Tampilkan postingan dengan label can i say. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label can i say. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

Umam: Bermusik Dalam Hening

Can I Say Edisi 12 akan menampilkan Sound of Silence di rubrik paling depan. Simak wawancara saya dan Sound of Silence berikut ini, dan nantikan rilisan terbaru Can I Say, karena bisa jadi, wawancara versi majalah digital Can I Say bakal jauh lebih seru.



Halo Sound of Silence a.k.a Asyraful Umam, lagi sibuk apa?

Saat ini Sound of Silence (SOFS) sedang mempersiapkan album ke 3. materi lagu sudah terkumpul, namun artwork belum selesai. rencananya tahun ini harus rilis. saat ini saya sedang sibuk menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa tingkat akhir.


Kenapa sih menamakan diri Sound of Silence?

Awalnya, saya melihat kata “sound of silence” dari judul lagu yang terpampang di sebuah kaset tua milik ibu saya. Entah mengapa dari situ saya terinspirasi untuk menjadikan Sound of Silence sebagai nama project saya ini. Mungkin karena keterkaitan dalam proses pembuatan lagunya yang sering saya lakukan di kamar dalam suasana hening.


Gimana proses kreatif pembuatan lagu-lagu SOFS?

Inspirasi terbesar adalah dari apa yang saya rasakan saat itu. Maka tema-tema lagu yang SOFS buat beragam, dari pengalaman pribadi, kritik sosial (see it, hear it, and feel it. jakarta frustasi), kecintaan terhadap lingkungan (nature, adventure), pengalaman pribadi (forget it and then forgive it, unforgettable smile), dsb dsb. Hehe. SOFS sendiri dalam pembuatan lagunya tidak membutuhkan banyak konsep, saya lebih out of the box dan mengandalkan inspirasi spontanitas.


Cool.trus sofs pernah manggung dimana aja Mam?

SOFS pertama manggung di sebuah kompetisi Soundtrack Komik oleh Majalah HAI, di central park,di kompetisi tersebut alhamdulillah SOFS menang, kemudian di undang untuk tampil di acara FIXFEST dan JAVAROCK’N LAND oleh majalah HAI. Album ke 2 Sound Of Silence “see it, hear it, and feel it” juga mendapat apresiasi dari web Jakarta Globe, sebagai album terbaik dalam 2011.


Album sofs dirilis label mana aja? Artwork sampe lagu semua lo yg ngerjain sendiri ya?

Album sound of silence di rilis 2 netlabel. Inmyroom records (indonesia) dan Misspelled Records (australia)
Album 1 - Only Dream
album 2 - See it, Hear it, and Feel it

SOFS juga membuat album unrelease yang berisi lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit, Radiohead, dan The Cure yang telah dikemas ulang dengan gaya SOFS.
iya semua dilakukan sendiri..


Musik/musisi mana yang banyak berpengaruh ke pembentukan karya sofs?

Ketika mendengar Exsplosions In The Sky saya paham, bahwa kita juga bisa bercerita lewat nada.


Instrumen apa aja yang dipake?

Saya lebih mengoptimalkan software-software dari komputer salah satunya Fruity Loops. Basic dasarnya saya di ajari oleh gitaris di band saya Distorsi Alam Timur, namanya Riff Hkm. Sebelumnya juga sempat di ajari sekilas oleh teman kampus saya yang bernama Denzel. Saya pelajari dari akhir tahun 2010


SOFS udah punya berapa lagu?

Lagu sudah puluhan, sempat kolaborasi dengan abang saya saat mengcover lagu dari band indie folk asal jogja, Stars and Rabbit yang berjudul Worth it.


Lagu SOFS yang paling berkesan yang mana? Yang maknanya paling dalam?

Hmm.,,pertanyaan sulit nih..karena pada saat proses penciptaannya setiap lagu berkesan mendalam bagi saya. hmm, tapi kalo ditanya yang paling dalam. hmm..Apa ya, saya tetap bingung..:P


Selain menggarap SOFS, Umam berkarya di bentuk lain ga? Kan anak DKV, pasti jago bikin karya visual. Hehe.

Selain di SOFS saya juga buat project seperti Distorsi Alam Timur (alternative rock), Beautiful Garbage (eksperimental), Ruang Damai (indie folk), Minimalis Maksimalis (punk rock). Kalo karya desain, hmm..iya suka juga buat gambar-gambar..hehe


Kalo karya2 grafis lo banyak dipajang dimana?

karya grafis sih masih dikonsumsi pribadi aja. hehe


Seniman favorit siapa? Dalam hal seni lain non musik?

Jack Black telah mencapai hampir semua impian saya. Selain bintang film, sutradara, dia juga musisi berkarakter. Saya mulai menggemarinya ketika menyaksikan film Tenacious D.


Pandangan SOFS soal seni tradisional? (Kalo tradisional diartikan sebagai 'yang tua/terdahulu')

Seni tradisional, saya ingin sekali mengemasnya menjadi sesuatu yang tidak dianggap “kampungan”. Sebenarnya sih ini masalah individunya ya, yang jika masalah ini dirinci secara mendasar akan sangat membutuhkan perbincangan yang sangat panjaaang..hehe, intinya sih masih banyak masyarakat yang beranggapan apa yang berbau asing itu selalu keren dan sesuatu yang tradisional di anggap kuno atau kampungan.

Irvan: Bangsa Kita Gak Menghargai Musiknya Sendiri

Sudah lama sekali saya tidak menampilkan lagi rubrik "orang" di blog ini. Sejak awal tahun 2011, saya mewawancara beberapa orang teman, lalu memajang hasil wawancara itu dalam blog ini. Rupanya itulah salah satu embrio lahirnya majalah digital Can I Say yang di dalamnya memuat rubrik profile. Hasil wawancara saya di tag "orang", nantinya dipajang di rubrik profile Can I Say. Begitu juga dengan posting ini. Kali ini, wawancara saya dengan Irvan Januari, akan tampak di artperience Can I Say Magazine edisi 12 yang akan terbit segera. Langsung saja, mari selami kolam pemikiran Irvan Januari, si pecinta dangdut sejati.




Ironisnya musik dangdut. Beberapa orang bangga dengan adanya genre ini, bahkan jargon dangdut is the music of my country pun sempat populer. Namun di sisi lain, dangdut sepertinya sudah mulai tak digandrungi. Seorang pria bernama Irvan Januari berani berdiri di sisi seberang dan lantang berkumandang bahwa ia menggilai musik dangdut. Irvan mengaku suka dangdut sejak kecil. Memori tertuanya bercerita bahwa ketika berusia 18 bulan, ia sudah menari girang ketika musik dangdut mengalun di pasar saat Irvan kecil diajak ibunya belanja. Dangdut diakui Irvan membuatnya rileks. "Menurut gue, dangdut itu sumber kenikmatan. Terserah orang bilang kampungan, katrok atau apa, itu tetep musik yang gue cintain. Gue abis kerja, lagi cape, denger dangdut, fresh lagi", aku Irvan. Bahwa ia berani direndahkan dengan musiknya, Irvan yang mahir bermain kendang memang merasa demikian, terutama ketika SMA. Namun yang ia rasakan dari alienasi itu justru bukan perasaan kecil hati. "Gue justru merasa kalo lo ga suka dangdut, lo bukan orang Indonesia, soalnya dangdut kan musik indonesia, meskipun adaptasi dari India" ujarnya bersemangat. Menurut penggemar Rhoma Irama ini, musik dangdut saat ini sedang mati suri. Ia habis-habisan mengkritik kontes dangdut, hingga dengan pedas mengomentari musik (yang kita sebut) dangdut yang terkesan erotis.

"Sekarang makin jarang penyanyi yang nyanyiin dangdut yang pure dangdut. Kadang di-mix sama disko, ada koplo, sedangkan koplo itu bukan dangdut", papar Irvan mengawali kritiknya. Ia mengaku menyayangkan turunnya pamor dangdut sebagai musik yang elegan, dangdut yang dulu diangkat martabatnya oleh Rhoma Irama, idolanya sejak duduk di bangku SD. "Dangdut itu suara, bukan goyangan, goyang tu hiasan aja. Jadi musik dangdut erotis itu sampah. Awalnya dangdut udah pengen elegan, jadi dengan ada musik kayak gitu, orang jatuhnya malah jijik kan, suaranya nomor 12, goyangannya jadi nomor 1. Gue benci banget yang kayak gitu", kelakar Irvan bersemangat. Katanya, dangdut yang benar-benar dangdut itu, musik yang dibawakan Imam S. Arifin, Rhoma Irama, Hamdan ATT, mansyur S, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, dan penyanyi dangdut lain yang muncul sebelum abad ke-21. "Lagu-lagu sekarang kayak ABG tua, Cinta Satu Malam, Hamil Duluan, itu bukan dangdut. Walaupun penyanyinya penyanyi dangdut, misalnya Hamil Duluan, itu kan yang nyanyi Tuti Wibowo. Sedih sih sekarang liat kondisi dangdut", tukas Irvan.

Soal jumlah pecinta dangdut, Irvan yang kini memajang lagu-lagu Joni Iskandar dan (tentu saja) lagu-lagu Rhoma Irama di playlist music playernya ini, mengaku optimis bahwa banyak anak muda yang sekarang suka dangdut. "Coba liat anak muda kalo nongkrong main-main gitar, pasti ujung-ujungnya lagu dangdut juga yang dinyanyiin", tegasnya. Namun sayangnya, menurut Irvan, perkembangan dangdut mati. "KDI (Kontes Dangdut TPI), apa segala macem, itu justru mematikan dangdut, (soalnya) cuma bikin penyanyi, bukan jadi pencipta lagu, sedangkan dangdut sekarang ini udah ga ada pencipta lagunya, kayak Muchtar B, Asmin Cayder, Leo Waldy, udah pada ga ada. Jadi ya kebanyakan penyanyinya, tapi yang bikin lagunya ga ada", papar pria berkepala pelontos itu.

Irvan punya definisi baku soal apa itu musik dangdut. Katanya, kalau musik dangdut tak diwarnai bunyi kendang, itu bukan dangdut. Terkait harapannya tentang musik dangdut, Irvan juga punya pendapat sendiri. "Gue pengen liat di TV, musik dangdut itu dikemas pure dangdut, ga usah pake drum, macem2. (Penyanyi) yang dateng tu Nurhalimah, Fenty Nur, Titiek Nur, Umami (Riza Umami), Vety Vera, Ike Nurjanah, Lilis Karlina. Ironisnya justru mereka terkenal di luar indonesia. Ike main di Amerika, Bang Rhoma juga terkenal di Jepang. Bangsa kita gak menghargai musiknya sendiri", tutup Irvan.

Jumat, 17 Agustus 2012

Can I Say 11th Edition



RELEASE!!

Can I Say 11th Edition




Klik gambar di atas untuk mengunduh Can I Say 11th Edition dengan format Flipping Book EXE (21.9 MB)

atau

Gunakan link di bawah ini untuk mengunduh Can I Say 11th Edition dengan format PDF (4.5 MB)





Regards,
Seni, Seniman, dan Karya Seni

Minggu, 08 Juli 2012

Can I Say Magazine 10th Edition

RELEASE!!
Can I Say 9th Edition



Klik gambar di atas untuk mengunduh Can I Say 10th Edition dengan format Flipping Book EXE (31.7 MB)

atau

Gunakan link di bawah ini untuk mengunduh Can I Say 10th Edition dengan format PDF (10.3 MB)

Can i say 10th edition

View more documents from canisay

Regards,

Seni, Seniman, dan Karya Seni

Selasa, 12 Juni 2012

Can I Say Magazine 9th Edition

RELEASE!!
Can I Say 9th Edition

Klik gambar di atas untuk mengunduh Can I Say 9th Edition dengan format Flipping Book EXE (21 MB)

atau

Gunakan link di bawah ini untuk mengunduh Can I Say 9th Edition dengan format PDF (7 MB)






Pendidikan merupakan sebuah kuncian awal. Namun, seni pun mampu berbicara.

Apakah keduanya memiliki sebuah sinergi?

Mendidik dengan seni. Seni yang mendidik.

Kami sajikan dalam sebuah majalah digital, Can I Say 9th Edition.




Regards,

Seni, Seniman, dan Karya Seni



Jumat, 20 April 2012

The Crew

Sejak terbit pertama kali tanggal 22 Agustus 2011, kini Can I Say Magazine udah punya 7 rilisan. Sejak edisi ketujuh itu, Can I Say dibuat oleh lima orang kru tetap: Saya, Amin, Windi, Dian, Suci. Di foto di bawah ini Suci ga ada. Belum tahu Can I Say Magazine? Klik aja gambar di bawah ini :)

Rabu, 04 April 2012

Can I Say Ketujuh

Seneng banget akhirnya edisi ketujuh rilis juga. Apalagi kali ini tim penyusunnya lebih banyak. Tampilannya juga ada dua macam. Langsung aja, yang belum tau Can I Say Edisi 7 silakan simak yang di bawah ini: 

Can I Say 7th Edition




Klik gambar di atas untuk mendownload Can I Say 7th Edition (EXE) 17 MB

atau

Klik link di bawah ini untuk mendownload Can I Say 7th Edition (PDF) 6,2 MB
Can I Say Magazine 7th Edition
View more documents from canisay.
Earth Hour day is today. Do everything as wisely as you can. This Earth will respect you!

Minggu, 19 Februari 2012

Can I Say Jadi Media Partner

Saya masih inget, waktu itu hari Jumat, saya buka Twitter dan taulah bahwa dalam waktu dekat bakal ada 2 acara musik seru, pensi Regina Pacis Bogor dan Bazaar SMA 2 Bandung. Ke kedua panitia acara itu, saya menawarkan diri untuk jadi peliput atas nama Can I Say Magazine. Untuk Pensi di RP, intinya semua lancar. Sampai acara beres pun saya hadir buat meliput langsung. Nah buat yang kedua ini ada cerita khususnya. Can I Say ngeliput acara SMA 2 Bandung jadi spesial karena itulah kali pertama majalah digital yang dirintis sejak Agustus tahun lalu itu jadi media partner resmi, sampe logonya dipajang di media publikasi acara.

Hari Jumat itu saya SMS humas Bazaar SMA 2. Mereka menyambut positif itikad baik dari Can I Say buat meliput. Katanya mau jadi media partner ga? Kalau mau kirimin logo siang itu juga. Saya bilang ga usah, nanti Can I Say bantu publish di social media. Tapi si panitia bilang sayang, soalnya lumayan biar logonya dipajang, lagian bentar lagi mau dicetak. Dipikir-pikir, oke juga Can I Say nampang. Yaudah beberapa menit kemudian saya kirim logonya. Sebenarnya, saya sebagai salah satu kru Can I Say pengennya dapet free pass doang, ga lebih (maksudnya ga lebih juga ga apa-apa,sukur-sukur lebih untungnya,haha). Pasalnya, pensi SMA 2 itu salah satu pensi yang layak ditunggu, tiap taun pengisi acaranya ajib. Tahun 2009 adalah kali pertama saya nonton pensi SMA 2. Waktu itu ada Rocket Rockers, SID, Beside, sampe Burgerkill. Acaranya di kampus SMA 2 di Cihampelas. Saya sampe bela-belain nginep di rumah sodaranya Hiban, ade kelas saya. Tahun berikutnya, saya nonton sendirian di Sabuga. Disana saya juga puas banget nonton Polyester Embassy, Rock and Roll Mafia, Shaggy Dog, bahkan ikut moshing-moshingan di bibir panggung waktu Seringai beraksi. Pensi SMA 2 emang suka pas waktunya, di awal tahun, pas lagi libur semester.

Nah untuk tahun ini, meski mendapat kesempatan nonton gratis, sayangnya saya ga bisa dateng liput langsung. Kita lanjutkan cerita yang tadi ya, kita lanjut dari ngirim logo. Nah setelah itu saya dikontak buat sign MoU. Itulah yang sebenarnya ga saya mau, takutnya tiba-tiba ga bisa padahal udah deal kan berabe. Kebetulan waktu itu panitia kontak pas saya lagi di jalan dari Bogor ke Bandung, pas terjebak 15 jam gara-gara demo buruh itu. Besoknya saya tanda tanganlah MoU itu, artinya saya kudu dateng entar. Eh tiba-tiba seminggu sebelum acara, saya harus masuk kerja di hari Sabtu. Mulailah hari itu saya cari pengganti, dan dapetlah Van, partner in crime saya soal konser-konseran. Saya dan Van lumayan sering dateng ke konser bareng, bahkan kami rela menembus jarak dan durasi perjalanan demi sebuah gelaran musik. Intinya Van sudah menyelamatkan saya dan Can I Say. Saya ga dituntut secara hukum gara-gara melanggar perjanjian yang ditandatangani diatas materai, sekaligus Can I Say ga tercemar namanya karena menyeleweng dari peliputan. Yaudah intinya itu, Can I Say Magazine untuk pertama kalinya jadi media partner. Hehe. Coba lihat logo di kanan bawah poster ini:

Minggu, 12 Februari 2012

Minggu, 20 November 2011

Dibalik Video Open Mic Kelima

Di IPB ada sebuah jenis perkumpulan baru di bidang jurnalistik, namanya IPB Youth Journalist. Komunitas ini berfokus pada produksi karya jurnalistik berupa film dokumenter dan tulisan. Saya daftar buat jadi salah satu peserta, soalnya mereka nanti bakal dapet pelatihan khusus tentang pembuatan salah satu dari dua jenis karya jurnalistik tadi yang paling kita minati. Saya pilih fokus di pembuatan karya jurnalistik video. 

Saat itu saya sedang berkunjung ke direktorat kemahasiswaan IPB, mau ketemu Bu Mega, ternyata ketemu Kak Cahyo juga, petinggi komunitas diatas. Saya tanya kok pengumuman kelulusan buat training belum keluar? Katanya ternyata sudah keluar, malangnya saya ga lulus, makanya ga dihubungi. Hehe. Disana juga ada Kak Dayat. Kata kak Dayat saya di syarat nomor 1 aja udah ga lulus, saya bukan lagi mahasiswa IPB, udah lulus soalnya. Hehe. Tapi kata Kak Cahyo, besok pas pelatihan saya datang aja kalau mau. Akhirnya besoknya saya ikut pelatihan.

Di hari kedua, saya berhalangan ikut pengambilan gambar, baru bisa datang siang. Saya merasa ilmunya setengah-setengah, jadi saya pinjam lah tripod dari panitia untuk bikin video sendiri tentang Open Mic nanti malamnya. Saya lalu janjian sama narasumber, datang ke lokasi syuting, nonton open mic, malamnya langsung konversi video, paginya ngedit dan publish. hehe. Keikutsertaan saya di komunitas itu memang secara de jure tidak sah, tapi setidaknya melalui karya di bawah saya menunjukkan bahwa saya sangat berminat untuk menuntut ilmu disana.

Dua foto di bawah ini adalah adegan yang menunjukkan proses peletakan posisi kamera yang pas. Selama pengambilan gambar, saya sendiri yang mengoperasikan kamera (Ipunk sebenarnya saya minta menekan tombol record untuk satu sesi pengambilan gambar saat saya ada di luar ruangan).






Selama proses wawancara, ada juga hal lucunya. Contohnya ketika saya mewawancarai Bang Levi dan Bang Rifki, tonton deh. Kocak :D





Akhirnya, setelah video mentah tadi diolah dengan Ulead 11, jadilah video di bawah ini. Sebenarnya di awal saya berniat mengolah gambar dengan Adobe Premier Pro yang dipelajari di pelatihan hari kedua, tapi kok tiba-tiba males ngulik lagi fitur-fiturnya. Haha. Video di bawah ini juga saya tayangkan untuk Can I Say Magazine.


Sabtu, 22 Oktober 2011

Dibalik Layar Wayang Bambu

Video di bawah ini menampilkan sebagian kecil proses pembuatan film dokumenter yang berjudul Wayang Bambu. Saya membuat film itu bersama Aisyah dan Syifa. Untuk departemen musik, kami mohon izin ke Freeplay untuk menggunakan karyanya. Tentu pihak musisi mengizinkan, meski hingga saat ini mereka belum tahu bentuk filmnya seperti apa. Hehe. Film itu bercerita tentang eksistensi seorang seniman asal Bogor yang dikenal dengan wayang berbahan dasar bambu yang ia kreasikan. Popularitas Wayang Bambu mungkin masih belum tinggi di daerah asalnya, tapi tidak demikian di luar Indonesia. Buktinya beberapa turis asing sempat sengaja menyempatkan diri mengunjungi sanggar Gerbang Kreasi, workshop milik Kang Jajat si empunya Wayang Bambu tadi. Keunikan lain dari wayang bambu adalah bahwa sang dalang ternyata adalah mantan drummer di sebuah band Grindcore bernama Biosucker. Bagaimana bisa ia berbelok menjadi dalang? Simak wawancara dengan peraih gelar pemuda pelopor Bogor dua tahun berurutan itu di tautan berikut.

Jumat, 15 April 2011

Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (Bagian 2)

Teman-teman masih ingat cerita tentang seleksi pertukaran pemuda antar negara? Sekarang saya akan menceritakan kelanjutan kisahnya.

Siang di hari kedua belas bulan keempat itu semua peserta seleksi sudah berkumpul di Hotel Bumi Asih Jaya Bandung. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah perkenalan. Kesan pertama tiap kontestan didapat dari sesi acara ini. Di foto terlihat Sugih (selama hari pertama saya mengenal dia dengan nama Teguh. Entah kenapa nama Sugih begitu sulit dihapal) sedang memperkenalkan diri. Pria yang sedang menjalani studi di fakultas olah raga UPI itu terkenal dengan salam pemudanya yang enerjik.

Setelah perkenalan, langsung diadakan tes pertama. Ujian tertulis tentang pengetahuan yang terkait dengan program pertukaran pemuda, negara tujuan, kepemudaan, dan kesundaan. Setelah mengerjakan tes, diadakan berbagai permainan yang dipimpin oleh peserta sendiri. Ada Sugih yang memimpin salam pemuda, Gurit yang mengajarkan tari cupcup, Shinta memoderatori permainan dokter berkata, dll.

Kemudian setelah pikiran kami segar kembali, digelarlah panggung diskusi kelompok yang membahas berbagai topik, dari isu lingkungan hingga tentang lesbian, gay, kaum biseks dan transgender (LGBT). Poin kegiatan ini berlangsung cair, apalagi setelah Aziz mengucap istighfar dengan begitu fasih di tengah pemaparannya.

Setelah berdiskusi, kami rehat sejenak untuk beristirahat dan harus berkumpul lagi untuk mempersiapkan penampilan seni. Ternyata banyak peserta yang telat berkumpul kembali setelah jeda acara. Panitia mengingatkan kami untuk bersikap serius karena nantinya delegasi yang terpilih akan membawa nama baik Indonesia, tidak hanya Jawa Barat. Jika kami telat saat program internasional berjalan, maka nama baik Indonesia-lah yang akan tercoreng. Sebagai hukuman atas kesalahan itu, semua peserta sepakat untuk membuat esai mengenai pentingnya ketepatan waktu. Esai yang saya buat bisa dibaca disini. Setelah kelompok kesenian dibentuk, semua kontestan mempersiapkan diri. Dalam sebuah kesempatan, saya mengikuti latihan kelompok Faisal dkk. saya ikut belajar ngibing. Ternyata menari itu tidak semudah sebagaimana ia terlihat. Ani kerap tersenyum simpul menyaksikan tarian saya yang absurd. :D

Akhirnya, malam kesenian pun tiba. Tiap kelompok menampilkan penampilan khususnya masing-masing. Beberapa penampilan kelompok berhasil saya abadikan dalam bentuk video. Mari simak cuplikannya.

Di hari kedua para kontestan akan disortir berdasarkan nilai yang diperolehnya di hari pertama, kemudian 21 peserta dengan nilai teratas diikutsertakan ke proses seleksi berikutnya. Saya beruntung termasuk ke dalam kelompok 21 itu. Seleksi untuk ke-21 orang peserta itu terdiri dari wawancara personal, penampilan karya seni, wawancara kepemudaan dan wawancara tentang PCMI (Purna Caraka Muda Indonesia). Selama menunggu giliran, peserta seleksi mengisi waktu dengan memainkan berbagai permainan rekreatif. Selain itu, antar peserta pun tidak ragu mengajarkan sebuah karya seni kepada kontestan lainnya. Hal itulah yang memperkuat pernyataan Hasan bahwa suasana kompetisi tidak terasa dalam seleksi itu, karena memang tiap peserta saling berbagi. Testimoni Hasan yang disampaikan saat itu juga benar-benar mewakili apa yang saya rasakan, bahwa tidak menjadi delegasi Jawa Barat untuk program ini bukanlah sebuah kerugian, karena kami telah mengenal banyak teman baru, ilmu baru dan pengalaman baru.

Seleksi pertama yang saya jalani di tahap selanjutnya adalah wawancara. Topik dalam wawancara ini tidak jauh berbeda dengan wawancara yang dilalui di tahap seleksi kedua, namun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih mendalam. Di sesi ini saya sempat bertutur tentang kaitan motto hidup (NADIA) serta band saya (Finding Nadia). Promosi band saya yang lain (Failed Plastic Surgery) pun terselip karena salah satu judul lagunya adalah Gay Anthem, relevan dengan topik LGBT yang pernah dibahas dalam diskusi diatas. Hehe. Setelah melalui wawancara, saya diberi kesempatan menampilkan sajian artistik di hadapan juri yang salah satunya adalah Ibu Indrawati, sang maestro seni tari dari Jawa Barat yang telah menari bahkan sejak era sang putra fajar menjabat sebagai presiden. Dalam ruang audisi bak tahap awal pemilihan Indonesian Idol itu saya mendendangkan lagu Mojang Priangan yang dikawinkan dengan Peuyeum Bandung melalui program Fruity Loops. Selain itu saya juga menyanyikan lagu (yang sepertinya juga layak disebut puisi) Barisan Nisan karya Homicide, kelompok hiphop asal kota kembang yang kini menjadi legenda dan reinkarnasinya sangat ditunggu-tunggu. Saya juga diajak berdiskusi tentang berbagai hal, seperti departemen tempat saya menuntut ilmu di IPB, cita-cita saya membentuk komunitas semacam Jogja Hiphop Foundation, dan lain-lain. Saya juga diminta menari. Tarian yang saya sajikan adalah ngibing, yang baru saja diajarkan Faisal di malam penampilan karya seni kelompok. Di sesi tanya-jawab, saya gagal menyebutkan nama alat musik asal Sumedang yang kini hampir punah, tarawangsa.


Tahap seleksi berikutnya adalah wawancara tentang PCMI. Dalam wawancara ini banyak hal yang dibahas. Saya ditanya tentang apa kontribusi yang akan diberikan untuk PCMI. Saya juga diminta mengajukan usulan program untuk dijalankan di Garut nanti jika saya lolos mengemban tugas di program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Jawaban saya untuk pertanyaan pertama adalah http://www.reverbnation.com/rhezaardiansyah . Di dalam akun itu bisa ditemui lagu Es Pileuleuyan yang saya gunakan di seleksi kedua sebelum tahap karantina ini. Jika Jogja Hiphop Foundation menjaga esensi bahasa jawa dalam musik hiphop, sementara itu Sundanis melestarikan seni sunda juga dalam balutan hiphop, maka saya ingin memperkenalkan melodi-melodi khas sunda dalam balutan musik elektronik, agar sesuai dengan konteks kekinian dan lebih mudah dinikmati generasi teraktual. Berkat program PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) yang diarsiteki PCMI, komposisi tersebut lahir. Maka kontribusi pertama saya untuk pelestarian budaya lokal melalui program yang diadakan PCMI adalah Es Pileuleuyan.



Saya juga mengusulkan kepada PCMI agar menghimbau semua kontestan seleksi ini untuk tetap memberikan kontribusi nyata meski tidak lolos dalam rangkaian seleksi ini. Saya teringat sebuah adegan di film Ruma Maida yang diadaptasi dari peristiwa sejarah. Dalam sebuah skena diperlihatkan tiga tokoh nasional bangsa sedang berdiskusi tentang mana yang harus didahulukan, apakah kemerdekaan ataukah pendidikan. Ketiga tokoh yang dimaksud adalah Soekarno, Hatta dan Syahrir. Hatta dan Syahrir berpendapat bahwa pendidikan perlu didahulukan agar kemerdekaan bisa tercapai dengan lebih baik. Di lain pihak, Bung Karno menganggap kemerdekaan yang harus didahulukan, setelah itu barulah pendidikan, karena kemerdekaan itu ibarat sebuah jembatan. Sementara peningkatan pendidikan terus diupayakan, cita-cita terbesar saat itu juga terus digenjot. Akhirnya Indonesia merdeka meski kualitas pendidikan belum terlalu maksimal. Saya lalu teringat dengan pertanyaan yang diajukan kepada kelompok saya yang membahas pendidikan kesehatan di sesi diskusi kelompok. Pertanyaan itu berisi tentang aspek mana yang harus menjadi prioritas, apakah kualitas kesehatan ataukah kualitas ekonomi, karena kerap pencapaian kualitas kesehatan secara maksimal dihambat oleh keterbatasan kemampuan ekonomi. Jika diberi kesempatan untuk menjawab, maka tanggapan saya terhadap isu itu adalah, tetaplah perjuangkan kualitas kesehatan meski mutu ekonomi belum maksimal. Sehat tidak harus selalu mahal. Merdeka secara de jure saat itu tidak harus menjadikan seluruh komponen bangsa menjadi kaum terdidik.

Salah satu tujuan menjadi duta Jabar untuk program pertukaran pemuda diantaranya adalah memperkenalkan budaya bangsa, mengabdi terhadap bangsa, dll. Jika dikaitkan dengan konteks seleksi program PPAN, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa untuk memperkenalkan budaya bangsa dan memberikan kontribusi terhadap bangsa tidak harus melalui PPAN, meski memang kualitasnya akan berbeda, namun setidaknya tujuan akhirnya tetap tercapai. Kontribusi yang saya ajukan agar dihimbaukan oleh panitia kepada peserta setidaknya adalah menuliskan esai (yang menjadi tugas karena telat) tentang pentingnya tepat waktu di blog pribadi masing-masing peserta, agar pembaca blog itu terinspirasi, kemudian setiap pergerakan yang dihasilkan peserta pasca proses seleksi hendaknya dilaporkan kepada PCMI agar nantinya terukur peningkatan kualitas peserta pasca berbagai tahap penyaringan, dan proses pemilihan ini tidak hanya berhenti pada titel seleksi, tapi sudah menjadi kontribusi.


Terkait usulan program yang saya ajukan jika lolos, saya memberi usulan berupa pemberian modal berupa sarana penunjang pertanian, seperti domba, sapi, dll. Sehingga hasil usahanya nanti bisa dibagi dua. Selain itu usulan saya untuk pengembangan usaha jangka panjang adalah penanaman tanaman hutan yang nantinya bisa dipanen setelah 5-10 tahun masa tanam. Sistem pertanian terpadu yang menjadikan limbah dari satu sektor pertanian menjadi input untuk sektor lain juga turut menjadi saran saya. Masalah timbul jika masyarakat yang kita ampu tidak mau menerapkan metode yang diusulkan. Saya pun ditantang untuk menemukan solusinya. Jawaban untuk problema itu saya sadur dari sebuah episode program Kick Andy. Di suatu episode, Kick Andy menghadirkan tokoh-tokoh yang mengubah kebiasaan warga sebuah desa yang semula memiliki kualitas sanitasi yang buruk karena mereka tidak membuang limbah metabolisme tubuh pada tempat yang tepat. Metode yang diterapkan untuk mengubah kebiasaan buruk itu adalah dengan melibatkan tokoh masyarakat untuk berkunjung ke desa itu, sehingga warga segan untuk berlaku jorok, hingga akhirnya sadar bahwa tindakan mereka salah dan kemudian bisa dirubah. Sementara itu saya pun pernah melaksanakan tugas kuliah kerja profesi di sebuah desa di Kalimantan Selatan. Warga disana kooperatif karena kami (mahasiswa) dianggap tokoh anutan. Selain itu seorang pemuda yang memiliki kebiasaan merokok di desa itu melatarbelakangi alasannya merokok dengan kebiasaan Kyai Guru (tokoh panutan masyarakat) yang juga merokok. Maka penggunaan tokoh masyarakat adalah salah satu solusi keberhasilan sebuah program. Solusi ini juga berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan saat kelompok diskusi saya mempresentasikan hasil diskusi. “Bagaimana cara mendidik generasi muda?” begitu bunyi pertanyaan yang kami terima. Jawabannya adalah dengan menggunakan tokoh idola. Jika tak ada tokoh idola yang layak dijadikan teladan, maka kitalah (generasi muda yang telah pantas menjadi teladan) yang harus menjadi idola.


Poin seleksi terakhir adalah wawancara tentang kepemudaan. Tiga orang pewawancara menyuguhi saya dengan tiga pertanyaan yang berbeda pula. Pertanyaan pertama adalah tentang keikutsertaan Christian Gonzales dalam timnas Indonesia, padahal ia terlihat sebagai “bule”, bukan orang Indonesia asli. Bagaimana saya menjelaskan duduk persoalannya jika rekan saya dari Kanada nanti mengajukan pertanyaan demikian? Saya menyatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang wajar karena Christian Gonzales telah menjadi warga negara Indonesia. Pertanyaan kedua tentang citra Garut yang dikenal sebagai sarang para “jeger”, preman. Jika kita mengunjungi terminal, maka ketua preman di terminal itu biasanya berasal dari Garut. Bagaimana saya menanggapi hal itu? Saya pikir akal dari premanisme adalah ketiadaan pendidikan yang layak serta proses pendidikan yang berjalan tidak sebagaimana mestinya, seperti terjadinya perpeloncoan siswa. Hal yang akan saya lakukan untuk hal tersebut adalah melakukan sosialisasi melalui pendidikan, setidaknya dimulai dari sekolah yang akan saya tempati nanti di Garut jika lolos program yang saya lamar. Jika ada banyak waktu untuk menjelaskan, sebenarnya saya akan merasa lebih lega menganalisis sumber masalah premanisme itu dengan teori motivasi McClelland. McClelland menyatakan bahwa manusia sebenarnya memiliki tiga kategori motif dalam melakukan sesuatu, need for power, need for affiliation dan need for achievement. Keberadaan premanisme adalah cara seorang preman memenuhi ketiga kebutuhan itu, namun pelaksanaanya merugikan orang lain, inilah poin yang harus dikoreksi, melalui pendidikan diantaranya. Pertanyaan terakhir di sesi ini lebih menantang. Bagaimana jika rekan kita yang berasal dari Kanada itu ternyata seorang atheis? Menurutnya agama hanyalah budaya. Jika kita dilahirkan di sebuah keluarga budist misalnya, maka jadilah kita penganut agama buddha, karenanya agama layak disebut budaya. Selain itu kita tidak perlu agama untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Saya menyatakan menghormati pernyataan itu, saya menghormati pendapatnya. Saya secara pribadi tentu tidak setuju dengan pernyataan itu. Agama hadir dengan aturan-aturan yang diturunkan Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia. Penolakan terhadap agama biasanya dikaitkan dengan peniadaan Tuhan, meski ada yang percaya Tuhan namun tidak memeluk satu agama tertentu (gnostik). Saya tentu tidak bisa memaksakan pendapat seorang atheis untuk mempercayai adanya Tuhan. Silahkan saja dia berpendapat demikian, saya pribadi tetap percaya bahwa Tuhan itu ada, karena saya mengalami sendiri kehadiran-Nya. Suatu hari saya menginginkan sesuatu, lalu saya memohon kepada Tuhan untuk memiliki hal yang saya inginkan itu, lalu dengan instan saya bisa mendapatkannya. Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi jika saya tadi tidak berdoa. Maka saya percaya bahwa Sang Pengatur itu benar-benar ada. Satu lagi bukti yang saya miliki tentang eksistensi Tuhan. Suatu hari saya menghadiri pertunjukan sebuah band rock yang identik dengan sekularitas. Sang vokalis berkelakar bahwa tak ada hubungan antara moral dan terjadinya bencana. Semula saya menerima pendapat itu, cukup logis saya pikir. Tapi kemudian saya berpikir bahwa penolakan relasi itu berarti penolakan terhadap eksistensi Tuhan. Saya pun pernah melalukan sebuah kesalahan di suatu hari. Di hari itu pula, saya mendapat sebuah musibah. Jika dikaitkan dengan kesalahan yang saya lakukan sebelumnya, maka jelas ada hubungan antara moral (perbuatan yang disebut dosa) dengan eksistensi bencana. Meski demikian selalu ada banyak paradigma untuk menelisik sebuah fenomena. Sebuah momen tidak menyenangkan bisa disebut bencana atau cobaan, tergantung pilihan kita dalam meyakinkan diri sendiri. Meski saya tetap percaya bahwa Tuhan itu ada, dan dia tetap mengingkari keberadaan Sang Mahasegalanya, hendaknya bukan perbedaan itu yang terus ditonjolkan. Berfokus pada persamaan paradigma menuju tujuan yang sama adalah pilihan terbaik yang hendaknya dipilih.


Usai rangkaian wawancara itu, seluruh peserta mempersiapkan penampilan terbaik kami sebagai satu tim tunggal partisipan seleksi pertukaran pemuda antar negara. Sajian seni yang kami tampilkan adalah penampilan tari berlatar lagu I Got A Feeling-nya Black Eyed Peas dan tentu saja Jai Ho yang populer di malam sebelumnya karena tariannya dibawakan dengan begitu piawai oleh skuad penari pimpinan Haryadi. Hujaman apresiasi dan pujian seakan tak berhenti mengalir dari panitia. Tak kalah dengan juniornya, para alumni program pertukaran pemuda itu juga menampilkan tarian yang berasal dari Hokaido. Malam terakhir proses seleksi itu berlanjut ke acara swadaya yang digagas peserta berupa karaoke. Sebelumnya dilakukan permainan Bibo untuk menentukan siapa yang harus tampil. Saya lalu terpilih sebagai salah satu dari tiga penampil. Ismail tampil pertama, membawakan lagu yang entah siapa penyanyi aslinya. Kejutan, saya lalu dirasuki spirit Fred Durst Limp Bizkit dan menyanyikan Breakstuff. Meski akhirnya dipotong sebelum lagu itu usai, ada kepuasan tersendiri selama membawakan lagu itu. Selama acara karaoke itu, saya selalu menari ngibing. Ngibing sepertinya akan menjadi kegemaran saya selanjutnya. Apapun jenis musiknya, asalkan moshpit kondusif ngibing pasti nikmat menjadi pelengkap semua sajian melodik.

Pagi hari di hari terakhir seleksi, Kokok yang tidur di kamar hotel yang sama dengan saya tidak bangun sepagi hari yang lalu. Rupanya semalam ia bercengkrama bersama rekan-rekan peserta lain hingga larut. Menyenangkan katanya, sayang saya melewatkannya. Setelah mempersiapkan diri, semua peserta bergegas menghadiri upacara penutupan sekaligus pengumuman peserta yang berhasil mewakili Jabar untuk tiga program pertukaran pemuda. Dalam pidatonya yang berdurasi 30 menit (saya merekamnya.hehe), Pak Ketut selaku ketua Disorda Jabar juga mengumumkan bahwa ketiga peserta yang lolos itu adalah Anggoro, Bugi dan Dewi. Anggoro mendapat kesempatan mengabdi di Garut dan Kanada, Bugi berkesempatan berlayar diatas kapal Fuji Maru menuju Jepang bersama delegasi negara lain selama 50an hari, sementara Dewi menjadi wakil pemuda Jawa Barat untuk bertandang ke Malaysia dalam misi pertukaran pelajar ini. Pasca pengumuman, tak ada yang menekuk wajah, semua peserta larut dalam euforia komunal. Kemenangan tiga orang itu seakan kemenangan peserta lain juga. Usai saling mengucap selamat, berfoto bersama dan bertukar foto, kami berpisah. Kebersamaan selama tiga hari rasanya seperti setara dengan kebersamaan tiga tahun. Well, agak hiperbolik memang, tapi setidaknya demikianlah gambaran kedekatan kami para peserta dan panitia PPAN. Semoga kami berkumpul lagi di kesempatan lain. Susuuuuuuuu!!!!!!*

*Susu adalah yel penyemangat sekaligus pemersatu kami. Susu (diucapkan sambil mencondongkan bibir dan merapatkan rahang atas dan bawah) berarti semangat dalam bahasa Thailand. Susu!