Tampilkan postingan dengan label foto event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto event. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2015

Tiga Tahun JDP 7 Metro TV




Satu Februari, bagi kami JDP 7 Metro TV, adalah hari istimewa. JDP 7 adalah para reporter yang direkrut Metro TV melalui sebuah program bernama Journalist Development Program (JDP). Kami bersembilan belas adalah generasi ketujuh. Satu februari lalu kami berulang tahun ketiga. Untuk merayakan itu, yang kami lakukan adalah berkumpul, bertukar kado, dan curhat. Sayangnya gak semua hadir.



Setelah semua yang bisa datang sudah hadir, acara pun dimulai. Kado berbungkus kertas koran terkumpul di tengah meja. Kado yang terkumpul itu adalah benda-benda yang dirasa paling menggambarkan si empu kado. Kalo kata Charlen, kadonya harus yang “Njrit jadi kangen doi guah”. Kami pun berdiri. Beriring lagu cap cip cup, kado bergilir dari tangan ke tangan. Begitu hitungan berakhir di angka tujuh, berakhir pula putaran itu. Kado yang dipegang di tangan, itulah hadiah buat si pemegang, entah dari siapa. Satu persatu, kami membuka kado, menebak siapa pemberinya, menanyakan kenapa si pemberi menghadiahkan itu dan menjawab sebuah pertanyaan serupa: “setelah tiga tahun ini, lalu bagaimana?”




Siapa dapat apa? Yarnes dapat G-string pemberian Rangga. Rangga memang orangnya tidak biasa. Dalam arti positif ya. Dia gokil. Kalau on cam, atau person to camera, atau melaporkan sesuatu di depan kamera, dia berani untuk bertindak ala anak kecil yang keranjingan dengan mainan barunya, lalu heboh sendiri dengan laporan tentang konser Metallica-nya. Yarnes, tanpa diduga membungkus kadonya dengan pengemasan paling rapi. Padahal orangnya juga slengean. Haha. Dia menghadiahkan bingkai foto. Dan tanpa sengaja Rangga juga yang terima.




Aci, dia dihadiahi kutek pemberian Dinda. Kutek memang Dinda banget. Dia bercita-cita punya salon kuku. Aci sendiri ngasih sun glasses, dan itu juga dia banget. Aci lama tugas di program traveling, jadi cocok. Zaki dapat satu set cangkir dan kopi pemberian Vira. Alasan pemberian cangkir cokelat Vira, dibercandain sama Zaki. Vira sendiri dapet pistol-pistolan berpeluru karet. Lengkap dengan target sasarannya. Zaki yang ngasih. Lalu Randy. Dia dihadiahi pisang. Awalnya kami bingung apa maksudnya pisang plastik itu, lalu sadarlah kami bahwa itu bingkai foto yang lengkap dengan foto kami saat di masa pelatihan dulu. Trifty yang ngasih. Seperti biasa, Trifty selalu mencairkan suasana dengan guyonannya. Apalagi kalau ditimpali Randy yang juga iseng. Malam itu, restoran bercahaya temaram itu berisik karena kami. Randy menghadiahi Anggi dengan satu set gigi palsu.




Sementara satu set berisi enam gigi palsu dikantongi, Anggi menghadiahkan sebuah kaos. Trifty yang dapatkan kaos itu. Katanya itu merk kaos yang selalu dipakai Anggi. Charlen dapat hadiah paling besar. Keliatannya seperti roti tawar sebungkus, tapi ternyata setelah kertas Koran dikoyak, di dalamnya satu set meal box plus botol minum dan tas jinjingnya. Rangga juga yang ngasih hadiah itu. Dia memang siapkan dua hadiah. Karena kasih dua hadiah, Rangga juga dapat dua hadiah, dari Yarnes dan dari saya. Saya menghadiahkan sebuah buku. Tapi bukunya belum di-print. Haha. Pada tahun 2012, saya menulis semua kisah liputan saya. Lalu kumpulan tulisan itu dibundel dan dijuduli Jurnal Jurnalis. Karena si Jurnal Jurnalis belum dicetak, secara simbolik saya kasih Rangga buku Manis Getir Skripsi. Saya sendiri janji buat kasih dia buku yang sebenarnya di awal Februari ini. Lalu saya dapat apa? CD Sheila On 7. Senang banget saya dapat itu. Siapa yang ngasih? Tentu saja Charlen sang Sheila Gank. Saking senang dan berkesannya, saya ceritakan soal hadiah itu di posting khusus. Hehe.




Selain bertukar kado, kami masing-masing ditanya, mau lanjut di Metro TV atau gimana? Rata-rata sih bilang pada mau keluar. Haha. Kebanyakan bilang mau lanjut sekolah. Saya sendiri bilang entah sampai kapan mau jadi wartawan, tapi setidaknya saya bilang malam itu, saya merasa nyaman menjadi wartawan. Beberapa waktu setelahnya, saya malah mikir jangan-jangan saya terjebak di zona nyaman dan rawan terlena. Haha. Sekitar jam 11 malam, pertemuan kami berakhir. Saya, Zaki, Vira, Yarnes dan Anggi barengan naik taksi. Di perjalanan, Anggi bilang kalau saat dubbing, suara saya sebaiknya direndahkan lagi, apalagi saya ada di grup 3 yang kental berita politik. “Kayaknya itu udah suara terendah gue deh,” saya defensif. “Terus apa lagi Gi yang kurang?” Saya kemudian sadar, bahwa berminat saja tidak cukup. Masih banyak yang harus saya pelajari dan perbaiki, kalau memang benar-benar serius mau jadi wartawan TV yang bagus. []









Sabtu, 30 November 2013

ISAD Festival

Mari, tarik label waktu di benak kita ke seminggu lalu. Malam minggu itu saya sempat bingung cari alamat Rumah Bintang. Sempat khawatir melewatkan momen inti, saya akhirnya tiba disana pas ISAD Festival diresmikan, dan Rumah Bintang boleh dimasuki secara resmi sebagai bagian dari pesta seni visual jalanan itu. Rumah Bintang merujuk pada sebuah rumah tak terurus di Jalan Pasar Minggu Raya Nomor 33 Jakarta Selatan. Rumah itu kemudian menjadi galeri seni berisi grafiti, mural, tempelan wheat paste, dan instalasi lainnya. Mereka dipajang sebagai bagian dari perayaan festival Indonesian Street Art Database atau ISAD. Selain menikmati Rumah Bintang di hari pertamanya bisa dijamah pihak umum, saya juga menyaksikan gelaran pentas musik dengan sajian impresifnya. Foto-foto berikut ini akan bercerita lebih banyak.


Sesaat sebelum Rumah Bintang dimasuki pengunjung ISAD Festival. Karya Robowobo langsung menyambut

Di Lantai dua, karya Hard Thirteen langsung menarik perhatian












Disini juga dipamerkan arsip street art dari berbagai daerah, salah satunya dari Magelang


Tepat di tembok kiri setelah pintu masuk, ada papan curat coret. Yang bawa spidol bisa langsung tag nama disana

Bujangan Urban (bertopi membelakangi kamera) menonton penampilan dou Kojek Rap Betawi

Pintu masuk ke Rumah Bintang. Karya Robowo dan Lykerex menyambut pengunjung

Pembuatan grafiti oleh Artcoholic

Kojek Rap Betawi beraksi

Pak Nur bersama karyanya. Ia memprotes rencana pemerintah DKI Jakarta "membersihkan" tembok Jakarta dari street art



Bertopi dengan tulisan CAGUB DKI 2017, Pak Nur mengingatkan bahwa seniman street art tidak melanggar konstitusi, karenanya rencana pemutihan tembok Jakarta menurut Pak Nur perlu ditentang. Seniman bernama asli Danuri ini memberi tanda khusus di kata "konstitusi", sebagai sentilan tambahan buat mahkamah yang sedang bermasalah itu

Racun Kota tampil begitu impresif. Beberapa aksi stage diving sempat dipraktikkan. Musiknya asik.

Senin, 08 April 2013

Tawur Kesanga


Meskipun foto pertama yang dipajang disini foto saya, percayalah bahwa di foto berikutnya ga ada saya yang narsis. Hehe. Foto-foto berikut  saya ambil ketika umat Hindu di Yogyakarta menggelar ritual tawur kesanga, salah satu rangkaian hari raya nyepi.


Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh untuk ditarikan bersama ogoh-ogoh lain di pelataran Candi Prambanan


Sekelompok remaja membawa lari ogoh-ogoh sebagai bagian dari tari ogoh-ogoh upacara Tawur Kesanga di pelataran Candi Prambanan


Seorang anak menolak menggunakan penutup kepala dalam upacara Tawur Kesanga


Seorang anak tidak mengikuti sembahyang Tawur Kesanga


Seperangkat gamelan jawa dimainkan dalam upacara Tawur Kesanga


Seorang anak ikut serta dalam upacara Tawur Kesanga


Ogoh-ogoh diarak di area Candi Prambanan


Tari Rejang Dewa merupakan tarian utama dalam upacara Tawur Kesanga. Tari ini harus ditampilkan oleh wanita yang masih perawan


Tari Rejang Dewa merupakan tarian utama dalam upacara Tawur Kesanga. Tari ini harus ditampilkan oleh wanita yang masih perawan

Minggu, 19 Agustus 2012

Lebaran 2012

Tahun ini saya tidak berlebaran di rumah. Saya berlebaran di mesjid dekat rumah kos.

Kapasitas masjid tidak mencukupi bagi jemaah wanita. Mereka melaksanakan solat ied di halaman masjid

Koran bekas bertebaran di sebuah mesjid di Kedoya Jakarta. Koran itu digunakan sebagai sajadah untuk melaksanakan solat ied

Tradisi halal bihalal berarti saling menghalalkan, saling memaafkan. Saya ikut salaman, meskipun ga ada satu pun orang yang saya kenal. Haha

Seorang pria tertidur di mesjid, sementara jemaah lain sudah hendak meninggalkan mesjid

seorang anak sedang berwudhu

Senin, 28 November 2011

Sua Raptor

Terakhir kali saya naik gunung adalah saat tingkat pertama, ke pemancar di gunung Cikuray Garut, sebelumnya pernah juga ke gunung Talaga Bodas di Garut juga. Selama di Bogor, saya belum punya kesempatan naik gunung lagi, sampai temen-temen UKF (Uni Konservasi Fauna) ngajakin ke ujung kolun selama 2 minggu. Lama banget ya, akhirnya saya ga jadi berangkat. Haha. Untungnya ada kesempatan lain buat naik gunung di Bogor, yaitu ikutan acara Sua Raptor UKF 2011. Awalnya saya kira kami bakal jalan kaki jauh banget, bikin tenda, dll, kayak waktu ke Talaga Bodas. Eh ternyata, yang ini lebih enak, tinggal naik mobil. Hehe. 

Acara Sua Raptor itu seru banget. Saya bukan anggota resmi UKF, tapi para aktivis organisasi itu sangat terbuka ke saya dan semua peserta, buktinya kesan peserta lain juga positif. Selama mengikuti kegiatan itu, saya membuat data dokumentasi berupa foto dan video yang bisa kamu lihat di bawah ini. Oiya, foto yang banyakan orangnya, ukurannya lebih gede, klik aja fotonya :)