Tampilkan postingan dengan label wartawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wartawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2014

Surat Buat Adik-Adik Siswa SDN 9 Semende Darat Ulu

Ini isi surat yang saya kirim: foto dokumentasi liputan (dilengkapi deskripsi foto di belakangnya), kartu pos biar mereka bisa kirim balasan, dan tentu saja surat yang isinya kisah tentang kehidupan seorang wartawan
Seorang pengajar muda berinisiatif membangkitkan motivasi anak didiknya untuk banyak bercita-cita dan berani bermimpi melalui kisah yang dialami orang-orang dari berbagai macam profesi. Saya tertarik untuk berbagi. Berikut terlampir isi surat yang saya kirim dan publikasi dari sang pencetus ide, barangkali kamu tertarik gabung. Deadline nya masih lama, akhir September. Mari buka mata mereka, adik-adik kita!



Lampiran 1

Halo adik-adik,

Semoga saat membaca surat ini, suasana hati adik-adik semua sedang bahagia. Kakak juga senang sekali bisa menyurati kalian di Bumi Sriwijaya saya. Adik-adik yang manis, kenalkan nama kakak Rheza Ardiansyah. Kakak sehari-hari berprofesi sebagai wartawan. Kalian tahu apa itu wartawan? Kalau tidak ada wartawan, mungkin kalian tidak akan tahu kalau kita akan punya presiden baru. Atau kalau tidak ada wartawan, teman-teman kita di seluruh Indonesia mungkin tidak akan tahu sebuah tempat bernama Desa Danau Gerak di Kabupaten Muara Enim. Betul, wartawan itu orang yang kerjanya memberitahukan sesuatu. Kami setiap hari membuat berita. Informasi yang kalian baca di koran, kalian dengar di radio, atau kalian tonton di TV, itu buatan kami. Adik-adik tahukah kalian? Jadi wartawan itu menyenangkan loh. Sini kakak ceritakan.


    Adik-adik siswa SDN 9 Semende Darat yang baik, coba lihat foto yang kakak kirim buat kalian. Itu foto kakak waktu bertugas ke Papua. Ada penjelasan tentang foto itu di belakangnya. Kalian tahu di mana Papua? Tempatnya ada di timur. Di ujung Indonesia kita. Kalau kalian ke sana menggunakan pesawat terbang dari Jakarta, lama perjalanannya bisa sampai 6 jam. Kalau pake kapal laut, bisa berhari-hari, bahkan mungkin seminggu lebih. Papua itu indah sekali. Orang-orang di sana berbeda dengan yang ada di Desa Danau Gerak. Kebanyakan orang Papua berkulit gelap, rambutnya menggumpal tebal. Mereka juga baik hati. Kalau adik-adik mengenal suku melayu di tanah Sriwijaya yang kalian tempati, maka di Papua sana sukunya ada bermacam-macam. Bayangkan, antar kampung di Papua sana sukunya sudah beda, dan bahasanya juga sudah lain lagi. Makanya Bahasa Indonesia sangat penting karena dengan bahasa itulah orang Papua saling mengerti. Hayo, nilai pelajaran Bahasa Indonesia kalian gimana? Bagus kan?


    Adik-adikku yang manis, sewaktu bertugas ke Papua, kakak pergi ke sebuah tempat bernama Kabupaten Puncak. Letaknya di tengah pulau Papua. Kita cuma bisa ke sana setelah menaiki pesawat berkapasitas tak lebih dari 10 orang dari bandara Mozes Kilangin di Timika. Itu pun setelah melewati hutan belantara yang luaaaaas sekali. Coba kakak tanya, berapa harga bensin satu liter di Desa Danau Gerak? Enam ribu lima ratus? Lebih dari sepuluh ribu? Kalau di Kabupaten Puncak, satu liter bensin harus kamu beli dengan uang 50 ribu rupiah. Mahal sekali kan. Itu karena bensin tadi harus diangkut dengan pesawat yang ongkos kirimnya juga mahal. Di kawasan pegunungan tengah Papua sana jalan darat memang belum ada. Itu salah satunya karena daerahnya bergunung-gunung dan susah dibangun. Pemerintah Kabupaten Puncak ingin buat kereta gantung agar memudahkan kita kalau mau berkunjung ke sana. Nah tugas kakak sebagai wartawan, adalah mengabarkan kondisi itu kepada masyarakat, lalu mencarikan informasi tentang apa yang kira-kira bisa memecahkan masalah terasingnya Kabupaten itu. Kakak juga harus mengingatkan pemerintah agar memperhatikan wilayah seperti Kabupaten Puncak.


    Nah, jika kalian menjadi wartawan, kurang lebih hal seperti itu yang akan dilakukan. Tugas utama wartawan itu selain memberikan informasi, juga mengawasi pemerintah agar mereka bekerja dengan baik. Contohnya begini. Beberapa waktu lalu ada seorang hakim yang menerima uang milyaran rupiah dari seorang pemimpin daerah. Itu tidak boleh dilakukan karena putusannya menjadi tidak adil, dan kita sebagai masyarakat akan dirugikan. Wartawan juga akan galak kepada setiap pelanggaran aturan. Misalnya: kita kan sebagai warga negara yang baik harus bayar pajak ke negara. Nah ada perusahaan yang tidak bayar pajak sampai nilainya trilyunan rupiah. Seorang wartawan mengabarkan kenakalan itu sehingga si perusahaan hingga kini terus dituntut untuk membayar kewajibannya. Karena kan uang pajak itu untuk pembangunan kita juga.


    Adik-adikku sekalian, coba kakak mau tanya. Siapa pahlawan super jagoan kalian? Superman? Batman? Spiderman? Power rangers? Aksi mereka itu mirip dengan apa yang dilakukan wartawan. Kalau para super hero tadi membasmi kejahatan dengan kekuatan super mereka, kalau wartawan membasminya dengan memberitakan. Agar nantinya para penegak hukum kita dan masyarakat, langsung bertindak menghentikan pelanggaran. Makanya, wartawan itu juga harus jadi orang baik. Nah kalau adik-adik tertarik buat jadi wartawan, biasakan jujur sejak sekarang. Patuhilah aturan yang sudah disepakati. Kalau kata ibu guru harus mengerjakan tugas sendiri, kerjakanlah secara mandiri. Kalau kata ayah atau ibumu kamu harus bantu mereka, lakukan dengan senang hati. Ingat ya, semua harus dilakukan dengan senang hati dan menyenangkan yang lain. Dengan begitu, jadi apa pun kalian nanti, akan terasa nyaman. Menurut kakak, yang perlu adik-adik lakukan sekarang cuma satu: lakukan apa pun hal baik yang belum kalian lakukan. Bernyanyilah selantang mungkin. Berlarilah secepat kalian bisa. Cetaklah gol sebanyak mungkin. Cari tahu apa yang membuat kalian penasaran. Katakan apa pun yang kalian rasakan. Tulislah buku harian. Jauhkan rasa malu. Tertawakan diri sendiri. Dari sana, kalian nantinya akan menemukan satu pilihan yang paling disukai. Kalian akan berkata ke diri kalian sendiri bahwa itulah bidang yang akan kalian dalami. Dari situlah kalian akan berguna lagi untuk orang-orang di sekitar.


    Surat kakak kepanjangan gak? Hehe. Sekian dulu obrolan kita kali ini ya. Senang sekali kakak bisa menyapa kalian di sana. Semoga suatu hari nanti kita benar-benar bertemu secara langsung. Semoga surat ini bermanfaat. Semoga cita-cita kalian selalu tercapai. Salam hangat dari kakak. Sampai jumpa.

Jakarta, 27 Agustus 2014

Rheza Ardiansyah
Wartawan Metro TV


Lampiran 2

Salam Indonesia!

Perkenalkan, saya Prawinda Putri Anzari, S.Ikom. Pengajar Muda dari Yayasan Indonesia Mengajar untuk penempatan Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan.
Adalah SDN 9 Semende Darat Ulu di Desa Danau Gerak tempat saya mengajar.

Desa ini tepat berada di lereng bukit barisan dengan cuaca yang sangat dingin dan akses jalan yang lumayan sulit. Listrik hanya berasal dari turbin arus sungai dari sore hingga pagi.

Di sekolah kami terdapat sekitar 170 murid. Mayoritas penghasilan penduduk dusun adalah berkebun kopi dan sawah.

Hal ini membuat anak-anak didik kami hanya memiliki satu tujuan saat besar nanti, yaitu melanjutkan mengurus kebun orang tuanya.
Padahal murid-murid disini sangat bersemangat untuk belajar dan mengenal hal maupun dunia baru.

Saya mengajak kakak-kakak semua untuk menuliskan surat semangat kepada mereka. Surat tersebut dapat berisi apa profesi kalian, atau kalian kuliah di jurusan apa.

Akan lebih baik apabila melampirkan foto yang menunjukkan profesi yang kalian jalani. Beri mereka motivasi dan pengetahuan baru untuk mengejar cita-cita yang lebih baik.

Surat dapat dikirimkan ke:
PO BOX 1113 Kantor Pos Muara Enim Sumatra Selatan 31300

Kami tunggu surat kalian semua hingga 15 september((Mengingat akses sulit ke kabupaten, saya baru dapat turun bukit 1-1,5 bulan sekali. Jadi diharapkan ketepatan waktu untuk pengiriman ^^)
Untuk info lebih detail, contact di 081289037828

Terima kasih... Dan mohon bantuan sebarkan ajakan ini. Supaya senyum mereka tetap menghiasi bumi sriwijaya :)

#repath berantai

Jumat, 27 September 2013

Naskah Hidup Seorang Reporter


Reporter itu mata, telinga dan hati sebuah stasiun televisi. Demikian kata seorang senior saya dari TV elang biru. Melalui indera dan interpretasinya, tiap reporter tentu punya impresi tersendiri soal berbagai peliputan yang ia kerjakan. Bagaimana jadinya jika rangkuman memori itu dirangkum dalam buku? Maka salah satu jawabannya adalah sebuah paket tulisan bertitel Reporter And The City.


Reporter And The City merupakan buah pemikiran Noni Wibisono, wartawan Trans TV. Buku berbilangan halaman lebih dari 200 ini dirilis tahun 2009. Di dalamnya ada campuran kisah konyol, beruntung, miris, bahkan mencengangkan. Sebelas bab disusun Noni dalam buku ini. Kisahnya dimulai dari pengalaman melaporkan siaran langsung pemboman hotel Ritz Carlton di Kuningan Jakarta pada September 2004. Saat itu ia melaporkan melalui hubungan telepon. Noni juga mengakui sebuah kebohongan kecil yang dilakukannya saat melakukan reportase.

Dalam tugas peliputannya, Noni dihadapkan dalam berbagai jenis medan kejadian. Ia menceritakan fenomena pencurian bahan bakar minyak di sebuah wilayah di ibu kota. Pengalamannya bertugas di jam malam juga tak alpa dibeberkan. Potret kehidupan kaum marjinal juga digambarkan dalam sebuah bab. Pelaporan ketika meliput tsunami di Aceh juga menambah campuran kesan setelah membaca buku terbitan Gagas Media ini. Dari Aceh, Noni mengajak pembaca ke Jakarta lagi ketika banjir merendam ibu kota pada 2007. Lalu kita diajak menyepi di Bali saat orang-orang disana sedang nyepi. Kehidupan sunyi di Bali kemudian berganti menjadi malam dingin di Puncak Bogor bersama para PSK. Yang paling jauh, Noni mengisahkan peliputannya di Uzbekistan.

Tak hanya realita yang ia temui di lapangan, Noni juga curhat soal kehidupan di newsroom-nya. Dalam menjalani profesinya, Noni ditantang untuk membuktikan diri bahwa ia berseragam Trans TV bukan karena nepotisme. Hal privat lain yang juga ia bagi, adalah kehidupan asmaranya. Menjadi seorang wartawan nyatanya memang punya tantangan tersendiri dalam hal satu ini. Wanita kelahiran Lampung yang mengawali karir jurnalistik sebagai penyiar radio di Bandung ini harus mengakhiri hubungan dengan pacarnya, bahkan rencana pernikahannya yang sudah di depan mata, harus batal karena sebuah tugas liputan. Meski demikian, Noni menutup rangkuman kisahnya dengan sebuah konklusi menggembirakan. Tanpa disadari sebelumnya, ia merasa seperti Tuhan telah menuliskan naskah indah tentang hidupnya. Kini Noni bersuamikan seorang diplomat. Bekalnya untuk menjadi istri diplomat dipetik dari liputan luar negeri yang ia pilih ketimbang menikah dengan pacarnya dulu. Inilah hal menarik lain dari Reporter And The City. Selain membeberkan fakta-fakta menarik ketika penulis melakukan peliputan, ia juga memaparkan drama kehidupan penggubahnya.

Rabu, 25 September 2013

Kisah Jurnalis Dalam Jurnalis Berkisah


Saya sempat menyesal saat pertama beli buku ini, meskipun harga yang harus saya bayar lebih murah. Jurnalis Berkisah saya temui di sebuah bazaar buku. Bersama dua buku lainnya, ia jadi buku pertama yang saya sikat. Penyesalan saya terbit dari daftar pustaka yang banyak berupa alamat situs internet. Saya pikir, kalau buku ini cuma mindahin data dari internet, mending saya browsing sendiri. Ternyata, setelah saya lahap kata demi kata, makna demi makna. Sadarlah saya bahwa ini memang buku yang saya butuhkan. Ini buku yang sangat tepat dibaca wartawan, atau orang yang tertarik dengan apa dan bagaimana profesi itu dijalani.


Dalam sesi prolognya, Yus Ariyanto sang penulis, memperkenalkan buku ini sebagai ikhtiar menghidupkan kembali buku Jagat Wartawan Indonesia. Jagat Wartawan Indonesia ditulis Soebagijo I. N., seorang wartawan yang pensiun sebagai Kepala Perpustakaan dan Dokumentasi LKBN Antara. Buku yang ditulisnya tahun 1981 itu berisi kisah tentang "leluhur" kaum wartawan Indonesia. Ada 111 wartawan yang biografinya ia tuliskan. Sadar akan absennya buku serupa di era kini, Yus Ariyanto yang berkarya sebagai wartawan di liputan6.com SCTV, menghimpun sepuluh kisah wartawan dalam buku yang kemudian ia juduli Jurnalis Berkisah. Dalam buku ini ia memilah sepuluh jurnalis yang setidaknya telah berkiprah selama sepuluh di dunia jurnalistik. Mereka dikenal dengan kisah, gaya, dan ciri khas tersendiri yang inspiratif.

Deretan sepuluh wartawan yang dikenalkan Yus berawal dari Najwa Shihab, wartawan peraih gelar Young Global Leader. Wartawan infotainment idealis Telni Rusmitantri kemudian menyusul dikisahkan. Tahukah kamu bahwa seorang wartawan pernah terlibat langsung dalam sebuah kasus pengemplangan pajak? Bukan, perannya bukan sebagai seorang antagonis. Ia pernah mengamankan saksi kunci kasus ini, demi tuntasnya penyelesaian kasus. Kisah lengkap jurnalis bernama Metta Dharmasaputra itu juga ada di Jurnalis Berkisah.

Seorang jurnalis dengan tulisannya yang ditumpangi ruh pembelaan kaum marjinal juga dikisahkan. Namanya Maria Hartiningsih. Selain itu, kisah Tosca Santoso sang perintis media komunikasi di daerah pelosok juga dituturkan. Cerita soal Tosca saat mendirikan stasiun Kantor Berita Radio (KBR) 68H, juga diselipkan di buku ini. Di Kalimantan, ada seorang wartawan yang bertindak bak ronin, samurai tanpa tuan. Wartawan bernama Muhlis Suhaeri ini menulis sebagai seorang freelancer. Meski ditumpangi berbagai keterbatasan saat peliputan, karya jurnalistiknya mampu menyabet beberapa gelar bergengsi.

Racikan berbahan kecerdikan beradaptasi di situasi sulit, pengetahuan luas, manajemen waktu peliputan tepat yang dipadu keberuntungan, membuat seorang Mauluddin Anwar tuntas dengan tugasnya di daerah konflik. Bahkan, berita eksklusif sukses ia setorkan. Kisahnya kemudian tersaji dalam 12 halaman. Erwin Arnada berjuang demi kebebasan pers, namun kemudian ia menemui batu sandungan hingga pria asal Bali ini sempat mampir di penjara. Ia pun memaparkan kisahnya ke Yus Arianto. Ada seorang wartawan yang karya jurnalistiknya sempat menjadi nominasi Festival Film Indonesia untuk kategori film dokumenter. Wartawan yang satu ini memang jago memproduksi karya dokumenter. Namanya Ramdan Malik. Linda Christanty kemudian menutup deretan kisah jurnalis Indonesia di buku ini. Keturunan ke-8 panglima perang Kerajaan Banten Syekh Yusuf Al-Makassari ini dikenal sebagai wartawan yang juga tak pelit ilmu. Ia mengajar di Aceh dan memicu degup kehidupan jurnalistik di Serambi Mekah.