Jumat, 24 April 2015
Tentang Passion, Gairah, Ketertarikan, atau Sesuatu yang Sejenis Dengannya
Hari ini saya bercukur di tempat yang baru. Baru dua kali saya potong rambut di sana. Saya puas dengan karya tukang cukurnya. Sebenarnya saya tak terlalu mengerti mode dan muka saya entah sebaiknya dipasangkan dengan potongan rambut seperti apa. Tapi yang jelas, berpangkas di tempat itu membuat saya percaya diri. Bukan hanya soal potongan rambutnya, tapi juga penjelasan tukang cukur yang meyakinkan. Si tukang cukur yang saya maksud mulutnya besar. Dia banyak bicara. Bicaranya hiperbolik, sekaligus sinikal. Bukan sekali-dua kali dia menjelek-jelekkan barber shop sebelah. Tapi memang penjelasannya meyakinkan. Saya akan kisahkan buat kamu sebuah potongan pembicaraan kami.
Suatu hari dia menangani seorang klien yang ingin potongan rambutnya bagus. Mereka bertaruh. Kalau potongannya bagus, si pelanggan harus bayar 10 kali lipat, kalau jelek gratis. Singkat kisah dibilang baguslah gaya si pelanggan itu. Lalu dia memaksa agar si akang pencukur menerima uang itu. Sok-sok menolak, akhirnya dia mengaku terima juga. “Padahal bercanda”, ujarnya berkilah.
Si Aa ini orang Cibatu. Semua orang tahu lah biasanya tukang cukur itu orang Garut. Haha. Saya tanya, kenapa ya kira-kira? Si Aa bilang gak ada rahasia khusus. Cuma memang dia tertarik aja di sana, dan merasa berbakat dan dilahirkan untuk profesi itu. Menurutnya, ia mengerjakan karya seni. Siapa nama dia? Saya lupa. Haha. Tempat cukurnya namanya apa? Saya gak mau sebut entar dikira ngiklan. Tapi dia bilang rambut saya bisa lurus setelah empat kali cukur. Ini baru dua kali. Hahaha.
Jadi pembicaraan kami nyambung karena permintaan saya saat pertama cukur pas dengan apa yang ia harapkan. Dia merasa dipercaya ketika saya bertanya. Saya tanya, kalau rambut keriting begini baiknya diapakan. Dia jawab diluruskan. Saya tanya dong, emang bisa? Nah kalau ternyata bisa baru saya sebut nama barber shop-nya. Haha.
Filosofi Kopi
Ketertarikan Si Aa tadi dengan profesinya, mengingatkan saya ke film Filosofi Kopi. Film itu berkisah tentang nyawa yang sama: passion, gairah, atau hal semacam itu. Alkisah Ben adalah seorang barista. Ia bersahabat dengan Jodi, pemilik cafĂ© tempat Ben meracik kopi. Mereka sedang butuh suntikan dana. Kemudian sebuah kesempatan datang. Mereka ditantang untuk membuat kopi terenak, lalu tercipatalah racikan kopi bernama Ben’s Perfecto. Ternyata si perfecto itu bukan yang terenak. Seorang food blogger bernama El mengabarkan bahwa masih ada kopi tiwus, yang lebih enak. Ternyata, jenis-jenis kopi tersebut berkaitan dengan masa lalu tokoh-tokoh di film itu.
Menarik sekali menyaksikan film ini. Jalinan kisahnya indah. Akting para pemainnya brilian. Tokoh Ben ini gila juga sih kalo memang ada. Haha. Dia adalah anak seorang petani kopi di Lampung. Lalu pasca kematian ibunya, ia tiba-tiba diharamkan berhubungan dengan kopi, seperti putri tidur yang dilarang memintal benang. Ben lalu kabur dari rumah dan tidak pulang selama 18 tahun. Bayangkan saudara, 18 tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu Ben hidup bersama keluarga Jodi. Saya sih berharap kisah Ben kecil yang akhirnya diasuh ayah Jodi bisa dibuat film pendeknya, untuk melengkapi potongan tanggung itu.
Yang juga mengesankan adalah , scoring musiknya. Aduhai indah sekali. Jika suatu hari nanti Glenn Fredly berkolaborasi lagi bersama Angga Sasongko, maka hasilnya berstatus wajib dinikmati. Kolaborasi keduanya bermula sejak film Beta Maluku yang juara FFI itu. Kalau kamu sudah nonton Beta Maluku, pasti tahu dong sama Salembe. Nah di film Filosofi Kopi, dia tampil secara cameo. Entah memang demikian yang terjadi di dunia nyata atau itu sindiran. Salembe yang anggota skuad timnas U19 itu, menggandeng seorang wanita cantik di warung kopi Filosofi Kopi. Cihuy.
Buku Rene Suhardono
Hari ini petualangan saya juga nyangkut di sebuah toko buku. Saya tertahan di sebuah judul buku karangan Rene Suhardono dan timnya. Ia menulis sesuatu tentang karir dan gairah terhadap sebuah topic. Judul bukunya #passion2performance. Isinya tentang survey terhadap perusahaan-perusahaan yang pimpinannya sempat mengalami dinamika ketertarikan terhadap topic yang mereka geluti hari ini. Menarik sih isinya. Intinya yang saya ingat, passion itu ibarat biji. Nah biji itu akan berbuah dalam wujud karya. Jadi marilah kita berkarya sesuai ketertarikan kita. Rene dan timnya menarik topic itu dalam konteks perusahaan. Jadi ada juga pembahasan tentang perusahaan-perusahaan yang kebijakannya bisa dicontoh agar performanya maksimal. Kamu tertarik dengan pembahasan detil tentang itu? Segeralah cari buku terbaru buatan Rene dan tim Impact Factory itu.
Selasa, 28 Oktober 2008
Bangkit!
Waktu itu gw ga pesimis2 amat, tapi sayang kalah, mungkin gara2 di formulirnya gw isi "belum pernah mengikuti aksi mahasiswa turun ke jalan", jadi mereka ragu sama kepedulian gw ma situasi bangsa. Padahal kagak, maksud gw ga pernah ikut demo adalah bahwa gw ga mau waktu yang gw miliki dipake kegiatan yang ga butuh2 banget kehadiran gw. Kuliah jelas lebih penting, coz gw udah bayar uang SPP, kalo gw ga pake dengan sebaik2nya, sayang tu duit kebuang sia2. Ini demi sebuah amanat yang lebih penting. Dan kuliah itu juga salah satu bentuk kepedulian gw sama kondisi bangsa, lu setuju kan? Oke, langsung aj, ni tulisan gw waktu itu:
KOLOM OPINI
Nama : Rheza Ardiansyah
NRP/Jurusan/Fakultas : I24070020/IKK/FEMA
Kelas : A28
Setelah seratus tahun berlalu, ternyata tak banyak yang berubah. Kebangkitan yang selama ini dilakukan ternyata belum mencapai titik maksimum. Masih banyak rakyat miskin yang tetap sengsara, harga BBM naik, dan
Yang salah adalah sikap bangsa kita yang enggan berbagi, bahkan dengan saudara sendiri. Saat korban lumpur lapindo menangisi kampung halamannya, keluarga orang terkaya di
Saat dunia sibuk memanfaatkan waktu, tak sedikit pula kita membuang-buang waktu dan menyerah atas godaan kata ‘malas’. Benjamin Franklin menyatakan bahwa malas adalah pangkal kemiskinan. Leonardo Da Vinci juga berpendapat bahwa malas adalah pangkal kebodohan. Dalam sebuah novelnya, Habiburrahman El-Shirazy menceritakan sebuah ironi yang menggelitik,
“Jika bangsa kita masih dikategorikan bangsa yang ketinggalan dari bangsa lain, menurutku ya karena mayoritas kita adalah pemalas. Lihatlah para pelajar yang malas-malasan. Pegawai negeri yang bermalas-malasan. Aku pernah menjenguk seorang kerabat yang sakit di sebuah rumah sakit di kota S. pelayanannya sangat buruk. Para perawat acuh tak acuh. Ketika para pasien mengerang kesakitan, para perawat itu malah asyik nonton televisi. Jika kita bandingkana dengan Jepang misalnya, sangat jauh. Di Jepang tidak ada kursi di ruang perawat, apalagi televisi. Dan perawat di sana malu kalau terlihat menganggur.
”Kau tahu apa yang terjadi akibat malasnya perawat itu? Pasien lebih lambat sembuh. Padahal tidak sedikit pasien yang sangat diperlukan tenaga dan pikirannya untuk memajukan negara. Misalnya kerabatku itu, dia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di sana, di kota S. Seharusnya mungkin dia hanya dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Gara-gara perawatnya yang malas dan acuh tak acuh, dia harus dirawat selama lima hari. Jadi ada dua hari yang hilang sia-sia.
”Hari adalah kumpulan waktu. Dan waktu adalah modal paling berharga yang dimiliki umat manusia. Dua hari yang sia-sia itu jika diproduktifkan akan sangat besar andilnya dalam memajukan bangsa. Kita jangan melihat waktu yang sia-sia hanya dari satu orang saja. Kita bayangkan jika yang mengalami nasib seperti kerabatku itu jumlahnya dua juta orang dari total penduduk Indonesia. Jadi dua kali dua juta. Berarti ada empat juta hari yang terbuang sia-sia karena malas.
”Coba renungkan, empat juta hari itu jika dimanfaatkan secara optimal akan menghasilkan apa? Jadi tak terbayang betapa ruginya kita karena malas. Ini baru yang kita lihat di rumah sakit. Belum di pasar, belum di jalan raya, belum di lembaga pendidikan, belum di instansi-instansi pemerintahan yang lain.
”Tapi rajin dan giat saja tidak cukup. Ada yang lebih penting sebelum rajin dan giat, yaitu alasan kenapa harus rajin dan giat. Ada giat yang lebih banyak menimbulkan letih saja, namun ada juga giat yang menghasilkan hasil luar biasa. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara sibuk dan produktif. Mereka yang hanya sibuk tapi tidak produktif, dalam bahasa Caroline Donnelly adalah ibarat kincir angin berwujud manusia. Bekerja keras tapi sedikit hasilnya”.
Tak ada kata terlambat untuk terus memperbaiki diri dan bangkit. Kontribusi terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah dengan mengubah dunia dari satu titik, merubah kebiasaan buruk bangsa mulai dengan merubah kebiasaan buruk diri sendiri. Jangan biarkan satu detikpun terbuang sia-sia. (rz)