Tampilkan postingan dengan label leipzig. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leipzig. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

Dari Leipzig ke Berlin


Sehari jelang pulang lagi ke Indonesia, saya dan Mas Ilham wartawan Kompas, menyempatkan diri berkunjung ke Berlin. Sore itu kami berangkat sekitar jam 3. Wawancara Antje dan keluarga Fickert didapat ketika kami dalam perjalanan ke Berlin itu. 

Persinggahan pertama kami menuju Berlin, adalah Leipzig Hauptbahnhof, stasiun pusat. Di dalam pesawat, ketika perjalanan menuju Jerman, saya sempat nonton video dokumenter tentang kota Leipzig. Stasiun Pusat Promenaden ini dibahas sebagai stasiun yang usianya ratusan tahun dan tetap lestari. Selain stasiun ini, yang menurut liputan itu wajib dikunjungi di Leipzig, adalah makam, gereja, dan patung Johann Sebastian Bach. Sayang, saya gak sempat ke sana. Coba tiga jam ketersesatan hari jumat itu saya pakai buat ke sana aja, pasti angle liputan saya makin kaya. Yah mungkin lain kali, semoga. Hehe
saya dan Mas Ilham menumpangi kereta yang langsung melaju dari Leipzig ke Berlin. Lama perjalanannya satu jam. Nyaman sekali keretanya. Pemandangan di luar jendela bagus banget. Begitu nyampe di Berlin rasanya terlalu cepat masih pengen naik kereta itu soalnya enak. Hahahaha. Ketika foto ini diambil, seorang ibu di kursi seberang ngeliatin. Saya senyum ramah, dia lempar senyum yang dikombinasikan dengan gelengan kepala. Hehe. Ibu itu mengisi Sudoku selama perjalanan. Saya sempat ambil videonya. Lalu seseorang berdandanan punk di depan si ibu kasih tanda ke saya dengan menggariskan lehernya pakai telunjuk. Katanya itu melanggar privasi. Jangan. Saya langsung bungkus lagi si kamera. Untung si ibunya gak tau. Hehe.
padahal segala hal spesifik yang berkaitan dengan Bach ada di depan sana, di sebelah kanan dari monument di kiri foto. Masuk jalan kecil di sana. Meskipun dekat, tetap saya gak bisa mampir karena waktunya terbatas.
akhirnya kami tiba di stasiun Berlin. Ada pameran foto juga di sana, kami sempat lihat-lihat dulu.

begitu keluar dari stasiun besar itu, gerombolan anak punk menyebar acak. Botol minuman beralkohol tergeletak gitu aja. Di satu sudut pintu masuk stasiun, seorang wanita bertindik di mana-mana, joget diiringi music yang sepertinya lagu Atari Teenage Riot. Di bagian lain tiga orang berdandanan serupa, ngobrol dengan loud speaker portable yang kencang putar music digital hardcore yang sama. Selamat datang di Berlin. Eh coba deh lihat di bagian pundak kanan saya. Kelihatan kan kubah sebuah gedung. Nah itulah tujuan pertama saya: gedung parlemen Jerman.
di perjalanan menuju gedung parlemen, saya melewati jembatan dan sungai Spree. Indah sekali pantulan cahaya di sungai itu. Dari sini juga terlihat menara Alexanderplatz. Menara itu juga sempat kami singgahi. Nggak ke dalem menaranya sih. Hehe.
itulah gedung parlemen Jerman. Kubahnya dibuat transparan, sebagai symbol keterbukaan. Gedung parlemen ini selain jadi kantor pemerintahan, juga tempat wisata. Malam minggu itu, sejumlah pengunjung mengantri masuk.
kami pun melanjutkan perjalanan ke patung yang menyembul dari taman di samping gedung parlemen. Rupanya itu benteng Brandenburg, monument warisan kekaisaran Prusia yang dibangun pada abad ke-18. Di tempat saya berdiri ini, dulunya ada tembok berlin, tembok yang memisahkan Jerman Timur yang berpaham komunis dan Jerman Barat yang liberal. Saya kemudian menuju bagian bawah monument itu. Ramai sekali, ada lomba balap karung. Iya, balap karung. Lalu ada banci yang dikerjain orang-orang mabuk atau mungkin orang yang terlalu ekspresif. Di sisi lain monument ada sebuah bus wisata. Tadinya kami mau naik bus itu tapi keburu pergi dia. Kami pun jalan entah ke mana. Eh saya kok dengar ada kata “dingin banget”. Saya samperin lah orang-orang yang berfoto itu. Sok-sokan saya tanya dalam bahasa Inggris, rupanya salah satu dari mereka orang Ciledug, sedaerah sama Mas Ilham. Hahaha. Mereka mahasiswa Swiss Germany University yang lagi magang. Saya dan Mas Ilham sih inginnya bisa ke sisa tembok berlin, atau museum yahudi. Tapi ternyata malam itu tutup dan lokasinya jauh. Mereka pun sarankan kami ke Alexanderplatz aja. Kami pun ke sana menggunakan bus. 
Alexanderplatz ini sebenarnya menara pemancar televisi atau semacamnya. Kami cuma berfoto gini aja di sini. Abis itu pulang. Haha. Soalnya bentar lagi jadwal keberangkatan kereta kami, jam 10 malam. 
Saya berfoto di depan stasiun. Ada tiang tempat nempel stiker toh. Saya baru sadar. Haha.
Tau gitu stiker windielf ditempel di sana aja
ini kereta yang berasal dari rusia. Di dalamnya ada ranjang bertingkat. Sepertinya seru kalau keliling Eropa pakai kereta. Selama menunggu jadwal keberangkatan kereta kami, ada seorang Turki yang bertanya, tapi dia gak bisa berbahasa inggris. Mas Ilham yang jago bahasa arab, ngajak dia ngobrol. Dia ceritakan ke si Turki bahwa kami dari Indonesia. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, dan dia baru tau. Haha. Kami terpisah karena berbeda gerbong. Jenis kereta pulang yang kami naiki beda sama yang pertama. Kali ini kami harus transit dulu di stasiun lain sebelum pindah ke kereta yang menuju Leipzig. Di kereta yang menuju tempat transit, kami tanya ke petugas, harus berhenti di stasiun apa. Kata si petugas, lihat aja jam kedatangannya. Pokoknya jam segitu, turunlah di stasiun itu. Saya dan Mas Ilham saling pandang. Gitu ya? Jadi patokannya waktu kalo di sini? Emang bakal on time? Hahaha. Ternyata emang bener. Meskipun begitu nyampe di stasiun transit, mepet banget waktunya. Kami harus jalan cepat biar gak telat masuk kereta berikutnya. Jam 12 kami sampai di Hauptbahnhof Promenaden dan langsung nyambung naik tram ke hotel. Tram di Leipzig beroperasi 24 jam loh. Jam 1 dini hari, kami pun tiba di hotel.
Perjalanan di Berlin, akan saya kemas dalam sebuah paket berita tentang bagaimana Jerman menjaga masa lalunya, sepahit apa pun itu. Di sebuah toko cendera mata, saya lihat ada bongkahan kecil puing tembok berlin yang dijual. Kartu pos pun banyak yang bergambar kisah getir itu. Sementara itu di sisi lain, Indonesia punya pengalaman serupa. Malah topik itu laris diminati publik Jerman. Peristiwa G30S selalu jadi hal yang menarik sekaligus kontroversial di Indonesia. Ahmad Tohari, penulis Ronggeng Dukuh Paruk—yang berkisah tentang kesengsaraan seorang penari di tengah gegar peristiwa 1965—menyarankan agar gedung CC PKI seharusnya dilestarikan, agar bangsa kita belajar. Monument kesaktian pancasila menurutnya kurang cukup. Tapi yang jauh lebih penting dari itu, menurut penulis yang sehari-hari tinggal di Purwokerto itu, pemerintah harus memberitahukan kejadian sebenarnya kepada generasi muda. Bukan untuk menyalahkan yang memang bersalah, tapi agar kejadian serupa tak terulang. []

Tersesat di Leipzig


Kala itu hari Jumat. Sejak pagi, sebenarnya sudah ada pemberitahuan di grup whatsapp delegasi Indonesia ke Leipzig Book Fair, untuk berkumpul jam 12 di booth Indonesien. Nantinya kami akan bersama-sama ke mesjid untuk solat Jumat. Saat itu saya sedang meliput keikutsertaan Indonesia di festival buku terbesar di Jerman, Leipzig Book Fair. Sebelum berangkat dari hotel, saya bertemu Laksmi Pamuntjak, salah seorang calon narasumber saya. Kami pun janjian untuk bertemu jam 2 siang. Namun ternyata saya lupa bahwa itu hari Jumat, sementara saya merasa tetap perlu menghadiri solat Jumat, yang di Jerman dilaksanakan jam 2 siang. Di sisi lain saya telanjur mengiyakan untuk mewawancarai Laksmi di jam yang sebelumnya dijanjikan. Sementara saya belum bulat memutuskan, teman-teman yang akan ikut rombongan solat Jumat kira, saya akan tetap mewawancarai Laksmi. Mereka pun berangkat. Saya lalu titip pesan ke Mas Andy agar disampaikan ke Mbak Laksmi bahwa saya harus Jumatan dulu. Saya berinisiatif untuk berangkat sendiri, dengan bekal informasi jalan tempat masjid itu berada, dan halte tempat turun dari tram.


Saya sedang menunggu jadwal keberangkatan tram. Papan iklan itu nampaknya
menampilkan sebuah album music. Di halte lain, papan iklan itu mengeluarkan
suara music dari si album yang dijual.

Sepanjang jalan, saya tak berhenti kagum dengan mural dan graffiti di Leipzig. 

Saya pun tiba di halte tujuan. Ada sebuah toilet di halte itu. Saya jadi ingat halte busway di Jakarta. Pasti akan lebih bagus kalau fasilitas ini juga ada. Tentu dengan perawatan dan penggunaan yang tepat. Soal yang terakhir itu saya ragu sama penghuni Jakarta. Hehe.

Papan penunjuk jalan Roscherstaβe yang saya cari tak langsung tampak dari halte. Saya pun mencari petunjuk. Ada sebuah peta. Tapi sayang, nama jalan Roscherstaβe gak ada di sana. Padahal petanya mudah dibaca. Ada keterangan huruf untuk jalan dip eta, dan di bawahnya daftar nama jalan juga berurutan alfabetis. Ya sudah, saya cari sendiri saja. Saya tanya ke dua orang wanita yang baru turun dari sepeda mereka. Baik dan ramah sekali mereka. Saya jadi bepikir bahwa kesan “ramah” yang dilekatkan ke budaya bangsa Indonesia, kurang tepat. Kurang spesifik maksud saya. Rasanya keramahan itu sesuatu yang memang seharusnya ada di setiap orang dan wajar. Bukan hal special, apalagi kalo jadi identitas jualan (dalam konteks pariwisata Indonesia). Satu wanita lainnya mengeluarkan peta yang ia bawa, bantu saya cari masjid yang dituju. Sayangnya dipeta itu cuma ada tanda gereja dan sinagog. Saya pun lanjut mencari secara buta.

saya pun bertanya ke seorang berciri asia. Ia tunjukkan sebuah jalan menuju masjid tempat jumatan. Sepanjang jalan pencarian itu, graffiti semacam inilah yang saya nikmati

bahkan ada juga goresan graffiti berhuruf hijaiyah

saya melewati sebuah toko ganja. Sepertinya ganja legal di sana. Asalkan dikonsumsi di tempat itu. Mungkin. Hehe.

ini suasana stasiun dan tram yang akan saya tumpangi
Akhir kisah, saya gagal solat jumat. Haha. Jam 2 udah lewat, masjid belum juga ketemu. Yasudah saya balik lagi ke Messe, arena pameran. Jam 3 saya langsung menuju tempat wawancara. Sayang, narasumber saya sudah berpindah tempat entah di mana. Esoknya barulah saya tahu bahwa hari itu Laksmi Pamuntjak mengaku mau pingsan saking padatnya jadwal wawancara. Haha. Ia memang disebut-sebut bakal jadi bintang di gelaran itu, dan juga di Frankfurt Book Fair Oktober mendatang. Demikian kata Christine Heinrich, perwakilan pihak penerbit Ullstein Verlag yang akan menerbitkan novel Laksmi dalam bahasa Jerman. [] 

Festival Buku + Membaca = Leipzig

Tugas liputan saya ke Jerman dilakukan sendiri. Biasanya untuk pengambilan gambar, ada camera person tersendiri. Tapi bagaimana pun itu tetap pengalaman menyenangkan 
Enam hari di pertengahan Maret itu saya bertugas liputan ke kota Leipzig Jerman. Sebelum tiba di kota tujuan, saya transit di bandara kota Frankfurt. Seraya menunggu jadwal penerbangan berikutnya, saya cicil beberapa stock shot. Di ruang tunggu itu ada seorang wanita sedang membaca buku tebal. Suasana itu kontras dengan yang dilakukan calon penumpang lain: ada yang main handphone, duduk-duduk aja, ngobrol, dll. Tak yakin dengan etika pengambilan di negeri panser itu, saya iseng nanya ke petugas di meja resepsionis: bolehkah saya mengambil gambar orang membaca di ruangan ini? Dia jawab, boleh ambil suasana ruang tunggu, tapi jangan orangnya. Hehe. 

Saya jadi ingat cerita seorang kawan ketika liputan di Papua. Orang Papua pegunungan yang ia liput, minta bayaran tiap kali dirinya direkam. Biar gak kena tagihan, dia berkilah bahwa yang ia rekam dengan videonya adalah gunung dan pemandangan di sekitar si orang Papua itu, padahal tentu saja bukan hanya itu. Apa hubungannya sama orang Jerman? Saya jadi kepikir kalau orang yang lagi baca itu marah karena saya rekam, saya tinggal bilang kalau bukan dia kok yang diambil gambarnya. Muehehehe. Tapi saya telat. Begitu kamera keluar dari tas, panggilan naik pesawat sudah datang. Jadilah saya harus cari momen orang membaca lain. Kenapa harus orang membaca? Karena tugas liputan saya ke Leipzig berkaitan dengan itu: Indonesia, buku, kebiasaan baca, festival, dan hal lain di sekitar ketiganya.


Saya, Seno (RCTI) dan Mbak Lian (PIH Kemendikbud) mewawancarai Pak Ahmad Tohari setelah ia mengisi acara diskusi tentang buku Ronggeng Dukuh Paruk
Setiap tahun pada bulan Maret, di kota Leipzig dihelat festival buku yang dihadiri puluhan negara. Indonesia salah satu di dalamnya. Keikutsertaan Indonesia adalah rangkaian dari promosi dunia kepenulisan Indonesia yang sedang naik daun. Pada bulan Oktober mendatang, Indonesia akan hadir di Frankfurt Book Fair, festival buku terbesar di dunia. Kehadiran Indonesia bukan keikutsertaan biasa. Negara kita akan berstatus tamu kehormatan. Dengan predikat itu, Indonesia akan menempati sebuah gerai luas sehingga promosi literasi (dan identitas keindonesiaan lain) akan sangat masif dipaparkan ke hadapan masyarakat penyuka buku dari berbagai Negara. Oke, sekarang kita balik lagi ke Leipzig, kota tempat digelarnya Leipzig Buchmesse atau Leipzig Book Fair. Festival buku di Leipzig, disebut-sebut sebagai yang terbesar di Jerman, sementara Frankfurt Book Fair terbesar di dunia. Kehadiran saya di kota kelahiran komposer masyhur Johann Sebastian Bach ini, adalah untuk meliput Leipzig Book Fair. Dalam tugas peliputan itu, saya mendapat kesan tentang kuatnya kebiasaan baca orang Jerman. Berikut ini buktinya.


Sore itu saya menumpangi tram menuju stasiun pusat kota Leipzig. Seorang remaja wanita kemudian masuk di sebuah stasiun. Rambut kuningnya terlihat serasi dengan jaket ungu yang ia kenakan. Ia kemudian duduk di sebuah sudut tram, lalu pandangannya merunduk. Sebuah buku jadi pusat perhatiannya selama melaju membelah kota. Dari jauh, saya melihat sampul buku itu berwajah seseorang: Frankenstein. Kali lain saya hendak menuju stasiun pusat menggunakan kereta. Di kursi tempat calon penumpang menunggu, pemandangan serupa terlihat. Seorang wanita tekun membaca seakan dunia adalah ia dan bukunya. Maka kesimpulan saya hampir bulat, bahwa membaca adalah kata sifat yang melekat di orang jerman.


***


Aula depan Leipzigger Messe lebih terang dibanding balai lainnya. Saya kagum sekali dengan kemegahan produk arsitektur itu. Ketika menuruni tangga, perhatian saya dicuri seorang remaja wanita yang berkumpul bersama teman-temannya. Ia berbeda. Sementara yang lain asik bercengkerama, yang satu ini merunduk menghadap buku tebalnya. Dalam kamera posisi merekam, saya berbincang dengan dia. Antje Wiedersich namanya.

What are you reading?
I'm reading city of heavenly fire.
What is it about?
It is the end of the book series. It's called xxxxx (ngomong Bahasa Jerman gak ngerti. Haha). And they are shadow hunters, hunt demons to make the world safety.
It's a thick book
Yes. It is.
How many pages?
It is 892. Wow
How long you finish this book?
Three days
Eight hundred pages for three days. So, it's about two books in a weeks?
Sometimes, if I have time yes
What's your favourite book?
Monetary. Yes. And I also read Sherlock Holmes
You read a lot.
Yea
What the world would like if there is no book?
It wouldn't be a good world.


***


Langkah saya kemudian tiba di bagian depan gedung. Seorang anak terlihat berdiri menunggu seseorang. Sebuah buku berwarna pink tampak erat ia genggam. Orang yang ditunggunya kemudian datang. Rupanya anak itu datang bersama keluarga besarnya: ayah, ibu, kakak, kakek dan nenek. Mereka sengaja datang ke Leipzig Book Fair dari Bavaria, kota di selatan Jerman. Tanpa banyak babibu, saya langsung todongkan kamera dan rekam sebuah pembicaraan dengan ayah si anak.

Does your kids love reading?
Yes of course, she's not in school yet but she loves reading already. And he is in first class. He loves reading too. He write some stories too. 
Do you insist them to read or they like it by themselves?
Nonono, by themselves
What's the book are you reading? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
It's called mia and me
How old are you? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
Six
What's the book you love the most? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
The stories about little horses
What about you? (saya nanya ke anak laki-laki)
Star wars
Wooo give me hi five
*tosss
See youuu
See youuu


Kami akhirnya terpisah. Tapi itu sementara. Karena secara tak sengaja, kami jumpa lagi di tram. Di sanalah terjadi perbincangan lebih panjang. Dari sana tahulah saya bahwa nama bapak yang diwawancara tadi adalah Sebastian Fickert. Ia bercerita bahwa pernah menempuh sejumlah perjalanan internasional, belum termasuk Indonesia. Kecintaannya pada Jepang, negara yang pernah ia kunjungi, diekspresikan dengan memberikan nama Naomi untuk si bungsu yang sedari tadi tak melepas buku berwarna merah mudanya. 


Jan, kakak Naomi, adalah anak yang tampak selalu ingin tahu. Tiap kali saya berbicara dengan ayahnya dalam bahasa inggris, ia selalu minta diterjemahkan. Ditanya soal sepak bola, Jan mengaku menggandrungi Bayern Muenchen. Pemain favoritnya, Mueller. Saya kemudian singgung gol Mueller sewaktu piala dunia 2014 lalu, ketika ia membawa timnya menjadi juara dunia. Jan girang membicarakan idolanya, sementara sang ayah tampak heran. Ia lalu bertanya, bagaimana kita biasa berkomunikasi setiap hari? Saya jelaskan bahwa orang Indonesia berbahasa Indonesia, bahasa khas negara kita sendiri. Dia kemudian bertanya lagi, kok saya bisa berbahasa inggris? Saya jawab singkat, karena saya wartawan. 


“Dan ini adalah palu saya.” Canda saya memperlihatkan kamera sambil melirik Jan.

Anak itu bercita-cita jadi hakim. Saya juga beri Jan kesempatan untuk ambil foto saya dengan kamera itu. Bahkan kami sempat berfoto selfie. Tapi sayang, SD Card yang menyimpan foto itu kadung saya kembalikan ke kantor, dan sudah hilang datanya. 


Saya penasaran dengan buku-buku Fickert. Ia kemudian memberi tahu saya dimana bukunya bisa didapat selama Leipzig Book Fair berlangsung. Ia pun memperlihatkan sebuah buku dari tas yang ia jinjing. Judulnya Ararat. Sebastian mengaku menyesal hanya membawa satu buku yang ia pakai untuk disunting ulang. Istri Fickert kemudian berbicara sesuatu dalam bahasa jerman. Saya gak ngerti. Tapi kemudian saya “dipaksa” untuk menerima buku satu-satunya yang ia punya. Saya nyatakan bahwa saya merasa terhormat menerimanya. Setelah membubuhkan tanda tangan, buku bercoret koreksi di sembarang halaman dan berpenanda di halaman tertentu itu jadi milik saya. Tram yang kami tumpangi kemudian tiba di hauptbahnhof, stasiun pusat kota. Kami pun turun bersamaan. Mereka pulang ke rumah di Bavaria, saya ke Berlin. []

Suasana tangga ikonik simbol Leipzig Book Fair


Buku tentang Habibie terpampang di sebuah gerai penerbit buku Jerman.
Seno membantu saya mengambil gambar untuk kisah tentang transportasi Leipzig yang teratur. Saya sedang menunjuk papan penunjuk kedatangan tram yang akurat. Di sana tertulis waktu kedatangan tiap rute tram

Saya difotokan Mas Ilham (Kompas) di aula Leipzigger Messe

Perjalanan dan Perkenalan dengan Leipzig



Akhirnya, kesempatan itu tiba juga. Saya diberi tugas liputan ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung, langsung saya dikirim ke Jerman, liput Leipzig Book Fair yang juga diikuti tokoh-tokoh di bidang kepenulisan tanah air. Berikut ini hasil liputan saya di sana:
  1. metrotvnews.com: Topik Komunisme Indonesia Masih Disukai Penerbit di Jerman
  2. metrotvnews.com: Penulis Ronggeng Dukuh Paruk akan Berhenti Menulis?
  3. Metro Bisnis: Komik Garudayana Jadi Primadona di Leipzig Book Fair
  4. Belajar dari cara Bangsa Jerman merawat ingatan (belum tayang)
  5. 360: Ayo Baca!

Secara sekilas, saya akan ceritakan kisah di balik perjalanan dan pembuatan hasil liputan yang dilaksanakan selama enam hari tersebut (termasuk dua hari perjalanan). Selasa malam itu, saya menumpangi pesawat Lufthansa. Di ruang tunggu keberangkatan, saya dan rombongan wartawan kemudian berjumpa dengan Pak Ahmad Tohari dan Pak Sapardi Joko Damono. Kami berangkat bersama sementara anggota delegasi lain ada yang sudah ke Jerman duluan dan berangkat belakangan.



Buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin
mendapat tanda tangan penulisnya sendiri
“Wartawan sekarang muda-muda ya,” celetuk Pak Tohari. “Ini mungkin seusia cucu saya,” ujarnya mengira-ngira setelah saya memperkenalkan diri. Rupanya nantinya di Jerman, saya dan Pak Tohari berbagi ruang istirahat. Di Kuala Lumpur, ketika transit ke penerbangan berikutnya, saya kemudian sodorkan kumpulan cerpen Senyum Karyamin untuk ditandatangani penulisnya. Dua belas jam kemudian, tibalah kami di Jerman.

Berfoto di Bandara Kota Leipzig
Kala itu rabu siang, atau rabu pagi di Jakarta ketika saya tiba setelah tiba di Leipzig. Dari Kuala Lumpur tadi, sebenarnya kami singgah dulu di Frankfurt. Dari Frankfurt, kami naik pesawat lagi ke Leipzig sekitar satu jam. Saya gak yakin musim apa itu ketika saya tiba di Leipzig. Yang jelas, dingin dan kering, tapi menyegarkan. Sejuk. Suasana itu terasa ketika kami menjajal perjalanan ke pusat kota Leipzig dengan naik tram. Kami pun mulai mencicil pengambilan stok gambar.

Tanpa diduga, kami berpapasan dan berkenalan dengan seorang Indonesia yang sedang belajar di Jerman. Namanya Rina. Ia mengikuti sebuah program pertukaran pemuda. Selama di Jerman, Rina belajar tentang bahasa dan kehidupan di sana. Wanita bergelar sarjana itu tinggal bersama keluarga penyanyi di kotanya. Rina cerita banyak soal Jerman dan penghuninya. Dari soal anak kecil yang selalu mengingatkan untuk hemat energy, anak-anak yang selalu haus penjelasan, hingga kehidupan studi mahasiswa Indonesia di Leipzig. 

Rina mengajarkan kami cara menumpangi tram
Saya dan Seno (RCTI) ambil gambar suasana di sekitar stasiun pusat kota atau Hauptbahnhof

Rina juga mengajarkan kami cara naik tram. Haha. Jadi selama perjalanan ke Hauptbanhauf itu, kami mereka-reka caranya membeli tiket. Rupanya kami baru jalani separuh cara lengkap. Setelah membeli karcis, harusnya kami masukkan karcis itu ke sebuah kotak kecil untuk secara otomatis diberi stempel. Karcis itulah yang nantinya diperlihatkan ke petugas pemeriksaan. Kalau ketauan naik tanpa tiket atau salah tiket, denda puluhan euro menanti. Tapi jarang ada pemeriksaan. Petugas yang saya maksud bukan seperti bapak-bapak yang berdiri di pintu bis transjakarta. Mereka tak ada di tram yang kita tumpangi. Sesekali mereka akan masuk ke sebuah tram dan memeriksa secara acak karcis tram penumpang. Jadi, sebenarnya mau gratis pun bisa, asal kita beruntung naik pas gak ada petugas pemeriksa tiket. Hehe. Oiya, kalau kamu mahasiswa di Jerman, maka gratislah biaya transportasi ini. Enak yah. Kisah lengkap hari pertama saya di Leipzig, akan lebih tergambar dalam figur-figur di bawah ini.

Suasana pagi di bandara Frankfurt
Bandara Frankfurt ini semacam markasnya maskapai Lufthansa. Keliatannya sih begitu. Hehe
Pesawat jenis ini yang bawa kami dari Frankfurt ke Leipzig
Frankfurt dilihat dari jendela pesawat. Tiang-tiang kincir pembangkit listrik tak jarang terlihat. 

Menjelang pendaratan di Bandara Leipzig, gumpalan awan terlihat indah menghampar
Rupanya karena awan di ataslah, suasana di Leipzig menjadi teduh, cenderung bersuasana sendu. Hehe
Di sebuah lapangan sekitar stasiun tram Augustusplatz, kami berfoto. Saya mencoba pose jump shot
Jump Shot!
Menjelang matahari tenggelam, suasana kota terasa lebih ramai. Selain pertunjukan gelembung udara ini, di pinggirannya ada seorang pengamen memainkan akordeon
Dulu nama Leibniz saya dengar di pelajaran fisika sewaktu SMA.
Sekarang bisa mengunjungi patungnya dan sekolahnya dulu, universität leipzig.