Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

Jalan Kaki ke Tebing Keraton

Target saya tahun ini adalah mendaki 3 gunung di kabupaten garut: Guntur, papandayan dan cikuray. Tapi hingga setengah tahun berlalu, belum satu pun dari trio itu yang saya daki. Akhirnya menjelang bulan puasa, saya mengakali agar setidaknya saya tetap naik gunung. Naik bukit lah. 

Maka sehari sebelum berpuasa, saya mengunjungi tebing keraton di Bandung, Jawa Barat. Agar sensasi naik gunungnya tetap ada, saya menuju ke sana tidak dengan kendaraan. Motor yang saya tumpangi bersama ayah dari simpang dago, diparkir di gerbang masuk taman hutan raya juanda (THR Juanda). Dari sanalah kemudian kami menempuh jalan yang banyak menanjak sejauh lima kilometer dengan lari dan jalan kaki. Mulai meninggalkan gerbang THR jam setengah 6, satu setengah jam kemudian kami baru nyampe lokasi. Hahaha. Padahal kalo naik kendaraan cukup 20 menit saja waktu tempuhnya.

Di tembok ini banyak graffiti. Bandung memang kota seni 

Jalannya sepi. Mungkin karena tengah minggu juga ya. Sesekali ada motor mendahului kami, angkot carteran juga. Ada juga pesepeda dan pejalan lain yang mau ke tebing keraton juga. 

Sepanjang jalan kita akan disuguhi suasana tenteram perkebunan. Ini kebun ada setelah kita melewati warung bandrek. Warung bandrek ada titik penting dalam perjalanan kita ke Tebing Keraton, karena ini tempat peristirahatan yang lokasinya sekitar 1,8 km dari garis finish. Warung ini berupa warung sederhana berbahan dominan kayu. Awalnya saya nggak tahu bahwa nama tempat itu warung bandrek. Saya tahunya pas lagi ngobrol bebas sama seorang penjaga parkir motor pas mau pulang. Padahal saya dan bapak dua kali istirahat di sana, dan sempat nyobain bandreknya yang memang enak. Bandrek yang hangat pedas dan menyegarkan itu diberi serutan kelapa dan kolang kaling.

Motif penanaman di kebun membuat lahan pertanian terlihat seperti kue lapis.

Inilah suasana perkampungan yang saya lewati.

Tanpa masuk ke area berbayar di kawasan hutan lindung, kita pun bisa menikmati pemandangan indah yang juga disajikan dari tebing keraton.

Setelah membayar uang masuk Rp 11.000,- kita bisa masuk kawasan tebing keraton. Harga yang sama juga perlu kamu keluarkan kalau masuk kawsan THR Juanda. Tapi kalau udah bayar di salah satunya, gak perlu keluarkan uang dua kali, karena keduanya ada dalam satu pengelolaan yang sama. Jalan menuju tebing keraton dari pintu masuk ya sebagus ini: ada penunjuk jalannya. Kita paling Cuma jalan kaki sekitar puluhan atau seratusan meter.

Tebing keraton adalah sebuah bagian tebing yang menjorok. Dari sana terlihat pemandangan hutan dan pegunungan, lengkap dengan kabut yang masih melapisi mereka. Ada sebuah papan berisi tulisan isinya bahwa nama asli tebing keraton adalah cadas jontor. Cadas dalam basa sunda berarti tebing, jontor maksudnya menjorok. Ada pagar pembatas di tepian tebing, tapi gak sedikit juga yang nekat melewati pagar itu, dan berfoto di atas batu yang langsung berbatasan dengan jurang dalam. Saya sih sarankan kalian jangan ikuti gaya konyol ala foto di atas. Kan gak lucu kalo ada berita “seorang pengunjung tebing keraton meninggal karena jatuh ke jurang demi sefie”.

Sejauh mata memandang, hamparan pegunungan berbalut kabut terlihat indah *tsah
Ada sebuah tempat di bagian lain tebing keraton yang lebih sepi. Kalau mau ke sana, kamu tinggal ikuti jalur yang belum dipasangi batu pemandu arah. Dari sana kamu bisa lihat pemandangan ke arah cadas jontor. Membaca sambil mandi cahaya matahari dengan bersandar ke sebuah pohon pasti rasanya menenangkan. Tinggalkan dulu lagu-lagu di ponsel yang kamu bawa, biarkan suara burung mengiringi suasana hangat itu.

Ayah saya usianya dua kali usianya saya, maka wajar kalau beliau tak bisa berlari di jalan menanjak. Apalagi beliau masih aktif merokok. Tapi udah bisa jalan jauh begini pun udah luar biasa. Dan ini bukan kali pertama. Kami (bersama adik saya juga, mama lebih gak kuat jalan jauh. Hehe) beberapa kali jalan-jalan ke gunung di sekitar rumah, dan bapak masih kuat.

Ketika melewati perumahan warga, mereka sedang nyekar. Nyekar atau berziarah kubur adalah salah satu tradisi orang sunda sebelum melaksanakan puasa di bulan ramadhan

Di perjalanan kami juga bertemu dua orang anak ini. Mereka bermain badminton di jalan. Ketika kami lewat, seorang di antara mereka menyemangati. 
Pulangnya kami menumpang sebuah truk pasir. Mereka nggak mau menerima ketika bapak saya ngasih uang honor tumpangan.

Bonus: pemandangan asri yang kalau kita lihat dan rasakan langsung berlipat-lipat kali lebih indah



Rabu, 23 Juli 2014

Kontroversi Investasi ala Koperasi Cipaganti


Waktu saya cuma dua hari lagi Pak. Senin dan selasa, lalu selesai. Empat bulan kami berjuang untuk delapan ribu mitra, saya jujur harap-harap cemas. Tapi kita berdoa, semoga...,” kalimat Artha Bachtiar terputus. Kata-katanya tercekat. Ia coba melanjutkan, tapi gagal. Genangan air lalu tampak di matanya yang memerah. Artha menyerahkan mikrofon ke pria di sebelahnya. Sore itu ratusan orang hadir di Jalan Cipaganti 82 Bandung, Jawa Barat. Mereka adalah investor atau mitra usaha Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada. Koperasi bentukan direktur utama Cipaganti Group Andianto Setiabudi ini terbentuk pada 2002. Sejak saat itu hingga kini, 3,2 trilyun rupiah terkumpul. Itu bukan angka irasional, mengingat tiap investor minimal menanamkan modal 100 juta rupiah. Uang dari delapan ribuan orang itu kemudian disalurkan ke unit-unit usaha Cipaganti Group. Para investor kemudian dijanjikan bagi hasil keuntungan dengan rentang persentase bunga antara 1,4 hingga 1,7 persen dengan jangka waktu pengendalian satu hingga lima tahun. Semula semua berjalan seperti biasa, hingga Maret 2014 kemudian tiba. Kala itu banyak investor yang tak lagi menerima dana yang dijanjikan. Padahal, 80an persen mitra usaha berstatus pensiunan. Tak sedikit dari mereka yang mencurahkan seluruh asetnya di Koperasi Cipaganti. Makanya tak heran, ketika keran bagi hasil tertutup, banyak yang kesulitan. Seorang mitra usaha dilaporkan meninggal, tepat setelah bertelepon menanyakan dana investasinya di Koperasi Cipaganti. Satu lagi di hari yang sama, seorang mitra usaha berusia 70 tahun pun akhirnya meregang nyawa. Penyakitnya kambuh setelah tahu bahwa Juli ini koperasi tak bisa membayarkan dana yang ia tanamkan. Itu baru dua contoh. Ada yang bilang sudah sampai sembilan orang mitra yang akhirnya meninggal sebelum uang mereka kembali.

Mada Kresna misalnya. Pria yang tinggal di Bogor Jawa Barat ini harusnya sudah bisa mengambil kembali uangnya pada Juli ini, tepat satu tahun masa tanam modal di Koperasi Cipaganti. Padahal, uang itu akan ia jadikan modal pengobatan. Mada mengalami kecelakaan hingga sebatang pen tertanam di tulang belakangnya. Belum lagi sebuah luka teperban di tumitnya. Ia paling takut jika kakinya sampai harus diamputasi. “Saya juga dapat yah semacam pesangon segala macam (yang disetorkan ke koperasi). Saya butuh biaya untuk operasi segala macam. (Awalnya) saya merasa cukup aman karena perjanjiannya pake notaris. Dan ditambah lagi serugi-ruginya modal saya akan balik. Tapi dengan kenyataannya dengan PKPU segala macam, modal dasar yang PKPU pun tidak akan balik dengan cara sepeti ini. Penuh ketidakpastian dan tidak ada itikad baik,” pungkasnya.

Koperasi Cipaganti sejak Mei lalu dilaporkan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Atas laporan itu, statusnya kemudian menjadi Penangguhan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU. Artinya, koperasi ini dipaksa membayar utangnya kepada investor, dengan mekanisme yang menguntungkan semua pihak. Proses PKPU inilah yang bagi para investor, terasa berat. Empat bulan terakhir, puluhan orang investor merelakan diri menjadi relawan yang mengurusi berbagai upaya agar uang milik lebih dari delapan ribu orang itu bisa kembali. Namun, aral dan rintangan bukan berarti tak ada. Yang pertama, pihak pengelola koperasi dinilai tidak kooperatif. Ketua Koperasi Cipaganti mengaku hanya jadi boneka. Selama setahun menjabat di posisi itu, ia tak pernah diberi bocoran laporan keuangan koperasi. Pengelolaan pegawai juga bukan dia yang mengatur, melainkan ketua dewan pengawas koperasi yang juga menjadi dirut Cipaganti Group, Andianto Setiabudi. Para mitra sebenarnya tak percaya dengan pengakuan itu. Menurut mereka, tak mungkin seorang master mau dibohongi. Lagian kata seorang mitra, gaji ketua koperasi per bulan tembus puluhan juta rupiah. Melalui tim kuasanya hukumnya, Andi menyatakan punya itikad baik. Buktinya ia kooperatif merancang proposal perdamaian. Yang pasti, kini Andianto Setiabudi beserta kakak dan istrinya yang juga punya jabatan tinggi di koperasi, ditahan Polda Jawa Barat. Kata sebuah sumber, sebelum ditahan Andianto sudah menyiapkan rencana kabur ke luar negeri.

Kendala kedua yang dihadapi para relawan mitra usaha, adalah perpecahan pendapat di antara para mitra sendiri. Itu muncul, terutama ketika mereka dihadapkan pada ajuan proposal perdamaian dari pihak Koperasi Cipaganti. Mengakali pengembalian dana nasabah, sebuah proposal disodorkan kepada para investor. Isinya, pihak Koperasi Cipaganti menawarkan pendirian sebuah perusahaan yang disebut PT Pooling Asset. Perusahaan itu nantinya menaungi aset Cipaganti Group di beberapa perusahaan. Kali pertama proposal itu ditawarkan, investor menolak. Yang mereka perlukan dalam waktu dekat sebenarnya cuma pembayaran cicilan uang untuk keperluan hari raya. Andianto menjawab tak punya uang itu. Usulan untuk menjual aset perusahaannya pun ditolak karena menurutnya, kondisi Cipaganti sedang tidak di atas angin. Harga jual bisa jatuh. Andi juga menolak menjaminkan aset pribadinya untuk para mitra. Akibat penolakan itu, seorang mitra menghembuskan mosi keberpihakan panitia PKPU yang seharusnya netral. Ia menilai panitia mengintervensi keputusan Andianto. Seorang panitia berkilah atas tuduhan itu. Katanya, ia sudah bertanya kepada Andianto terkait kesediannya menjaminkan aset pribadi. Namun jawaban sang ikon cipaganti dinilai membingungkan. Pertemuan Andi dan investor hari itu pun berbuah kekecewaan para mitra usaha.

Dua hari menjelang putusan pengadilan terkait nasib koperasi, sebuah pertemuan akbar digelar di GOR Mahaka Jakarta Utara. Tiga ribuan orang dari berbagai daerah, memaksakan diri hadir. Momen ini penting karena nasib proposal yang diajukan koperasi akan ditentukan. Para investor dihadapkan pada dua pilihan: menerima proposal pendirian perusahaan yang isinya telah direvisi sesuai kesepakatan koperasi-mitra usaha, atau menolak itu dan rela Koperasi Cipaganti dinyatakan pailit. Perencana keuangan Aidil Akbar menilai dua pilihan tadi dilematis. “Seperti makan buah simalakama, dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu yang mati,” ujarnya mengandaikan. Dengan disetujuinya proposal pun, dana mitra tidak lantas segera kembali. Mereka harus mendata aset yang dimiliki perusahaan itu, menaksir kepemilikan modal usaha untuk kemudian dikembangkan. Masalahnya, tak ada angka pasti. Angka yang disebut-sebut pun jelas tak cukup menutupi utang yang harus dibayarkan ke semua mitra usaha. Kepolisian Daerah Jawa Barat bilang nilainya 800 milyar. Seorang mitra katakan yang ada cuma 100 milyar. Kemana sisa lebih dari dua trilyun lain? Cuma Andianto Setiabudi yang paham. Ia sempat berkilah dana sebesar itu raib akibat kerugian bisnis pertambangan. Harga jual batu bara memang sempat anjlok. Nah apa yang terjadi kalau koperasi pailit? Seluruh asetnya akan dilelang. Aset itu juga akan dikurangi komisi sana-sini, yang nilainya tak kecil. Bisa-bisa mitra tidak dapat apa-apa. 

Kericuhan pun pecah. Beberapa mitra usaha mengaku tak tahu soal tawaran proposal itu, padahal perwakilan mereka sudah beberapa kali berembug dengan pihak koperasi untuk merumuskan proposal. Argumen lain berbunyi penolakan muncul karena aset perusahaan belum jelas. Mereka tak mau beli kucing dalam karung, mengambil perusahaan yang belum tentu akan menguntungkan. Padahal audit terhadap aset, baru bisa dilakukan setelah perusahaan itu dikuasai para mitra usaha, yang memegang 99,9 persen saham. Akhirnya, mereka tetap berdiri di kubunya masing-masing meski pemungutan suara terus digelar. 

Dua hari setelahnya, sejumlah mitra hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Telat belasan menit, sidang putusan kepailitan koperasi cipaganti akhirnya dibuka. Sidang ini mengagendakan pengesahan hasil voting di GOR Mahaka. Hasilnya, lebih dari 90 persen mitra usaha setuju dengan proposal pembentukan PT Pooling Asset. Namun pengesahan raihan suara itu ditunda hingga delapan hari, karena kendala teknis yang dinilai tidak signifikan. Akhirnya, kini delapan ribuan mitra usaha Koperasi Cipaganti menggantungkan harapan kepada sebelas wakil mereka untuk mengelola perusahaan baru mereka. 

Rentetan kisah ini juga berbuah pelajaran bagi para penanam modal yang ingin investasinya ranum berkembang. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM, Setyo Heriyanto, mengingatkan para calon investor untuk berhati-hati memilih instrumen investasi. Kejelian mendalami koperasi yang akan mereka percayai jadi modal penting. Perencana keuangan Aidil Akbar punya tips lain. Katanya jangan tergiur dengan bunga bagi hasil yang sedemikian besar. Ia menambahkan, bahwa pemerintah atas nama Kementerian Koperasi dan UKM harus membentuk badan khusus yang bisa menangani masalah serupa yang dialami Koperasi Cipaganti. Ide itu mencuat setelah ia sadar, bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak punya wewenang menyemprit Koperasi Cipaganti. Celakanya Kementerian Koperasi juga punya jangkauan kekuatan yang terbatas. Undang-undang nomor 17 tahun 2012 dibatalkan Mahkamah Konstitusi setelah seseorang mengajukan judicial review. Padahal di sana, impian Aidil tentang badan pelindung koperasi tertanam. “Sebetulnya sedang disiapkan sih waktu itu,” tutup Setyo. []

Sabtu, 19 Juli 2014

Sunda Wiwitan: Terasing di Tanah Kelahiran

Pengalaman liputan kali ini berkesan banget. Mengenal ajaran sunda wiwitan seperti diliatin dari mana dan siapa saya berasal. Ajaran ini sebenarnya melengkapi syarat agama (kalau agama dipahami dengan ciri sbb): ada tuhan, ibadah, nabi, adab pernikahan, a
Pengalaman liputan kali ini berkesan banget. Mengenal ajaran sunda wiwitan seperti diliatin dari mana dan siapa saya (yang duduk paling kiri) berasal. Ajaran ini sebenarnya melengkapi syarat agama (kalau agama dipahami dengan ciri sbb): ada tuhan, ibadah, nabi, adab pernikahan, aturan berlaku, dll. Sayangnya pemerintah gak akui penganut sunda wiwitan. Akibatnya banyak masalah panjang dan rumit. Kita tidak benar-benar bhineka tunggal ika?
Ngertakeun Bumi Lamba

Awi Goong melolong. Suling bambu menyusul dengan muntahan melodinya yang khas. Kemudian karinding, bonang, kendang, masuk ambil posisi dalam sebuah lingkaran kecil. Sabtu pagi itu ratusan orang berkumpul di kaki Gunung Tangkuban Perahu, diantara mereka ada yang berpakaian serba hitam lengkap dengan ikat khas sunda di kepalanya. Ada yang telanjang dada, ada juga yang berbusana kemeja rapi ala setelan sembahyang umat Hindu. Mereka disana untuk sebuah upacara adat yang dipraktikkan penganut Ajar Pikukuh Sunda atau yang lazim dikenal dengan nama Sunda Wiwitan: upacara Ngertakeun Bumi Lamba. 
Upacara ngertakeun bumi lamba di kaki gunung tangkuban perahu. Memasuki bulan ke-7 atau kapitu dalam penanggalan kalasunda, para penganut sunda wiwitan menghaturkan syukur dengan melakukan sejumlah ritual. Upacara ini ditutup dengan melarung sesaji ke dal
Upacara ngertakeun bumi lamba di kaki gunung tangkuban perahu. Memasuki bulan ke-7 atau kapitu dalam penanggalan kalasunda, para penganut sunda wiwitan menghaturkan syukur dengan melakukan sejumlah ritual. Upacara ini ditutup dengan melarung sesaji ke dalam kawah gunung tangkuban perahu
Ngertakeun Bumi Lamba diawali dengan ritual di sebuah lapangan di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Gemerincing lonceng mengiringi bacaan doa yang dihantarkan jaro tangtu atau pemimpin upacara adat. Berbagai hasil bumi yang telah tersaji di sebuah altar, kemudian diarak setelah sebelumnya didoakan. Menyusuri jalan menanjak sepanjang sekitar dua kilometer, ratusan orang itu pun menuju Kawah Ratu puncak Gunung Tangkuban Perahu. Setibanya disana, inti upacara pun dihelat. Ngertakeun Bumi Lamba secara harfiah bermakna menyejahterakan jagad raya. Kata ngertakeun berdasar “kerta”, yang berarti sejahtera. Sementara bumi lamba bermakna mikrokosmos (diri sendiri) dan makrokosmos (alam semesta). “sering kita lupa bahwa lingkungan kita adalah lingkungan yang patut melihatnya itu sebagai wilayah suci. Seperti gunung, hutan, sumber air, sungai, lautan, atau intinya matahari bahkan, adalah sesuatu yang suci. Karena sucinya, kita harus mau memelihara itu semua supaya menjadi kerta”, ujar Gingin Akil, Sang Jaro Tangtu atau pemimpin upacara adat. Upacara ini digelar tiap bulan ketujuh dalam sistem penanggalan Kalasunda, sistem pegaturan waktu berdasarkan peredaran bulan dan matahari. Bulan ketujuh atau kapitu tersebut, biasanya jatuh pada bulan Juni. Upacara Ngertakeun Bumi Lamba juga dimeriahkan dengan tarian yang bernuansa suka cita. Sekitar 45 menit gelaran upacara berlangsung, sesaji yang dibawa dari mata upacara sebelumnya, dilarung ke dalam kawah. Dengan demikian, tuntaslah ritus tahunan tersebut. 

Matahari terbit di kampung cireundeu, kampung adat di kelurahan leuwigajah yg dulu terkenal krn tempat pembuangan sampah akhirnya. Jadi inget sebuah episode cosmos: a spacetime oddissey, ttg sejarah tata surya. Melalui unsur timbal yg ternyata diimpor dr
Matahari terbit di kampung cireundeu, kampung adat di kelurahan leuwigajah yang dulu terkenal karena tempat pembuangan sampah akhirnya.
Tiga hari berselang, puluhan kilometer dari arena upacara Ngertakeun Bumi Lamba, sebuah persembahyangan digelar. Di Padepokan Surya Kancana Pajajaran, di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, belasan orang berpakaian serba hitam berkumpul. “Ini babakti atau pasaduan, artinya lapor. Karena minggu lalu kita melakukan Ngertakeun Bumi Lamba, berlangsung rahayu, selamat. Kita bersyukur kepada Tuhan,” ujar Rakean Pitara Lalam Wiranatakusumah atau Eno, salah seorang tokoh di padepokan itu. Sembahyang ini digelar sejak “wanci sareupna”, atau waktu diantara pukul 6 sore hingga sekitar jam 9 malam. Serupa dengan Ngertakeun Bumi Lamba, persembahyangan ini juga menghaturkan sesaji berupa aneka ragam buah-buahan. Sesaji yang terpapar di atas altar didoakan dalam balutan kidung yang diwarnai denting suara kacapi dan alunan suling bambu. Sesekali terdengar bunyi senggukan tangis dari samping altar. “Kalau kita dalam doa ada ibu, bapak, buyut, bao, jangaware (leluhur), sampai ke tingkat para batara, dewa, baru Tuhan. Atau kalau mau diambil dari atas, dari Tuhan turun. Jadi sembahyangnya gitu. Karena ada perantara kan sebelum kita hidup,” papar Eno yang sehari-hari mengajar pencak silat itu. Sembahyang kemudian ditutup dengan memasukkan sesaji ke dalam goah atau kamar sakral. Hadirin pun saling bersalaman tanda sembahyang usai. 
Menjalani Hidup Sebagai Penganut Sunda Wiwitan

Dalam pemaparan yang terbata-bata, emosi Eno tak bisa disembunyikan ketika ia menjelaskan keyakinan yang ia pilih. “Ya agama. Ini agama justru agama sunda, karena kan keberadaanya seperti ini. Kita juga eling ke Gusti, ke alam. Dalam sehari-hari kita menjalankan dasar welas asih yang diajarkan Prabu Siliwangi, silih asah, asih, asuh. Itu dasar ajaran sunda wiwitan,” ujarnya berapi-api. Nada tinggi Eno beralasan. Pasalnya, pemerintah tak mengakui Sunda Wiwitan sebagai agama. “Saya pengen semua warisan budaya ini diakui. Kalau sudah mengakui bahwa ini suatu agama, mohon diusut. Kalau mereka nanya kitab, kita juga punya kitab. Apakah naskah siksakanda ingkarsian itu bukan kitab?!”
Pada sebuah pagi, dari ladang singkong warga cireundeu #cireundeu #singkong #kampungadat #cimahi #jabar
Sebuah pagi, dari ladang singkong warga cireundeu
Tidak mudah memang menjalani hidup sebagai penganut aliran kepercayaan—begitu ajaran ini dikelompokkan dalam sistem administrasi negara. Seorang penganut aliran kepercayaan, sebetulnya bisa saja mengosongkan baris agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Namun pilihan itu sarat risiko. Ada stigma negatif terhadap mereka yang tidak mengisi baris agama dengan salah satu pilihan yang disediakan pemerintah. Belum lagi kekhawatiran adanya tindakan intoleransi. Sadar dengan kemungkinan munculnya konsekuensi itu, Eno pun memilih salah satu agama dalam KTP-nya. “Itu bukan pilihan saya, tetapi aturan umum seperti itu. Ya dicantum di KTP Islam, karena tidak ada lagi. Karena mayoritas islam, kita ikut yang banyak. Sebetulnya itu kalau dianggap masalah ya masalah, disebut tidak ya tidak. Yang penting lampah (perilaku),” pungkasnya.

Argumen terakhir Eno bahwa jenis agama bisa jadi masalah atau tidak, senada dengan yang diungkapkan Yana, seorang penganut Sunda Wiwitan dari Kampung Cireundeu Kota Cimahi Jawa Barat. “Dulu kami tidak terlalu peduli dengan identitas, terserah yang mau menuliskan. Tapi akhirnya muncul pertanyaan. Di media, banyak kasus pencemaran agama. Kami jadi riskan ketika kami sebagai masyarakat adat dilematis ketika kami bukan identitas itu, karena negara tidak mengakomodasi itu.” Berbeda dengan Eno, Yana nekat ambil risiko mengosongkan bagian agama di KTP-nya. Berbagai konsekuensi pun harus ia telan.
Pada suatu pagi di kebun singkong kampung cireundeu. Masyarakat adat penganut sunda wiwitan kampung di cimahi ini pilih singkong sbg makanan pokok, gak paksakan makan nasi krn alam mereka mampunya pasok bahan itu. Mereka pegang ajaran ini: teu boga sawah
Pada suatu pagi di kebun singkong kampung cireundeu. Masyarakat adat penganut sunda wiwitan kampung di cimahi ini pilih singkong sbg makanan pokok, gak paksakan makan nasi krn alam mereka mampunya pasok bahan itu. Mereka pegang ajaran ini: teu boga sawah asal aya beas. Teu boga boga beas asal bisa nyangu. Teu boga sangu asal bisa dahar. Teu bisa dahar asal kuat. Artinya: Ga punya sawah pun gpp asal punya beras. Ga punya beras gpp asal bisa nanak nasi. Gak punya nasi gpp asal makan. Ga makan gpp yg penting kuat.
“Sebenarnya ingin sekolah tinggi, orang tua pun mendorong, tetapi karena sebelum masuk sekolah terbayang bahwa kita akan bertemu pelajaran agama, akhirnya menjadi traumatis, tidak mau sekolah. Karena terbayang, yang akan dihadapi kita sebagai objek orang lain. Membuat kita mati kutu.” Yana mengawali kisahnya. Pria 37 tahun itu memutuskan berhenti sekolah saat duduk di bangku kelas dua SMP. Yana lelah dengan perlakuan diskriminasi. Yana yang kini aktif menjadi wali siswa-siswa penganut Sunda Wiwitan di sekolah itu, juga punya kisah pilu lain. Seorang lelaki penghayat, tidak disunat. Karena lain dari anak sebayanya, seorang guru pernah mempermalukan anak itu di depan kelas. Walhasil, si anak ogah lagi bersekolah. Beruntung, kini beberapa sekolah ada yang toleran dengan perbedaan ini. Yana tak jarang diminta membuat soal ujian untuk seorang anak penganut Sunda Wiwitan.

Seorang sunda wiwitan, hak bernegaranya dihambat. Karena nikah dgn tata cara adat,KUA gak mau tulis pernikahan mereka sah. Padahal sejak era belanda, pernikahan macam itu diakui pemerintah. Ini dokumen bukti pernikahan dari tahun 1940. Akibat gak punya su
Seorang sunda wiwitan, hak bernegaranya dihambat. Karena nikah dgn tata cara adat,KUA gak mau tulis pernikahan mereka sah. Padahal sejak era belanda, pernikahan macam itu diakui pemerintah. Ini dokumen bukti pernikahan dari tahun 1940. Akibat gak punya surat nikah, ada stigma negatif ttg keluarga mereka. Anaknya, ga bisa dibikinin akta kelahiran karena data pernikahan ortu juga ga ada. Kalau anak gak punya akta, ga bisa sekolah. Dilematis pisan. Sedih
Menjadi seorang penghayat memang sarat cobaan. Selain soal pendidikan, penganut Sunda Wiwitan juga dirugikan dengan kebijakan lain yang tidak memudahkan kehidupan mereka: pernikahan adat tidak diakui sah oleh dinas catatan sipil. “Sangat menyedihkan ini. Dinas catatan sipil tidak mau melayani kami karena tidak punya surat nikah. Akhirnya mereka mau melayani tetapi kolom di akta kelahiran di bagian ayah tidak dituliskan. Terpaksa kami dengan berat hati harus melakukan jalan belakang, upaya tidak bagus dan baru bisa mencatatkan (pernikahan) di catatan sipil” Yana berkisah. “Kalau saya lihat dari dokumen yang ada, kami pernikahan adat sudah dicatatkan dari jaman belanda,“ seberkas dokumen Yana keluarkan dari sebuah tempat arsip data. Berlembar-lembar akta pernikahan ia tunjukkan satu per satu. Semua kertas tebal itu ditulisi aksara sunda kuno dan bercap pemerintah Hindia Belanda. Satu diantaranya bertahun 1941. Lainnya tak menggunakan penanggalan masehi. “Ironisnya setelah merdeka, setelah bebas penjajahan, negara belum mampu memberi keadilan bagi kami sebagai warga negara, dan belum bisa mencatatkan secara adat,” pungkas Yana. Ditemui di tempat terpisah, budayawan sunda Lucky Hendrawan mengingatkan bahwa perkawinan adalah peristiwa adat, bukan peristiwa agama. “Oleh sebab itu ketika orang kawin, menggunakan upacara adat. Pakaiannya pakaian adat. Jelas itu wilayah adat, kenapa agama ikut campur,” papar pria yang beraktivitas sosial di Bumi Dega, rumahnya di Jalan Dago 410 Bandung itu.

Perlukah Agama?

Rentetan peristiwa yang dialami para penganut Sunda Wiwitan, kemudian bermuara di satu pertanyaan. Perlukah status agama bagi mereka? jawaban tegas meluncur dari mulut Gin-gin Akil, pemimpin upacara Ngertakeun Bumi Lamba. Status keagamaan menurutnya bukan hal penting. Bahkan menurutnya, agama tak perlu diajarkan di sekolah. Negara pun menurutnya tak perlu berurusan dengan agama rakyatnya. Kalau perlu menurut Gin-gin, bubarkan kementerian agama. “Sepertinya negara yang tidak ngurusin itu gak jadi negara bangkrut dan buas. Kita ngajarin agama dan sebagainya tapi hutan kita paling rusak dan paling bengis sama binatang,” ujarnya. Namun pendapat berbeda diutarakan budayawan Lucky Hendrawan. Menurutnya kalau pun kementerian agama tetap ada di kabinet baru nanti, menteri agama haruslah dia yang melampaui keagamaan. Dalam bahasa Lucky, menteri agama perlu untuk “tidak beragama”. 
Di indonesia, gak mudah menjalani hidup sesuai keyakinan. Anak kampung adat cireundeu penganut sunda wiwitan dulu harus menanggung banyak sial. Ke sekolah lewatin TPA sampah leuwigajah, nyampe sana badan kena aroma sampah. Udah gitu dicekoki ajaran yg buk
Di indonesia, gak mudah menjalani hidup sesuai keyakinan. Anak kampung adat cireundeu penganut sunda wiwitan dulu harus menanggung banyak sial. Ke sekolah lewatin TPA sampah leuwigajah, nyampe sana badan kena aroma sampah. Udah gitu dicekoki ajaran yg bukan agama mereka, disindir guru. Bahkan ada kasus seorang anak sunda wiwitan dilecehkan gurunya di depan kelas krn org sunda wiwitan gak disunat. Akhirnya, bersekolah jadi traumatis.
Pada akhir November tahun lalu, DPR mengesahkan Undang-Undang nomor 24 tahun 2013 tentang administrasi kependudukan. Perundangan baru itu menggantikan aturan serupa yang sebelumnya terbit pada 2006. Dalam hal pencantuman kolom agama, tak ada perubahan di sana. Dalam UU terbaru, isian agama masih perlu dicantumkan dalam KTP elektronik. Sekjen Badan Musyawarah Sunda Ernawan Kusumaatmadja menyambut baik aturan yang senada dengan pendapatnya itu. Ernawan memandang agama penting untuk kepentingan statistik dan dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Bagi birokrat seperti Rully Sulfanorida, pencantuman kolom agama tak cukup berhenti sampai sana. Sekretaris Lurah Leuwigajah ini akan merasa pekerjaannya lebih mudah jika Sunda Wiwitan atau aliran kepercayaan lain dituliskan secara spesifik, agar mempermudah pengelompokan. Harapan senada juga muncul dari seorang tokoh masyarakat adat Kampung Cireundeu, Ridwan Tajudin. “Mudah-mudahan 2015 ke sana sudah ada legalitas sendiri,” ujar ketua RW 10 Kampung Cireundeu ini optimis. Dalam teater imajinasinya, Ridwan membayangkan Indonesia yang ia tempati tetap harmonis meski dengan pelabelan berbagai jenis agama. “Kami tidak mengenal adanya minoritas. Cireundeu sejak saya lahir tidak mengenal contoh kecil konflik, walaupun berbeda. kami tidak mengingnkan keseragaman tapi ingin berbeda. Kami cukup bangga, kalau toh miniatur cireundeu ini dibawa ke nasional, bagus. walau berbeda, tapi hidup rukun sauyunan saling bantuan, gotong royong,” tutup Ridwan. []

Galeri Foto


Cingciripit #cireundeu #kampungadat #permainan #tradisional #game #anak #sunda #sundawiwitan
Anak-anak Kampung Cireundeu sedang bermain Cingciripit

Tiap sore, anak2 di kampung adat cireundeu bermain permainan tradisional, diiringi duet kacapi-suling. Dalam gerak dan nada dalam permainan tradisional, ada banyak makna dan pelajaran. #cireundeu #permainan #tradisional #anak #cimahi #jabar
Tiap sore, anak2 di kampung adat cireundeu bermain permainan tradisional, diiringi duet kacapi-suling. Dalam gerak dan nada dalam permainan tradisional, ada banyak makna dan pelajaran.

Anak2 di kampung adat cireundeu bermain ucing tihang. Mereka yang "ucing" harus merebut tiang milik lawan main. Menyenangkan permainan ini. Nontonnya aja kita bisa ikut merasakan riangnya mereka #cireundeu #sunda #sundawiwitan #cimahi #jabar #ucingtihang
Anak-anak di kampung adat cireundeu bermain ucing tihang. Mereka yang "ucing" harus merebut tiang milik lawan main. Menyenangkan permainan ini. Nontonnya aja kita bisa ikut merasakan riangnya mereka



Senin, 28 April 2014

Me and Windi at Lawang Wangi Art Galery and Cafe Bandung



It was in the end of 2013. Windi and I went to Bandung and visit some place, including Lawang Wangi Art Galery and Cafe. After spent a warm afternoon, we had a dinner. It was an unforgettable moment.

Kamis, 13 Desember 2012

Bandung Trip

Harusnya
Sejak sekitar 6 bulan lalu, hari libur saya adalah Rabu dan Kamis. Berbeda dengan kebanyakan waktu libur umumnya, saya punya cara sendiri istirahat di tengah pekan, dari dateng ke acara kampus, sampe pulang kampung. Rabu ini sebenarnya saya merencanakan ke Bogor, nonton penayangan perdana film 5 cm, lalu berkemah di situ gunung. Agenda terakhir tadi semacam balas dendam karena batal ikut di perkemahan minggu sebelumnya sama Pak De dan Bang Wedus. Akhirnya minggu inilah saatnya. Saya bahkan tadinya mau nekat pergi sendirian, karena Rabu ini Pak De dan anak-anak UKF pergi ke gunung lain, sementara temen sekantor saya yang hobi menggung, Bang Wildan, ga bisa ikut. Sebagai rencana cadangan, sore Rabu ini saya akan mengunjungi adik di Bandung, dan liburan disana.




Ternyata

Hari Selasa saya ditugaskan liputan malam. Jam 5 Rabu pagi, ketika mengolah berita yang didapat tadi malam, sebuah kebakaran terjadi di daerah cilincing Jakarta Utara. Saya lalu ditugaskan liputan lagi. Jam 8 pagi saya melaporkan langsung dari blok 1 Pasar Bulog yang terbakar. Jam 9 saya baru meninggakan TKP setelah meliput kondisi terkini. Karena macet dan lokasi kejadian yang jauh, setengah 12 saya baru nyampe kantor. Ada berita tentang busway yang diliput semalam dan belum diolah. Setengah tiga saya baru bisa meninggakan kantor, rencana soal Bogor ga mungkin berjalan. Setelah makan, solat dan mandi, jam 4 sore saya berangkat dari kosan, menuju Bandung.


Migrain

Setelah solat dan tidur lagi, jam 7 pagi saya baru benar-benar bangun, di kosan adik saya Rizki di kawasan Cisitu Baru. Sebangunnya itu, kedutan di mata kiri saya makin kuat. Rupanya migrain yang muncul seminggu ini makin jadi. Migrain ini awanya muncul pasca liputan gebrakan jokowi. Jumat lalu saya harus meliput sejak jam 5 pagi, sementara malamnya saya dan teman-teman sekantor main sampe jam 1 malam. Pegal di kaki hilang setelah 2 hari, tapi sakit di sekitaran mata kiri bertahan, bahkan rabu ini main kuat. Berharap migrain ini menjinak, saya duduk cukup lama di depan TV, mandi lalu sarapan, dan mulai beredar di Bandung sejak jam 9 pagi.


Renang

Tujuan pertama saya adalah kolam renang Sasana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB. Ini kolam renang yang dikelola universitas. Biar bisa renng di kolam berstandar olimpiade ini, mahasiswa ITB cukup bayar tiket yang harganya 3000. Kalau kamu ga punya KTM (coret) atau ga pijem KTM anak ITB (coret), harga tiketnya 4 kali lipat. Kolamnya enak, lokasinya diatas gitu, jadi bisa liat lapangan bola di satu sisi kolam, di sisi lain ada hutan kecil. Ditambah langit Bandung yang teduh berawan, saya nyesel kenapa ga kesini dari tadi. Padahal disini migrain saya langsung hilang *karena setelah sarapan udah minum obat. Disini saya juga ketemu Kak Trio, anak FIM 7. Dia juga pas lagi renang disana. Beberapa menit sebelum jam sebelas, saya angkat badan dari kolam.






Sanggar Olah Seni

Perjalanan menuju kolam Saraga, ternyata ga bisa ditempuh melalui jalan mnuju sabuga. Saya harus masuk melalui pintu samping yang lokasinya lebih dekat ke Simpang Dago. Di pinggiran jalan menurun menuju kolam itu, ada galeri yang memajang beberapa lukisan. Rupanya nama tempat itu Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi. Menurut seorang perupa yang saya ajak ngobrol, ini ruang yang terbuka buat siapa aja yang mau berkarya. Akang yang saya ajak ngobrol lagi bikin karya instalasi berupa helm. "Nanti ini bakal nyala" katanya menjelaskan bentuk akhir karyanya nanti. Di sisi seberang sanggar ini, di bawah untaian akar gantung, ada sebuah arca ganesha dan sepasang perahu kayu. Ketika sedang asyik memotret, seorang bapak ngajak ngobrol soal siapa saya dan darimana. Saya lalu minta izin buat motret lukisan lain di area berbeda. Bapak ini mengingatkn bahwa beberapa luiisan dilarang difoto. Katanya biar ga ada yang duplikasi lukisan itu. "Soalnya ide lukisannya itu yang susah," katanya menjelaskan.


























Galeri
Tujuan saya berikutnya adalah mengunjungi Galeri Soemardja. Saya menempuh jalan kesana melalui kanal bawah tanah yang membelah jalan taman sari, dan tembus langsung ke kampus ITB. Ini kali kedua saya melintasi jalan itu. Tahun 2007 saya berjalan disana dalam rangka pendaftaran SPMB (sekarang SNMPTN), tapi saya ga jadi ikut SPMB. Haha.





Rizki langsung tertawa begitu melihat titel pameran yang dihelat di area Fakultas Seni Rupa dan Desain ini. Judulnya memang unik, faketaminophen, plesetan dari acetaminophen. Acetaminophen, menurut Rizki yang Mahasiswa Farmasi, nama lainnya parasetamol. Dia punya 3 fungsi, anti inflamasi, antipiretik dan anagetik, atau antiinfeksi, antidemam, dan penahan rasa sakit. Acetaminophen ini katanya meksi berguna, kalau dosisnya lebih dari 500 mg,bisa mematikan. Ngomong-ngomong, obat migrain yang tadi pagi saya minum ternyata parasetamolnya 400 mg.



Begitu tiba di dalam arena pameran, kami disuguhi beberapa lukisan, foto dan karya instalasi bertema farmasi yang dibuat seniman dari Kamboja, Laos, dan Indonesia.





Di lukisan ini, sang kreator berangkat dari premis dasar bahwa jika digunakan dengan baik, ilmu farmasi berguna, tapi jika disalahgunkan, hasilnya jadi bertolak belakang. Rizki lalu menjelaskan bahwa lambang farmasi berupa seekor ular yang melilit sebuah gelas, juga berarti demikian. "Bisa ular kan mematikan, tapi kalau digunakan dalam dosis tepat, bisa jadi obat" kata mahasiswa semester 7 ini.





Karya ini menunjukkan repetisi figur seseorang yang sedang menenggak kapsul, lalu dihimpun bersama figur lain yang serupa. Kalau dilihat dari jauh, himpunan tadi terlihat seperti siluet seseorang yang hendak memasukan kapsul ke mulutnya.



Lukisan diatas dibuat dengan mengikutsertakan pil betulan yang ditempel di kanvas. Salah satu potongan figur di lukisan ini menunjukkan eye of horus, lambang dewa horus, dewa kesembuhan yang jadi ikon dunia farmasi.



Ada beberapa lukisan dan instalasi karya seniman Indonesia dalam pameran itu, salah satunya foto ini. Hehe.

Usai dari sana, kami beranjak menuju lokasi lain. Di luar galeri, rizki masih antusias menceritakan dunia yang digelutinya. Dia cerita soal beberapa obat palsu yang sengaja disebar demi penelitian. Buat meneliti placebo effect katanya. Beberapa kapsul kosong emang sengaja disebar, lalu nanti dilihat respon pasiennya, apakah ada pengaruh sugesti atau engga. Kalau dokter dikasih tau soal obat itu, namanya single blind method, kalau dokter ga dikasih tau, double blind method.




Hantu



Obrolan rizki soal farmasi, berubah setelah saya memotret satu sisi kampus diatas. Dia cerita soal sebuah film horor yang dibuat liga film mahasiswa itb, dan terinspirasi dari kejadian nyata. Salah satu lokasi penampakannya, di daerah yang barusan saya foto. Rizki lalu cerita soal film berjudul Haunted Too. Katanya, di film ini ada 3 cerita berbeda. Cerita pertama soal seorang mahasiswa dihampiri hantu yang menyamar jadi temennya. Temennya yang asli SMS kalo ga jadi ketemu, sementara dia masih ada disitu sama temen gadungannya. Kebayang kan gimana seremnya, apalagi pas rizki ceritain endingnya. Cerita kedua soal seorang mahasiswa yang jalan sama temen cewenya, dan baru sadar kalo cewe yang dia bawa itu hantu setelah udah berpisah. Dia taunya dari obrolan si cewe asli pas dia udah pulang ke rumah. Mending lah kalo yang ini. Cerita ketiga soal seorang mahasiswa pengendara motor yang di sebuah lampu merah ditepok pundaknya. Pas dia nengok ga ada orang, pas liat di spion ada anak yang minta sumbangan.

Cerita rizki lalu berlanjut ke kisah seorang mahasiswa tingkat akhir yang ngerjain skripsi malam-malam di perpustakaan. Ketika seorang perempuan ternyata tanpa ia sadari sudah ada di meja seberang, pulpennya jatuh. Pas ia ngambil pulpen, ga sengajalah itu keliatan kalau si cewe itu tubuh bagian bawahnya ga ada. Pas dia ke posisi semula, kepala si cewe terbang gitu ke depan mukanya. Soal cerita terakhir ini, saya ceritakan juga ke Rizki soal mitos serupa yang ada di kampus saya dulu, IPB. Bahkan saya pernah memfilmkannya, ya meskipun ga sempurna. Hehe. Kalau mau tau cerita lengkapn sama filmnya, klik aja tulisan ini.




5cm


Ga kerasa setelah membelah anak sungai cikapundung, kami nyampe juga di jalan Cihampelas. Di Ciwalk, kami lalu nonton film 5cm. Secara keseluruhan, saya suka film ini, meski ada yang agak gimanaaa gitu. Film 5cm bercerita tentang persahabatan 5 orang, kisah cinta mereka dan gimana mereka mencapai mimpi masing-masing. Mereka merayakah kebersamaan dengan bersama-sama menginjak puncak tertinggi Pulau Jawa, Mahameru. Nah dari sisi visuaisasi, film ini layak dipuji. Ranu kumbolo keren dari gugusan bintangnya sama pemandangan sekitarnya, begitu juga suasana alam dari perjalanan kereta, sampe puncak mahameru. Pokoknya film ini sukses bikin kita bangga punya Indonesia yg indah. Bukan indonesia sih, dalam film ini mahameru dan sekitarnya. Hehe. Film 5 cm ini adaptasi novel berjudul sama. Saya udah baca novelnya, beberapa tahun lalu, ga lama setelah novel ini rilis dan jadi buah bibir. Saya ingat sekali gimana para tokoh novel ini mengarungi romantisme perjalanan yang dramatis. Misalnya mereka naik angkutan umum, ga cuma naik jeep yang diceritain di film. Di angkutan itu, mereka kenalan sama warga setempat yang sama kayak Ian, manchunian. Tapi tokoh yang juga aremania ini dikisahkan polos, polos ala desa. Yang bikin lucu misalnya, pas dia menuliskan united dengan yunaytit. Atau pas beberapa atribut angkutan kota itu menuliskan sesuatu yang diakhiri dengan .com, padahal dia sendiri ga ngerti apa maksudnya www dan dot com itu. Ada juga soal nisan di gunung yang begitu sekilas dibahas. Di versi novel, seingat saya, peran nisan itu begitu signifikan. Di film penjelasan soal nisan terlalu minim, seperti bahwa nisan itu buat mengenang seorang pendaki nasionalis yang hilang. Di titik itu bukan berarti jasad si pendaki dikubur, tapi titik terakhir dia bareng sama rombongannya. Di novel juga dibahas cerita mistis di hutan menuju mahameru, yang tentu saja melibatkan si pendaki hilang tadi. Nah justru disinilah eksotisme hutan Indonesia lain yang kurang banyak disinggung. Mungkin kendala durasi kali ya, atau sutradara ga mau keluar dari jalur pink percintaan ala orang kota yang berpikiran logis dan itu udah ditunjukan sejak awal, dengan kode-kode mencurigakan antara riani-genta. Rizal mantovani sebagai sutradara juga menurut saya tepat dengan tidak mengolah mentah ending 5 cm di novel. Di novelnya, anak-anak tokoh utama kita udah nasionalis banget, padahal mereka masih kecil. Utopis sekali. Rizal juga cukup bagus menutup film dengan penjelasan tentang apa maksud dari judul 5 cm, seperti novelnya yang juga menjelaskan arti 5 cm di penghujung cerita. Meski novelnya puitik, penggunaan dialog di film kurang pas di selera saya. Mungkin penonton lain suka, tapi saya ga nyaman dengan omongan puitis di percakapan normal. Kalau yang ngomong zafran sih ga masalah, dia kan emang ditokohkan seperti itu. Ini semua berubah jadi pujangga, pas mau naik gunung, pas bentar lagi nyampe puncak yang situasinya lagi kritis, pas pengibaran bendera juga, terlihat artifisial, ga natural. Tapi karena saya udah baca novelnya, jadinya ga terkejut pas endingnya menukik tajam. Saya beruntung udah baca novel dan nonton filmnya. Kesulitan saya membayangkan wujud nyata keindahan alam dan pembagian tokoh yang cukup rumit dibantu dengan filmnya, sementara ketidakpuasan atas pemenggalan kisah asli di film, ditolong dengan sudah menkhatamkan si novel.



Omuniuum

Sebuah toko kecil di seberang kampus Unpar jadi destinasi saya selanjutnya, omuniuum namanya. Disana ada 3 misi saya. Pertama beli buku Maddah, buku keduanya Risa Saraswati. Risa ini mantan vokalis band homogenic. Dia keluar dari homogenic lalu membentuk proyek solo bernama Sarasvati. Sarasati lalu menggigantik karena ia punya identitas unik. Lagu-lagu yang digubah Risa bernuansa mistis, buah dari pengalaman pribadinya yang memang tak jauh dari dunia supranatural. Album pertama sarasvati, judulnya Story of Peter. Peter yang dimaksud adalah hantu cilik teman sepermainannya. Setelah rajin menulis di blog pribadinya, Risa lalu membukukan pengalaman interdimensinya dalam titel Danur, artinya air yang keluar dari mayat. Usai danur yang berisi kisahnya bersama Peter dan hantu lain, Risa melepas Maddah bersama album keduanya, Mirror. Kedua paket karya teranyarnya ini lahir di konser tunggal Sarasvati bertajuk Nishkala. Saya pelanggan setia blog Risa, maka ketika Danur muncul, saya merasa perlu untuk menikmati karya Risa yang satu ini. Pun begitu dengan Maddah yang kini dirilis oleh Omupress, bukan penerbit Bukune seperti Danur. Makanya saya bela-belain ke omu langsung, karena memang hanya disini Maddah dijual. Buku Danur ini desain visualisasinya dikomandoi Herry Sutresna, atau yang kita kenal dengan Ucok Homicide.



Misi kedua saya di omuniuum adalah kenyerahkan DVD Flip Donation Act For Soreang yang digagas dou eletronik canggih kota kembang, Bottlesmoker. Mereka menggratiskan DVD konser tunggalnya, asalkan kita menyerahkan DVD kosong dan donasi untuk korban longsor di Soreang Bandung. Nantinya DVD yang kita kirim bakal dikirim balik ke alamat yang kita mau. Uang donasinya disumbangkan langsung oleh pihak Bottlesmoker dan kawan-kawan sponsornya. Terhormat sekali Bottlesmoker ini. Sudah mengharumkan Indonesia di kancah musik elektro dunia, semua rilisan karya mereka dibagi gratis lagi, bahkan mereka mengamalkan DVD konsernya.


Nah misi terakhir di Omuniuum adalah liat-liat barang bagus, lalu belanja. Hehe. Moto omuniuum ini small shop of reading and listening, makanya banyak buku bagus dan album keren dijual disini. Ada Cerita Cinta Enrique-nya Ayu Utami yang dijual 45 ribu, lebih murah dibanding gramedia yang membandrol 50 ribu. Ada juga novel Supernova seri Petir yang belum saya baca. Pengen sekalian beli sih, tapi harus ditahan, dibatasi dulu jajannya biar ga kebablasan. Di rak CD ada album Next Chapternya Ras Muhammad yang udah cukup lama saya cari. Apalagi ada albumnya Dubyouth yang baru kemarin-kemarin menangin Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) kategori best elecronic song. Rasanya sayang kalo ga sekalian beli, tapi ya itu tadi, harus ada skala prioritas. Akhirnya sebuah emblem koil yang harganya jauh lebih bersahabat saya beli. Haha. Semoga lain kali kita berjodoh duhai buku dan CD idaman. Oiya, saya juga sempat tanya soal stok CD Asphoria, ternyata habis. Jadi kalau mau beli CD Asphoria hubungi saya aja. Hehe.






CTR

Sebelum balik ke Jakarta lagi, saya dan Rizki berdzikir dulu di depan laptop, main CTR. Ini mainan favorit kami sejak SD. Kami main cup race lalu arcade. Di sesi cup rizki pake Polar, saya Puma. Di babak arcade barulah kami mainin jagoan sebenarnya. Saya mainain Tiny Tiger, rizki mainin Coco Bandicot. Setelah puas menang dari cpu yang dipasang di level hard *kalau kalah direstart.haha, kami makan sore, lalau saya ke pool mobil travel dan kembali ke Jakarta. Tulisan ini dibuat di atas mobil tadi, kayak tulisan ini.





Lalu Pulang

Kalau sub judul poting ini digabung dalam satu kalimat, maka akan membentuk satu kalimat singkat yang mewakili tamasya bandung saya kali ini, yaitu:

Seharusnya (ke Bogor), ternyata (sakit) migrain, (lalu pergi) renang (terus ke) sanggar olah seni, galeri, (ngobrol soal) hantu, (nonton) 5 cm, (ke) omuniuum, (main) CTR, lalu pulang.