Tampilkan postingan dengan label habibie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label habibie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

Festival Buku + Membaca = Leipzig

Tugas liputan saya ke Jerman dilakukan sendiri. Biasanya untuk pengambilan gambar, ada camera person tersendiri. Tapi bagaimana pun itu tetap pengalaman menyenangkan 
Enam hari di pertengahan Maret itu saya bertugas liputan ke kota Leipzig Jerman. Sebelum tiba di kota tujuan, saya transit di bandara kota Frankfurt. Seraya menunggu jadwal penerbangan berikutnya, saya cicil beberapa stock shot. Di ruang tunggu itu ada seorang wanita sedang membaca buku tebal. Suasana itu kontras dengan yang dilakukan calon penumpang lain: ada yang main handphone, duduk-duduk aja, ngobrol, dll. Tak yakin dengan etika pengambilan di negeri panser itu, saya iseng nanya ke petugas di meja resepsionis: bolehkah saya mengambil gambar orang membaca di ruangan ini? Dia jawab, boleh ambil suasana ruang tunggu, tapi jangan orangnya. Hehe. 

Saya jadi ingat cerita seorang kawan ketika liputan di Papua. Orang Papua pegunungan yang ia liput, minta bayaran tiap kali dirinya direkam. Biar gak kena tagihan, dia berkilah bahwa yang ia rekam dengan videonya adalah gunung dan pemandangan di sekitar si orang Papua itu, padahal tentu saja bukan hanya itu. Apa hubungannya sama orang Jerman? Saya jadi kepikir kalau orang yang lagi baca itu marah karena saya rekam, saya tinggal bilang kalau bukan dia kok yang diambil gambarnya. Muehehehe. Tapi saya telat. Begitu kamera keluar dari tas, panggilan naik pesawat sudah datang. Jadilah saya harus cari momen orang membaca lain. Kenapa harus orang membaca? Karena tugas liputan saya ke Leipzig berkaitan dengan itu: Indonesia, buku, kebiasaan baca, festival, dan hal lain di sekitar ketiganya.


Saya, Seno (RCTI) dan Mbak Lian (PIH Kemendikbud) mewawancarai Pak Ahmad Tohari setelah ia mengisi acara diskusi tentang buku Ronggeng Dukuh Paruk
Setiap tahun pada bulan Maret, di kota Leipzig dihelat festival buku yang dihadiri puluhan negara. Indonesia salah satu di dalamnya. Keikutsertaan Indonesia adalah rangkaian dari promosi dunia kepenulisan Indonesia yang sedang naik daun. Pada bulan Oktober mendatang, Indonesia akan hadir di Frankfurt Book Fair, festival buku terbesar di dunia. Kehadiran Indonesia bukan keikutsertaan biasa. Negara kita akan berstatus tamu kehormatan. Dengan predikat itu, Indonesia akan menempati sebuah gerai luas sehingga promosi literasi (dan identitas keindonesiaan lain) akan sangat masif dipaparkan ke hadapan masyarakat penyuka buku dari berbagai Negara. Oke, sekarang kita balik lagi ke Leipzig, kota tempat digelarnya Leipzig Buchmesse atau Leipzig Book Fair. Festival buku di Leipzig, disebut-sebut sebagai yang terbesar di Jerman, sementara Frankfurt Book Fair terbesar di dunia. Kehadiran saya di kota kelahiran komposer masyhur Johann Sebastian Bach ini, adalah untuk meliput Leipzig Book Fair. Dalam tugas peliputan itu, saya mendapat kesan tentang kuatnya kebiasaan baca orang Jerman. Berikut ini buktinya.


Sore itu saya menumpangi tram menuju stasiun pusat kota Leipzig. Seorang remaja wanita kemudian masuk di sebuah stasiun. Rambut kuningnya terlihat serasi dengan jaket ungu yang ia kenakan. Ia kemudian duduk di sebuah sudut tram, lalu pandangannya merunduk. Sebuah buku jadi pusat perhatiannya selama melaju membelah kota. Dari jauh, saya melihat sampul buku itu berwajah seseorang: Frankenstein. Kali lain saya hendak menuju stasiun pusat menggunakan kereta. Di kursi tempat calon penumpang menunggu, pemandangan serupa terlihat. Seorang wanita tekun membaca seakan dunia adalah ia dan bukunya. Maka kesimpulan saya hampir bulat, bahwa membaca adalah kata sifat yang melekat di orang jerman.


***


Aula depan Leipzigger Messe lebih terang dibanding balai lainnya. Saya kagum sekali dengan kemegahan produk arsitektur itu. Ketika menuruni tangga, perhatian saya dicuri seorang remaja wanita yang berkumpul bersama teman-temannya. Ia berbeda. Sementara yang lain asik bercengkerama, yang satu ini merunduk menghadap buku tebalnya. Dalam kamera posisi merekam, saya berbincang dengan dia. Antje Wiedersich namanya.

What are you reading?
I'm reading city of heavenly fire.
What is it about?
It is the end of the book series. It's called xxxxx (ngomong Bahasa Jerman gak ngerti. Haha). And they are shadow hunters, hunt demons to make the world safety.
It's a thick book
Yes. It is.
How many pages?
It is 892. Wow
How long you finish this book?
Three days
Eight hundred pages for three days. So, it's about two books in a weeks?
Sometimes, if I have time yes
What's your favourite book?
Monetary. Yes. And I also read Sherlock Holmes
You read a lot.
Yea
What the world would like if there is no book?
It wouldn't be a good world.


***


Langkah saya kemudian tiba di bagian depan gedung. Seorang anak terlihat berdiri menunggu seseorang. Sebuah buku berwarna pink tampak erat ia genggam. Orang yang ditunggunya kemudian datang. Rupanya anak itu datang bersama keluarga besarnya: ayah, ibu, kakak, kakek dan nenek. Mereka sengaja datang ke Leipzig Book Fair dari Bavaria, kota di selatan Jerman. Tanpa banyak babibu, saya langsung todongkan kamera dan rekam sebuah pembicaraan dengan ayah si anak.

Does your kids love reading?
Yes of course, she's not in school yet but she loves reading already. And he is in first class. He loves reading too. He write some stories too. 
Do you insist them to read or they like it by themselves?
Nonono, by themselves
What's the book are you reading? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
It's called mia and me
How old are you? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
Six
What's the book you love the most? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
The stories about little horses
What about you? (saya nanya ke anak laki-laki)
Star wars
Wooo give me hi five
*tosss
See youuu
See youuu


Kami akhirnya terpisah. Tapi itu sementara. Karena secara tak sengaja, kami jumpa lagi di tram. Di sanalah terjadi perbincangan lebih panjang. Dari sana tahulah saya bahwa nama bapak yang diwawancara tadi adalah Sebastian Fickert. Ia bercerita bahwa pernah menempuh sejumlah perjalanan internasional, belum termasuk Indonesia. Kecintaannya pada Jepang, negara yang pernah ia kunjungi, diekspresikan dengan memberikan nama Naomi untuk si bungsu yang sedari tadi tak melepas buku berwarna merah mudanya. 


Jan, kakak Naomi, adalah anak yang tampak selalu ingin tahu. Tiap kali saya berbicara dengan ayahnya dalam bahasa inggris, ia selalu minta diterjemahkan. Ditanya soal sepak bola, Jan mengaku menggandrungi Bayern Muenchen. Pemain favoritnya, Mueller. Saya kemudian singgung gol Mueller sewaktu piala dunia 2014 lalu, ketika ia membawa timnya menjadi juara dunia. Jan girang membicarakan idolanya, sementara sang ayah tampak heran. Ia lalu bertanya, bagaimana kita biasa berkomunikasi setiap hari? Saya jelaskan bahwa orang Indonesia berbahasa Indonesia, bahasa khas negara kita sendiri. Dia kemudian bertanya lagi, kok saya bisa berbahasa inggris? Saya jawab singkat, karena saya wartawan. 


“Dan ini adalah palu saya.” Canda saya memperlihatkan kamera sambil melirik Jan.

Anak itu bercita-cita jadi hakim. Saya juga beri Jan kesempatan untuk ambil foto saya dengan kamera itu. Bahkan kami sempat berfoto selfie. Tapi sayang, SD Card yang menyimpan foto itu kadung saya kembalikan ke kantor, dan sudah hilang datanya. 


Saya penasaran dengan buku-buku Fickert. Ia kemudian memberi tahu saya dimana bukunya bisa didapat selama Leipzig Book Fair berlangsung. Ia pun memperlihatkan sebuah buku dari tas yang ia jinjing. Judulnya Ararat. Sebastian mengaku menyesal hanya membawa satu buku yang ia pakai untuk disunting ulang. Istri Fickert kemudian berbicara sesuatu dalam bahasa jerman. Saya gak ngerti. Tapi kemudian saya “dipaksa” untuk menerima buku satu-satunya yang ia punya. Saya nyatakan bahwa saya merasa terhormat menerimanya. Setelah membubuhkan tanda tangan, buku bercoret koreksi di sembarang halaman dan berpenanda di halaman tertentu itu jadi milik saya. Tram yang kami tumpangi kemudian tiba di hauptbahnhof, stasiun pusat kota. Kami pun turun bersamaan. Mereka pulang ke rumah di Bavaria, saya ke Berlin. []

Suasana tangga ikonik simbol Leipzig Book Fair


Buku tentang Habibie terpampang di sebuah gerai penerbit buku Jerman.
Seno membantu saya mengambil gambar untuk kisah tentang transportasi Leipzig yang teratur. Saya sedang menunjuk papan penunjuk kedatangan tram yang akurat. Di sana tertulis waktu kedatangan tiap rute tram

Saya difotokan Mas Ilham (Kompas) di aula Leipzigger Messe

Jumat, 14 Februari 2014

Tokoh Idola Habibie


Kisah dari pertemuan saya dengan B.J. Habibie belum semua dibeberkan. Saya masih menyimpan satu tuturan cukup panjang yang nantinya akan dirilis dalam Can I Say Magazine Edisi 14. Saat ini tulisannya sudah rampung, tinggal tunggu pengumpulan materi lain. 

Sebagai pemanasan, berikut saya cuplikkan potongan obrolan saya dan Habibie tentang tokoh idola Sang Presiden Ketiga. Percakapan ini tidak akan dimuat di Can I Say. Yang bakal muncul di Can I Say tentu saja hanya yang berhubungan dengan seni, seniman dan karya seni. Habibie bicara soal seni? Ya, lihat saja Can I Say 14 nanti. Hehe. Sebagai kisi-kisi, berikut saya tampilkan foto yang menggambarkan seni yang dibahas Habibie. Oiya, kalau belum baca edisi sebelumnya, unduh melalui tautan ini.




R: Eyang sudah kenal Pak Harto sejak umur 13?

H: Sejak umur 13 ya benar. Ceritanya waktu itu tahun 50, kita tahun 49 (bulan) desember menandatangani suatu perjanjian dengan Belanda bahwa mereka akui Republik Indonesia Serikat. Diakui kecuali wilayah Irian Jaya. Irian Jaya nanti akan dibicarakan kelak. Tapi entah kita ga percaya karena pengalaman kita dengan Belanda ternyata sudah mendirikan negara Indonesia Timur, negara Pasundan, negara Kalimantan, di Sumatera, semua dibuat begitu. Dan bisa diperkirakan bahwa langkah selanjutnya diadu domba, sehingga terjadi negara tersendiri. Untuk mencegah itu, konsep RIS harus dikembalikan ke UUD. Untuk hal itu, pahlawan kita yang melawan belanda dan sekutunya itu bulan januari 50 bergerak ke luar jawa. Kita belum punya angkatan udara. Jadi mereka saya tidak tahu bagaimana caranya, pakai perahu atau bagaimana. Mereka pergi ke Indonesia bagian timur karena disitu bahaya terbesar karena ada militer, Andi Azis yang bergerak dari Sulawesi Selatan, ada Soumokil dari Maluku, yang mau memproklamirkan RMS. Untuk mencegah itu, mereka datang dari Jawa. Ada dari Siliwangi, dipimpin oleh Letnan Kolonel Kosasih. Tapi mereka temunya itu di rumah bapak saya. (Kodam) diponegoro belum ada, tapi (adanya) Brigade Mataram. Nah komandannya, Letkol Soeharto, umur 28 tahun. Jadi Letkol Soeharto, Letkol Kosasih, yang koordinir itu Kolonel Kawilarang. Itu mereka berkumpul di rumah ayah saya. Disitu saya melihat mereka bagi saya pahlawan. Pak Harto itu sudah saya kagumi dari kecil. Dia ganteng dan pendiam dan pinter orangnya. Saya tidak sangka kelak saya mendapat kesempatan untuk bekerja dan dibina oleh beliau untuk mengerti bagaimana memimpin bangsa ini. Akhirnya saya juga harus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa indonesia, sesuai dengan UUD45. 

R: Sayangnya Eyang bertemu dengan Pak Harto saat pengunduran diri itu ya?

H: Ya, karena dia sampaikan. Saya tanya dia juga melalui telepon saya tulis di buku Detik-Detik yang Menentukan. Pak saya mau ketemu dengan bapak. Tidak boleh karena itu tidak menguntungkan bagi kita semua. Sudah, saya laksanakan saja. Saya selesaikan masalah dengan baik. Dan dia bilang saya solat lima kali tapi tiap kali dia solat, setelah itu dia doa untuk saya. Kita secara batin berhubungan. Begitu disampaikan. Bagi saya, dia itu bukan saja kakak tertua, tapi yang terpenting manusia yang banyak jasanya sampai saya jadi ya saya ini. Disamping tentu yang membina saya ini adalah dua ibu. Ibu yang melahirkan dan mendampingi saya. Tapi Pak Harto dan Pak Panggabean, Pak Adam Malik, mereka banyak pengaruhnya sama Habibie. Juga Pak Sumitro, dia itu idola saya yang pertama. Eh, pertama Bung Karno, karena saya dapat nasionalisme dari Bung Karno. Idola kedua saya Soeharto, karena saya dapat pembinaan kesempatan untuk mengerti bagaimana memimpin bangsa Indonesia. Ketiga, idola saya Sumitro Djojohadikusumo. Kenapa dia? Karena di berani, dia konsisten. Dia konfrontasi dengan presiden. Dia keluar negeri tapi tetap setia pada cita-citanya dan tetap cinta sama Indonesia, bangsanya sendiri. Dan yang keempat, idola saya adalah Widjojo Nitisastro. Dia sepuluh tahun lebih tua dari saya tapi sangat pintar tapi rendah hati. Kebetulan keempatnya orang jawa. Hahaha. Bukan karena orang jawa tapi.

R: Dan sekarang eyang yang jadi idola setiap orang.

H: Saya ga tau, tapi kalaupun demikian saya bersyukur. Insya Allah anak dan cucu intelektual saya bisa lebih baik dari saya. Karena saya adalah produk dari empat idola. Hahaha. Jadi, saya rasa mereka juga dipengaruhi ayah, ibunya, dan ibu yang mendampinginya. []

Kamis, 06 Februari 2014

Obrolan Habibie di Meja Makan



Bubur Manado

          Bubur manado dan empat jenis masakan ikan sudah tersaji di meja makan. Dengan malu-malu, saya dan Yudha duduk bersebelahan di hadapan Eyang Habibie.
“Ini tempatnya Eyang Ainun”, ujar Eyang Habibie menepuk kursi di sebelahnya. “Selalu kosong, jadi saya disini. Yang duduk disini paling banter cucu saya”.
     "Jarang-jarang kan Yang bisa kayak gini?” kata saya yang masih takjub dengan kesempatan semeja makan dengan B.J. Habibie.
“Oh enggak, enggak pernah”, timpal Eyang Habibie membuat kami merasa spesial.
“Berarti kita pertama ni Za?” Yudha menanggapi.
“Iya pertama, pertama”, Eyang Habibie meyakinkan lalu menyeruput cappucino decafe-nya.
“Yang datang sini, dulu makan dengan saya Jimly”, lanjutnya merujuk pada Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu.
Sekitar satu jam kami asyik berbincang di meja makan itu. Kami bicara banyak tentang berbagai hal. Semuanya tentu berawal dari apa yang tersaji di hadapan kami. Jumat, menu makan siangnya bubur manado. Entah menu jenis apa lagi yang tersaji di hari lain. Tapi yang pasti, ada ikan tiap hari. Eyang Habibie mengaku sangat jarang makan daging merah. Hanya sekali-kali katanya.
“Tapi saya seneng loh. Rupanya enak juga ya? Hehehehe. Tambah ininya nanti ga enak. Ini kalau habis paling baik. Dan ini tidak jadi gemuk. Seratnya banyak.” Eyang Habibie menyarankan saya menambahkan lagi bubur ke piring.

Kolam Renang
 
“Meja ini sejak lama Eyang?” Saya cari topik lain.
“Oooh udah lama. Bawa dari eropa. Itu meja ini dulu kan saya punya rumah dinas di Hamburg, rumah pribadi di luar. Seperti rumah dinas di Kuningan, rumah pribadi di Cibubur, atau Cikeas. Saya punya rumah dinas di Kuningan-nya Hamburg. Nah ini dulu di rumah dinas, tapi dulu rumahnya kosong, jadi beli sendiri. Sedangkan rumah saya sendiri, rumah dinas ga ada swimming pool.”
“Tetep nomor satu swimming pool ya. Hahahaha.” Yudha menimpali diiringi tawa kami.
Kolam renang di rumah, bagi Eyang Habibie mungkin sama pentingnya seperti kamar mandi. Setiap pagi, ia menghabiskan waktu rata-rata satu jam untuk berenang. Saya dan Yudha dalam kesempatan lain pernah diajak melihat kolam renangnya.
“Coba pegang!” suruh Eyang Habibie agar saya menyentuh air di kolam. Airnya hangat. Kolam renang di rumah Habibie juga dilengkapi speaker di bagian dalam airnya.
“Enrique Iglesias!” saya lempar sebuah nama. Eyang Habibie terperangah lalu pecah tawanya. Tiap kali berenang, ia memang selalu mendengar lagu-lagu penyanyi asal Spanyol itu.


 Calon Presiden

Selain hal-hal seputar kehidupannya, obrolan kami di meja makan juga tak lepas dari topik politik. Keesokan hari setelah makan siang itu, Eyang Habibie akan memberi ceramah untuk kader Golkar. Eyang Habibie mengkritisi sistem politik masa kini yang tidak menguntungkan. Menurutnya sistem money politics kebangetan. Seorang politisi perlu bermodal beberapa milyar untuk mendapat sebuah posisi.
“Dari mana duitnya?” pungkas Eyang Habibie.
“Tapi yang saya enggak ngerti, kok kenapa raja dangdut dimasukkan. Ya toh? Terus ada yang mengatakan, yang bisa tandingi raja dangdut hanya itu, si itu. Tukil apa itu? Tukul. Hahahahaha. Kan bukan begitu, karena itu saya bilang, untuk presiden jangan kita pilih dari kalangan selebriti. Kita pilih orang yang problem solver.”
         “Kalau dari sekian orang yang sudah mendaklarasikan, kira-kira siapa yang memikat?” tanya Yudha.
            “Saya lebih mau yang muda-muda.” Timpal Eyang Habibie.
            “Dan yang dari kalangan akademisi? Eyang suka?” saya lanjut bertanya.
            “Enggak. Saya enggak peduli apa dia S1, S2, S3 atau es lilin.” ujarnya beriring tawa.
        
 Kisah Kereta

Suapan terakhir di makan siang itu tandas. Seorang asisten Eyang Habibie mengantarkan segelas air dan piring kecil berisi obat.
“Saya tiap hari tadinya 22 obat. Terus direduce, dikurangi jadi 16. Sekarang makan 16, siang dan malam. Ini vitamin C, yang ini E. Yang obat hanya ini,” ia pisahkan sebutir pil kecil, obat untuk jantungnya.
            “Tapi saya cerita sesuatu ya.” Eyang Habibie memulai sejudul topik baru.
“Dulu, masih ada wartawan-wartawan. Saya kan pernah mendapat pena mas dari PWI. Terus saya tanya. Eh, kalian masih ingat ga itu, mengenai kereta api di taman mini? Yang diatas, digerakkannya dengan angin kan?”
“Tahu Pak kami tidak boleh perlihatkan.” Eyang Habibie menirukan wartawan yang dulu diajaknya berbincang.
“Jadi dulu, ada satu tim dari Eropa dari Brazil, dibawa supaya dimasukkan proyek kereta api underground. Terus Pak Harto bilang ya kalau Habibie setuju silahkan. Saya tidak setuju. Karena teknologinya menurut saya kalah. Bisa terjadi, kalau kapal terbang kalau landing begini bisa sreeeet gitu. Stop gitu kan.” Tangan Eyang Habibie memperagakan diatas meja
“Ini juga dia main angin. Kalau pada kecepatan tertentu dia bisa bocor. Debat debat debat, saya tanya sama orang ini. Kamu di Brazil beli ini dari Jerman? Iya. Kamu sudah pake ga? Belum. Kenapa tidak dipake? Tapi bapak kan suka hi tech. yaaa, tapi harus proven. Kamu punya tempat percobaan? kalau menurut analisa saya, pada cekungan tertentu dan alphanya begini itu akan terjadi reverse. Dan itu seakan-akan nabrak dengan satu dinding.“
“Dia bingung kan. Yasudah kamu punya kereta punya? Bagaimana pemecahannya? Garis lurus. Kamu gila saya bilang. Tidak ada garis lurus. Udah akhirnya saya dipanggil Pak Harto, saya jelaskan. Jadi kalau dia buktikan bahwa itu bisa melalui sebuah tes, kamu mau? Ya, kalau dia memenuhi syarat dan harganya oke, no problem.”
“Terus mereka buat suatu tempat tes di taman mini. Yang buat ininya kakaknya ainun. Itu kan guru besar kan. Profesor dekan di ITB. Dia ahli dari bagian sipil, Mas Harry, Mas Harry Besari. Terus saya ditanya sama dia. Rudy Katanya kamu against ya? Saya against. Tapi bagaimana Mas, saya kan pernah bikin kereta api juga. Itu ga bener itu. Tapi kamu ga marah? Silahkan kamu buat. Kamu kan cari duit. Halal kan. Dia buat.” Tuturnya sambil menirukan ucapan sang kakak ipar.
“Terus dapat undangan. Satu tahun kemudian selesai dan diundang, hari Sabtu, semua kabinet. Tempat saya dan Ibu Ainun kosong. Saya ga mau dateng. Karena saya yakin akan terjadi sesuatu. Itu kereta api. Pada kecepatan tertentu jadi apa yang saya prediksi. Duaaarrrrr, sampe kondenya Ibu Tin lepas. Iya. Dan itu menteri perhubungan itu Azwar Anas itu kaget. Giiila.” Paparan Habibie sampai di klimaks.
“Jadi sebelumnya mereka kan bukan ahli-ahlinya. Kan sebagian besar orang tahu Pak Habibie itu ahli konstruksi pesawat terbang. Tapi saya pernah buat kapal selam, saya pokoknya semua yang kaitannya dengan konstruksi. Waktu ketemu di Manado, wartawan bilang Pak kami hadir. Hahaha.” Kami kemudian menghela nafas. Hahaha. Seru sekali cerita beliau.

Habibie & Ainun
 
         Sepotong melon tersaji di hadapan kami. Topik pembicaraan lain datang, membuat kami enggan segera beranjak.
“Minimal sehari baca buku atau gimana Eyang?” tanya Yudha.
“Saya hanya baca buku yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang saya laksanakan. Orang kan hanya 24 jam. Saya tidak akan baca buku yang tidak ada kaitannya dengan saya punya yang sedang saya nulis, sebuah research. Karena dalam pendidikannya gitu. Kan kalau Anda buat research, kan sebelumnya baca dulu”, pungkas Eyang Habibie.

Bicara soal buku, Eyang Habibie membocorkan kisah terbitnya buku Habibie dan Ainun. Awalnya Eyang Habibie mengirimkan tulisannya kepada seorang sahabat, Wardiman Joyonegoro. Menteri pendidikan era akhir orde baru itu mengomentari bahwa buku yang dibuat Eyang Habibie belum bagus. Eyang Habibie menjelaskannya dalam tawa. Setelah melalui sejumlah revisi, dicetaklah buku itu. Kini Habibie dan Ainun juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Jepang, dan Cina.
Eyang Habibie pernah bertanya kepada seorang pembaca bukunya dari Cina. Kenapa suka buku Habibie dan Ainun? Katanya karena kisah Habibie Ainun seperti versi nyata dari kisah Laila-Majnun, atau Romeo and Juliet, tapi tentu dengan ending yang tak serupa.
“A true story of a young couple; Starting from nothing to get everything done. Becoming the President and the First Lady of a country. Not even death could separate them, because of the power of love”, Eyang Habibie membunyikan sebuah ulasan tentang Habibie dan Ainun dalam Bahasa Inggris.
“Well, kalian harus berkarya lagi”, ucapnya di penghujung pertemuan. Sore itu sudah ada tamu lain yang antri ingin bertemu Eyang Habibie. Di usianya yang ke-77, Eyang Habibie tidak memilih berleha-leha. Jadwalnya selalu padat, dan saya sangat beruntung bisa menyusup diantara jadwal itu. []

Rabu, 05 Februari 2014

Cerita Dari Ruang Kerja Habibie

        Target utama hari itu sebenarnya mengumpulkan materi pendukung berupa foto dan video untuk tayangan Mata Najwa yang akan menghadirkan B.J. Habibie—selanjutnya kita panggil Eyang Habibie. Setelah mengikuti beliau ke makam Eyang Ainun, saya bermaksud mengambil mikrofon clip on di baju Eyang dan mohon izin untuk minta file-file dokumentasi. Namun rupanya waktu Eyang Habibie senggang. Saya dan Yudha diajak masuk ke ruang kerjanya. Ruang yang baru kali itu dimasuki wartawan.


Gambaran ruang kerja seorang jenius tak jauh berbeda dengan suasana yang tergambar di angan saya. Buku dimana-mana. Dan karena orang jenius yang saya maksud adalah Habibie, maka replika pesawat juga menghiasi meja kerja. Juga tentu saja foto-foto keluarga Habibie dan Ainun. Tepat di seberang ruang kerja itu, sebuah pintu tertutup. Disanalah ruang kerja Eyang Ainun. Seringkali sang istri mengingatkan Eyang Habibie untuk tidur ketika malam sudah terlalu larut. Tak jarang pula Eyang Ainun menemani suaminya bekerja dengan mengaji, ketika ajakan untuk istirahat ditolak.

“Saya terima imil, dan saya nangis bacanya”, ujar Eyang Habibie merujuk sebuah tulisan di internet tentangnya. Setelah diminta sang tuan, seorang asisten Habibie kemudian memberi kami beberapa lembar tulisan berjudul “Tamparan Habibie untukBangsa Indonesia”.


 Kami kemudian berbincang tentang berbagai hal. Ketika melayat makam Eyang Ainun, sebuah puisi selalu dibacakan. Eyang Habibie ceritakan bahwa puisi itu berjudul “Seribu”, dibuat ketika seribu hari istri tercintanya berpulang. Sebenarnya puisi itu tercantum sebagai bonus dalam buku Habibie & Ainun edisi khusus yang dicetak Februari 2013. Ketika ditanya apa sudah memiliki bukunya, saya dan Yudha kompak jujur bilang belum punya. Dua Habibie & Ainun edisi khusus pun jadi hadiah kejutan buat kami berdua, plus tanda tangan langsung penulisnya.


Hingga kini Eyang Habibie produktif menulis. Seperti yang juga tertulis di buku Habibie & Ainun, menulis adalah terapi buat Habibie. Setelah kepergian Eyang Ainun, Sang Mr. Crack benar-benar retak. Maka menulis dan curhat adalah solusinya terbebas dari rasa kehilangan. Tulisan yang sedang digarapnya masih tentang Ainun. Kali ini ia berusaha menguak misteri tentang keterkaitan antara dirinya dan sang istri, meski sang pujaan hati telah tiada.

“Saya dan Ainun itu manunggal”, kenang Eyang Habibie. Ia juga mengaku bisa bertelepati dengan Ainun. Pada suatu ketika, mereka pernah bertelekomunikasi tanpa teknologi. Dalam buku terbarunya nanti, Eyang Habibie akan membahas sebuah entitas bernama super inteligent software. Ia menganalogikan tubuh manusia sebagai komputer. Badan hardware, ruh yang jadi software. Kematian bermakna tak ter-install-nya lagi software dalam sebuah hardware. Software yang dimaksud Eyang Habibie digambarkan sebagai sesuatu yang bisa terbuka dan tertutup.

“Yang membuat super software inteligent tadi terbuka adalah doa”, ujarnya sambil melepas-tempelkan jari dan jempol tangan kanan. Eyang Habibie mengaku terhubung dengan super inteligent software Eyang Ainun. Ketika ia merasa sepi dan rindu istri, Eyang Habibie pejamkan mata. Kemudian yang terbayang adalah senyum di wajah Eyang Ainun dan sederet kalimat bahwa ia tak boleh sedih karena istrinya selalu mendampingi meski telah berlainan alam. Eyang Habibie menyunggingkan senyum setelah menceritakan pengalaman tadi. Ia kemudian membacakan halaman pertama dari 2000 halaman yang telah ia tulis.


Saya sebenarnya khawatir jika berlama-lama mengobrol disana. Takutnya Eyang Habibie malah menunda makan siang dan sakit sehingga urung hadir di Studio Mata Najwa. Ketika kami pamit, Eyang Habibie malah mengajak makan siang bersama. Saya dan Yudha saling pandang, kira-kira maknanya “mimpi apa kita semalam, sampe bisa diajak makan sama mantan presiden begini”.

Senin, 03 Februari 2014

Sebuah Jumat Untuk Ainun


Jumat itu saya dan Yudha akan turut serta ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sesuai dengan yang dijanjikan, kami harus tiba di rumah sebelum jam sembilan pagi. Sayangnya kemacetan membuat kami telat tiba di Patra Kuningan. Beruntung saat tiba disana, Eyang Habibiedemikian ia nyaman disapamasih melakukan kegiatan rutinnya, berenang. Selang setengah jam kemudian, orang yang kami tunggu kemudian keluar rumah. Mengenakan pakaian serba putih, Eyang Habibie menyempatkan diri menyapa kami sebelum ia masuk mobil sedan yang siaga menunggu dengan pintu terbuka.
“Tadi sama biskuit sama susu”, jawabnya ketika saya bertanya tentang menu sarapan. Eyang lalu bercerita tentang 35 menit yang ia lalui pagi itu untuk berenang.
“Biasanya satu jam. Kemarin satu jam 20 menit”, katanya sebelum bergegas menuju makam kekasih tercintanya.
***
Padatnya lalu lintas Jumat menjelang siang itu pecah oleh barisan voorijder. Dua puluhan menit kemudian, rombongan kami pun tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Cekatan, semua berhambur keluar dari mobil, termasuk Eyang Habibie. Dengan langkah cepat, ia bergegas melangkah ke arah gerbang. Tepat di gapura taman makam, Eyang Habibie menghentikan langkah. Tangan kanannya lalu menempel di dahi memberikan penghormatan.
“Harus dong, mereka disana kan pahlawan semua”, katanya ketika saya tanya di kesempatan lain. Ajudan Eyang Habibie menambahkan, bahwa kebiasaan itu tak pernah alpa ia lakukan. Bahkan suatu ketika saat ia lupa menyampaikan salam pahlawan tadi, presiden ketiga Indonesia itu rela balik kanan dan menghormat di lokasi tempat ia biasa melakukannya.
Derap langkah kami akhirnya terhenti di depan pusara Hasri Ainun Habibie. Sejumlah kursi kecil telah disiapkan disana. Eyang Habibie memimpin dan mendaraskan doa. Hujan pun berderai. Dengan berpayung, para pelayat tetap khusyuk dengan doanya. Eyang Habibie kemudian mengeluarkan selembar kertas. Ia bacakan tulisan di kertas itu. Isinya puisi doa tentang Eyang Ainun. Puisi itu ia buat di hari ke-1000 meninggalnya sang belahan hati. Langit lalu berhenti mengguyur makam. Hujan berganti turun dari mata Eyang Habibie. Sambil sesenggukan, ia terus membacakan puisi spesialnya yang berjudul Seribu.

“Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami
Perekat kami Menyatu, Manunggal Jiwa, Roh, Batin dan Nurani kami
Di mana pun, dalam keadaan apa pun kami tetap tak terpisahkan lagi
Seribu Hari, Seribu Tahun, Seribu juta Tahun ………. Sampai Akhirat!”

Empat bait terakhir usai dibacakan. Payung dilipat. Tak ada lagi kata. Langkah pulang kemudian menyusul. Setelah menghormat lagi di hadapan gapura, barulah senyum Eyang Habibie tersungging lagi. Penyebabnya, rombongan guru dan siswa SD yang minta berfoto bersama. “Biasanya gak begini”, kata seorang ajudan menggambarkan langkanya momen itu.
Pada sebuah Jumat itu, senyap lalu kembali menyelimuti Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pusara di blok M nomor 121 baru akan dikunjungi lagi Eyang Habibie sepekan kemudian.