Tampilkan postingan dengan label bem km ipb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bem km ipb. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Museum Karya Mahasiswa IPB

MUSEUM MAHASISWA IPB
LATAR BELAKANG
                Presiden pertama republik Indonesia menyatakan bahwa jangan sekali-kali kita melupakan sejarah. Petuah yang juga dikenal dengan akronim Jas Merah itu menyiratkan semangat untuk melestarikan masa lalu agar esensi kejadian di dalamnya bisa menjadi titik cerah perbaikan untuk merancang masa depan. Mengingat pentingnya peran sejarah itu, maka perlu dibentuk sebuah wadah nyata yang menampung berbagai karya masa lampau. IPB sebagai universitas besar, tentunya perlu memiliki sebuah diorama yang memperlihatkan betapa kayanya karya mahasiswanya. Dengan pembuatan sebuah museum, inovasi untuk pembentukan karya yang lebih baik akan lebih mudah dilakukan.
TUJUAN
1.       Dibangunnya sebuah ruang yang berfungsi sebagai galeri pameran karya mahasiswa IPB
2.       Melalui ruang museum itu, berbagai karya mahasiswa terdahulu dapat ditelisik ulang sehingga menginspirasi pembuatan karya baru yang lebih inovatif
3.       Memacu mahasiswa IPB untuk berkarya secara produktif dan berkualitas
PERUMUSAN MASALAH
Mahasiswa IPB tidak hanya fokus dalam bidang pertanian saja, namun banyak ranah lain yang menjadi curahan kekayaan berfikirnya. Beberapa produk mahasiswa IPB yang pantas dibanggakan diantaranya adalah film dokumenter Sang Pengumpul Asap yang berhasil meraih gelar finalis kompetisi film dokumenter Eagle Award. Mungkin tak banyak yang telah menyaksikan karya tersebut, padahal dengan mengetahui bentuk karya itu, potensi yang dimiliki seorang kreator bisa ditularkan sehingga memicu pembentukan karya baru.
MUSEUM MAHASISWA IPB
Museum mahasiswa IPB adalah sebuah ruang etalase yang memamerkan berbagai karya mahasiswa/alumni IPB, baik berupa karya seni, maupun karya akademis. Beberapa karya seni yang bisa dijadikan koleksi museum dapat berupa film (dalam bentuk CD), lagu (dalam bentuk CD), lukisan, patung, puisi, novel, sketsa, beserta karya lainnya. Karya akademis yang bisa menjadi koleksi museum tersebut diantaranya adalah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang saat ini teronggok di gudang.
Selain memajang karya seni dan karya intelektual mahasiswa beserta alumni, juga akan diadakan kegiatan apresiasi secara rutin tiap minggu, sehingga seluruh koleksi dalam museum dapat dieksplorasi. Luaran dari kegiatan telisik karya ini adalah terciptanya wujud nyata dari kekayaan berfikir mahasiswa IPB. Pengelolaan museum ini diserahkan kepada BEM KM IPB sebagai rumah bagi seluruh mahasiswa IPB yang bids bekerja sama dengan organisasi lain yang terkait dengan karya yang menjadi koleksi.

KEBUTUHAN TEKNIS
Perangkat yang akan diperlukan dalam proses realisasi program ini adalah:
1.       Ruangan. Student Center IPB baiknya menjadi lokasi pembangunan museum ini dengan memanfaatkan ruangan yang tersedia. Jika ruangan yang dimaksud tidak tersedia, maka pemajangan karya di lobi student center dalam lemari kaca bisa menjadi alternatif sementara ruangan museum diproses.
2.       Lemari etalase. Telah tersedia beberapa lemari yang bisa digunakan untuk tempat penyimpanan karya di Ruang Rapat Kecil Student Center. Lemari tersebut bisa dimaksimalkan untuk memajang seluruh koleksi museum.
3.       Dana untuk mencetak karya dalam bentuk fisik. Membebankan konversi karya ke dalam bentuk fisik kepada kreator akan menghambat lengkapnya koleksi museum karena keterbatasan dana personal mahasiswa (kreator). Oleh karena itu, direktorat kemahasiswaan (atau instansi lain yang terkait) perlu memberi suntikan dana untuk melakukan kalibrasi karya sehingga memungkinkan untuk dipajang dan diapresiasi.
4.       Proyektor. Alat ini berguna untuk digunakan sebagai kelengkapan untuk mengapresiasi karya film atau video klip atau karya lain yang berbentuk digital. Jika alat ini tidak bisa diupayakan, pihak museum bisa meminjam proyektor milik direktorat kemahasiswaan yang pengelolaannya diserahkan kepada DPM KM IPB.
5.       Ruang teater mini. Ruangan ini digunakan untuk mengapresiasi karya digital dan pelaksanaan diskusi karya. Jika ruangan ini tidak bisa diupayakan, museum bisa meminjam ruang sidang SC sehingga kegiatan apresiasi tetap berjalan.
KESIMPULAN
Keberadaan museum ini adalah sebuah kebutuhan yang harus segera direalisasikan agar proses peningkatan kreativitas mahasiswa juga bisa segera dilakukan. BEM KM IPB melalui kementrian kebijakan kampus baiknya menjadi pihak yang menjadi pemegang amanat ini, karena kementrian tersebut memang berfokus pada peningkatan kualitas internal kampus IPB di berbagai bidang.
SARAN
Presiden Mahasiswa IPB sebagai pemimpin badan eksekutif yang melaksanakan program perlu segera merealisasikan program ini. Kesulitan berupa kurangnya tenaga serta sumber daya dapat diatasi dengan mengajak organisasi kemahasiswaan lain untuk berkolaborasi. Mosi bahwa kegiatan ini tidak tercantum dalam rancangan kerja awal organisasi baiknya tidak menjadi batu sandungan. Kendala berupa dana yang biasanya menjadi latar belakang klasik stagnannya penyelenggaraan program bisa diatasi dengan kegiatan penggalangan dana.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Tentang Tempel-Menempel Part 3

Di eksekusi Tentang Tempel-Menempel bagian pertama, saya tidak menemukan sesuatu spesial. Malam itu saya lewat shelter bis Faperta, cabut sana cabut sini, buang ke tempat sampah terdekat, beres. Di eksekusi Tentang Tempel-Menempel kedua ada kejadian unik. Malam itu setelah posting tulisan diatas, saya langsung menuju TKP, tentu buat nyabut publikasi yang saya anggap liar dan bukan pada tempatnya. Pas lagi nyabutin, ada orang yang liatin. Saya samperin dia, perkenalkan diri, dan kasih penjelasan bahwa kalau PEMIRA begini caranya, ga ada perubahan dong dari bangsa kita. Saya langsung ngeloyor pergi setelah bilang "kalau ada yang nanya siapa yang nyabut, bilang gue". Setelah berjalan beberapa langkah, orang yang tadi saya ajak berbincang berujar agak lantang, "gue juga setuju sama lo, PEMIRA ga ngerubah apa-apa!"

Sebenarnya bukan itu maksud saya. PEMIRA mungkin aja merubah sesuatu, tentu setelah perubahannya terencana dan dieksekusi ideal.

Senin, 17 Oktober 2011

Tentang Tempel-Menempel Part 2


Adil adalah menampatkan sesuatu pada tempatnya. kriteria ini tentunya jadi salah satu sifat yang idealnya dimiliki pemimpin kita, calon pemimpin kita, dalam hal ini calon presiden mahasiswa. to the point ya, foto yg saya lampirkan menunjukkan ketidakadilan mahasiswa sama lingkungannya. mahasiswa yang dimaksud bisa jadi panitia pemira atau tim sukses. emang tembok itu buat ditempelin begituan? saya yakin bukan. tapi sudahlah, mari fokus ke solusi. kalo saya yang jadi capresma, saya bakal menginisiasi pembuatan alas tempelan di dinding itu, tentunya setelah izin ke pemilik tembok. biar jelas, disitu ada semcam mading, isinya kampanye capresma.atau kalau mau ngga keliatan oportunis, saya instruksikan tim sukses cabutin itu tempelan liar, terus tempel di tempat yang seharusnya. "tapi itu kan panitia pemira yang nempel, capresma ga salah dong". oke,berarti yang tanggung jawab presma yang lagi aktif menjabat buat beresin soal ini. presma kan bertanggung jawab secara moral atas kondisi kampus/kegiatan mahasiswa yang dia pimpin. yoi ga? intinya dengan ini, saya nantang cepresma buat bikin perubahan, dari hal kecil aja dulu, macem urusan tempel-menempel gini. presma yang aktif tentu saja saya singgung langsung disini,atau umumnya siapapun pihak yang punya kapital buat benerin masalah ini. saya sendiri paling bisa nyabutin kalo nempelnya sembarangan. kalo missalnya ga ada capresma yg berani gerak, buat apa kita repot2 meluangkan waktu ke TPS, ngotorin kelingking kita buat milih orang yang belum tentu menguntungkan mahasiswa, memajukan IPB, memperbaiki atittude bangsa? saya pernah nulis protes tentang topik serupa disini

Minggu, 02 Oktober 2011

Minggu, 05 Juni 2011

Sheila On 7 di Malam Persahabatan IPB






















Duta memperlihatkan penghormatannya atas fenomena yang ia akui sangat indah jika dilihat di panggung. Sayang Duta tidak mengabadikannya dari atas pentas. Saat itu seluruh pengisi gedung Graha Widya Wisuda IPB menyanyikan lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki, lagu yang populer di tahun 1999, tahun yang Duta ragukan audiens lewati dengan karya itu. Namun keraguan Duta tertepis dengan koor menggema seluruh audiens














foto diatas memperlihatkan mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) yang menangis saat Kisah Klasik Untuk Masa Depan dilantunkan. Mereka akan segera meninggalkan asrama TPB dan berpisah dengan kawan mereka di asrama maupun di kelas dan menyongsong tingkat 2 di departemen dan fakultas masing-masing




Video di bawah ini memperlihatkan betapa antusiasnya para Sheilagank IPB menyanyikan lagu Dan, tanpa Duta di posisi vokal