Tampilkan postingan dengan label bantaeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bantaeng. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Jalan-Jalan ke Bantaeng

Dokumentasi liputan saya ke Bantaeng yang tidak (mungkin) tayang 
di program Mata Najwa Metro TV

Selasa, 11 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Sebuah Kota dan Sejumlah Terobosan

Pantai Marina, salah satu destinasi wisata favorit di Bantaeng.
Awalnya berwisata di pantai ini berkonotasi negatif di mata warga Bantaeng.
Setelah diperbarui, Pantai Marina bahkan ramai oleh wisatawan dari luar Kabupaten Bantaeng
Pemkab Bantaeng punya sebuah kolam renang standar olimpiade dan kolam renang untuk anak.
Biaya masuknya cuma tiga ribu rupiah, sementara anak sekolah bisa bebas bermain di tempat ini tanpa dipungut bayaran.
Adalah Bantaeng. Julukannya Butta Toa, artinya kota tua. Bernama demikian karena kota ini sudah ada sejak 750an tahun lalu. Arsitektur khas era pemerintahan kolonial Belanda di sejumlah tempat, menegaskan impresi kota yang pernah menjadi afdeling atau ibu kota pemerintahan itu. Namun beberapa tahun lalu, pesona kota bersejarah ini sempat terkubur berbagai masalah. Banjir seringkali menyusul hujan yang mengguyur Bantaeng beberapa jam saja. Kala musim kemarau, kekeringan sudah niscaya. Disana dulu juga ada sebuah pantai yang tak terurus. Namun kini pantai itu malah jadi pusat aktivitas warganya. Inilah Bantaeng setelah tahun 2008. Setelah ia dipimpin bupati yang seorang akademisi.

Simak beberapa potongan kisah tentang Bantaeng yang saya temukan sendiri disana. Klik judul berikut untuk membaca reportase hal-hal menarik di Bumi Butta Toa:







Beragam masalah yang semula mengepung Bantaeng, perlahan mulai dihadapkan dengan solusinya masing-masing. Dari daerah langganan banjir, menjadi daerah tingkat dua langganan adipura. Rapor pembangunan yang dilihat dari data Badan Pusat Statistika (BPS) pun nampak membaik. Bantaeng kini bersiap menjadi metropolitan baru di sulatan Sulawesi pada 2018. Lima tahun setelah itu, Bantaeng menargetkan diri menjadi megapolitan. Kita tunggu. []


Pelajaran Dari Bantaeng: Teknologi di Atap Kabupaten

Dari atas perkebunan Kabupaten Bantaeng, garis pantai kabupaten terlihat jelas
                Meskipun luasnya cuma 0,63% provinsi Sulawesi Selatan, Bantaeng punya bentang alam lengkap. Dari gunung sampai pantai ada. Berdasarkan kondisi alam itulah pemerintah kabupaten Bantaeng merumuskan jurus pembangunan—membagi Bantaeng dalam klaster pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Pantai diprioritaskan menjadi kawasan wisata. Dataran rendah untuk pertanian bahan pangan pokok dan sedang disiapkan untuk menjadi area industri smelter atau pengolahan nikel. Sementara dataran tinggi, menjadi arena pertanian berbagai jenis komoditas, salah satunya daikong.

                Daikong adalah sayuran sejenis lobak yang berasal dari Jepang dan biasa digunakan untuk campuran sashimi. Di Bantaeng, daikong tumbuh subur. Umbi-umbian ini nantinya diekspor dan digunakan di restoran khas masakan Jepang. Selain daikong, di dataran tinggi Bantaeng juga tumbuh talas jepang. Talas ini dibiakkan dengan metode kultur jaringan. Laboratoriumnya pun tersedia diatas sana, lengkap dengan sejumlah tenaga profesional. Berbeda dengan talas lain, si talas jepang punya lebih dari satu umbi di bawah tanah. Selain talas dan daikong, perkebunan stroberi dan apel juga ada. Kalau stroberinya sedang berbuah, wisatawan bebas memetiknya dan membeli untuk dibawa pulang.

Tunas talas jepang di laboratorium Kabupaten Bantaeng
Salah satu bagian dari kebun dan laboratorium yang dikelola Pemkab Bantaeng
Bupati dan jajarannya berfoto bersama daikong yang baru dipanen

Pelajaran Dari Bantaeng: Bantaeng Kota Romantis

Anjungan Pantai Seruni
                Ya, Bantaeng juga bisa dibilang kota romantis. Pertama, disana ada sebuah ruang publik unik, namanya Pantai Seruni. Dulu, yang namanya Pantai Seruni adalah pantai yang jorok, bukan lagi kotor. Di sepanjang garis pantai, tiap pagi warga “jongkok” disana. Kala malam, tak ada yang berani melewati tempat itu. Selain berdekatan dengan lapas, ada sebuah pohon besar yang kata seorang warga, dihuni kuntilanak. Kalau kita lewat malam-malam di bawah pohon itu, katanya ada yang menaburkan pasir dari atas. Benarkah? Entah. Yang pasti, kini Pantai Seruni sudah jauh dari kisah kelam tadi.


Bayangkan, ada sebuah alun-alun kabupaten yang berbatasan langsung dengan laut. Di dekatnya ada sebuah anjungan serupa Pantai Losari di Makassar. Berdirilah disana pada sore hari. Maka gradasi warna langit yang terlihat dari sana, baru satu bagian keindahan. Lalu tengok sisi lain alun-alun tadi. Sebuah rumah sakit daerah berstandar internasional sedang dibangun. Tingginya delapan lantai. Bupati dan wakilnya (ketika saya wawancara) kompak menyebut gedung itu rumah sehat, bukan rumah sakit. Di sampingnya sebuah apartemen dibangun pemerintah kabupaten untuk dihuni para dokter yang bertugas disana. Dimana dokternya sekarang? Di Jepang. Mereka disiapkan untuk mengoperasikan peralatan medis berteknologi canggih. Sepulang dari Negeri Sakura yang berbarengan dengan rampungnya pembangunan gedung pada 2015 mendatang, sepuluh dokter tadi siap beraksi. Oh ya, semua gambaran indah tadi adalah visualisasi Pantai Seruni kini.

Keindahan Pantai Seruni belum habis disana. Ada balai atau tribun yang menghadap laut di alun-alun Pantai Seruni. Disana bupati biasa menerima tamu. Kalau tak ada tamu, wargalah yang menempati, karena di dekatnya, 200an kursi plastik berjejer teratur diduduki warga yang bercengkerama sambil menikmati sara’ba—minuman khas Bantaeng yang terbuat dari sari jahe. Kalau kamu ada disana ketika malam, sebuah odong-odong berhias lampu warna warni berkeliling di lintasannya yang beraspal mulus. Nah, jawaban dari kenapa tempat ini romantis, adalah karena setelah Pantai Seruni direnovasi, angka perceraian di Kabupaten Bantaeng terjun bebas. Tahun 2012 angka perceraian disana cuma 17 kasus. Bandingkan dengan angka rata-rata muncul di tahun-tahun sebelumnya yang menembus lebih dari 100 kasus perceraian. Pantai Seruni baru satu dari tiga pantai di Bantaeng yang dirombak total. Pantai Lamalaka disulap menjadi tempat makan yang berbatasan langsung dengan laut. Sementara Pantai Marina, cocok digunakan bermain ombak.

Alasan kedua romantisnya Kabupaten Bantaeng adalah hubungan harmonis rumah tangga para pejabat kabupaten. Bupati Nurdin menghimbau jajarannya untuk memeluk dan cium istri masing-masing sebelum berangkat kerja. Saran itu nampaknya dituruti para pejabat kabupaten, bahkan mungkin dicontoh warganya. Soalnya Sang Bupati sendiri memberi contoh. Di hadapan saya dan seorang kepala dinas, bupati tak segan merayu istrinya. Romantisme Bantaeng akan lebih terasa, jika kita berwisata kesana dengan orang yang cocok diajak beromantis ria. Hehe.

Kanan: Rumah Sakit Daerah Bantaeng yang sedang dibangun
Kios makanan di Pantai Seruni
Odong-odong berhias lampu mengitari alun-alun Pantai Seruni dan melewati lapas
Warga beraktifitas di Pantai Seruni sejak siang hari


Pelajaran Dari Bantaeng: Sepak Terjang Sebuah Brigade

Posko medis BSB kini tak hanya didatangi warga Bantaeng, tapi juga warga kabupaten tetangga.
Meski bukan warga setempat, mereka tetap dilayani.
Ambulans BSB yang di dalamnya terdapat peralatan medis lengkap.
Kejadian ibu melahirkan di dalam mobil ini cukup sering terjadi
Armada mobil pemadam kebakaran BSB Bantaeng.
Mobil terdepan bisa menjangkau titik api di ketinggian lantai 30
Revolusi pelayanan kesehatan bergulir di Bantaeng. Jika lazimnya orang sakit menghampiri balai pengobatan, maka di kaki paling selatan pulau Sulawesi itu, logika demikian dibalik. Warga yang merasa tidak sehat tinggal hubungi nomor 113. Selanjutnya mereka akan didatangi seperangkat alat dan tim medis yang siap melayani. Dokter dan tim medisnya akan menghampiri rumah dan memberi pengobatan. Jika tidak bisa ditangani dalam satu tindakan, si sakit akan dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Tentu dengan ambulans gratis yang ditunggangi tim itu. Ambulans yang ada di Bantaeng bukan ambulans biasa. Armada itu memfasilitasi tindakan medis semacam operasi di dalam kabinnya. Kejadian melahirkan di dalam mobil contohnya, bukan terjadi sekali-dua kali. Makanya, angka kematian ibu dan bayi menurun drastis setelah ada si kelompok siaga tadi. Tim yang selalu siap dengan panggilan warga tersebut menamakan diri Brigade Siaga Bencana.
                
Brigade Siaga Bencana atau BSB, membawahi pelayanan hal-hal darurat yang dialami warga. Tak hanya bidang kesehatan, peristiwa kebakaran pun akan diatasi dengan reaksi cepat oleh BSB melalui kontak telepon yang sama, 113. Ada kisah tentang seorang pemadam kebakaran di Kabupaten Bantaeng, namanya Bobi. Ayah dua anak ini pernah berkesempatan diberangkatkan ke Jepang oleh Bupati Bantaeng untuk belajar tentang profesi yang ia geluti. Sekembalinya ke kampung halaman, Bobi dihadapkan pada sebuah insiden kebakaran. Saatnya ia beraksi. Naas, ketika menjinakkan si jago merah, sebuah kecelakaan menyertai. Bobi tewas di tempat.

Kecelakaan yang dialami Bobi kemudian menjadi pelajaran berharga bagi satuan pemadam kebakaran Bantaeng. Kini, mereka dilengkapi dengan armada yang lebih baik. Salah satunya adalah mobil pemadam kebakaran yang didatangkan dari Jepang dan mampu mencapai titik api di ketinggian lantai ke-30. Padahal, di Bantaeng gedung tertinggi adalah RSUD. Itu pun cuma delapan lantai dan belum rampung dibangun. Rupanya mobil itu berguna ketika pada suatu saat, pasar terbakar dan titik api ada di bagian tengah. Tangga di mobil pemadam kebakaran kemudian dipasang horizontal untuk memadamkan si api.

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah (kanan) usai memberi makanan untuk Afgan, anak almarhum Bobi.
Saat ditanya cita-cita, Afgan mantap menjawab ingin menjadi pemadam kebakaran.
Pria berbatik hitam adalah Hidekazu Futagami, direktur Ehime Toyota.
Ia dan timnya berada di Bantaeng setelah memberi bantuan mobil ambulans.

Pelajaran Dari Bantaeng: Curhat ke Bupati


                “Jadi bupati itu enaknya cuma 30 persen, sisanya enak sekali,” kelakar Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah menirukan candaan tentang posisi bupati di daerahnya. Nyatanya, ia mengaku kata enak disana tidak ada. Dalam arti, menjadi bupati ternyata tak semudah itu. Profesor kehutanan lulusan Jepang itu harus langsung berhadapan dengan berbagai masalah di Bantaeng. Satu persatu, masalah itu lalu ia carikan solusi.

                Salah satu gaya memimpin Nurdin Abdullah yang ia praktikkan, adalah menemui warganya secara langsung. Bapak tiga anak ini setiap hari menerima kunjungan warga di kediaman pribadinya. Halaman belakang rumahnya ia set menjadi aula penerimaan tamu. Dari jam setengah enam hingga sembilan pagi, warga curhat ke bupati. Diantara mereka ada yang meminta jalan di sekitar rumah diperbaiki, ada yang minta dibantu dana untuk mas kawin, ada juga yang sekadar ingin mengucapkan terima kasih.

                Keterbukaan dengan warganya itu, diakui bupati ampuh membuat masalah warga tuntas. Ia tahu betul bahwa untuk mengetahui kondisi warga sebenarnya adalah dengan mendengar langsung dari mereka. Seorang tokoh masyarakat yang semula menentang kepemimpinan bupati pun akhirnya berbalik arah. Ia kini mengacungi jempol kepemimpinan bupati setelah merasakan sepak terjangnya. “Anak saya buka bengkel ojek. Sekarang sepi. Dulu warga itu naik ojek, sekarang mereka punya mobil sendiri karena jalan sudah bagus”, ujarnya mengulas sebuah fenomena di Bantaeng.


Seorang ibu saya wawancarai setelah ia mengadu ke bupati dan diajak sarapan oleh istri bupati. Si ibu mengadukan penerimaan PNS yang kurang memuaskan. Mendapat penjelasan dari bupati, ia akhirnya lega. Saya lalu bertanya, kenapa ia tidak berdemo. “Malu, kami kan pengajar. Kalau kami demo  nanti ditiru anak-anak”, ulasnya. Jawaban ibu tadi mengingatkan saya ke sindiran bupati yang bilang bahwa orang Indonesia itu gengsinya tinggi malunya sedikit. Nampaknya di Bantaeng tidak demikian.

Pelajaran Dari Bantaeng: Tak Ada Lagi Banjir Kala Hujan, Kering Ketika Kemarau


              Dalam sebuah video bertahun 2008, terlihat luapan air setinggi lutut orang dewasa. Siang itu Area pusat Kabupaten Bantaeng terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang nekat menerjang banjir. Kata seorang warga, banjir sudah menjadi langganan di Bantaeng. Itu sebelum dibangunnya bendungan. Pembangunan bendungan atau cek dam adalah program pertama bupati Nurdin Abdullah setelah ia dilantik pada Agustus 2008. Menariknya, bendungan itu adalah realisasi karya ilmiah sang bupati.

            Awalnya ia mendapat resintensi dari warga. Bagaimana tidak? Cek dam itu dibangun di daerah yang tidak dilewati aliran sungai besar. Sepintas orang bisa mengira bupati itu asal tunjuk lokasi saja. Satu lagi, cek dam dibangun ketika Indonesia terharu (dan takut) dengan tragedi Situ Gintung di Ciputat Jawa Barat. Ketika itu lebih dari 100 orang tewas terseret air yang semula dibendung. Warga Bantaeng tentu ogah kejadian itu berulang di rumahnya. Tapi toh bupati tetap melenggang dengan program cek damnya.

               Ternyata benar. Setelah cek dam rampung dibuat, banjir tak lagi akrab dengan Bantaeng. Yang dilakukan bupati dengan cek damnya, adalah membuat sungai buatan. Jika debit air di cekungan cek dam melebihi batas normal, air akan dialirkan ke saluran lain sehingga merata. Dengan cek dam itu, Bantaeng tak lagi kelebihan air saat hujan. Tidak juga kekurangan ketika kemarau.

Pelajaran Dari Bantaeng: Wisata Budaya di Bantaeng

Bantaeng dibekali sebuah warisan budaya berupa istana Kerajaan Gowa.
Istana berupa rumah panggun itu bernama Balla Lompoa. Tahun 1950an Bantaeng terakhir kali mengangkat raja.

Seorang kakek menghuni istana Balla Lompoa Bantaeng.
Ketika ditanya umur, ia mengaku lupa.


Seorang pemandu wisata menceritakan bahwa di dalam Balla Lompoa ada sebuah ruangan yang disakralkan.
Untuk menuju kesana ada sebuah tangga. Ada upacara khusus untuk bisa memasuki ruangan berisi
berbagai peninggalan kerajaan itu

Bung Karno pernah mengunjungi Bantaeng. Fotonya terpampang di dinding salah satu sisi Balla Lompoa

Balla Lompoa pernah dijadikan ruang perkantoran di era pemerintah kolonial Belanda.
Ruangan yang pernah menjadi kantor itu dibiarkan seperti semula.

Sebuah foto memperlihatkan para pejabat pemerintah kolonial Belanda berfoto di hadapan Balla Lompoa
Di Bantaeng juga ada sebuah mesjid yang dibangun sejak tahun 1885.
Hingga kini masih digunakan dan terawat dengan baik.

Menara mesjid tua

Bantaeng juga punya berbagai bangunan bergaya arsitektur kuno. Diantaranya mesjid yang terlihat dari Pantai Seruni ini.
Gedung pusat pemerintahan kabupatennya pun bergaya lama.


Rabu, 05 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Ketika Profesor Jadi Bupati


        Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang Bantaeng. Sebuah kabupaten si ujung selatan Sulawesi, yang kini terkenal berkat jasa bupatinya. Nama bupati kabupaten berjuluk Butta Toa atau tanah tua itu, mencuat ke publik setelah sejumlah tokoh intelektual menyodorkan 19 nama alternatif bakal calon presiden Indonesia. Diantara deretan nama dalam maklumat berjudul Komunike Bersama Peduli Indonesia itu, ada Nurdin Abdullah, bupati Kabupaten Bantaeng. Profesor bidang kehutanan di Universitas Hasanuddin itu bertengger bersama empat nama pemimpin daerah lain yang dinilai layak mengajukan diri memimpin negeri. Sebenarnya apa yang menarik dari sang profesor, hingga pamornya sedemikian melejit? Saya menyaksikan langsung bagaimana rakyat Bantaeng Sulawesi Selatan memandang bupatinya.


        Sore itu ia duduk di salah satu kursi ruang tamu rumah jabatan bupati Bantaeng. Setelan kemeja batik resmi masih ia kenakan. Padahal menurut seorang warga Bantaeng, sang bupati sering kali berbusana layaknya warga biasa. Rupanya Nurdin Abdullah baru tiba dari Pare-Pare. Disana ia menyerahkan bantuan mobil ambulans dari Ehime Toyota, perusahaan yang juga menyumbang sejumlah armada mobil dinas di Bantaeng. Terlihat tanpa lelah, ia meladeni saya yang bertanya sejumlah hal. 


         “Saya ini seperti bulan madu setiap hari. Kalau tugas luar kota ingin segera pulang, kangen istri,” ujarnya setelah mengenalkan Liestiaty Fachruddin, istrinya yang dinikahi ketika sang bupati berumur 21 tahun. 

Nurdin dibesarkan dalam gemblengan orang tua yang bersikap tegas. Sejak duduk di bangku SMP, Nurdin kecil sudah harus mencari uang sendiri. Ketika SMA bisa hidup dari usaha jual beli mobil bekas. Saat kuliah, ia menikahi anak rektornya dan menolak menikmati fasilitas mewah yang tersedia. Nurdin dan istrinya kemudian berangkat ke Jepang untuk sama-sama melanjutkan studi. Suami belajar ilmu pertanian, istrinya studi perikanan. Duet keilmuan keduanya ternyata cocok dengan kondisi alam Bantaeng, kampung halaman Liestiaty. Dalam sebuah kelakar, Nurdin berujar “saya yang urus darat, istri urus laut.”


Rekam jejak politik Nurdin bermula pada tahun 2008. Meski bukan politisi, namanya telah populer di kalangan warga Bantaeng. Kala itu ia maju sebagai bupati dengan mengantongi restu partai politik kecil nonparlemen. Hasilnya mengejutkan. Perolehan suaranya kala itu mencapai lebih dari 40 persen. Nurdin kemudian dilantik pada Agustus 2008. Kurang dari lima tahun periode kepemimpinan pertamanya, Bantaeng banyak berubah. 


Saat masa bakti pertamanya habis, Nurdin digempur warganya yang mendorong agar ia mencalonkan kembali menjadi bupati. Nurdin rasional, ketika itu ia tak punya “kendaraan“ untuk melenggang lagi menjadi bupati. Spontan seorang tukang becak yang datang menyatakan dukungan menawari becak miliknya untuk Nurdin jadikan “kendaraan”. Maka demikianlah seperti yang kita sama-sama tahu. Masa kepemimpinan Nurdin Abdullah yang kedua bergulir. Jika semula ia hanya dibekingi partai gurem, kini partai-partai besar menyatukan suara mendukung pencalonan Nurdin. Walhasil, lebih dari 80 persen suara ia raup di pemilihan periode kedua.


Keberhasilan Nurdin Abdullah menyulap Bantaeng akhirnya membalikkan hati seorang tokoh kubu oposisi. Seorang mantan kepala humas pemkab Bantaeng terdahulu, mengaku sebagai orang yang paling menentang kepemimpinan Bantaeng di bawah Nurdin Abdullah. Ia ragu dengan kapabilitas seorang pengajar—yang biasanya berhadapan dengan mahasiswa—untuk mengelola sebuah wilayah. Butuh waktu hampir dua tahun bagi sang oposisi untuk kemudian mengakui kebolehan bupatinya kini. Bantaeng berubah lebih baik.


Ketika di Jepang, Nurdin sempat membangun perusahaan pengolahan ikan tuna. Ia juga menjadi ketua Perhimpunan Mahasiswa Jepang pada 1991. Bisnis lain yang juga masih ia jalani hingga kini adalah pembuatan butsudan. Melalui PT Maruki International yang didirikannya, Nurdin memproduksi paket produk budaya khas Jepang berupa altar tempat penyimpanan abu hasil kremasi. Dengan bekal pengalaman studi dan wirausahanya di Jepang, Nurdin mengembangkan Bantaeng. Makanya tak heran, jika sejumlah hal berbau Jepang bisa dijumpai di Bantaeng.


Dalam mengelola Bantaeng, Nurdin punya sejumlah hal unik. Dengan kocek pribadinya, ia menghadiahkan staf untuk melakukan perjalanan studi ke Singapura dan Jepang. Disana mereka diperlihatkan langsung kepada tampilan kota idaman yang sesungguhnya. Hasilnya, penataan kota Bantaeng menjadi lebih mudah. Kesadaran warganya untuk menjaga kebersihan pun tumbuh. Di Bantaeng ada sebuah motor berbak terbuka yang bertugas memungut sampah apapun di jalan. Tempat sampah juga mudah ditemui di Bantaeng. Bagi warga Bantaeng, kebersihan adalah kebutuhan.


Selain pengelolaan sampah, program lain bupati yang dinilai progresif diantaranya adalah pembuatan Brigade Siaga Bencana, pembangunan bendungan, penataan pantai, hingga penerapan teknologi pertanian.  Hal-hal tersebut akan saya bahas dalam tulisan terpisah.