Tampilkan postingan dengan label 360. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 360. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

Merayakan Persaudaraan Ambon di Rumah Kopi Sibu-Sibu


Ini malam minggu. Malam terakhir saya berada di pulau ambon. Banyak orang bilang, ketika berada di sini, saya wajib mampir ke Walang Kopi Sibu-Sibu. Baru malam inilah, saran itu saya tunaikan.

Sebuah ruang terbuka seluas sekitar 10 x 15 meter persegi saya masuki. Padat sekali. Celah antar meja sempit. Pantas saja kedai ini bernama walang kopi. Walang dalam bahasa setempat berarti rumah kecil. Di sana, rupanya yang hadir tak hanya orang maluku. Beberapa wajah eropa tak sedikit juga terlihat. Sebuah meja kecil berkursi dua saya tuju dan duduki. Tak ada yang menghampiri, kasir pun saya datangi. Seorang perempuan meminta saya duduk dan membawa daftar menu. Saya turuti seraya memilih makanan dan minuman di kursi tadi. Angin yang bertiup dari kipas, bertubi-tubi menimpa dari atas. Ini baru sibu-sibu, sepoi-sepoi.
PAndangan saya melingkar. Dari sisi kiri, bagian depan, ke dinding kanan. Ketiga muka di dalam kedai penuh dengan bingkai. Di dalamnya sejumlah wajah memamerkan senyum. Dari penyanyi BelAnda Monica Akihary (saya menoton konsernya di Bogor 6 tahun lalu), Sharita Sopacua si Miss Netherland Universe 2005 (senyum simetrisnya tak bosan saya pelototi), pemusik di grup Vengaboys: Donny Latupeirissa (saya baru tahu ada personilnya yang orang ambon), hingga nama-nama yang saya yakin Anda sudah sering dengar, macam Daniel Sahuleka, Jopie Lattul, Broery Pesolima, Bob Tutupoli, Ronny Patinasarani, Ray Sahetapy. Nama-nama tersebut, saya comot secara acak sekadar sebagai contoh. Menyaksikan wajah dan nama-nama itu, kesan saya tentang orang ambon semakin kuat: dorang memang basudara (mereka betul-betul bersaudara).

Perhatian saya kemudian tertuju ke kerumunan yang semakin menyemut di hadapan meja. Nyanyian yang beriring organ tunggal semakin lantang didendangkan. Mulanya tiga orang, lalu bertambah satu. Seorang lain menghampiri. Makin ramailah suasana malam itu. Bahkan tak hanya dari pojong ruangan yang disulap jadi panggung kecil itu, tapi juga dari seberangnya. Ajaibnya, pengunjung berperawakan orang eropa pun turut menyanyikan lagu khas ambon itu.

Gandong, demikian si lagu bernama. Liriknya berisi pesan persaudaraan. Gandong berarti saudara. Kedekatan atas asal usul ikatan darah. Orang ambon sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat mereka. Bahkan struktur pemerintahan setara desa, terorganisasi dalam suatu susunan bernama negeri, yang dipimpin seorang Bapa Raja. Selain adat dalam tata masyarakat, aturan bertingkah laku juga dijaga dengan baik oleh para nyong ambon. Rumpun masyarakat yang terikat dalam satu gandong, tidak bisa menyatukan diri. Ibaratnya, dua negeri memiliki pela gandong masing-masing, artinya saling bersaudara. Contoh, Batumerah yang berpela gandong dengan Passo. Saking rekatnya, penduduk dari kedua negeri tersebut tidak bisa menikah, karena dianggap satu saudara. Pela gandong, di sisi lain juga membuat suasana panas di ambon dan maluku, kian menghangat. Kala mengingat pela gandong, kedua negeri yang mayoritas warganya saling berlainan agama, menjadi rukun. Semangat kerukunan dan persaudaraan itulah, yang saya saksikan dalam lagu gandong.

Usai gandong tandas dinyanyikan, seorang pengunjung lain bergantian jadi juru vokal. Ia menyanyikan lagu Piring Tatoki. Judul itu bermakna piring yang saling berdenting. Itu makna kiasan untuk sebuah konflik antar dua kelompok. Bila kedua bersaudara bertengkar, itu bagaikan piring yang saling menyinggung. Lagi-lagi, udara di dalam sibu-sibu dipadati semangat persaudaraan dari lagu-lagu tadi. Bahkan kini lebih meriah. Seorang pengunjung bule menari dipandu penyanyi kedai. Keluarga atau mungkin kawan-kawannya teriak menyemangati. Meriah sekali. "Mantaaaap!" seseorang di samping saya berseru. Seorang kulit putih, lirih saya menyadari. Saya takjub dengan pelafalannya yang fasih. Tapi saya tidak heran, karena memang tak sedikit orang ambon yang juga tinggal dan meneruskan jalan hidup di daratan eropa sana, di negeri kincir angin Belnda.


Pikiran saya melayang hingga tahun 1500an, ketika pengelana dari eropa pertama kali tiba di kepulauan Maluku. Mereka kemudian sempat menduduki nusantara dengan misi kolonialisasi. Singkat cerita, Indonesia kemudian merdeka. Sang republik yang masih muda, dilanda berbagai eksperimentasi bentuk pemerintahan, misalnya berupa Republik Indonesia Serikat, negara besar yang terbentuk dari negara-negara bagian, salah satunya, Republik Maluku Selatan (RMS). Setelah bentuk tersebut akhirnya mewujud menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, RMS menjadi gerakan pemberontakan. Setelah ditumpas pada tahun 1952, beberapa punggawa gerakan separatis itu hijrah ke Belanda, negara yang disebut-sebut mensponsori RMS untuk kepentingan penguasaan. Di antara mereka kemudian beranak-pinak di sana, seraya tak lupa bahwa dari kepulauan rempah inilah mereka berasal. Terlebih ada tradisi natal sedunia. Ya, natal memang sedunia tiap tanggal 25 Desember. Tapi bagi orang-orang dari negeri adat di pulau ambon, natal sedunia ini berarti bahwa semua perantau di seluruh dunia yang berasal dari suatu desa adat, bisa pulang ke tempat asal. Pesta jogetnya bisa berhari-hari. Duduk tepat seminggu sebelum natal, saya makin tak heran dengan kehadiran para perantau jauh ini.

Yang namanya kedai kopi, tentu jualan utamanya sang cairan pusaka itu. Ada banyak macam kopi yang ditulis dalam daftar menu. Saya pilih kopi rarobang. Kata rarobang yang disandang kopi itu, bermakna filtrat, atau zat (dalam hal ini cairan) yang tidak mengendap. Kata seorang pramusaji, itu kopi khas sibu-sibu. Tak ada di tempat lain. Kopi rarobang yang saya pesan dicampuri jahe, susu dan taburan rempah. Saya jadi ingat komentar seorang kawan: Beng Rahadian, komikus plus penggila kopi itu. Katanya kopi yang dicampur susu maupun krimer tidak jelas jenis kelaminnya. Kalau ditambahkan dua hal lumrah itu saja dia sudah bilang kopi menjadi androgini, apalagi ditambah banyak campuran ini. Haha. Tapi tak mengapa, justru di campuran itulah uniknya kopi di pulau ambon. Bayangkan, rasa dominan di lidah justru sensasi hangatnya di tenggorokan, yang bukan dihasilkan kopi. Lalu rasakan taburan buah palanya itu. Kalau pernah menikmati guraka di maluku utara, sensasi rasa Anda akan terlempar ke sana. Guraka sebenarnya sari jahe, tanpa kopi. Tapi memang beberapa orang sebut itu "kopi guraka". Ia nikmat disesap dengan diselingi pisang yang digoreng tipis lalu diolesi sambal dabu-dabu, sambal yang didominasi irisan cabe segar. Menu terakhir itu tak ada di kedai sibu-sibu. Sebenarnya ada pilihan menu kue-kue berbahan dasar sagu, tapi saya memesan roti yang dilapisi telur dadar sebagai pendamping kopi tadi.

Tiba-tiba ada teriakan dari arah jalan. Suara anak kecil riuh memekik. Semua orang menengok ke sumber suara. Rupanya sebuah mobil angkot dipenuhi anak-anak. Beberapa pengunjung menghambur ke jalan lalu berhenti di pintu angkot. Mereka membalas lambaian tangan anak-anak dari dalam angkot itu, seraya membalas senyum puas dari dalam sana. Anak-anak yang sebagian berkulit putih itu begitu riang melepas tawa. Si mobil sampai bergoyang-goyang naik turun. Tak lama kemudian para tetuanya turut masuk dan bergabung. Si angkot pun melenggang, dengan posisi melonjak-lonjaknya bak melaju di atas kasur. Melihat saya mengarahkan kamera video, seorang bule melambai dengan sunggingan senyum lebar.

Selepas mobil angkot ria itu melintas, beberapa kursi di dalam kedai tak lagi diduduki. "Bale bantal, bale bantal!" seseorang berteriak dari belakang saya. Satu persatu pernyanyi berganti. Sebelum Kedai Sibu-Sibu tutup pada jam 22.30, saya bayar semua pesanan malam itu. Ada lembar uang tambahan yang saya keluarkan. Itu ongkos untuk memiliki sekeping cakram padat album jazz instrumental gubahan Nicky Manuputty and The Dodz. Deretan lagu dominan saxofon itu pasti akan selalu mengingatkan ke tanah Ambon, ketika saya tak lagi di sana. []
 

Mengenal Pulau Moa dari Pantai Namalatu

Pantai Namalatu di Pulau Ambon mempertemukan saya dengan dua orang anak. Dari keduanya, terungkap kisah tentang sebuah pulau paling terpencil di Maluku.

Laguna, matahari tenggelam, debur ombak, ikan hias bergaris kuning. Itulah yang saya dapat dari Pantai Namalatu pada suatu hari. Tempat wisata itu sebenarnya tidak menyediakan fasilitas yang sempurna. Gerbang masuk ala kadarnya, dengan pos satpam yang dicat lusuh di sana-sini temboknya. Begitu masuk, seorang petugas tak berseragam menagih tiket. Cukup empat ribu rupiah per orang, tanpa bukti pembayaran. Mobil terparkir, pandangan menyeluruh ke kawasan pantai di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon itu pun terlihat. Sekelompok remaja menyanyi beriring gitar di tempat duduk berbahan beton yang bopeng. Tak jauh dari tempat mereka ada, toilet dan ruang ganti terlihat tak terawat. Meski hanya beberapa yang berfungsi karena pintunya rusak, dua fasilitas tadi tetap terkesan bersih. Saya dan tiga teman lainnya kemudian memilih satu tempat duduk terbaik: meja yang betonnya utuh meski ada bekas tumpahan sesuatu. Kursi beton yang menghadap ke lautan masih berbentuk meski tak berwarna lagi. Kursi beton lain yang ada di hadapannya, tergolek tak bisa dibuat berdiri. Matahari masih terik, kami menunggu setengah jam hingga ia benar-benar condong dari barat. Setelah wudu di laut dan solat di sebuah restoran yang tidak beroperasi (tidak ada musola di sana), saya baru kemudian turun ke laguna dengan kostum renang.
Laguna atau bagian pantai yang ombaknya dibendung di bagian muka adalah jantung tempat wisata ini. Banyak wisatawan bermain ombak kecil di satu bagian bibir pantai. Beberapa wisatawan asing memilih berjemur di dekat situ. Hal pertama yang menarik saya begitu seluruh tubuh basah, adalah tembok penahan ombak di muka si pantai. Banyak remaja Ambon memilih tempat itu sebagai pijakan sebelum melompat ke bagian laguna yang lebih dalam. Saya terpancing menuju mereka dan menirunya. Haha. Semua terjadi begitu spontan ketika akhirnya saya menghempaskan diri dari tembok setinggi dua meter dari permukaan air itu. Begitu melompat dari atasnya, sadarlah saya bahwa kedalaman air tidak begitu menenggelamkan. Saya masih bisa jinjit di bagian yang jadi landasan itu. Pada kesempatan berikutnya saya tak berani mengulang yang tadi. Haha. Di antara sejumlah anak berperawakan khas orang Maluku itu, ada dua orang anak bernama Ens dan Ona. Kami baru menyebut nama di akhir pertemuan, setelah selama pelesiran itu menikmati Namalatu bersama-sama.

Ens dan Ona adalah dua orang saudara. Mereka berdua berasal dari Pulau Moa, pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya. Ia lebih dekat dengan pulau Timor. Butuh waktu berhari-hari dengan kapal laut untuk menuju Pulau Ambon ini dari sana. Di Pualu Moa masih ada hutan lebat. Ens yang berusia sekitar 8 tahun mengisahkannya kepada saya. Dia bilang, ayahnya bos perusahaan kayu, ibunya bos perusahaan kutek. Awalnya saya pikir dia anak polisi. Soalnya ketika bilang bahwa saya wartawan, dia tanya bagaimana cara melamar kerja menjadi wartawan. Ketika saya bilang dengan menyerahkan ijazah, dia malah cerita bahwa untuk jadi polisi harus pakai surat pemeriksaan. Bagaimana bisa seorang anak tukang kayu mengenal kata “surat pemeriksaan” di usianya yang begitu hijau.

Ens sebenarnya nama panggilan. Pun begitu dengan Ona kakaknya. Saya lupa nama panjang kedua anak itu. Tapi itu membuktikan sebuah fenomena: orang Maluku tidak suka orang memanggil mereka dengan nama depan yang lengkap. Itu terkesan tidak sopan. Hehe. Aneh juga. Makanya mereka menggunakan nama panggilan yang dikutip dari nama panjang. Ens adalah singkatan dari tiga nama depan si anak lelaki itu. Nama Ona pun demikian. Tapi saya ingat nama depan Ona: Linda.  

Pulau Moa yang mereka tinggali, masih dikenal kental dengan ilmu hitam. Itu kata pengemudi yang mobilnya kami sewa selama berada di Ambon. Daerahnya yang masih memiliki hutan lebat dilengkapi dengan karakter lanskap lain berupa daerah tandus berkarang. Ada juga sebuah bukit bernama gunung kerbau. Disebut demikian karena memang banyak kerbau liar di sana. Beberapa kerbau besar itu dibawa dari Moa dengan ongkos pembelian 3 juta rupiah. Mereka lalu dijual di Tana Toraja Sulawesi Selatan dengan harga yang berkali lipat untuk keperluan adat, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Ternyata, kurang dari satu bulan, kerbau-kerbau itu mati karena habitat yang mereka tempati tidak cocok dengan daerah asalnya. Selain kerbau, yang juga bisa dijual dari Pulau Moa adalah kayu besi atau kayu ulin. Ternyata kayu yang terkenal kokoh itu tak hanya ada di Kalimantan. Per kubik kayu bahan kusen itu, di Ambon bisa dibanderol dengan harga mencapai 7 juta rupiah. Di sebuah situs penjual kayu, saya lihat harganya bisa jadi 10 juta rupiah per kubik.

Ens dan Ona tidak canggung ketika bertemu orang asing macam saya. Mereka mengajak kami menikmati Pantai Namalatu dengan berbagai cara. Dari membiarkan diri ditabrak deburan ombak yang dipecah tembok penahan, hingga berenang gaya punggung membentuk garis yang memotong laguna. Suasana cair serupa ditunjukan pula oleh anak-anak Maluku lain yang saya aja berinteraksi. Bahkan di akhir aktivitas kami, saya dilempari pasir oleh mereka yang entah siapa. Perang pasir putih halus pun tak terhindarkan. Meski tak silih mengenal, kami berkomunikasi dengan satu bahasa yang sama: bahasa tawa. []






Rabu, 02 Desember 2015

Romer di Malam Hari

Lebih baik tersesat daripada nanya. Semboyan dari sebuah iklan itu saya terapkan ketika sendirian jalan-jalan ke Romerberg di kota Frankfurt Jerman Oktober lalu. Romer adalah kawasan pusat kota perbankan Jerman itu. Di sana banyak tempat menarik yang jadi simbol Frankfurt. Seusai meliput Festival Buku Frankfurt (FBF), saya naik kereta menuju ke sana.

Sistem kereta bawah tanah di Jerman ada dua jenis: S Bahn dan U Bahn. Perbedaan keduanya sepengamatan saya, ada di jalur yang dilalui kereta itu di bawah tanah. Jadi lokasi jalur di bawah tanahnya beda tingkat. Nah untuk ke Romer dari Fest Halle, tempat  FBF dihelat, ada pergantian jenis kereta. Sedikit membingungkan sih, terutama nyari stasium Romer yang ternyata di peta tertulis Dom/ Romer. Lalu ketika menaiki kereta yang tampak fotonya di atas itu, saya ditolong seorang ibu untuk memencet tombol yang ngebukain pintu buat saya keluar. Kirain pintunya kebuka sendiri. Hehehe
Begitu keluar halte, saya langsung muncul dari bagian samping sebuah gereja katedral besar. Baru kemudian saya tahu bahwa kata dom yang ada di nama stasiun maksudnya gereja ini. Dom itu bahasa jerman dari gereja katedral, nama gerejanya St. Bartholomaus. Jadi ternyata setelah saya baca-baca, dom tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi museum. Yang dipamerkan di dalamnya adalah temuan seputar gedung yang berdiri sejak tahun 1356 itu, abad ke-14, alias 700an tahun lalu. Ckckck

Ini balai kota Frankfurt. Dulunya sampai tahun 1405, gedung ini fungsinya sebagai vila. Hingga saat ini, tempat itu jadi kantor wali kota. Ada suara merdu yang muncul dari sana, lalu saya hampiri.
Bagian dalam balai kota yang diramaikan penampilan sebuah kelompok musik. Lagu yang mereka mainkan seperti lagu-lagunya Pure Saturday
Tempat ini namanya Kunstverein, galeri yang selalu memamerkan karya seni kontemporer. Kontemporer itu maksudnya terbaru, lebih modern dari modern. Just in case kamu belum tahu. Hehe. Nah yang menghiasi pintu masuknya itu adalah karya instalasi buatan Joko Avianto. Di dalamnya juga ada sejumlah karya seni buatan artis dari Indonesia
Malam itu hujan gerimis. Kalau cerah, bakal ada tukang nasi goreng lengkap dengan gerobaknya yang khas Indonesia. Di kesempatan lain kunjungan ke Romer, saya menjumpai gerobak itu tapi nggak beli. Hehe

Berkalang gedung lain di kompleks Romer, tampak air mancur keadilan alias Fountain of Justice. Patung berbahan perunggu itu dibuat tahun 1887. Di depannya suka ada pengamen yang memainkan musik klasik atau pop akustik dengan syahdu.
Sebuah patung di pinggiran jalan menuju Romer
Sebuah foto ketika tempok berlin runtuh dipajang di jendela pertokoan
Ini bawaan saya malam itu. Kamera, tripod, koper berisi laptop dan kelengkapan liputan lain. Ribet dan berat memang.
Jalan utama yang terintegrasi dengan jalur tram begitu keluar dari gang menuju Dom. Malam itu sekitar jam 8 udah sepi. Saya sempat hampir tersesat karena keluar dari pintu yang salah. Tujuan utama saya malam itu sebenarnya ingin lihat instalasinya Joko Avianto tadi. Katanya begitu keluar langsung kelihatan, eh kok ini malah ke jalan antah-berantah. Hehe

Mural mewarnai dinding menuju pintu masuk kereta bawah tanah

Suasana sepi di stasiun kereta bawah tanah

Dua orang berpacaran di stasiun. Orang Jerman cuek dengan aktivitas seperti itu. Mereka maklum jika ada sepasangan yang saling peluk atau cium, bahkan yang lagi nyuntik narkoba pun dibiarin. Iya, saya lihat sendiri itu. Gak berani foto lah tar saya ditusuk sama jarumnya itu. Hehe
Begitu jalan ke hotel, saya mampir ke sebuah tempat makan dengan menu utama ikan-ikanan. Saya beli ikan salmon dan besar sekali ikannya tapi enak. Penjualnya muslim dari timur tengah dan ketika tahu saya dari Indonesia, mereka kasih roti gratis. Hehe. Nah ini foto diambil saat saya nunggu makanan pesanan selesai dibuat. Seorang pengunjung makan ikan di samping akuarium berikan dan di depannya sebelah kiri (alias di belakang saya bagian atas) ada sebuah TV yang menayangkan ikan-ikan hias yang berenang bebas. Total sekali restoran ini menghadirkan segala hal tentang ikan.

Minggu, 22 November 2015

Melepas Orang Utan

Awal November lalu, saya meliput tiga kisah di Palangkaraya tentang musibah kabut asap dan kebakaran lahan. Salah satu cerita yang saya himpun adalah tentang penderitaan orang utan ketika bencana asap menyerang. Dari menyelematkan satu individu bayi orang utan dari seorang warga, hingga turut melepas orang utan ke alam liar, saya ikuti. Berikut ini dua video yang berkisah tentang itu. Yang pertama, video stop motion yang saya buat kala ikut melepas tiga orang utan di taman nasional sebangau. Video kedua adalah tayangan yang ditampilkan dalam program 360 Metro TV.





Orang Desa Memandang Hidupnya

Mang Ipin sedang membetulkan jalan untuk lintasan pengojek
Tiga hari terakhir saya meliput kisah tentang Mang Ipin. Nama aslinya Pipin Suryana. Ia menerima hadiah kalpataru pada 2014 lalu. Itu penghargaan prestisius. Kalpataru diberikan kepada mereka yang berjasa terhadap lingkungan hidup. Jasa terhadap lingkungan itulah yang jadi kisah utama peliputan saya tentang Mang Ipin. Kakek dua cucu itu sempat menolak menerima penghargaan tadi karena dirinya merasa tidak layak. Saya kemudian menyelami alam pikirannya lebih dalam.

Pagi itu saya tiba di kampung Pasir Sereh Desa Sirnajaya Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Kala mobil berhenti di depan rumah yang terletak di pinggir jalan menanjak, seseorang memberi tanda dari bagian atas jalan. Ternyata Mang Ipin sudah di sana, di sebuah rangkaian pipa yang mengalirkan air ke berbagai ujung selang. Katanya ia sedang mengatur agar volume air yang tiba di musola dan rumah warga seimbang. Kesan pertama itu membersitkan sebuah simpulan di benak saya: Mang Ipin sangat penderma.

Obrolan kami berlanjut di sepanjang jalan menuju kebun yang ia kelola. Lebih dari tiga kilometer jalan berbatu yang dilapisi aspal tipis kami lalui. Di beberapa bagian jalan, Mang Ipin menunjukkan sejumlah pepohonan. Dari pohon bambu, pohon alpukat, pohon nangka, hingga pohon berkayu lain macam suren dan kibadak. Pohon-pohon itu, sengaja di ditanam Mang Ipin. Entah di lahan milik siapa. 

Bunga teratai mekar di sebuah kolam kecil di depan rumah Mang Ipin
Ternyata, yang memotivasi Mang Ipin melakukan itu adalah nasihat sang ibu. Kala ia masih belia, Mang Ipin ditunjukkan kepada peristiwa longsor di daerah dekat tempat ia tinggal. Sang ibu mengajarkan bahwa bencana itu terjadi akibat penggundulan hutan. Tak ingin kejadian serupa terulang, Mang Ipin kecil mulai rajin menanam pohon. Awalnya sembunyi-sembunyi, karena seperti yang ia lakukan hingga berusia kepala 5, pohon yang ia tanam berdiri di lahan yang entah milik siapa. "Yang pasti milik perhutani," katanya yakin. Dulu ia merasa takut karena khawatir petugas dari BUMN itu menilai yang dilakukannya salah. Ternyata toh aksi Mang Ipin berbuah manfaat. Maka berlanjutlah penanaman "membabi buta" itu hingga kini. Alhasil, kaki gunung papandayan yang semula jarang berpohon kayu, kini kaya dengan naungan pohon besar. Modal persemaian bibit tanaman itu, ia sisihkan dari hasil pekerjaannya sebagai pengangkut komoditas pertanian. 


Bosco berjalan di pematang situ Ciseupan. Situ ini sempat berubah fungsi menjadi lapangan karena kekeringan. Mang Ipin menginisiasi penggaliannya kembali sehingga danau itu berfungsi normal
Mang Ipin mengajak saya ke sebuah lahan. Pohon kibadak tumbuh subur hingga berdiameter batang sekitar sedepa. Di bawahnya, dedaunan yang melapuk basah menjadi lapisan tanah. Itulah yang sebenarnya diinginkan Mang Ipin dengan menanam pohon kibadak, 42 tahun lalu, kala ia berumur 12. Serasah atau lapisan atas lantai hutan itu nantinya akan menjadi penampung air dari mata air di atas gunung. Ketika musim hujan, mereka akan menahan aliran air hingga mencegah banjir. Kala kemarau tiba, kelembaban tanahnya akan menghindarkan kebakaran lahan.

Seorang pengojek dengan beban komoditas pertanian berberat hingga 2,5 kwintal melintasi jalan di bukit dekat gunung Papandayan
Aksi Mang Ipin dituruti generasi muda Desa Sirnajaya. Bahkan para pemuda meneruskan aktivitas Mang Ipin di bawah bendera komunitas rawayan. Rawayan artinya jembatan, sehingga dengan bernama demikian, komunitas ini menjadi jembatan bagi hal-hal positif yang bisa dilakukan pemuda Sirnajaya. Demikian Iman Suryana menuturkan. Sejak pertama kali didirikan pada 2007, putra kedua Mang Ipin itu menjadi komandan Komunitas Rawayan. Cita-citanya, ingin menjadikan pemuda Sirnajaya berdaya di daerah asalnya. Keinginan itu seiring dengan angan Mang Ipin.


Kolam penampung air yang menghadap Gunung Cikurai di kejauhan
Iman adalah satu di antara tiga pemuda Desa Sirnajaya yang lulusan SMA. Sisanya mengenyam pendidikan terakhir di tingkat SMP atau di bawahnya. Mang Ipin sendiri lulusan S3 dari Unpad alias lulus setelah SD kelas 3 di Universitas Papandayan. Hehe. Universitas Papandayan tentu tak pernah ada. Yang dimaksud Mang Ipin adalah, ia belajar dari alam gunung papandayan yang dekat dengan rumahnya. Ia mengaku dari dan di sanalah dirinya menuai dan menabur manfaat. Lalu akan sampai kapan keterbatasan pendidikan itu terjadi di Sirnajaya? Iman mengaku, kini keadaan berangsur lebih baik. Sudah ada anak Sirnajaya yang mengenyam bangku kuliah, seiring dengan tersedianya jalan. Iman tetap memandang bahwa warga Sirnajaya, harus bisa memanfaatkan potensi wilayahnya. "Tak perlu pergi ke kota karena kalau pergi ke kota itu budaya ikut-ikutan," katanya meyakinkan. []

Saung Mang Ipin
Benih tumbuhan di kebun yang dikelola Mang Ipin
Seorang anak menanam pohon suren
Anak-anak berenang di situ ciseupan
Bagian lain situ ciseupan menjadi arena bermain anak-anak
Wisnu mengambil video Gunung Cikuray

Jumat, 20 November 2015

Andai Rombongan Presiden Menghentikan Perjalanan

Ini foto tim serbu api saat berusaha menyampaikan solusi ke presiden tentang penjagaan lahan & pemadaman api di lahan gambut. Saksikan kisah mereka nanti malam jam 21.05 di program 360 metro tv

Rangkuman kisah menyebalkan tentang mengapa dua wartawan tidak saling berkomunikasi untuk mengantarkan presiden kepada relawan yang dicarinya. Sementara para relawan juga ingin bertemu presiden mereka

Sisi Relawan
Sirine meraung sedari jauh. Deretan kendaraan mengular beriringan. Hari itu, presiden berkunjung ke Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Di kilometer tiga puluh, sekelompok orang berkerumun di tepian jalan. "Kalau pak presiden mampir kesini kira2 bakal seperti apa situasinya?" Saya bertanya. "Kalau beliau masuk sini ya mungkin pemikiran beliau akan berbeda, instruksinya juga lebih ke sifatnya yang merakyat dan melibatkan banyak pihak untuk bisa terlibat. Karena kalau dia kanal, masyarakat kan nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi kalau kegiatan sumur bor masyarakat kecil pun yang memiliki lahan kecil juga bisa menjaga lahannya supaya tidak terbakar." Januminro Busal menjelaskan panjang lebar.

Pria yang biasa dpanggil Janu itu adalah pemilih puluhan lahan di Kabupaten Pulang Pisau. Sementara lahan dan hutan di sekitarnya terbakar, wilayah milik Janu tetap sehat. Contohnya area yang ada di kilometer 30 tadi. Bahkan Janu punya istilah sendiri untuk kawasannya yang satu itu: jumpun pambelom, yang artinya hutan sumber kehidupan. Di jumpun pambelom, kehidupan asli hutan sekunder memang terjaga lestari. Berbagai jenis tanaman tetap tumbuh. Dari pasak bumi hingga pohon ulin. Jumpun pambelom juga menjadi area pelarian orangutan setelah mereka terpojok karena habitat aslinya terbakar atau dibakar. Di sebuah bagian hutan, terlihat jelas batas dampak yang timbul akibat bencana kebakaran lahan. Satu sisi, tumbuhannya berwarna coklat bercampur jelaga hitam, sementara di sisi lain, hijau pepohonan masih bertahan. Apa rahasianya? Rupanya ia sumur bor.

Sumur bor yang dikembangkan Janu, berfungsi sebagai hidran hutan. Terhubung ke permukaan dengan sebuah pipa, air dari kedalaman 20an meter selalu siap untuk dimuntahkan. Zat pembasah itu nantinya bisa dipakai untuk menyemprot langsung kobaran api, atau pun membasahi parit alias kanal pemutus rambatan api. Pembuatan sumur bor dilakukan oleh para relawan. Meski diinisiasi oleh warga setempat, relawan yang kemudian bernama tim serbu api itu berasal dari berbagai daerah. Saya menemui seorang yang berasal dari Banjarmasin. Kala itu ia sedang membangun sumur bor bersama relawan dari Bandung. Kali lain saya mewawancarai relawan lain dari Bogor. Kisah tentang mereka memang dramatik dan heroik. Daurie Bintang, relawan yang jadi narasumber saya, berkisah panjang lebar tentang betapa ia dan sejawatnya musti melawan banyak hal: panasnya kobaran api, serangga penggangu, hingga laku picik pembakar lahan. Atas kerja bersama itulah, 72 sumur bor telah dibangun untuk melindungi 2000 hektar lahan. Janu dan Daurie kemudian hakul yakin, jika TNI dan aparat pemerintah lain dilibatkan, akan ada lebih banyak sumur bor yang berfungsi mencegah sekaligus menjinakkan kebakaran lahan. Hingga kemudian, presiden berkunjung ke Pulang Pisau. Mereka ingin menyampaikan langsung ke pemimpin negara, bahwa sistem sekat kanal kurang ampuh tanpa sumur bor yang telah mereka kembangkan.

Setelah rombongan presiden melintas ke arah Tumbang Nusa, mereka punya satu kesempatan terakhir: mencegat presiden saat rombongannya mengarah ke bandara. Kala pusaka itu kemudian tiba. Spanduk telah sedia terbentang. Selang pemadam api beratraksi bak air mancur, berusaha menarik perhatian. Dari sayup hingga nyata, suara sirine terdengar. Satu per satu mobil melintas, hingga sebuah sedan ber-plat Indonesia-1 melaju. Penumpang di baris belakangnya terlihat beranjak dari jok. Itulah Presiden Jokowi. Mobil itu kemudian melambat. Sayang, tak ada yang berinisiatif mengejar. Saya sendiri ragu. Sebagai peliput, peran saya hanya memfigura mereka. Jika jadinya saya yang mengejar mobil presiden yang melambat dan memastikannya berhenti, akan terlihat aneh di depan kamera yang sedari tadi merekam. Sayangnya, rombongan itu akhirnya berlalu. Mimpi relawan untuk menyampaikan aspirasi pemadaman api, otomatis pupus. Pak Janu menunduk lesu. Pundaknya melorot. Meski telah menyampaikan ide tentang sumur ke menteri kehutanan dan lingkungan hidup, rupanya ia belum puas untuk menyampaikan idenya langsung ke sang pengambil keputusan tertinggi negara ini. Ikhtiar Pak Janu wajar, karena hingga kini, bantuan dari kementerian itu baru sebatas sekian puluh titik sumur bor. Akhirnya, mimpi membuat ratusan sumur bor lain, mesti bergantung lagi ke pundak relawan.

Sisi Kepresidenan
Pesawat kepresidenan mendarat di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya. Dua hari belakangan lapangan terbang itu baru beroperasi lagi setelah beberapa hari berurutan, hujan menghapus kabut asap yang membuat penerbangan langsung ke ibu kota Kalimantan Tengah itu mustahil dilakukan. Turun dari burung besi yang sebelumnya membawa saya ke Amerika (bersama presiden tentunya), saya langsung menuju mobil yang disediakan khusus bagi rombongan presiden. Saya ikut serta, sebagai pewarta. Pertama, sebuah sekolah dasar jadi lokasi kunjungan. Anak-anak SD itu kembali ke kelas mereka setelah lebih dari sebulan belajar di rumah. Sementara siswa di daerah lain bersiap menghadapi UTS, mereka akan melewatkannya. Bencana kabut asap tidak membuat tes itu bisa digelar. Bagaimana mungkin setelah libur 35 hari, begitu masuk langsung ujian?

Kunjungan presiden berikutnya, adalah sepetak luas lahan gambut yang sebelumnya pernah ditinjau sang kepala negara. Lokasinya ada di dekat sebuah jembatan panjang yang membentang 12 kilometer. Presiden Jokowi meninjau pembuatan kanal bersekat yang nantinya berguna untuk menyetop penyebaran kebakaran di lahan gambut. Puluhan menit berlalu, rombongan kami kembali ke arah berlawanan, hendak pulang. Di perjalanan, laju rombongan kendaraan melambat. Tak ada reaksi aneh di dalam mobil yang saya tumpangi. Suasana di kanan jalan juga lengang-lengang saja. Perjalanan berlanjut.

Kilometer berlanjut, menit berlalu, telepon berdering. Ajudan presiden. "Itu tadi temen Metro TV yang sama relawan itu siapa? Pak Jokowi mau ketemu, tadi mau turun tapi ragu-ragu".
"Coba saya tanya teman kontri di sini ya," jawab saya yang tak tahu harus jawab dengan nama siapa. Di sisi lain telepon, kontributor Metro TV Palangkaraya mengiyakan bahwa itu kamerawannya. Padahal beberapa hari kemudian barulah saya tahu, itu bukan kru kontributor. Nomor sang kontributor kemudian saya setor ke si asisten pribadi presiden, plus meme tentang relawan yang menyediakan rekening khusus untuk para donatur menyumbang. Presiden memang sebenarnya berniat untuk menemui para relawan pemadam kebakaran. Sang asisten pribadi, bahkan berusaha mencari-cari kontak kelompok itu di internet. Sayangnya, entah mengapa, pertemuan itu tidak terwujud. Perjalanan berlanjut. Rombongan presiden kembali ke ibu kota. []

Senin, 07 September 2015

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Rapat Penentuan

Menko maritim langsung memimpin rapat didampingi banyak pejabat,
salah satunya menteri pariwisata yang ada di kanan foto
Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz Pyramid 2015, dimulai dari rapat ini
Rencana melaksanakan tugas liputan ke Puncak Carstensz di Pegunungan Jaya Wijaya, perlahan jadi nyata. Awalnya Wildan mengirimkan pesan WhatsApp bahwa ada kemungkinan saya diajak untuk liputan ke sana. Itu sekitar tanggal 10 atau belasan Juli. Dia baca di media online, bahwa Kemenko Maritim bakal mengadakan ekspedisi jurnalis yang diikuti 18 media nasional dan internasional. Merasa perlu ikut serta, Wildan mengajak saya untuk cari kontak orang Kemenko Maritim buat daftar ikutan. Berbagai cara kami tempuh buat dapet kontak panitia, dari tanya di grup WhatsApp, sampai nyari ke peserta Ekspedisi Nusantara Jaya yang juga dihelat kementerian itu. Wildan akhirnya dapat kontak panitia. Begitu dihubungi, ternyata Metro TV memang dilibatkan.


Kami pun diundang ke rapat persiapan pendakian ke Carstensz yang digelar di kantor kemenko maritim tanggal 24 Juli 2015. Dalam rapat yang dipimpin langsung sang menteri koordinator itu, dirumuskan bahwa dua tim pendaki yang semula berbeda, disatukan. Ternyata, awalnya memang ada dua tim berbeda: tim marinir TNI AL dan tim wartawan. Keduanya punya misi sama: naik puncak tertinggi di Indonesia itu. Tapi, misi spesifiknya beda. TNI AL akan membentangkan bendera di sana sebagai tanda berkibarnya kedaulatan bangsa kita. Nah kalau wartawan, tugas utamanya adalah memberitakan tentang potensi puncak Carstensz sebagai salah satu dari tujuh puncak di dunia (4884 mdpl). Dengan promosi itu, tujuan utamanya: aktivitas wisata ramai, masyarakat berdaya, tapi alam tetap lestari. Dengan demikian, kedua misi itu akhirnya dihimpun ke dalam satu tim yang sama yang akhirnya komando kepemimpinannya diserahkan ke kawan-kawan marinir TNI AL. 

Selain itu, ada lagi satu misi tambahan selain misi kedaulatan dan promosi: misi sosial. Menteri rencananya akan datang ke desa Ugimba, desa terakhir sebelum jalur pendakian Carstensz. Desa Ugimba di era menparekraf Marie Elka Pengestu, sudah diresmikan sebagai desa wisata. Tapi masyarakat di sana mengaku belum difasilitasi untuk mencapai misi itu. Maka kedatangan menteri adalah upaya melengkapi pencanangan pada September 2014 itu. 

Setelah semua peserta rapat setuju tentang penggabungan tim dan misi pendakian, dalam rapat yang dihelat jelang solat jumat itu, juga dibahas tentang rencana pencanangan puncak Carstensz sebagai objek wisata minat khusus. Bahkan, akan ada sejumlah plakat yang diletakkan di beberapa titik. Tidak ketinggalan, urusan penamaan puncak-puncak di barisan pegunungan itu, juga sempat disinggung. Meski demikian pembahasannya tidak mendalam, baru sebatas ada usulan untuk menggunakan nama asli yang diberikan penduduk setempat untuk nama sejumlah puncak. Kumandang panggilan solat jumat berbunyi, rapat pun bubar. Ekspedisi ke Puncak Carstensz, siap dilaksanakan.


Jarak tempuh itu belum termasuk tanjakan dan turunan dan rintangan lain ya.
Jadi meski sekian kilometer itu bisa ditempuh sekian menit kalau naik pesawat dan
naik kendaraan darat (kalau jalannya ada dan bagus), akan lain halnya kalau kita berjalan kaki. Bisa berhari-hari. Tapi tidak apa-apa. Toh itulah alasan para petualang datang ke sana bukan?


Sejumlah nama tempat di jalur pendakian menuju Puncak Carstensz

Rapat Lanjutan
Ada rapat lanjutan yang diikuti oleh tim wartawan seusai rapat di ruang kementerian sebelumnya. Para wartawan menggelar pertemuan teknis di sebuah rumah makan di Sarinah. Dalam pembicaraan itu, diputuskan bahwa tim ini akan naik ke puncak melalui jalur Tembagapura, alias jalur pertambangan yang dikelola PT Freeport. Jalur itu sebetulnya di luar rencana awal. 

Semula, kami akan naik melalui jalur distrik Sugapa - Ugimba. Sugapa dan Ugimba adalah dua jalur yang ada di Kabupaten Intan Jaya. Tapi jalur itu tidak dipilih karena keterbatasan waktu. Butuh waktu tambahan sekitar seminggu untuk melewati jalur itu, karena memang lintasan menuju puncak dari sana lebih panjang dan medannya tidak mudah. Padahal, kalau memang misi ini ditempuh via Ugimba, maka jalur wisata atau ekspedisi yang sebenarnyalah yang akan ditempuh para wartawan. Artinya, sekaligus mempromosikan jalur ini sebagai jalur pendakian yang sebenarnya, bukan lewat Tembagapura yang area pertambangan alias bukan wilayah wisata. Lagian, kalau kita lewat Freeport, kita akan rentan terjangkit Accute Mountain Sickness alias AMS. Itu adalah nama gejala tubuh yang terjadi karena badan kita shock dengan ketinggian yang mendadak dan tidak sesuai dengan setingan standar tubuh kita semula. Kalau lewat Ugimba atau jalur pendakian lain nontembagapura (selain Ugimba, ada juga jalur Tsinga, Ilaga dan Soanggama), tubuh bisa lebih menyesuaikan karena kenaikan ketinggian lebih bertahap. Tapi bagaimanapun, keputusan telah diambil, dan kami akan mendaki melalui Freeport. Apakah misi itu benar-benar tercapai? Tunggu kelanjutan kisahnya. Hehehehehe. []

Kamis, 18 Juni 2015

Identitas Metal di Jari Telunjuk (Bagian 3): Senjakala Metal Beragama

Foto ini sebenarnya disiapkan buat dikirim ke Irfan Sembiring vokalis Rotor, pionner band metal di Indonesia. Irfan tadinya mau jadi narasumber saya juga, tapi dia menolak. "Gpp, gak mau aja", katanya ketika saya tanya kenapa. Kisah Irfan dan Rotor menarik dibahas karena ia mengubah haluan musik Rotor jadi agamis. Tapi, di sebuah tweet yang diposting seseorang entah siapa, Irfan tidak mendaklarasikan diri sebagai bagian dari one finger movement.

One Finger Movement bakal bubar! Itu angle yang akhirnya saya bahas di liputan program 360 Metro TV yang tayang tanggal 20 Juni nanti. Angle itu sebenarnya baru saya sadari setelah wawancara Ombat. Di sebuah sesi tanya jawab, dia mengakui bahwa ada opsi bubar buat Tengkorak, band pioneer One Finger Movement. Alasannya, karena music bukan nomor satu. Tengkorak, kata Ombat, nggak mau malah menghambat pengabdian mereka kepada Allah SWT. 

Indikasi melemahnya gerakan yang diinisiasi sejak 2010 itu, juga terlihat dari hengkangnya vokalis Purgatory dari band metal syiar itu. Amor alias Madmor sang vokalis keluar tahun 2011. Bukan hanya keluar dari band yang ia tempati sejak 2003, Amor juga berhenti main music. Ia mengharamkan music. Amor merujuk ke sebuah hadist yang intinya adalah bahwa rasul tidak pernah menggunakan music sebagai media dakwah, apalagi bermain music yang bukan dakwah. Lalu kalau Amor berhenti bermusik dan Tengkorak terancam bubar kemudian event bertajuk utama One Finger Movement jarang banget ada, bagaimana kelanjutan dakwah di kalangan pecinta music metal? Tonton saja hasil liputan saya nanti ya. Hari Sabtu tanggal 20 Juni jam 21.00 WIB di Metro TV.

Rabu, 10 Juni 2015

Identitas Metal di Jari Telunjuk (Bagian 2): Lobi Narasumber



Sekarang saya mau cerita tentang bagaimana akhirnya saya dapat menembus dua narasumber utama di liputan tentang metal islami, terutama Amor. Eh tunggu, saya bahkan akan bercerita sejak lebih awal lagi. Sejak bagaimana ide liputan ini muncul. Jadi awalnya saat itu tanggal 23 April 2015 hari Kamis. Bang Andre, teman kantor saya kasih kabar bahwa ada diskusi berjudul Fundamentalisme Agama Dalam Musik Indonesia. TOR pun disusun agar topic itu bisa jadi garapan saya. Izin liputan akhirnya dikantongi (karena saya sebenarnya sudah tidak bertugas utama liputan, jadi harus minta izin eksekutif produser buat meninggalkan kantor di jam kerja demi liputan). Eksekutif produser saya menilai topic ini cocok untuk program dialog Sudut Pandang atau program documenter 360. Tepat sekali, karena memang sebelumnya saya usulkan liputan ini buat 360. Hehe. Lead producer di program itu malah menyarankan saya datang ke diskusi itu bersama tim liputan, langsung ambil gambar. Padahal niat awalnya diskusi itu saya jadikan bekal dulu buat mematangkan konsep dan memetakan narasumber.

Jumat itu pun kami akhirnya tiba di Ciputat, di ruang diskusi yang ada di sebuah kompleks lapangan futsal. Rupanya diskusi ini dihelat oleh sekelompok warga sekitar Ciputat, Tangerang–Banten. Mereka rutin menggelar diskusi. Keren juga. Malam itu narasumbernya Wendi Putranto. Wendi ternyata membawa seorang temannya yang bernama Yuka. Yuka adalah seorang mahasiswa yang sedang merampungkan studi masternya tentang (mungkin saya salah) gejala sosial merebaknya islam radikal. Di majalah Rolling Stone yang di suatu edisi fokus membahas musik dan agama, Yuka juga menyumbangkan tulisan panjang. Di edisi berikutnya pujian untuk tulisan itu bermunculan dalam rubrik surat pembaca. Saya menyimpulkan tulisan panjang yang rumit itu intinya berisi analisa Yuka bahwa ada kekuatan besar yang menyasar kalangan musisi indie untuk keluar dari bidang yang semula mereka geluti. “Lalu kenapa yang disasar kalangan musisi indie? Karena mereka punya massa”, demikian seingat saya salah satu kalimat di dalamnya tertulis.


Benarkah demikian? Sayangnya semua orang di ruang diskusi malam itu cuma bisa menebak-nebak dan menganalisa (beberapa analisa disampaikan dengan bahasa akademis yang belum tentu semua orang mengerti, termasuk saya. Hehe). Narasumber utama tidak hadir (atau dihadirkan). Paling tidak seorang musisi yang hijrah diundang lah, pasti akan seru. Tapi mungkin memang karena mereka nggak mau datang aja. Soalnya ketika saya melanjutkan pembahasan ini ke dalam rangkaian proses peliputan, kesulitan serupa sempat saya hadapi.

Adalah sebuah majelis taklim bernama The Strangers Al Ghuroba. Isinya musisi-musisi yang berhenti bermusik demi mendalami agama. Ada Fani Innocenti, Amor Purgatory, Alfi The Upstairs, Benny The Upstairs, dan lain-lain. Ketika saya cari di internet, ada pengajian yang digelar dalam waktu dekat. Ketika saya hubungi kontak di e-poster itu, saya baru sadar bahwa itu materi promosi tahun lalu. Hahahahaha. Sebenarnya emang ditulis tahun 2014 sih di sana, tapi kok saya malah baru sadar ini tahun 2015 setelah ngontak nomor HP di sana. Mungkin ini implikasi sifat manusia yang percaya apa yang ingin mereka percaya. We believe what we want to believe. Entahlah (nyari pembenaran padahal jelas-jelas ga teliti. Haha). Intinya, meski batal meliput kajian bertajuk “Semua Suka Musik?” itu (yaiyalah acaranya udah lewat. Hahaha), silaturahmi antara saya dan panitia acara itu, tetap terjalin. 

Nama panggilannya Fani. Kami berbicara lewat telepon setelah saya utarakan maksud untuk membuat kisah tentang musisi-musisi indie yang hijrah. Rupanya usulan saya ditolak. Pasalnya, kerangka peliputan pertama serupa dengan pengemasan kisah yang ditampilkan sebuah majalah music. Alfi dan Benny keberatan dengan tulisan itu karena merasa kurang diberi ruang jawab. Mereka juga sepertinya tidak mau pembahasan tentang pilihannya meninggalkan musik diperpanjang. Tapi, Fani memberi kesempatan untuk saya berikan rencana kedua. Rencana kedua itulah yang kini akhirnya dijalankan, dengan narasumber Amor eks vokalis Purgatory. 

Jadi, apakah benar ada kekuatan besar yang terorganisasi untuk mencabut para musisi indie dari dunia yang mereka besarkan dan membesarkan mereka? Kalau menurut kesimpulan saya sih, sepertinya tidak. Kekuatan besar yang dimaksud ya rahmat tuhan, hidayah. Atau bahasa umumnya inspirasi. Fani yang pernah bergabung di band Innocenti, mengaku sebuah kecelakaan menjadi titik balik kehidupannya. Ia mengaku kepada saya, dulu sempat merasa akan hidup untuk musik. Tapi ya itu tadi, ada suatu hari yang mengubah semuanya. Contoh lain, Amor. Ia mengaku banting setir setelah ia mengetahui bahwa rasul tidak memainkan musik. Sudah, itu saja. Demikian pula dengan Ombat dan bandnya Tengkorak. “Dulu gua bikin tulisan Tengkorak pake air kencing”, kenangnya tentang Tengkorak di masa lalu. Lalu di sebuah bazaar buku, ia berdiskusi dengan sebuah kelompok nasyid. Dari sanalah keputusan Ombat menyisipkan nilai Islam ke dalam Tengkorak bermula. Meski tak secara eksplisit memasukkan nilai agamis dalam lirik, Ombat selalu menyuarakan hal-hal islami dari atas panggung. Lirik-lirik Tengkorak tetap berisi protes. “Kami benci diatur”, katanya meyakinkan. Makanya rilis album pun tak benar-benar mereka atur harus terbit secara berkala. Terakhir kali Tengkorak rilis album tahun 2008. Meski tetap manggung, (terakhir kali di Jakcloth), Ombat tetap membuka kemungkinan untuk Tengkorak membubarkan diri. “Jangan terlalu cinta sekali dengan apa yang kita miliki di dunia ini. Karena yang harus kita cintai itu ya Allah. intinya itu”, katanya menyimpulkan. []

Rabu, 03 Juni 2015

Identitas Metal di Jari Telunjuk (Bagian 1): Nonton Tengkorak



“Ada anak gue,” ujar Ombat berjinjit meninggalkan gerai penjualan tiket. Pria berkepala pelontos itu menghandari anaknya Sofia yang berumur tiga tahun. Ombat khawatir Sofia tak mengizinkannya tampil. Padahal malam itu ia akan unjung gigi bersama bandnya Tengkorak. “Gue pernah nyanyi sambil gini”, ujar vokalis itu sambil memperagakan pose menggendong si kecil Sofia.


Malam itu saya sedang dalam tugas peliputan untuk program 360 tentang metal satu jari. Metal satu jari adalah sebuah ideologi yang dicetuskan Ombat dan bandnya pada 2010. Metal jenis ini menolak bentuk jamak simbol metal dengan acungan dua jari: telunjuk dan kelingking. Kata Ombat, itu lambang setan, dan acungan satu jari adalah perlawanan budaya. Ombat kemudian lebih dikenal dengan buah pemikiran bernama One Finger Movement.


Sebelum Tengkorak tampil, saya sempat diajak Ombat jalan-jalan ke sejumlah gerai pakaian di festival fesyen. Sebuah merk ia perkenalkan sebagai prakarsanya. Merk lain ia tunjukkan sebagai wahana untuk menebar nilai agamis yang ia yakini. Metal satu jari, juga mewujud dalam rupa busana. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam penyelenggaraan Jakcloth kali ini, One Finger Movement tak menyediakan merchandise khusus. Jakcloth adalah bazaar pakaian yang dilengkapi sejumlah panggung yang menampilkan performa sejumlah band. Ombat adalah otak dibalik gelaran yang mampu mendatangkan ratusan ribu orang dalam lima hari pelaksanaan itu. Selain menjabat dirut perusahaan pengelola festival itu, Ombat juga seorang pengajar. Ia juga sedang menyelesaikan studi S3-nya. Selain itu ayah tiga anak itu juga menjadi guru sebuah bela diri yang mengandalkan olah nafas. Karena kesibukannya yang banyak itu, Ombat juga diliput oleh Yanka, reporter Metro TV yang lain untuk program khusus ramadhan. “Itu cewek gue”, katanya bercanda ketika menceritakan peliputan Yanka. Dan bodohnya, saya sempat percaya. Haha.


Panggung tinggi


Tengkorak akhirnya dipanggil ke atas panggung. Mereka berdiri di atas sebuah bangunan setinggi sekitar tiga meter. Ya, setinggi itulah panggung yang mereka gunakan. Memang sejatinya itu bukan panggung, tapi bangku penonton. Rupa bangunan itu setengah jadi. Tadinya di arena itu panggungnya akan dibuat selevel dengan penonton, tapi nampaknya itu jadi keunikan tersendiri. Panitia Jakcloth memanfaatkan keterbatasan yang mereka dapat karena tidak lagi menggelar pertunjukan di tempat biasa. Parkir timur (parkit) kawasan gelora bung karno senayan Jakarta tidak diizinkan digunakan untuk Jakcloth. “Buat kantong parkir”, kata Ombat menirukan alasan panitia. Ternyata ketika Jakcloth dihelat, parkit digunakan untuk acara bazaar yang diprakarsai pemda DKI Jakarta. Orang-orang menyebut acara itu Pekan Raya Jakarta (PRJ) tandingan, karena digelar ketika PRJ berlangsung di kemayoran dan mulai berlangsung sejak gubernur Ahok menilai PRJ yang digelar pihak swasta itu kurang merakyat. Oke, jadi di sanalah saya kala itu, parkir barat senayan menonton Tengkorak.

Band bentukan tahun 1993 itu kemudian mulai tampil. Sebenarnya Tengkorak terbentuk tahun 1990. Kala itu namanya Skull. Tapi MC sering salah menyebut itu sehingga terdengar bahwa nama band grindcore itu “School”. Maka tiga tahun kemudian bersalin namalah band beranggota lima orang itu. Saya sempat berniat menyimpan setlist lagu mereka, tapi sayang lupa. Hehe. Jadi ada tiga tempat yang saya jadikan lokasi untuk menikmati penampilan Tengkorak. Pertama menonton dari bangunan di seberang panggung sehingga pandangan saya sejajar dan tak perlu mendongak, kedua nonton dari belakang panggung, dan ketiga dari bawah panggung, di arena moshing atau mosh pit, tempat penonton berdansa pogo liar. Tengkorak tampil brilian. Ombat begitu fasih merajut kata per kata pengantar lagu satu ke lagu lain. Paparannya pun polos dan apa adanya. Maksud saya, ia tak mengesankan diri untuk menjadi seram atau menakutkan sebagaimana imaji musik sangar pada umumnya. Ombat bahkan sangat humoris. Saya sempat terpingkal-pingkal ketika ia menirukan suara Wiranto ketika berpidato tentang netralitas TNI pada transisi masa reformasi. Atau ketika ia bilang tak perlu narkoba agar suara seorang vokalis band cadas segarang yang ia punya. Katanya makan jengkol aja. Kelakar Ombat disambut ledekan gitarisnya yang juga terpancing dengan sindiran komikal si vokalis. 

Ketika beranjak dari satu lokasi menonton, saya dengar Ombat merapalkan kalimat hujatan. Ia mengkritik sifat pemimpin yang buruk. Kata yang harusnya disensor pun malah lantang ia muntahkan. Padahal sebelum Tengkorak manggung, Ombat sempat mengaku sedih saat menceritakan terakhir kali ia tampil di sebuah kota di Jawa Timur. Katanya ia iba ketika melihat ada penontonya yang masih anak-anak. Ia merasa tak tega melihat mereka harus mendengar kritikan tajam Ombat yang memang kelas pendengarnya bukan untuk anak-anak. Tapi malam itu, toh Ombat berani mengeluarkan kritikan pedas serupa, meski pun ada anak istrinya di sana. Ketika saya menonton dari atas panggung, istri ombat duduk bersama tiga anaknya. Sesekali tubuh istrinya bergoyang mengikuti hentakan musik band suaminya. Si kecil Sofia juga ada di sana, di pangkuan ibunya. Lagu demi lagu pun tandas dibawakan. Penampilan Tengkorak sekaligus mengakhiri rangkaian penampilan pemusik panggung Heyho di Jakcloth hari itu. Setelah mewawancarai sekelompok pemuda penyuka metal satu jari, saya pun pamit ke Ombat dan menjanjikan mewawancarainya lagi pada kesempatan lain. []


Sabtu, 23 Mei 2015

Tentang Wayang Orang

Sabtu itu saya hamper gak bisa liputan. Sesampainya di gedung pertunjukan wayang orang, saya ditagih surat izin liputan. Saya memang belum siapkan itu sebelumnya, karena toh bisa langsung dikirim lewat fax. Ternyata pengelola gedung tak punya faksimili. Negosiasi lewat telepon pun berlanjut. Singkat cerita, saya tak mengalami kisah seorang wartawan yang sudah 3 hari liputan wayang orang bharata lalu diusir dan tidak diizinkan tayang karena syarat administrasi peliputannya belum rampung. Pengelola gedung mengizinkan pengambilan gambar, para personel Wayang Orang Bharata juga berkenan diwawancara. Saatnya beraksi. 

Pertunjukan wayang orang bharata dimulai jam 9 meskipun sejak jam 8 udah ada penari pembuka. Dulu di kuri penonton bagian depan banyak turis, tapi karena penonton lokal datangnya telat dan pementas nunggu mereka, pertunjukan molor. Si turis asing padahal nunggu sejak sore. Dari bangku penonton ini kita juga bisa menikmati wayang sambil makan. Penjual makanan di luar gedung bakal tanya: "duduk di bangku nomor berapa?" Nanti makanannya diantar ke dalam

Ini pak kandar. Saat kami mau ambil gambar, bapak ini cuek. Mungkin memang begitu orangnya atau mungkin aktivitas latihannya terganggu. Tapi pas diajak ngobrol asik juga. Cukup ramah ternyata. Pak kandar pemain musik di wayang orang bharata. Kata pak marsam, dia udah keliling dunia karena keahliannya. Yang paling unik dr beliau adalah: kemana-mana bawa buku teka teki silang. Di dekat kendangnya ada buku TTS. Pas rehat, ngisi. Ini pas yang lain sibuk berias, malah ngisi TTS lagi

Samar denting suara gamelan terdengar sejak saya memasuki gedung di kawasan senen Jakarta pusat itu. Begitu masuk ke ruang pertunjukan, anak-anak sedang bermain gamelan. Mereka dipandu seorang pemusik senior bernama Pak Kandar. Pria sepuh berkacamata itu duduk di bagian kendang. Setelah saya sapa dan mintai izin pengambilan gambar, ia bercerita bahwa latihan yang ia jalani ini adalah aktivitas rutin. Ia melatih anak-anak pemain wayang orang saban sabtu mulai jam 10 pagi. Pak Kandar memperkenalkan seorang perempuan dewasa berambut kuncir di bagian lain set alat musik gamelan itu. Ialah Noni, putri Pak Kandar. Noni juga ikut memandu anak-anak di hadapan set alat musinya. Di satu sisi saron (bagian dari gamelan), ada Salsa, anak Noni, cucu Pak Kandar.

Pelestarian wayang orang secara turun-temurun, memang jadi cara utama kelompok Wayang Orang Bharata menjaga kelangsungan hidup tradisi yang mereka cintai. Berdiri sejak 1962, Wayang Orang Bharata sudah punya 8 generasi atau angkatan. Tiap sabtu malam, mereka menggelar pagelaran rutin dengan lakon yang berbeda-beda. Ada 380 cerita yang mereka punya. Jika harus tampil selama setahun penuh pun, cerita yang dihadirkan jelas tak akan mengulang. Dan memang demikianlah yang terjadi sebelum saat ini. Dalam sebulan, Wayang Orang Bharata bisa tampil 36 kali. Kini, saat pentas dihelat seminggu sekali, tak semua bangku penonton terisi. Seperti diakui ketua Wayang Orang Bharata Marsam Mulyoatmojo, tantangan kelompok wayangnya saat ini adalah perihal menggaet penonton.

Marsam juga berkisah bahwa dulu, turis asing sering ada yang menonton pertunjukan mereka. Tapi, kini jenis penonton itu tak banyak yang datang. Kata Pak Marsam, mereka sudah menunggu sejak sore. Sementara pertunjukan harus menunggu penonton local yang biasanya baru hadir lebih malam. “Jakarta ini kan semakin macet”, ujar Pak Marsam menganalisa. Meski demikian, malam itu saya lihat cukup banyak penonton yang memadati bangku di gedung pertunjukan. Bahkan ada Nunung Srimulat yang berjalan terburu-buru seusainya acara. Kalangan anak muda pun ada yang menyaksikan pertunjukan berbahasa jawa itu. Seorang bernama Wida mengaku senang akhirnya bisa merasakan alternatif aktivitas pelesir baru. “Gua kira cuma sejam atau sejam setengah, ternyata empat jam!” demikian kira-kira Wida berkesan seusainya pertunjukan. Selain Wida, saya juga mewawancarai Irawan dan ayah-ibunya. Irawan yang kira-kira berusia 20an tahun, mengaku yang berinisiatif mengajak orang tuanya menonton wayang. Selain karena memang suka, ternyata ayah Irawan juga punya kedekatan tersendiri dengan seorang pemain wayang orang bharata. Guru menarinya ketika mereka tinggal di Palembang, adalah personel Wayang Orang Bharata.

Layar terbuka, pentas dimulai. Saya nggak sepenuhnya menikmati wayang orang karena saya nggak ngerti bahasa jawa. Apalagi bahasa jawa yang dipakai di wayang orang itu boso jowo kromo inggil. Teguh Ampiranto alias Kenthus, sutradara pertunjukan wayang orang sempat saya wawancara soal itu. Katanya bisa aja dialog wayang orang tidak disampaikan dalam bahasa jawa. Tetapi, nilai adiluhungnya akan berkurang. “Saya pernah nonton opera, di Italia, di Jerman, itu tidak diterjemahkan tapi penontonnya dari seluruh dunia”, Kenthus berkisah dengan nada bicara merendah. 

Malam itu Wayang Orang Bharata menampilkan lakon Gatot Kaca Kembar. Lakon itu berkisah tentang Brajadenta, paman Gatot Kaca yang menyamar menjadi keponakannya dan mengacaukan kerajaan yang dipimpin Gatot Kaca si putra Bima. Ia tak rela tampuk kekuasaan dipegang Gatot Kaca. Kisah itu seakan menyindir realita di kehidupan nyata. Beberapa pekan lalu, raja keraton Ngayogyakarta mengeluarkan sabda raja yang salah satu isinya adalah pergantian nama anak sultan menjadi GKR Mangkubumi. Pergantian nama itu ditafsirkan sebagai persiapan pewarisan tahta. Mangkubumi adalah nama pendiri keratin Ngayogyakarta. Seorang sultan akan berganti nama menjadi Mangkubumi sebelum akhirnya ia dikukuhkan menjadi raja di Yogyakarta. Sementara itu adik Sultan Hamengku Bawono X, mengajukan protes terhadap sabda sultan tersebut. Hingga kini, adik sultan memang tidak terlihat sekejam Brajadenta. Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi juga belum dikukuhkan menjadi raja seperti halnya Gatot Kaca yang mewarisi tahta. Tapi tetap saja kedua kisah itu terasa relevan. Menurut Pak Marsam, kisah itu memang sudah ada dari dulu. Jadi bukan menyindir atau mengait-kaitkan, tapi memang kisahnya begitu. Makanya, lanjut Pak Marsam, wayang itu ibarat gambaran kehidupan manusia sebenarnya. Wayang adalah bayangan kehidupan manusia. Banyak pelajaran budi pekerti di dalamnya. Kita dipaparkan dengan realita bahwa ada yang baik dan buruk. Dan biasanya keburukan menang di awal meski di akhir selalu dapat dimusnahkan kebenaran.

Jika kamu berhalangan menyaksikan tayangan 360 episode Menolak Sirna yang menceritakan Wayang Orang Bharata, tonton saja di sini.

Anak2 personel wayang orang bharata juga mahir menari. Kata pak marsam sang ketua paguyuban itu, mereka bahkan sudah paham karakter2 tokoh wayang. "Sarjana seni saja belum tentu bisa", kata pak marsam. Kalo kata pak kenthus, salah satu sutradara pertunjukan wayang, penghayatan tokoh wayang itu butuh waktu bertahun-tahun

 

"Langgengmu adalah harapanku, lestarimu adalah tanggung jawabku" -wayang orang remaja bharata-

Anak2 personil wayang orang bharata fasih bermain gamelan. Mereka rutin berlatih tiap sabtu pagi-siang.