Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2015

Kegilaan Mad Max


Mad Max akhirnya rilis di bioskop. Kawan saya di instagram bilang ini film terbaik sepanjang 2015. Masa sih? Teman saya di grup chat band Operasi Plastik bilang film ini rangkingnya di rotten tomatoes tinggi banget. Pas dicek, bener juga. Di IMDB juga film ini kalahkan Interstellar. Penasaran juga saya. Alhasil pada hari libur pekan ini saya sisihkan waktu buat nonton Mad Max: Fury Road. Gak tanggung-tanggung, langsung nonton di IMAX. Biar audio-visualnya lebih memuaskan.



Mad Max: Fury Road adalah sekuel dari film berjudul serupa yang sebelumnya diperankan Mel Gibson. Sekarang yang jadi Max adalah Tom Hardy. Film ini berkisah tentang dunia di masa depan yang sudah rusak. Antar kerajaan/ suku/ bangsa/ geng/ negara saling susun strategi buat bertahan. Ada sebuah kerajaan yang bermarkas di tempat bernama Citadel (dibacanya sitadel yah bukan citadel. Citadel mah atuh belah kencaeun cicaheum belah ditueun cikuluwut. Haha). Kerajaan Citadel dipimpin raja bernama Immorta Joe. Kerajaan ini punya tentara bernama war boys. Dalam yel-yelnya, mereka meneriakkan semangat berani mati demi raja. War boys ini kalau lemas, harus ditransfusi darah manusia non-war boys. Nah seorang war boys bernama Nux sedang menikmati transfusi darah dari tokoh utama kita yang bernama Max. Ketika itu panglima perang Immorta Joe yang bernama Furiosa, ternyata berkhianat. Dia menculik selir-selir Immorta Joe.

Seluruh kekuatan kerajaan itu kemudian dikerahkan untuk mengejar Furiosa. Nux yang setia kepada rajanya, tentu tak mau ketinggalan “mati sahid”. Dia nekat ikut berperang dengan membawa kantong darah transfusinya yang berupa pria bernama Max tadi. Mulailah dari situ keseruan, kehebohan, keberisikan, kewahan, kebombastisan film ini dimulai.

Karena nonton di IMAX, tata gambar dan suara yang saya alami memang menggelegar dan membelalakkan. Gak terlalu memanjakan sih. Maksudnya saya merasa kurang maksimal. Mungkin saya duduk terlalu jauh. Rasanya beda dengan ketika nonton Prometheus dan Gravity di tempat itu. Apa memang karena filmnya? Tapi ada kok beberapa adegan yang membuat saya seperti ikut melayang mengikuti gerakan kamera yang menyapu pandangan dari atas. Jatuhan sesuatu yang mengejutkan dan menghantam ke arah layar juga tak jarang membuat saya berkedip takut ketimpuk. Haha. Suaranya juga mantep. Meski pun ketika perang-perangan ada campuran suara deru mesin, gemuruh padang pasir, hingga sayatan musik metal. Ya, musik metal yang dibawakan langsung sama seorang war boys dari rig atau mobil perangnya. Oh my god epic banget bagian itu. Saya sebelumnya tak pernah merasa ngeri sekaligus berdecak terkesima melihat seseorang memainkan gitar seperti itu. Segan sekali.


Jalinan ceritanya cukup rapi tersusun. Meskipun ini sekuel, kita tak akan terseret dengan beban kisah di film sebelumnya. Saya belum pernah nonton Mad Max yang sebelum ini, tapi ngerti bahwa Max trauma dengan kematian keluarganya di film terdahulu. Saya juga suka dengan simbolisasi di film ini. War boys saya maknai sebagai gambaran fanatisme buta. Sebutlah para war boys itu “pengantin”, yang rela “mati sahid” karena mereka yakin (seperti yang mereka teriakkan sebelum menjemput maut) “I live, I die, I live again”. Jika mengabdi ke Immorta Joe dengan teladan, mereka akan berakhir di sebuah tempat bernama gerbang Valhalla (entah apa itu Valhalla dan seperti apa bentuknya. Mungkin ada di film sebelumnya). Sosok war boys garang badass sialan tapi keren berhasil dimainkan Nicholas Hoult. Saya gak nyangka dia bisa seberingas itu. Di film Warm Bodies yang dia mainkan, dia masih terlihat manis meski berperan sebagai vampir (ya meskipun memang itu yang diminta sutradaranya). Tapi di perannya sebagai Nux kali ini, dia benar-benar gila. Inilah Joker di film Mad Max. Di beberapa bagian dia terlihat seperti Gerard Way di video klip Welcome to Black Parade. Haha. Tapi ada lagi yang lebih bikin pangling. Charlize Theron. Oh god, ini ibu-ibu yang biasanya tampil cantik judes jadi tomboy dingin gitu. Tapi saya baru bisa membayangkan bahwa itu Theron setelah dia berekspresi macam-macam di film. Kalau liat di poster aja, saya gak bisa identifikasi bahwa itu si pemain antagonis di film Prometheus dan Elysium yang berkesan itu.
Intinya, film ini memang seru. Ya meskipun kritik di Koran Kompas Minggu lalu memang menyatakan ganjalan yang juga saya rasakan. Ada rasa bosan dengan kekerasan yang seakan tanpa henti itu. Entahlah kenapa. Beda dengan ketika saya nonton The Raid 2 yang sepanjang film laganya yang intens itu tetap menggairahkan. But still, “what a lovely (holi)day!” []

Minggu, 17 Mei 2015

Pelajaran Dari Kelas Angkatan 92


Saya baru khatam menonton sebuah film dokumenter, judulnya The Class of 92. Film ini berkisah tentang 6 orang pemain bola tim Manchester United yang direkrut divisi pengembangan pemain baru pada tahun 1992. Mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Gary Neville, Philip Neville dan Nicky Butt. Keenam orang ini, tujuh tahun setelah mereka merumput bersama, meraih gelar treble winner. Gelar itu disematkan bagi tim yang berhasil meraih juara di tiga kompetisi besar.

Saya suka film ini karena ia begitu intim dengan penontonnya. Maksud saya, pembawaannya seperti reuni para bintang lapangan itu setelah mereka lama tak berjumpa dan bahkan lama pula tak duduk di bangku yang biasa mereka gunakan untuk berganti kostum. Yang juga menarik, berbagai hal yang terjadi di lapangan kala mereka aktif bermain, diungkap satu per satu, dan dikomentari juga oleh tokoh lain di luar enam orang itu. Ada Mani basis band Stone Roses yang jadi penegas bahwa kota bandnya dan Manchester United bagaikan senar dan tala, atau gawang dan jala. Simak juga tuturan Zinedine Zidane yang mengomentari kawanan itu sebagai sesama pemain bola dari luar Inggris Raya. Tony Blair pun turut serta. Mantan perdana menteri Inggris itu memperhatikan betul bagaimana dinamika si setan merah saat para punggawa Kelas Angkatan 92 itu sama-sama dewasa.

Selain mengulas laga krusial ketika mereka meraih tiga tropi sekaligus, satu per satu personil kelas itu memperkenalkan diri dan dikenalkan teman-temannya. Tiap pemain punya ciri khasnya sendiri. Scholes yang ulung mengumpan, Giggs yang tak lelah bermain hingga 15 tahun setelah Platini pensiun (si pemilik tendangan kung fu ini juga jadi narasumber), hingga Beckham yang dijuluki si pria cantik (pretty boy).

Khusus tentang Beckham, saya merasa setuju dengan komentar Zidane bahwa suami Victoria eks-biduan di kelompok Spice Girls itu memang sepertinya rendah hati. Zidane bilang bahwa Becks selalu memperlakukan orang setara. Saya bisa merasakan dari suara dan cara bicaranya. Tapi entahlah. Yang jelas Becks ini mengingatkan saya ke buku Pandji Pragiwaksono dan pernyataan petinju Mohamad Ali.

Beberapa hari lalu saya baru baca buku Indipreneur, buku tentang cara hidup insan kreatif yang ingin bertahan dengan karyanya. Buku buatan Pandji Pragiwaksono itu begitu kaya informasi. Dalam bukunya ini ia merumuskan delapan hal penting yang jadi komponen kesuksekan mandiri dari karya sendiri. Yang pertama produk. Agar seorang seniman sintas, tentu ia harus punya produk yang bagus. Agar produk kita bagus, latihan rutin jadi syarat utama. Pandji mencontohkan Kobe Brant yang latihan teknik dasar basket 6 jam selama enam hari, hingga Lil Wayne yang selalu melatih bernyanyi hiphop tanpa lirik. Dalam film The Class of 92, diungkaplah bahwa rahasia dibalik tembakan akurat Beckham, adalah latihan rutin. Saya kemudian teringat ke sebuah poster bergambar petinju Mohamad Ali yang tegak memandangi lawannya yang tumbang. Di bagian kanannya tertulis: i hated every minute of training, but I said, "Don't quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion. []


Kamis, 07 Mei 2015

Menonton Novel Tanpa Huruf R

Saya baru menyaksikan film Novel Tanpa Huruf R. Diarahkan oleh Aria Kusumadewa, film buatan tahun 2004 ini punya identitas khas ala sutradaranya, seperti yang saya juga saksikan di film Kentut buatan orang yang sama. Novel Tanpa Huruf R mengisahkan tentang Drum dan ayahnya yang jadi korban selamat kerusuhan di Ambon pada awal tahun 2000an. Mereka kemudian tumbuh dekat dengan kekerasan, atau brutalitas. Ayah Drum bekerja sebagai tukang jagal sapi. Otomatis ia familiar dengan terpaan darah dan kematian, termasuk dengan kematian ayahnya ketika Drum dewasa. Drum dan Talang, seorang tuna rungu dan tuna wicara yang dikenalnya sejak kecil kemudian tumbuh bersama di kawasan pantai. Drum pun menulis sebuah novel berjudul Kejet-Kejet. Novel itu menarik perhatian seorang mahasiswa bernama Sunyi untuk membahas novel itu dalam sebuah karya tulis. Dari situlah kemudian konflik berkembang. Sunyi kemudian tahu bahwa Drum punya sebuah kebiasaan aneh yang mungkin berkaitan dengan proses kreatif kepenulisannya.

Bagi saya, ini film naratif yang merespon tren kekerasan yang memang marak di periode waktu itu. Dalam sebuah tugas peliputan, saya pernah berjumpa Hary Sudwijanto, yang saat itu menjabat posisi direktur resor kriminal umum polda Kalbar. Pak Hary berkisah tentang riset ilmiahnya pada awal tahun 2000an. Ia meneliti tentang cara media memaparkan kekerasan yang sedemikian vulgar. Ingatkah kamu dengan tayangan Buser? Sergap? Patroli? Atau program lain semacamnya? Kala itu program berita kriminal tayang di siang hari, dengan tampilan gambar yang dramatis: pengejaran penjahat, tampakan mayat dan darah, dll. Ternyata, "gambar bagus" itu memang sengaja dibuat, direkayasa. Misalnya ketika polisi menangkap seorang penjahat, maka ia akan memanggil wartawan. Para mat kodak itu tentu ingin mendapat gambar dramatis agar menarik perhatian penonton. Maka polisi dengan sengaja melepas si penjahat, lalu ditembaklah si penjahat yang lari. The more it bleeds, the more it leads. Demikian mantra layar kala itu yang juga senada dengan figur di film Nightcrawler. Mengerikan bukan? Karenanya, sekarang metode tersebut tak lagi digunakan karena tentu menentang HAM juga. Di film Novel Tanpa Huruf R, fenomena itu disindir dengan caranya tersendiri. 

Tapi ada beberapa hal yang saya pertanyakan dari film yang didominasi lagu Slank berjudul Bulan Bintang itu. Misalnya adegan Drum yang tiba-tiba tertawa setelah memberi sebatang rokok kepada seseorang di jalan. Drum lalu tertawa terbahal setelah itu. Apa maksudnya? Talang yang dikisahkan tak bisa mendengar pun, toh bisa menoleh ketika namanya dipanggil Drum. Sayang sekali detil kecil itu harus muncul. Tapi secara keseluruhan ini film yang tentu penuh makna. Novel Tanpa Huruf R adalah potongan pemberi makna terhadap suatu fenomena. 

Rabu, 18 Februari 2015

Integrity Lesson


Ah finally, I’ve watched End of Watch. It’s the movie told about two cops spend their days recording the missions. The movie started with the dubbing sound told that this car chasing scene is like a daily activity, their great mission to stand for the law enforcement. It was a glimpse reminded me to a song All Cops Are Gods sang by Bars of Death, a hiphop squad from Bandung. The song ironically tell the bitter thruth about cops betrayal. How some cops are cruel, evilous and act as they are the law it self. Oops, they are gods, not only law. That what the song tells us. But then I’ve found that the cops in this movie, is not like that. The cops in End of Watch, are heroes.


Let me introduce you to Brian Talyor, a member of Los Angeles Police Department. He has a hobby, record everything he had on his activity as police. Revealed a murder, chased a drug syndicate, or saved a baby from burnt house, he passed it clearly and record it as well. The footage from this guy, is what we saw along film. But not only a picture from his camera, video from his colleague is shown too. Michael Zavala, is his mate. Those police, has to fight with a lawbreaker with their revenge. But then one thing I impress from their action is, integrity. Although it was out of my expectation, I was satisfied enough.

Dua poster baru di belakang pintu. Masih ada poster film gravity tapi bingung mau ditempel di mana. Poster fury itu di belakangnya interstellar. Bingung mau pilih mana. Akhirnya pilih fury karena karakter brad pitt di film itu menginspirasi. Hehe #poster

It was in the end of 2014. There was a new movie titled Fury. Came along with Interstellar, I have found Fury is an important war movie to watch. I saw that one in Makassar, when I was on a reporting duty. This movie was nice. It was told about a tank squad whom tried to survive among the war against Nazi. The team leader shown a strong character. It was Brad Pitt. He insist his team member to be brave to fight against the more modern tank. He was trained his new team member that hasn’t been at war before, how to survive. And once again, I was impressed by integrity they shown on the movie.

So what’s another same thing from those two? It was the director, David Ayer. One of my favourite movie reviewer told that there are one important movie that we have to watch if we like Fury. It was End of Watch. But although End of Watch is not as good as Fury, spent time on those two movie is remained a unique impression. Strong characteristics. That’s another red line that I saw on those David Ayer’s work. Well, maybe I lost one or two another things that make us learn from those movies. So, why don’t you help to find another one? Go watch it!

Selasa, 03 Februari 2015

Sheila On 7 dan Nostalgia Tentang Fanatisme

Dari tempat inilah kisah ini bermula. Di sebuah tempat reparasi alat elektronik harapan saya berlabuh. Semoga sebuah walkman SONY yang dibeli 14-an tahu lalu itu bisa diperbaiki. Saya ingin merasakan sensasi itu lagi. Sensasi menikmati musik sebagai sebuah album. Kala itu tahun 2000. Saya kelas 5 SD. Teman sekelas saya memperkenalkan musik yang kemudian mengalahkan potensi fanatisme saya ke klub sepak bola Liverpool. Maksudnya gini. Rasanya periode usia ketika itu adalah masa saat kita mengenal sesuatu, menyukainya, lalu mengidolakannya, dan belajar tentang fanatisme. Saat itu kesukaan saya ada dua, main bola dan musik. Di kamar saya waktu itu ada poster full team Liverpool, ada Zinedine Zidane, ada Robbie Fowler, selain poster Sheila On 7 yang jumlahnya lebih banyak. Haha. 


Kaset pertama yang saya beli adalah album Kisah Klasik Untuk Masa Depan-nya Sheila On 7. Saat itu saya sampai belajar gitar dari lagu Tunggu Aku di Jakarta. Bahkan waktu majalah Fantasi rilis edisi khusus Sheila On 7, saya memaksakan beli ke pasar yang relative jauh lah dari sekolah dan rumah. Luar biasa, konyolnya. Hahahaha. Singkat cerita, saya kemudian minta dibelikan album pertama Sheila On 7, dapetnya CD. Saya pikir saat itu “wah ini pasti semua lagu ada video klipnya nih”. Eh, ternyata semua cuma suaranya. Yaiyalah. Hahaha. CD itu kemudian hilang dipinjam teman waktu SMP. Dia mengganti debut album band asal Jogja itu dengan kaset. Tanggal 7 Desember 2002 album 07 Des rilis, saya beli juga. Tiga album itu kemudian menemani masa peralihan saya dari bocah ke remaja. Dan seperti layaknya album dan musik lain, Sheila On 7 adalah penanda momen. Tiap lagu dan album punya kisahnya tersendiri. Nah begitu Sheila On 7 buat album OST 30 Hari Mencari Cinta, hubungan kami mulai longgar, saya cuma cukup tahu saja waktu itu sama lagu-lagunya. Meskipun gak bisa dipungkiri juga, album itu memang bagus. Versi rekam ulang lagu lama lebih enak. Saya paling suka lagu Untuk Perempuan. 

Tahun berganti, Anton keluar, Sakti jadi ustad, Linkin Park naik daun, saya kenal Slipknot. Ada buku musik MBS (Musik Book Selection), saya lalu tahu Silverchair, lalu Kurt Cobain, dan lain-lain. Sheila On 7 perlahan terlupakan. Akhir masa SMP sampai awal masuk SMA, saya benar-benar punya selera musik baru. Singkat cerita tibalah kita di era ketika kaset sudah jadi barang yang tidak populer. Saya dan Charlen, teman sekantor, suatu hari terlibat dalam sebuah pembicaraan ringan. Kami mengobrol tentang Sheila On 7, band yang pernah saya idolakan dan Charlen idolakan sampai sekarang. Saya dan Charlen ketika itu begitu bersemangat mengomentari album pertama yang kesannya begitu meledak-ledak, anak muda pemberontak banget tapi ada sisi bijak dan rapuhnya. Lihat lirik lagu Bobrok misalnya, lalu tengok Perhatikan Rani, terus Berai, Dan, serta Terlintas Dua Kata. Lalu di album kedua mereka lebih personal. Lagu macam Sephia, Sahabat Sejati, Kisah Klasik Untuk Masa Depan, rasanya begitu berpusat pada seseorang dengan kehidupannya. Di album 07 Des, Sheila On 7 hadir dalam artwork yang rasanya musiknya banget. Kesannya teduh dan megah. Sebuah payung melindungi bola dunia yang berbunga. Ciri yang paling khas di album ini adalah suara orkestra. Meskipun suara benda gesek bukan hal asing (di lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki ada sesi orkestra juga), tetap album 07 Des rasanya beda dengan si album cikal. Album berikutnya, saya angkat tangan. Gak ngikutin banget soalnya. Charlen justru mengidolakan album Pejantan Tangguh. Iya sih beberapa lagu memang keren di album itu, macam Khaylila’s Song, Itu Aku, Pemuja Rahasia. Tapi saat itu saya malah khusyuk dengerin Pejantan Tambun-nya Endank Soekamti. Haha. 

Saya lalu pingin tahu gimana album teranyar mereka rasanya. Musim Yang Baik adalah album ke-8 Sheila On 7 sekaligus album terakhir mereka bersama Sony Musik yang membesarkan mereka sejak penghujung millennium ke-20. Jadi, album ini pasti spesial. Ini album penanda zaman. Charlen bilang sih bagus-bagus aja. Dia sendiri seingat saya sulit menggambarkan segimana bagus album ini. Pokoknya bagus. Haha. Nah lalu saya terpikir buat beli kaset album Musim Yang Baik dan perbaiki Walkman. Malangnya, si Walkman rusak total dinamonya. Gak ada lagi pabrik Sony di Indonesia. Beli baru? Males mending jajan yang lain. Wasalam lah intinya sama perkasetan. Artinya saya juga gak bisa menikmati Sheila On 7 sebagaimana ia dulu saya kenal pertama kali. Tapiiii, sebuah kejutan tiba. Dalam acara perayaan tiga tahun JDP 7 Metro TV, saya beruntung dapat hadiah yang paling menggambarkan Charlen. Apa yang paling Charlen banget? Apa lagi kalau bukan Sheila On 7? Dan di sinilah saya sekarang, dilatarsuarai lagu Belum ketika menulis ini. Tentu saja itu dari album Musik Yang Baik, album yang beberapa waktu lalu saya ingin miliki, tapi tertunda karena saya lebih milih beli dua CD lain duluan. Hehe.




Gimana rasanya Musim Yang Baik? Charlen gak salah. Bagus. Keren. Album ini tetep Sheila On 7 banget. Secara keseluruhan memang suara gitarnya lebih tipis karena cuma Eross yang ngisi. Tapi bukan berarti itu jelek. Justru Eross jenius karena menggunakan efek gitar crunch yang beridentitas blues di musik pop rock. Lagu-lagunya punya suasana beda-beda sih. Saya belum begitu mengenali sebuah lagu sehingga bisa tahu judul lagunya. Tapi memang tiap titel khas sih. Misalnya lagu Musim Yang Baik itu kayak lagu Cemburu-nya Dewa di album Bintang Lima, atau kayak lagu Saat Aku Lanjut Usia-nya Sheila On 7 di album 07 Des. Lagu Lapang Dada memang cocok jadi single utama. Saya pertama kali riset tentang album ini, dapetnya lagu bervideo klip pernikahan ini. Yang juga unik dari album SO7 ini, adalah lagu penutup yang benar-benar bernada menutup. Lagu Sampai Jumpa di album Musim Yang Baik ini punya nyawa serupa Selamat Tidur di album Kisah Klasik… dan Saat yang Tepat Tuk Berpisah di 07 Des. 

Soal pengemasan album, saya juga harus sematkan pujian khusus. Sebelum kocokan hadiah di acara JDP 7 tadi, saya lagi baca majalah Rolling Stone edisi Januari 2015. Ada wawancara vokalisnya FSTVLST, Farid Stevy Asta, yang juga bikin desain sampul album Musim Yang Baik. Duh saya makin penasaran dan takjub. Unik aja gitu, Sheila On 7 selalu ngajak seniman dari tempat mereka lahir di dua album terakhir buat bikin desain sampul. Album Berlayar, dibuat oleh Wok The Rock, si empunya Yes No Wave Records, netlabel berciri khas musik eksperimental dari Jogja. Di album Berlayar, seniman bernama asli Woto Wibowo itu menghadirkan lagi seni kruistik yang belakangan ini rasanya kurang popular. Nah di album ini, Farid menggambarkan Musim Yang Baik dengan bunga sepatu yang bermekaran. Desain kertas liriknya juga unik. Mereka disebar per lembar. Maka dengan lembaran lirik ini, sebenarnya cover si album juga bisa berubah bergantung ikon lirik mana yang kamu simpan di tumpukan terdepan dan nongol di lingkaran di halaman bungkus si CD. Ini kayak albumnya Escape-nya Endah N Rhesa yang juga bisa ganti, antara yang bernuansa siang, atau nuansa malam.
Akhirul kalam, di daftar putar saya sekarang ini, deretan lagu dari album Musim Yang Baik berjejer bersama lagu-lagu album Destinasi Empat-nya Sentimental Moods dan Profanatik-nya DeadSquad yang baru saya beli. Jadi, tanpa walkman dan kaset pun bisa aja sih kita menikmati sebuah musik per album. Justru inilah saatnya untuk membuat penanda momen baru, dengan cara menikmati yang juga beda. []

Senin, 31 Maret 2014

Ada Sesuatu di Something In The Way



"Ini bukan film tentang pornografi. Ini tentang orang yang berhubungan dengan pornografi," kira-kira demikian jawaban Teddy Soeriaatmaja ketika ditanya apa filmnya identik dengan tren film Indonesia yang katanya selalu berbumbu seks dan komedi. Penjelasan Teddy yang bernada tegas beralasan karena memang filmnya yang barusan diputar tidak demikian. Seri kedua trilogi kehidupan masyarakat urban Jakarta itu kini hadir lagi dengan judul Something In The Way.


Something In The Way berkisah tentang seorang sopir taksi bernama Ahmad (Reza Rahadian) yang hobinya bermasturbasi. Ia lakukan itu ketika menunggu penumpang, ketika sendirian di rumah susunnya, ketika di kamar mandi, hampir dimana-mana. Tapi, Ahmad ini relijius juga. Dia solat. Siang hari sebelum cari penumpang ketika malam, Ahmad menghadiri ceramah di masjid. "Film ini tentang kita yang kadang rajin pergi ke mesjid, ke gereja, ke tempat ibadah, tapi juga tetap melakukan dosa," Teddy menggambarkan di sebuah sesi tanya jawab.


Konflik dalam film ini muncul setelah Ahmad mengenal dan jatuh cinta dengan Kinar, seorang pekerja seks komersial yang ternyata tetangganya. Namun Kinar terganggu dengan cara Ahmad menunjukkan yang perasaannya. Ahmad dinilai mengusik profesi yang telah ia jalani selama 13 tahun. Ada tiga bab yang menjadi jeda sekian detik di film ini. Ketiganya berdasarkan fluktuasi interaksi Ahmad dan Kinar.


Something In The Way adalah film kedua Teddy yang digarap bukan berdasarkan pesanan. Biasanya putra mantan duta besar Indonesia di Austria ini jadi sutradara "sewaan". Setelah kenyang mengolah Banyu Biru (2005), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007) hingga Rumah Maida (2009), Teddy menempuh jalur lain ketika menggarap Lovely Man (2011). Lovely Man kemudian mengantarkan Donny Damara, aktor utamanya, menyabet gelar aktor terbaik dalam gelaran Asian Films Awards. Film ini juga diganjar penghargaan Best Director dan Best Film di Festival Film Palm Spring AS.


Nasib serupa dialami Reza Rahadian. Berkat membintangi film Something In The Way, ia menjadi aktor terbaik versi majalah Tempo tahun 2013. Predikat yang diraih Reza memang setimpal dengan yang ia tunjukan di film berdurasi hampir 90 ini. Sosok Ahmad dalam tubuh Reza terlihat sedemikian kikuk, canggung, sekaligus emosional di saat lain. Kata Teddy sang sutradara, Reza terpilih karena permainan memukaunya di film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta.


Donny Damara hadir lagi di Something In The Way. Meski belum menonton film Lovely Man, kehadiran Donny saya rasa bisa mendistraksi sosoknya yang digambarkan berbeda di film pertama. Teddy berargumen pemilihan Donny karena ia dinilai pantas memerankan tokoh itu. Demikianlah Teddy bergaya memainkan "instrumen" dalam filmnya. Suka tidak suka itulah dia. Saya juga harus maklum ketika tokoh Pinem selalu tampil sedang menyantap mie, sehingga terkesan dia makan mie tiap waktu. Sang sutradara mengaku sadar dan memang itu yang ia ingin perlihatkan. Apapun itu, gagasan Teddy menampilkan kisah dan mendramatisasinya tetap memikat. Something In The Way saat saya menyaksikannya di Galeri Indonesia Kaya Sabtu (23/3) lalu, belum ditayangkan di bioskop Indonesia manapun. Makanya tak heran sang sutradara meminta penonton menitipkan semua ponsel dan alat rekam saat menyaksikan film itu. Jadi kapan filmnya tayang di bioskop? Entahlah, saya lupa nanya. Hehe. []

* Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di blog Can I Say Magazine

Brutalitas The Raid 2: Berandal

Di sebuah pematang perkebunan tebu, suatu sore, dengan langit kelabu pekat. Sebuah lubang kubur terbuka menganga, siap menyambut penghuni barunya, Andi (Donny Alamsyah). Dengan tangan terikat, ia diseret orang-orang Bejo (Alex Abbad), seorang bos mafia berkacamata hitam dengan kaki pincang. Andi dan Bejo kemudian saling lempar kata, sebelum sebuah hal mengejutkan terjadi. Demikian The Raid 2: Berandal memulai kisah.



Beberapa saat setelah mereka berpisah, Andi dan Rama (Iko Uwais) meniti kisah masing-masing. Rama mengikuti saran kakaknya Andi untuk menemui seorang polisi bersih, Bunawar (Cok Simbara). Disodori bukti kejahatan, Bunawar pesimistis. Ia tawarkan Rama sebuah peran: menyusup ke dalam organisasi mafia penguasa kota yang ada di belakang para polisi korup. Telanjur basah, Rama terima tantangan itu. Namanya kini Yuda. Di dalam sebuah penjara kemudian ia ada. Misinya, masuk organisasi mafia melalui anak pemimpinnya bernama Uco (Arifin Putra). Uco di dalam penjara mencari pengakuan. Ia sedang diproyeksikan mengganti Bangun (Tio Pakusadewo), ayahnya yang menguasai seperdua wilayah kota. Separuh lainnya dikuasai mafia pimpinan Goto (Kenichi Endo). Goto dan Bangun hidup harmonis dengan jatah wilayah masing-masing. Bejo, yang belum punya wilayah kekuasaan, berusaha memecah keduanya. Perebutan wilayah kekuasaan antar kelompok mafia itulah garis merah film ini.

Liku perebutan kekuasaan kelompok mafia dalam The Raid 2: Berandal, diwarnai drama serta audio visual yang brutal, kelam, sadis, sekaligus indah. Ada banyak "subjudul" pertempuran di dalamnya, sebut saja yang pertama dihadirkan, perkelahian di lapangan berlumpur penjara. Itu baru satu hal. Masih ada adegan adu jotos di dalam mobil yang sedang melaju, kejar-kejaran di jalan, hingga pembantaian oleh tokoh-tokoh dengan karakternya yang khas.



Penokohan yang kuat dalam film ini memperkuat kesan komikal The Raid 2. Dalam wawancaranya di majalah Tempo, sutradara Gareth Evans mengakui niatnya meng-komik-kan Jakarta. Kota dalam film ini adalah antah-berantah. Meski kita bisa mengenali kawasan Blok M, atau sekitaran Distrik Pusat Bisnis Sudirman (SCBD) Jakarta, kita bakal dikecoh ketika melihat kota yang sama bersalju. Diakui Gareth ketika menghadiri midnight show di Blitz Megaplex Grand Indonesia Sabtu (23/3) lalu, tujuannya mendinginkan Jakarta agar mendukung suasana seorang tokoh Prakoso. Sebagai Prakoso inilah Yayan Ruhiyan kini tampil. Berambut panjang terurai berantakan dan berlaga seperti gelandangan, anehnya Koso beristri cantik, seorang anonim yang diperankan Marsha Timothy. Meski tak terlalu banyak scene yang menghadirkan Koso, toh penggambaran watak ayah rindu anak itu demikian jelas. Kekuatan watak itu juga terjadi di tokoh lain. Semua hadir dengan ciri khasnya masing-masing. Bejo si anak tukang sapu jalan yang jadi bos mafia, si pria dengan stik base ball yang dengan senyum meminta bola ke musuhnya (Very Tri Yulisman), si wanita bisu bermartil dua yang ternyata kekanakan (Julie Estelle), si pria minang pendiam dengan sepasang karimbit di tangan (Cecep Arif Rahman), dan Eka (Oka Antara) si tangan kanan Bangun. Tokoh-tokoh tersebut adalah kunci dalam setiap fragmen adegan menarik dalam The Raid 2.

Film berdurasi lebih dari dua jam ini menyisakan sebuah adegan misterius di akhir. Sebuah saat ketika satu pembicaraan ditutupi musik latar yang merepetisi. Detik-detik "yang hilang" itulah jabang bayi The Raid 3. "Jika The Raid 2 berawal kisah beberapa jam setelah pertempuran di gedung, maka The Raid 3 akan menceritakan beberapa saat sebelum adegan terakhir terjadi," begitu kira-kira Gareth menjelaskan. Katanya sih sudah rampung. Saya berharap memang demikian. Semoga tak perlu menunggu bertahun-tahun buat bisa menyaksikan yang ketiga. []

* Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di blog Can I Say Magazine

Minggu, 16 Maret 2014

300: Rise of an Empire


Menyaksikan film 300: Rise of an Empire, seakan memasuki mimpi buruk. Yunani kala itu begitu suram. Ditambah suasana invasi kerajaan Persia dan tumpahan darah perangnya, film itu cukup kuat menghadirkan peradaban lampau yang menyeramkan. Saya sebenarnya ketinggalan 10 menit pertama. Tapi toh saya tetap bisa mengalir dalam alur cerita yang menjadi prekuel sekaligus sekuel film 300 itu. Dikisahkan kerajaan Persia pimpinan raja Xerxes ingin menginvasi Yunani, termasuk Athena dan Sparta. Sparta yang dikenal dengan manusia beringasnya seperti dikisahkan di film pertamanya yang keluar 2007, menyerang penjajah dengan 300 pasukan dan gagal karena pengkhianatan. Beda dengan film pertama yang fokus di para Spartan, kali ini film didominasi pertempuran orang Athena pimpinan Temistokles.

Temistokles adalah jenderal yang berhasil membunuh raja Darius, pimpinan Persia sebelum digantikan Xerxes. Ia memanah dari jarak jauh hingga Darius tewas. Dalam menghadapi invasi kedua Persia ke kotanya, Temistokles berhadapan dengan Artemisia, seorang panglima perang berdarah dingin yang menjadikan dendam pribadi sebagai motifnya menyerang Yunani. Artemisia sebenarnya orang Yunani, tapi keluarganya dibantai tentara sipil. Ia pun tumbuh bersama dendam, setelah seorang Persia menyelamatkan dan melatihnya bertarung. Perang antara pasukan pimpinan Temistokles dan Artemisia inilah inti kisah Rise of an Empire.

Artemisia dan Temistokles banyak bertarung di laut. Pertempuran kedua armada pun menjadi daya tarik tersendiri di film ini. Bagaimana Temistokles berstrategi dengan armadanya, bagaimana kuat dan banyaknya tentara Artemisia, tergambar indah dalam banyak gerak lambat. Kemana para Sparta? Ada. Mereka menolak bergabung dengan Athena karena merasa Sparta adalah wilayah terpisah yang merdeka. Para orang Athena yang rata-rata petani dan pujangga, kemudian harus bertarung tanpa bantuan para manusia brutal dari Sparta. Mampukah mereka menghalau Artemisia dan rajanya Xerxes?
(rhezaardiansyah)