Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2015

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Pagi Terakhir di Sugapa

Pemandangan matahari terbit dilihat dari landas pacu bandara Bilogai Intan Jaya
Rasanya banyak yang setuju, bahwa pagi dan sore hari, ketika matahari ada di batas horizon, ada masa yang paling indah dalam sehari. Saya sendiri selalu berusaha menyempatkan menikmati dua momen itu. Ketika liputan di Intan Jaya, suatu pagi di hari terakhir kunjungan di sana, saya bertemu seorang guru yang juga nampaknya menikmati pagi harinya yang dingin itu.


Pak guru Martinus minta fotonya ini dicetak dan saya kirimkan

Seorang warga distrik Sugapa berolah raga di landas pacu bandara

Lari di antara kabut

Sinar matahari perlahan membuyarkan konsentrasi embun pagi

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Meninggalkan Intan Jaya

Saya dibuntuti seorang wanita sakit jiwa.
Setelah hampir tertahan di Intan Jaya, saya akhirnya meninggalkannya juga. Berikut ini foto di perjalanan pulang dari Distrik Sugapa. Bonusnya, liputan saya di program 360 Metro TV tentang Intan Jaya. Enjoy!


Wildan dikentuti pesawat. Sebelum saya memotret momen ini, dia diselimuti debu

Pasangan penumpang menuju bandara Mozes Kilangin Timika

Batas awas

Belantara di atas awan

Kuala Kencana dari udara. Kuala Kencana adalah kawasan di sekitar kantor Freeport di Timika. Suasananya rapi, bersih, tertata. Mirip di luar negeri. Seperti bukan di Papua pada umumnya


*gambar teratas milik Brian Media Indonesia

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Swanggi

Ini cuplikan cerita horror di majalah komik re:ON. Jam itu mengingatkan gw ketika diganggu (diduga kuat) hantu di Intan Jaya papua. Begini ceritanya:

Gw tiba-tiba bangun dengar suara ketokan di dinding kamar. Brian udah bangun sama Kang Edy. Kami sama-sama heran. Itu beneran suara orang ngetok dinding? Eh pas pada bangun itu ada lagi suara ketokan, tepat di dinding atas kepala kami. Wildan lalu bangun. Dia gebrak lah itu dinding sampe ketokannya hilang. Pas dia ngecek ke luar kamar, gw dengar 5x ketukan lagi, pindah ke kamar sebelah. Lalu gw cek jam. Holy cow! Jam 02:36, witch hour.

Singkat kisah dipastikanlah malam itu juga bahwa yang ngetok gak mungkin orang. Wong itu di lantai 2 yang belakangnya atap seng. Terus masa kalo itu orang, gak kedengeran suara jalannya, langsung pindah ke kamar sebelah secepat itu. Fix, itu swanggi. Hantu dalam bahasa suku moni.

Lalu kami kembali tidur. Sialnya gw ga ngantuk lagi. Sial! Mana angin dari gorden yang nutup jendela niup-niup muka lagi. Mau bangun ambil headset takut swanggi menampakkan diri. Mau jak ngobrol orang gengsi. Yaudah akhirnya ketiduran. Eh, teror tadi kebawa mimpi.

Di mimpi itu gw dapetlah penjelasan bahwa itu mungkin pesan dari diri kita di masa depan yg udh berpindah dimensi. Kayak film interstellar. Semoga begitu :D []


Rabu, 27 Agustus 2014

Duduk di Samping Pak Pilot yang Sedang Bekerja



Pulang dari tugas liputan di Kabupaten Puncak Papua, saya duduk di kursi co pilot dalam pesawat dari Ilaga ke Timika. Rasanya menyenangkan sekali. Video di atas itu gambarannya. Atau foto-foto di bawah ini:

Sebuah air terjun di tengah belantara hutan terlihat dari pesawat


Kelokan sungai pun bisa kita nikmati dengan jelas

Terbang di atas awan

Rekan tim liputan yang lain duduk di bagian belakang pesawat yang sebenarnya untuk mengangkut barang

Kumpulan titik-titik rumah itulah ilaga, distrik yang jadi ibu kota kabupaten puncak papua. Ada delapan distrik di kabupaten yang berdiri sejak 2008 ini. Sebuah distrik ada yang nyebut "negara lain" karena rawan. Rawan you know lah. Tapi sekarang kata bupati, TNI, peneliti, warga-warga di sana: sudah aman.

Lihat titik merah putih di bukit kering itu? Dia bendera merah putih ukuran 10x15 meter persegi. Memperingati HUT RI Ke-69, di kabupaten puncak dipasang 5 bendera raksasa di 5 bukit berbeda. Bukit menggaro hangus karena dibakar warga. Tadinya mau dibuat kebun. Simak kisah lengkap pendakian ke Bukit Menggaro di tautan ini.

Yang putih-putih itu bukan salju. Tapi memang di pegunungan tengah ini dingin. Bahkan puncak cartenz ada di kawasan pegunungan tengah papua, di kabupaten puncak yang kami kunjungi. Ibu kota kabupaten puncak itu namanya distrik ilaga

Ini dia salah satu pemandangan dari pesawat barang yang kami tumpangi dari ilaga ke timika. Ada banyak jenis tebing. Yang rata kayak di kanan itu memang unik

Seminggu setelah terbang, pesawat yang pernah kami tumpangi terpeleset di landasan pacu. Beruntung awak kapalnya selamat.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mendaki Bukit Menggaro di Kabupaten Puncak Papua

Pada hari ketiga kunjungan saya ke Kabupaten Puncak Papua beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendaki Bukit Menggaro di kabupaten yang ada sejak 2008 lalu itu. Bukit ini merupakan satu diantara lima bukit lain yang ditempeli bendera merah putih raksasa ukuran 10x15 meter persegi. Kunjungan utama saya ke bukit ini sebenarnya adalah untuk mewawancara anggota TNI yang bertugas di Ilaga, distrik yang jadi pusat Kabuten Puncak. Mereka memilih lokasi ini karena pemandangannya bagus. Dari bukit yang terbakar ini, seluruh Ilaga terlihat. Berikut ini video tentang keindahan Bukit Menggaro yang saya rekam:





Lettu Pasukan Fajar Kharisma ketika saya wawancara. Di kesempatan lain ia tak pelit kasih info yang off the record.
Kamera Bang Coky punya fasilitas tembakan 30 kali berurutan. Ini beberapa pose absurd yang saya lakukan. Hehe.

Saya dan Prasetyo Prayogo, juru kamera yang bersama saya meliput di Kabupaten Puncak Papua.

Bang Arif ketika diwawancara saya persilahkan menyampaikan salam ke keluarga. Saya kira pesannya bakal personal, ternyata dia bilang dirgahayu Indonesia blablabla. Diakhiri dengan teriakan "Merdeka!"

Kamera Bang Coky punya fasilitas tembakan 30 kali berurutan. Ini beberapa pose absurd yang saya lakukan. Hehe.

Kami sempat berfoto di belakang si bendera raksasa. Tadinya mau 17 bendera yang dipasang, tapi waktu pemasangan dan dananya gak cukup. Untuk satu bendera aja harganya empat juta.

Saya jalan di belakang, karena tertahan dengan pesona bunga ini. Bang Fajar teriak ingatkan saya jalan cepat. Katanya kalau sore makin rawan di Puncak sini.
Sebuah sarang semut khas Papua dipetik dari pohon yang terbakar. Sarang ini sudah tidak lagi dihuni semut. Sebenarnya ini kaktus, yang sifatnya epifit atau numpang hidup di pohon lain. Tapi dia bersimbiosis dengan semut sehingga menjadi kaktus berlubang yang katanya punya banyak khasiat medis. Seorang peneliti UGM yang saya temui di Puncak bilang kalau ini ditanam di luar Papua ga bisa tumbuh, karena perlu semut yang cuma ada di Papua.

Bang Arif ini pernah cerita waktu tahun 1998 dia masih SMP. Ikutan jarah toko ambil Sega. Eh, pas keluar toko Sega-nya dipalak anak SMA. Haha. Lalu pas kami ngobrolin soal Erick Tohir, dia tanya Erick ini orang mana. Saya ga tau tapi pernah nonton sebuah wawancara yang bocorkan bahwa nama Erick itu dikasih ayahnya dari nama seorang pahlawan Viking. Kata Bang Arif, "oh pantesan saya lihat di Sega waktu itu ada nama Erick, sama nama lain yang akhirnya son-son," begitu katanya kira-kira.

Ditanya soal tokoh idola, Lettu Arif Wambrauw mengaku fans berat Jenderal SBY. Dia pernah salaman sama Pak Presiden sewaktu dilantik, dan bilang kalau ngefans banget. Lalu Bu Ani yang ada di sampingnya tanya, Bang Arif ini orang mana. Dia jawab Padang campur Papua, tinggal di Jakarta. "Saya seneng banget waktu itu," ujarnya mengenang. Hingga kini fotonya ketika bersalaman saya Pak Beye dipajang di ruang tamu rumahnya.

Ketika menuju perjalanan pulang, saya tertegun melihat sebuah lumut yang warnanya indah. Ternyata di samping lumut itu tumbuh tanaman Kantong Semar. Indah sekali.

Bang Ian gak sadar saya foto ketika turun bukit. Seorang tentara harus ganti penutup kepala ketika dalam posisi berjalan dan tidak. Yang dipakainya di foto itu, topi baja. Di dadanya juga ada besi yang melindungi objek vital. Pakai rompi anti peluru sudah merupakan kewajiban bagi tentara yang bertugas di Puncak.
 

Kami berangkat sekitar pukul tiga sore dengan menggunakan mobil ini. Bukit Menggaro berada dekat dengan bandara Ilaga.

Bang Ian ini ternyata adik kelas semasa SMA komandannya sendiri, Bang Fajar. "Saya yang ngelap ingusnya," kata anggota Paskhas berpangkat letnan satu itu.

Berusaha terlihat seram tapi sepertinya gagal. Hehe.

Ini Lettu Infanteri Arif Wambrauw, komandan pos 751/Raider Ilaga. Saat naik Bukit Menggaro, ia sedang berpuasa. "Saya nadzar," katanya mengemukakan alasan. Bang Arif pernah kuliah di UNJ Jakarta di jurusan olah raga. Setelah beberapa kali gagal masuk sekolah militer, ia lulus. Setelah menjadi tentara, ia memenuhi janji bahwa jika jadi anggota TNI, akan puasa senin-kamis.