Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2015

Irma

Sepekan lalu saya bertugas di Makassar, meliput kisah tentang inovasi di bidang pelayanan kesehatan bernama telemedika. Di metropolitannya Indonesia timur itu, seorang pasien bisa mendapat pelayanan kesehatan dari dokter spesialis hanya dengan mengunjungi puskesmas. Cerita lengkapnya nanti saja kamu tonton di program 360 Metro TV. 

Dalam misi meliput telemedika itu, saya secara aneh berjumpa dengan beberapa Irma. Aneh sekaligus unik. Narasumber utama saya namanya Pak Idar. Dia punya asisten bernama Irma. Dengan Irma itulah saya berkomunikasi. Suatu ketika saya juga berjumpa dengan kepala dinas kesehatan kota, asistennya juga namanya Irma. Jadi ketika mau ketemu Pak Idar kesulitan ketemu Irma pertama karena ternyata berbeda dengan Irma kedua. 

Lain hari saya juga menjumpai kepala puskesmas yang namanya Irma. Ketika saya tanyakan ke seorang petugas di sana, dia bilang itu kebetulan aja. Bukan berarti Irma nama khas Makassar. 

Makassar tanpa ketika saya hampir mendarat



Tongkrongan gaul anak Makassar: tempat ngopi di pinggir pantai

Melintasi benteng rotterdam

Menunggu keberangkatan ke pulau seberang sambil gegambaran
Kesibukan di dermaga
Menggambar di atas kapal
Suasana sebuah siang di kedai kopi Phoo Nam. Kedai kopi ini terkenal. Kopinya enak
Sketsa lain. Di kantor dinas kesehatan kota

Ketika mengunjungi kantor Metro TV biro Makassar, hujan deras turun di luar. Ini penglihatan ketika hujan mulai reda
Yang berbaju putih itu Pak Amir, pengemudi mobil yang saya sewa untuk liputan. Dia selalu dikira seorang tionghoa, karena memang sipit, Padahal dia asli Sulawesi. Pria kelahiran 1955 ini tinggal berdua dengan istrinya. Mereka tidak punya anak.
Pagi ketika saya hendak kembali ke Jakarta melalui bandara Sultan Hasanuddin

Rabu, 18 Februari 2015

Integrity Lesson


Ah finally, I’ve watched End of Watch. It’s the movie told about two cops spend their days recording the missions. The movie started with the dubbing sound told that this car chasing scene is like a daily activity, their great mission to stand for the law enforcement. It was a glimpse reminded me to a song All Cops Are Gods sang by Bars of Death, a hiphop squad from Bandung. The song ironically tell the bitter thruth about cops betrayal. How some cops are cruel, evilous and act as they are the law it self. Oops, they are gods, not only law. That what the song tells us. But then I’ve found that the cops in this movie, is not like that. The cops in End of Watch, are heroes.


Let me introduce you to Brian Talyor, a member of Los Angeles Police Department. He has a hobby, record everything he had on his activity as police. Revealed a murder, chased a drug syndicate, or saved a baby from burnt house, he passed it clearly and record it as well. The footage from this guy, is what we saw along film. But not only a picture from his camera, video from his colleague is shown too. Michael Zavala, is his mate. Those police, has to fight with a lawbreaker with their revenge. But then one thing I impress from their action is, integrity. Although it was out of my expectation, I was satisfied enough.

Dua poster baru di belakang pintu. Masih ada poster film gravity tapi bingung mau ditempel di mana. Poster fury itu di belakangnya interstellar. Bingung mau pilih mana. Akhirnya pilih fury karena karakter brad pitt di film itu menginspirasi. Hehe #poster

It was in the end of 2014. There was a new movie titled Fury. Came along with Interstellar, I have found Fury is an important war movie to watch. I saw that one in Makassar, when I was on a reporting duty. This movie was nice. It was told about a tank squad whom tried to survive among the war against Nazi. The team leader shown a strong character. It was Brad Pitt. He insist his team member to be brave to fight against the more modern tank. He was trained his new team member that hasn’t been at war before, how to survive. And once again, I was impressed by integrity they shown on the movie.

So what’s another same thing from those two? It was the director, David Ayer. One of my favourite movie reviewer told that there are one important movie that we have to watch if we like Fury. It was End of Watch. But although End of Watch is not as good as Fury, spent time on those two movie is remained a unique impression. Strong characteristics. That’s another red line that I saw on those David Ayer’s work. Well, maybe I lost one or two another things that make us learn from those movies. So, why don’t you help to find another one? Go watch it!

Rabu, 11 Februari 2015

Menikmati Pulau Tak Berpenghuni di Bolmut


Menuju Bolmut

Hamparan biru di balik jendela pesawat kini berbatas. Saya kemudian melihat atol yang melingkar. Ia lalu bergeser hilang. Posisinya di panggung yang tampak dari udara itu digantikan Gunung Manadotua dan Pulau Bunaken. Beberapa menit kemudian, saya menapak Bumi Kawanua, Manado. Inilah titik singgah pertama saya untuk menuju Pulau Bongkil, pulau terluar Indonesia di Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara (Bolmut). Kabar beredar, indahnya Bongkil bukan main-main. Posisinya yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi yang berbatasan dengan Filipina, membuat Bongkil perlu mendapat perhatian khusus. 

Enam jam perjalanan darat adalah menu pertama saya. Jarak 314 kilometer itu kami lalui di pesisir utara pulau Sulawesi. Untuk menuju Bolmut dari Manado, kita bisa menumpang bis. Ongkosnya sekitar 175 ribu rupiah per orang. Pilihan lainnya, kita juga bisa menyewa sebuah taksi gelap, demikian warga sekitar memberi nama. Taksi gelap yang dimaksud, tak lain adalah mobil carteran sekelas mini van. Yang unik dari tumpangan ini, kita dipatok harga beragam angka. Jika anda duduk di samping pak supir, tarifnya 100 ribu. Nominalnya menjadi 90 ribu jika Anda ada di baris kedua, dan 80 ribu untuk posisi bontot. Kalau anda sudah duduk nyaman, saatnya menikmati perjalanan.

Dua kabupaten akan dilewati dalam perjalanan menuju Bolaang Mongondow Utara atau Bolmut. Visualisasi beragam, juga akan kita jumpai saat melewati Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow sebelum tiba di Bolmut. Dari jalan berkelok yang diapit tebing dan jurang berujung laut, hingga bukit berpuncak tumpul yang diselimuti rumput lembut hijau, lengkap tersedia. Bukan tidak mungkin juga perjalanan Anda nanti diinterupsi kawanan sapi yang menjamah jalan raya. 

Ketika berada di Minahasa Selatan, saya sempat mampir ke sebuah kedai kopi. Kios Topas namanya. Tempat ini tidak terlihat layaknya kedai biasa. Ketika hanya melihatnya dari luar, saya sempat mengira ini toko sembako. Tapi coba Anda cicipi kopinya. Kopi susu yang saya pesan sudah berwarna cokelat di bagian atas cangkir. Susu kental manis terlihat mengendap di dasarnya. Setelah saya aduk dan cicipi, toples berisi gula di atas meja tak lagi berguna. Yang jadi perhatian saya di atas sana, cuma sebuah bakpau. Ini bukan sembarang bakpau. Bagian dalamnya berisi kacang hijau yang telah menghitam. Sebelum berada di pusat bakpau, si kacang hijau disangrai dulu, baru kemudian dilumatkan. Biapong namanya. 

Saya terjaga ketika langit sudah gelap. Pening dan mual masih sedikit tersisa, buah dari perjalanan berkelok empat jam terakhir. Kini kami sudah ada di kabupaten tujuan, tepatnya di Desa Sang Tembolang Kecamatan Sangko, Bolmut. Suara deburan ombak kemudian menyusup lembut dari bagian belakang kedai kopi sederhana kami singgahi. Suara lain dari seberang jalan adalah nyawa dari syahdunya malam di Tanah Minahasa itu, suara kolintang. 

Adalah Lasarus Lutia. Petani berusia 61 tahun inilah sosok di balik si bunyi kolintang. Ditemani sang anak, istri dan cucu, Lutia memainkan sejumlah lagu dengan alat musik buatannya. Dari Teluk Bayur, Anging Mamiri, hingga Halo-Halo Bandung, khatam dibunyikan dalam versi khas dengan tangannya yang dirambati urat. "Saya main kolintang ini untuk melupakan kesusahan," ujarnya spontan. Di pelataran rumah panggungnya yang tak luas, Lutia menunjukkan kolintangnya yang lain. Ada tujuh kolintang yang ia simpan, tujuh kolintang berbagai jenis yang biasa rampak dimainkan jika lengkap anak-anaknya sedang ada di rumah. Semua ia buat sendiri. "Dibuat dari kayu bintang kulit hitam," katanya membocorkan rahasia. Sebuah harmonika biasa ia gunakan buat menentukan nada dasar. Jika masih terasa sumbang, Lutia mengiris perlahan bagian belakang bilah kayu hingga nada dasar sempurna tercipta. Lutia mengaku tak jarang memainkan kolintang di gerejanya, meski sebenarnya ada perasaan malu. "Ini kaki-kakinya saja belum ada," ujarnya merasa kekurangan. Pesimisme pria asal Sangihe ini berubah menjadi ungkapan sumringah ketika saya menjabarkan kemungkinan jika kisahnya dipaparkan media. Harap di air muka Lutia berkata, "lestarikan kolintangku!"



Pulau Bongkil

Pasir putih atau bongkil. Demikian orang Buol memberi nama pulau itu dengan bahasanya. Pulau Bongkil berjarak sekitar 15 mil dari dermaga Boroko di Kecamatan Kaidipang, Bolmut. Sebelum 2012, Pulau Bongkil terdaftar milik Kabupaten Gorontalo Utara. Kini, Kabupaten Bolmut adalah yang bertanggung jawab atas pulau kecil terluar Indonesia itu. Gelar pulau kecil terluar tersemat di nama Pulau Bongkil karena ia berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi, batas antara Indonesia dan Filipina. Sayangnya potensi pulau tak berpenghuni ini belum maksimal dioptimalkan. 

Kapal berkekuatan 150 tenaga kuda yang saya tumpangi, tiba di muka pulau. Belum ada perjalanan kapal rutin ke Pulau Bongkil. Kali itu saya menumpang kapal patroli polisi laut. Selain menumpang (kapal patroli atau kapal nelayan), menyewa kapal seharga sekitar 400 ribu rupiah per hari juga bisa kita lakukan. Singkat cerita kami kemudian sudah tiba. Sebuah kerangka dermaga berbahan kayu berdiri ringkih tak bisa digunakan. Beruntung ada seorang nelayan yang baru saja akan  bertolak dari Pulau Bongkil. Atas bantuannya, kami pun berlabuh. Di pulau tak berpenduduk itu, ada sebuah bangunan yang biasa digunakan para nelayan untuk beristirahat. Bangunan serupa rumah ini penuh goresan vandal. Dengan kaca jendela pecah dan pintu tak berdaun, nelayan atau siapa pun yang memanfaatkan tempat ini tentu tak akan nyaman. Belum lagi tak berfungsinya sebuah mercusuar. Dengan tinggi sekitar sepuluh meter, ia tak punya sumber penerangan. Padahal peran lampu mercusuar penting sebagai penanda pulau di kala malam, dan petunjuk bagi pelaut yang berlayar ketika langit gelap. 

Ada satu hal lagi yang terlewat dari pulau landai yang habis dikitari selama kurang dari setengah jam ini: bendera. Tak ada Sang Saka Merah Putih di Pulau Bongkil. Meski ada prasasti yang ditinggalkan sebagai oleh-oleh survey pada tahun 2011, keberadaan bendera tentu akan mempertegas kepemilikan pulau ini. Pemerintah setempat berjanji segera mengibarkannya di sana. Ancaman lain yang dihadapi Bongkil dan perairan di sekitarnya, adalah kerusakan ekosistem akibat penangkapan ikan dengan bahan peledak. Polisi air yang bertugas pun tak bisa banyak berbuat. Kekurangan alat pertahanan dan personil malah membuat mereka terancam dibom para nelayan nakal itu. “Karena mereka takut ditangkap jadi untuk melakukan pengejaran kita gak bisa karena keterbatasan BBM,” ujar Brigadir Ari Wibowo, salah seorang personil polisi air.

Di tengah kerentanan yang melingkupi Pulau Bongkil, tak bisa dipungkiri bahwa kalau jadi tempat wisata, pulau ini punya potensi. Jika saat itu waktu saya masih cukup banyak, berkemah tentu akan sangat menyenangkan. Selain pesisirnya yang fotogenik, dangkalnya laut di sekitar pulau dan tenangnya gelombang, menggoda saya untuk membasahi diri. Maka jika Anda mengunjungi Pulau Bongkil, masukkan satu kata ini ke dalam daftar hal yang wajib dilakukan: berenang. []

Perjalanan menuju Bolaang Mongondow dari Manado

Pelabuhan Boroko

Seorang penjual ikan menunggu kapal pengangkut ikan merapat

Rangka kapal di Dermaga Boroko

Sebuah pantai di Bolaang Mongondow
Matahari terbit di Dermaga Boroko
Kepiting berlarian di pantai
Saya setelah berenang ria di pantai pulau Bongkil
 
Nelayan mulai menjemput rezekinya

Perlahan mentari terlahir di Dermaga Boroko

Pulau Bongkil

Pulau Bongkil

Seorang nelayan sehabis singgah di Pulau Bongkil

Menara Pulau Bongkil
Sebuah kedai kopi di Amurang

Sebuah bukit di Bolaang Mongondow Utara
Bukit surganya hewan ternak
Suasana klasik di Amurang

Senin, 17 Maret 2014

Jalan-Jalan ke Bantaeng

Dokumentasi liputan saya ke Bantaeng yang tidak (mungkin) tayang 
di program Mata Najwa Metro TV

Selasa, 11 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Sebuah Kota dan Sejumlah Terobosan

Pantai Marina, salah satu destinasi wisata favorit di Bantaeng.
Awalnya berwisata di pantai ini berkonotasi negatif di mata warga Bantaeng.
Setelah diperbarui, Pantai Marina bahkan ramai oleh wisatawan dari luar Kabupaten Bantaeng
Pemkab Bantaeng punya sebuah kolam renang standar olimpiade dan kolam renang untuk anak.
Biaya masuknya cuma tiga ribu rupiah, sementara anak sekolah bisa bebas bermain di tempat ini tanpa dipungut bayaran.
Adalah Bantaeng. Julukannya Butta Toa, artinya kota tua. Bernama demikian karena kota ini sudah ada sejak 750an tahun lalu. Arsitektur khas era pemerintahan kolonial Belanda di sejumlah tempat, menegaskan impresi kota yang pernah menjadi afdeling atau ibu kota pemerintahan itu. Namun beberapa tahun lalu, pesona kota bersejarah ini sempat terkubur berbagai masalah. Banjir seringkali menyusul hujan yang mengguyur Bantaeng beberapa jam saja. Kala musim kemarau, kekeringan sudah niscaya. Disana dulu juga ada sebuah pantai yang tak terurus. Namun kini pantai itu malah jadi pusat aktivitas warganya. Inilah Bantaeng setelah tahun 2008. Setelah ia dipimpin bupati yang seorang akademisi.

Simak beberapa potongan kisah tentang Bantaeng yang saya temukan sendiri disana. Klik judul berikut untuk membaca reportase hal-hal menarik di Bumi Butta Toa:







Beragam masalah yang semula mengepung Bantaeng, perlahan mulai dihadapkan dengan solusinya masing-masing. Dari daerah langganan banjir, menjadi daerah tingkat dua langganan adipura. Rapor pembangunan yang dilihat dari data Badan Pusat Statistika (BPS) pun nampak membaik. Bantaeng kini bersiap menjadi metropolitan baru di sulatan Sulawesi pada 2018. Lima tahun setelah itu, Bantaeng menargetkan diri menjadi megapolitan. Kita tunggu. []


Rabu, 05 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Ketika Profesor Jadi Bupati


        Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang Bantaeng. Sebuah kabupaten si ujung selatan Sulawesi, yang kini terkenal berkat jasa bupatinya. Nama bupati kabupaten berjuluk Butta Toa atau tanah tua itu, mencuat ke publik setelah sejumlah tokoh intelektual menyodorkan 19 nama alternatif bakal calon presiden Indonesia. Diantara deretan nama dalam maklumat berjudul Komunike Bersama Peduli Indonesia itu, ada Nurdin Abdullah, bupati Kabupaten Bantaeng. Profesor bidang kehutanan di Universitas Hasanuddin itu bertengger bersama empat nama pemimpin daerah lain yang dinilai layak mengajukan diri memimpin negeri. Sebenarnya apa yang menarik dari sang profesor, hingga pamornya sedemikian melejit? Saya menyaksikan langsung bagaimana rakyat Bantaeng Sulawesi Selatan memandang bupatinya.


        Sore itu ia duduk di salah satu kursi ruang tamu rumah jabatan bupati Bantaeng. Setelan kemeja batik resmi masih ia kenakan. Padahal menurut seorang warga Bantaeng, sang bupati sering kali berbusana layaknya warga biasa. Rupanya Nurdin Abdullah baru tiba dari Pare-Pare. Disana ia menyerahkan bantuan mobil ambulans dari Ehime Toyota, perusahaan yang juga menyumbang sejumlah armada mobil dinas di Bantaeng. Terlihat tanpa lelah, ia meladeni saya yang bertanya sejumlah hal. 


         “Saya ini seperti bulan madu setiap hari. Kalau tugas luar kota ingin segera pulang, kangen istri,” ujarnya setelah mengenalkan Liestiaty Fachruddin, istrinya yang dinikahi ketika sang bupati berumur 21 tahun. 

Nurdin dibesarkan dalam gemblengan orang tua yang bersikap tegas. Sejak duduk di bangku SMP, Nurdin kecil sudah harus mencari uang sendiri. Ketika SMA bisa hidup dari usaha jual beli mobil bekas. Saat kuliah, ia menikahi anak rektornya dan menolak menikmati fasilitas mewah yang tersedia. Nurdin dan istrinya kemudian berangkat ke Jepang untuk sama-sama melanjutkan studi. Suami belajar ilmu pertanian, istrinya studi perikanan. Duet keilmuan keduanya ternyata cocok dengan kondisi alam Bantaeng, kampung halaman Liestiaty. Dalam sebuah kelakar, Nurdin berujar “saya yang urus darat, istri urus laut.”


Rekam jejak politik Nurdin bermula pada tahun 2008. Meski bukan politisi, namanya telah populer di kalangan warga Bantaeng. Kala itu ia maju sebagai bupati dengan mengantongi restu partai politik kecil nonparlemen. Hasilnya mengejutkan. Perolehan suaranya kala itu mencapai lebih dari 40 persen. Nurdin kemudian dilantik pada Agustus 2008. Kurang dari lima tahun periode kepemimpinan pertamanya, Bantaeng banyak berubah. 


Saat masa bakti pertamanya habis, Nurdin digempur warganya yang mendorong agar ia mencalonkan kembali menjadi bupati. Nurdin rasional, ketika itu ia tak punya “kendaraan“ untuk melenggang lagi menjadi bupati. Spontan seorang tukang becak yang datang menyatakan dukungan menawari becak miliknya untuk Nurdin jadikan “kendaraan”. Maka demikianlah seperti yang kita sama-sama tahu. Masa kepemimpinan Nurdin Abdullah yang kedua bergulir. Jika semula ia hanya dibekingi partai gurem, kini partai-partai besar menyatukan suara mendukung pencalonan Nurdin. Walhasil, lebih dari 80 persen suara ia raup di pemilihan periode kedua.


Keberhasilan Nurdin Abdullah menyulap Bantaeng akhirnya membalikkan hati seorang tokoh kubu oposisi. Seorang mantan kepala humas pemkab Bantaeng terdahulu, mengaku sebagai orang yang paling menentang kepemimpinan Bantaeng di bawah Nurdin Abdullah. Ia ragu dengan kapabilitas seorang pengajar—yang biasanya berhadapan dengan mahasiswa—untuk mengelola sebuah wilayah. Butuh waktu hampir dua tahun bagi sang oposisi untuk kemudian mengakui kebolehan bupatinya kini. Bantaeng berubah lebih baik.


Ketika di Jepang, Nurdin sempat membangun perusahaan pengolahan ikan tuna. Ia juga menjadi ketua Perhimpunan Mahasiswa Jepang pada 1991. Bisnis lain yang juga masih ia jalani hingga kini adalah pembuatan butsudan. Melalui PT Maruki International yang didirikannya, Nurdin memproduksi paket produk budaya khas Jepang berupa altar tempat penyimpanan abu hasil kremasi. Dengan bekal pengalaman studi dan wirausahanya di Jepang, Nurdin mengembangkan Bantaeng. Makanya tak heran, jika sejumlah hal berbau Jepang bisa dijumpai di Bantaeng.


Dalam mengelola Bantaeng, Nurdin punya sejumlah hal unik. Dengan kocek pribadinya, ia menghadiahkan staf untuk melakukan perjalanan studi ke Singapura dan Jepang. Disana mereka diperlihatkan langsung kepada tampilan kota idaman yang sesungguhnya. Hasilnya, penataan kota Bantaeng menjadi lebih mudah. Kesadaran warganya untuk menjaga kebersihan pun tumbuh. Di Bantaeng ada sebuah motor berbak terbuka yang bertugas memungut sampah apapun di jalan. Tempat sampah juga mudah ditemui di Bantaeng. Bagi warga Bantaeng, kebersihan adalah kebutuhan.


Selain pengelolaan sampah, program lain bupati yang dinilai progresif diantaranya adalah pembuatan Brigade Siaga Bencana, pembangunan bendungan, penataan pantai, hingga penerapan teknologi pertanian.  Hal-hal tersebut akan saya bahas dalam tulisan terpisah.