Target saya tahun ini adalah mendaki 3 gunung di kabupaten garut: Guntur, papandayan dan cikuray. Tapi hingga setengah tahun berlalu, belum satu pun dari trio itu yang saya daki. Akhirnya menjelang bulan puasa, saya mengakali agar setidaknya saya tetap naik gunung. Naik bukit lah.
Maka sehari sebelum berpuasa, saya mengunjungi tebing keraton di Bandung, Jawa Barat. Agar sensasi naik gunungnya tetap ada, saya menuju ke sana tidak dengan kendaraan. Motor yang saya tumpangi bersama ayah dari simpang dago, diparkir di gerbang masuk taman hutan raya juanda (THR Juanda). Dari sanalah kemudian kami menempuh jalan yang banyak menanjak sejauh lima kilometer dengan lari dan jalan kaki. Mulai meninggalkan gerbang THR jam setengah 6, satu setengah jam kemudian kami baru nyampe lokasi. Hahaha. Padahal kalo naik kendaraan cukup 20 menit saja waktu tempuhnya.
Di tembok ini banyak graffiti. Bandung memang kota seni
Jalannya sepi. Mungkin karena tengah minggu juga ya. Sesekali ada motor mendahului kami, angkot carteran juga. Ada juga pesepeda dan pejalan lain yang mau ke tebing keraton juga.
Sepanjang jalan kita akan disuguhi suasana tenteram perkebunan. Ini kebun ada setelah kita melewati warung bandrek. Warung bandrek ada titik penting dalam perjalanan kita ke Tebing Keraton, karena ini tempat peristirahatan yang lokasinya sekitar 1,8 km dari garis finish. Warung ini berupa warung sederhana berbahan dominan kayu. Awalnya saya nggak tahu bahwa nama tempat itu warung bandrek. Saya tahunya pas lagi ngobrol bebas sama seorang penjaga parkir motor pas mau pulang. Padahal saya dan bapak dua kali istirahat di sana, dan sempat nyobain bandreknya yang memang enak. Bandrek yang hangat pedas dan menyegarkan itu diberi serutan kelapa dan kolang kaling.
Motif penanaman di kebun membuat lahan pertanian terlihat seperti kue lapis.
Inilah suasana perkampungan yang saya lewati.
Tanpa masuk ke area berbayar di kawasan hutan lindung, kita pun bisa menikmati pemandangan indah yang juga disajikan dari tebing keraton.
Setelah membayar uang masuk Rp 11.000,- kita bisa masuk kawasan tebing keraton. Harga yang sama juga perlu kamu keluarkan kalau masuk kawsan THR Juanda. Tapi kalau udah bayar di salah satunya, gak perlu keluarkan uang dua kali, karena keduanya ada dalam satu pengelolaan yang sama. Jalan menuju tebing keraton dari pintu masuk ya sebagus ini: ada penunjuk jalannya. Kita paling Cuma jalan kaki sekitar puluhan atau seratusan meter.
Tebing keraton adalah sebuah bagian tebing yang menjorok. Dari sana terlihat pemandangan hutan dan pegunungan, lengkap dengan kabut yang masih melapisi mereka. Ada sebuah papan berisi tulisan isinya bahwa nama asli tebing keraton adalah cadas jontor. Cadas dalam basa sunda berarti tebing, jontor maksudnya menjorok. Ada pagar pembatas di tepian tebing, tapi gak sedikit juga yang nekat melewati pagar itu, dan berfoto di atas batu yang langsung berbatasan dengan jurang dalam. Saya sih sarankan kalian jangan ikuti gaya konyol ala foto di atas. Kan gak lucu kalo ada berita “seorang pengunjung tebing keraton meninggal karena jatuh ke jurang demi sefie”.
Sejauh mata memandang, hamparan pegunungan berbalut kabut terlihat indah *tsah
Ada sebuah tempat di bagian lain tebing keraton yang lebih sepi. Kalau mau ke sana, kamu tinggal ikuti jalur yang belum dipasangi batu pemandu arah. Dari sana kamu bisa lihat pemandangan ke arah cadas jontor. Membaca sambil mandi cahaya matahari dengan bersandar ke sebuah pohon pasti rasanya menenangkan. Tinggalkan dulu lagu-lagu di ponsel yang kamu bawa, biarkan suara burung mengiringi suasana hangat itu.
Ayah saya usianya dua kali usianya saya, maka wajar kalau beliau tak bisa berlari di jalan menanjak. Apalagi beliau masih aktif merokok. Tapi udah bisa jalan jauh begini pun udah luar biasa. Dan ini bukan kali pertama. Kami (bersama adik saya juga, mama lebih gak kuat jalan jauh. Hehe) beberapa kali jalan-jalan ke gunung di sekitar rumah, dan bapak masih kuat.
Ketika melewati perumahan warga, mereka sedang nyekar. Nyekar atau berziarah kubur adalah salah satu tradisi orang sunda sebelum melaksanakan puasa di bulan ramadhan
Di perjalanan kami juga bertemu dua orang anak ini. Mereka bermain badminton di jalan. Ketika kami lewat, seorang di antara mereka menyemangati.
Pulangnya kami menumpang sebuah truk pasir. Mereka nggak mau menerima ketika bapak saya ngasih uang honor tumpangan.
Bonus: pemandangan asri yang kalau kita lihat dan rasakan langsung berlipat-lipat kali lebih indah
Hari Sabtu lalu, untuk pertama kalinya, saya bermain arung jeram. Lokasinya di Sungai Citarik Sukabumi. Saya ke sana bersama Suci, Windi, Feby, Amin, dan Vinna. Kami berangkat jam 7 dari rumah Windi di Tajur Bogor, dan tiba di tujuan tiga jam kemudian. Sebenarnya kami sudah pesan untuk mulai rafting jam 13:00, tapi ternyata bisa dimajukan jadwalnya. Secara keseluruhan, saya puas dengan pelayanan dan pelaksanaan arum jeram dengan menggunakan salah satu operator itu. Tiket berarung jeram di sungai ini saya beli sewaktu hadir di travel fair sekitar November tahun lalu.
"Sudah tahu kan, yang sakit jantung dan sakit asma gak boleh ikutan?" kata seorang petugas. "Kalau sakit hati gimana?" Tanya Feby bercanda. "Langsung sembuh!" Tawa kami pun pecah. Demikianlah suasana persiapan kami sebelum bersiap menerjang jerang. Setelah minum teh hangat, kami diajak ke sebuah pos untuk memakai pelampung, helm, dan membawa dayung. Dari tempat itu, kami dibawa dengan sebuah mobil bak. Setibanya di pos keberangkatan, dua perahu karet sudah menanti. Saatnya kami beraksi.
Usai menempuh sembilan kilometer sungai Citarik, kami disuguhi menu makan siang ala sunda. Paduan nasi pulen, sayur asem, paha ayam kampung yang digoreng kering, tahu dan tempe goreng, karedok, kerupuk, ikan asik kering, kerupuk dan sambal yang dimakan di atas daun pisang itu, bikin pengen nambah. Tapi saya gak nambah. Haha. Setelah kenyang, kami ganti baju dan memilih foto yang disediakan di sebuah gerai khusus. Harganya 20.000 rupiah per foto untuk dicopy dalam bentuk CD. Minimal beli lima jadi satu CD harganya setidaknya 100.000. Relatif murah untuk dibayar patungan dan untuk makin mengembangkan ekonomi masyarakat di sekitar sungai citarik.
Sungai ini memang jadi berkah buat warga sekitarnya. Setelah dikembangkan jadi tempat wisata, banyak yang menggantungkan sumber penghasilan dari bisnis itu. Misalnya, pemandu wisata orang sana, yang juga atlet olah raga air. Mobil bak yang digunakan untuk mengangkut wisatawan juga milik warga. Operator wisata menyewa dari mereka tiap hari. Saking terberdayanya warga lokal, kata pemandu wisata saya, Kang Abu, warga sekitar sudah ada yang pegang posisi manager. Oh iya, Kang Abu ini atlet nasional arung jeram loh. Bulan Oktober nanti, dia juga akan ikut kejuaraan internasional arung jeram di Sungai Citarik. Mau nyoba jeram sungai sekelas kejuaraan internasional? Datanglah ke Citarik.
Itu saya yang badannya condong ke luar perahu karet. Rasanya saya pengen jatuh dari sana dan menghanyutkan diri. Haha. Meskipun yang ini asik, sepertinya body rafting lebih menyenangkan
Di beberapa kesempatan saya nyalakan kamera dan merekam video. Kalau pakai jasa perekam video dari operator, biayanya 500 ribu rupiah.
Sungai Citarik ini bersih, tak ada sampah, tak ada aktivitas yang mengganggu kegiatan wisata air. Menyenangkan
Dari markas operator, kami diangkut dengan mobil bak ini ke titik awal pengarungan. Mobil ini milik warga setempat yang disewakan ke operator.
Setiba di titik keberangkatan, dua perahu karet siap menanti
Foto ini diambil menggunakan kamera Amin. Kita bisa juga minta tolong ke pemandu wisata yang ada di perahu lain untuk ambilkan foto
Di sejumlah titik, ada fotografer di pinggir sungai yang menangkap momen seru seperti ini
Foto yang dijepret tim operator selanjutnya dijual di gerai khusus dengan harga 20.000 per foto dalam bentuk data digital.
Untuk foto dengan kualitas seperti ini, rasanya harga itu sepadan. Apalagi itu digunakan buat mengembangkan ekonomi lokal
Saya pakai baju tanpa lengan, akibatnya, bagian pundak terbakar. Rasanya perih sampai tiga hari setelahnya. Hehe
Selain menerjang jerang, kami juga dikenalkan ke berbagai lokasi menarik di sepanjang sungai. Misalnya air terjun kecil
Di akhir pengarungan, kami berfoto bersama
Ada beberapa operator arung jeram di sekitar sungai citarik. Yang satu katanya fokus di pelayanan akomodasi yang maksimal, yang lain ada yang bilang jago di permainan airnya ketika kita berarung jeram
Garis finish. Di sinilah arung jeram sepanjang 9 km selama sekitar dua jam itu kami tempuh
Setelah berganti baju, sebelum pulang
Suasana tempat makan siang dan gerai foto
Suasana toilet pria. Mandi di bawah guyuran air di bawah sinar matahari menghasilkan pelangi yang terbentuk seperti mengelilingi kita. Di bagian kanan tebing dan hutan
Setibanya di garis finish, kami disuguhi minum air kelapa muda, langsung dari batoknya
Kami berfoto bersama pemandu wisata, Kang Abu dan Kang Dewa. Abu adalah atlet arung jeram nasional.
PIntu masuk toilet dan gerai oleh-oleh
Ruang resepsionis (bawah) yang gaya arsitekturnya mirip leuit atau tempat menampung gabah khas suku sunda
Pulang dari tugas liputan di Kabupaten Puncak Papua, saya duduk di kursi co pilot dalam pesawat dari Ilaga ke Timika. Rasanya menyenangkan sekali. Video di atas itu gambarannya. Atau foto-foto di bawah ini:
Sebuah air terjun di tengah belantara hutan terlihat dari pesawat
Kelokan sungai pun bisa kita nikmati dengan jelas
Terbang di atas awan
Rekan tim liputan yang lain duduk di bagian belakang pesawat yang sebenarnya untuk mengangkut barang
Kumpulan titik-titik rumah itulah ilaga, distrik yang jadi ibu kota kabupaten puncak papua. Ada delapan distrik di kabupaten yang berdiri sejak 2008 ini. Sebuah distrik ada yang nyebut "negara lain" karena rawan. Rawan you know lah. Tapi sekarang kata bupati, TNI, peneliti, warga-warga di sana: sudah aman.
Lihat titik merah putih di bukit kering itu? Dia bendera merah putih ukuran 10x15 meter persegi. Memperingati HUT RI Ke-69, di kabupaten puncak dipasang 5 bendera raksasa di 5 bukit berbeda. Bukit menggaro hangus karena dibakar warga. Tadinya mau dibuat kebun. Simak kisah lengkap pendakian ke Bukit Menggaro di tautan ini.
Yang putih-putih itu bukan salju. Tapi memang di pegunungan tengah ini dingin. Bahkan puncak cartenz ada di kawasan pegunungan tengah papua, di kabupaten puncak yang kami kunjungi. Ibu kota kabupaten puncak itu namanya distrik ilaga
Ini dia salah satu pemandangan dari pesawat barang yang kami tumpangi dari ilaga ke timika. Ada banyak jenis tebing. Yang rata kayak di kanan itu memang unik
Seminggu setelah terbang, pesawat yang pernah kami tumpangi terpeleset di landasan pacu. Beruntung awak kapalnya selamat.
Pernahkah kamu merasa setelah berwisata di tempat yang jauh, ternyata sadar bahwa menikmati keindahan daerah sekitar rumah juga sesuatu yang tak kalah menyenangkan? Saya baru mengalami itu. Ada sejumlah tempat di Kecamatan Limbangan yang menyajikan pesonanya tersendiri. Beberapa tempat lain yang saya kunjungi, bernilai karena punya kepingan memori aktivitas di masa lalu. Pagi itu saya, bersama adik pertama saya Rizki, dan Ridwan teman saya semasa TK sampai SMA, mengayun langkah puluhan kilometer memutari sejumlah desa. Bapak saya dan teman semasa kuliahnya dulu juga turut serta dalam perjalanan itu. Merekalah kapten perjalannya. Bagi keduanya, perjalanan itu bagaikan nostalgia. Berikut sekilas penjelasan tentang wisata kami di Limbangan:
06.00 Berangkat dari Kampung Kudang, memutar ke Kampung Berdikari, melewati Alun-Alun Limbangan, berbelok ke arah Monggor, lurus terus menyusuri parit sampai tiba di Pasar Limbangan yang merangkap sebagai terminal. Di sana kami menyantap kupat tahu sebagai menu sarapan. Kurang dari satu jam kemudian, kami tiba di tujuan pertama.
Fajar di sekitar Alun-Alun Limbangan
Garis cahaya di jalan menuju Batu Nungku
7.30 Berjarak tak jauh dari pasar Limbangan, bukit Batu Nungku tak sulit dituju. Kita akan melewati jalan kampung, menyeberangi jembatan kecil, lalu mendaki selama beberapa menit. Sempatkan menengok ke belakang, karena Limbangan terpapar dari ketinggian akan terlihat indah dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Batu Nungku juga bisa jadi tempat berkemah. Kami sempat berpapasan dengan pendaki yang baru pulang setelah tiga malam bersenang-senang di puncak sana dengan gitar dan djembe-nya.
Saat jalan menanjak, sempatkan lihat ke belakang
Limbangan dilihat dari Batu Nungku
Mengabadikan diri
Ya begitulah. Itu saya. Hehe
Gunung Haruman didampingi Gunung Cikuray di sebelah kiri
Gunung Haruman terlihat lebih dekat di perjalanan menuju Batu Nungku
Tampakan sisi lain dari Batu Nungku
Saat beberapa langkah lagi tiba di puncak Batu Nungku, inilah pemandangannya
Pak Jai mendokumentasikan pemandangan dari atas Batu Nungku
Ridwan sedang merenung
Ridwan sedang melamun
Ridwan sedang istirahat di tempat :D
08.30
Di Kampung Cibadak Lebak, kami mampir di rumah Mak Emi, bibi bapak saya. Usianya 75 tahun, tapi masih terlihat sehat. Dengan suara cemprengnya yang khas, ia berbincang tentang banyak hal, kebanyakan nostalgia semasa muda. Kami disuguhi sesisir pisang dingin yang menyegarkan. Mak Emi mengaku senang punya kulkas di rumah panggungnya.
Mengunjungi Mak Emi
09.00
Menyusuri jalan desa Pasir Waru, kami menuju Pasir Astana. Pasir dalam basa sunda, berarti bukit. Sedangkan astana bermakna makam. Di Pasir Astana ada sejumlah makam tokoh penyebar agama islam, diantaranya Mbah Khotib atau masyarakat sekitar menyebutnya Mahketib. Di samping makam Mahketib ada sebuah bangunan kecil yang dihiasi patung Bung Karno. Di bagian atas pintunya yang berukirkan kujang, ada lambang garuda pancasila dan tulisan nama tempat itu: Museum Mini Bung Karno. Sayangnya pintu terkunci dan kami tak bisa masuk.
Sulit mendeskripsikan ini :D
Makam Syekh berlatar Gunung Haruman
Makam Mbah Khotib, salah seorang penyebar ajaran agama Islam di wilayah Limbangan
09.30
Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati sungai Cipancar. Menyeberangi sungai itu menjadi pengalaman nostalgis yang menyenangkan. Ketika kecil, saya dan teman-teman tak jarang bermain di sungai dan berimajinasi dengan batu besar di sana. Ada batu yang kami analogikan sebagai gajah, badak, buaya, motor cross, dan sebagainya. Meskipun kali ini cuma mencelupkan kaki dan merasakan dorongan ringan arus sungai, saya sudah cukup puas. Sayangnya beberapa sampah mengotori sungai.
Menyeberangi Cipancar
Berpose ketika menyeberang
10.00 Setelah melewati pematang sawah dan kebun, kami tiba di Leuwi Bolang. Di sini ada pintu air yang menjadi tempat anak-anak berenang, dulu. Bapak berkisah bahwa dulu ia sering melompat ke sungai dari pintu air setinggi sekitar 5 meter. Saya pernah bersama teman semasa SD berenang di sana, tapi tidak beraksi seekstrim bapak saya dulu. Haha.
Menguji nyali
Pintu air Leuwi Bolang
10.30 Matahari perlahan tidak lagi terasa hangat. Perjalanan kami berlanjut dengan menyusuri persawahan di Kampung Cangkudu. Sesekali langkah kami tersendat ketika bapak menjelaskan suatu tempat.
Menyusuri pinggiran parit di Kampung Cangkudu
Bapak mengenang tempat ini sebagai sungai yang dulunya dihampiri sawah.
11.00
Setelah sekitar lima jam berjalan kaki, kami tiba di sebuah balong atau kolam milik Pak Jai, teman bapak yang turut serta dalam perjalanan itu. Sambil menikmati belaian angin, kami pun menyantap menu makan siang: nasi merah digabung tahu panas bersama sambal terasi segar plus gorengan dan tumis cap cay. Jeda tak lama, kami pulang ke rumah berjalan kaki lagi dan tiba pada tengah hari.
Dokumentasi serunya perjalanan di atas saya abadikan dalam wujud video. Dua video itu memang minim penjelasan. Namun di salah satu video saya sertakan secuplik sejarah Limbangan seperti tertulis di situs resmi Kabupaten Garut. Enjoy Limbangan!