Tampilkan postingan dengan label candi prambanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi prambanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Mencari Tuhan di Candi Prambanan

Berwisata di Yogyakarta adalah menikmati budaya khasnya. Objek yang bernuansa lampau ataupun yang kini. Ada sesal sebenarnya setelah akhir pekan lalu saya mengunjungi rumah yang pernah saya tinggali selama 3 bulan itu. Saya gak merekam dengan video. Padahal akhir-akhir ini saya lagi berusaha getol berekspresi dengan media video. Sebagai wartawan televisi, rasanya saya harus membiasakan diri dengan format rekaman gambar bergerak itu. Tapi ya sudahlah, toh saya masih punya fotonya. Dan perjalanan saya masih bisa diceritakan dalam bingkai-bingkai figur berikut ini.


Pertama, saya mengunjungi kompleks Candi Prambanan. Kali pertama kunjungan saya ke Candi Prambanan adalah awal tahun 2013, waktu liputan upacara keagamaan Tawur Kesanga. Kali ini, saya ingin tuntas mengunjungi Prambanan dan tiga candi lain di kompleks candi hindu-buddha ini. Prambanan, saat itu suasananya seperti candi tersohor lain yang masif dijajah manusia. Ada yang tetap santun, ada juga tingkah pengunjung yang menggangu wisatawan lain, misalnya mereka yang duduk-duduk di tangga candi. 

Prambanan ini punya sejumlah candi. Ada candi Siwa, Wisnu, Brahma. Yang terbesar candi Siwa . Diantara mereka ada banyak candi berukuran lebih kecil dengan formasi membentuk peta kosmologi ala kepercayaan Hindu. Di dinding candi, ada kisah ramayana, yang menceritakan romantika Rama-Shinta dan lika-liku perjalanan hidup keduanya.

Dalam terik sorot matahari pukul dua siang, saya melanjutkan perjalanan ke utara. Ratusan meter kemudian, Candi Lumbung menyambut. Jika Prambanan bercorak Hindu, maka Candi Lumbung beridentitas Buddha. Pun demikian dengan dua candi di utaranya, Candi Bubrah dan Candi Sewu. 


 

Bergeser lagi ke arah utara, saya bertemu satu lagi candi, namanya Candi Bubrah. Banyak temuan yang tidak utuh sehingga sulit dibentuk kembali, membuat kepingan batu-batu di candi ini berserakan, makanya disebut bubrah atau berantakan. Perjalanan ke utara saya lanjutkan hingga bertemu Candi Sewu. 


 


Candi Sewu ini suasananya sepi. Saat saya kesana, tak ada wisatawan lain yang sowan. Masuk ke kompleks candinya, saya disambut sepasang arca penjaga. Sejumlah titik saya hampiri disana, hingga kemudian candi terbesar sudah di depan mata. Titian anak tangga saya rengkuh, sebuah lorong pendek seukuran badan saya masuki. Suara angin kemudian hilang, yang ada cuma senyap, dan dingin. Dingin yang bukan biasanya. Angin lembab bertiup dari dalam candi yang gelap. Tepat di depan batas menuju bagian dalam candi saya berhenti. Bulu halus saya lalu meremang. Ada niat mengilatkan cahaya kamera dan mengabadikan sebuah meja persembahan besar berbahan batu di dalamnya. Tubuh saya tiba-tiba tersentak, begitu ponsel mengeluarkan bunyi tanda ada pesan masuk. Bunyi singkat tadi mendadak seperti menggelegar di ruang hampir kedap suara itu. Saya balik kanan dan urung memotret. 




Saya akhirnya melihat-lihat dan merasakan tekstur batu-batu keras serta ukiran relief yang begitu detil menggambarkan figur. Alkisah menurut beberapa sumber sejarah, karya arsitektur hebat berusia ratusan tahun ini dibuat seorang raja yang agung, bahkan cuma satu malam. Pendapat lain (dan tentunya logika kita) menampik gagasan pembangunan candi dalam semalam itu. Bahkan ada analisa bahwa pengirim pesan dari masa lalu, sedang menjilat rajanya dengan mengatakan bahwa ini adalah mahakarya dari penguasa yang agung. Padahal, bukan tak mungkin dalam puluh ratus tahun pembuatan candi ini, ada rakyat jelata yang keringat dan darahnya diperas, bahkan mungkin nyawanya juga jadi modal.
Candi terbesar di kompleks Candi Sewu. Di dalamnya terdapat sebuah meja persembahan besar setinggi sekitar 1,5 meter


Sebuah rumah bertulisan huruf arab di bagian atas gerbang masuknya, bertengger tepat di pinggir jalan Candi Sewu. Saya lihat rumah itu ketika hendak kembali ke pintu keluar di arah selatan. Candi Prambanan yang hindu, tiga candi di utaranya yang Buddha, lalu sayup-sayup suara adzan ashar di sekitar kompleks candi, membuat saya merasakan sensasi tersendiri. Sensasi serupa kontemplasi tentang pencarian Tuhan.


Di dalam kompleks candi juga ada penangkaran rusa.

Senin, 08 April 2013

Tawur Kesanga


Meskipun foto pertama yang dipajang disini foto saya, percayalah bahwa di foto berikutnya ga ada saya yang narsis. Hehe. Foto-foto berikut  saya ambil ketika umat Hindu di Yogyakarta menggelar ritual tawur kesanga, salah satu rangkaian hari raya nyepi.


Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh untuk ditarikan bersama ogoh-ogoh lain di pelataran Candi Prambanan


Sekelompok remaja membawa lari ogoh-ogoh sebagai bagian dari tari ogoh-ogoh upacara Tawur Kesanga di pelataran Candi Prambanan


Seorang anak menolak menggunakan penutup kepala dalam upacara Tawur Kesanga


Seorang anak tidak mengikuti sembahyang Tawur Kesanga


Seperangkat gamelan jawa dimainkan dalam upacara Tawur Kesanga


Seorang anak ikut serta dalam upacara Tawur Kesanga


Ogoh-ogoh diarak di area Candi Prambanan


Tari Rejang Dewa merupakan tarian utama dalam upacara Tawur Kesanga. Tari ini harus ditampilkan oleh wanita yang masih perawan


Tari Rejang Dewa merupakan tarian utama dalam upacara Tawur Kesanga. Tari ini harus ditampilkan oleh wanita yang masih perawan