Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

Umam: Bermusik Dalam Hening

Can I Say Edisi 12 akan menampilkan Sound of Silence di rubrik paling depan. Simak wawancara saya dan Sound of Silence berikut ini, dan nantikan rilisan terbaru Can I Say, karena bisa jadi, wawancara versi majalah digital Can I Say bakal jauh lebih seru.



Halo Sound of Silence a.k.a Asyraful Umam, lagi sibuk apa?

Saat ini Sound of Silence (SOFS) sedang mempersiapkan album ke 3. materi lagu sudah terkumpul, namun artwork belum selesai. rencananya tahun ini harus rilis. saat ini saya sedang sibuk menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa tingkat akhir.


Kenapa sih menamakan diri Sound of Silence?

Awalnya, saya melihat kata “sound of silence” dari judul lagu yang terpampang di sebuah kaset tua milik ibu saya. Entah mengapa dari situ saya terinspirasi untuk menjadikan Sound of Silence sebagai nama project saya ini. Mungkin karena keterkaitan dalam proses pembuatan lagunya yang sering saya lakukan di kamar dalam suasana hening.


Gimana proses kreatif pembuatan lagu-lagu SOFS?

Inspirasi terbesar adalah dari apa yang saya rasakan saat itu. Maka tema-tema lagu yang SOFS buat beragam, dari pengalaman pribadi, kritik sosial (see it, hear it, and feel it. jakarta frustasi), kecintaan terhadap lingkungan (nature, adventure), pengalaman pribadi (forget it and then forgive it, unforgettable smile), dsb dsb. Hehe. SOFS sendiri dalam pembuatan lagunya tidak membutuhkan banyak konsep, saya lebih out of the box dan mengandalkan inspirasi spontanitas.


Cool.trus sofs pernah manggung dimana aja Mam?

SOFS pertama manggung di sebuah kompetisi Soundtrack Komik oleh Majalah HAI, di central park,di kompetisi tersebut alhamdulillah SOFS menang, kemudian di undang untuk tampil di acara FIXFEST dan JAVAROCK’N LAND oleh majalah HAI. Album ke 2 Sound Of Silence “see it, hear it, and feel it” juga mendapat apresiasi dari web Jakarta Globe, sebagai album terbaik dalam 2011.


Album sofs dirilis label mana aja? Artwork sampe lagu semua lo yg ngerjain sendiri ya?

Album sound of silence di rilis 2 netlabel. Inmyroom records (indonesia) dan Misspelled Records (australia)
Album 1 - Only Dream
album 2 - See it, Hear it, and Feel it

SOFS juga membuat album unrelease yang berisi lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit, Radiohead, dan The Cure yang telah dikemas ulang dengan gaya SOFS.
iya semua dilakukan sendiri..


Musik/musisi mana yang banyak berpengaruh ke pembentukan karya sofs?

Ketika mendengar Exsplosions In The Sky saya paham, bahwa kita juga bisa bercerita lewat nada.


Instrumen apa aja yang dipake?

Saya lebih mengoptimalkan software-software dari komputer salah satunya Fruity Loops. Basic dasarnya saya di ajari oleh gitaris di band saya Distorsi Alam Timur, namanya Riff Hkm. Sebelumnya juga sempat di ajari sekilas oleh teman kampus saya yang bernama Denzel. Saya pelajari dari akhir tahun 2010


SOFS udah punya berapa lagu?

Lagu sudah puluhan, sempat kolaborasi dengan abang saya saat mengcover lagu dari band indie folk asal jogja, Stars and Rabbit yang berjudul Worth it.


Lagu SOFS yang paling berkesan yang mana? Yang maknanya paling dalam?

Hmm.,,pertanyaan sulit nih..karena pada saat proses penciptaannya setiap lagu berkesan mendalam bagi saya. hmm, tapi kalo ditanya yang paling dalam. hmm..Apa ya, saya tetap bingung..:P


Selain menggarap SOFS, Umam berkarya di bentuk lain ga? Kan anak DKV, pasti jago bikin karya visual. Hehe.

Selain di SOFS saya juga buat project seperti Distorsi Alam Timur (alternative rock), Beautiful Garbage (eksperimental), Ruang Damai (indie folk), Minimalis Maksimalis (punk rock). Kalo karya desain, hmm..iya suka juga buat gambar-gambar..hehe


Kalo karya2 grafis lo banyak dipajang dimana?

karya grafis sih masih dikonsumsi pribadi aja. hehe


Seniman favorit siapa? Dalam hal seni lain non musik?

Jack Black telah mencapai hampir semua impian saya. Selain bintang film, sutradara, dia juga musisi berkarakter. Saya mulai menggemarinya ketika menyaksikan film Tenacious D.


Pandangan SOFS soal seni tradisional? (Kalo tradisional diartikan sebagai 'yang tua/terdahulu')

Seni tradisional, saya ingin sekali mengemasnya menjadi sesuatu yang tidak dianggap “kampungan”. Sebenarnya sih ini masalah individunya ya, yang jika masalah ini dirinci secara mendasar akan sangat membutuhkan perbincangan yang sangat panjaaang..hehe, intinya sih masih banyak masyarakat yang beranggapan apa yang berbau asing itu selalu keren dan sesuatu yang tradisional di anggap kuno atau kampungan.

Makroen Sanjaya

Irvan: Bangsa Kita Gak Menghargai Musiknya Sendiri

Sudah lama sekali saya tidak menampilkan lagi rubrik "orang" di blog ini. Sejak awal tahun 2011, saya mewawancara beberapa orang teman, lalu memajang hasil wawancara itu dalam blog ini. Rupanya itulah salah satu embrio lahirnya majalah digital Can I Say yang di dalamnya memuat rubrik profile. Hasil wawancara saya di tag "orang", nantinya dipajang di rubrik profile Can I Say. Begitu juga dengan posting ini. Kali ini, wawancara saya dengan Irvan Januari, akan tampak di artperience Can I Say Magazine edisi 12 yang akan terbit segera. Langsung saja, mari selami kolam pemikiran Irvan Januari, si pecinta dangdut sejati.




Ironisnya musik dangdut. Beberapa orang bangga dengan adanya genre ini, bahkan jargon dangdut is the music of my country pun sempat populer. Namun di sisi lain, dangdut sepertinya sudah mulai tak digandrungi. Seorang pria bernama Irvan Januari berani berdiri di sisi seberang dan lantang berkumandang bahwa ia menggilai musik dangdut. Irvan mengaku suka dangdut sejak kecil. Memori tertuanya bercerita bahwa ketika berusia 18 bulan, ia sudah menari girang ketika musik dangdut mengalun di pasar saat Irvan kecil diajak ibunya belanja. Dangdut diakui Irvan membuatnya rileks. "Menurut gue, dangdut itu sumber kenikmatan. Terserah orang bilang kampungan, katrok atau apa, itu tetep musik yang gue cintain. Gue abis kerja, lagi cape, denger dangdut, fresh lagi", aku Irvan. Bahwa ia berani direndahkan dengan musiknya, Irvan yang mahir bermain kendang memang merasa demikian, terutama ketika SMA. Namun yang ia rasakan dari alienasi itu justru bukan perasaan kecil hati. "Gue justru merasa kalo lo ga suka dangdut, lo bukan orang Indonesia, soalnya dangdut kan musik indonesia, meskipun adaptasi dari India" ujarnya bersemangat. Menurut penggemar Rhoma Irama ini, musik dangdut saat ini sedang mati suri. Ia habis-habisan mengkritik kontes dangdut, hingga dengan pedas mengomentari musik (yang kita sebut) dangdut yang terkesan erotis.

"Sekarang makin jarang penyanyi yang nyanyiin dangdut yang pure dangdut. Kadang di-mix sama disko, ada koplo, sedangkan koplo itu bukan dangdut", papar Irvan mengawali kritiknya. Ia mengaku menyayangkan turunnya pamor dangdut sebagai musik yang elegan, dangdut yang dulu diangkat martabatnya oleh Rhoma Irama, idolanya sejak duduk di bangku SD. "Dangdut itu suara, bukan goyangan, goyang tu hiasan aja. Jadi musik dangdut erotis itu sampah. Awalnya dangdut udah pengen elegan, jadi dengan ada musik kayak gitu, orang jatuhnya malah jijik kan, suaranya nomor 12, goyangannya jadi nomor 1. Gue benci banget yang kayak gitu", kelakar Irvan bersemangat. Katanya, dangdut yang benar-benar dangdut itu, musik yang dibawakan Imam S. Arifin, Rhoma Irama, Hamdan ATT, mansyur S, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, dan penyanyi dangdut lain yang muncul sebelum abad ke-21. "Lagu-lagu sekarang kayak ABG tua, Cinta Satu Malam, Hamil Duluan, itu bukan dangdut. Walaupun penyanyinya penyanyi dangdut, misalnya Hamil Duluan, itu kan yang nyanyi Tuti Wibowo. Sedih sih sekarang liat kondisi dangdut", tukas Irvan.

Soal jumlah pecinta dangdut, Irvan yang kini memajang lagu-lagu Joni Iskandar dan (tentu saja) lagu-lagu Rhoma Irama di playlist music playernya ini, mengaku optimis bahwa banyak anak muda yang sekarang suka dangdut. "Coba liat anak muda kalo nongkrong main-main gitar, pasti ujung-ujungnya lagu dangdut juga yang dinyanyiin", tegasnya. Namun sayangnya, menurut Irvan, perkembangan dangdut mati. "KDI (Kontes Dangdut TPI), apa segala macem, itu justru mematikan dangdut, (soalnya) cuma bikin penyanyi, bukan jadi pencipta lagu, sedangkan dangdut sekarang ini udah ga ada pencipta lagunya, kayak Muchtar B, Asmin Cayder, Leo Waldy, udah pada ga ada. Jadi ya kebanyakan penyanyinya, tapi yang bikin lagunya ga ada", papar pria berkepala pelontos itu.

Irvan punya definisi baku soal apa itu musik dangdut. Katanya, kalau musik dangdut tak diwarnai bunyi kendang, itu bukan dangdut. Terkait harapannya tentang musik dangdut, Irvan juga punya pendapat sendiri. "Gue pengen liat di TV, musik dangdut itu dikemas pure dangdut, ga usah pake drum, macem2. (Penyanyi) yang dateng tu Nurhalimah, Fenty Nur, Titiek Nur, Umami (Riza Umami), Vety Vera, Ike Nurjanah, Lilis Karlina. Ironisnya justru mereka terkenal di luar indonesia. Ike main di Amerika, Bang Rhoma juga terkenal di Jepang. Bangsa kita gak menghargai musiknya sendiri", tutup Irvan.

Minggu, 12 Februari 2012

Rabu, 30 Maret 2011

Kill The DJ: Ngoceh Paling Jujur Itu Ketika Menggunakan Bahasa Ibu

Gue bela-belain ke Pasar Minggu dulu sebelum ke Bogor lagi dari Garut, sendirian lagi, ga tau jalan lagi, dimarahin supir metromini lagi, salah turun lagi. Tapi ga apalah, semua harga itu setimpal sama yang gue dapet di Salihara tanggal 18 Maret 2011 itu. Selain nonton film keren Hiphopdiningrat, dapet (beli maksudnya.hehe) CD lagu hiphop berbahasa Jawa yang (meskipun gue ga ngerti liriknya) sangat enakeun, gue juga berhasil mewawancarai produser film tadi sekaligus pendiri Jogja Hiphop Foundation, Juki alias Chebolang alias Kill The DJ alias Muhammad Marzuki. Siang itu teater Salihara yang menayangkan film dokumenter tentang komunitas musisi hiphop berbahasa Jawa itu hanya diisi 4 orang. Ya, gue salah satunya. Nanti deh kapan-kapan dibahas filmnya OK. Di bawah ini gue lampirkan dialog Kill The DJ dengan tentu saja gue sendiri. Dalam percakapan aslinya, kata Koran Kampus jarang disebut. Bahkan pertanyaan terakhir itu sebenarnya pesan buat musisi Bogor gue bilang, tapi demi kepentingan publikasi di Koran Kampus (meskipun ga naik cetak), gue ubah jadi Koran Kampus. hehe. Ga apa-apa lah ya, toh gue bilang ke mas Juki kalo gue wartawan Korpus. OK, mari merapal!






Setelah lahir di New York, musik hip hop/rap kini hadir dengan berbagai variasinya. Salah satu varian hip hop yang menjadi kebanggaan Indonesia adalah Java Hip Hop. Musik jenis ini diperlihatkan dengan penggunaan Bahasa Jawa dalam liriknya. Sejak tahun 90-an, para rapper Yogyakarta sudah aktif menggelar berbagai acara apresiasi musik hip hop secara rutin. Pada tahun 2003, berdirilah sebuah komunitas bernama Jogja Hip Hop Foundation. Lahirnya Jogja Hip Hop Foundation dibidani seorang rapper bernama Marzuki Mohammad yang lebih dikenal dengan nama Kill The DJ. Marzuki yang juga akrab dipanggil Juki, telah memproduksi sebuah film dokumenter berjudul Hiphopdiningrat. Film berdurasi 65 menit itu berisi jejak perjalanan Jogja Hip Hop Foundation setelah menempuh 7 tahun perjuangan berkarya melalui musik hip hop sejak 2003 hingga 2009. Film yang ia garap bersama Chandra Hutagaol itu pernah ditayangkan di Jakarta International Film Festival 2010 (Jiffest 2010) dan disaksikan oleh para undangan festival film bergengsi itu. Hari kedelapan belas di bulan Maret 2011 adalah kali pertama film itu ditayangkan di hadapan umum. Bertempat di Teater Salihara, para rapper jogja yang tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation itu akan melaksanakan pemutaran film sekaligus penampilan karya musikal mereka. Kru Koran Kampus berkesempatan menghadiri perhelatan akbar itu, bahkan sempat mewawancarai pendiri Jogja Hip Hop Foundation. Kepada Koran Kampus, Juki atau Kill The DJ bercerita mengenai banyak hal, mulai dari kepeduliannya terhadap budaya bangsa hingga esensi karya musik yang ia bawakan. Berikut petikan wawancaranya:

Koran kampus : Sejak kapan Anda bermain hip hop?

Kill The DJ : Kalau Jogja Hip Hop Foundation sejak 2003, kalau main hip hop ya dari dulu, dari [tahun] 95.

Koran kampus : Ciri khas musik yang Anda bawakan adalah penggunaan lirik dengan Bahasa Jawa?

Kill The DJ : Iya musiknya juga.

Koran kampus : Apakah orang yang tidak mengerti Bahasa Jawa bisa menikmati musik Anda?

Kill The DJ : Bisa. Bisa lah, masa kita bisa manggung keluar negeri juga, berarti memang bisa [dinikmati]. Mungkin untuk industri musik nasional ada hambatan dan ketat dengan censorship. Tapi buat kita, jangan menyerah.

Koran kampus : Apa kesulitan yang Anda hadapi selama pembuatan film Hiphopdiningrat?

Kill The DJ : Sejak punya Jogja Hip Hop Foundatioin kan [kegiatannya] didokumentasikan terus. Film dokumenter kan kita ngumpulin dari data yang ada, kalau film dokumenter kan real, misalkan lagi jalan gini trus di-shoot, gitu aja. Jalan-jalan kemana, keluar negeri di-shoot, ya gitu-gitulah. Ada lebih dari 300 kaset video yg harus dijadikan satu jam, tentu saja susah. Artinya datanya banyak banget, kesulitannya disitu

Koran kampus : Paket karya yang dibuat Jogja Hip Hop Foundation dikemas dalam bentuk apa?

Kill The DJ : dulu kaset, tapi semenjak Jogja Hip Hop Foundation [berdiri], selalu CD.

Koran kampus : Apakah Anda menggunakan sistem distribusi netlabel (sistem distribusi karya musik unduh gratis legal melalui label rekaman di internet)?

Kill The DJ : Enggak. Kerjasama sama Yesnowave (netlabel di Yogyakarta) yang terakhir ini kita bikin kompilasi culture, kerjasama dengan record label-ku, anarkisari record sama kongsi jahat sindikat, kita kerjasamanya disitu. Tapi kalo penjualan albumnya Jogja Hip Hop Foundation ga pernah diedarkan, cuma disimpen di rumah aja. Maksudnya terus dijual lewat orang pesen atau dijual pas kita manggung. Kalo dititip edar lama, ga cepet jadi duitnya.

Koran kampus : Bagaimana bisa? Apakah cukup efektif? Padahal sepertinya lingkup pemasaran album itu terbatas

Kill The DJ : Ya enggak dong, kita CD 3000 aja cuma 4 bulan toh, 4 bulan habis yo, itupun ga dititipkan di toko-toko, cuman disimpen aja. Enggak terbatas lah, siapa aja bisa pesen, sampe kemana-mana. Banyak orang luar negeri [yg mengapresiasi].

Koran kampus : Dari mana mereka mengetahui karya anda?

Kill The DJ : Dari blog saya (killtheblog.blogspot.com), dari facebook saya

Koran kampus : Apakah ada kesulitan menyanyikan lagu hip hop dengan bahasa daerah?

Kill The DJ : Ya ngga itu kan bagian dari keseharian, maksudnya tradisi itu udah bagian dari keseharian dan hal itu masih sangat kuat dan bagian dari keseharian dan kalau rap hubungannya dengan lirik, rima, freestyle itu deket sekali dan juga [karena Bahasa Jawa adalah] bahasa ibu, jadi hal yang sangat penting dalam hip hop. Karena bukan melulu musiknya, tapi juga teks dan bahasanya artinya ketika ngoceh gitu paling nyaman dan paling jujur itu ketika seseorang menggunakan bahasa ibunya. Ya itu bagian dari keseharian aja.

Koran kampus : Siapa tokoh musik yang menginspirasi anda?

Kill The DJ : Apa ya. banyak mas, sangat banyak. Tapi kan ini juga bagian dari sikap merayakan regenerasi, maksudnya kita adalah orang yang mempunyai akar kebudayaan sekaligus juga bagian dari global culture, generasi global. Ya kita berada diantara itu, antara global culture dan akar tradisi itu sama jauhnya sekaligus sama dekatnya. Artinya apa yang kita suka ya berada diantara itu, misalnya aku bisa seneng Eminem tapi sekaligus aku juga bisa seneng Ki Narto Sabdo, seorang dalang. Jadi terlalu banyak, dan kalo aku sendiri ya Kill The DJ, aku membunuh mitos itu, ga ada sesuatu yang aku rujuk secara absolut.

Koran kampus : Anda percaya dengan adanya organisasi konspiratif seperti Freemason?

Kill The DJ : Apa itu?

Koran kampus : Organisasi rahasia yg ingin membuat dunia ini berada dalam satu pemerintahan tunggal dan satu kebudayaan tunggal sehingga menghilangkan identitas kedaerahan

Kill The DJ : Enggak mungkin. Enggak mungkinlah, setiap orang punya basic sendiri-sendiri, gak mungkin bisa disatukan, sama sekali ga mungkin. Menyatukan bangsa Indonesia aja susah banget, apalagi global.

Koran kampus : Anda puas dengan karya ini?

Kill The DJ : Bisa puas bisa enggak. Puas sebagai proses pendokumentasian, karena itu hal yg biasanya orang ga peduli. Maksudnya aku foto dari pertama kali punya Jogja Hip Hop Foundation sampe sekarang itu ada semuanya, video juga ada semuanya. Tapi sebenarnya dari segi film ada beberapa hal yang perlu dimaksimalkan.

Koran kampus : Anda memiliki basic keilmuan di bidang film?

Kill The DJ : Ga terlalu dalam

Koran kampus : Anda belajar di institusi pendidikan formal perfilman?

Kill The DJ : Enggak, aku ga lulus SMA

Koran kampus : Kenapa?

Kill The DJ : Ada sesuatu yang ingin aku pelajari dan ga perlu lewat [jalur] formal, dan di Jogja hal semacam itu memungkinkan. Maksudnya ya misalnya aku umur 24 udah bisa jalan-jalan keluar negeri dengan karya seni rupa dan musik elektronik, dulu sebelum punya Jogja Hip Hop Foundation. Jogja seperti medan kreatif ketika kita membuka diri dan ada pada habitat yg tepat. Ketika kamu punya karya bagus ya otomastislah kalo mau jalan-jalan ke luar negeri. Dan waktu itu juga belum ada media nasional yg mencover sebelumnya. Buatku sih hal yang mungkin terjadi di Jogja.

Koran kampus : Bagaimana pendapat Anda tentang pendidikan formal?

Kill The DJ : Tergantun. Tergantung apa yang kamu ingini, kalo kamu belajar teknologi nuklir perlu dong. Tapi ketika kamu tinggal di Jogja dan pengen belajar kesenian, sebenarnya pengen jadi seniman yg ngapain, buat apa gitu.

Koran kampus : Jadi apa yg mendorong Anda untuk tidak menyelesaikan sekolah?

Kill The DJ : Ya enggak ngerti apa yang harus dipelajari dari situ. Maksudnya banyak hal yang bisa dipelajari secara langsung, praktek langsung secara efektif di luar bangku sekolah

Koran kampus : Apa pencapaian terbesar Anda selama menjalankan Jogja Hip Hop Foundation?

Kill The DJ : Poinnya bukan disitu, poinnya itu kalo buat aku bagaimana impact ketika kita membikin sesuatu buat temen-temen di Jogja Hip Hop Foundation dulu, impact sosial, impact pemikiran, bagaimana kemudian dia bisa lebih open mind. Maksdunya kan temen-temen kan juga berasal dari jalanan dan ga ngerti apa-apa, ngertinya demen hip hop aja, misalnya kyak gitu dan seperti katak berada dalam tempurung, tapi kemudian tiba-tiba kita ketemu dengan misalnya sastrawan tradisional jawa kemudian mereka bikin liriknya, rapnya terus kita mengelaborasi dan bekerja bareng dengan dunia yang mungkin buat org hip hop sendiri aneh gitu, makanya teman-teman kan terbuka pikirannya, bagi aku impact-impact bagaimana orang ga berpikir melulu hip hop itu, itu prestasi yang paling bagus, bukan tentang CD, bukan tentang filmnya, tapi bagaimana impact itu secara personal ke temen-temen dan komunitas dan lingkungan kita, itu prestasi yang paling bagus. Bukan tentang kita jalan-jalan ke luar negeri, tentu saja menyenangkan dan selalu pengen, tapi bagaimana hal itu membuka pikiran dan wawasan temen-temen di Jogja Hip Hop Foundation secara personal, [itu yg lebih penting]

Koran kampus : Apa yg membuat Jogja menjadi komunitas yang kondusif bagi kesenian?

Kill The DJ : Sebenarnya apa ya? Ga tau. Mungkin dari dulunya juga gitu. Maksudnya aku juga dari lahir udah tau kalo dunia kesenian di Jogja semacam medan kreatif yg ketika kita berada di habitat yang tepat, kesempatan itu akan datang sendirinya. Aku ga ngerti apa yang secara precise membuat Jogja menjadi semacam medan kreatif.

Koran kampus : Impact apa yg ingin dihasilkan dari musik hiphop yg anda sajikan?

Kill The DJ : Yang pertama impact sosial lah, maksudnya impact sosial itu bagaiamana relasi temen-temen dengan lingkungan sekitar, itu yang pertama. Kalo ada anak-anak sepanjang Kali Code hafal semua lagu kita, itu hal yang mengasyikan gitu, dan kebetulan lirik-lirik kita juga sesuatu yang sebenarnya asing. Artinya asing buat generasi [muda], misalnya anak SMP gitu. Padahal rap-rap kita adalah mantra jawa yang sangat kuno dan tiba-tiba itu dikembalikan ke generasi yang saat ini. Itu hal-hal yang pengen selalu kita capai. Atau misalnya kita punya lagu Jogja Istimewa yang kemudian menjadi soundtrack perjuangan dan kehidupan masyarakat di jogja dari yang SD sampe yg paling tua semuanya hafal. Itu bukan sekedar bagaiman kita menjadi dikenal masyarakat, tapi bagaimana lagu itu kemudian benar-benar dipahami dan mewakili mereka.

Koran kampus : Apa pesan Anda untuk generasi muda terkait budaya asli indonesia?

Kill The DJ : Susah juga ya. Maksudnya kan kadang-kadang orang menyalahkan generasi muda, ga peduli dengan trasdisi gitu. Maksdunya itu suatu hal yang ga adil bagi sebuah negara yang tidak punya strategi kebudayaan. Negara kita kan juga ga peduli sama tradisinya, jadi kenapa harus mempertanyakan hal itu kepada generasi muda. Kalo kita bandingin misalnya dengan Jepang yang tetap merawat tradisinya, generasi mudanya bisa sangat liar tapi dia juga sangat paham dengan tradisinya. Okelah pertanyaan sepanjang itu menjadi relevan tapi bagi negara seperti indonesia hal semacam itu tidak layak dipertanyakan dan kalo pesan ya terserah kamu aja kalo kamu ngerti ya dikerjakan aja.

Koran kampus : Berarti orang yang tidak mengerti Bahasa Jawa tidak bisa menangkap pesan dalam lagu Anda?

Kill The DJ : Susah. Kalo ga ngerti Bahasa Jawa susah, paling cuma dapet speed-nya. Maksudnya kalo itu adalah mantra, ya paling akan dapet spiritnya.

Koran kampus : Anda percaya dengan khasiat spiritual mantra itu?

Kill The DJ : Aku kan udah diomongin, aku berada di in between, di antara. Maksudnya bagian dari generasi masa kini sekaligus orang yang berpijak pada akar tradisi, artinya ya bisa sangat memahami spiritnya tapi belum tentu digunakan selalu.

Koran kampus : Apa pesan Anda untuk pembaca Koran Kampus?

Kill The DJ : Jangan ragu sama hal kamu percaya bisa dikerjakan, dan jangan takut dengan keunikan yg kita miliki. Kalo kita konsisten ya pasti jalannya ngikutin sendiri. (KK/rhezaardiansyah)

Selasa, 01 Maret 2011

Tisond: Rock Star (Pernah) Kribo yang Lulus IPB Dengan Predikat Sangat Memuaskan

Di Inggris sana, ada sebuah universitas yang dipimpin oleh seorang rockstar. Betul, Universitas John Moores Liverpool dipimpin oleh gitaris band legendaris pelantun We Are The Champion, Queen. Brian Harold May memimpin universitas itu menggantikan Cherie Booth Q.C., pemimpin Universitas John Moores Liverpool sebelumnya sekaligus istri mantan PM Inggris Tony Blair. Dr. May, demikian sang gitaris disandingkan dengan gelar akademiknya, tentu saja berambut keriting dan panjang terurai. Citra eksternal tokoh akademik macam demikian jarang kita temui, apalagi di IPB. Saat ini aturan bahwa mahasiswa IPB dilarang telah diperkuat dengan SK rektor. Pasca pengesahannya, isu tentang penolakan larangan berambut gondrong kencang berhembus. Tentu saja mahasiswa yang nyaman berambut panjang merasa terusik, gelombang resistensi pun deras mengalir. Salah satu tokoh yang vokal memperjuangkan eksistensi rambut kribonya adalah Tisond. Fresh graduate dari FEM IPB ini ternyata menggemari figur Slash, pencabik gitar di band pujaan milyaran umat, Guns N’ Roses. Layaknya sang gitaris pujaan, Tisond juga bermain gitar untuk bandnya. Bagaimana kiprah musikal Tisond? Bagaimana konsep pergerakan mahasiswa dimatanya? Bagaimana kisah pahit getir pengalaman mempertahankan potongan rambut yang tak lazim di dunia akademik negeri? Mari simak penuturannya.

Halo Tisond, apa kabar?

Kabar ogut selalu baik apapun itu sikatt terus!!

Kesibukan apa yang Anda jalani sekarang?

skrg lg sibuk2nya mimpin perusahaan ni,,hehehe ‘canda’..lg sibuk memperdalam ilmu gitar aje ni za sekalian nyari personil yg mau nerima ogut apa adanya..susah minta ambrul ye bikin band,,tp sdikit demi sdikit dah ktemu si org2nya..satu lg kesibukan ogut ni, lg bikin buletin ma ank2 classic rock yg rambut anak2nya dominan pd gondrong, seumuran pula..jd terpuruk ni..nama ntu buletin Gypsy Roll ngupas abis smua ttg classic rock,,dr personil band, band, style, rekomendasi lagu, n many more lah pokok’ke!! PROMOSI dikit!!hhahahihi

Anda dikenal sebagai mahasiswa yang tampil beda, setidaknya dari segi penampilan. Bagaimana civitas akademika kampus kita menerapkan Bhineka Tunggal Ika, apakah sudah diterapkan dengan baik?

Hmm kayaknya ga jg dah,,banyak tau yg penampilannya pd beda, contoh banyak yg pada make jeans ketat, clana ¾, clana sobek, krudung panjang , jaket kulit, spatu boot, itu menurut ogut udah tampil beda,,untung aje kaga da yg make clana spandex,,makin beda mampus dah..haha..YANG PENTING MAH KAGA NGIKUT-NGIKUT AJE..

Menurut ogut si Bhinneka Tunggal Ika ntu cuman jd sekedar kata-kata saja..knp bisa begitu,,karena org berperilaku meyimpang sedikit saja dr jalur mainstream langsung dinilai ‘negatip minus’ oleh mereka2 yg merasa dirinya benar..apapun itu yg berbau SARA sangat sensitip sekali efeknya..ce elah blagu bet dah ogut..itu pengalaman ogut sndiri, oke

Anda setuju dengan julukan yang sering dialamatkan ke IPB sebagai kampus agamis?

Islamis kali ye bkn agamis,,buktinya banyak kegiatan2 yg dimulai dgn doa Islam,,agama yg lainnya dikemanain ntu,,beberapa teman TPB ogut ada yg berubah jd berkerudung (tau dah emang bener2 apa cuman ikut2 aje), tp tetap saja mereka terlihat seksi..hehohi,,trus lg banyaknya simbol2 Islamis di hampir setiap tempat kampus..Jadi setuju Islamis bkn agamis ye..

Bagaimana komentar Anda? Apakah gelar itu perlu diganti?

Ogut mah mana bisa ganti,,yah tergantung isinya yg diliat, khalayak ramai lah yg menentukan!

Di UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), tempat ibadah yang tersedia tak hanya mesjid, tapi juga gereja, dll. Apakah di IPB perlu disediakan tempat ibadah lain selain mesjid?

Wah baru tau jg ntu ogut za,,tenkyu ya inponya..hhe..

Wah manteb itu,,pastinya smua tempat ibadah tiap agama lah harus dibangun,,banyak alasannya: tmpat ibadah yg lain ntu banyak yg jauh2 dr kampus, klo ada tempat ibadah masing2 agama di kampus jd mudah dijangkau, trus tiap mahasiswa/wi bisa jauh lbh kenal lg, citra ipb di luar bukan main lg bagusnya..jadi baru bener disebut kampus agamis za..tp gini jg dah bagus2 aja asal toleransi beragama tetep dijunjung tinggi..

Di kalangan mahasiswa (apalagi di musim Pemira) sering terdengar kabar bahwa sebenarnya di IPB ini semua pengambilan keputusan tinggi mahasiswa sudah ada yang mengatur, dalam hal ini disinyalir kepentingan partai memainkan peran, meski hingga saat ini belum ada buktinya. Anda pecaya dengan isu itu?

Kurang begitu paham klo soal ini, jd percaya ga percaya..klo toh emang bner ada, wah parah sekali itu, polisi aja ga boleh masuk kampus.. klo parpol masuk, jadi robot dong mahasiswa/wi nya, ga bisa bebas, terkekang terus dah..

Selama belajar di IPB, Organisasi apa saja yang pernah anda ikuti?

PMK aja yg paling masuk,,klo terus terang si dr zaman smp dah anti bgt ntu yg namanya organisasi formal, ga suka keterikatan soalnya za..

Menurut anda bagaimana seharusnya seorang mahasiswa berlaku?

Pastinya mahasiswa/wi harus bebas sebebas-bebasnya ekspresiin bakatnya, sejauh itu buat hal2 yg ‘baik’..

Pandangan anda tentang aksi demonstrasi yang selalu melekat dengan mahasiswa?

Ikut demo blon pernah jg ni za,,jadi ga terlalu bisa bnyak komen lah..buang2 waktu aja si mnurut gw, takutnya mreka cuman sekedar ikut2 aje,,latah!!ga tau akar masalahnya yg penting berkohar2,,nihil dong hasilnya..

Sejak kapan anda merintis potongan rambut yang legendaris khas Slash itu? siapa yang menginspirasi?

Sejak tingkat dua, pas TPB rambut ogut pernah dibonding, ga enak aja dipandang aja klo semi gondrong gitu,,hahaha..tp pas gondrong,,asik dah ngeliatnya..hhe,,Slash kali ye yg inspirasiin,,dari zaman SD dah demen soalnya..

Bagaimana kesan anda selama memiliki rambut kribo?

Kesannya senang sekali dalam tiap kondisi,,kan jd point of view..hehehe,,nah klo pas kelulusan jgn ditanya lah,, miris sekali keadaan..ogut sidang tgl 2 agst dan bsoknya ogut nonton Slash dgn keadaan sudah pendek rambut,,tp Slash jd obatnya lah ngehilangin dikit rasa kecewa ntu,,lulus sidang ogut senang, krn dah bikin ortu di rmh bahagia minta ampun..

Anda kemudian merintis komunitas mahasiswa berambut keriting dan keribo yg kemudian bernama Thinker. Bagaiamana kabar thinker sekarang?

Ogut dan teman2 yg merintis..Kabar thinker skrg msh di angin aja..hehe,,

Apa tujuan anda saat mendirikan thinker?

tujuan si cuman mau nyatain pluralisme aja, ngilangin kebosenan kampus yg monoton mnurut ogut, nyalurin kreativitas, nongkrong bersama saudara2 seiman (rambut), jd point of view jg..

Apakah tujuan anda benar-benar tercapai saat thinker berdiri?

tujuan si blon tercapai semua,,tp senang aja bisa kebentuk jg ntu thinker,,1 semester lebih soalnya mikirin ntu kebentuk apa nggak nya..

Apakah anda anggota MAX!!?

Bukan za,,anggota2an lah tepatnya,,namanya jg musik ga ada gap2 an lah..

Bagaimana MAX!! dimata anda?

Mnurut ogut si MAX ntu kbanyakan ngomong aja za,, eksekusiin nya kurang,,berdasarkan pengalaman ya..

Lebih gencar lg lah MAX,,tunjukin klo MAX ntu memang benar ukm musik kampus,,hilangin image2 hedon, bergeng2, dan cuma ngomong doing..MAX asoy!!

Bagaimana Ladang seni terbentuk?

Dr sebuah tongkrongan kecil,

Siapa saja yang mendirikan komunitas itu?

anak2 yg nongkrong itu,

apa tujuan berdirinya ladang seni?

tujuannya lebih majuin kehidupan seni kampus,

bagaimana hubungan ladang seni dan MAX!!, agriaswara dan gentra kaheman yang sama-sama berjuang untuk musikalitas di IPB?

hub nya baik2 saja mnurut ogut krn sblm ngebentuk kita jg udah sharing2 sama mereka,

Bagaimana struktur organisasinya?

strukturnya kekeluargaan aja,

Siapa pemimpinnya?

pemimpinnya semua za,

Siapa anggotanya?

anggotanya siapa aja za (keluar masuk bebas),

Siapa saja yang bisa menjadi angota ladang seni?

siapa aja tentunya bisa masuk (ga ada keterikatan lah pokonya) asal hatinya terbuka aja,

bagaimana cara untuk menjadi anggota ladang seni?

caranya simpel aja, sering gabung nongkrong aja, kbetulan seringnya di sapta klo jam kampus, klo luar jam kampus di sekeliling bara lah..

aktivitas apa saja yg dilakukan ladang seni?

aktivitasnya yah seneng2 aja za dr yg ga layak dibincangin mpe yg semua2nya lah..hha

kegiatan terdekat ladang seni?

kegiatan terdekat masih blon ada, paling ank2 sering maen putsal bareng aja..

kenapa anda mendirikan ladang seni?

berawal dr kekecewaan dan panggilan hati aja za, biar adek2 kelas kagak ngerasain apa yg ogut rasain dulu..

Suasana apresiasi seni bagaimana yang anda impikan terjadi di kampus kita?

Tiap bulan ada event berkala, apapun itu event nya, trus tiap event ga ada yg bentrok biar bisa ngeraup massa yg banyak..

Apa pengalaman anda yang paling berkesan selama berjuang untuk berkarya di IPB?

Semuanya berkesan lah za..

Empat tahun sudah Anda menempuh pendidikan tinggi di IPB. Pelajaran berharga apa yang Anda dapat di kampus itu?

Sosialisasi, bisa ketemu dgn brader dan sister yg luar biasa,,ce elah..hha

Ilmu akademiknya cuman dapet dikit aje..hhe

Saat ini Anda bermain di band apa?

Ga ada za band ogut, lg ngerintis dr awal ni ma tmen2 sma,

Sudah punya berapa lagu? Lagunya bisa didengar dimana?

lagu ada lah, jumlahnya ga tau persis..hhe,,klo mau denger langsung samperin ogut aja za..’live’ hahaha

Alat musik apa saja yang anda bisa mainkan?

Gitar za,

Siapa yang mengajari anda bermain alat musik itu?

otodidak si, banyak nanya aja..kmrn sempet private tp nihil kayaknya hasilnya..hha,,

bagaimana anda mengasah kemampuan bermusik?

ngasahnya si mainin aja terus ntu gitar mpe nyatu dah ntu roh nya,,hilangin rasa bosennya,,nyari temen baru yg lbh oke maen gitarnya spy kepacu maennya,,klinik kecil2an gitu lah ama temen2 sejawat..hhe

Meski tidak terlihat menitikberatkan aspek akademis, anda mampu lulus dengan predikat dan pencapaian indeks prestasi yang memuaskan. Apa tips dan trik yang anda jalankan sehingga bisa demikian?

Predikatnya sangat memuaskan kali za..hehehe

Hmm gini aja,,UTS UAS ntu kan palingan kan cuman 2 minggu kotor aja,,yah mati2an aja lah pas ujian ntu,,sisanya berleha-leha lah..sikatt!!

Jika anda memiliki satu lagi kesempatan untuk dilahirkan,anda ingin lahir sebagai siapa? Kenapa?

Sayangnya ga mungkin za..

Pesan ogut hindari sinetron Indonesia..hahahahuaci!!

sikatt!!

_Keep rock n fuckin’ roll_

1. Tisondo bisa Anda jumpai di tautan ini http://www.facebook.com/rhezaardiansyah#!/profile.php?id=1364962390

2. Sosok Tisond ini benar-benar ada, bukan fiksi belaka :p

Rabu, 26 Januari 2011

Ikiw: Orang Yang Ga Suka Musik Itu Orang Munafik

Tema romantika perjuangan menegakkan bendera musik di IPB tak pernah surut dibahas. Selain disinyalir minim kesadaran mengapresiasi saat sebuah gelaran seni digelar, jumlah tokoh intelektual (baca: mahasiswa) yang rela membasahi diri dengan keringat musikal pun tak banyak. Diantara jumlah aktor yang sedikit tadi, terdapat sebuah nama, Riki Rachman alias Ikiw. Ikiw adalah mantan mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 43 (2006). Menyibak isi dibalik tempurung kepalanya adalah hal yang menarik, karena mahasiswa yang berkecimpung dalam dunia melodia di mata saya selalu punya rangkaian neuron yang tersimpul dalam formasi lain dari yang lain. Katidakbiasaan yang saya maksud diantaranya adalah pernyataan bahwa orang yang tak menyukai jenis musik tertentu sebenarnya tidak mencintai musik. Melalui paket tanya-jawab berikut, Ikiw mempertanggungjawabkan pernyataannya.

Menurut Anda seberapa penting peran musik dalam hidup ini?

Menurut gue ya itu penting banget musik. Kalo orang ga suka musik, menurut gue dia munafik. Semua orang pasti pernah bermain musik, entah itu bernyanyi atau cuman toktoktok [mengetuk-ngetuk meja] tanpa sadar orang akan ngelamun terus toktoktok [mengetuk-ngetuk meja lagi]. Contohnya deh hari senin upacara, nyanyi Indonesia Raya itu tu udah musik. Semua orang menurut gue ga bisa lepas dari musik.

Musik yang bagus itu apa?

Musik yang bagus itu musik yang bisa memberikan energi buat pendengarnya.

Contohnya?

Contohnya orang yang maen musik dengan tulus menurut gue itu udah bagus, entah itu musik dangdut, keroncong. Kalo dia memainkan dengan sepenuh hati, orang ngeliatnya “wah ni orang bermain musik memang dengan totalitas dia, dengan kemampuan dia” menurut gue itu udah bagus. Ga ada musik yang ga bagus.

Sejak kapan Lu mulai serius bermusik?

Sejak SMP

Untuk bermusik itu, Lu dapet dukungan dari orang tua?

Iya dapet dukungan orang tua, dibeliin gitar sejak umur 12 tahun. Abis itu lagu pertama yang dibawain lagunya Padi, Mahadewi. Waktu itu masih ababil-ababil gitu [tertawa]. Pernah saking boomingnya itu band Padi sampe termotivasi ngeband.

Siapa yang menginspirasi Lu buat bermusik?

Banyak. Kalo tokoh musik dalam negeri [diam] yang luar negeri deh, blink 182. Waktu itu maenin lagu The Rock Show. Gue dikasih kasetnya waktu itu, suruh denger terus bawain lagu ini, yaudah gue bawain. Abis itu gue mulai melek musik tuh, jadi tadinya cuma denger musik yang Indonesia aja, Shelia On 7, Padi, Dewa, Slank, Iwan Fals, tapi pas awal-awal SMA mulai melek musik, ternyata musik itu ga itu-itu aja.

Lu sekarang main di band apa?

Gue punya 2 band. Dulu sempat sama Limpy, sama Limas temen gue. Bikin Nine Foul Out, waktu itu jaman TPB karena kita satu lorong. Waktu itu dia di kamarnya setel lagu AVA “wah lagu AVA,siapa ini (yang nyetel)?” kenalan di situ, eh taunya sekelas, sering bareng lah ama dia, sering maen ngomongin musik. Terus pertama kenal Limpy dulu kan TPB juga, terus kenal Kentung, gue tau dia bisa maen gitar. Terus cari drummer kan ga dapet-dapet, akhirnya ketemu si Narcong. Terus gitarisnya Roni. Roni temen lorong juga. Tadinya gue gitaris tp jadinya maen bass, terbentuklah Nine Foul Out, band buat TPB aja. Tapi kesana-kesana akhirnya gue cabut dari band dan itu gue mendirikan CLIB, Clumsy Little Boy. Gue ajak Reza, ajak Yogi, ajak Yandi. Sebenarnya gue sama Yogi pernah ngeband juga di Aisuru, waktu itu gue additional bassist. Waktu itu Iye-nya ga bisa, akhirnya gue gantiin, dan sampe sekarang gue ajak Yogi maen drum, sampe sekarng CLIB jalan. Baru satu tahun. Baru setaun ya Za? [Reza ngangguk]

Sementara CLIB terbentuk, bagaimana nasib Nine Foul Out?

Ga tau, hiatus katanya. Tapi ga tau juga sih, semenjak gue keluar, mereka rekrut bassis baru

Kenapa Lu keluar dari Nine Foul Out (9FO)?

Karena jenuh maen musik, banyak kesibukan yang lain akhirnya gue keluar. Tapi sekarang punya 2 band, CLIB sama Failed Plastic Surgery

Apa perbedaan dua band yang Lu jalani itu?

Kalo CLIB lebih ke power pop, kalo Failed Plastic Surgery lebih ke apa ya? metal dan lebih keinfluence dari personelnya masing-masing. Itu tadinya kita (Ikiw dan Limpy) cuma nongkrong berdua, maen ke kosannya maen gitar “eh bikin lagu yu, taro di Youtube,sok metal-metalan” eh akhirnya “kenapa ga bikin band aja” yaudah.

Jadi setelah keluar dari 9FO ga musuh-musuhan ya, kan biasanya kalo bubar musuhan?

Kan kita teman, bukan berarti keluar dari band musuh-musuhan, ya ga Lim? (Limpy: tapi kita bukan gay) [tertawa]

Gimana progress dua band yang Lu jalani?

Lagu CLIB yang ada tu lagu yang udah gue buat waktu SMA. Waktu itu tempat menyalurkannya ke siapa belum ada, akhirnya di CLIB. Kalo Failed Plastic Surgery tu lagunya lebih terinspirasi ke kehidupan sehari-hari dengan tema unik dan cepat. CLIB baru rilis 1 lagu padahal tabungan lagunya banyak [tertawa] kalo Failed Plastic Surgery udah ada 8 lagu, Tapi belum ada yang udah di-take

Kadang orang tua selalu berpikir skeptis ke anak band. Gimana pendapt Lu tentang ortu yang begitu?

Menuret gue itu tergantung gimana cara kita menyampaikan ke ortunya ya. Tadinya orang tua gue juga agak “apaan sih ngeband buang waktu doang”. Tapi itu omongan ibu gue, kalo ayah gue beda, ngedukung banget karena dia dari dulu pengen ngeband tapi ga bisa alat musik, jadi hanya pendengar. Dari dulu gue juga dicekokin band jadul, kayak AC/DC, Metallica, Led Zepelin. Tiap pagi dia nyetel lagu itu. Dia ngefans banget ke AC/DC sama KISS

KISS Korea apa Amerika nih? KISS Korea kan ada juga

KISS Amerika, yang bermasker-masker gitu. Dari situ gue tau Deep Purple apa, kayak gimana, gitu. Akhirnya ayah dukung, ibu ga dukung, ya udah. Akhirnya gitar pun ayah yang beli. Akhirnya gue beri bukti “ma ngeband daripada ngerokok sama nongkrong ga jelas mending ngeband aja ma”.

ini KISS Korea

ini KISS Amerika

Lu ngerokok?

Ngga, ngerokok kalo lagi stress aja, kondisional. Putus ama cewe, rokok [tertawa]

Ikiw baru menempuh hidup baru sebagai sarjana peternakan. Gimana kaitannya dengan hobi ngeband?

Tadi gue bilang musik ga bisa lepas dari kehidupan kita, jadi apapun kesibukan kita pasti kita bakal meluangkan waktu buat bermain musik dan sebisa mungkin gue juga bakal berbuat gitu. Sebenarnya cita-cita gue itu pemusik dengan side job employee

Gmn lu melihat diri sendiri?

Gue itu orang yang brmimipi terlalu tinggi, tapi gue yakin suatu hari gue pasti dapet

Jadi lu yakin CLIB bakal jadi band mega legendaris?

Tai lu [tertawa] (Limpy pernah mengirim SMS bahwa latihan Failed Plastic Surgery batal karena (di SMS itu ditulis) ada latihan band mega legendaris, Clumsy Little Boy)). Ngga, gue ngeliat diri gue tuh sebagai orang yang terlalu terstruktur, semuanya ada proses, ga ada yang instan. Gue anggap apa yang gue dapet itu apa yang gue usahain dulu.

Harapan terhadap band Lu gimana? Misalnya bandnya go international?

Itu sih harapan semua band ya. Gue yakin Ungu pun yang udah besar pasti ingin lebih besar lagi.

Band dunia-akhirat kalo perlu ya?

(Limpi: band akhirat, growl) [tertawa]

Terus-terus?

Dan itupun terjadi pada semua orang. Entah itu sebuah band atau seorang pribadi doang, tapi orang pasti mengharap lebih dari yang dia dapat.

Apa musik yang benar-benar mgninspirasi dan Lu rekomndasikan ke orang lain buat didengar?

Oh band apa yang harus didenger? Kalo yang menginspirasi gue adalah kalo maen bass tu karena gue suka Blink 182, Mark Hoppus. Gue menyarankan pembaca buat dengerin musik yang lu suka dan ambil pesan dari musik yang lu denger. Jangan mengotak-kotakkan musik. Contohnya APWG, kenapa ngelemparin PWG, padahal kan PWG cuma maen musik dan niggalin hal negatif. Orang main musik kok dilemparin, kenapa emang ada yang salah ya dia ngeband? Itu yang gue bingung dari kondisi musik Indonesia, ga suka kok dilemparin. Orang berbuat hal yang positif, kenapa hrus dilempar. Menurut gue kalo misalkan ga suka sama musik (tertentu) berarti lu ga cinta musik karena lu ngotak-kotakkan musik. Kalo lu ga suka musik jenis tertentu berarti lu ga cinta musik, berati hidup lu stuck disitu aja, lu ga terima pendapat orang lain, ga dengerin apa yang ada di sekeliling, lu hanya stuck di satu tmpat. “Ah gue anak metal, ga dengerin anak pop” itu salah, lu bukan anak musik, lu org yg berpikiran pendek. Yaudah dengerin musik yg lu suka. “Ah lu anak melayu, lu cupu” emang knapa? Ini yang gue suka, why not? Kalo lu ngeritik musik melayu cupu, brati lu bukan orang yang cinta musik, tapi lu berpikiran pendek.

Apa pesan lu buat adik-adik kelas pejuang musik IPB?

Pertama jangan nyerah, trus tetap berkarya aja dengan baik, jangan malu karena anak IPB gitu. Maksudnya jangan stuck karena IPB, pertanian doang yang lu bisa, lakuin apa yang lu mau. “Ah gue IPB gue hrus cinta pertanian, harus ahli dalam pertanian” memang lu harus ahli prtanian, tapi ada hal lain yang juga harus dikuasai, jangan stuck lah dalam satu hal. Jangan stuck dalam 1 jenis musik tertentu, universal kok, masih banyak yang bisa dipelajari.


*Akun twitter Ikiw bisa diakses melalui tautan ini http://twitter.com/Rikiikiw

** Ikiw siap dihubungi kapan pun, 24 jam, di nomor ini 08569xxxxxxxxxxxxxx hahaha

Minggu, 23 Januari 2011

Limpy: Tidak Ada Hubungan Antara Pertanian dan Musik

Jika berbicara tentang tokoh-tokoh yang mewarnai hiruk-pikuk musikalisasi IPB, rasanya tak akan lengkap jika orang yang akan kita bahas ini tidak turut digunjingkan. Pria berperawakan bak Jack The Skeleton ini adalah pita suara yang memecah keheningan kampus pertanian dengan gemuruh vokalnya. Hadirin yang berbahagia, mari kita sambut dengan acungan telunjuk dan kelingking, Limas Agung. Mungkin tak ada yang menyangka sebelumnya, bahwa lelaki yang menggemari warna kuning ini (frame kacamatanya ada warna kuning, sepatunya bermotif kuning, hingga warna tasnya juga kuning) adalah punggawa musik cadas IPB. Di sela kesibukannya menyelesaikan tugas akhir dan berkarya di dua bandnya yang avant-garde, Limpy (begitu ia sering disapa) sempat bertutur tentang hubungan musik dan dunia pertanian, pengalaman pertamanya dengan musik metal, hingga kritik terhadap organisasi musik kebanggaan institut pertanian kita, Music Agriculture X-pression (MAX!!).

Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian sekaligus metalhead, mnurut lu ada ga
hubungan antara pertanian dan musik?
Pertanyaannya susah nih. Kagak ada hubungannya kata gue [tertawa] Kagak ada hubungannya. Gue ga bisa menemukan hubungan antara musik dan pertanian
Apakah musik penting buat pertanian? atau apa pertanian itu penting buat musik?
Kalo pertanian penting lah buat musik, karena kalo g ada petani, ga ada makanan, kalo ga ada makanan kita mana bisa bermusik
Terus musik penting ga buat pertanian?
Musik penting ga buat pertanian? [diam lama] ga ada hubungannya kayanya
Jadi ga penting?
Jadi musik sebagai apa? Alternatif pangan? Jadi kita ga usah makan,makan musik aja [tertawa]
Cita-cita lu sebenernya apa sih lim?
Cita-cita [diam lama] pengen punya usaha sendiri
Di bidang?
Di bidang apa aja,kalo bisa di bidang pertanian. Tapi di sisi lain bermain musik juga
Lu Cuma denger musik metal atau gimana?
Ngga, hampir semua musik gue dengerin. Tapi dibilang semua genre juga nggak, jadi cuma beberapa genre yang gue suka. Metal gue suka, pop-punk suka, pop juga ada yang suka. Oh berarti bukan genre ya, berarti tergantung musiknya. Dari semua genre gue suka tapi kalo musiknya ga bagus gue ga suka.
Pop apa yg lu suka?
Pop banyak yg gw suka, misalnya [diam lama] tadi siang gw dengerin [diam lama] oh pop [diam lagi] kalo pop [diam lagi] eu [diam lagi] memes, jazz juga suka jazz
Jazz yg mana?
Andien, Bitch Slap (lagu Slipknot) [tertawa]
Sejak kapan lu suka metal?
Suka musik metal dari semenjak umur 17. Umur 17 mulai suka karena ada yg menginfluence
Siapa yg menginspirasi?
Namanya Charlie
Yang sekarang maen di ST12 itu?
Bukan [tertawa] pokoknya ada anak yang namanya Charlie, ketemunya di motivasi camp training gitu, di puncak kalo ga salah waktu itu. Ada badan yang ngadain motivasi training, gw ikut, terus ketemu dia. Anaknya keren. Dia ngeband, jadi gue termotivasi
Cowo?
Cowo, Charlie
Keren? ganteng?

[tertawa]
Lagu apa yang dia kasih ke lu waktu itu?

Oh dulu dia sukanya System Of A Down. Gara-gara dia denger itu gue jadi denger System Of A Down. Terus setelah System Of A Down gue coba yang lebih berat lagi, gue denger Slipknot
Apa aja band lu sekarang?
Unholy Vein sama Failed Plastic Surgery
Sebelumnya?
Sebelumnya Nine Foul Out [tertawa]
Sampai skarng Nine Foul Out masih jalan?
Nggak. Kalo masih jalan mungkin jadi saingannya Finding Nadia [tertawa]
Kenapa ga jalan lagi?
Karena di dalam Nine Foul Out itu orang-orangnya beda, kecintaan terhadap musik juga beda-beda, jadi ga semuanya segitu cinta sama musik seperti gue gitu. Jadi ada yang lebih fokus ke yang lain, ada yg jenuh bermusik [ikiw ketawa] sedangkan gue masih terus bermusik, jadinya bubar, ga jalan. Mungkn yang masih konsisten bermusik cuma riki (ikiw) dan Kentung doang, lalu kami bikin Failed Plastic Surgery
Lalu gimana cerita tentang Unholy Vein?
Mulanya gue ngajakin Van maen metal “bawain lagu hyginia yu, Bless The Fall” ayo kata dia. Eh besok-besoknya dia ngajakin masuk ke band Unholy Vein yang dia baru bentuk sama temen-temennya di Cibinong, ya udah terus gue nyanyi di UV, terus Van-nya keluar sekarang
Kenapa?
Dia kayanya pengen [diam lama] eu pengen [diam lagi] kbanyakan band kayanya dia. Jadi dia pengen kurangin, biar dia bisa beraktivitas kayak waktu dulu pas jaman-jamannya masih dikit bandnya, atau pas dia ga ada band, jadi bebas hidup dia, ga banyak mikir, jadinya keluar. Tapi itu dari sudut pandang gue ya, gue nangkepnya kaya gitu. Terus dari UV-nya tersendat, karena yang produktif bikin lagu kan Van, jadi kita agak pincang, nyari gitaris baru susah. Tapi sekarang udah dapet, jadi mau dibangun ulang
Siapa?
Eu, tapi itu belum bisa dipublikasikan

Sebentar lagi lu jadi sarjana pertanian. Apa rencana lu kedepan?
Rencana ke depannya mau kerja lah. Kerja, nyari duit, kawin
Bagaimana dengan karir bermusik?
Sebenarnya gue juga udah mikirin ini kalo udah kerja. Mau gimana, mau band mana yang dilanjutkan, mana yang ga dilanjutkan, tergantung gue dapet kerja dimana. kalo gue dapet kerja di Jakarta, UV tetep jalan, sama Failed Plastic Surgery mungkin. Kalo yang lainnya ga tersendat di jarak
Kalo kerja di Papua gimana?

Mungkn bikin band baru di Papua [tertawa] (uuuuuuuh, growl)
Gue ketemu sama Limpy di sebuah organisasi keren bernama MAX!!. Lu pernah aktif disana, terus kenapa mengurangi aktifitas di MAX!!?
Menurut gue wajar karena kalo mahasiswa tingkat akhir lebih fokus ke tugas akhirnya
Gimana pandangan lu terhadap MAX!! dan musik di IPB?

Gue punya pandangan sendiri terhadap MAX!!. Sekarng gue mengkotakkan MAX!! jadi 2 bagian. Bagian pertama itu MAX!! generasi awal. Generasi awal menurut gue bagus banget karena idealismenya masih tinggi, dia memperjuangkan musik di kampus. Sedangkan yang kelompok kedua, generasi skarng, idealisme itu kayanya udah mulai dilupakan. Sudah mulai dilupakan, belum dilupakan loh. Di makrab-makrab masih sering diumbar-umbar "pertahankan musik" segala macem kan, tapi kayanya di anak-anak jaman sekarang idealismenya masih kurang dipertahankan, udah mulai luntur. Kekeluargaannya juga mulai berkurang, menurut gue loh
Kelunturan yang lu maksud terlihat dari mana?
Dari anak-anak MAX!!-nya. Kan ada 2 yang gue bilang tadi, yang satu pertahankan musik, yang satu lagi kekeluargaan. Kekeluargaan kayanya masih kurang karena yang gue liat anak-anak sekarang ngegeng-ngegeng jadi punya kelompok-kelompok. Jadi menurut gue di MAX!! kalo masih mau kokoh kekeluargaannya, ngegeng itu mesti diapusin karena kalo misalnya ada anak baru, baru dateng dia bakal bingung “kok ngegeng-ngegeng, gue kayanya ga dapet geng, gue ga ada temen di MAX!!, ah jadi maels deh” jadi mesti diapusin. Beda sama generasi pertama, kalo generasi pertama semuanya membaur, karena visinya satu kan idealisme, mempertahankan musik yang gue bilang tadi
Generasi pertama yang lu maksud itu siapa?
Sampe 42 gue liat masih kompak, angkatan 1 sama 2
Lu sndiri angkatan berapa?
Angkatan 4
Lu angkatan 43 di IPB, lazimnya masuk MAX!! angkatan 3 berarti. Kenapa masuk angkatan 4?
Dulu pengen ikut cuman telat daftar, jadi suruh daftar taun depannya
Gimana image IPB yang lu idam-idamkan?
Pengen imagenya tuh berprestasi. Pengennya kampus yang ketika udah masuk dunia kerjanya tuh lulusan IPB bagus
Nyatanya?
Bagus, tapi klo di-compare sama UI, sama ITB, IPB masih dinomorduakan lah menurut gue

Kalo di bidang apresiasi musik, cita-cita lu terhadap pelaksanaan apresiasi musik d IPB gimana?
Cita-citanya pengennya ipb jg punya event gede sendiri, yang sampe sekarng belum tercapai
Dan lu udah berusaha mewujudkannya?
Udah berusaha, tapi masih kecil usaha gue. Usaha gue paling bantu di kepanitian MAX!!. Tapi MAX!! belum berhasil membuat acara gede di bidang musik

Kenapa?
Menurut gue Mungkin karena yang tadi kali ya, kurang kompak. Kalo di UI kayanya mereka kompak dan konsisten, kalo mau bikin acara, ga ada yang namanya bolos, rapat datang terus. Abis itu kita juga kurng total. Tapi mungkin kendala utamanya kayanya sponsor. Kayanya kalo di IPB tu perusahaan besar nganggap IPB tempat yang kurang baik buat investasi. Jadi kendala utamanya sih di sponsor kata gue

Kenapa kita harus bangga dengan acara besar?
Kan bisa memperbesar nama kampus
Lalu dengan memperbesar nama kampus?
Berprestasi. Sebenarnya ada analoginya. Di dunia kerja kan lu bkin proposal, bkin event, meluncurkan produk, berarti secara ga langsung lu hebat '"wah IPB event besarnya apa nih? Dia berhasil melaksanakan ini, dulu." Bisa dianalogikan gitu. Nangkep ga maksud gue? Misalnya anak UI,dia berhasil ngepanitiain JGTC, wah gede. mungkn kalo direkrut di perusahaan gue bisa berhasil meluncurkan produk, sukses.

Itu kan kalo misalnya kita cari kerja. Tapi kan IPB menekankan mahasiswa lulusannya buat jadi entrepreneur. Gimana korelasi pembuatan acara gede itu dengan pencapaian visi IPB untuk mencetak entrepreneur muda?
Kan kalo ga di perusahaan kan kita juga bisa. Maksudnya ga cuma di perusahaan aja, secara entrepreneur kita juga bisa. Tadi cuma contoh aja, kalo di dunia kerja tu sperti itu
Ada pesan-pesan untuk adik-adik kelas di IPB? Limpy kan udah paling tua di kampus. [tertaawa]
Tetap bermusik,dan jangan membuat band, don’t start a band [tertawa]
Kenapa?
Karena sudah banyak [tertawa]
Jadi harus gimana?
Jadi harus jadi konsumen aja, jangan bikin band. Tetaplah dengar Unholy Vein dan Failed Plastic Surgery

Karena?
Karena bisa menginspirasi

1. Untuk mengakses akun Facebook Limpy, silahkan ikuti tautan ini
http://www.facebook.com/limpygrowler
2. Untuk berkunjung ke laman resmi band Unholy Vein, silahkan klik tautan berikut http://www.myspace.com/unholyvein
3. Untuk mengakses situs resmi Fakultas Pertanian IPB, silahkan menuju link ini http://www.faperta.ipb.ac.id/