ke lirik, dan pelafalan. Sudah banyakkah orang Indonesia yang mengenal karya musisi asal Jogja ini? Saya sangsi dengan jawaban ya, padahal Senyawa sudah beberapa kali mempresentasikan karyanya di luar negeri. Setelah tampil di Salihara, Senyawa fokus ke penyelesaian album kedua. Serupa dengan album perdananya, bundel karya mereka selanjutnya masih direncanakan rilis melalui netlabel Yes No Wave. Kita tunggu.



Rabu, 30 Maret 2011

Kill The DJ: Ngoceh Paling Jujur Itu Ketika Menggunakan Bahasa Ibu

Gue bela-belain ke Pasar Minggu dulu sebelum ke Bogor lagi dari Garut, sendirian lagi, ga tau jalan lagi, dimarahin supir metromini lagi, salah turun lagi. Tapi ga apalah, semua harga itu setimpal sama yang gue dapet di Salihara tanggal 18 Maret 2011 itu. Selain nonton film keren Hiphopdiningrat, dapet (beli maksudnya.hehe) CD lagu hiphop berbahasa Jawa yang (meskipun gue ga ngerti liriknya) sangat enakeun, gue juga berhasil mewawancarai produser film tadi sekaligus pendiri Jogja Hiphop Foundation, Juki alias Chebolang alias Kill The DJ alias Muhammad Marzuki. Siang itu teater Salihara yang menayangkan film dokumenter tentang komunitas musisi hiphop berbahasa Jawa itu hanya diisi 4 orang. Ya, gue salah satunya. Nanti deh kapan-kapan dibahas filmnya OK. Di bawah ini gue lampirkan dialog Kill The DJ dengan tentu saja gue sendiri. Dalam percakapan aslinya, kata Koran Kampus jarang disebut. Bahkan pertanyaan terakhir itu sebenarnya pesan buat musisi Bogor gue bilang, tapi demi kepentingan publikasi di Koran Kampus (meskipun ga naik cetak), gue ubah jadi Koran Kampus. hehe. Ga apa-apa lah ya, toh gue bilang ke mas Juki kalo gue wartawan Korpus. OK, mari merapal!






Setelah lahir di New York, musik hip hop/rap kini hadir dengan berbagai variasinya. Salah satu varian hip hop yang menjadi kebanggaan Indonesia adalah Java Hip Hop. Musik jenis ini diperlihatkan dengan penggunaan Bahasa Jawa dalam liriknya. Sejak tahun 90-an, para rapper Yogyakarta sudah aktif menggelar berbagai acara apresiasi musik hip hop secara rutin. Pada tahun 2003, berdirilah sebuah komunitas bernama Jogja Hip Hop Foundation. Lahirnya Jogja Hip Hop Foundation dibidani seorang rapper bernama Marzuki Mohammad yang lebih dikenal dengan nama Kill The DJ. Marzuki yang juga akrab dipanggil Juki, telah memproduksi sebuah film dokumenter berjudul Hiphopdiningrat. Film berdurasi 65 menit itu berisi jejak perjalanan Jogja Hip Hop Foundation setelah menempuh 7 tahun perjuangan berkarya melalui musik hip hop sejak 2003 hingga 2009. Film yang ia garap bersama Chandra Hutagaol itu pernah ditayangkan di Jakarta International Film Festival 2010 (Jiffest 2010) dan disaksikan oleh para undangan festival film bergengsi itu. Hari kedelapan belas di bulan Maret 2011 adalah kali pertama film itu ditayangkan di hadapan umum. Bertempat di Teater Salihara, para rapper jogja yang tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation itu akan melaksanakan pemutaran film sekaligus penampilan karya musikal mereka. Kru Koran Kampus berkesempatan menghadiri perhelatan akbar itu, bahkan sempat mewawancarai pendiri Jogja Hip Hop Foundation. Kepada Koran Kampus, Juki atau Kill The DJ bercerita mengenai banyak hal, mulai dari kepeduliannya terhadap budaya bangsa hingga esensi karya musik yang ia bawakan. Berikut petikan wawancaranya:

Koran kampus : Sejak kapan Anda bermain hip hop?

Kill The DJ : Kalau Jogja Hip Hop Foundation sejak 2003, kalau main hip hop ya dari dulu, dari [tahun] 95.

Koran kampus : Ciri khas musik yang Anda bawakan adalah penggunaan lirik dengan Bahasa Jawa?

Kill The DJ : Iya musiknya juga.

Koran kampus : Apakah orang yang tidak mengerti Bahasa Jawa bisa menikmati musik Anda?

Kill The DJ : Bisa. Bisa lah, masa kita bisa manggung keluar negeri juga, berarti memang bisa [dinikmati]. Mungkin untuk industri musik nasional ada hambatan dan ketat dengan censorship. Tapi buat kita, jangan menyerah.

Koran kampus : Apa kesulitan yang Anda hadapi selama pembuatan film Hiphopdiningrat?

Kill The DJ : Sejak punya Jogja Hip Hop Foundatioin kan [kegiatannya] didokumentasikan terus. Film dokumenter kan kita ngumpulin dari data yang ada, kalau film dokumenter kan real, misalkan lagi jalan gini trus di-shoot, gitu aja. Jalan-jalan kemana, keluar negeri di-shoot, ya gitu-gitulah. Ada lebih dari 300 kaset video yg harus dijadikan satu jam, tentu saja susah. Artinya datanya banyak banget, kesulitannya disitu

Koran kampus : Paket karya yang dibuat Jogja Hip Hop Foundation dikemas dalam bentuk apa?

Kill The DJ : dulu kaset, tapi semenjak Jogja Hip Hop Foundation [berdiri], selalu CD.

Koran kampus : Apakah Anda menggunakan sistem distribusi netlabel (sistem distribusi karya musik unduh gratis legal melalui label rekaman di internet)?

Kill The DJ : Enggak. Kerjasama sama Yesnowave (netlabel di Yogyakarta) yang terakhir ini kita bikin kompilasi culture, kerjasama dengan record label-ku, anarkisari record sama kongsi jahat sindikat, kita kerjasamanya disitu. Tapi kalo penjualan albumnya Jogja Hip Hop Foundation ga pernah diedarkan, cuma disimpen di rumah aja. Maksudnya terus dijual lewat orang pesen atau dijual pas kita manggung. Kalo dititip edar lama, ga cepet jadi duitnya.

Koran kampus : Bagaimana bisa? Apakah cukup efektif? Padahal sepertinya lingkup pemasaran album itu terbatas

Kill The DJ : Ya enggak dong, kita CD 3000 aja cuma 4 bulan toh, 4 bulan habis yo, itupun ga dititipkan di toko-toko, cuman disimpen aja. Enggak terbatas lah, siapa aja bisa pesen, sampe kemana-mana. Banyak orang luar negeri [yg mengapresiasi].

Koran kampus : Dari mana mereka mengetahui karya anda?

Kill The DJ : Dari blog saya (killtheblog.blogspot.com), dari facebook saya

Koran kampus : Apakah ada kesulitan menyanyikan lagu hip hop dengan bahasa daerah?

Kill The DJ : Ya ngga itu kan bagian dari keseharian, maksudnya tradisi itu udah bagian dari keseharian dan hal itu masih sangat kuat dan bagian dari keseharian dan kalau rap hubungannya dengan lirik, rima, freestyle itu deket sekali dan juga [karena Bahasa Jawa adalah] bahasa ibu, jadi hal yang sangat penting dalam hip hop. Karena bukan melulu musiknya, tapi juga teks dan bahasanya artinya ketika ngoceh gitu paling nyaman dan paling jujur itu ketika seseorang menggunakan bahasa ibunya. Ya itu bagian dari keseharian aja.

Koran kampus : Siapa tokoh musik yang menginspirasi anda?

Kill The DJ : Apa ya. banyak mas, sangat banyak. Tapi kan ini juga bagian dari sikap merayakan regenerasi, maksudnya kita adalah orang yang mempunyai akar kebudayaan sekaligus juga bagian dari global culture, generasi global. Ya kita berada diantara itu, antara global culture dan akar tradisi itu sama jauhnya sekaligus sama dekatnya. Artinya apa yang kita suka ya berada diantara itu, misalnya aku bisa seneng Eminem tapi sekaligus aku juga bisa seneng Ki Narto Sabdo, seorang dalang. Jadi terlalu banyak, dan kalo aku sendiri ya Kill The DJ, aku membunuh mitos itu, ga ada sesuatu yang aku rujuk secara absolut.

Koran kampus : Anda percaya dengan adanya organisasi konspiratif seperti Freemason?

Kill The DJ : Apa itu?

Koran kampus : Organisasi rahasia yg ingin membuat dunia ini berada dalam satu pemerintahan tunggal dan satu kebudayaan tunggal sehingga menghilangkan identitas kedaerahan

Kill The DJ : Enggak mungkin. Enggak mungkinlah, setiap orang punya basic sendiri-sendiri, gak mungkin bisa disatukan, sama sekali ga mungkin. Menyatukan bangsa Indonesia aja susah banget, apalagi global.

Koran kampus : Anda puas dengan karya ini?

Kill The DJ : Bisa puas bisa enggak. Puas sebagai proses pendokumentasian, karena itu hal yg biasanya orang ga peduli. Maksudnya aku foto dari pertama kali punya Jogja Hip Hop Foundation sampe sekarang itu ada semuanya, video juga ada semuanya. Tapi sebenarnya dari segi film ada beberapa hal yang perlu dimaksimalkan.

Koran kampus : Anda memiliki basic keilmuan di bidang film?

Kill The DJ : Ga terlalu dalam

Koran kampus : Anda belajar di institusi pendidikan formal perfilman?

Kill The DJ : Enggak, aku ga lulus SMA

Koran kampus : Kenapa?

Kill The DJ : Ada sesuatu yang ingin aku pelajari dan ga perlu lewat [jalur] formal, dan di Jogja hal semacam itu memungkinkan. Maksudnya ya misalnya aku umur 24 udah bisa jalan-jalan keluar negeri dengan karya seni rupa dan musik elektronik, dulu sebelum punya Jogja Hip Hop Foundation. Jogja seperti medan kreatif ketika kita membuka diri dan ada pada habitat yg tepat. Ketika kamu punya karya bagus ya otomastislah kalo mau jalan-jalan ke luar negeri. Dan waktu itu juga belum ada media nasional yg mencover sebelumnya. Buatku sih hal yang mungkin terjadi di Jogja.

Koran kampus : Bagaimana pendapat Anda tentang pendidikan formal?

Kill The DJ : Tergantun. Tergantung apa yang kamu ingini, kalo kamu belajar teknologi nuklir perlu dong. Tapi ketika kamu tinggal di Jogja dan pengen belajar kesenian, sebenarnya pengen jadi seniman yg ngapain, buat apa gitu.

Koran kampus : Jadi apa yg mendorong Anda untuk tidak menyelesaikan sekolah?

Kill The DJ : Ya enggak ngerti apa yang harus dipelajari dari situ. Maksudnya banyak hal yang bisa dipelajari secara langsung, praktek langsung secara efektif di luar bangku sekolah

Koran kampus : Apa pencapaian terbesar Anda selama menjalankan Jogja Hip Hop Foundation?

Kill The DJ : Poinnya bukan disitu, poinnya itu kalo buat aku bagaimana impact ketika kita membikin sesuatu buat temen-temen di Jogja Hip Hop Foundation dulu, impact sosial, impact pemikiran, bagaimana kemudian dia bisa lebih open mind. Maksdunya kan temen-temen kan juga berasal dari jalanan dan ga ngerti apa-apa, ngertinya demen hip hop aja, misalnya kyak gitu dan seperti katak berada dalam tempurung, tapi kemudian tiba-tiba kita ketemu dengan misalnya sastrawan tradisional jawa kemudian mereka bikin liriknya, rapnya terus kita mengelaborasi dan bekerja bareng dengan dunia yang mungkin buat org hip hop sendiri aneh gitu, makanya teman-teman kan terbuka pikirannya, bagi aku impact-impact bagaimana orang ga berpikir melulu hip hop itu, itu prestasi yang paling bagus, bukan tentang CD, bukan tentang filmnya, tapi bagaimana impact itu secara personal ke temen-temen dan komunitas dan lingkungan kita, itu prestasi yang paling bagus. Bukan tentang kita jalan-jalan ke luar negeri, tentu saja menyenangkan dan selalu pengen, tapi bagaimana hal itu membuka pikiran dan wawasan temen-temen di Jogja Hip Hop Foundation secara personal, [itu yg lebih penting]

Koran kampus : Apa yg membuat Jogja menjadi komunitas yang kondusif bagi kesenian?

Kill The DJ : Sebenarnya apa ya? Ga tau. Mungkin dari dulunya juga gitu. Maksudnya aku juga dari lahir udah tau kalo dunia kesenian di Jogja semacam medan kreatif yg ketika kita berada di habitat yang tepat, kesempatan itu akan datang sendirinya. Aku ga ngerti apa yang secara precise membuat Jogja menjadi semacam medan kreatif.

Koran kampus : Impact apa yg ingin dihasilkan dari musik hiphop yg anda sajikan?

Kill The DJ : Yang pertama impact sosial lah, maksudnya impact sosial itu bagaiamana relasi temen-temen dengan lingkungan sekitar, itu yang pertama. Kalo ada anak-anak sepanjang Kali Code hafal semua lagu kita, itu hal yang mengasyikan gitu, dan kebetulan lirik-lirik kita juga sesuatu yang sebenarnya asing. Artinya asing buat generasi [muda], misalnya anak SMP gitu. Padahal rap-rap kita adalah mantra jawa yang sangat kuno dan tiba-tiba itu dikembalikan ke generasi yang saat ini. Itu hal-hal yang pengen selalu kita capai. Atau misalnya kita punya lagu Jogja Istimewa yang kemudian menjadi soundtrack perjuangan dan kehidupan masyarakat di jogja dari yang SD sampe yg paling tua semuanya hafal. Itu bukan sekedar bagaiman kita menjadi dikenal masyarakat, tapi bagaimana lagu itu kemudian benar-benar dipahami dan mewakili mereka.

Koran kampus : Apa pesan Anda untuk generasi muda terkait budaya asli indonesia?

Kill The DJ : Susah juga ya. Maksudnya kan kadang-kadang orang menyalahkan generasi muda, ga peduli dengan trasdisi gitu. Maksdunya itu suatu hal yang ga adil bagi sebuah negara yang tidak punya strategi kebudayaan. Negara kita kan juga ga peduli sama tradisinya, jadi kenapa harus mempertanyakan hal itu kepada generasi muda. Kalo kita bandingin misalnya dengan Jepang yang tetap merawat tradisinya, generasi mudanya bisa sangat liar tapi dia juga sangat paham dengan tradisinya. Okelah pertanyaan sepanjang itu menjadi relevan tapi bagi negara seperti indonesia hal semacam itu tidak layak dipertanyakan dan kalo pesan ya terserah kamu aja kalo kamu ngerti ya dikerjakan aja.

Koran kampus : Berarti orang yang tidak mengerti Bahasa Jawa tidak bisa menangkap pesan dalam lagu Anda?

Kill The DJ : Susah. Kalo ga ngerti Bahasa Jawa susah, paling cuma dapet speed-nya. Maksudnya kalo itu adalah mantra, ya paling akan dapet spiritnya.

Koran kampus : Anda percaya dengan khasiat spiritual mantra itu?

Kill The DJ : Aku kan udah diomongin, aku berada di in between, di antara. Maksudnya bagian dari generasi masa kini sekaligus orang yang berpijak pada akar tradisi, artinya ya bisa sangat memahami spiritnya tapi belum tentu digunakan selalu.

Koran kampus : Apa pesan Anda untuk pembaca Koran Kampus?

Kill The DJ : Jangan ragu sama hal kamu percaya bisa dikerjakan, dan jangan takut dengan keunikan yg kita miliki. Kalo kita konsisten ya pasti jalannya ngikutin sendiri. (KK/rhezaardiansyah)