Tampilkan postingan dengan label mata najwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mata najwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2014

Memori Tentang Istana

"Dua bulan sejak 25 Desember lalu, ibu seperti menyerah," Yanti bercerita tentang ibunya yang tahun ini berusia 80 tahun. Dengan mata berkaca, ia berulang mengucap terima kasih. Kedatangan tim liputan Metro TV membuat ibu empat anak itu semangat hidupnya mekar lagi, bahkan jika biasanya hanya terbaring, kini ia bisa duduk diatas kasurnya. Sore itu ibunda Yanti melalui telepon meminta putri keduanya itu pulang lebih cepat. "Ibu bilang ada tamu dari Metro TV. Saya kaget," ujarnya jujur.

Malam itu saya dan tim liputan Mata Najwa tiba di sebuah rumah di kawasan Klender Jakarta Timur. Arsitektur rumah itu terlihat khas tempo dulu. Selain satu set meja dan empat kursi di teras depan, sebuah altar sembahyang berdiri di samping rumah. Setelah disambut tuan rumah dan dibekali penjelasan kondisi sang calon narasumber, masuklah saya ke ruangan Nenek Pudjarti, pengasuh Meutia Hatta semasa putri sulung Sang Bung itu masih belia.

"Om swastyastu," akhirnya saya masuk ke kamar Nenek Pudjarti. Ia kemudian menyambut kedatangan saya dengan keramahan yang sama seperti ketika saya menelpon mohon izin wawancara. Saya lalu duduk di kursi diantara dua ranjang, ranjang Nenek Pudjarti dan ranjang tempat suaminya yang berusia 83 tahun berbaring.

Saya langsung menceritakan maksud kedatangan, menjelaskan rencana penayangan wawancara, dan menjamin bahwa Cut Meutia Farida Hatta (Nenek Pudjarti selalu memanggilnya dengan sebutan Cut), merestui wawancara itu. Untaian kisah pun bergulir.

 


Saya umur 14 tahun mengikuti ibu saya, beliau sebagai penjahit istana wakil presiden. Waktu itu Bu Rahmi Hatta sedang mengandung tua. Waktu itu belum ada gurita, baju bayi, popok, dsb. Itu yang jahit ibu saya. Saya diminta membordir baju itu. Lahirlah puteri pertama bapak wakil presiden tanggal 21 Maret tahun 1947, dinamakan Meutia Farida, di belakangnya tentu Hatta. Karena nenek beliau, ibu dari ibu Hatta orang Aceh, ditambah Cut, sebutan Aceh. Jadi sampai sekarang pu kami menyebut Cut Meutia Farida Hatta.

Setahun setelah Cut Meutia lahir, tahun 1948 tanggal 18 Desember, bapak-ibu wakil presiden bersama rombongan menuju Kaliurang-Yogyakarta, sore berangkat bermalam di Kaliurang. Putrinda Bu Farida Hatta bersama rombongan menyusul. Ternyata ada telepon dari ajudan presiden, memberitahuakan bahwa Bung Hatta harus turun, karena waktu itu bukan bantuan yang turun dari Belanda tapi tentara. Di Lapangan Maguo sudah disiapkan mobil AB 32 untuk pegawai. Saya sudah duduk disana, tapi saya dipanggil oleh Ibu Hatta, pindah di mobilnya ibu-bapak. Pakaian saya kan di AB 32, "sudah gampang tu," kata Bu Hatta. Saya di depan bersama supir. Sampai di Pakem, pesawat terbangnya sangat rendah, dan bomnya dijatuhkan, padahal mobil AB 317 itu sudah dikerudungi oleh daun-daunan, untung tidak terkena. Aduh mati saya, Bu hatta bilang "Ti, ga mati Ti." Ternyata mobil AB 32 kembali ke Kaliurang.

Kita masuk kota Jogjakarta sepi senyap Malioboro, di Ngupasan sebelah gedung agung. Disana sudah ada KNIL yang pamer senjata, tapi Bu Hatta bilang tenang, kita jangan waswas. Beliau menyebarkan peluru di depan kita, bapak wakil presiden di gedung agung, mungkin sedang rundingan dengan Bapak Republik Indonesia Soekarno. Bapak mondar-mandir, akhirnya bawa bendera putih, Indonesia menyerah. Saya bingung harus pulang, gimana, kebetulan ada pegawai kebun yang tinggal di kediaman ibu. Tolong sampaikan ke ibu saya selamat di gedung agung. Akhirnya kami dari ngupasan ada empat yang mengikuti, semua perempuan.

Malam harinya, kami melihat Ibu Fatmawati, Soekarno dengan Mas Guntur dan Bu Mega tidur di kamar mandi menurunkan kasur, kami tidur di manapun. Kata Bung Karno "wis ojo podo wedi". Malam harinya dar der dor, saya hanya nangis. Saya berdoa. "Nah itu bagus berdoa," kata Bung Karno. Terus ternyata mungkin apa itu yang dikatakan perang enam jam di Jogja, saya ga tau belum ingat apa-apa. Ada pegawai yang naik ke pohon, Belanda bilang turun, nanti ditembak. Kita pada ketakutan. Tapi, tiga hari kemudian atau lima hari kemudian Bapak Soekarno sudah disiapkan jip yang akan mengangkut beliau. Disitu saya melihat Bu Fatmawti sedang gandeng Ibu Megawati dan gandeng Mas Guntur, dan Ibu Hatta menggendong Cut Meutia Farida Hatta dengan tangis anak dan ibu sendiri, tapi bapak-bapak dengan tegar dan percaya diri bilang semua akan selamat. Beliau mencium bu megawati. Bung hatta juga mencium bu meutia. Beliau naik mobil dengan dihormati MP-MP Belanda dengan hormat. Mereka menghormati presiden dan wakil presiden republik indonesia. Mereka melambaikan tangan. (Beberapa kalimat terakhir di paragraf ini diceritakan hinnga Nenek Pudjarti menangis).

Pada suatu pagi Ibu Fatmawati ambil sayuran, tapi polisi militer hormati Bu Fatmawati, mereka kawal. Dua bulan kami di gedung agung. Disitu Ibu Fat dan Ibu Hatta dikawal mereka dengan kendaraan mencari tempat tinggal. Sebegitu pengawal kita berpakaian preman supaya tidak ketahuan Belanda, ibu belanja.

Pada suatu hari akan ketemu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Saya diajak Ibu Hatta. Kami diberi tugas Bu Rahmi Hatta ambil nampan dan unjukan. Sri Sultan Hamengku Buwowo ke-9, Sinuwun ya sudah rawuh, kita jongkok sampai di samping Rahmi Hatta, itu nampan bunyi. Bunyi cangkir yang akan dihaturkan. Sinuwun hanya mesem. Aduuuh, bisa melihat beliau mesem tu terobat sekali. Saya yang haturkan unjukan, alhamdulillah selamat, ga tumpah. Lalu mundur lagi. Itulah daya raja itu ga bisa kita orang kecil punya. Bisa menghaturkan unjukan itu ganjaran luar biasa.

Tahun 1950 kita pindah ke Jakarta. Tinggal di Merdeka Selatan. Saya dapat tugas antar sekolah Bu Meutia Hatta, waktu itu umur empat tahun. Kemana Cut pergi mesti saya ikut. Ke Megamendung juga, tempat istirahat ibu-bapak, saban Minggu kita kesana. Dengan mbak Megawati ya dulu kecil-kecil sudah jadi pengibar bendera pusaka. Bu Mega sama Bu Mutia Hatta, ceritanya dulu. Kami juga kadang sowan ke istana, ketemu Bu Fatmawati dengan Mas Guntur, Bu Rahmawati, Bu Sukma, udah seperti saudara. Bu Rahmawati juga berkunjung ke Merdeka Selatan.

Bung Hatta seperti di foto, pendiam tapi kepandaiannya itu, hobinya baca. Nah sekarang Ibu Mutia mewarisi kepandaiannya beliau. Pandai sekali Bu Farida, sudah profesor doktor kan. Udah gitu lahirlah Ibu Gemala Rafiah Hatta. Ibu Rahmi menganggap yang lahir bayi laki-laki karena mengharap laki-laki. Tempat tidur yang model sekarang, warna biru waktu itu karena dianggap laki, ternyata perempuan. Waktu itu dokter Sarwono, dokter untuk kelahiran, dokter Suharto, dokter pribadi dari Keramat dulu. Udah itu kemana pun saya diajak oleh Ibu Hatta, nonton bioskop sudah ada tempat. Di Metropole. Saya nonton mesti ada lima tempat kosong, saya, ayahanda, bukan Bung Hatta. Bung Hatta nggak kerso pergi-pergi. Ibunda, Ibu Hatta, saya, pengawal satu. Nonton film. Ga pernah beliau (Bung Hatta), kecuali acara resmi. Paling ke gunung, ke Megamendung, terus cari ikan, mancing.

Acara dulu tu bagus sekali. Pada suatu saat Indira Ghandi datang ke Indonesia, Bung Hatta sudah siap, Bu Hatta sudah siap. Saya jemput sekolah dulu. Terus dilukis oleh Basuki Abdullah bagus sekali nak, ditempel di tembol di Jalan Diponegoro ada. Wah lukisannya hebat. Di istana, pernah masuk istana? Itu disana lukisannya bagus. Ibu Farida dilukis pake kudung, cannnnntik sekali. Tidak neko-neko kudungnya. Ada di depan istana merdeka lukisannya.

Terakhir saya mau diajak ke Cina dan Jepang, tapi saya sudah disumpah untuk kabinet Presiden Soeharto. Setelah ikut Presiden Soeharto, saya ditanya ketika Bu Meutia mau jadi manten. Biasanya di meja Ibu Tin ada apa? Saya matur, ada satu set beliau kan makan sirih, itu harus ada. Bukan harus, kalau bisa diadakan, itu Bu Tin senang. Kalau keluar negeri bawa nak, jadi sirih lengkap, melati lengkap, itu bawa di ice (box), jadi dingin.

***

Wawancara dengan Nenek Pudjarti berlangsung lebih dari setengah jam. Cuplikan wawancara diatas tayang dalam program Mata Najwa Metro TV episode Istana Punya Cerita. Untuk menyaksikan wawancara Meutia Hatta dengan sisipan wawancara Nenek Pudjarti, klik gambar di bawah. Untuk melihat rekaman lengkapnya, kunjungi http://www.matanajwa.com/read/videolist


Senin, 17 Maret 2014

Jalan-Jalan ke Bantaeng

Dokumentasi liputan saya ke Bantaeng yang tidak (mungkin) tayang 
di program Mata Najwa Metro TV

Selasa, 11 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Sebuah Kota dan Sejumlah Terobosan

Pantai Marina, salah satu destinasi wisata favorit di Bantaeng.
Awalnya berwisata di pantai ini berkonotasi negatif di mata warga Bantaeng.
Setelah diperbarui, Pantai Marina bahkan ramai oleh wisatawan dari luar Kabupaten Bantaeng
Pemkab Bantaeng punya sebuah kolam renang standar olimpiade dan kolam renang untuk anak.
Biaya masuknya cuma tiga ribu rupiah, sementara anak sekolah bisa bebas bermain di tempat ini tanpa dipungut bayaran.
Adalah Bantaeng. Julukannya Butta Toa, artinya kota tua. Bernama demikian karena kota ini sudah ada sejak 750an tahun lalu. Arsitektur khas era pemerintahan kolonial Belanda di sejumlah tempat, menegaskan impresi kota yang pernah menjadi afdeling atau ibu kota pemerintahan itu. Namun beberapa tahun lalu, pesona kota bersejarah ini sempat terkubur berbagai masalah. Banjir seringkali menyusul hujan yang mengguyur Bantaeng beberapa jam saja. Kala musim kemarau, kekeringan sudah niscaya. Disana dulu juga ada sebuah pantai yang tak terurus. Namun kini pantai itu malah jadi pusat aktivitas warganya. Inilah Bantaeng setelah tahun 2008. Setelah ia dipimpin bupati yang seorang akademisi.

Simak beberapa potongan kisah tentang Bantaeng yang saya temukan sendiri disana. Klik judul berikut untuk membaca reportase hal-hal menarik di Bumi Butta Toa:







Beragam masalah yang semula mengepung Bantaeng, perlahan mulai dihadapkan dengan solusinya masing-masing. Dari daerah langganan banjir, menjadi daerah tingkat dua langganan adipura. Rapor pembangunan yang dilihat dari data Badan Pusat Statistika (BPS) pun nampak membaik. Bantaeng kini bersiap menjadi metropolitan baru di sulatan Sulawesi pada 2018. Lima tahun setelah itu, Bantaeng menargetkan diri menjadi megapolitan. Kita tunggu. []


Pelajaran Dari Bantaeng: Teknologi di Atap Kabupaten

Dari atas perkebunan Kabupaten Bantaeng, garis pantai kabupaten terlihat jelas
                Meskipun luasnya cuma 0,63% provinsi Sulawesi Selatan, Bantaeng punya bentang alam lengkap. Dari gunung sampai pantai ada. Berdasarkan kondisi alam itulah pemerintah kabupaten Bantaeng merumuskan jurus pembangunan—membagi Bantaeng dalam klaster pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Pantai diprioritaskan menjadi kawasan wisata. Dataran rendah untuk pertanian bahan pangan pokok dan sedang disiapkan untuk menjadi area industri smelter atau pengolahan nikel. Sementara dataran tinggi, menjadi arena pertanian berbagai jenis komoditas, salah satunya daikong.

                Daikong adalah sayuran sejenis lobak yang berasal dari Jepang dan biasa digunakan untuk campuran sashimi. Di Bantaeng, daikong tumbuh subur. Umbi-umbian ini nantinya diekspor dan digunakan di restoran khas masakan Jepang. Selain daikong, di dataran tinggi Bantaeng juga tumbuh talas jepang. Talas ini dibiakkan dengan metode kultur jaringan. Laboratoriumnya pun tersedia diatas sana, lengkap dengan sejumlah tenaga profesional. Berbeda dengan talas lain, si talas jepang punya lebih dari satu umbi di bawah tanah. Selain talas dan daikong, perkebunan stroberi dan apel juga ada. Kalau stroberinya sedang berbuah, wisatawan bebas memetiknya dan membeli untuk dibawa pulang.

Tunas talas jepang di laboratorium Kabupaten Bantaeng
Salah satu bagian dari kebun dan laboratorium yang dikelola Pemkab Bantaeng
Bupati dan jajarannya berfoto bersama daikong yang baru dipanen

Pelajaran Dari Bantaeng: Bantaeng Kota Romantis

Anjungan Pantai Seruni
                Ya, Bantaeng juga bisa dibilang kota romantis. Pertama, disana ada sebuah ruang publik unik, namanya Pantai Seruni. Dulu, yang namanya Pantai Seruni adalah pantai yang jorok, bukan lagi kotor. Di sepanjang garis pantai, tiap pagi warga “jongkok” disana. Kala malam, tak ada yang berani melewati tempat itu. Selain berdekatan dengan lapas, ada sebuah pohon besar yang kata seorang warga, dihuni kuntilanak. Kalau kita lewat malam-malam di bawah pohon itu, katanya ada yang menaburkan pasir dari atas. Benarkah? Entah. Yang pasti, kini Pantai Seruni sudah jauh dari kisah kelam tadi.


Bayangkan, ada sebuah alun-alun kabupaten yang berbatasan langsung dengan laut. Di dekatnya ada sebuah anjungan serupa Pantai Losari di Makassar. Berdirilah disana pada sore hari. Maka gradasi warna langit yang terlihat dari sana, baru satu bagian keindahan. Lalu tengok sisi lain alun-alun tadi. Sebuah rumah sakit daerah berstandar internasional sedang dibangun. Tingginya delapan lantai. Bupati dan wakilnya (ketika saya wawancara) kompak menyebut gedung itu rumah sehat, bukan rumah sakit. Di sampingnya sebuah apartemen dibangun pemerintah kabupaten untuk dihuni para dokter yang bertugas disana. Dimana dokternya sekarang? Di Jepang. Mereka disiapkan untuk mengoperasikan peralatan medis berteknologi canggih. Sepulang dari Negeri Sakura yang berbarengan dengan rampungnya pembangunan gedung pada 2015 mendatang, sepuluh dokter tadi siap beraksi. Oh ya, semua gambaran indah tadi adalah visualisasi Pantai Seruni kini.

Keindahan Pantai Seruni belum habis disana. Ada balai atau tribun yang menghadap laut di alun-alun Pantai Seruni. Disana bupati biasa menerima tamu. Kalau tak ada tamu, wargalah yang menempati, karena di dekatnya, 200an kursi plastik berjejer teratur diduduki warga yang bercengkerama sambil menikmati sara’ba—minuman khas Bantaeng yang terbuat dari sari jahe. Kalau kamu ada disana ketika malam, sebuah odong-odong berhias lampu warna warni berkeliling di lintasannya yang beraspal mulus. Nah, jawaban dari kenapa tempat ini romantis, adalah karena setelah Pantai Seruni direnovasi, angka perceraian di Kabupaten Bantaeng terjun bebas. Tahun 2012 angka perceraian disana cuma 17 kasus. Bandingkan dengan angka rata-rata muncul di tahun-tahun sebelumnya yang menembus lebih dari 100 kasus perceraian. Pantai Seruni baru satu dari tiga pantai di Bantaeng yang dirombak total. Pantai Lamalaka disulap menjadi tempat makan yang berbatasan langsung dengan laut. Sementara Pantai Marina, cocok digunakan bermain ombak.

Alasan kedua romantisnya Kabupaten Bantaeng adalah hubungan harmonis rumah tangga para pejabat kabupaten. Bupati Nurdin menghimbau jajarannya untuk memeluk dan cium istri masing-masing sebelum berangkat kerja. Saran itu nampaknya dituruti para pejabat kabupaten, bahkan mungkin dicontoh warganya. Soalnya Sang Bupati sendiri memberi contoh. Di hadapan saya dan seorang kepala dinas, bupati tak segan merayu istrinya. Romantisme Bantaeng akan lebih terasa, jika kita berwisata kesana dengan orang yang cocok diajak beromantis ria. Hehe.

Kanan: Rumah Sakit Daerah Bantaeng yang sedang dibangun
Kios makanan di Pantai Seruni
Odong-odong berhias lampu mengitari alun-alun Pantai Seruni dan melewati lapas
Warga beraktifitas di Pantai Seruni sejak siang hari


Pelajaran Dari Bantaeng: Sepak Terjang Sebuah Brigade

Posko medis BSB kini tak hanya didatangi warga Bantaeng, tapi juga warga kabupaten tetangga.
Meski bukan warga setempat, mereka tetap dilayani.
Ambulans BSB yang di dalamnya terdapat peralatan medis lengkap.
Kejadian ibu melahirkan di dalam mobil ini cukup sering terjadi
Armada mobil pemadam kebakaran BSB Bantaeng.
Mobil terdepan bisa menjangkau titik api di ketinggian lantai 30
Revolusi pelayanan kesehatan bergulir di Bantaeng. Jika lazimnya orang sakit menghampiri balai pengobatan, maka di kaki paling selatan pulau Sulawesi itu, logika demikian dibalik. Warga yang merasa tidak sehat tinggal hubungi nomor 113. Selanjutnya mereka akan didatangi seperangkat alat dan tim medis yang siap melayani. Dokter dan tim medisnya akan menghampiri rumah dan memberi pengobatan. Jika tidak bisa ditangani dalam satu tindakan, si sakit akan dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Tentu dengan ambulans gratis yang ditunggangi tim itu. Ambulans yang ada di Bantaeng bukan ambulans biasa. Armada itu memfasilitasi tindakan medis semacam operasi di dalam kabinnya. Kejadian melahirkan di dalam mobil contohnya, bukan terjadi sekali-dua kali. Makanya, angka kematian ibu dan bayi menurun drastis setelah ada si kelompok siaga tadi. Tim yang selalu siap dengan panggilan warga tersebut menamakan diri Brigade Siaga Bencana.
                
Brigade Siaga Bencana atau BSB, membawahi pelayanan hal-hal darurat yang dialami warga. Tak hanya bidang kesehatan, peristiwa kebakaran pun akan diatasi dengan reaksi cepat oleh BSB melalui kontak telepon yang sama, 113. Ada kisah tentang seorang pemadam kebakaran di Kabupaten Bantaeng, namanya Bobi. Ayah dua anak ini pernah berkesempatan diberangkatkan ke Jepang oleh Bupati Bantaeng untuk belajar tentang profesi yang ia geluti. Sekembalinya ke kampung halaman, Bobi dihadapkan pada sebuah insiden kebakaran. Saatnya ia beraksi. Naas, ketika menjinakkan si jago merah, sebuah kecelakaan menyertai. Bobi tewas di tempat.

Kecelakaan yang dialami Bobi kemudian menjadi pelajaran berharga bagi satuan pemadam kebakaran Bantaeng. Kini, mereka dilengkapi dengan armada yang lebih baik. Salah satunya adalah mobil pemadam kebakaran yang didatangkan dari Jepang dan mampu mencapai titik api di ketinggian lantai ke-30. Padahal, di Bantaeng gedung tertinggi adalah RSUD. Itu pun cuma delapan lantai dan belum rampung dibangun. Rupanya mobil itu berguna ketika pada suatu saat, pasar terbakar dan titik api ada di bagian tengah. Tangga di mobil pemadam kebakaran kemudian dipasang horizontal untuk memadamkan si api.

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah (kanan) usai memberi makanan untuk Afgan, anak almarhum Bobi.
Saat ditanya cita-cita, Afgan mantap menjawab ingin menjadi pemadam kebakaran.
Pria berbatik hitam adalah Hidekazu Futagami, direktur Ehime Toyota.
Ia dan timnya berada di Bantaeng setelah memberi bantuan mobil ambulans.

Pelajaran Dari Bantaeng: Curhat ke Bupati


                “Jadi bupati itu enaknya cuma 30 persen, sisanya enak sekali,” kelakar Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah menirukan candaan tentang posisi bupati di daerahnya. Nyatanya, ia mengaku kata enak disana tidak ada. Dalam arti, menjadi bupati ternyata tak semudah itu. Profesor kehutanan lulusan Jepang itu harus langsung berhadapan dengan berbagai masalah di Bantaeng. Satu persatu, masalah itu lalu ia carikan solusi.

                Salah satu gaya memimpin Nurdin Abdullah yang ia praktikkan, adalah menemui warganya secara langsung. Bapak tiga anak ini setiap hari menerima kunjungan warga di kediaman pribadinya. Halaman belakang rumahnya ia set menjadi aula penerimaan tamu. Dari jam setengah enam hingga sembilan pagi, warga curhat ke bupati. Diantara mereka ada yang meminta jalan di sekitar rumah diperbaiki, ada yang minta dibantu dana untuk mas kawin, ada juga yang sekadar ingin mengucapkan terima kasih.

                Keterbukaan dengan warganya itu, diakui bupati ampuh membuat masalah warga tuntas. Ia tahu betul bahwa untuk mengetahui kondisi warga sebenarnya adalah dengan mendengar langsung dari mereka. Seorang tokoh masyarakat yang semula menentang kepemimpinan bupati pun akhirnya berbalik arah. Ia kini mengacungi jempol kepemimpinan bupati setelah merasakan sepak terjangnya. “Anak saya buka bengkel ojek. Sekarang sepi. Dulu warga itu naik ojek, sekarang mereka punya mobil sendiri karena jalan sudah bagus”, ujarnya mengulas sebuah fenomena di Bantaeng.


Seorang ibu saya wawancarai setelah ia mengadu ke bupati dan diajak sarapan oleh istri bupati. Si ibu mengadukan penerimaan PNS yang kurang memuaskan. Mendapat penjelasan dari bupati, ia akhirnya lega. Saya lalu bertanya, kenapa ia tidak berdemo. “Malu, kami kan pengajar. Kalau kami demo  nanti ditiru anak-anak”, ulasnya. Jawaban ibu tadi mengingatkan saya ke sindiran bupati yang bilang bahwa orang Indonesia itu gengsinya tinggi malunya sedikit. Nampaknya di Bantaeng tidak demikian.

Pelajaran Dari Bantaeng: Tak Ada Lagi Banjir Kala Hujan, Kering Ketika Kemarau


              Dalam sebuah video bertahun 2008, terlihat luapan air setinggi lutut orang dewasa. Siang itu Area pusat Kabupaten Bantaeng terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang nekat menerjang banjir. Kata seorang warga, banjir sudah menjadi langganan di Bantaeng. Itu sebelum dibangunnya bendungan. Pembangunan bendungan atau cek dam adalah program pertama bupati Nurdin Abdullah setelah ia dilantik pada Agustus 2008. Menariknya, bendungan itu adalah realisasi karya ilmiah sang bupati.

            Awalnya ia mendapat resintensi dari warga. Bagaimana tidak? Cek dam itu dibangun di daerah yang tidak dilewati aliran sungai besar. Sepintas orang bisa mengira bupati itu asal tunjuk lokasi saja. Satu lagi, cek dam dibangun ketika Indonesia terharu (dan takut) dengan tragedi Situ Gintung di Ciputat Jawa Barat. Ketika itu lebih dari 100 orang tewas terseret air yang semula dibendung. Warga Bantaeng tentu ogah kejadian itu berulang di rumahnya. Tapi toh bupati tetap melenggang dengan program cek damnya.

               Ternyata benar. Setelah cek dam rampung dibuat, banjir tak lagi akrab dengan Bantaeng. Yang dilakukan bupati dengan cek damnya, adalah membuat sungai buatan. Jika debit air di cekungan cek dam melebihi batas normal, air akan dialirkan ke saluran lain sehingga merata. Dengan cek dam itu, Bantaeng tak lagi kelebihan air saat hujan. Tidak juga kekurangan ketika kemarau.

Pelajaran Dari Bantaeng: Wisata Budaya di Bantaeng

Bantaeng dibekali sebuah warisan budaya berupa istana Kerajaan Gowa.
Istana berupa rumah panggun itu bernama Balla Lompoa. Tahun 1950an Bantaeng terakhir kali mengangkat raja.

Seorang kakek menghuni istana Balla Lompoa Bantaeng.
Ketika ditanya umur, ia mengaku lupa.


Seorang pemandu wisata menceritakan bahwa di dalam Balla Lompoa ada sebuah ruangan yang disakralkan.
Untuk menuju kesana ada sebuah tangga. Ada upacara khusus untuk bisa memasuki ruangan berisi
berbagai peninggalan kerajaan itu

Bung Karno pernah mengunjungi Bantaeng. Fotonya terpampang di dinding salah satu sisi Balla Lompoa

Balla Lompoa pernah dijadikan ruang perkantoran di era pemerintah kolonial Belanda.
Ruangan yang pernah menjadi kantor itu dibiarkan seperti semula.

Sebuah foto memperlihatkan para pejabat pemerintah kolonial Belanda berfoto di hadapan Balla Lompoa
Di Bantaeng juga ada sebuah mesjid yang dibangun sejak tahun 1885.
Hingga kini masih digunakan dan terawat dengan baik.

Menara mesjid tua

Bantaeng juga punya berbagai bangunan bergaya arsitektur kuno. Diantaranya mesjid yang terlihat dari Pantai Seruni ini.
Gedung pusat pemerintahan kabupatennya pun bergaya lama.


Rabu, 05 Maret 2014

Pelajaran Dari Bantaeng: Ketika Profesor Jadi Bupati


        Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang Bantaeng. Sebuah kabupaten si ujung selatan Sulawesi, yang kini terkenal berkat jasa bupatinya. Nama bupati kabupaten berjuluk Butta Toa atau tanah tua itu, mencuat ke publik setelah sejumlah tokoh intelektual menyodorkan 19 nama alternatif bakal calon presiden Indonesia. Diantara deretan nama dalam maklumat berjudul Komunike Bersama Peduli Indonesia itu, ada Nurdin Abdullah, bupati Kabupaten Bantaeng. Profesor bidang kehutanan di Universitas Hasanuddin itu bertengger bersama empat nama pemimpin daerah lain yang dinilai layak mengajukan diri memimpin negeri. Sebenarnya apa yang menarik dari sang profesor, hingga pamornya sedemikian melejit? Saya menyaksikan langsung bagaimana rakyat Bantaeng Sulawesi Selatan memandang bupatinya.


        Sore itu ia duduk di salah satu kursi ruang tamu rumah jabatan bupati Bantaeng. Setelan kemeja batik resmi masih ia kenakan. Padahal menurut seorang warga Bantaeng, sang bupati sering kali berbusana layaknya warga biasa. Rupanya Nurdin Abdullah baru tiba dari Pare-Pare. Disana ia menyerahkan bantuan mobil ambulans dari Ehime Toyota, perusahaan yang juga menyumbang sejumlah armada mobil dinas di Bantaeng. Terlihat tanpa lelah, ia meladeni saya yang bertanya sejumlah hal. 


         “Saya ini seperti bulan madu setiap hari. Kalau tugas luar kota ingin segera pulang, kangen istri,” ujarnya setelah mengenalkan Liestiaty Fachruddin, istrinya yang dinikahi ketika sang bupati berumur 21 tahun. 

Nurdin dibesarkan dalam gemblengan orang tua yang bersikap tegas. Sejak duduk di bangku SMP, Nurdin kecil sudah harus mencari uang sendiri. Ketika SMA bisa hidup dari usaha jual beli mobil bekas. Saat kuliah, ia menikahi anak rektornya dan menolak menikmati fasilitas mewah yang tersedia. Nurdin dan istrinya kemudian berangkat ke Jepang untuk sama-sama melanjutkan studi. Suami belajar ilmu pertanian, istrinya studi perikanan. Duet keilmuan keduanya ternyata cocok dengan kondisi alam Bantaeng, kampung halaman Liestiaty. Dalam sebuah kelakar, Nurdin berujar “saya yang urus darat, istri urus laut.”


Rekam jejak politik Nurdin bermula pada tahun 2008. Meski bukan politisi, namanya telah populer di kalangan warga Bantaeng. Kala itu ia maju sebagai bupati dengan mengantongi restu partai politik kecil nonparlemen. Hasilnya mengejutkan. Perolehan suaranya kala itu mencapai lebih dari 40 persen. Nurdin kemudian dilantik pada Agustus 2008. Kurang dari lima tahun periode kepemimpinan pertamanya, Bantaeng banyak berubah. 


Saat masa bakti pertamanya habis, Nurdin digempur warganya yang mendorong agar ia mencalonkan kembali menjadi bupati. Nurdin rasional, ketika itu ia tak punya “kendaraan“ untuk melenggang lagi menjadi bupati. Spontan seorang tukang becak yang datang menyatakan dukungan menawari becak miliknya untuk Nurdin jadikan “kendaraan”. Maka demikianlah seperti yang kita sama-sama tahu. Masa kepemimpinan Nurdin Abdullah yang kedua bergulir. Jika semula ia hanya dibekingi partai gurem, kini partai-partai besar menyatukan suara mendukung pencalonan Nurdin. Walhasil, lebih dari 80 persen suara ia raup di pemilihan periode kedua.


Keberhasilan Nurdin Abdullah menyulap Bantaeng akhirnya membalikkan hati seorang tokoh kubu oposisi. Seorang mantan kepala humas pemkab Bantaeng terdahulu, mengaku sebagai orang yang paling menentang kepemimpinan Bantaeng di bawah Nurdin Abdullah. Ia ragu dengan kapabilitas seorang pengajar—yang biasanya berhadapan dengan mahasiswa—untuk mengelola sebuah wilayah. Butuh waktu hampir dua tahun bagi sang oposisi untuk kemudian mengakui kebolehan bupatinya kini. Bantaeng berubah lebih baik.


Ketika di Jepang, Nurdin sempat membangun perusahaan pengolahan ikan tuna. Ia juga menjadi ketua Perhimpunan Mahasiswa Jepang pada 1991. Bisnis lain yang juga masih ia jalani hingga kini adalah pembuatan butsudan. Melalui PT Maruki International yang didirikannya, Nurdin memproduksi paket produk budaya khas Jepang berupa altar tempat penyimpanan abu hasil kremasi. Dengan bekal pengalaman studi dan wirausahanya di Jepang, Nurdin mengembangkan Bantaeng. Makanya tak heran, jika sejumlah hal berbau Jepang bisa dijumpai di Bantaeng.


Dalam mengelola Bantaeng, Nurdin punya sejumlah hal unik. Dengan kocek pribadinya, ia menghadiahkan staf untuk melakukan perjalanan studi ke Singapura dan Jepang. Disana mereka diperlihatkan langsung kepada tampilan kota idaman yang sesungguhnya. Hasilnya, penataan kota Bantaeng menjadi lebih mudah. Kesadaran warganya untuk menjaga kebersihan pun tumbuh. Di Bantaeng ada sebuah motor berbak terbuka yang bertugas memungut sampah apapun di jalan. Tempat sampah juga mudah ditemui di Bantaeng. Bagi warga Bantaeng, kebersihan adalah kebutuhan.


Selain pengelolaan sampah, program lain bupati yang dinilai progresif diantaranya adalah pembuatan Brigade Siaga Bencana, pembangunan bendungan, penataan pantai, hingga penerapan teknologi pertanian.  Hal-hal tersebut akan saya bahas dalam tulisan terpisah.

Jumat, 14 Februari 2014

Tokoh Idola Habibie


Kisah dari pertemuan saya dengan B.J. Habibie belum semua dibeberkan. Saya masih menyimpan satu tuturan cukup panjang yang nantinya akan dirilis dalam Can I Say Magazine Edisi 14. Saat ini tulisannya sudah rampung, tinggal tunggu pengumpulan materi lain. 

Sebagai pemanasan, berikut saya cuplikkan potongan obrolan saya dan Habibie tentang tokoh idola Sang Presiden Ketiga. Percakapan ini tidak akan dimuat di Can I Say. Yang bakal muncul di Can I Say tentu saja hanya yang berhubungan dengan seni, seniman dan karya seni. Habibie bicara soal seni? Ya, lihat saja Can I Say 14 nanti. Hehe. Sebagai kisi-kisi, berikut saya tampilkan foto yang menggambarkan seni yang dibahas Habibie. Oiya, kalau belum baca edisi sebelumnya, unduh melalui tautan ini.




R: Eyang sudah kenal Pak Harto sejak umur 13?

H: Sejak umur 13 ya benar. Ceritanya waktu itu tahun 50, kita tahun 49 (bulan) desember menandatangani suatu perjanjian dengan Belanda bahwa mereka akui Republik Indonesia Serikat. Diakui kecuali wilayah Irian Jaya. Irian Jaya nanti akan dibicarakan kelak. Tapi entah kita ga percaya karena pengalaman kita dengan Belanda ternyata sudah mendirikan negara Indonesia Timur, negara Pasundan, negara Kalimantan, di Sumatera, semua dibuat begitu. Dan bisa diperkirakan bahwa langkah selanjutnya diadu domba, sehingga terjadi negara tersendiri. Untuk mencegah itu, konsep RIS harus dikembalikan ke UUD. Untuk hal itu, pahlawan kita yang melawan belanda dan sekutunya itu bulan januari 50 bergerak ke luar jawa. Kita belum punya angkatan udara. Jadi mereka saya tidak tahu bagaimana caranya, pakai perahu atau bagaimana. Mereka pergi ke Indonesia bagian timur karena disitu bahaya terbesar karena ada militer, Andi Azis yang bergerak dari Sulawesi Selatan, ada Soumokil dari Maluku, yang mau memproklamirkan RMS. Untuk mencegah itu, mereka datang dari Jawa. Ada dari Siliwangi, dipimpin oleh Letnan Kolonel Kosasih. Tapi mereka temunya itu di rumah bapak saya. (Kodam) diponegoro belum ada, tapi (adanya) Brigade Mataram. Nah komandannya, Letkol Soeharto, umur 28 tahun. Jadi Letkol Soeharto, Letkol Kosasih, yang koordinir itu Kolonel Kawilarang. Itu mereka berkumpul di rumah ayah saya. Disitu saya melihat mereka bagi saya pahlawan. Pak Harto itu sudah saya kagumi dari kecil. Dia ganteng dan pendiam dan pinter orangnya. Saya tidak sangka kelak saya mendapat kesempatan untuk bekerja dan dibina oleh beliau untuk mengerti bagaimana memimpin bangsa ini. Akhirnya saya juga harus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa indonesia, sesuai dengan UUD45. 

R: Sayangnya Eyang bertemu dengan Pak Harto saat pengunduran diri itu ya?

H: Ya, karena dia sampaikan. Saya tanya dia juga melalui telepon saya tulis di buku Detik-Detik yang Menentukan. Pak saya mau ketemu dengan bapak. Tidak boleh karena itu tidak menguntungkan bagi kita semua. Sudah, saya laksanakan saja. Saya selesaikan masalah dengan baik. Dan dia bilang saya solat lima kali tapi tiap kali dia solat, setelah itu dia doa untuk saya. Kita secara batin berhubungan. Begitu disampaikan. Bagi saya, dia itu bukan saja kakak tertua, tapi yang terpenting manusia yang banyak jasanya sampai saya jadi ya saya ini. Disamping tentu yang membina saya ini adalah dua ibu. Ibu yang melahirkan dan mendampingi saya. Tapi Pak Harto dan Pak Panggabean, Pak Adam Malik, mereka banyak pengaruhnya sama Habibie. Juga Pak Sumitro, dia itu idola saya yang pertama. Eh, pertama Bung Karno, karena saya dapat nasionalisme dari Bung Karno. Idola kedua saya Soeharto, karena saya dapat pembinaan kesempatan untuk mengerti bagaimana memimpin bangsa Indonesia. Ketiga, idola saya Sumitro Djojohadikusumo. Kenapa dia? Karena di berani, dia konsisten. Dia konfrontasi dengan presiden. Dia keluar negeri tapi tetap setia pada cita-citanya dan tetap cinta sama Indonesia, bangsanya sendiri. Dan yang keempat, idola saya adalah Widjojo Nitisastro. Dia sepuluh tahun lebih tua dari saya tapi sangat pintar tapi rendah hati. Kebetulan keempatnya orang jawa. Hahaha. Bukan karena orang jawa tapi.

R: Dan sekarang eyang yang jadi idola setiap orang.

H: Saya ga tau, tapi kalaupun demikian saya bersyukur. Insya Allah anak dan cucu intelektual saya bisa lebih baik dari saya. Karena saya adalah produk dari empat idola. Hahaha. Jadi, saya rasa mereka juga dipengaruhi ayah, ibunya, dan ibu yang mendampinginya. []

Kamis, 06 Februari 2014

Obrolan Habibie di Meja Makan



Bubur Manado

          Bubur manado dan empat jenis masakan ikan sudah tersaji di meja makan. Dengan malu-malu, saya dan Yudha duduk bersebelahan di hadapan Eyang Habibie.
“Ini tempatnya Eyang Ainun”, ujar Eyang Habibie menepuk kursi di sebelahnya. “Selalu kosong, jadi saya disini. Yang duduk disini paling banter cucu saya”.
     "Jarang-jarang kan Yang bisa kayak gini?” kata saya yang masih takjub dengan kesempatan semeja makan dengan B.J. Habibie.
“Oh enggak, enggak pernah”, timpal Eyang Habibie membuat kami merasa spesial.
“Berarti kita pertama ni Za?” Yudha menanggapi.
“Iya pertama, pertama”, Eyang Habibie meyakinkan lalu menyeruput cappucino decafe-nya.
“Yang datang sini, dulu makan dengan saya Jimly”, lanjutnya merujuk pada Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu.
Sekitar satu jam kami asyik berbincang di meja makan itu. Kami bicara banyak tentang berbagai hal. Semuanya tentu berawal dari apa yang tersaji di hadapan kami. Jumat, menu makan siangnya bubur manado. Entah menu jenis apa lagi yang tersaji di hari lain. Tapi yang pasti, ada ikan tiap hari. Eyang Habibie mengaku sangat jarang makan daging merah. Hanya sekali-kali katanya.
“Tapi saya seneng loh. Rupanya enak juga ya? Hehehehe. Tambah ininya nanti ga enak. Ini kalau habis paling baik. Dan ini tidak jadi gemuk. Seratnya banyak.” Eyang Habibie menyarankan saya menambahkan lagi bubur ke piring.

Kolam Renang
 
“Meja ini sejak lama Eyang?” Saya cari topik lain.
“Oooh udah lama. Bawa dari eropa. Itu meja ini dulu kan saya punya rumah dinas di Hamburg, rumah pribadi di luar. Seperti rumah dinas di Kuningan, rumah pribadi di Cibubur, atau Cikeas. Saya punya rumah dinas di Kuningan-nya Hamburg. Nah ini dulu di rumah dinas, tapi dulu rumahnya kosong, jadi beli sendiri. Sedangkan rumah saya sendiri, rumah dinas ga ada swimming pool.”
“Tetep nomor satu swimming pool ya. Hahahaha.” Yudha menimpali diiringi tawa kami.
Kolam renang di rumah, bagi Eyang Habibie mungkin sama pentingnya seperti kamar mandi. Setiap pagi, ia menghabiskan waktu rata-rata satu jam untuk berenang. Saya dan Yudha dalam kesempatan lain pernah diajak melihat kolam renangnya.
“Coba pegang!” suruh Eyang Habibie agar saya menyentuh air di kolam. Airnya hangat. Kolam renang di rumah Habibie juga dilengkapi speaker di bagian dalam airnya.
“Enrique Iglesias!” saya lempar sebuah nama. Eyang Habibie terperangah lalu pecah tawanya. Tiap kali berenang, ia memang selalu mendengar lagu-lagu penyanyi asal Spanyol itu.


 Calon Presiden

Selain hal-hal seputar kehidupannya, obrolan kami di meja makan juga tak lepas dari topik politik. Keesokan hari setelah makan siang itu, Eyang Habibie akan memberi ceramah untuk kader Golkar. Eyang Habibie mengkritisi sistem politik masa kini yang tidak menguntungkan. Menurutnya sistem money politics kebangetan. Seorang politisi perlu bermodal beberapa milyar untuk mendapat sebuah posisi.
“Dari mana duitnya?” pungkas Eyang Habibie.
“Tapi yang saya enggak ngerti, kok kenapa raja dangdut dimasukkan. Ya toh? Terus ada yang mengatakan, yang bisa tandingi raja dangdut hanya itu, si itu. Tukil apa itu? Tukul. Hahahahaha. Kan bukan begitu, karena itu saya bilang, untuk presiden jangan kita pilih dari kalangan selebriti. Kita pilih orang yang problem solver.”
         “Kalau dari sekian orang yang sudah mendaklarasikan, kira-kira siapa yang memikat?” tanya Yudha.
            “Saya lebih mau yang muda-muda.” Timpal Eyang Habibie.
            “Dan yang dari kalangan akademisi? Eyang suka?” saya lanjut bertanya.
            “Enggak. Saya enggak peduli apa dia S1, S2, S3 atau es lilin.” ujarnya beriring tawa.
        
 Kisah Kereta

Suapan terakhir di makan siang itu tandas. Seorang asisten Eyang Habibie mengantarkan segelas air dan piring kecil berisi obat.
“Saya tiap hari tadinya 22 obat. Terus direduce, dikurangi jadi 16. Sekarang makan 16, siang dan malam. Ini vitamin C, yang ini E. Yang obat hanya ini,” ia pisahkan sebutir pil kecil, obat untuk jantungnya.
            “Tapi saya cerita sesuatu ya.” Eyang Habibie memulai sejudul topik baru.
“Dulu, masih ada wartawan-wartawan. Saya kan pernah mendapat pena mas dari PWI. Terus saya tanya. Eh, kalian masih ingat ga itu, mengenai kereta api di taman mini? Yang diatas, digerakkannya dengan angin kan?”
“Tahu Pak kami tidak boleh perlihatkan.” Eyang Habibie menirukan wartawan yang dulu diajaknya berbincang.
“Jadi dulu, ada satu tim dari Eropa dari Brazil, dibawa supaya dimasukkan proyek kereta api underground. Terus Pak Harto bilang ya kalau Habibie setuju silahkan. Saya tidak setuju. Karena teknologinya menurut saya kalah. Bisa terjadi, kalau kapal terbang kalau landing begini bisa sreeeet gitu. Stop gitu kan.” Tangan Eyang Habibie memperagakan diatas meja
“Ini juga dia main angin. Kalau pada kecepatan tertentu dia bisa bocor. Debat debat debat, saya tanya sama orang ini. Kamu di Brazil beli ini dari Jerman? Iya. Kamu sudah pake ga? Belum. Kenapa tidak dipake? Tapi bapak kan suka hi tech. yaaa, tapi harus proven. Kamu punya tempat percobaan? kalau menurut analisa saya, pada cekungan tertentu dan alphanya begini itu akan terjadi reverse. Dan itu seakan-akan nabrak dengan satu dinding.“
“Dia bingung kan. Yasudah kamu punya kereta punya? Bagaimana pemecahannya? Garis lurus. Kamu gila saya bilang. Tidak ada garis lurus. Udah akhirnya saya dipanggil Pak Harto, saya jelaskan. Jadi kalau dia buktikan bahwa itu bisa melalui sebuah tes, kamu mau? Ya, kalau dia memenuhi syarat dan harganya oke, no problem.”
“Terus mereka buat suatu tempat tes di taman mini. Yang buat ininya kakaknya ainun. Itu kan guru besar kan. Profesor dekan di ITB. Dia ahli dari bagian sipil, Mas Harry, Mas Harry Besari. Terus saya ditanya sama dia. Rudy Katanya kamu against ya? Saya against. Tapi bagaimana Mas, saya kan pernah bikin kereta api juga. Itu ga bener itu. Tapi kamu ga marah? Silahkan kamu buat. Kamu kan cari duit. Halal kan. Dia buat.” Tuturnya sambil menirukan ucapan sang kakak ipar.
“Terus dapat undangan. Satu tahun kemudian selesai dan diundang, hari Sabtu, semua kabinet. Tempat saya dan Ibu Ainun kosong. Saya ga mau dateng. Karena saya yakin akan terjadi sesuatu. Itu kereta api. Pada kecepatan tertentu jadi apa yang saya prediksi. Duaaarrrrr, sampe kondenya Ibu Tin lepas. Iya. Dan itu menteri perhubungan itu Azwar Anas itu kaget. Giiila.” Paparan Habibie sampai di klimaks.
“Jadi sebelumnya mereka kan bukan ahli-ahlinya. Kan sebagian besar orang tahu Pak Habibie itu ahli konstruksi pesawat terbang. Tapi saya pernah buat kapal selam, saya pokoknya semua yang kaitannya dengan konstruksi. Waktu ketemu di Manado, wartawan bilang Pak kami hadir. Hahaha.” Kami kemudian menghela nafas. Hahaha. Seru sekali cerita beliau.

Habibie & Ainun
 
         Sepotong melon tersaji di hadapan kami. Topik pembicaraan lain datang, membuat kami enggan segera beranjak.
“Minimal sehari baca buku atau gimana Eyang?” tanya Yudha.
“Saya hanya baca buku yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang saya laksanakan. Orang kan hanya 24 jam. Saya tidak akan baca buku yang tidak ada kaitannya dengan saya punya yang sedang saya nulis, sebuah research. Karena dalam pendidikannya gitu. Kan kalau Anda buat research, kan sebelumnya baca dulu”, pungkas Eyang Habibie.

Bicara soal buku, Eyang Habibie membocorkan kisah terbitnya buku Habibie dan Ainun. Awalnya Eyang Habibie mengirimkan tulisannya kepada seorang sahabat, Wardiman Joyonegoro. Menteri pendidikan era akhir orde baru itu mengomentari bahwa buku yang dibuat Eyang Habibie belum bagus. Eyang Habibie menjelaskannya dalam tawa. Setelah melalui sejumlah revisi, dicetaklah buku itu. Kini Habibie dan Ainun juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Jepang, dan Cina.
Eyang Habibie pernah bertanya kepada seorang pembaca bukunya dari Cina. Kenapa suka buku Habibie dan Ainun? Katanya karena kisah Habibie Ainun seperti versi nyata dari kisah Laila-Majnun, atau Romeo and Juliet, tapi tentu dengan ending yang tak serupa.
“A true story of a young couple; Starting from nothing to get everything done. Becoming the President and the First Lady of a country. Not even death could separate them, because of the power of love”, Eyang Habibie membunyikan sebuah ulasan tentang Habibie dan Ainun dalam Bahasa Inggris.
“Well, kalian harus berkarya lagi”, ucapnya di penghujung pertemuan. Sore itu sudah ada tamu lain yang antri ingin bertemu Eyang Habibie. Di usianya yang ke-77, Eyang Habibie tidak memilih berleha-leha. Jadwalnya selalu padat, dan saya sangat beruntung bisa menyusup diantara jadwal itu. []