Jumat, 19 September 2008

Cyber Merpati, 20 Ramadhan 1429 H

Tepat 2 bulan yang lalu, 20 Juli 2008 gw pamit caw lagi ke Institut Punk Bogor, padahal kuliah belum mulai, yah itulah hidup, pejuangan harus disertai pengorbanan. (backsuondnya lagu Oh Ibu dan Ayah selamat pagi, kupergi sekolah.............)


Tepat 20 hari yang lalu, untuk yang kedua kalinya gw melewati ramadhan pertama di luar rumah, taun lalu di asrama TPB IPB, taun ini di kontrakan gothic. (Backsoundnya lagu Scope-Lonely [nostalgia ramadhan di Intan Kos])




Insya Allah malam ini gw pulang ke Limbangan Rock City The City Of Angels Where Everything Is Possible bareng temen-temen sedaerah. (backsoundnya lagu Netral-Pulang)


Ada beberapa pelajaran berharga yang gw petik selama menjalani shaum di Bogor tahun ini, diantaranya:

1. Bateng, 1 Ramadhan 1429 H, 18.17 WIB
Magribh itu gw lagi jalan tanpa payung, diiringi hujan yang ga gede-gede amat. Dari sebrang jalan, gw liat Dina, lagi jalan ma temennya, mungkin lagi cari makan buat buka. Ga tega liat gw hujan-hujanan, dia nawarin gw pake payung yang dia pake, katanya biar dia bareng aja ma temennya. Awalnya gw nolak, gw juga ga tega, masa dia mengorbankan diri basah-basahan begitu aja. Tapi gw takut dia tersinggung. Waktu TPB, temen sekamar gw curhat, katanya kalo dia nawarin gw sesuatu, baiknya gw terima, soalnya dia dididik sama budaya yang ngajarin tersinggung kalo penawaran ditolak. Belajar dari pengalaman itu, akhirnya gw terima uluran tangan Dina yang ngasih payung. Gw sangat terharu liat sikap Dina, betapa gentle-nya sikap dara asal Pekalongan itu, tak tega melihat sahabatnya hujan-hujanan, apalagi sampe sakit. Semoga amal ibadah Dina diterima Allah, dan dosanya diampuni, dan dia nanti mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.


2. RM Pondok Bambu, 17 Ramadhan 1429 H, 03.20 WIB
Kali ini gw tersentuh sama ceramah yang mengiringi santap sahur gw di Pondok Bambu. Kayaknya sih, dari timbre vokalnya, yang ngasih ceramah lewat radio tu Ust. Yusuf Mansyur. Intinya tu ceramah kurang lebih kayak gini: "Harusnya saat ada seruan shalat kita langsung beranjak menghadap Yang Maha Kuasa, tapi kita sering dilalaikan kesibukan. Allah selain ngasih 5 waktu buat solat wajib, juga nyediain waktu dhuha, sepertiga malam, dll buat kita nambah amalan solat. Jangan sampe Allah memberi kita peringatan kayak gini: jam 10 malem masih mimpin rapat, balik ke rumah jam 11, keluarga udah pada tidur, berangkat lagi ke kantor jam 5 pagi, akhirnya harus tinggal di rumah dinas, keluarga jadi seakan ga ada guna, kita jadi robot."
Hmm, intinya gw jadi nyadar bahwa sesibuk apapun, menyempatkan ibadah ia a must, kudu, wajib, harus, kedah. Dan gw juga sadar bahwa kita harus hati-hati sama cita-cita kita, minta jabatan tinggi-tinggi kalo ga berkah gimana, ya kayak contoh tadi kejadiannya. Gw jadi inget lirik lagunya The Ataris yang jadi OST Spiderman 2, be careful what you wish for.

3. PC Lounge, 19 Ramadhan 1429 H, 23.45 WIB
Yang ini gara-gara gw nekat ngenet malem-malem demi download video dari youtube. You know lah, akses yang cepet kan malem-malem, jadi ya itulah oportunity cost-nya, begadang + ga makan sahur. Setelah puas dapet video Spunge, Blink 182, Hercules, dll, gw langsung caw lagi ke kontrakan dan langsung tewas. Sebenarnya gw sadar si Uyeh bangunin jam setengah 4an, tapi apa daya mata ini terasa berat sekali, akhirnya merem lagi, bangun-bangun udah jam 05.01, wah, gw harus istighfar sebanyak-banyaknya.


Well, sekian dulu sekarang, kapan-kapan kita sambung lagi yah. Eh, ngomong-ngomong blog gw sepi mulu neh, yang ngasih komen Ann mulu, jangan-jangan dia doang yang ngeh gw punya blog. Alah, apapun itu, yang penting gw harus jadi straight-edge teladan sejuta umat, melampiaskan emosi lewat cara yang sehat, salah satunya lewat blog ini. Betul ibu-ibu?

Minggu, 07 September 2008

Who Am I?

Beberapa teman ada yang menanyakan apakah huruf "H" di nama depan saya adalah hasil rekayasa atau bukan. Dengan tegas dan pasti saya katakan bahwa itulah nama saya sebenarnya, nama yang juga tertulis di akta kelahiran dengan susunan yang sama, nama yang dihadiahkan oleh dua orang yang paling saya cintai di dunia ini. Nama saya, Rheza Ardiansyah. Nama Rheza diambil dari istilah 'rhizoid' yang berarti akar. Ardian berarti bumi, sedangkan syah maksudnya raja atau pemimpin. Jadi, jika disusun kurang lebih maksudnya adalah bahwa orang tua saya berharap anaknya menjadi akar yang mampu menopang dan menjadi pemimpin/khalifah yang baik di dunia ini.

Saat membuat tulisan ini, saya sedang menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebagian teman di kampus memanggilku dengan nama 'Siregar', akronim dari Si Rheza Garut. Nama itu pertama kali dicetuskan oleh Hans Budi Findranov, teman sekelas saya di kelas TPB A28. Tentu saja saya senang menyandang nama khas semacam itu, meskipun Garut tidak semegah New York, tempat itu tetaplah tempat lahir yang patut saya banggakan.

Saat berseragam putih-abu, mereka memanggilku Koben. Nama itu pertama kali saya dengar dari seorang Deden Lukman Hakim saat kami sekelas di X-1 SMAN 1 Tarogng Kidul Garut. Panggilan Koben timbul karena saat itu saya sering membicarakan Kurt Cobain, frontman sebuah band tahun 90-an, Nirvana.

Masa SMP yang saya alami lebih bernuansa olah raga, khususnya sepak bola. Tim andalan saya adalah Juventus, dengan Alessandro Del Piero sebagai pemain bintangnya. Ali Sunarya kemudian memanggilku Gudel. Meskipun terdengar aneh, namun nama itu adalah salah satu ciri khas masa SMP yang manis.

Saya mengenal Megantara Marom jauh sebelum kami sekelas di SD dan SMA. Kami sering bermain bersama, selain karena waktu itu jarak rumah kami dekat, ayahku dan ayah Ega adalah rekan sepekerjaan. Meskipun semula kami berbeda SD, saking eratnya persahabatan kami, Ega memanggil De Rheza. dan saya panggil dia a Ega ('aa' atau 'a' = panggilan kakak dalam bahasa sunda). Kelas 2 SD, saya hijrah ke sekolah Ega. Teman-teman lain yang belum tahu nama saya, bertanya ke Ega, dan Ega memberitahu mereka bahwa nama saya adalah (inilah panggilan yang saat itu saya benci) de Rheza. Meskipun memang masih kecil, tapi saya tidak suka diperlakukan seperti anak kecil oleh teman sebaya. Saya pun hanya bisa pasrah mendengarnya, bahkan tak sedikit anak yang usianya lebih muda ikut memanggil de Rheza. Meskipun begitu, saat ini panggilan itulah yang paling saya rindukan.

Orang tua saya pernah bercerita, saat masih balita, banyak yang salah memberiku panggilan. Mereka bukan memanggil 'ujang' (panggilan untuk anak lelaki dalam bahasa sunda), tapi 'neng' (panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa sunda). Tapi sekarang saya yakin tak akan ada lagi yang salah pilih gelar.

Demikianlah perkenalan saya , jika ada hal lain yang perlu ditanyakan, silahkan berkunjung ke www.friendster.com/inmyfaith, atau kirim email ke hore_punya_email@yahoo.com, atau hubungi 0813203xxxxx. Ada satu hal lagi kiranya perlu saya beritahukan. Saya lahir tanggal 7 September 1989. Ya, tepat 19 tahun yang lalu.

Terima kasih atas kesediaan Anda membaca tulisan saya, semoga bermanfaat bagi kemajuan agama, bangsa dan diri kita pribadi.

Selasa, 02 September 2008

Finding Nadia's Show Report

Photobucket

BOGOR (rz-ard) Setelah terbentuk selama kurang lebih 5 bulan, Finding Nadia mulai menunjukkan eksistensinya. Band beranggotakan 5 orang pemuda ganteng itu, pada sabtu malam (30/8) tampil di acara "Kota yang Hilang" di Cibinong Billiard Bogor. Tiga lagu unggulan mereka, berhasil dilantunkan dengan sangat ekspresif. Saat ditemui dalam rapat evaluasi seusai penampilan mereka berakhir, semua personel band yang telah menghasilkan dua buah hits single ini mengaku puas dengan penampilan pertama mereka di hadapan publik, meskipun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Dalam acara yang diprakarsai oleh Dudunk Enterprise itu, FN tampil berbagi panggung bersama band-band sekelas Full Of Envious, Topi Jerami, Seems Like Yesterday, Hate To Think, Damn Looser, Blasterand, dan band-band pengusung aliran keras lainnya. Finding Nadia yang rencananya tampil sebelum rehat solat maghrib, akhirnya mendapat jatah panggung sekitar pukul 8 malam, tanpa dihadiri 2 awak tetapnya. Gita, sang manager, berhalangan hadir karena harus mengikuti sebuah acara kampus di gunung bunder, sedangkan Chetz yang berperan sebagai bassis, digantikan posisinya sementara oleh Roy, karena ia pun harus menghadiri acara kampus di pulau seribu. Penampilan Finding Nadia berlangsung khidmat, dengan diiringi moshing semua personelnya. Rona yang semula pesimis karena ada masalah dengan suaranya, akhirnya berhasil menyanyikan "July Love Letters", "Papercase" dan "Melody of Dancing Bullets" dengan mulus. Pun begitu dengan Rheza (gitar), Van (gitar), Deni (drum) dan Roy (bass), semua personel menghayati penampilannya dan tak ada yang bermain dengan statis.

ROAD TO STAGE
Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Itulah hal yang mereka sadari saat memperjuangkan penampilan perdananya. Mulai dari hilang kontaknya Roy dengan keempat personel lain karena telepon genggamnya raib bersama dompet dan isinya, hujan yang menghadang perjalanan, hingga adanya polisi yang mendaratkan pukulan di kepala Rona. Kejadian yang mereka sesalkan adalah hadirnya polisi ringan tangan yang seakan dengan mudahnya menghujamkan pukulan ke kepala orang yang tidak mengerti duduk persoalannya. Berawal di sebuah jalan yang padat, motor yang ditumpangi Rona dan Van bermaksud berbelok ke kanan dari pinggir jalan, sehingga harus memotong laju kendaraan yang bergerak ke kiri dengan tersendat-sendat. Di hadapan motornya ada seorang bapak dengan kumis dan setragam coklatnya sedang mengatur lalu lintas, tanpa melarang Rona yang menempuh jalur itu. Namun dengan tiba-tiba, "sang pelindung masyarakat" itu menggedor helm Rona hingga motornya hampir roboh, Rona pun memacu motornya melanjutkan perjalanan tanpa memperpanjang urusan itu. Harusnya, sebagai pengatur lalu lintas, ia memberi aturan yang jelas bahwa pengguna jalan dilarang memotong arah, bukan menghukum tanpa peringatan sebelumnya. Kita doakan saja semoga si baplang mendapat pencerahan iman dan sadar sehingga menghentikan sikap buasnya.

Minggu, 24 Agustus 2008

Akhirnya Datang Juga

Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka telah sampailah kita pada saat yang berbahagia, MPKMB PATRIOT 45 yang udah ditunggu-tunggu sejak 2 bulan lalu akhirnya datang juga, udah lewat malah.

Hari pertama alhamdulillah kesannya bagus, tugas gw buat foto-foto lancar, pemecahan rekor MURI lancar (makan ubi serentak dengan peserta terbanyak, sekalian sosialisasi bahan pangan alternatif), sosialisasi makan mie jagung juga lancar (dalam rangka diversifikasi pangan). Overall, everything's OK. Hari kedua, gw ga ikut kumpul jam 4 pagi, coz gw mo ikut nongol di panggung bareng Agriaswara, jadi harus ikut briefing jam 6. Kira-kira jam 8an Agria maen, alhamdulillah lancar, tapi menurut gw penampilan saat itu belum maximum, soalnya gw ga hafal lirik lagu "rek ayo rek", padahal gw udah bawa partitur ke depan, tapi ga banyak dilirik. Singkat cerita, hari udah siang, Om Anton, menteri pertanian RI, udah naek panggung. Isi obrolannya ga jauh beda sama yang diomongin tahun lalu, pas gw jadi peserta MPKMB. "Gaji menteri 15 juta, presiden 65 juta, ada petani yang penghasilannya nyaingin menteri, maka berbanggalah sama pertanian, karena selam hidup masih berlanjut, pertanian ga akan pernah mati", kira-kira gitu lah kata pak menteri.

Ternyata waktu terasa cepat berlalu, ceritanya ini udah bada isya, jam setengah 9an gw baru nyampe halaman cyber menuju GWW buat nyiapin dekor hari terakhir. "Ada apa nih, kok rame?" hatiku bertanya sambil dag dig dug tak karuan, "jangan-jangan mereka wartawan infotainment, lagi nyari gw", gw berusaha husnudzon. "Assalamualaikum, Kakak komdis yah?" seorang cewe yang bawa buku tulis nanya gw. "bukan", gw jawab pertanyaan itu dengan jujur dan apa adanya. "Panitia lain bukan?" dia nanya lagi. "Panitia apa?" maksud gw, panitia Open House, MPKMB (Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru), MPF/MPD (Masa Pengenalan Fakultas/Departemen), panitia sunatan massal, apa panitia hari kiamat? "Oh, bukan ya, makasih ya Kak!" Yah, dia ga ngerti bahasa manusia, ya udah, gw trusin jalan ke GWW, kan mo sambil nginep. Makin deket GWW kok makin rame yah? Trus ada yang nanya gw lagi dengan pertanyaan yang kurang lebih sama kayak pertanyaan beberapa menit yang lalu di cyber. "Apa Kakak komdis?" Gw bilang bukan, trus si penanya tadi nyodorin buku tulis, katanya kalo panitia MPKMB divisi lain tanda tangannya disini. Aha, gw punya ide, waktunya ngerjain ade kelas, kapan lagi bisa jailin mahasiswa baru? Setelah gw dikerumuni makhluk-makhluk aneh itu, gw bilang yang dapet tanda tangan gw cuma orang yang bisa jawab pertanyaan gw. Mereka setuju, gw tanya mereka ama pertanyaan dari berbagai bidang disiplin ilmu, mulai dari infotainment, biologi, cinema, inventor, kimia, hukum termodinamika, sampe arti ayat-ayat Quran. Banyak yang protes, kenapa katanya ada yang nunggu dari tadi kok yang ditunjuk bukan dia, dan gw hanya bisa mengingatkan, mari beristighfar 3x, lanjut lagi ke pertanyaan berikutnya. Hehe, wong dia ngacung kalah cepet. Dan hal yang bikin gw terharu adalah kesediaan mereka dikerjain cuma buat dapetin tanda tangan gw, padahal kalo perlu, gw kasih sekalian foto eksklusif gw. Whuahahahahaha...... Maaf ya ade-ade, tapi bener kok, maksud gw bukan cuma becanda, tapi juga nambah-nambah wawasan + ngasih pelajaran bahwa hidup terlalu luas jika hanya dilalui dengan pengetahuan yang sempit, betul? Setelah dibubarin komdis, pesta kami berakhir, gw langsung pamitan n masuk GWW, kerja.

Jam 3.30 pagi gw caw ke kosan dulu, tentunya setelah mengabadikan wajah-wajah panitia yang lagi tidur, hoho. Tadinya pas udah solat subuh mo trus mandi, tapi tenyata kenyataannya tak seperti itu kawan, gw ketiduran. Harusnya jam 4 pagi semua panitia kumpul dulu buat solat subuh + sarapan bareng, karena gw tidur di GWW, mungkin temen-temen bakal maklum kalo gw telat, seidaknya jam 6 udah stand by di gymnasium.

Jauh di Balio sana, 15 meter dari pekuburan, suara bising anak kecil mo berangkat sekolah mulai memadati telinga gw, akhirnya mata gw terbuka lebar, merespon ajakan telinga, selanjutnya, mulut gw mulai bereaksi baca istighfar setelah mata gw liat jendela kamar udah terang dan liat jam di hp udah liatin angka 6.30, betul sodaraku, gw bangun kesiangan. Tanpa pikir panjang, gw langsung mandi trus cabut, namun setelah tiba di samping gym, gw baru sadar, ID card ketinggalan, za, lu emang cerdas. Setibanya di gym, gw langsung cari pinjeman motor bwt balik lagi ke kontrakan.

Setelah hari sebelumnya ada Om Anton, sekarang Om Adyaksa Dault yang dateng. Menpora yang satu ini emang jago ngomong, kata-kata motivasinya mantabh gila. Gw salut denger cerita dia waktu lagi kecil, cerita tentang perjuangan dia ma adiknya buat sekolahnya dan pengorbanan orang tuanya buat biayain mereka. Kata om yang umurnya seangkatan bapak gw itu, sebuah momen lebih indah terasa sebagai sebuah kenangan dibanding saat kejadian itu sedang dialami. Iya juga sih, ada benernya. Pak Dault juga sempet ngasih ucapan selamat datang + good luck buat semua mahsiswa baru, especially buat 50 orang mahasiswa baru asal Malaysia yang ikut belajar di kampus gw.

Setelah solat dzuhur, kita belajar manajemen aksi massa. Mobilisasinya dari mesjid Al-Hur ke gym, ceritanya kita nuntut pemerintah nurutin Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat). Tahun lalu gw jadi border, jadi ga tau jelas apa yang terjadi di posisi bunker, sekarang gw jadi pers, jadi leluasa gerak, liat wakil mahasiswa yang debat dulu ma wakil aparat, liat provokator menjalankan misinya menghancurkan barisan, sampe liput bunker yang bentrok ma polisi (ceritanya panitia lain jadi polisi anti huru-hara) hingga akhirnya demonstran berhasil menembus masuk gedung DPR-DPR-an (lapang bola gym). Ada yang menarik, pas gw jalan di samping tebing kecil di halaman gym, gw jatuh gara-gara kedorong-dorong border, akhirnya gw disorakin + diketawain ma anak 45, gapapa, hiburan dikit. Tapi pas gw liput provokator yang nyiram air ke arah demonstran, tiba-tiba ada air yang kena muka gw dari arah pendemo. Awalnya gw ga marah, toh ga kena kamera, ngeri juga kan kalo tu handycam orang rusak di tangan gw. Demonstran makin brutal pasca penyiraman, akhirnya gw naik pitam, gw teriak-teriak di depan mereka sampe mereka diem. Gw bilang, "Mana aksi bersih yang kalian bilang? Begini aksi bersih hah!" Hoho, ternyata scream voice gw masih yahut, kapan lagi bisa ngerasain marah-marahin yang salah kalo ga pas demo-demoan, hehe. Sorry ya teman-teman 45, gw cuma becanda.

Setelah semua masuk dan baris di lapang bola gym, ada AMT (Achievement Motivation Training), yang nagis + pingsan lumayan banyak. Ada yang nangisnya normal, ada yang lebaiy gila, sampe keluar air mata (ya iyalah...), bahkan ada anak cowo yang bodinya gede, kumis + jenggotnya makin nambah aksen gothic tu bocah, tapi dia nangis ampe ampun-ampunan. Itulah cinta sejati kawan, cinta kita buat ortu, cinta ortu buat kita, cinta kita buat Allah, dan cinta Allah buat kita. Gw kasian liat ada yang nangisnya ampe over dramatic, padahal kata Zen El Fuad, yang bagus itu nangis ya cukup biasa aja, tapi semangat + kesadarannya dibikin maksimal. Pokonya hikmahnya, kalo lagi sedih jangan terlalu sedih, kalo lagi seneng juga jangan terlalu seneng, biasa-biasa aja. Coba liat QS Al-Hadid ayat 23, "supaya kamu jangan berduka cita atas apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu".

Meskipun ga ada prosesi lempar caping kayak MPKMB Agraris 44, gw yakin MPKMB tahun ini juga berkesan banget di hati adik-adik angkatan 45. Begitupun bagi semua panitia, libur 2 bulan yang dikorbankan, pantai santolo pameungpeuk yang gw relakan, semoga menjadi kifarat dosa dan ladang amal buat kita semua. Amiiiiiinnnnn.....................................

Senin, 21 Juli 2008

Pliss, Jangan Botakin Gua!


Malam itu gua ada di daerah pemukiman padat penduduk. Sebenernya saat itu banyak orang kenal, tapi sekarang gua lupa. Yang gua inget, gua mampir ke rumah Deni, drummer Finding Nadia. Udah dikit-dikit silatuhrahmi, gua jalan-jalan lagi. Eh, gua ketemu Van, partner gua, gitaris Finding Nadia.
gw: Van, lagi ngapain lu? Si Mery udah telpon?
van: Udah. Eh Za, kayaknya gua balik malem ini deh...
gw: Malem-malem begini? ya udah, hati-hati yah...

Setelah itu gua balik ke rumah. Pas buka pintu, gua kaget, kok ada Rizki, sang koordinator komdis patriot 45. Di depan Rizki ada cowo yang belum pernah ketemu gua sebelumnya, dia Chad Smith, drummer Red Hot Chili Peppers. Si Chad lagi nyukur rambut orang, dan yang lagi dicukur sampe botak itu adalah (jengjengjeng) om Dedi Mizwar. Gua juga ga tau kenapa pas Om Ded selesai cukur, gua langsung baringan di pangkuan Chad. Tanpa basa basi, gua langsung dicukur ampe abis, padahal tadi sore baru aja gua potong rambut, tapi ga sampe botak seperti biasa. Gua berontak, tapi cukuran terus jalan. Gimana gua kagak marah, sekalinya gua mo bikin inovasi malah digagalin. Inovasi yang gua maksud adalah potongan rambut gua yang biasanya kayak Eminem, mo gua rubah jadi kayak Gerard Way, tapi si Chad malah rusak rencana gua.Ah, akhirnya beres juga. Ga terima dengan pelecehan yang tadi, si Chad gua datengin. Dia berusaha kasih penjelasan, tapi omongannya gua potong. Gua bilang kapan-kapan kalo mo nyukur lagi, ga usah dibotakin semua, kan SOP MPKMB ga bilang harus botak, tapi rapih.

Toooleloleeeeeeetttt!!! Oh, ada SMS, dari Reza ketua panitia Patriot 45. Udah baca SMS, gua liat jam, wah 5.36, ternyata tadi gua mimpi. Duh, pengen pipis, gua langsung bangun, pergi ke WC, langkahin Van yang masih tidur di kasur bawah. Di WC, sambil ngadep tembok gua coba menganalisis mimpi tadi. Akhir-akhir ini Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) Pengenalan Cinta Pertanian dan Orientasi Angkatan 45 (Patriot 45) emang selalu membayangi hari-hariku. Waktu di rumah, gua pernah ngimpi Radar Bogor + Jurnal Bogor udah gua hubungi buat jadi media partner. Tapi mimpi yang tadi unik yah, Subhanallah sekali! Setelah wudu, gua langsung ngaca, mastiin kalo gaya rambut vokalis My Chemical Romance masih mirip gua. Alhamdulillah, masih mirip dikit.

Jam 1/2 8 ada SMS lagi dari Reza, jam 9 ada final audisi theme song Patriot 45, walah! Si Gitong, manajer Finding Nadia, waktu itu bilang kalo band kita lolos 3 besar. Wuaw, ternyata keajaiban dunia nambah lagi. Kok lolos ya, padahal waktu audisi gua ma Rona nyanyi ga sinkron, gua lupa lirik, Si Oon nyanyi ngasal, Van maen gitar ga jelas. Tapi setelah pagi itu Van SMS Gita, katanya kagak, Finding Nadia ga masuk final.

Akhirnya, marilah kita baca hamdalah dengan bahasa Arab, Alhamdulillah! mari kita baca istighfar sebanyak-banyaknya, Astaghfirullah 33x! Baca doa penutup majelis, Suhanallah Wabihamdika blablabla! Wassalamualaikum Wr. Wb.


Teu Jadi ka Pameungpeuk

Kira-kira 2 minggu saacanna urang geus ngarencanakeun rek ngilu. Padahal di Bogor urang jadi panitia ospek mahasiswa baru. Tadina urang teh rek izin pulang ti tanggal 17 nepi 22, da tanggal 19-20 rek aya acara ka Pamengpeuk tea. Alhamdulillah tanggal 14 pagawean geus teu beurat teuing, urang teh balik we ka Garut, lumayan aya waktu keur babantu di imah.

Peuting tanggal 18 teh urang geus nyiapkeun barang bawaeun, cemilan, sikat gigi, baju ganti, ah pokonamah persiapanna geus pol-polan. Ngan aya keneh nu kurang, pan mun aya acara, urang sok nginjeum kamera digital ka babaturan bapa. Peuting eta, kabel datana tinggaleun di SMA tempat bapa ngajar. Mun euweuh kabel eta mah atuh sarua jeung teu nginjeum, da urang kudu transper heula data nu aya di jero kana PC. Tadina mah rek dibawa isuk-isuk saaacan urang indit, tapi bisi riweuh, jadi urang jeung bapa melaan titirisan mawa kabel data ka SMA. Saacan urang sare, persiapan geus beres, tinggal dagoan isuk indit. Ngan beuteung urang mules, sare ge teu tibra. Jam 3 urang hudang, terus teurab tapi nu aya ambeuan tea gening. Urang teh terus we ka jamban,eh di cai urang kalaka utah. Euh, ieu mah asup angin. Kumaha atuh isuk?

Alarm disada jam satengah lima, urang geuwat hudang, tapi masih keneh leuleus. Tadina mah urang teh moal mandi, rek langsung indit we, tapi bisi beuki leuleus, maksakeun mandi we urang teh, tiis-tiis oge. Sanggeus make kostum indit, urang masih keneh ngarasa gering. Urang teh nga-SMS Dinar weh, nanyakeun kira-kira mun ngilu urang kuat moal, tapi SMS keur si Dinar pending rada lila, urang teh nga-SMS Budpi weh, nanyakeun nu tadi. Ceuk si Budpi, kuma urang we cenah, da urang nu bisa ngarasakeun jeung ngira-ngira kuat moal. Urang teh da bisi beuki parah, jeung mun ngilu bisi jadi ngarepotkeun mun urang kateterusan, jabaning poe senen urang kudu ka Bogor deui, tungtungnamah batal we urang ngilu ka Pameungpeuk teh, padahal... arrrgghghhg! Sanggeus nginum obat, urang gogoleran nepi jam 7-an. Alhamdulillah pas hudang deui urang geus sehat. teu mules deui, teu leueleus deui. Duh jadi hayang ngilu, tapi da geus telat. Urang teh nyetel tipi weh, eh teu lila terus pareum listrik gera. Sugan teh nya moal lila, urang teh ulin we jeung adi urang, ngajar maca, maen kartu, nyanyi, sare deui, hudang deui, pareum keneh. Bosen, hanjakal teu ngilu, padahal urang geus sehat, mun indit ge sigana kuat. Terus urang nga-SMS Dinar, nanyakeun saha wae nu jadi ngilu, trus geus nepi mana. Tapi si Dinar teu ngabales. Ka si Medal we urang teh nanyakeun. Eh, si Medal ge teu jadi ngilu, aya acara keluarga cenah, si Pito ge teu jadi ngilu deuih da sarua aya acara keluarga. Urang teh nga-SMS si Gilang, teu ngilu deuih. Ari nu jadi ngilu saha wae atuh? Urang teh curhat we ka Si Gilang, sedih teu jadi ngilu. Ceuk si Gilang teh sing sabar cenah, moga-moga jadi kifarat dosa. Urang teh rada insap we diomongan kitu mah.

Lohor lewat, listrik can hurung wae, adi urang sare, euweuh batur, gigitaran bosen, maca hoream, dahar teu lapar, bingung kudu nanaonan urang. Hanjakal teu ngilu, urang teh asa hayang ngambek, tapi ka saha, da salah urang sorangan. Bapa urang balik jam 1-an jeung mamah, trus naranya kabar urang. Urang curhat ka bapa, hanjakal teu ngiring, padahal urang teu gering parah. Ceuk bapa teh boa teuing mun ngiring mah moal damang, boa teuing damang teh da istirahat di bumi. Ceuk bapa teh candak hikmahna we, da urang mah manusa, ngan tiasa gaduh kahoyong sareng usaha, da anu nangtukeun mah tetep Alloh. Sakumaha asakna urang gaduh kahoyong ari Gusti teu ngawidian mah da moal cumpon. Pokona intina ceuk bapa kitu. Urang ge insap deui weh geus kitu mah.

Jam 4 listrik karek hurung deui, sanggeus solat urang langsung balas dendam, maen REVOLT. Saacan magrib, urang nga-SMS Widi, nanyakeun keur naraon di Pameungpeuk. CeukWidi, barudak keur maraen bal di Santolo, nyoo cai, terus nonton sunset. Alah, ieu mah, urang beuki haneueul. Lain nanaon euy, urang teh neangan pareasi. Lately, gawean urang ngan rapat, atawa ulin ka cyber, mun henteu kitu gigitaran. Terus urang ge kangen ka barudak FOS, geus lila teu ulin bareng deui. Tungtungnamah urang teh nulis ieu we da euweuh nu rame deui.

Hhhh...moga-moga engke kagantian ku acara nu lain. Amin.

Rabu, 02 Juli 2008

Mendaki Langit

Sore itu langit menguning cerah. Sang raja hari tersenyum riang bersama sinarnya yang menghangatkan. Rabu itu Wanaraja siap menjadi saksi petualangan kami. Setelah semua berkumpul, kami beranjak menjemput salah satu memori indah pudarnya masa putih-abu yang tak lama lagi segera sirna. Pukul lima sore kami mulai berangkat menuju Talaga Bodas, sebuah danau vulkanik di kecamatan Wanaraja kabupaten Garut. Setelah berfoto bersama, kami berdelapan melanjutkan langkah kami melengkapi puzzle kenangan yang tak akan pernah kami lupakan.
Sejak awal perjalanan, jalur yang kami lewati adalah jalan yang menanjak seakan tanpa puncak. Selain pegal di kaki, akupun menahan rasa pegal di pundakku menahan bobot ranselku. Baru beberapa ratus meter berjalan, langkah kami terhenti sejenak. Seorang ibu tampak senang setelah berhasil menyusul kami dengan ojek. Beliau adalah ibu dari Luthfi yang turut bersama kami. Dengan tuturnya yang ramah, beliau mengajak kami berpikir kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Talaga Bodas. Beliau khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika kami memaksakan pergi, karena daerah yang kami tuju adalah hutan alami yang masih dihuni hewan buas. Sebenarnya kami menyadari hal itu, tapi itulah kenyataannya, makin berharga sesuatu, makin besar pula biaya imbangan yang harus direlakan. Akhirnya beriring restu dan doa dari ibunda Luthfi, kami melanjutkan perjalanan.
Tabir petang semakin menutup benderang langit, butiran terang mulai bertaburan di hamparan hitam atap bumi, senandung kemenangan pun mulai bersahutan. Kami berhenti sejenak di sebuah istana kedamaian untuk shalat sembari membasuh lelah. Dalam temaram cahaya maghrib, Budpi yang telah sekian kali berkunjung ke Talaga Bodas menunjuk sebuah bukit nun jauh disana, di seberang hamparan sawah, di bawah teduhnya langit yang bersahaja, di belakang sanalah garis finish kami. Sambil berpapasan dengan beberapa anak kecil yang berangkat mengaji, kami terus meniti jalan desa yang tetap menanjak, hingga kami memilih berjalan di pematang perkebunan jagung untuk memperpendek lintasan tempuh. Di tengah titian kami di tengah perkebunan, terdengar suara desis yang diiringi taburan gerimis. Kami kaget sekaligus bingung karena hujan akan menghambat perjalanan, dan kami tak mungkin mendirikan tenda di bawah hujan. Beberapa langkah berikutnya, butiran kecil yang semula membasahi kepala mulai berhenti menghujam. Alhamdulillah, ternyata suara desis dan gerimis itu adalah pipa irigasi yang bocor dan menyemburkan titik-titik air. Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami tiba di perkampungan terakhir. Seorang warga menawari kami untuk bermala di rumahnya, karena talaga memang masih jauh. Setelah demikian panjang jalan yang kami susur, ternyata tak setengah perjalanan pun telah kami tempuh. Indahnya panorama malam pegunungan memaksa kami menolak ajakan itu. Di bawah hamburan pesona dewi malam, kami kembali meniti jalan berbatu menuju bukit di seberang sana.
Derai canda tawa terasa menghangatkan dinginnya malam. Setelah tiba di sebuah jalur lurus, komando Budpi mengarah kami belok ke kiri, menembus semak yang menutupi sebuah parit kering. Ega yang semula berjalan di depan, mundur dan mempersilahkan yang lebih berani untuk berjalan di depan, Budpi pun harus bertanggung jawab atas usulannya, ia berjalan menuntun kami menerobos sebuah perkebunan. Tubuh kami mulai menabrak lebat belukar. Wajahku terus menunduk, selain untuk menghindari ranting, akupun tak mau mataku menangkap figur yang bisa memacu adrenalin. Nikmatnya bumbu petualangan kami tak berhenti sampai di situ. Setelah lolos dari jeratan semak belukar, kami berjalan di sebuah daerah menurun yang diapit tebing dan jurang. Di tengah segarnya udara malam yang mengembun, aku mencium semerbak wangi bunga kenanga yang menonjok ulu hati. Aku tak berkomentar, yang lain pun tak ada yang buka mulut. Aku berusaha berpikir positif bahwa di samping kami memang tumbuh bunga itu, tapi fantasiku berkata lain, tampak sesosok wanita yang tidak kukenal, bersama gaun putih dan rambut yang terurai hingga menutupi wajah, dengan semerbak parfumnya yang menyengat sedang mengikutiku, tepat di belakangku, dan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari pundakku, hingga hembus nafasnya membuat otot rambutku berkontrasi beriringan dari pundak sampai pipi. Aku menunduk dan mempercepat langkah, tak ada suara lain selain derap langkah. Aku yakin temanku yang lain juga merasakan yang kurasakan. Setelah beberapa langkah, semilir itu pun pudar dan menghilang bersama hembus angin. Saat kembali nanti, akan kupastikan bahwa disana memang mekar bunga kenanga.
Langkahku semakin terasa berat. Setelah melewati turunan yang harum, kami kembali meniti jalan meninggi yang seakan tak berpuncak. Di kiri kami, di bawah sana terhampar peta cahaya yang anggun. Di belakang kami, di hadapan tangga menuju langit, berdiri megah sebuah bukit. Bukit itulah yang telah kami lewati. Otot betisku seakan ditarik ke arah berlawanan, rasanya aku tak mampu menyertai teman-temanku lagi. Aku pun ambruk setelah kakiku kram. Emen memijit kakiku hingga ototnya tak tegang kembali. Aku tak percaya tindakanku bisa senekat ini, pikirku ingin kami mendirikan tenda di sana saja, tapi aku tak boleh menyerah pada godaan rasa lelah. Aku yakin dengan firman Allah bahwa dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Kesempatan beristirahat adalah salah satu kemudahan yang kami dapat dalam kesulitan menjangkau kebersamaan yang indah di garis finish.
Ujung jalan mendaki mulai terlihat, namun kami terkejut setelah sadar bahwa dibalik puncak pendakian, di bawah kanopi pohon-pohon raksasa, tepat di jalur lurus yang harus kami lewati melintang sebuah batang raksasa berdiameter tak kurang dari 3 meter menutupi jalan. Tak mungkin kami kembali untuk mendirikan tenda di jalan, tak mungkin pula kami bermalam di hutan gelap yang rawan hewan buas. Kami beranjak mendekat ke arah pohon itu. Syukurlah, ternyata tak sepenuhnya jalan tertutup. Batang pohon itu menyisakan ruang dibawahnya sehingga kami bisa lewat melalui terowongan beratap pohon tumbang. Terowongan itu seakan gerbang menuju kegelapan. Setelah melewatinya, euforia langit malam tertutup atap hutan. Dengan bermodal senter, kami terus melaju menembus hitam. Masih di tengah belantara, kami beristirahat sambil melepas dahaga. Dari arah depan, kulihat dua titik cahaya hijau berjarak beberapa sentimeter bergerak ke arah kami. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika itu adalah kilau sepasang mata macan kumbang yang lapar. Beberapa saat kemudian kedua sinar itu menjauh satu sama lain. Ternyata itu kunang-kunang. Rasa taku yang semula mampir berubah menjadi takjub. Maka aku sadar betapa cerobohnya orang yang terlalu dini menilai sesuatu yang ia rasa buruk akan selamanya buruk.
Langkah demi langkah terus berlalu, tepat di hadapan jalan lurus yang kami injak terlihat hamburan biru cahaya rembulan. Sang penjaga malam terlihat senang dapat kembali melihat kami dari atas, akhirnya kami tiba di sebuah lapangan luas. Di depan kami, di bawah hujan cahaya langit malam, tampak hamparan luas genangan tenang. Hembus angin malam turut berbisik lirih, selamat datang di Talaga Bodas.
Setelah merebah di atas kerikil kecil tepi danau, kami beranjak menuju tempat lain untuk mendirikan tenda. Kami pun tiba di sisi lain tepi danau, di samping sebuah kolam yang airnya terlihat mengepul, di bawah sebuah pohon, kami menancapkan pancuh-pancuh tenda. Di batang pohon yang menempel ke tebing itu terdapat papan bertuliskan larangan untuk mendirikan tenda di bawahnya. Di bawah pohon itu, di dinding tebing, tampak menganga sebuah lubang berdiameter sekitar satu meter. Kami langgar peringatan itu karena daerah itu nyaman dan strategis. Kami pun membagi tugas, sementara sebagian mendirikan tenda, yang lain memasak mie. Setelah tenda berdiri dan perut terisi, kami beranjak tidur. Sebelum kami terlelap, aku mengusulkan agar esok pagi kami langsung pulang saja, aku takut kekhawatiran yang ibu Luthfi rasakan, yang juga ibuku rasakan akan terjadi.
Semburat rona fajar mulai mengembang di tepi timur. Dingin pagi mengiringi segarnya udara yang kuhirup. Hamparan putih yang mengepul di depan tenda kami memaksaku menelan ludah sendiri. Kucabut pernyataanku untuk pulang Kamis itu, Talaga Bodas terlalu indah untuk segera ditinggalkan. Setelah larut dalam kontemplasi ibadah subuh, kami segera merendam diri di kolam air panas tepat di samping tenda kami. Kami memanjakan diri dalam kesegaran berlatar alam. Setelah menemukan sumber mata air, kami menyantap sarapan pagi. Awan yang beriring berlatar biru cerah menggoda kami menyusuri tepian danau. Bagian utara danau dihiasi daerah berbatu. Di sana kami menjumpai aris cokelat yang meletup-letup. Jejak langkah kami membekas di pasir pinggir danau, berdampingan dengan jejak kaki babi hutan. Danau itu memang layak bernama Talaga Bodas, air di bagian tengah berwarna putih mengepul. Ternyata kepulan itu bukan berarti airnya panas. Saat kusentuh ternyata air danau itu sedingin embun. Perhatian kami kemudian tertuju pada suara aneh dari arah barat yang akan kami tuju. Itu suara babi hutan. Langkah kami sempat terasa berat, kami khawatir saat melewati suara itu, ada babi hutan yang marah. Akhirnya kami memberanikan diri melintasi sumber suara. Tak ada apa-apa, langkah kami kemudian menuntun ke sebuah sungai kecil di samping titik awal kedatangan kami tadi malam. Dari sana terlihat tenda kami yang dijaga Alferz, Andris dan Ega. Setelah puas memanjakan mata, kami kembali ke tenda.
Sebentar lagi waktu dzuhur tiba, Emen mengajakku mengambil air wudhu untuk kemudian mengaji bersama. Setelah shalat, kami menyantap makan siang bersama yang lain. Sambil menemani matahari, kami bernyanyi diselingi canda tawa. Tak terasa sang bola api raksasa mulai berpamitan. Dari kejauhan terdengar suara raungan mesin motor yang mendekat. Rombongan beranggota belasan orang itu kemudian mendirikan tenda beberapa meter di samping tenda kami. Ternyata mereka adalah tetangga Dinra, dengan mudah komunikasi antara kami pun langsung terjalin. Sambil membantu membuat api unggun, salah satu dari mereka mengingatkan kami untuk tidak terlalu gaduh, karena di atas sana ada sebuah kuburan. Kami tersentak, tak percaya pada kenyataan bahwa di tempat sejauh itu ada kuburan. Dia juga berkata bahwa daerah berbatu di pinggir danau adalah daerah pusat magnet, maka wajar jika tak ada sedikitpun sinyal yang menyentuh daerah itu.
Malam kembali mengambil gilirannya, rombongan tetangga Dinar sudah berangkat ke kuburan untuk berziarah. Malam Jumat itu api unggun malu berpijar terang. Setelah menyantap makan malam dan mengaji bersama, kami menanti kantuk dengan mengobrol di dalam tenda. Setelah cukup lelap tertidur, aku terbangunkan suara shalawat dari tenda tetangga kami, kelopak mataku masih terasa berat, alam mimpi masih butuh kehadiranku. Aku kembali terjaga oleh gaduh di sekitar tenda kami. Rombongan peziarah itu terdengar sedang mandi di tengah dinginnya seimut malam, aku tak peduli dan tidur kembali.
Pagi itu warna langit masih biru suram. Rombongan pengendara motor pamitan untuk pulang lebih awal. Kami pun segera berkemas untuk segera menyusun bab akhir perjalanan itu. Sebelum pulang, aku dan Budpi merekomendasikan untuk melewati tepi danau yang kemarin kami susur. Entah apa alasan mereka, ternyata yang setuju untuk melalui jalur itu hanya kami berdua, akhitnya kami ikut suara terbanyak. Setelah berucap doa, kami meninggalkan Talaga Bodas. Mentari mengamati langkah kami dari balik rindangnya pohon hutan. Sebuah pesona menggoda kami dari atas tebing sana. Saat itu memang bukan musim berbunga, tapi disana kami menemukan bunga edelweiss. Bunga itu masih putih dan segar, sayang jumlahnya tak banyak. Dinar memberanikan diri menaiki tebing dan memetiknya. Rencananya bunga itu akan ia berikan pada Astika, hanya untuk Astika, teman sekelas kami yang sangat ia sukai.
Langkah kami lebih ringan dibanding saat perjalanan menuju Talaga. Selain jalan yang menurun, saat pulang mata kami pun dihibur oleh luasnya langit yang sebenarnya kecil di hadapan Sang Mahabesar. Budpi kembali membelokkan kami ke arah hutan, katanya itu jalan pintas. Budpi memang lebih tahu tentang hutan daripada yang lain. Selain pernah beberapa kali mengunjugni Talaga Bodas, ia juga salah satu anggota PASKA 91, organisasi pecinta alam di sekolah kami yang lebih populer dengan panggilan “PASKA” saja. Kami kembali menembus semak belukar hutan pinus. Alferz terus mengingatkan bahaya lubang yang tidak terlihat, meski sebenarnya dialah yang harus sering diingatkan, karena justru Nasution muda itulah yang lebih sering terperosok. Di tengah perjalanan dalam hutan pinus itu Budpi menginstruksikan untuk berbalik arah. Kami mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Budpi. Akhirnya ia mengaku sedang menjadikan kami tikus percobaan untuk mencari jalan pintas. Suasana sempat menegang, ia memperingatkan kami untuk tak banyak bicara, termasuk menyanyi lagu Arah milik /RIF. Hutan memang misterius, sekali kita mengatakan bahwa kita tersesat, maka kita akan benar-benar tersesat, dan kakak Budpi yang juga anggota PASKA sempat mengalaminya. Saat itu anggota PASKA menyusuri rimba diiringi yel yang biasa mereka nyanyikan. Dalam yel itu ada kata yang mereka ganti dengan kata “bagong” (babi hutan). Akhirnya mereka sempat tersesat, terus berjalan tanpa tentu arah tujuan, layaknya babi hutan yang lari tanpa arah. Syukurlah akhirnya mereka selamat. Tanpa banyak mulut, kami terus menuruni hutan, berharap segera kembali ke jalan besar. Budpi meyakinkan bahwa kami pasti tak akan tersesat dan kami tak boleh panik. Kami menghibur diri dengan berfoto dan bercanda-canda. “Take it easy and everything will be OK”, pepatah itu memang tak perlu disangsikan lagi keampuhannya. Kami kembali ke jalan utama tanpa kurang sehelai mahkota edelweiss pun. Aku kembali teringat wangi bunga yang tercium saat kami berangkat. Saat kutanyakan pada yang lain, ternyata mereka pun menciumnya. Kami sepakat akan memastikan bersama bahwa disana memang ada bunga.
Selang beberapa meter setelah keluar dari jalan pintas, di belakang kami melaju sebuah truk pasir ke arah yang kami tuju. Tanpa pikir panjang tangan kami melampai, truk pun berhenti mempersilahkan kami naik. Di situlah salah satu momen yang indah, kami bergoyang kesana-kemari di dalam bak truk, layaknya penari yang sedang beraksi. Bukan, bukan musik yang menuntun gerakan kami, tapi jalan yang dilalui truk itu memang berbatu, kami pun terombang-ambing di dalamnya. Tak lama lagi daerah tempat kami mencium wangi bunga akan terlewati. Kami bersiap untuk mencari bunga yang biasa dipakai di acara pemakaman itu dari atas truk. Aku masih ingat, bau itu tercium sebelum kami berbelok di hadapan tebing yang tertancap papan bertuliskan bahwa daerah itu adalah hutan lindung. Ya, disinilah tempatnya. Hasil pengamatan kami ternyata tak begitu mengcewakan, tapi menyedihkan. Tak ada satupun bunga kenanga di sana, kami hanya melihat belukar homogen yang berjejer bisu. Berarti, wangi itu berasal dari... sudahlah, lupakan masalah parfum.
Kami mulai menjumpai petani yang sedang menghadapkan punggungnya ke langit, mereka tampak loyal menjalankan tugasnya sebagai khalifah muka bumi. Dengan lantang kami melontarkan salam ke arah mereka. Mendengarnya, kening basah itu mengerut menghadap sumber suara. Tentu saja kami tak mengenalai mereka, tapi kegilaan itu cukup membantu mengobati rasa kecewa kami karena tak berhasil menemukan bunga kenanga. Beriring deru mesin diesel, kami menikmati bukit hijau terjal di jalan yang tidak kami lalui. Di malam keberangkatan, jalan itu tidak kami lalui karena kami menerobos kebun. Kami tertegun menyaksikan satu lagi kejutan perjalanan kami. Di sana kami melihat sekuntum mawar yang mekar klimaks. Ia tampak setia bertengger di samping sebuah kuburan. Sebuah pusara yang ditemani satu mawar merah yang merekah megah, sebuah kombinasi absurd di tempat seperti itu. Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika malam itu kami melintasi jalan itu. Jalan desa semakin ramai, kami memasuki perkampungan yang sedang sibuk mengisi hari. Sekitar pukul 10 kami tiba di depan di depan mesjid agung Wanaraja. Setelah berterima kasih pada pak supir, kami berjalan menuju rumah Dinar untuk mempersiapkan diri menghadiri majelis Jumat.
Pagi itu ruang kelas XII IPA 5 hangat dengan topik pembicaraan seputar petualangan ke Talaga Bodas. Budpi sudah menceritakan detil perjalanan kami pada Deni yang juga anggota PASKA. Deni yang lebih berpengalaman dari Budpi mengatakan bahwa ia tidak berani menyusuri tepi barat danau apalagi mendekati sarang babi hutan,meskipun ia dibekali senjata. Mulutku menganga mengetahui bahayanya daerah yang telah kami tempuh dengan hanya berbekal sebotol air minum. Berita dari Dinar tak kalah mengejutkan. Tetangga Dinar, salah satu anggota rombongan peziarah yang di malam kedua itu belum terlelap, bersaksi bahwa ia melihat beberapa ekor babi hutan diluar tenda kami. Mulutku terbuka lebih lebar, ternyata larangan mendirikan tenda itu bukan tanpa alasan. Mungkin lubang di bawah pohon itu adalah pintu rumah keluarga babi hutan. Meski tak kecil resiko yang harus kami hadapi, inginku sesekali kembali mencicipi megahnya romantika bahaya alam bersama mereka, teman sekelasku selama 3 tahun di SMA.