Senin, 26 April 2010

Rolling Stone Release Party

Hari kesembilan di bulan April bukan hari biasa bagi saya. Minggu malam itu saya dan kawan-kawan MAX!! bertandang ke markas majalah Rolling Stone dalam rangka gelaran Release Party edisi terbaru majalah itu. Tepat pukul lima, kami berangkat dari Darmaga. Para senior MAX!! yang semula mengiyakan undangan, terpaksa membatalkan kehadiran karena berbagai alasan mendesak. Tepat pukul delapan kami tiba di Jalan Ampera Raya nomor 16. Puluhan mobil telah terparkir rapi saat kami tiba. Habisnya lahan parkir memaksa kami memarkir mobil di depan sebuah mesjid. Dengan semangat membara, kami pun melangkah beberapa ratus meter menuju gelanggang pesta.

Setelah membeli tiket berupa majalah edisi terbaru, kami dikejutkan oleh kehadiran sesosok pria berperawakan gempal di pintu gerbang. Dialah Ricky Siahaan, editor Rolling Stone yang bila berdiri di panggung berfungsi sebagai mesin pencetus distorsi band Seringai. Tanpa banyak mulut langsung saja kami ajak diskusi gitaris yang memiliki kakak seorang alumni IPB itu. Setelah memperkenalkan diri dan berdiskusi berbagai hal, Ricky berkenan memberi testimoni untuk MAX!!. “MAX!! saya terus dukung kegiatan kalian, teruskan passion ini, ide tidak bisa dibunuh! MAX!! ASOY!!” demikian tulis salah satu induk serigala militia itu untuk kami. Beberapa menit setelah tiba di bibir panggung, Soleh Solihun mulai angkat mikrofon. MC flamboyan itu tak henti mengundak gelak tawa hadirin malam itu. The Authentics lalu mengambil alih panggung dan memulai prolog pesta malam itu dengan jingle Pink Panther khas musik SKA. Tak lama setelah kor melodius itu berdentum, Imo pamit untuk memarkir mobil ke tempat yang lebih aman. Saya lalu menemaninya. Sesampainya di masjid, seorang bapak yang sepertinya penjaga masjid telah siap memasang muka bengisnya. Benar saja, kami kena semprot gara-gara memarkir tanpa izin. Setelah beralibi dan meminta maaf, kami gulirkan mobil itu menuju tempat lain.

Sesampainya di arena konser, The Authentics telah asyik berkoar di lagu paling buncit. Setelah mereka turun, sementara panggung sibuk mempersiapkan kelengkapan Komunal, kami berdiskusi dengan Jikun dan Ovy /RIF. Tampang sangar dan tato yang melintang sempat menahan langkah kami untuk dekat dan menyapa. Ternyata citra hitam yang semula muncul sirna segera dengan sikap ramah mereka, kami pun larut dalam pembicaraan santai. Jikun sempat berpesan agar jangan menganggap popularitas melalui musik sebagai sesuatu yang instan. Dikenal banyak orang hanyalah imbas dari perjuangan musikal yang idealnya terus dibangun sejak dini, agar tak cepat naik, tak cepat turun pula. Lain halnya dengan Ovy. Kawan beradu pedang Jikun itu ternyata pendiam. Untuk menulis testimoni saja dia harus bertanya pada rekannya. Tapi bukankah sikap itu yang sebaiknya kita contoh, talk less do more.

“Kami memang tak sebesar Koil, kami juga tak sebesar Dewa, tapi kami akan menjadi sebesar Slank,” demikian kata-kata pembuka Dody dengan suara growl rendahnya yang sepintas mirip karakter vokal Arian13. Malam itu Komunal tampil tanpa bassis tetapnya. Tapi bukan berarti tidak memberi impresi. Kor-kor indah sekelas “manusia baja” hingga “pasukan perang dari rawa” dengan fasih mereka lantunkan. Aksi panggung mereka pun cukup unik. Doddy sempat menyalakan rokok diatas panggung, bahkan sesekali menghisap batang sembilan senti itu saat job vokal menemui jeda. Soleh Solihun yang dikenal cepat mentranslasi pikiran menjadi kata-kata bahkan sempat menjuluki drummer Komunal dengan “pasukan perang dari mushola” karena penampakan sang penjaga tempo memang terkesan islami. Selain komentar tentang para pengisi acara, Soleh juga sempat membahas topik feminisme, bahkan mengaitkan dengan kondisi rekannya sang produsen vokal di band Drive. Menurutnya, sebenarnya gerakan feminis itu tak perlu ada, toh wanita sudah berposisi diatas lelaki. Lihat saja para suami yang bekerja, untuk siapa mereka mencari uang? Wanita. Kenapa karir Bjah The Fly terhenti? Wanita. Karena siapa nama baik Anji tercoreng? Wanita. Jadi sebenarnya tak perlu ada gerakan feminis, begitu isi candaan si editor.

Tiap jeda pengisi acara, MC mengadakan kuis berhadiah tiket ke konser Misfits di Ancol esok harinya. Pertanyaan yang menjadi syarat kepemilikan tiket tidak terlalu menguras otak. Siapa Managing Director Rolling Stone? Apa nama akun Twitter Soleh Solihun? Siapa nama personel Seringai yang baru menikah? Demikian varian pertanyaannya. Ternyata Soleh adalah tipikal penyuka nama lengkap. Saat pertanyaan yang terakhir saya sebut diatas diajukan, jawaban Khemod dianggap berlum tepat. Penjawab harus menyebutkan nama lengkap si drummer. Kesempatan saya menyaksikan The Misfits tanpa merogoh kocek tiket akhirnya tiba. Setelah Soleh mengajukan pertanyaan tentang sutradara DVD Generasi Menolak Tua, saya langsung mendekati mic. Sammy adalah satu-satunya kata yang saya jadikan jawaban. Layaknya pertanyaan terdahulu, Soleh selalu menginginkan nama lengkap. Saya jawab lagi, “Sammy,” dia minta nama lengkap. “Sammy,” jawab saya lagi. “Sammy,” jawaban terkahir kali saya sebelum didiskualifikasi. Setelah banyak calon penjawab berkerumun di depan, Soleh menganjurkan untuk menentukan penjawab dengan gambreng. Tentu saya ikut lagi, dan menang. Saya jawab lagi, “Sammy,”, hingga berulang sayang mengucap nama itu, hati Soleh tak luluh juga mengikhlaskan tiketnya untuk saya bawa pulang. Akhirnya tiket itu jatuh ke tangan seseorang yang mengatakan “Sammy Bramantyo” adalah jawabannya. Ia beruntung, tiket itu jatuh ke tangannya, padahal sayalah yang menginspirasi jawaban itu. Sayang sekali.

Pengisi acara ketiga malam itu adalah Project The Fly. Band pop rock ini adalah nama baru dari band yang dulu kita kenal dengan nama The Fly. Perubahan nama itu diputuskan setelah band yang dikomandoi Kin Aulia itu dihuni vokalis baru bersuara falsetto khas sopran, padahal keliatannya dia pria. Secara musikal, The Fly malam itu tak menghadirkan sesuatu yang begitu menggugah, apresiasi penonton pun nampaknya dingin, sedingin botol bir yang banyak digenggam hadirin malam itu. Saya tentu memilih Coca Cola saat ditawari pilihan antara softdrink atau bir. Dengan bangga saya pun mecoret punggung kedua tangan dengan tanda silang. Itulah identitas yang saya bawa dalam sebuah arena plural, “saya adalah straight edge”. Straight edge adalah ideologi anti alkohol dan drugs yang dianut beberapa pegiat musik rock yang biasanya identik dengan alkohol dan self destruction. IPB sebagai institut yang diakui publik terkenal dengan fleksibilitas lulusan dan mahasiswanya, juga memiliki sebuah band straight edge. Asphoria (http://www.myspace.com/asphoria), demikian nama band beranggotakan tiga pejantan itu. Lirik yang mereka angkat pun tak sembarangan. “X Untuk Masa yang Lebih Indah” adalah salah satu cerminan ideologi yang mereka anut.

Pengisi acara terakhir yang banyak ditunggu performanya adalah Seringai. Band yang menawarkan musik rock oktan tinggi itu selain menyanyikan lagu sendiri, juga berkesempatan membawakan cover lagu Hollywood Babylon-nya The Misfits dan Diskotik karya Duo Kribo yang jaya dimasa Ahmad Albar dan Ucok AKA berkuasa. Soleh Solihun lalu menginformasikan bahwa saat itu Jerry Only dan Wendi Putranto sedang menuju Kemang tempat kami berpesta. Selama menunggu kehadiran sang maestro horror punk, Seringai mengisi kekosongan waktu. Seringai memacu amplifier hingga para personelnya bingung untuk menyanyikan lagu apa. Akhirnya hingar bingar instrumen harus berhenti akibat komplain tetangga sekitar panggung. Acara pun ditutup karena Jerry Only yang dijanjikan tak kunjung hadir. Dalam jeda penantian itu, saya berbincang dengan Rudolf Dethu. Insan pulau dewata itulah yang menginspirasi gaya tulisan saya hingga seperti ini.

Akhirnya Jerry datang juga. Dia bersikap ramah dan tampil tanpa busana gelap khasnya jika Misfits beraksi. Setelah puas berfoto, kami pulang. Selama acara itu, saya membagi CD demo Finding Nadia ke Ricky Siahaan, Rudolf Dethu, Gribs, hingga Komunal. Namun sayang sekali Jerry luput dari ingatan saya untuk dibekali CD. Tapi tak mengapa, mungkin Finding Nadia harus dikenal di negeri seberang tanpa melalui Misfits, who knows? Oiya, karena Ricky Siahaan menerima CD itu, maka kemungkinan rubrik Review bulan depan akan dihiasi resensi A Huge Difference Between Zero And The Number After. Semoga minialbum Finding Nadia itu benar-benar hadir disana.


bulan ini panggungnya lebih besar


bapak ini salah satu generasi menolak tua, dia berhenti di 15


ovy /rif tanpa DJ


kang jerry only dan ully


mas jerry only dan budi


jerry "only" ---> dik "doank"


kami yang bersilaturahmi

Jumat, 23 April 2010

nekropsi


di suatu siang yang cerah, mereka sedang melakukan proses kopulasi. cirinya kalo beardy lagi horny, warna dagunya berubah jadi hitam. hayooo, yang dagunya hitam berarti...



inilah ekses dari aktivitas mereka



setelah beberapa lama, mereka terpisah dan lama tak melakukan kontak fisik



akibatnya, salah satu dari mereka mati



untuk mengetahui penyebab kematiannya, dilakukanlah proses nekropsi



nekropsi ini, kalo bahasa manusia namanya otopsi



setelah diamati, ternyata dia mati bukan gara2 ditinggal pasangannya, tapi gara2 keselek. betul sodara, keselek, keselek pasir lebih tepatnya


tapi kakak kelas gw yang menekropsi tadi ga nyerah. mati satu, beli satu lagi. dan sekarang di samping kamar gw masih ada beberapa ekor beardy

Senin, 19 April 2010

Dua Hari Untuk Selamanya

Sabtu itu saya mulai melangkah dari rumah ketika jam menunjuk angka 16.00. Dua jam berlalu, senandung adzan magrib akhirnya menyambut saya di simpang dago. Para pasukan musikal dari kampus pertanian telah menunggu di institut tetangga. Beriring seribu langkah saya melaju ke arah mereka. Delapan belas lima lima, penunjuk waktu di pergelangan tangan ini menunjuk angka. Pelajaran pertama dari kunjungan UKM MAX!! IPB di ITB adalah ketepatan waktu. Sang ketua acara semula menginformasikan lewat SMS bahwa 18.45 acara akan dimulai. Benar saja, 10 menit berlalu, genderang musik stomp mengalun merdu diiringi cetus nada beatbox yang unik, saya pun bergabung bersama serdadu lain yang tiba setelah menempuh jarak berkilo dari kota hujan sejak siang tadi.

Gelaran musikal yang dimeriahkan para musisi dari salah satu institut teknologi di kota kembang itu bertajuk Ganesha Musik Event. Lantunan melodi malam itu tersaji dalam kemasan unik. Tak ada MC sepanjang acara, jeda pengisi acara diisi tampilan solo dari beberapa musisi kampus dengan senjata mereka masing-masing. Dentum bass, raung dostorsi gitar, hingga syahdu irama saxophone mengalun indah diantara band-band yang tampil dengan lagu orisinil mereka. Setelah disuguhi sajian musikal dengan range genre yang tidak terlalu lebar, audiens di lapangan basket CC itu dipuaskan oleh performa Monkey to Millionaire. Trio pejantan itu piawai menghasut penikmatnya untuk bernyanyi bersama. Mereka pun tak lupa menyisipkan prolog sebelum senjata pamungkas mereka bergaung. “Kalian pasti tau musisi yang sekarang ramai dibincangkan infotainment?” demikian Wisnu memulai khotbahnya. “Daripada bangga buntingin anak orang, mending dia benerin musiknya, bener ga?” retorika itu lalu menjelma menjadi sebuah mantra bertajuk “Replika”. “Replika” adalah tembang Monkey to Millionaire yang nampaknya paling banyak dikenal. Setelah sukses mengguyur malam dengan melodi dan ekspresi, mereka menutup pentas dengan aksi yang mengingatkan saya pada yang mulia Kurt Cobain. Polah Agan saat menusukkan pasak tala bassnya hingga drum set itu roboh membuat saya berpikir bahwa bukan tidak mungkin tiga jaka ini adalah titisan Nirvana. Seiring redupnya lampu dan distorsi, himpunan manusia di bibir panggung pun mulai memudar.

UKM APRES! ITB, demikian sang empunya acara menyandang nama, sebenarnya tidak melayangkan undangan ke UKM dari institut pertanian ini. Namun hadirnya acara tanpa syarat biaya masuk dan dilaksanakan organisasi serupa itu, mendorong 18 orang anggota MAX!! untuk hadir dan berdiskusi. Bukan forum formal memang, tapi obrolan santai di tengah acara bersama Yoyok yang menjabat ketua APRES! malam itu cukup memberi inspirasi bagi pergerakan musikal di kampus rakyat kita. Dari obrolan itu, terkuak beberapa fakta bahwa kendala organisasional yang dihadapi kedua UKM dari kampus berbeda itu ternyata serupa. Loyalitas, adalah PR bersama yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Selain itu kesamaan program kerja tahunan MAX!! dan APRES! pun semakin menarik untuk dibahas. Jika di IPB kita akrab dengan kata Music Corner, maka civitas musica ITB lebih nikmat dengan istilah Mustang atau Musik Petang. Selain berbagi cerita tentang kondisi apresiasi di kedua institusi, kami pun berbagi solusi dan saling memberi masukan dalam sektor upaya penggalangan dana, teknis pelaksanaan acara, dll. Di penghujung pertemuan, kami sempat berfoto, dan kawanan serdadu dari kota hujan pun sempat menghaturkan terima kasih melalui pemberian plakat dan bonus 2 keping CD kompilasi. Tunggu dulu, senandung silaturahmi malam itu belum berakhir. Setelah berucap selamat tinggal pada panitia, kami bersua bersama Monkey to Millionaire, bahkan mereka sempat membubuhkan tanda tangan beserta ucapan penyemangat di kaos kebanggan MAX!!. Dari momen itu pula kami tahu bahwa sang manager adalah salah satu editor majalah Rolling Stone yang launching party-nya bulan ini sempat kami hadiri. Bahkan secara personal, Monkey to Millionaire mengundang kami untuk hadir di penampilan mereka berikutnya di Bogor Nirwana Residence dan hadir pula di Rolling Stone Release Party di hari kedua bulan depan. Setelah puas dengan pengalaman sosial-musikal di ITB, giliran perut kami yang merasakan nikmatnya rasa kenyang.

Warung C’Mar di daerah Braga menjadi lahan yang beruntung kami jamah. Santap tengah malam itu riuh dengan canda tawa, lalu berakhir seiring beratnya mata kami untuk terlelap. Kediaman sanak Baga di Cimahi saya doakan agar selalu sejuk dengan berkah. Doa itu saya haturkan atas jasanya menampung kami untuk telentang dan menutup mata. Esok paginya, tepat pukul 7, kami melanjutkan petualangan di ibu kota Jawa Barat itu. Tujuan berikutnya adalah semangkuk menu sarapan di Gasibu. Rute perjalanan yang berbelit sempat menambah waktu tempuh menjadi lebih panjang. Tiga jam setelah keberangkatan dari tempat menginap, kami baru selesai santap pagi. Setelah kenyang dengan sepiring menu khas gasibu, kami lalu menunggu kedatangan Dewa yang semalam menginap di rumah temannya. Lama tak muncul, Dewa akhirnya kami jemput di Jalan Riau, dan dari sana roda mobil kami melaju ke arah Gede Bage. Apa lagi kalau bukan untuk menggelar dompet dan menarik tunai? Waktunya belanja. Beberapa dari kami berhasil menyisihkan rupiah cukup minim untuk barang yang diincarnya, beberapa tak tertarik dengan barang yang dijual, beberapa bahkan memang tak berniat membeli sesuatu. Jam 2 perjalanan pulang kami dimulai.

Di laju kami menuju Bogor ini, ketiga mobil bergerak terpisah dalam jarak yang signifikan. Cerita menarik muncul di mobil yang saya tumpangi. Saat melaju khusyuk diatas aspal tol Luar Jakarta, ditemani rona menyala langit barat, tiba-tiba sebuah KIA hijau menyalip kami. Spontan Dimas yang memegang kemudi menekan klakson. Lalu yang terjadi kemudian adalah klimaks dari petualangan kami. Si KIA hijau itu malah melambatkan laju di depan mobil kami. Xenia kami lalu mendahuluinya. Tiba-tiba mobil yang ditumpangi rombongan keluarga kecil itu melaju kencang di samping kiri kami, jaraknya begitu dekat hingga spion kami hampir saling beradu. Apa maunya? Hanya Tuhan dan sang tempramental itu yang tahu. Di depan kami, mobilnya melaju berkelok-kelok, seakan memang sengaja mengajak kami membuang waktu. Kami kembali menempatkan posisi di depannya. Coba tebak, apa yang ia lakukan saat kami mendahuluinya? Lelaki berumur kira-kira 40 tahunan itu mengacungkan jari tengah. Tak lama setelah stimulus itu dilayangkan, Baga membuka jendelanya dan tak kalah khidmat mengacungkan salam jari tengah balasan, mobil kami lalu melaju menjauh darinya. Si bapak penunggang KIA itu lalu mempercepat laju, mengajar kami dan minta meminggir. Beruntung kami tak larut lebih cair dalam emosi, bahkan saat dia behenti di samping polisi patroli yang sedang sibuk dengan kasus lain di pinggir tol. Si KIA berkeras mengajak kami menyamping. Akhirnya duel itu berakhir dengan laju kami yang sengaja diperlambat agar si hijau pembakar emosi itu segera enyah. Di pintu tol berikutnya, kami bertemu lagi. Beruntung sang KIA hijau berbelok ke kiri, dan kami melaju menuju kanan. Adrenalin perlahan mencair, kami beruntung tak terbakar api emosi. Jika tidak mungkin kami sudah seperti mobil malang yang bagian depannya hancur setelah bannya pecah siang itu.

Malam itu sebenarnya saya ingin berkunjung ke Bogor Nirwana Residence untuk kembali menikmati “banjir serotonin”. Tapi saya pun urung bertolak menyaksikan aksi The Porno, Danial, Black Mustang, dan Monkey to Millionaire (lagi) karena beberapa alasan. Kebersamaan dua hari yang telah berlalu barulah awal dari perjuangan panjang upaya peningkatan kualitas musikal dan apresiasi seni. Semoga Tuhan selalu merestui langkah kita. Viva la musica!


Bersama Monkey to Millionaire



Penyerahan Cinderamata



Di Rest Area



Baga Adi Tiawan, Kapten Perjalanan Kami



Suasana Panggung



Untuk Yang Ikut Tapi Tak Hadir di Foto Ini: Mufff (Dengan Intonasi Pengucapan Khas Denissa)



"APRES! ITB dan MAX!! IPB: untuk apresiasi musik yang maksimal", Demikian tulis seorang anggota APRES! dalam testimoniya

Sabtu, 20 Maret 2010

ukulele



Alhamdulillah, Gw punya ukulele sekarang. Sebenernya cita2 punya ukulele udah ada sejak gw maen di band “WC Umum” waktu SMP, tapi baru kesampean sekarang. Ukulele pusaka ini awalnya mau gw pake sampe bulan mei, pas mei tanggal 8, tu ukulele mau dijadiin kado ulang taun ade gw, biar dia cinta gitar sejak kecil. Tapi kita liat aja nanti, kalo gw masih suka, tu ukulele tetep tinggal di bogor, tapi kalo udah bosen, gw kirim ke garut. Jadi dengan kata lain, kado bwt ade gw nanti sebenarnya barang bekas.hehe.

Sekarang kita flashback dulu ke jaman gw baru lulus SD. Waktu itu gw pengen bisa maen gitar soalnya temen sekelas gw udah pada bisa ngeband, nyanyi lagu boomerang lagi. Akhirnya gw dibeliin gitar, dari situ gw rajin ngulik, akhirnya bisa lah maen gitar. Gw merasa sangat beruntung dibekali skill maen musik. Kalo misalnya gw ga bisa maen musik, mungkin gw jadi nerd tulen, jarang gaul, punya temen dikit, dll. Gara2 musik, gw sekarang jadi kenal banyak orang, sikap gw juga banyak dipengaruhi musisi2, dan gw dapet banyak keuntungan lain setelah kenal musik. Itu artinya, modal buat beli gitar di akhir usia anak-anak gw itu ternyata membuahkan hasil yang sangat fenomenal.
Kenapa gw nekat beli ukulele? Padahal udah ada gitar? Padahal masih ada benda lain yg lebih layak dituker sama duit 40 rebu? Jawabannya adalah, karena gw lagi berinvestasi. Beli ukulele artinya gw nanam modal biar gw punya skill lain yang semoga suatu hari nanti bisa ngasih banyak keuntungan, kayak impact belajar gitar diatas. Ato kalo itu ukulele jadi dikasih ke ade gw, semoga suatu hari dia bersyukur pernah kenal ukulele. Jadi intinya, jangan segan dan ragu buat berinvestasi di sektor nonfinansial. Kalo ada rejeki, beliin alat musik, buku, alat olah raga, ato apapun itu yang bisa bikin skill kita nambah. Kadang justru skill hasil investasi itu jauh lebih mahal dari modal awal kita, bahkan mungkin ga bisa dinilai sama nominal rupiah berapapun. Who knows?

Jumat, 26 Februari 2010

musik di ipb

Gw mulai uraian pendapat ini dari sebuah fakta di tahun 60-an. Waktu itu, di Amerika Serikat diterapkan sebuah sistem pendidikan yang disebut free flowering child (Ratna Megawangi -Pendidikan Karakter, 2004). Para pakar pendidikan negeri paman sam saat itu, menganut paham Roseau (filsuf Perancis) yang menyatakan bahwa manusia tidak perlu belajar dari apa yang ada di luar dirinya. Pada era itu pula, paradigma pendidikan yang banyak diterapkan di dunia, berlandaskan prinsip headstart, atau sistem pendidikan yang hanya mengedepankan keunggulan akademis dan pengembangan kecerdasan intelegensi belaka. Hasilnya, orang2 cerdas dengan berbagai inovasi telah terlahir, namun apa yang terjadi dengan temuannya? Ya, penyalahgunaan. Leó Szilárd (1898-1964), seorang ilmuwan yang berperan dalam gagasan reaksi berantai nuklir, proses yang membuat bom atom untuk dikembangkan. Dia juga orang yang memprakarsai Proyek Manhattan, yaitu dengan menulis kepada Presiden Roosevelt untuk mendesaknya mengembangkan senjata-senjata ini, karena ia percaya orang Jerman meneliti sesuatu yang serupa. Beberapa dekade sebelum penyalahgunaan teknologi nuklir itu, sistem pendidikan yang hanya menekankan satu aspek kecerdasan juga berbuah petaka. Fritz Haber, seorang kimiawan Jerman yang mencatatkan namanya pada industri sintesis amonia, komponen penting pupuk dalam pertanian modern. Hal ini telah membantu dalam produksi pangan intensif yang telah menjadi ciri dunia modern, dan pada gilirannya memungkinkan pertumbuhan penduduk yang besar dari abad ke-20. Ia sangat terlibat dalam pengembangan senjata kimia seperti gas klorin untuk Jerman di Perang Dunia I, dan ia diberi julukan oleh beberapa orang sebagai bapak dari perang kimia. Karya Haber membantu pengembangan gas sianida, yang digunakan oleh Nazi untuk melakukan beberapa kekejaman terburuk dalam sejarah manusia. (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3032244)
Ceritanya sekarang udah tahun 90-an. Setelah liat para ilmuwan yang malah mengkhianati hakikat penggunaan teknologi, maka para pakar nyari penyebab sama solusinya. Lalu muncullah seorang Daniel Goleman dengan buku pusakanya yang berjudul Emotional Intelligence. Dengan terbitnya buku itu, diketahuilah bahwa kualitas seorang manusia tidak hanya ada di aspek intelegensi aja, tapi juga sisi emosionalnya. Setelah penemuan fenomenal tersebut, muncul banyak temuan lain yg ga kalah penting. Howard Gardner menyatakan bahwa manusia memiliki 8 jenis kecerdasan (multiple intelligence), ada linguistic intelligence (kecerdasan verbal), logical-mathematic intelligence (kecerdasan matematis), spatial intelligence (kecerdasan ruang), bodily kinesthetic intelligence (kecerdasan olah fisik), musical intelligence (kecerdasan musikal), interpersonal intelligence (kecerdasan kemunikasi eksternal), intrapersonal intelligence (kecerdasan analisa diri) dan naturalist intelligence (kecerdasan mengenal alam). Nah, setelah berbagai konsep itu ditemukan, sistem pendidikan yang tadinya headstart, berubah jadi heartstart. Paradigma heartstart ini ga Cuma fokus di pengembangan intelegensi, tapi juga kecerdasan lain yang dimiliki manusia, kemudian lahirlah sebuah konsep pendidikan yang banyak diterapkan saat ini, namanya pendidikan holistik, artinya pendidikan yang bertujuan membentuk manusia secara holistik (menyeluruh). Menurut Bobi dePorter, dalam bukunya Quantum Learning, salah satu cara agar proses pembelajaran berkualitas dan efektif, adalah penggunaan musik. Jadi kawan2 semua, boleh dong gw simpulkan bahwa siapa yang mencegah perkembangan musik berarti menghambat pengembangan salah satu fitrah manusia, kecerdasan musikal.
Lalu, ada seorang ahli yang namanya Fitjrof Capra, yang menyatakan bahwa cara pandang terhadap suatu masalah hendaklah tidak terkotak-kotak, tapi holistik, menyeluruh atau liat dari banyak sisi (Ratna Megawangi-Pendidikan Holistik, 2008). Gw jadi inget sebuah dongeng tentang dua ekor tikus yang liat ada keju yang besar di depan pintu sarangnya. Mereka nggak langsung sikat tu keju, soalnya lagi mikir2 dulu, jangan2 ini perangkap. Setelah yakin dengan keputusannya, kedua tikus itu melangkah maju, selangkah lagi menuju keju yang disajikan gratis di depan matanya. Namun tiba2, ayahnya berteriak dan melarang kedua anaknya mendekati keju itu. Sang ayah lalu mengajak kedua anaknya menaiki meja. Dari sana mereka melihat sebuah keju yang disajikan di depan sarangnya dan diletakkan di atas sebuah perangkap tikus. Ya, pandangan yang tidak menyeluruh bahkan bisa berbahaya. Yang menarik di forum ipb 45, ada seorang “oknum” yang ngingetin gw sama lagunya netral yang judulnya terompet iblis. Orang yang bikin klaim subjektif bahwa di ipb ini Cuma ada satu jenis musik, lalu di akhir pernyataannya ia menyisipkan semboyan bahwa kebenaran akan selalu menang, mengesankan bahwa musik yang ia sebut sebelumnya adalah satu2nya kebenaran, sungguh menyedihkan. Lalu dia bilang kalo salah satu organisasi musik di ipb Cuma nge-band foya2. Sangat tepat kalo gw analogikan dua ekor tikus tadi sama orang ini. Dia ga liat satu fenomena secara menyeluruh. Apa jadinya kalo bangsa kita hidup sama konsep begitu, bakalan makin banyak orang baik yang dipenjara, malah koruptor ngipas2 pake duit, gara2 ga teliti ngolah kasus, ga menyeluruh.
Sekilas orang ini mirip aktivis agama, soalnya bawa kata puasa, band islami, nasyid, bahkan kata pesantren dibawa di nama kampus kita tercinta ini. Tapi hati2 kawan, jangan cepat2 ngambil kesimpulan kalo org ini dari alhur ato organisasi keagamaan manapun, mungkin aja ini adu domba, devide et impera. Mungkin orang kayak gini ga sedikit di kampus kita, tapi kebetulan yang nongol di forum ini ada satu nih. Mister, saya mau berkomentar nih, soal pernyataan ente yang bunyinya gini:
"IPB tuh musiknya hanya lagi nasyid, ga ada musik yang lain, hebat yah,.... INSTITUT PESANTREN BOGOR... Kebaikan itu selalu menang..."
Semoga setelah mengetahui konsep berpandangan holistik, anda berubah pikiran. Musik di IPB ga Cuma nasyid kok, gw berani jamin. Dari rock sampe dangdut, ada di IPB, jadi mau diakui atau tidak, kenyataannya begitu. Gw sebenarnya bangga, ipb banyak singkatannya, institut pertanian bogor, institut pesantren bogor, institut perbankan bogor, institut publisistik bogor, institut perteknologian bogor, institut punkrock bogor, institut pleksibel banget, dll. Itu artinya, manusia2 jebolan ipb memang makhluk2 unggul agen pengubah bangsa, mereka (semoga kita juga) manusia2 paripurna yang multiple intelligencenya seimbang. Semoga kita bener2 berguna, ga Cuma ngomong kosong, tapi juga berkarya dan berkontribusi.
"AYO MAXX !!! bikin organisasi musik ga cuma nge-band foya-foya... bikin ajang band islami menjelang Puasa, bikin ajang band lagu nasional menjelang kemerdekaan, kalo cuma nge-band yang niru lagu orang lain, mendingan gw liat band di tivi."
Suatu hari, gw liat sebuah spanduk terpampang gagah di fem, deket rektorat. Isinya butir2 gol yang harus dicapai pemerintahan SBY-Budiono dalam 100 hari. Di bawah list itu, ada tulisan yang kurang lebih bunyinya begini “mari kita tagih bersama”. Gw jadi mikir, kenapa redaksinya harus berupa tuntutan yang mengesankan kalo penulis dan pembaca tulisan itu bukan bagian dari sistem. Tulisan itu seolah memposisikan pembaca sebagai orang seperti penulisnya yang menonton dan menuntut pelayanan pemerintah tanpa ngasih sumbangsih, kesannya kayak pemerintah itu babu, nah si pembaca tulisan majikannya yang ga puas dan pengen nuntut kinerja si babu. Kenapa kata2nya ga gini: “Mari kita bantu mewujudkannya”, ato “mari bung kita upayakan bersama”?
Sekarang kita tengok sebuah teori pengasuhan yang dikemukakan oleh Baumrind (1975). Menurutnya, dua komponen penting dalam proses pengasuhan adalah demandingness (tingkat tuntutan) dan responsiveness (kehangatan). Idealnya, kedua komponen itu kadarnya berimbang, tinggi dua2nya gitu (authoritative atau demokratis), biar nanti sosok yang terbentuk adalah pribadi yang disiplin dan mudah bersosialisasi. Nah kalo kita terlalu banyak nuntut, tanpa dibantu dan sedikit pemberian dukungan, kita menerapkan gaya authoritarian atau otoriter. Pribadi yang bakal terbentuk adalah seorang rebel, pemberontak yang cuman bisa ngacau tanpa ngasih solusi. Nah kalo responsiveness terlalu tinggi, tanpa diimbangi demandingness yang cukup, itu malah akhirnya bakal ngelunjak, kalo salah bakal susah diatur+dibenerin. Kalo responsiveness sama demandingness sama2 rendah, atau istilahnya uninvolved, itu malah lebih parah. Individu bentukan nanti bakal hilang arah, ga ada tujuan + ga jelas.
Balik lagi ke masalah perlakuan kita sama pemerintah. Coba analogikan responsiveness diatas sama dukungan kita terhadap perwujudan program pemerintah. Trus demandingness coba diasosiasi jadi tuntutan kita sama situasi pemerintahan. Mana coba yang lebih gede saat ini? Ya, keliatannya demandingness lebih tinggi, simbol tertinggi negara bahkan sampe dianalogikan jadi kebo. Segitu kerasnya kita membimbing sebuah orde yang sebenernya berjuang buat rakyat. Coba kita gantian posisi, apa segitu gampang ngubah bangsa tanpa dukungan? Gw bukan memihak salah satu kubu, ini kita coba berpikir husnudzon, okeh. Nah, oleh karena itu, marilah kita imbangi kritikan2 terhadap pemerintah dengan sikap yang dewasa, tanpa anarki, tanpa perusakan, dan dengan cara yang cerdas.
Waduh kok gw jadi ngomongin politik ya. Balik lagi ke kutipan diatas, jadi pernyataan om tadi kesannya kayak dia pengen musik di ipb hidup, dan dia punya ide, tapi ga mau gerak. Maunya nyuruh aja gitu, pas dia ga puas, nuduh foya2, nuduh Cuma nyanyi lagu orang, hanuh. Tapi teman2, mari kita sikapi kritikan ini dengan positif, mari buktikan bahwa karya kita original, segera publish karya2 kita segila2nya. Oiya, ngomong2 soal nasyid, gw jadi inget sebuah band nasyid (kalo nasyid diartikan musik yang mengutip kata2 kitab suci dan menyampaikan nilai2 kebenarannya). Pernah denger purgatory?
Ternyata ya teman2, band yang personilnya pada pake topeng ini, beberapa lirik lagunya diambil dari alquran. Contohnya, di lagu pathetic, pugatory nyeritain salah satu peristiwa pengakuan tuhan manusia yang ada di quran surat Al-Araf ayat 172. Di video clip lagu itu, diceritain ada seorang pengguna narkoba yang liat dirinya sendiri nulis angka 7:172 di tembok, dan refleksi dirinya itu ngomong terjemahan ayat itu, bisa dibaca di subtitlenya. Menurut gw, dakwah yang sebenarnya, merubah orang yang belum insap jadi sadar, bukan hanya ada di mesjid. Orang yang dateng ke mesjid mah emang udah insap, niatnya juga udah bagus, ningkatin keimanan. Nah justru orang2 yang perlu disadarkan itu ada di luar mesjid. Kalo diliat dari kacamata husnudzon, porgatory ini udah berdakwah, melalui musik mereka, di komunitas mereka.
Terus-terus, gimana caranya bakat-bakat musikal anak2 ipb muncul dan tersalur? Ipb kita ini hampir tiap tahun selalu jadi universitas penyumbang proposal pkm terbanyak. Apa rahasianya? Motivasi, sama penyediaan akses yang mendukung pencapaian prestasi itu. Tiap akhir tahun, di ipb ini pasi rame, dosen2 pasti pada dicari buat dijadiin dosen pembimbing. Mahasiswa, karena terpengaruh sama kondisi kampus yang wara-wiri soal pkm, jadi ikutan termotivasi. Itulah keajaiban strange attractor, salah satu hukum alam yang berlaku di jagad raya ini. Melalui ilmu fisika, kita tau kalo setiap benda punya daya gravitasinya sendiri, hal itu juga berlaku sama pola perilaku kita. Seorang ahli bernama Ully Bronfenbrener, mencetuskan sebuah teori yang menyatakan bahwa seorang individu adalah inti dari sebuah sistem yang disusun dari beberapa subsistem (mikrosistem, mesosistem, eksosistem, kronosistem, makrosistem). Interaksi sistem dan individu itu menunjukkan pola hubungan timbal balik, jadi kondisi sistem bakal mempengaruhi pola laku individu, begitupun sebaliknya, sikap yang ditunjukkan individu akan berpengaruh terhadap status sistem. Hubungan teori ini dengan konsep strange attractor, bisa dilihat dari fenomena PKM diatas. Orang yang semangat, pasti bakal ngajak temennya buat gabung, lalu temen dari temennya itu termotivasi bikin kelompok sendiri, terus dia ngajakin temennya yang lain, temen dari temen temennya yang lain tadi juga ikut termotivasi, begitulah seterusnya sampe tindakan yang semula dilakukan dalam skala individu bisa berpengaruh sistemik. Lalu bayangkan kalo ipb (sistem) ga mendukung pembuatan PKM tadi, ga ngasih informasi, ga bikin pelatihan, ga ngasih motivasi, dll. Gelar membanggakan sebagai penyumbang proposal terbanyak tadi ga mungkin dicapai. Saat ada dua perbedaan, misalnya A dan B, maka beberapa kemungkinan yang bisa terjadi adalah A berubah jadi B atau sebaliknya, atau A dan B tetep berbeda dan saling menerima, atau A dan B membentuk sebuah format baru. Temen2 yang yakin atas sesuatu yang ia perjuangkan, tetaplah berdiri tegak disana, jangan goyah, pertahankan idealisme & ideologi yang kalian anggap benar. Jangan takut diserang, teruslah bergerak, perbanyak membaca, biar kita lawan mereka sama senjata yang benar2 tepat. Toh kalau kita bisa liatin dasar yang kuat dan benar, pihak oposisi yang fair akan mengakuinya, dan tindakan yang semula berskala individu, cepat atau lambat bisa berubah jadi identitas sebuah sistem.
Akhirnya, gw menyimpulkan bahwa dalam mengupayakan sesuatu, marilah kita berasas pada prinsip talk less do more. Mohon maaf kalo kata2 gw banyak salahnya, saran+kritik sangat gw terima dengan tangan dan hati terbuka. jangan lupa teman2 ya, jangan terpancing emosi, kita disini belajar diskusi cerdas dan nawarin solusi. Jangan sampe pendapat kita malah saling jatuhin, kalo sampe begitu, apa bedanya kita sama ilmuwan yang bikin teknologi penghancur, ga maju2 dong kalo gitu. Mari bersulang bagi kedigjayaan ekspresi dan apresiasi seni di ipb, demi kualitas bangsa yang maksimal di semua bidang. Cheers!!!
Hak manusia ingin bicara, hak manusia ingin bernyanyi
Kalau sumbang janganlah didengarkan, kalu merdu ikutlah bernyanyi
Jangan ngelarang-larang, jangan banyak komentar apalagi menghina
(slank-tong kosong)

Rabu, 10 Februari 2010

MENDAKI LANGIT (edited version)

Sore itu langit menguning cerah. Sang raja hari tersenyum riang bersama sinarnya yang menghangatkan. Rabu itu Wanaraja siap menjadi saksi petualangan kami. Setelah semua berkumpul, kami beranjak menjemput salah satu memori indah pudarnya masa putih-abu yang tak lama lagi segera sirna. Pukul lima sore kami mulai berangkat menuju Talaga Bodas, sebuah danau vulkanik di kecamatan Wanaraja kabupaten Garut.

Sejak awal perjalanan, jalur yang kami lewati adalah jalan yang menanjak seakan tanpa puncak. Selain pegal di kaki, akupun menahan rasa sakit di pundak yang menahan bobot ransel. Baru beberapa ratus meter berjalan, langkah kami terhenti sejenak. Seorang ibu tampak senang setelah berhasil menyusul kami dengan ojek. Beliau adalah ibunda Luthfi yang turut bersama kami. Dengan tuturnya yang ramah, beliau mengajak kami berpikir kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Talaga Bodas. Beliau khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika kami memaksakan pergi, karena daerah yang kami tuju adalah hutan alami yang masih dihuni hewan buas. Sebenarnya kami menyadari hal itu, tapi itulah kenyataannya, makin berharga sesuatu, makin besar pula biaya imbangan yang harus direlakan. Akhirnya beriring restu dan doa dari beliau, kami melanjutkan perjalanan.

Tabir petang semakin menutup benderang langit, butiran terang mulai bertaburan di hamparan hitam atap bumi, senandung kemenangan pun mulai bersahutan. Kami berhenti sejenak di sebuah istana kedamaian untuk shalat sembari membasuh lelah. Dalam temaram cahaya maghrib, Budpi yang pernah berkunjung ke Talaga Bodas menunjuk sebuah bukit nun jauh disana, di seberang hamparan sawah, di bawah teduhnya langit yang teduh, di belakang sanalah garis finish kami. Sambil berpapasan dengan beberapa anak kecil yang berangkat mengaji, kami terus meniti jalan desa yang tetap menanjak, hingga kami memilih berjalan di pematang perkebunan jagung untuk memperpendek lintasan tempuh. Di tengah titian kami di tengah perkebunan, terdengar suara desis yang diiringi taburan gerimis. Kami kaget sekaligus bingung karena hujan akan menghambat perjalanan, dan kami tak mungkin mendirikan tenda di bawah hujan. Beberapa langkah berikutnya, butiran kecil yang semula membasahi kepala mulai berhenti menghujam. Alhamdulillah, ternyata suara desis dan gerimis itu adalah pipa irigasi yang bocor dan menyemburkan titik-titik air. Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami tiba di perkampungan terakhir sebelum kami menembus hutan. Seorang warga mengajak kami untuk bermalam di rumahnya, karena talaga memang masih jauh. Setelah demikian panjang jalan yang kami susur, ternyata tak setengah perjalanan pun telah kami tempuh. Indahnya panorama malam pegunungan memaksa kami menolak ajakan itu. Di bawah hamburan pesona dewi malam, kami kembali meniti jalan berbatu menuju bukit di seberang sana.

Derai canda tawa terasa menghangatkan dinginnya malam. Setelah tiba di sebuah jalur lurus, komando Budpi mengarah kami belok ke kiri, menembus semak yang menutupi sebuah parit kering. Ega yang semula berjalan di depan, mundur dan mempersilahkan yang lebih berani untuk berjalan di depan, Budpi pun harus bertanggung jawab atas usulannya, ia berjalan menuntun kami menerobos sebuah perkebunan. Tubuh kami mulai menabrak lebat belukar. Wajahku terus menunduk, selain untuk menghindari ranting, akupun tak mau mataku menangkap figur yang bisa memacu adrenalin. Nikmatnya bumbu petualangan kami tak berhenti sampai di situ. Setelah lolos dari jeratan semak belukar, kami berjalan di sebuah daerah menurun yang diapit tebing dan jurang. Di tengah segarnya udara malam yang mengembun, aku mencium semerbak wangi bunga kenanga yang menonjok ulu hati. Aku tak berkomentar, yang lain pun tak ada yang buka mulut. Aku berusaha menghibur diri bahwa di samping kami memang tumbuh bunga itu, tapi fantasiku berkata lain, tampak sesosok wanita yang tidak kukenal, bersama gaun putih dan rambut yang terurai hingga menutupi wajah, dengan semerbak parfumnya yang menyengat sedang mengikutiku, tepat di belakangku, dan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari pundakku, hingga hembus nafasnya membuat otot rambutku berkontraksi beriringan dari pundak sampai pipi. Aku menunduk dan mempercepat langkah, tak ada suara lain selain derap langkah. Aku yakin temanku yang lain juga merasakan yang kurasakan. Setelah beberapa langkah, semilir itu pun pudar dan menghilang bersama hembus angin. Saat kembali nanti, akan kupastikan bahwa disana memang mekar bunga kenanga.

Langkahku semakin terasa berat. Setelah melewati turunan yang harum, kami kembali meniti jalan meninggi yang seakan tak berpuncak. Di kiri kami, di bawah sana terhampar peta cahaya yang anggun. Di belakang kami, di hadapan tangga menuju langit, berdiri megah sebuah bukit. Bukit itulah yang telah kami lewati. Otot betisku seakan ditarik ke arah berlawanan, rasanya aku tak mampu menyertai teman-temanku lagi. Aku pun ambruk setelah kakiku kram. Emen memijit kakiku hingga ototnya tak tegang kembali. Aku tak percaya tindakanku bisa senekat ini, pikirku ingin kami mendirikan tenda di sana saja, tapi aku tak boleh menyerah pada godaan rasa lelah. Kesempatan beristirahat adalah salah satu kemudahan yang kami dapat dalam kesulitan menjangkau kebersamaan yang indah di garis finish.

Ujung jalan mendaki mulai terlihat, namun kami terkejut setelah sadar bahwa dibalik puncak pendakian, di bawah kanopi pohon-pohon raksasa, tepat di jalur lurus yang harus kami lewati, melintang sebuah batang raksasa berdiameter tak kurang dari 3 meter yang menutupi jalan. Tak mungkin kami kembali untuk mendirikan tenda di jalan, tak mungkin pula kami bermalam di hutan gelap yang rawan hewan buas itu. Kami beranjak mendekat ke arah pohon itu. Syukurlah, ternyata tak sepenuhnya jalan tertutup. Batang pohon itu menyisakan ruang dibawahnya sehingga kami bisa lewat melalui terowongan beratap pohon tumbang. Terowongan itu seakan gerbang menuju kegelapan. Setelah melewatinya, euforia langit malam tertutup atap hutan. Dengan bermodal senter, kami terus melaju menembus hitam. Masih di tengah belantara, kami beristirahat sambil melepas dahaga. Dari arah depan, kulihat dua titik cahaya hijau berjarak beberapa sentimeter bergerak ke arah kami. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika itu adalah kilau sepasang mata macan kumbang yang lapar. Beberapa saat kemudian kedua sinar itu menjauh satu sama lain. Ternyata itu kunang-kunang. Rasa takut yang semula mampir berubah menjadi takjub. Maka aku sadar betapa cerobohnya orang yang terlalu dini menilai sesuatu yang ia rasa buruk akan selamanya buruk.

Langkah demi langkah terus berlalu, tepat di hadapan jalan lurus yang kami injak terlihat hamburan biru cahaya rembulan. Sang penjaga malam terlihat senang dapat kembali melihat kami dari atas sana, akhirnya kami tiba di sebuah lapangan luas. Di depan kami, di bawah hujan cahaya langit malam, tampak hamparan luas genangan tenang. Hembus angin malam turut berbisik lirih, selamat datang di Talaga Bodas.

Setelah merebah di atas kerikil kecil tepi danau, kami beranjak menuju tempat lain untuk mendirikan tenda. Kami pun tiba di sisi lain tepi danau, di samping sebuah kolam yang airnya terlihat mengepul, di bawah sebuah pohon, kami menancapkan pancuh-pancuh tenda. Di batang pohon yang menempel ke tebing itu terdapat papan bertuliskan larangan untuk mendirikan tenda di bawahnya. Di bawah pohon itu, di dinding tebing, tampak menganga sebuah lubang berdiameter sekitar satu meter. Kami langgar larangan itu karena daerah itu nyaman dan strategis. Kami pun membagi tugas, sementara sebagian mendirikan tenda, yang lain memasak mie. Setelah tenda berdiri dan perut terisi, kami beranjak tidur. Sebelum kami terlelap, aku mengusulkan agar esok pagi kami langsung pulang saja, aku takut kekhawatiran yang ibu Luthfi rasakan, yang juga ibuku rasakan akan terjadi.

Semburat rona fajar mulai mengembang di tepi timur. Dingin pagi mengiringi segarnya udara yang kuhirup. Hamparan putih yang mengepul di depan tenda kami memaksaku menelan ludah sendiri. Kucabut pernyataanku untuk pulang Kamis itu, Talaga Bodas terlalu indah untuk segera ditinggalkan. Setelah larut dalam kontemplasi ibadah subuh, kami memanjakan diri dalam kesegaran berlatar alam dengan merendam diri di kolam air panas tepat di samping tenda kami. Setelah menemukan sumber mata air, kami menyantap sarapan pagi. Awan yang beriring berlatar biru cerah menggoda kami menyusuri tepian danau. Bagian utara danau dihiasi daerah berbatu. Di sana kami menjumpai air berwarna cokelat keruh yang meletup-letup. Jejak langkah kami membekas di pasir pinggir danau, berdampingan dengan jejak kaki babi hutan. Danau itu memang layak bernama Talaga Bodas, air di bagian tengah berwarna putih mengepul. Ternyata kepulan itu bukan berarti airnya panas. Saat kusentuh ternyata air danau itu sedingin embun. Perhatian kami kemudian tertuju pada suara aneh dari arah barat yang akan kami tuju. Itu suara babi hutan. Langkah kami sempat terasa berat, kami khawatir saat melewati suara itu, ada babi hutan yang marah. Akhirnya kami memberanikan diri melintasi sumber suara. Tak ada apa-apa, langkah kami kemudian menuntun ke sebuah sungai kecil di samping titik awal kedatangan kami tadi malam. Dari sana terlihat tenda kami yang dijaga Alferz, Andris dan Ega. Setelah puas memanjakan mata, kami kembali ke tenda.

Sebentar lagi waktu dzuhur tiba, Emen mengajakku mengambil air wudhu untuk kemudian mengaji bersama. Setelah shalat, kami menyantap makan siang bersama yang lain. Sambil menemani matahari, kami bernyanyi diselingi canda tawa. Tak terasa sang bola api raksasa mulai berpamitan. Dari kejauhan terdengar suara raungan mesin motor yang mendekat. Rombongan beranggota belasan orang itu kemudian mendirikan tenda beberapa meter di samping tenda kami. Ternyata mereka adalah tetangga Dinar, dengan mudah komunikasi antara kami pun langsung terjalin. Sambil membantu membuat api unggun, salah satu dari mereka mengingatkan kami untuk tidak terlalu gaduh, karena di atas sana ada sebuah kuburan. Kami tersentak, tak percaya pada kenyataan bahwa di tempat dengan akses sesulit itu masih bisa ditemui kuburan. Dia juga berkata bahwa daerah berbatu di pinggir danau adalah daerah pusat magnet, maka wajar jika tak ada sedikitpun sinyal yang menyentuh daerah itu.

Malam kembali memainkan gilirannya, rombongan tetangga Dinar sudah berangkat ke kuburan untuk berziarah. Malam Jumat itu api unggun malu berpijar terang. Setelah menyantap makan malam dan mengaji bersama, kami menanti kantuk dengan mengobrol di dalam tenda. Setelah cukup lelap tertidur, aku terbangunkan suara shalawat dari tenda tetangga kami, kelopak mataku masih terasa berat, alam mimpi masih butuh kehadiranku. Setelah beberapa saat terlelap kembali, aku kembali terjaga oleh gaduh di sekitar tenda kami. Rombongan peziarah itu terdengar sedang mandi di tengah dinginnya selimut malam, aku tak peduli dan tidur kembali.

Pagi itu warna langit masih biru suram. Rombongan pengendara motor pamitan untuk pulang lebih awal. Kami pun segera berkemas untuk segera menyusun bab akhir perjalanan itu. Sebelum pulang, aku dan Budpi merekomendasikan untuk melewati tepi danau yang kemarin kami susur. Entah apa alasan mereka, ternyata yang setuju untuk melalui jalur itu hanya kami berdua, akhirnya kami ikut suara terbanyak. Setelah berucap doa, kami meninggalkan Talaga Bodas. Mentari mengamati langkah kami dari balik rindangnya pohon hutan. Sebuah pesona menggoda kami dari atas tebing sana. Saat itu memang bukan musim berbunga, tapi disana kami menemukan bunga edelweiss. Bunga itu masih putih dan segar, sayang jumlahnya tak banyak. Dinar memberanikan diri menaiki tebing dan memetiknya. Rencananya bunga itu akan ia berikan pada Astika, hanya untuk Astika, teman sekelas kami yang sangat ia sukai.

Langkah kami lebih ringan dibanding saat perjalanan menuju Talaga. Selain jalan yang menurun, saat pulang mata kami pun dihibur oleh luasnya langit yang sebenarnya kecil di hadapan Sang Mahabesar. Budpi kembali membelokkan kami ke arah hutan, katanya itu jalan pintas. Budpi memang lebih tahu tentang hutan daripada yang lain. Selain pernah beberapa kali mengunjungi Talaga Bodas, ia juga salah satu anggota PASKA 91, organisasi pecinta alam di sekolah kami. Kami menembus semak belukar hutan pinus. Alferz terus mengingatkan bahaya lubang yang tidak terlihat, meski sebenarnya dialah yang harus sering diingatkan, karena justru Nasution muda itulah yang lebih sering terperosok. Di tengah perjalanan dalam hutan pinus itu Budpi menginstruksikan untuk berbalik arah. Kami mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Budpi. Akhirnya ia mengaku sedang menjadikan kami tikus percobaan untuk mencari jalan pintas. Suasana sempat menegang, ia memperingatkan kami untuk tak banyak bicara. Hutan memang misterius, sekali kita mengatakan bahwa kita tersesat, maka kita akan benar-benar tersesat, dan kakak Budpi yang juga anggota PASKA sempat mengalaminya. Saat itu anggota PASKA menyusuri rimba diiringi yel yang biasa mereka nyanyikan. Dalam yel itu ada kata yang mereka ganti dengan kata “bagong” (babi hutan). Akhirnya mereka sempat tersesat, terus berjalan tanpa tentu arah tujuan, layaknya babi hutan yang lari tak tentu arah. Syukurlah akhirnya mereka selamat. Tanpa banyak mulut, kami terus menuruni hutan, berharap segera kembali ke jalan besar. Budpi meyakinkan bahwa kami pasti tak akan tersesat dan kami tak boleh panik. Kami pun menghibur diri dengan berfoto dan bercanda-canda. “Take it easy and everything will be OK”, pepatah itu memang tak perlu disangsikan lagi keampuhannya. Kami kembali ke jalan utama tanpa kurang sehelai mahkota edelweiss pun. Aku kembali teringat wangi bunga yang tercium saat kami berangkat. Saat kutanyakan pada yang lain, ternyata mereka pun menciumnya. Kami sepakat akan memastikan bersama bahwa disana memang ada bunga.

Selang beberapa meter setelah keluar dari jalan pintas, di belakang kami melaju sebuah truk pasir ke arah yang kami tuju. Tanpa pikir panjang tangan kami melambai, truk pun berhenti mempersilahkan kami naik. Di situlah salah satu momen yang indah, kami bergoyang kesana-kemari di dalam bak truk dengan diiringi tawa, layaknya balerina yang sedang beraksi. Bukan, bukan musik yang menuntun gerakan kami, tapi jalan yang dilalui truk itu memang berbatu, kami pun terombang-ambing di dalamnya. Tak lama lagi daerah tempat kami mencium wangi bunga akan terlewati. Kami bersiap untuk mencari bunga yang biasa dipakai di acara pemakaman itu dari atas truk. Aku masih ingat, bau itu tercium sebelum kami berbelok di hadapan sebuah tebing yang diatasnya tertancap papan bertuliskan bahwa daerah itu adalah hutan lindung. Ya, disinilah tempatnya. Hasil pengamatan kami ternyata tak begitu mengecewakan, tapi menyedihkan. Tak ada satupun bunga kenanga di sana, kami hanya melihat belukar homogen yang berjejer bisu. Berarti, wangi itu berasal dari... sudahlah, lupakan masalah parfum.

Kami mulai menjumpai petani yang sedang menghadapkan punggungnya ke langit, mereka tampak loyal menjalankan tugasnya sebagai khalifah muka bumi. Dengan lantang kami melontarkan salam ke arah mereka. Mendengarnya, kening basah itu mengerut menghadap sumber suara. Tentu saja kami tak mengenali mereka, tapi kegilaan itu cukup membantu mengobati rasa kecewa kami karena tak berhasil menemukan bunga kenanga. Beriring deru mesin diesel, kami menikmati bukit hijau terjal di jalan yang tidak kami lalui. Di malam keberangkatan, jalan itu tidak kami lalui karena kami menerobos kebun. Kami tertegun menyaksikan satu lagi kejutan perjalanan kami. Di sana kami melihat sekuntum mawar yang mekar klimaks. Ia tampak setia bertengger di samping sebuah kuburan. Sebuah pusara yang ditemani satu mawar merah yang merekah megah, sebuah kombinasi absurd di tempat seperti itu. Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika malam itu kami melintasi jalan itu. Jalan desa semakin ramai, kami memasuki perkampungan yang sedang sibuk mengisi hari. Sekitar pukul 10 kami tiba di depan di depan mesjid agung Wanaraja. Setelah berterima kasih pada pak supir, kami berjalan menuju rumah Dinar untuk mempersiapkan diri menghadiri majelis Jumat.

***

Pagi itu ruang kelas XII IPA 5 hangat dengan topik pembicaraan seputar petualangan ke Talaga Bodas. Budpi sudah menceritakan detil perjalanan kami pada Deni yang juga anggota PASKA. Deni yang lebih berpengalaman dari Budpi mengatakan bahwa ia sendiri tidak berani menyusuri tepi barat danau, apalagi mendekati sarang babi hutan, meskipun ia dibekali senjata. Mulutku menganga mengetahui bahayanya daerah yang telah kami tempuh dengan hanya berbekal sebotol air minum. Berita dari Dinar tak kalah mengejutkan. Tetangga Dinar, salah satu anggota rombongan peziarah yang di malam kedua itu belum terlelap, bersaksi bahwa ia melihat beberapa ekor babi hutan di sekitar tenda kami. Mulutku terbuka lebih lebar, ternyata larangan mendirikan tenda itu bukan tanpa alasan. Mungkin lubang di bawah pohon itu adalah pintu rumah keluarga babi hutan. Meski tak kecil resiko yang harus kami hadapi, inginku sesekali kembali mencicipi megahnya romantika bahaya alam bersama mereka, teman sekelasku selama 3 tahun di SMA. (rz)









film horor itu ibarat sambal


Saintis agri, gimana ya rasanya kalo tiap hari, menu dan rasa makanan kita sama, itu2 aja. Pastinya bosen dan ga enak kan. Makanya manusia, secara naluriah selalu mencari variasi dalam banyak hal, biar seimbang, salah satunya di urusan makanan tadi. Yang unik, ada (bahkan banyak) orang yang demen rasa pedas. Pedas kan bikin panas lidah, tapi kan rasanya gimana gitu kalo makan lalap tanpa sambel, ato pecel tanpa rasa pedes2.

Nah, sekarang gimana rasanya kalo tiap kali nonton film, jenis film yang kita tonton, itu2 aja, kan bosen juga. Maka dari itu, sebagai manusia normal, gw cari variasi jenis tontonan buat hobi gw yg satu ini, nonton. Dan variasi yg gw maksud adalah, nonton film horor. Jumat siang, gw nonton sebuah film Thailand. Anjrit emang Thailand jago banget bikin film horor. Beberapa saat sebelum nonton film ini, film paling serem yang pernah gw tonton adalah The Shutter, tentu saja Shutter yg gw maksud itu yg versi asli (bikinan Thailand), soalnya film itu ada dua versi, versi barat sama versi Asia Tenggara, dan gw udah nonton dua2nya, dan tentu saja versi original lebih najong, mangstab gan. The Shutter, meskipun gw tonton rame2 (waktu itu SMA, gw + temen2 sekelas nonton di rumah Cheetonk) denyut2 horornya kurang lebih setara sama nonton sendiri.

Ternyata film yg gw tonton siang tadi adalah film yg juga diotaki pembuat The Shutter, judulnya 4BIA. Di dalam film itu ada 4 kisah berbeda. Cerita pertama, tentang SMS-an. Menurut gw, cerita ini paling serem dari yang lainnya. Hikmahnya, hati2 sama temen SMS-an kita, pastikan dia masih hidup yah. Cerita kedua, tentang kenakalan remaja. Lumayan bagus, cerita ini dapet nilai paling kecil dari tiga lainnya, tapi bukan berarti jelek. Tetep serem, tapi cerita ini terlalu memaksakan diri sama visual efek yang belum terlalu canggih, jadi beda rasa. Dari cerita ini, gw dapet pelajaran bahwa kita ga boleh jahat sama yang lemah, sungai dangkal bukan berarti ga berbuaya yah, waspadalah, waspadalah! Cerita ketiga ini juga bagus, ada bumbu komedinya. Di subfilm yang satu ini, dikisahkan ada 4 orang remaja yang pergi camping buat maen arung jeram, intinya mereka gugur di medan jeram. Gw jadi inget pengalaman unforgetable camping waktu SMA, dokumentasinya ada di posting yang judulnya Mendaki Langit. Bumbu komedi yang gw maksud tadi contohnya pas mereka ngobrol tentang film, joke-nya bagus, film The Shutter juga sempet dibahas. Trus gw ngakak pas mereka kabur dari tenda, riweuh. Setelah nonton kisah ini, gw jadi pengen nonton film Sixth Sense sama The Others (bukti bahwa film horor itu bagaikan sambal). Pelajaran yang gw ambil dari cerita ini adalah (maaf teman2 ikk) jangan dulu pergi camping kalo masih kebayang film ini.haha, padahal gw+temen2 sekelas sebentar lagi mau pergi camping, tapi setelah nonton yang ini, gw jadi mikir2 lagi.haha, tapi pasti jadi kok, insya Allah, masalah kapan, nanti kita atur yah, setelah gw agak lupa sama film ini.

Dan pemirsa, inilah cerita terseram nomor 2 di film ini, tapi efeknya ke kondisi psikis pasca nonton layak jadi nomer 1. Ceritanya, ada seorang pramugari yg bertugas khusus di pesawat pribadi seorang putri kerajaan dari republik lain. Dia terpaksa harus bertugas sendiri soalnya partnernya buat tugas itu adenya meninggal pas lagi camping (di cerita 3). Selama penerbangan itu, si putri manja+jutek bgt. Pas disodorin makanan, dia malah nolak, pengen makan jatah si pramugari. Akhirnya dikasihlah tu makanan, tapi disana ada udang, padahal si putri alergi udang. Sama tu pramugari, udangnya dibuang dulu, trus dikasihlah ke putri. Pas putri makan, ternyata dia muntah2. Sementara si putri ke WC, pramugari malah liatin foto si putri yg lagi selingkuh yang ada di bangku putri. Ternyata, putri itu ada di belakangnya. Si putri marah doang, makin jutek. Setelah turun dari pesawat, beberapa jam kemudian, putri itu dilaporkan meninggal, tapi penyebabnya belum ada yang tau. Jenazah sang putri, mau dikirim lagi ke negaranya pake pesawat. Karena dia putri, dan ga boleh disimpen di cargo, jadi tu mayat disimpen di bangku penumpang. Dan karena ga ada pramugari lain, pramugari yang tadi, ditugaskan jagain mayat putri, sendirian. Nah, disitulah teror dimulai. Awalnya gw pesimis, cerita ini kayaknya garing, tapi setelah putri jadi mayat, rasa sambal yang sebenarnya mulai kerasa. Bahkan, bayang2 kengeriannya kebayang sampe malem pas gw mau tidur,hiiii. Endingnya, pas nyampe di bandara, mayat yang ada di pesawat jadi ada 2. Si pramugari ditemukan tak bernyawa dengan posisi bersujud di hadapan mayat putri dan kepala tu pramugari terputar 1800, damn. Hikmah dari cerita itu adalah, gw ga mau jadi pramugari, mau dibayar berapapun, di pesawat apapun, pilotnya siapapun, makanannya apapun, minumnya apapun, tetep gw ga mau (dan tentu saja ga akan) jadi pramugari.titik.

Film horor itu, kalo ibaratnya makanan, kayak sambel. Pengen nonton, tapi pas ada yang serem2 malah tutup mata, kalo gitu mending ga usah nonton sekalian, ya ga. Sambel juga begitu, meskipun udah keringatan, kepedesan, kadang tetep aja sambelnya dicolek lagi.ckckck. sebenernya gw jadi pengen nonton lagi film “alone”, masih horor, tentang kembar siam yang dipisah, 1 hidup, satu mati. Nah yg mati ternyata ngikutin yg hidup terus, sebagai hantu tentunya, kan udah mati. Tapi gw ga mau nonton sendirian lagi. Hey, gw bukan penakut ya, emang gw cowo apaan, gw Cuma lebih antisipatif sama berbagai kemungkinan yg ada, itu aja. (halah, sieun mah sieun we, ngomong.haha)