Tampilkan postingan dengan label limbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label limbangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2015

Limbangan Pada Suatu Minggu

Kalau pulang ke rumah, apalagi ketika formasi keluarga lengkap, sayang rasanya kalau tidak melakukan aktivitas bersama. Saya lupa kenapa kala ini bapak nggak ikut. Tapi perjalanan pagi itu tetap menyenangkan. Kami jalan-jalan ke pinggiran sawah, menyeberangi sungai, dan kembali ke rumah pakai angkot.

Sejenis rerumputan unik di sebuah kolam

Selayang pandang



Pak tani

Desaku

Bu tani

Di kejauhan tampak motor melewati pematang menuju suatu tempat

Kering

Kelokan sungai

Sumber energi

Adik-adik

Selasa, 05 Agustus 2014

Mencicipi Limbangan




Pernahkah kamu merasa setelah berwisata di tempat yang jauh, ternyata sadar bahwa menikmati keindahan daerah sekitar rumah juga sesuatu yang tak kalah menyenangkan? Saya baru mengalami itu. Ada sejumlah tempat di Kecamatan Limbangan yang menyajikan pesonanya tersendiri. Beberapa tempat lain yang saya kunjungi, bernilai karena punya kepingan memori aktivitas di masa lalu. Pagi itu saya, bersama adik pertama saya Rizki, dan Ridwan teman saya semasa TK sampai SMA, mengayun langkah puluhan kilometer memutari sejumlah desa. Bapak saya dan teman semasa kuliahnya dulu juga turut serta dalam perjalanan itu. Merekalah kapten perjalannya. Bagi keduanya, perjalanan itu bagaikan nostalgia. Berikut sekilas penjelasan tentang wisata kami di Limbangan:

06.00
Berangkat dari Kampung Kudang, memutar ke Kampung Berdikari, melewati Alun-Alun Limbangan, berbelok ke arah Monggor, lurus terus menyusuri parit sampai tiba di Pasar Limbangan yang merangkap sebagai terminal. Di sana kami menyantap kupat tahu sebagai menu sarapan. Kurang dari satu jam kemudian, kami tiba di tujuan pertama.

Fajar di sekitar Alun-Alun Limbangan
Garis cahaya di jalan menuju Batu Nungku
7.30
Berjarak tak jauh dari pasar Limbangan, bukit Batu Nungku tak sulit dituju. Kita akan melewati jalan kampung, menyeberangi jembatan kecil, lalu mendaki selama beberapa menit. Sempatkan menengok ke belakang, karena Limbangan terpapar dari ketinggian akan terlihat indah dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Batu Nungku juga bisa jadi tempat berkemah. Kami sempat berpapasan dengan pendaki yang baru pulang setelah tiga malam bersenang-senang di puncak sana dengan gitar dan djembe-nya.

Saat jalan menanjak, sempatkan lihat ke belakang
Limbangan dilihat dari Batu Nungku
Mengabadikan diri
Ya begitulah. Itu saya. Hehe
Gunung Haruman didampingi Gunung Cikuray di sebelah kiri
Gunung Haruman terlihat lebih dekat di perjalanan menuju Batu Nungku
Tampakan sisi lain dari Batu Nungku
Saat beberapa langkah lagi tiba di puncak Batu Nungku, inilah pemandangannya
Pak Jai mendokumentasikan pemandangan dari atas Batu Nungku
Ridwan sedang merenung
Ridwan sedang melamun
Ridwan sedang istirahat di tempat :D
08.30
Di Kampung Cibadak Lebak, kami mampir di rumah Mak Emi, bibi bapak saya. Usianya 75 tahun, tapi masih terlihat sehat. Dengan suara cemprengnya yang khas, ia berbincang tentang banyak hal, kebanyakan nostalgia semasa muda. Kami disuguhi sesisir pisang dingin yang menyegarkan. Mak Emi mengaku senang punya kulkas di rumah panggungnya.
Mengunjungi Mak Emi
09.00
Menyusuri jalan desa Pasir Waru, kami menuju Pasir Astana. Pasir dalam basa sunda, berarti bukit. Sedangkan astana bermakna makam. Di Pasir Astana ada sejumlah makam tokoh penyebar agama islam, diantaranya Mbah Khotib atau masyarakat sekitar menyebutnya Mahketib. Di samping makam Mahketib ada sebuah bangunan kecil yang dihiasi patung Bung Karno. Di bagian atas pintunya yang berukirkan kujang, ada lambang garuda pancasila dan tulisan nama tempat itu: Museum Mini Bung Karno. Sayangnya pintu terkunci dan kami tak bisa masuk.
Sulit mendeskripsikan ini :D
Makam Syekh berlatar Gunung Haruman
Makam Mbah Khotib, salah seorang penyebar ajaran agama Islam di wilayah Limbangan
09.30
Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati sungai Cipancar. Menyeberangi sungai itu menjadi pengalaman nostalgis yang menyenangkan. Ketika kecil, saya dan teman-teman tak jarang bermain di sungai dan berimajinasi dengan batu besar di sana. Ada batu yang kami analogikan sebagai gajah, badak, buaya, motor cross, dan sebagainya. Meskipun kali ini cuma mencelupkan kaki dan merasakan dorongan ringan arus sungai, saya sudah cukup puas. Sayangnya beberapa sampah mengotori sungai.
Menyeberangi Cipancar
Berpose ketika menyeberang 
10.00
Setelah melewati pematang sawah dan kebun, kami tiba di Leuwi Bolang. Di sini ada pintu air yang menjadi tempat anak-anak berenang, dulu. Bapak berkisah bahwa dulu ia sering melompat ke sungai dari pintu air setinggi sekitar 5 meter. Saya pernah bersama teman semasa SD berenang di sana, tapi tidak beraksi seekstrim bapak saya dulu. Haha.
Menguji nyali
Pintu air Leuwi Bolang
10.30
Matahari perlahan tidak lagi terasa hangat. Perjalanan kami berlanjut dengan menyusuri persawahan di Kampung Cangkudu. Sesekali langkah kami tersendat ketika bapak menjelaskan suatu tempat.

Menyusuri pinggiran parit di Kampung Cangkudu
Bapak mengenang tempat ini sebagai sungai yang dulunya dihampiri sawah.  
11.00
Setelah sekitar lima jam berjalan kaki, kami tiba di sebuah balong atau kolam milik Pak Jai, teman bapak yang turut serta dalam perjalanan itu. Sambil menikmati belaian angin, kami pun menyantap menu makan siang: nasi merah digabung tahu panas bersama sambal terasi segar plus gorengan dan tumis cap cay. Jeda tak lama, kami pulang ke rumah berjalan kaki lagi dan tiba pada tengah hari.

Dokumentasi serunya perjalanan di atas saya abadikan dalam wujud video. Dua video itu memang minim penjelasan. Namun di salah satu video saya sertakan secuplik sejarah Limbangan seperti tertulis di situs resmi Kabupaten Garut. Enjoy Limbangan!

Tiba di garis finish

Minggu, 03 Agustus 2014

Ende dan Masa Kecil

Lebaran baru saja lewat. Beruntunglah mereka yang berkesempatan pulang kampung dan merayakannya bersama keluarga, meski pun perjuangan untuk mencapainya kita tahu tidak gampang. Tahun ini saya ada di barisan orang beruntung itu. Setelah menempuh sekitar sepuluh jam perjalanan, akhirnya sore itu saya tiba di rumah. Dua hari menjelang lebaran jalur mudik lintas selatan sangat padat kendaraan. Saya sampai harus menggunakan pilihan bantuan terakhir: turun di jalan dan minta dijemput bapak saat jarak ke rumah tinggal 15 menitan jika lalu lintas normal. Sesampainya di rumah pun, saya langsung berangkat menghadiri acara buka puasa bersama teman-teman semasa SMP. Reuni. Itulah salah satu nyawa masa lebaran. Ajang kita melupakan sejenak kecemasan masa depan yang tidak pasti, dan menenggelamkan diri dalam sensasi hidup di masa sepuluh tahun lalu. Atau kata Zen RS, bercengkerama dengan teman masa kecil itu upaya menjaga keutuhan masa silam. Memastikan diri tak menyusut dan bertahan dalam bentuknya.

Orang yang saya rasa menjadi cermin sebuah fragmen masa kecil saya yang menyenangkan, adalah Ende. Nama lengkapnya Dede Suryamin, atau Dede Yamin, atau teman-teman SD kami yang lain memanggilnya Baso, karena di namanya ada kata "yamin". Sekitar tahun 1996 saya sekeluarga pindah rumah. Teman bermain saya di tempat baru adalah Ende dan keponakannya, Johan. Mereka tinggal tak jauh dari rumah baru tadi. Saya, Ende dan Johan, serta adik saya kemudian menjadi kawan sepermainan. Ende dan Johan bahkan tak canggung masuk rumah kami. Kalau mau nonton TV, mereka tinggal buka pintu dan langsung bergabung duduk di depan TV. Sejumlah permainan juga kami jajal. Dari membuat saung dari jerami ketika sawah di dekat rumah panen, membuat jebakan di gundukan pasir, menerbangkan layangan, hingga bermain sepak bola. Ende ini bermain sebagai striker. Di tim RT kami dia memegang peran kapten. Pun demikian di luar lapangan. Ia punya wibawa seorang pemimpin. Saya ingat ketika kami kelas 3. Saya kala itu menjadi KM, Ketua Murid. Entah karena apa, saat pulang sekolah beberapa orang teman meneriaki saya "KM balehom", artinya KM yang kurang cakap. Ende-lah yang kemudian hadir jadi pembela saya. Langkah kakinya yang diselingi pose jinjit tertahan. Ia berbalik ke arah kawanan tadi. Saya lalu bilang sudahlah biarkan mereka. Kami kembali melanjutkan pulang. Ende juga bisa dibilang influencer, sosok yang memberi pengaruh kapada yang lain. Suatu ketika obrolan kami diwarnai kisah seru tentang Ende dan Johan yang menaiki gajah di sungai, atau buaya di sana. Bahkan ada motor cross juga yang mereka mainkan di sungai. Bagaimana bisa? Suatu pagi saya diajaknya ke sungai, dan merasakan sensasi berfantasi dengan batu kali yang besar ukurannya bak gajah, badak, atau kuda. Tergantung imajinasi kita mau menjadikan batu itu makhluk apa.

Berimajinasi juga kami terapkan ketika bermain di balai desa, tempat anak-anak menghabiskan sore. Ketika itu rumput jepang hijau terhampar di halamannya. Ujung dedaunannya akan terasa menusuk ketika kita menduduki. Di sanalah surga kami. Sebatang pohon lengkeng berbatang sekepalan tangan menaungi kami yang bermain perang-perangan. Di sebelahnya sebuah pohon beringin rimbun tumbuh tak terlalu tinggi. Dari pohon itu kamu sering bereksperimen dengan ulat dan kepompong yang berkilauan. Pagar balai desa kami anggap sebagai kuda. Bosan bermain khayalan, kami berlatih menendang penalti di atas rumputnya. Ketika bola menghantam kaca, kami panik. Akibatnya, Mang Mumuh datang marah. Bermain bola akhirnya kami lakukan dalam skala lebih kecil. selembar kardus bekas kami potong-potong hingga membentuk 22 potongan yang dilipat membentuk segitiga di atas tegel. Di kedua sisinya kami gambar desain kaos tim klub favorit kami. Nama dan nomor punggung tentu tak lupa disertakan. Saya sangat mengidolakan Juventus kala itu. Lipatan kardus kemudian kami susun sesuai formasi. Sesobek kecil kertas kami mampatkan hingga berbentuk bundar. Itulah bolanya. Kami menendang kertas itu dengan menekan si kardus hingga menghantam bola ke arah gawang. Siapa yang pemainnya berposisi paling dekat dengan bola, ia berhak menendang. Keseruan ragam permainan itu pada akhirnya berakhir dengan asiknya jenis permainan lain: Play Stasion.

Play Stasion atau PS meracuni hidup saya sejak kelas 6. Uang jajan saya bertambah demi membiayai hobi baru itu. Tiap pagi di masa senggang sekolah saya duduk berjam-jam di sebuah rental PS beraroma bensin di kawasan Pasar Heubeul Limbangan Garut. Adik saya juga tak kalah kecanduan. Ia tamatkan permainan Harry Potter. Dia ulik trik fatality-brutality-animality di permainan Mortal Kombat. Ende pun tak kalah terlena. Ia bahkan ditawari menjadi penjaga sebuah tempat penyewaan PS. Artinya, kami semakin jarang bertemu untuk sama-sama bermain. Masa SMP pun terlewati. Era SMA terlampaui. Siang hari di hari lebaran kemarin, saya dan adik melewati tempat kami bermain PS dulu. Pemilik pusat permainan itu sudah punya cabang usaha lain: lapangan futsal di depan game center. Di balik kaca lapangan itu, Ende tampak melempar senyum. Kami berbalik dan memarkir motor, menyalami Ende, menanyakan kabarnya, bertanya tentang kenapa kami tak bertemu di masjid ketika Solat Id. Rupanya ia sibuk dengan pekerjaannya. Kami berbincang singkat. Sesekali Ende melirik ponsel di genggaman tangannya. Caranya menyunggingkan senyum, posenya ketika berdiri yang khas, rasanya tak berubah. Pertemuan singkat dengan Ende siang itu membuahkan lamunan tentang masa-masa yang pernah kami alami. Kilasan pertemuan dengan Ende menyiram ingatan masa kecil yang kata Zen RS seperti bunga dalam pot. []

Rabu, 07 Mei 2014

Menuju Bukit Pabeasan

Setiap kali pulang ke rumah, akhir-akhir ini yang saya lakukan adalah berjalan-jalan, menjelajahi daerah sekitar rumah pagi-pagi bersama ayah, ibu dan adik(-adik). Terakhir kali pulangsekitar dua pekan lalu—kami berencana mendaki Bukit Pabeasan. Meski tak sampai puncak, perjalanan selama menyentuh kaki bukitnya sudah menghadiahkan kisah-kisah menarik.

Bukit Pabeasan becermin di permukaan sebuah sawah. Ayah saya berkisah, bahwa nama pabeasan berasal dari mitos tentang sebuah periuk yang konon ada di puncaknya. Dahulu kala, ada kepercayaan bahwa arah periuk menghadap akan menunjukkan suatu wilayah/desa yang akan menyambut masa panen. Kata Pabeasan berasal dari kata dasar beas atau beras dalam Bahasa Indonesia.
Sebuah saung bertengger berlatar Bukit Pabeasan. Saung itu bergaya arsitektur badak heuay. Badak heuay (dalam Bahasa Indonesia artinya badak menguap) merupakan salah satu gaya arsitektur atap bangunan khas sunda. Jenis atap bangunan sunda lain bisa kamu baca disini
Sungai ini bernama Leuwi Bolang. Ayah saya mengaku bahwa inilah arena bermainnya sewaktu kecil. Saya sempat merasakan bermain di sungai. Suatu sore kakak sepupu saya meninggal karena tenggelam. Saya dan teman-teman kemudian berpindah tempat bermain

Rabu, 17 Oktober 2012

Mang Dindin


Sejak lama sebenarnya saya sudah berniat untuk membuat sebuah karya mendokumentasikan dunia paman saya, Mang Dindin. Awalnya saya terpikir untuk membuat semacam novel yang menceritakan indahnya dunia di mata Mang Dindin. Sayangnya, satu huruf pun belum saya ketik untuk novel ini. Hehe. Saya lalu berbelok ingin membuat video dokumentasi keseharian Mang Dindin. Beberapa video sudah terkumpul, namun naas, kamera saya hilang. Dalam rangka ikut memperingati hari kesehatan jiwa sedunia yang jatuh tanggal 10 Oktober lalu (tahun ini temanya depresi sebagai krisis global. Ga nyambung banget sih sama kasus Mang Dindin. Haha), saya mengunggah foto-foto yang menggambarkan siapa itu Mang Dindin, sekaligus menggambarkan apa saja kegiatan harian adik ayah saya itu. Saya bersyukur telah diajarkan keluarga untuk menghormati mereka yang berkebutuhan khusus. Saya selalu ingat sebuah momen ketika Mang Dindin diajari mengaji oleh santri pesantren Kudang di rumahnya, ketika nenek saya masih ada dan Mang Dindin tinggal di rumahnya. Waktu itu saya terharu mendengar beliau yang memiliki keterbatasan, terus berusaha mengeja huruf hijaiyah di iqronya. Baiklah, langsung saja kita simak rangkaian foto esay berikut:


Saya punya paman, saya panggil Mang Dindin. Beliau sakit demam di usia 4 tahun, panas tubuhnya sepertinya merusak salah satu bagian otaknya, sehingga kondisi mentalnya mengalami kemunduran, bahkan hingga usianya berkepala 4 kini, ia masih memiliki pola pikir layaknya anak usia 2-3 tahun. Meski demikian, Mang Dindin memiliki keistimewaan yang bisa jadi tidak kita miliki.




Mang Dindin setelah mengikuti solat subuh berjamaah


Mang Dindin tidak pernah meninggalkan solat, meski dia mengalami keterbelakangan mental. Tiap kali adzan berkumandang, ia selalu sigap bersiap ke mesjid dan ikut solat berjamaah


Bagi Mang Dindin, dunia sepertinya tidak mengenal kata duka. Ia selalu terlihat ceria, meski jalan hidupnya mungkin tidak semenyenangkan ekspresi mukanya


Tiap pagi Mang Dindin selalu sarapan bubur di Mang Entah. Ia disiplin dengan rutinitasnya, bahkan ia selalu minum dengan botol yang selalu ia bawa


Mang Dindin akan bermain badminton


Mang Dindin bersiap bermain badminton. Ia mahir bermain bulu tangkis. Mang Dindin menggunakan tangan kirinya untuk memegang raket ketika beraksi


Mang Dindin usai bermain badminton dengan latar belakang gedung olah raga Limbangan Timur


Sehari-hari Mang Dindin menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di lingkungan rumah


Sehari-hari Mang Dindin menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di lingkungan rumah


Mang Dindin menyaksikan aktivitas di dalam madrasah


Mang Dindin menyaksikan anak-anak menari di Madrasah


Mang Dindin menyaksikan anak-anak menari di Madrasah


Mang Dindin di Madrasah Ar Ridho


Mang Dindin duduk di pinggir jalan raya Limbangan


Mang Dindin duduk di pinggir jalan raya Limbangan


Ketika malam tiba, biasanya Mang Dindin menonton televisi