Tampilkan postingan dengan label video travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label video travel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 September 2015
Rabu, 27 Agustus 2014
Duduk di Samping Pak Pilot yang Sedang Bekerja
Pulang dari tugas liputan di Kabupaten Puncak Papua, saya duduk di kursi co pilot dalam pesawat dari Ilaga ke Timika. Rasanya menyenangkan sekali. Video di atas itu gambarannya. Atau foto-foto di bawah ini:
| Sebuah air terjun di tengah belantara hutan terlihat dari pesawat |
| Kelokan sungai pun bisa kita nikmati dengan jelas |
| Terbang di atas awan |
![]() |
| Rekan tim liputan yang lain duduk di bagian belakang pesawat yang sebenarnya untuk mengangkut barang |
![]() |
| Lihat titik merah putih di bukit kering itu? Dia bendera merah putih ukuran 10x15 meter persegi. Memperingati HUT RI Ke-69, di kabupaten puncak dipasang 5 bendera raksasa di 5 bukit berbeda. Bukit menggaro hangus karena dibakar warga. Tadinya mau dibuat kebun. Simak kisah lengkap pendakian ke Bukit Menggaro di tautan ini. |
![]() |
| Ini dia salah satu pemandangan dari pesawat barang yang kami tumpangi dari ilaga ke timika. Ada banyak jenis tebing. Yang rata kayak di kanan itu memang unik |
| Seminggu setelah terbang, pesawat yang pernah kami tumpangi terpeleset di landasan pacu. Beruntung awak kapalnya selamat. |
Label:
foto,
foto travel,
ilaga,
metro tv,
papua,
travel,
traveling,
video,
video travel
Kamis, 14 Agustus 2014
Menyelam di Sabang
| Tulisan di bawah ini ditulis oleh saya (berpenutup kepala) dan Reno Sitoarso (kanan). Foto milik Chandra Sugondo. Yang paling kiri di foto adalah Mun, dive master kami |
Saya akan gambarkan eksotisnya alam bawah laut bumi Sabang, Provinsi Aceh. Ada beberapa titik selam (dive spot), belasan bahkan sampai dua puluh lebih dive spot yang ada. Dari yang berupa tebing (cave), terowongan (tunnel), bangkai kapal (wreck ship), sampai yang bergelembung belerang (volcano underwater). Tapi sebelum lebih lanjut mengenal singkat ketujuh titik penyelaman tadi, ada baiknya kamu simak dulu video berikut ini:
- East Seulako. titik penyelaman ini berdekatan dengan pulau kecil tak berpenghuni yang terletak di utara Pulau Weh. kami melakukan penyelaman pada kedalaman 20 meter, dan dapat melihat banyak kerumunan ikan berbagai macam jenis, untuk moray eel jenis Blackspotted, Giant Moray serta Honeycomb juga dapat dijumpai pada kedalaman ini. Saya berjumpa dengan 4 ekor jenis moray eel sekepalan tangan yang kepalanya menjulur-julur dengan mulut menganga yang sepertinya menyambut kami dengan ramah, ada juga gurita hitam, stone fish yang samar menyerupai batu, scorpion fish yang tiarap di karang juga ada. Dua ikan terakhir itu berbahaya. Jangan disentuh.
- West Seulako. dibandingkan sisi timur, bagian barat Seulako ini lebih indah. Lebih banyak ikan yang berkerumun. Secara keseluruhan sih serupa dan yang dapat kita jumpai di sini dengan para nekton (organisme bergerak bebas tanpa ikut arus) di Seulako timur. di sini, saya lihat ikan napoleon dari jarak sekitar 7 meter di depan.
- Bate Tokong. Kamu tahu apa artinya bate tokong? batu kokoh. berlokasi belasan meter dari Pulau Seulako. Di bawah bate tokong ini ada goa melintang dengan panjang kurang dari 10 meter, yang terlihat gelap dan minim cahaya. Tapi coba kamu masuk kesana, dijamin jatuh cinta. Begitu masuk ada kelap kelip di mata saya. Rupanya itu ikan kecil yang banyak banget dan ada garis berwarna biru terang di siripnya. Entah ikan apa itu namanya, tapi indahnya bukan main. Mereka tidak takut berjarak kurang dari satu meter dari penyelam. Sekali tangan kita dikibaskan, mereka bergerak serentak ke satu arah. Luar biasa. Menyusuri goa itu, bukan hanya ikan kecil bergerombol yang cuma sejenis, tapi ada jenis lain. Ada juga udang kecil berbelang dengan antena berwarna pendar. Cantik.
- Arus Palee. Nah, Penyelaman di hari kedua ini saya merasakan menyelam di tempat berarus (current). Arus palee berarti arus jahat. Untungnya ketika saya nyemplung arus lagi ga jahat banget. Hehe. Di arus palee, kalau beruntung kita bisa bertemu tuan hiu sirip hitam atau hiu sirip putih. Mereka gak berbahaya buat manusia, meskipun tetep aja kalo ada darah bocor ya mereka sikat juga daging si sumber darah itu. Haha. Ada lagi hiu paus, whale shark. Dulu, kata Mun, guide/dive master saya, ada whale shark juga di sini. Si besar bertutul pemakan plankton itu enggan mampir lagi pasca tsunami, pasca kapal besar sering melintas. "Tapi empat bulan kemarin ada lagi", begitu kira-kira Mun memberi harapan. sayangnya, saya tidak ketemu sama mister hiu-hiu tadi. Tapi arus palee tetap seru. Schooling fish masih terlihat ramai, pun begitu dengan shoaling fish (ketahui perbedaan keduanya disini). Setelah menyusuri tebing kaya coral berbentuk tabung, kita akan tiba di ujung. Di sanalah, arus jahat sedikit jahil. Tubuh kita akan merasakan dorongan dan kayuhan fins terasa berat. Kalau sudah begitu jangan memaksakan melawan arus. Kami kembali berlindung di balik tebing dan lebih merapat ke dasar. udara yang tersisa sudah menunjung angka 50. Saya tepuk dada (salah satu hand signal), kami pun perlahan naik ke permukaan dengan cara drifting.
- The Canyon. Siapa sangka di dekat tugu nol kilometer, ada titik selam yang indah. Dive master setempat menyebutnya Canyon, karena pada kedalaman 14 meter ada puncak tebing yang dasarnya menapak kedalaman 65 meter. Tebingnya jelas tidak kosong. Coral berbagai jenis terpajang indah di sana, dihiasi ornamen tambahan ikan-ikan di sekitarnya. Pada sebuah area, kita bisa berada diantara ngarai bawah laut yang indah bukan kepalang. Kita diapit dua tebing tinggi menjulang dan takjub bisa berada di sana. Lanjutkanlah penyelaman ke sisi tebing lain. Sebuah atol atau karang melingkar menyambut kita. Dengan gerak perlahan, kita bisa memasuki lingkaran gerbang kecil itu. Impresif. Selanjutnya kita akan bertemu dengan area selam berdasar kepingan batu-batu besar. Bentuknya banyak yang kubistik. Di sela-selanya banyak kehidupan. Dari scorpion fish (lagi), muray (lagi), sampai lion fish. Asik berkeliling ria, stok udara saya cepat menipis. Sambil ber-safety stop saya dipasok udara dari tabung Mun. Sekitar 40 menit kami menyelam, stok udara pria kecil itu masih 150an, dari stok penuh 200 bar. Dalam asupan body breathing, saya jadi saksi sebuah pertarungan indah yang sebenarnya biasa. Ribuan ikan kecil bersirip biru datang bergerombol. Mereka benar-benar melintas di antara kami. Di satu momen, kerumunan mereka pecah oleh ikan yang lebih besar, si napoleon kalau gak salah. Pecahan formasi yang rusak sementara itu loh yang keren. Ah, harus pakai kata apa lagi saya untuk menggambarkan indahnya disana. Haha.
- Rubiah Sea Garden. Berbekal satu tabung, kami bertolak dari pantai iboih untuk dua kali penyelaman. Pertama, di taman laut pulau rubiah. Titik ini berkategori mudah. Kami sepakat berhenti ketika jarum di gauge oksigen menunjuk angka 100. Sisanya dipakai untuk penyelaman berikutnya. Di rubiah sea garden banyak anemon, tentu clown fish kecil ada diantara tentakelnya yang terlihat kenyal. Kejutan datang. Seekor penyu melenggang cuek tepat ke arah kami. Saya menyingkir, dia lewat. Dari belakang tempurungnya saya sentuh. Si penyu menoleh angkuh lalu terus melaju. Kami lanjut berkeliling dan berhenti di angka 100.
- Volcano Underwater. Inilah yang paling membedakan menyelam di Sabang dan di tempat lain. Di titik ini kami menyelam tak lebih dari 10 meter. Cukup berkutat di kedalaman 7-9 meter, kita sudah bisa berjumpa dengan sumber gelembung udara hangat aktivitas vulkanik. Banyak titik semburan di dasar sana, dari yang kecil sampai yang gelembung udaranya sekepalan tangan. Kalau kamu tutup sumber udaranya, rasanya panas kayak kena ujung panas rokok. Saya merasakan sendiri soalnya. Haha. Hey, jangan kira di sana ga ada mainan lain. Meskipun dasarnya berpasir tanpa coral reef, masih ada ikan. Di antaranya ikan gembung bergigi empat. Dia sangat jinak. Kalau mau, kamu bisa pegang dia. Tapi saya sih tidak sarankan. Kalau sial, jari kamu bisa digigit. Saya dan ikan itu pernah berhadapan. Kami saling tatap mata. Hahaha. Beneran ini dia renang di depan, terus mukanya keliatan. Dua pasang gigi besar menyembul dari rahang atas dan bawahnya. Kalau saya berhak kasih dia nama, ikan ini akan bernama cepot. Karena mirip dengan tokoh punakawan sunda itu, tapi si ikan lebih menyeramkan. Haha. Menyelam di volcano underwater, kamu gak perlu pakai wet suit, karena airnya sudah hangat. Lagian kalau pake wet suit, aroma belerangnya terancam nempel dan susah hilang. Satu lagi tips terakhir buat nyelam di sini, kamu gak perlu punya stok udara banyak, karena di bawah sana kita rentan mudah bosan. Selain itu, tidak ada objek yang dilihat selain pasir. Tapi dive spot ini tetap prestisius karena volcano underwater hanya ada di beberapa tempat di seluruh Indonesia. Jangan bilang pernah menyelam di Sabang kalau belum turun di dive spot volcano underwater (gak gitu juga sih intinya usahakan nyobain nyelam di sini lah kalau ke Sabang. Hehe).
Selama berada di Sabang, para penyelam maupun wisatawan tidak bisa sesukanya melakukan aktivitas laut seperti renang, nyelam maupun memancing di laut. Ada beberapa hari yang jadi pantangan buat beraktivitas di laut, di antaranya pada hari Jumat sampai jam 2 siang (setelah Sholat Jumat), dan ketika peringatan hari tsunami setiap tanggal 26 Desember. Adalah Putra, Pemuda asli Sabang yang sehari-hari menjadi guide/dive master. Dia berkisah tentang sekelompok wisatawan yang nekat menyelam di peringatan hari tsunami di dive spot yang memiliki wreck. Warga kemudian menyita boat mereka dan melarang adanya aktivitas menyelam di lokasi tersebut, selama beberapa periode. pada akhirnya yang rugi kan bukan si penyelam itu sendiri, tapi masyarakat sekitar. Jadi patuhilah aturan adat di sana.
Hari terakhir di Sabang saya berniat bersnorkeling di pantai dangkal depan penginapan. Malang bagi saya, sebelum ke perairan agak dalam, saya nginjak bulu babi. Padahal Deri, Ivas dan Reno teman se-tim saya bersnorkeling, bertemu lion fish dan shoaring fish di kedalaman sekitar 5 - 7 meter. Mungkin itu pertanda, agar saya suatu saat kembali lagi ke Sabang. Ya, sepertinya begitu. Semoga. :)
| Sebagian teman-teman Flying Fish Divers yang menyelam bersama saya di Sabang |
Label:
aceh,
arus palee,
bate tokong,
canyon,
dive,
east seulako,
iboih,
rubiah sea garden,
sabang,
selam,
video,
video travel,
volcano,
west seulako
Selasa, 05 Agustus 2014
Mencicipi Limbangan
Pernahkah kamu merasa setelah berwisata di tempat yang jauh, ternyata sadar bahwa menikmati keindahan daerah sekitar rumah juga sesuatu yang tak kalah menyenangkan? Saya baru mengalami itu. Ada sejumlah tempat di Kecamatan Limbangan yang menyajikan pesonanya tersendiri. Beberapa tempat lain yang saya kunjungi, bernilai karena punya kepingan memori aktivitas di masa lalu. Pagi itu saya, bersama adik pertama saya Rizki, dan Ridwan teman saya semasa TK sampai SMA, mengayun langkah puluhan kilometer memutari sejumlah desa. Bapak saya dan teman semasa kuliahnya dulu juga turut serta dalam perjalanan itu. Merekalah kapten perjalannya. Bagi keduanya, perjalanan itu bagaikan nostalgia. Berikut sekilas penjelasan tentang wisata kami di Limbangan:
06.00
Berangkat dari Kampung Kudang, memutar ke Kampung Berdikari, melewati Alun-Alun Limbangan, berbelok ke arah Monggor, lurus terus menyusuri parit sampai tiba di Pasar Limbangan yang merangkap sebagai terminal. Di sana kami menyantap kupat tahu sebagai menu sarapan. Kurang dari satu jam kemudian, kami tiba di tujuan pertama.
7.30
Berjarak tak jauh dari pasar Limbangan, bukit Batu Nungku tak sulit dituju. Kita akan melewati jalan kampung, menyeberangi jembatan kecil, lalu mendaki selama beberapa menit. Sempatkan menengok ke belakang, karena Limbangan terpapar dari ketinggian akan terlihat indah dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Batu Nungku juga bisa jadi tempat berkemah. Kami sempat berpapasan dengan pendaki yang baru pulang setelah tiga malam bersenang-senang di puncak sana dengan gitar dan djembe-nya.
Berangkat dari Kampung Kudang, memutar ke Kampung Berdikari, melewati Alun-Alun Limbangan, berbelok ke arah Monggor, lurus terus menyusuri parit sampai tiba di Pasar Limbangan yang merangkap sebagai terminal. Di sana kami menyantap kupat tahu sebagai menu sarapan. Kurang dari satu jam kemudian, kami tiba di tujuan pertama.
7.30
Berjarak tak jauh dari pasar Limbangan, bukit Batu Nungku tak sulit dituju. Kita akan melewati jalan kampung, menyeberangi jembatan kecil, lalu mendaki selama beberapa menit. Sempatkan menengok ke belakang, karena Limbangan terpapar dari ketinggian akan terlihat indah dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Batu Nungku juga bisa jadi tempat berkemah. Kami sempat berpapasan dengan pendaki yang baru pulang setelah tiga malam bersenang-senang di puncak sana dengan gitar dan djembe-nya.
| Saat jalan menanjak, sempatkan lihat ke belakang |
| Limbangan dilihat dari Batu Nungku |
| Mengabadikan diri |
| Ya begitulah. Itu saya. Hehe |
| Gunung Haruman didampingi Gunung Cikuray di sebelah kiri |
| Gunung Haruman terlihat lebih dekat di perjalanan menuju Batu Nungku |
| Tampakan sisi lain dari Batu Nungku |
| Saat beberapa langkah lagi tiba di puncak Batu Nungku, inilah pemandangannya |
| Pak Jai mendokumentasikan pemandangan dari atas Batu Nungku |
| Ridwan sedang merenung |
| Ridwan sedang melamun |
| Ridwan sedang istirahat di tempat :D |
08.30
Di Kampung Cibadak Lebak, kami mampir di rumah Mak Emi, bibi bapak saya. Usianya 75 tahun, tapi masih terlihat sehat. Dengan suara cemprengnya yang khas, ia berbincang tentang banyak hal, kebanyakan nostalgia semasa muda. Kami disuguhi sesisir pisang dingin yang menyegarkan. Mak Emi mengaku senang punya kulkas di rumah panggungnya.
| Mengunjungi Mak Emi |
09.00
Menyusuri jalan desa Pasir Waru, kami menuju Pasir Astana. Pasir dalam basa sunda, berarti bukit. Sedangkan astana bermakna makam. Di Pasir Astana ada sejumlah makam tokoh penyebar agama islam, diantaranya Mbah Khotib atau masyarakat sekitar menyebutnya Mahketib. Di samping makam Mahketib ada sebuah bangunan kecil yang dihiasi patung Bung Karno. Di bagian atas pintunya yang berukirkan kujang, ada lambang garuda pancasila dan tulisan nama tempat itu: Museum Mini Bung Karno. Sayangnya pintu terkunci dan kami tak bisa masuk.
| Sulit mendeskripsikan ini :D |
| Makam Syekh berlatar Gunung Haruman |
| Makam Mbah Khotib, salah seorang penyebar ajaran agama Islam di wilayah Limbangan |
09.30
Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati sungai Cipancar. Menyeberangi sungai itu menjadi pengalaman nostalgis yang menyenangkan. Ketika kecil, saya dan teman-teman tak jarang bermain di sungai dan berimajinasi dengan batu besar di sana. Ada batu yang kami analogikan sebagai gajah, badak, buaya, motor cross, dan sebagainya. Meskipun kali ini cuma mencelupkan kaki dan merasakan dorongan ringan arus sungai, saya sudah cukup puas. Sayangnya beberapa sampah mengotori sungai.
| Menyeberangi Cipancar |
| Berpose ketika menyeberang |
10.00
Setelah melewati pematang sawah dan kebun, kami tiba di Leuwi Bolang. Di sini ada pintu air yang menjadi tempat anak-anak berenang, dulu. Bapak berkisah bahwa dulu ia sering melompat ke sungai dari pintu air setinggi sekitar 5 meter. Saya pernah bersama teman semasa SD berenang di sana, tapi tidak beraksi seekstrim bapak saya dulu. Haha.
Setelah melewati pematang sawah dan kebun, kami tiba di Leuwi Bolang. Di sini ada pintu air yang menjadi tempat anak-anak berenang, dulu. Bapak berkisah bahwa dulu ia sering melompat ke sungai dari pintu air setinggi sekitar 5 meter. Saya pernah bersama teman semasa SD berenang di sana, tapi tidak beraksi seekstrim bapak saya dulu. Haha.
| Menguji nyali |
10.30
Matahari perlahan tidak lagi terasa hangat. Perjalanan kami berlanjut dengan menyusuri persawahan di Kampung Cangkudu. Sesekali langkah kami tersendat ketika bapak menjelaskan suatu tempat.
Matahari perlahan tidak lagi terasa hangat. Perjalanan kami berlanjut dengan menyusuri persawahan di Kampung Cangkudu. Sesekali langkah kami tersendat ketika bapak menjelaskan suatu tempat.
| Menyusuri pinggiran parit di Kampung Cangkudu |
| Bapak mengenang tempat ini sebagai sungai yang dulunya dihampiri sawah. |
11.00
Setelah sekitar lima jam berjalan kaki, kami tiba di sebuah balong atau kolam milik Pak Jai, teman bapak yang turut serta dalam perjalanan itu. Sambil menikmati belaian angin, kami pun menyantap menu makan siang: nasi merah digabung tahu panas bersama sambal terasi segar plus gorengan dan tumis cap cay. Jeda tak lama, kami pulang ke rumah berjalan kaki lagi dan tiba pada tengah hari.
Dokumentasi serunya perjalanan di atas saya abadikan dalam wujud video. Dua video itu memang minim penjelasan. Namun di salah satu video saya sertakan secuplik sejarah Limbangan seperti tertulis di situs resmi Kabupaten Garut. Enjoy Limbangan!
| Tiba di garis finish |
Label:
backpacker,
backpacking,
foto,
foto travel,
garut,
limbangan,
video,
video travel
Rabu, 04 Juni 2014
Jembatan Akar dan Rahasia di Balik Aturan Perkampungan Baduy Dalam
Ini adalah lanjutan dari video perjalanan saya ke Baduy Dalam ini. Dalam video kedua, saya menampilkan perjalanan setelah mengunjungi Kampung Cibeo Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten. Dalam video ini ada wawancara dengan seorang Baduy Dalam tentang hari raya Kawalu, larangan mendokumentasikan kampung mereka, dan lain-lain. Di sini juga diperlihatkan indahnya jembatan akar yang dibuat orang Baduy Luar. [rheza ardiansyah]
Label:
baduy,
banten,
cibeo,
jembatan akar,
kanekes,
lebak,
travel,
traveling,
video travel
Senin, 28 April 2014
Me and Windi at Lawang Wangi Art Galery and Cafe Bandung
It was in the end of 2013. Windi and I went to Bandung and visit some place, including Lawang Wangi Art Galery and Cafe. After spent a warm afternoon, we had a dinner. It was an unforgettable moment.
Senin, 14 April 2014
Jalan-Jalan ke Situ Gunung
Akhirnya kesampean juga pergi ke Situ Gunung. Sejak lama saya pengen ke sana, pengen tau seindah apa tempatnya. Sabtu lalu, setelah memaksakan diri pergi sendirian, nyampe juga ke danau di ketinggian sekitar 1050 mdpl itu. Di Situ Gunung pas kebetulan teman-teman anggota Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB lagi ada kegiatan. Sehari sebelumnya saya kabar Bagus, anggota UKF yang ada disana. Berikut ini cerita lengkapnya:
Sabtu, 12 April 2014:
13.30-16.00
Perjalanan dari Tebet Jakarta ke Stasiun Bogor. Saya sempat nyasar, malah jalan ke arah Jakarta lagi. Untung tanya sopir angkot. Katanya harus balik lagi, salah arah. Males juga pas denger salah jurusan, udah cukup jauh lagi. Haha. Tapi ya ga apa-apa, demi Situ Gunung.
16.00-17.00
Mampir dulu ke rumah pacar. Hehe. Dia ga nyangka perjalanan ke Situ Gunung bakal seekstrim itu. Kalo siang sih biasa aja kali ya. Ini jalan malam, sendirian, belum pernah kesana sebelumnya, belum tau mau naik apa aja.
17.00-17.30
Bogor darurat pelayanan publik. Gila, dari Tajur ke Stasiun Bogor setengah jam. Itu pun sebenarnya 15 menit doang buat nyampe pertigaan Jalan Kapten Muslihat, setelah lampu merah. Dari situ udah stuck. Untung pake motor jadi bisa selap-selip. Setelah berhasil memutar dan parkir di Stasiun Bogor, saya nyeberang lewat jembatan penyeberangan yang jarang dipake. Orang-orang dari dan menuju stasiun biasanya nyeberang ya lewat jalan aja gitu. Ya jelas lah macet, ditambah angkot yang seenaknya parkir di jalan. Kerjaan wali kota Bogor yang baru gede, selain jalan berlubang yang tersebar di jalanan rame Bogor. Balik lagi ke soal jembatan penyeberangan. Jadi kalau kamu nyeberang lewat sana, tangga naik dan turunnya dipenuhi bocah belasan tahun lagi nongkrong, ngerokok, ngobrol. Pas di atas, ada yang pacaran, ada yang ngumpul bersila membentuk lingkaran, dan semua anak seusia SMP-SMA. Lalu setelah turun di sisi jalan lain, kamu bakal langsung masuk ke dapur kios pecel lele. Fiuh, makin ga kepake aja jembatan itu.
17.30-18.00
Setelah parkirin motor, saya buru-buru ke loket tiket. Ternyata kata petugasnya, tiket kereta ke Sukabumi belinya di Stasiun Paledang, tepat di seberang Stasiun Bogor. Saya jalan cepat ke sana. Seingat saya, kereta terakhir jam 17.30, makanya buru-buru nyeberang dan menemukan kekacauan diatas. Setibanya di Stasiun Paledang, tiket ke Sukabumi habis. Ga lama kemudian petugas ralat bahwa ada satu sisa tiket kelas eksekutif. Langsung saya sikat, meskipun harganya 50.000. Di sebelah Stasiun Paledang, ada tempat penitipan motor 24 jam. Harganya 8.000 semalam. Pada setengah jam inilah saya memindahkan motor dari Stasiun Bogor. Setengah jam parkir di stasiun itu, biaya sewanya 6.000. Men, di mall-mall Jakarta aja 2.000 per jam. Bogor, Bogor.
18.00-20.30
Sebenarnya kereta berangkat 18.30. Tapi setengah jam sebelumnya sudah stand by. Gerbong kelas eksekutif cukup nyaman. Ada TV, colokan listrik, tempat kaki juga luas dan sandaran kursi bisa agak direbahkan. Ongkos mahal tadi senilai lah dengan dua jam perjalanan ke Cisaat Sukabumi.
20.30-21.00
Makan malam di sebuah rumah makan ayam goreng. Setelah makan, saya basa-basi dengan bahasa sunda. Ternyata si teteh-nya baik. Dia mencarikan saya ojek karena ternyata ke Situ Gunung dari sana masih jauh banget, 14 kilometer-an lagi. Tetehnya bilang ke tukang ojek bahwa saya saudaranya, jadi bebas katanya mau bayar berapa.
21.00-21.30
Ternyata memang jauh, dan menanjak. Jalannya jelek lagi. Akang tukang ojek mengantar saya samapai gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Ternyata dari sana saya harus jalan kaki lagi ke danau. Sendirian, malam-malam, gelap. Untung bawa head lamp. Akang tukang ojek ternyata berbaik hati memastikan saya jalan ke tempat tujuan. Mumpung beliau masih ada, saya minta tolong diantar agak ke dalam dengan ojeknya. Saya kasih ongkos 30.000. Di gerbang TNGGP kedua, saya diturunkan. Jalannya curam katanya, motor ga bakal kuat. Ya sudah, dari situ saya benar-benar jalan sendirian di tengah hutan. Haha. Serem sih, makanya di beberapa jalur, saya pilih joging aja, pengen buru-buru nyampe.
21.30-22.00
Setelah tanya pendaki sana-sini, ketemulah wisma tamu yang ditempati anak-anak UKF. Pas kesana, mereka udah tidur. Saya juga ga yakin itu orang UKF, soalnya ga ada Bagus. Saya bangunin salah satu diantara mereka, ga bangun juga. Ada yang kebangun, tapi dia malah ngumpet ke dalam sleeping bag-nya. Mungkin dia kira saya hantu. Hahaha. Akhirnya setelah dijelaskan, mereka mempersilahkan saya istirahat di sana, meskipun ga kenal saya karena mereka angkatan baru. Setengah jam kemudian Bagus datang setelah melakukan pengamatan hewan malam. Dia kaget saya benar-benar datang ke Situ Gunung. Setelah ngobrol sana-sini, kami istirahat dalam wisma seharga 450.000 semalam berkapasitas 10 orang itu.
Minggu, 13 April 2014:
Perjalanan dari Tebet Jakarta ke Stasiun Bogor. Saya sempat nyasar, malah jalan ke arah Jakarta lagi. Untung tanya sopir angkot. Katanya harus balik lagi, salah arah. Males juga pas denger salah jurusan, udah cukup jauh lagi. Haha. Tapi ya ga apa-apa, demi Situ Gunung.
16.00-17.00
Mampir dulu ke rumah pacar. Hehe. Dia ga nyangka perjalanan ke Situ Gunung bakal seekstrim itu. Kalo siang sih biasa aja kali ya. Ini jalan malam, sendirian, belum pernah kesana sebelumnya, belum tau mau naik apa aja.
17.00-17.30
Bogor darurat pelayanan publik. Gila, dari Tajur ke Stasiun Bogor setengah jam. Itu pun sebenarnya 15 menit doang buat nyampe pertigaan Jalan Kapten Muslihat, setelah lampu merah. Dari situ udah stuck. Untung pake motor jadi bisa selap-selip. Setelah berhasil memutar dan parkir di Stasiun Bogor, saya nyeberang lewat jembatan penyeberangan yang jarang dipake. Orang-orang dari dan menuju stasiun biasanya nyeberang ya lewat jalan aja gitu. Ya jelas lah macet, ditambah angkot yang seenaknya parkir di jalan. Kerjaan wali kota Bogor yang baru gede, selain jalan berlubang yang tersebar di jalanan rame Bogor. Balik lagi ke soal jembatan penyeberangan. Jadi kalau kamu nyeberang lewat sana, tangga naik dan turunnya dipenuhi bocah belasan tahun lagi nongkrong, ngerokok, ngobrol. Pas di atas, ada yang pacaran, ada yang ngumpul bersila membentuk lingkaran, dan semua anak seusia SMP-SMA. Lalu setelah turun di sisi jalan lain, kamu bakal langsung masuk ke dapur kios pecel lele. Fiuh, makin ga kepake aja jembatan itu.
17.30-18.00
Setelah parkirin motor, saya buru-buru ke loket tiket. Ternyata kata petugasnya, tiket kereta ke Sukabumi belinya di Stasiun Paledang, tepat di seberang Stasiun Bogor. Saya jalan cepat ke sana. Seingat saya, kereta terakhir jam 17.30, makanya buru-buru nyeberang dan menemukan kekacauan diatas. Setibanya di Stasiun Paledang, tiket ke Sukabumi habis. Ga lama kemudian petugas ralat bahwa ada satu sisa tiket kelas eksekutif. Langsung saya sikat, meskipun harganya 50.000. Di sebelah Stasiun Paledang, ada tempat penitipan motor 24 jam. Harganya 8.000 semalam. Pada setengah jam inilah saya memindahkan motor dari Stasiun Bogor. Setengah jam parkir di stasiun itu, biaya sewanya 6.000. Men, di mall-mall Jakarta aja 2.000 per jam. Bogor, Bogor.
18.00-20.30
Sebenarnya kereta berangkat 18.30. Tapi setengah jam sebelumnya sudah stand by. Gerbong kelas eksekutif cukup nyaman. Ada TV, colokan listrik, tempat kaki juga luas dan sandaran kursi bisa agak direbahkan. Ongkos mahal tadi senilai lah dengan dua jam perjalanan ke Cisaat Sukabumi.
20.30-21.00
Makan malam di sebuah rumah makan ayam goreng. Setelah makan, saya basa-basi dengan bahasa sunda. Ternyata si teteh-nya baik. Dia mencarikan saya ojek karena ternyata ke Situ Gunung dari sana masih jauh banget, 14 kilometer-an lagi. Tetehnya bilang ke tukang ojek bahwa saya saudaranya, jadi bebas katanya mau bayar berapa.
21.00-21.30
Ternyata memang jauh, dan menanjak. Jalannya jelek lagi. Akang tukang ojek mengantar saya samapai gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Ternyata dari sana saya harus jalan kaki lagi ke danau. Sendirian, malam-malam, gelap. Untung bawa head lamp. Akang tukang ojek ternyata berbaik hati memastikan saya jalan ke tempat tujuan. Mumpung beliau masih ada, saya minta tolong diantar agak ke dalam dengan ojeknya. Saya kasih ongkos 30.000. Di gerbang TNGGP kedua, saya diturunkan. Jalannya curam katanya, motor ga bakal kuat. Ya sudah, dari situ saya benar-benar jalan sendirian di tengah hutan. Haha. Serem sih, makanya di beberapa jalur, saya pilih joging aja, pengen buru-buru nyampe.
21.30-22.00
Setelah tanya pendaki sana-sini, ketemulah wisma tamu yang ditempati anak-anak UKF. Pas kesana, mereka udah tidur. Saya juga ga yakin itu orang UKF, soalnya ga ada Bagus. Saya bangunin salah satu diantara mereka, ga bangun juga. Ada yang kebangun, tapi dia malah ngumpet ke dalam sleeping bag-nya. Mungkin dia kira saya hantu. Hahaha. Akhirnya setelah dijelaskan, mereka mempersilahkan saya istirahat di sana, meskipun ga kenal saya karena mereka angkatan baru. Setengah jam kemudian Bagus datang setelah melakukan pengamatan hewan malam. Dia kaget saya benar-benar datang ke Situ Gunung. Setelah ngobrol sana-sini, kami istirahat dalam wisma seharga 450.000 semalam berkapasitas 10 orang itu.
Minggu, 13 April 2014:
06.00-09.00
Ternyata Situ Gunung gak seperti yang saya bayangkan. Ternyata pendaki bukan berkemah di pinggir danau. Camping ground ada tempatnya sendiri, tempatnya sebelum danau. Yang ada di sekitar danau, penginapan mewah. Tau gitu saya bawa charger kamera. Haha. Tiga jam pagi itu saya habiskan berjalan-jalan sekitar danau. Bagus menyayangkan rencana saya yang harus balik lagi ke Jakarta pagi itu. Padahal dia dan timnya mau pengamatan lagi, tadinya saya mau diajak. Memang ga cukup banget sih menjelajahi Situ Gunung dengan waktu segitu singkat. Saya bahkan ga sempat main ke tengah danau, mengunjungi air terjun, mengamati flora-fauna khas sana lebih lama. Tapi lumayan sempat nyoba permainan high rope.
09.00-09.30
Saat ini saya sarapan dan jalan pulang. Di perjalanan pulang, mampir ke permainan high rope. Set permainan ini ada diantara pohon damar yang tingginya puluhan meter. Sangat menyenangkan dan menegangkan. Arena ini cuma ada hari sabtu dan minggu. Bayar 75.000 kalau mau nyoba. Mahal, tapi setimpal dengan keseruan yang bakal kamu alami.
09.30-10.00
Main high rope. Untuk baca cerita lengkapnya, klik tulisan ini. Setelah main high rope, saya jalan ke kantor pengelola, di gerbang Taman Nasional. Di perjalanan, saya menyaksikan sebuah pohon yang dipenuhi lutung. Ga dipenuhi sih, ada beberapa lutung disana, segerombol gitu lah. Sepertinya mereka berukuran besar, segede anak kecil. Tapi Ima dan Riris yang jalan bareng saya bilang itu ukuran normal. Segini kata Ima, sambil membuat jarak sekitar 50 cm antara kedua tangannya.
10.00-11.00
Untuk turun lagi ke Cisaat, saya memilih pakai angkot. Tentu saja karena lebih murah dibanding ojek yang you know lah harganya. Masalahnya, ga setiap saat angkot ada di gerbang taman nasional. Jadi harus nunggu. Saya ga sabar, akhirnya memilih nyicil turun jalan kaki. Di lapangan Desa Kadudampit, baru saya nemu angkot. Sampe pertigaan Cisaat harganya cuma 3.000. Kalau dari gerbang taman nasional ongkosnya 8.000. Abang angkotnya kocak lagi. Dia bilang kalau butuh jemputan dari atas, hubungi aja dia. Ini saya kasih nomornya biar kamu gampang turun: 085723371144. Oiya, di perjalanan turun ini kamu juga bisa mampir ke sebuah benteng peninggalan Belanda. Ada diantara sawah, benteng itu bagus buat jadi objek foto-foto. Ada menaranya juga.
11.00-14.00
Untuk kembali ke Bogor, setidaknya perlu waktu tiga jam, kalau jalan relatif lancar ya. Supir mobil yang saya tumpangi ketika itu cerita, kemarin dia sore dari Bogor, subuh baru nyampe Sukabumi, saking macetnya. Makanya siang itu dia dengan cerdik ambil jalur alternatif. Jadi ga lewati Ciawi Bogor, tapi tembus langsung ke kawasan Batu Tulis Bogor. Ongkos Sukabumi-Bogor 20.000.
Perjalanan saya ke Situ Gunung pun berakhir. Meskipun belum terjamah total, ya lumayan lah bisa kenalan dulu sama Situ Gunung. Semoga lain kali bisa kesana lagi lebih lama, mengunjungi tempat lain yang lebih asik di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango itu.
| Tampakan danau dari depan wisma |
| Sebuah bekas dermaga, masih di depan wisma |
| Panorama Situ Gunung yang fotografis |
| Permukaan danau seperti cermin |
| Saya dan Bagus mengelilingi danau. Di belakang sana tampak puncak Gunung Gede |
| Kita juga bisa berperahu ke tengah danau. Biaya entah berapa. Saya lupa tanya. Hehe. |
Label:
foto,
foto travel,
Situ Gunung,
sukabumi,
travel,
traveling,
video,
video travel
Selasa, 04 Maret 2014
Solo Traveling To Singapore
Tiga hari lalu saya belajar backpacking sendirian ke Singapura. Berikut ini dokumentasi videonya sekaligus tutorial bagi yang ingin nyoba berdasarkan pengalaman saya. Beberapa tempat yang dituju diantaranya: kawasan Bugis dan Bras Basah, War Memorial park, Esplanade, The Helix, Art Science Museum, Gardens By The Bay, Merlion Park, Raffles Landing Site, kawasan China Town, Clarke Quay, hingga menonton konser band Taking Back Sunday di Somerset. Enjoy!
Label:
backpacker,
backpacking,
jalan,
singapore,
singapura,
traveling,
trip,
video,
video travel
Rabu, 28 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)






