Saya sudah menandai Jumat itu jauh-jauh hari. Ketika mengunjungi kota Leipzig beberapa bulan lalu, saya berhalangan melaksanakan solat jumat. Bukan berhalangan seperti seorang perempuan bilang berhalangan loh ya. Waktu itu saya nggak menemukan mesjid yang menggelar solat jumat. Kali ini, mesjid untuk jumatan sudah saya tandai, tapi jadwal wawancara orang Jerman juga jam segitu. Sayang sekali. Padahal saya ingin merasakan bagaimana beribadah sebagai seorang minoritas.
Solat Jumat diganti solat dzuhur, dan hari itu akhirnya saya menjelajahi daerah sekitar sungai Main. Ini dia kisah lengkapnya:
Merpati di alun-alun Kunstablerwahche
Ada kaca yang seperti cermin, lumayan bisa berswafoto. Hehe
Bagian depan mesjid. Tempat solat di sini tidak berkubah. Lokasinya pun nyempil di antara gedung-gedung besar
Pintu-pintu di dalam mesjid
Mimbar solat
Suasana di dalam zentral bibliotek atau perpustakaan pusat kota Frankfurt
Dari kawasan perpustakaan pusat, saya menuju sungai Main, tapi ternyata tersesat. Saya baru sadar setelah nanya orang. Ternyata arah jalan saya malah menjauhi sungai besar itu
Berbalik arah menuju sungai Main
Jalan di belakang sekeluarga yang lagi jalan-jalan
Begitu nyampe di pinggir sungai, saya langsung takjub. Gila ini keren banget. Betapa pinggiran sungai menjadi halaman depan kota ini
Dari kejauhan tampak gereja romer
Duduk di pinggir sungai sambil menyantap kebab
Perkakas yang saya bawa. Repot banget memang, tapi menyenangkan
Hasil gambar sketsa. Awalnya saya buat yang berwarna, tapi gagal. Hehe
Di pinggiran sungai Main tersebar 33 museum bertema khusus. Materi promosi Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair juga banyak bertebaran.
Bagian dalam gedung film yang saat itu sedang memutar film Tabula Rasa
Ada gerobak sate di pinggir sungai Main
Suasana beranda sebuah museum
Daun kering, rumput hijau
Papan penunjuk arah, lengkap dengan informasi dimana ada apa hingga apa itu
Tangga menuju jembatan Eiserner Steg
Eiserner Steg kala malam mulai datang
Di Eiserner Steg banyak gembok penanda orang pacaran
Tau begini saya bawa gembok juga buat digantung di sini. Hehe
Sepasangan wisatawan Jepang menikmati Frankfurt dari jembatan penyeberangan orang ini
Perjalanan hari ini berakhir dengan pulang ke hotel di dekat halte ledder museum. Sebelum naik kereta, bikin sketsa dulu. Hehe.
Sugapa adalah salah satu dari delapan distrik atau kecamatan di Kabupaten Intan Jaya. Ia berada di pusat kabupaten, sehingga kantor pemerintah kabupaten, pasar, bandara, ada di distrik itu. Setibanya di Sugapa, saya dan para peserta ekspedisi carstensz beristirahat di rumah milik Maximus Tipagau, pemandu pendakian kami. Tak lama duduk diam, Maximus mengajak kami berkeliling Sugapa.
Maximus berteriak-teriak. Katanya, itu tanda buat warga di seberang lembah bahwa kami akan menuju ke sana. Meski tidak ada yang menjawab teriakan kami, suara bernada sederhana itu terus digaungkan. Setelah menuruni bukit, kami tiba di sungai wabu. Dari kejauhan, sudah tampak blok-blok kecil di pinggirannya. Ternyata setelah didekati, itu batu kali yang ditumpuk. Warga Sugapa yang mayoritas suku moni menjualnya seharga 300 ribu per tumpukan. Kami pun terus menyusuri sungai itu, hingga bertemu Octavianus Sondegau, kepala suku moni. Saya pun sempat mewawancarai pria sepuh beristri dua puluh itu. Usai merekam pembicaraan itu, anak-anak suku moni mulai mengekori kami.
Di sebuah tepian sungai, seorang anak memberikan saya sebilah batu. Awalnya saya heran, apa maksud anak itu menunjukkan batu kali. Ternyata, di bagian dalam batu yang pecah itu, terlihat kilauan logam. Indah sekali. Alam Papua memang kaya. Menurut staf khusus presiden Lenis Kogoya, di dalam buku Rekam Jejak Sebuah Refleksi yang ditulis oleh seorang warga Intan Jaya dan dibagikan ketika upacara 17 Agustus, Intan Jaya kini menjadi objek eksplorasi perusahaan tambang PT Freeport. Semoga kekayaan alam Intan Jaya juga turut menyejahterakan warganya.
Melewati sebuah jembatan rusak pembatas antar distrik
Beberapa kali, sepatu saya buka karena harus menyeberang sungai. Setelah beberapa kali melintasi aliran air, kami tiba di garis finish. Masih sungai wabu yang sama, tapi peruntukannya beda. Di sana, kami berenang. Menyenangkan sekali berenang di air dingin berarus cukup kuat itu. Setelah selesai berenang, anak-anak melempari pucuk pohon paku dengan batu. Yang tembakannya mengena, dia menang. Lemparan batu Maximuslah yang ternyata mematahkan pucuk itu. Semua pun bersorak. Selanjutnya, kami menghangatkan diri di sekeliling sebuah perapian.
Etape terakhir penjelajahan di Sugapa adalah sebuah jalan setapak yang di kiri kanannya jurang. Saya berlari di sana, dan kamera udara merekamnya. Alhasil, gambar itu pun mendapat respon positif setelah tayang. Meski mungkin saja yang merespon negatif juga ada, tapi tidak disampaiknya. Hehe. Sore itu berakhir dengan wawancara bersama Maximus. Selain menceritakan tentang dirinya, ia juga memaparkan cita-cita untuk menjadikan Intan Jaya maju, terutama melalui sector pariwisata yang diuntungkan karena kabupaten itu menjadi jalur pendakian ke puncak tertinggi di Indonesia, puncak Carstensz. []
Tim liputan Metro TV berhalangan ikut sampai puncak Carstensz karena keterbatasan waktu. Sulung, wartawan Sinar Harapan dan Afif dari Detik News menempuh jalan melalui distrik Ugimba dan berhasil mencapai puncak.
Hari Sabtu lalu, untuk pertama kalinya, saya bermain arung jeram. Lokasinya di Sungai Citarik Sukabumi. Saya ke sana bersama Suci, Windi, Feby, Amin, dan Vinna. Kami berangkat jam 7 dari rumah Windi di Tajur Bogor, dan tiba di tujuan tiga jam kemudian. Sebenarnya kami sudah pesan untuk mulai rafting jam 13:00, tapi ternyata bisa dimajukan jadwalnya. Secara keseluruhan, saya puas dengan pelayanan dan pelaksanaan arum jeram dengan menggunakan salah satu operator itu. Tiket berarung jeram di sungai ini saya beli sewaktu hadir di travel fair sekitar November tahun lalu.
"Sudah tahu kan, yang sakit jantung dan sakit asma gak boleh ikutan?" kata seorang petugas. "Kalau sakit hati gimana?" Tanya Feby bercanda. "Langsung sembuh!" Tawa kami pun pecah. Demikianlah suasana persiapan kami sebelum bersiap menerjang jerang. Setelah minum teh hangat, kami diajak ke sebuah pos untuk memakai pelampung, helm, dan membawa dayung. Dari tempat itu, kami dibawa dengan sebuah mobil bak. Setibanya di pos keberangkatan, dua perahu karet sudah menanti. Saatnya kami beraksi.
Usai menempuh sembilan kilometer sungai Citarik, kami disuguhi menu makan siang ala sunda. Paduan nasi pulen, sayur asem, paha ayam kampung yang digoreng kering, tahu dan tempe goreng, karedok, kerupuk, ikan asik kering, kerupuk dan sambal yang dimakan di atas daun pisang itu, bikin pengen nambah. Tapi saya gak nambah. Haha. Setelah kenyang, kami ganti baju dan memilih foto yang disediakan di sebuah gerai khusus. Harganya 20.000 rupiah per foto untuk dicopy dalam bentuk CD. Minimal beli lima jadi satu CD harganya setidaknya 100.000. Relatif murah untuk dibayar patungan dan untuk makin mengembangkan ekonomi masyarakat di sekitar sungai citarik.
Sungai ini memang jadi berkah buat warga sekitarnya. Setelah dikembangkan jadi tempat wisata, banyak yang menggantungkan sumber penghasilan dari bisnis itu. Misalnya, pemandu wisata orang sana, yang juga atlet olah raga air. Mobil bak yang digunakan untuk mengangkut wisatawan juga milik warga. Operator wisata menyewa dari mereka tiap hari. Saking terberdayanya warga lokal, kata pemandu wisata saya, Kang Abu, warga sekitar sudah ada yang pegang posisi manager. Oh iya, Kang Abu ini atlet nasional arung jeram loh. Bulan Oktober nanti, dia juga akan ikut kejuaraan internasional arung jeram di Sungai Citarik. Mau nyoba jeram sungai sekelas kejuaraan internasional? Datanglah ke Citarik.
Itu saya yang badannya condong ke luar perahu karet. Rasanya saya pengen jatuh dari sana dan menghanyutkan diri. Haha. Meskipun yang ini asik, sepertinya body rafting lebih menyenangkan
Di beberapa kesempatan saya nyalakan kamera dan merekam video. Kalau pakai jasa perekam video dari operator, biayanya 500 ribu rupiah.
Sungai Citarik ini bersih, tak ada sampah, tak ada aktivitas yang mengganggu kegiatan wisata air. Menyenangkan
Dari markas operator, kami diangkut dengan mobil bak ini ke titik awal pengarungan. Mobil ini milik warga setempat yang disewakan ke operator.
Setiba di titik keberangkatan, dua perahu karet siap menanti
Foto ini diambil menggunakan kamera Amin. Kita bisa juga minta tolong ke pemandu wisata yang ada di perahu lain untuk ambilkan foto
Di sejumlah titik, ada fotografer di pinggir sungai yang menangkap momen seru seperti ini
Foto yang dijepret tim operator selanjutnya dijual di gerai khusus dengan harga 20.000 per foto dalam bentuk data digital.
Untuk foto dengan kualitas seperti ini, rasanya harga itu sepadan. Apalagi itu digunakan buat mengembangkan ekonomi lokal
Saya pakai baju tanpa lengan, akibatnya, bagian pundak terbakar. Rasanya perih sampai tiga hari setelahnya. Hehe
Selain menerjang jerang, kami juga dikenalkan ke berbagai lokasi menarik di sepanjang sungai. Misalnya air terjun kecil
Di akhir pengarungan, kami berfoto bersama
Ada beberapa operator arung jeram di sekitar sungai citarik. Yang satu katanya fokus di pelayanan akomodasi yang maksimal, yang lain ada yang bilang jago di permainan airnya ketika kita berarung jeram
Garis finish. Di sinilah arung jeram sepanjang 9 km selama sekitar dua jam itu kami tempuh
Setelah berganti baju, sebelum pulang
Suasana tempat makan siang dan gerai foto
Suasana toilet pria. Mandi di bawah guyuran air di bawah sinar matahari menghasilkan pelangi yang terbentuk seperti mengelilingi kita. Di bagian kanan tebing dan hutan
Setibanya di garis finish, kami disuguhi minum air kelapa muda, langsung dari batoknya
Kami berfoto bersama pemandu wisata, Kang Abu dan Kang Dewa. Abu adalah atlet arung jeram nasional.
PIntu masuk toilet dan gerai oleh-oleh
Ruang resepsionis (bawah) yang gaya arsitekturnya mirip leuit atau tempat menampung gabah khas suku sunda