Tampilkan postingan dengan label holtra2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label holtra2013. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2013

Cikampek Menjelang Lebaran

Kemacetan jalur menuju Pantura via Simpang Joming dari pintu tol CIkampek. Kemacetan biasanya muncul mulai sore hingga pagi esok harinya

Matahari tenggelam di kawasan tol Cikampek

Polisi mengatur arus lalu lintas

Pembatas jalan dan bayangannya

Miniatur kemacetan
Papan reklame rombeng

Ngabuburit bapak-anak

Ngabuburit keluarga

Seorang petani membawa daun talas untuk pakan ikan gurame
Para pedagang asongan siap memasuki bis yang keluar dari pintu keluar tol Cikampek

Seorang tentara kesulitan membagikan paket beras untuk warga di sekitar pintu tol Cikampek

Warga mengerumuni pembagian paket beras oleh TNI

Sabtu, 10 Agustus 2013

Purwakarta Sehari Sebelum Lebaran

Saya ga nyangka pusat kota dan kabupaten Purwakarta sebagus ini. Saya mengunjungi pusat kabupaten berusia 45 tahun dan kota berusia 182 ini sehari sebelum lebaran. Sore hari, saya jalan-jalan di stasiunnya yang sepi dan artistik. Malamnya, ada festival bedug yang disiarkan tim liputan kami. Jam satu malam, kami lewati pasar Jumat, kondisinya rame. Banyak anak muda belanja busana disana. Jam enam pagi kami lewat tempat yang sama, jalannya bersih. Hebat juga. Paginya saya wawancara Pak Bupati. Menanggapi berserakannya koran yang dijadikan sajadah di kompleks masjid Baing Yusuf, dia bilang lima menit lagi udah bersih. Pasca wawancara, saya lihat personil satpol PP bersihin koran bekas. Ga lama setelah itu, mesjid bersih lagi. Berikut cuplikan keindahan Purwakarta yang saya abadikan dengan kamera saku.
Panggung utama Festival Dulag atau Festival Bedug
Patung Raden Kiansantang, salah satu tokoh penyebar agama Islam di bumi pasundan. Raden Kiansantang adalah anak Prabu SIliwangi. Di Purwakarta, patungnya dikelilingi harimau yang merupakan simbol Prabu Siliwangi. Di sebelah kiri foto tampak salah satu Gedung kembar. Gedung lainnya ada di sisi lain pintu masuk ke stasiun Purwakarta. Satu gedung kembar menjadi kantor Bupati, satu lainnya perpustakaan kabupaten.


Gatot Kaca
Meski masa mudik lebaran, stasiun Purwakarta tetap sepi. Meski demikian beberapa tentara tetap berjaga

Deretan gerbong rusak di Stasiun Purwakarta

Gerbong Mati

Remaja setempat menjadikan atap gerbong tempat bercengkrama

Gerbong Nonaktif

Stasiun Sepi

Salah satu gerbong yang tidak dipakai

Happy with friends

Di rel

Gerbong tua

Sore, gitar, gerbong tua
Stasiun lama

Klasik

Pohon beringin tumbuh di tembok gedung stasiun lama

Seorang tukang bakso beristirahat di kompleks monumen Gatot Kaca di depan Stasiun Purwakarta
Wajah stasiun lama
Pintu Terlarang

Demi Heri



"Tadi pas naik beus ka bandung mah aya keneh her"

"Ka bandung kumaha ai enek, teu ka bandung da, karawang. belegug!"

"Oh enya astagfirullah, tos pikun enek"

Aku juga tak tahu kenapa malah bandung yang tiba-tiba kuingat. Tapi yang jelas, saat di bis dompet itu masih ada di tas yang aku bawa. Entah dicuri atau hilang, entah dimana ia berpindah tangan, yang pasti aku tak pegang ongkos lagi sekarang. Aku dan cucuku tak bisa pulang.

"Nenek siapa namanya?" Tanya seorang pria berkemeja biru. Tarmini jawabku.

"Lahir tanggal 24 bulan 4 tahun 32. Berarti berapa tuh? 81!" Tegasku setelah ia lanjut bertanya soal umur. Tadinya mau aku tunjukkan KTP, tapi KTP yang selalu kubawa itu hilang bersama dompet dan uang di dalamnya. Orang sering tak percaya kondisiku begini bugar untuk usia setua ini. Kalau mereka tak percaya, ya sudah. Paling kalau mereka tanya soal apa rahasianya, ya aku jawab kalau dulu waktu masih muda aku sering bangun malam, lalu mandi dan solat. Aku juga pernah juara lomba gerak jalan se-priangan. Fotonya masih ada.

Aku bersyukur diberi usia panjang. Aku senang bisa menemani Heri. Kasihan dia. Sejak ayahnya pergi entah kemana, Popon ibunya harus sendirian nutupi kebutuhan hidup, jadi tukang cuci. Heri sering ditinggal, aku yang urus. Akhirnya aku jadi seperti ibunya sendiri.
 
Popon akhirnya dapat pekerjaan baru di pabrik tekstil di Karawang. Meskipun harus jauh dari keluarga, hasilnya lumayan, Popon sering kirim wesel tiap bulan. Dia makin jarang pulang ke rumah kami di Kuningan Jawa Barat. Satu-satunya kesempatan dia pulang, paling waktu lebaran. Popon biasanya pulang ke rumah seminggu sebelum lebaran. Lain dari biasanya, tahun ini anakku belum juga pulang. Karena itulah, aku sekarang ada di sini.

Heri sudah rindu ibunya. Dia juga khawatir. Apalagi pas lebaran tahun ini, Heri berulang tahun ke-13. Empat hari lagi lebaran, tapi anak tunggalku itu belum juga pulang. Aku dan cucuku nekat nyusul ke Karawang.

Setelah menempuh berjam-jam perjalanan, kami tiba di rumah kos Popon. Pintu kamarnya dikunci, lampu kamar mati. Tetangganya bilang, dia baru pulang ke rumahnya di Kuningan, ke rumah kami. Pas mau menyusul, aku sadar dompet hilang.

Aku tak mau membatalkan puasa, tanggung. Dokter di posko ini juga bilang tekanan darahku normal. Untung aku menemukan posko mudik ini. Setidaknya ada yang mau dengar kisah malang ini. Ada wartawan, dokter, polisi, tentara. Kalau lihat tentara, aku ingat almarhum suamiku. Terakhir kali ia bertugas di Korem 061 Suryakencana Bogor. Selama kami bersama, tak pernah sekalipun ia marah. Orangnya memang sabar. Suamiku meninggal sebelum Heri lahir. Aku cuma bisa menceritakannya ke Heri lewat sebuah foto usang hitam-putih.

Mungkin karena aku cerita soal suamiku, seorang tentara berbaik hati mengantarkan ke bis menuju Kuningan. Seorang polisi juga membekaliku ongkos. Lebaran kali ini benar-benar beda. Demi bertemu anakku, ibunya Heri, perjuangannya tak mudah. Kugenggam erat tangan yang memegangku. Kutatap muka polosnya. Ini juga demi cucuku Heri.



Gara-Gara Mirip Ferry




Ternyata Ferry

Dua puluh menit lagi programnya mulai. Saya harus melaporkan secara langsung kondisi di dalam pos pengamanan arus mudik jawa barat di cikampek. Sementara itu saya dan tim live report belum masuk ke dalam ruangan, karena masih ada briefing dibdalam sana. Saya dan pak suhartono memberanikan diri masuk. Tim kami sudah siap dengan opsi kedua, melaporkan kondisi pintu keluar tol dan (jika ada) mobil mogok yang biasanya menepi di dekat sana.

Gagal menginterupsi rapat yang dipimpin wakolda, seorang kompol saya datangi di sisi lain ruangan. Ia menolak kasih izin buat live report kami. Mau ada kapolda katanya, mau Inspeksi jalur mudik. Wakapolda denger soal izin kami. Seorang kombes pol menawarkan diri bantu kami, izin live report terbit.

Pak kombes pol ini kepala bidang humas polda jawa barat. Pertama kali saya jumpa dia saat saya tanya soal analisa pantauan udara. Teledornya saya, nama beliau ga sekalian ditanyain. Besoknya pas ketemu lagi, dia tanya saya masih ingat beliau ga. Saya jawab ingat, kepala humas polda, tanpa sebut nama, karena ga tau. Pas mau live malam itu, saya tanya nama beliau. Pak kombes terlihat tersinggung. Dia marah karena saya lupa namanya. Saya bilang, takut salah nulis. Dia ngetes, minta saya sebutin namanya. Daripada ga tau, saya asal sebutin nama. Slamet Riyadi. "Itu kapolres purwakarta, kamu mau wawancara saya apa kapolres? Kalau kapolres posnya disana bukan disini", jawabnya sengit. Pak Daniel, jawab saya asal nyebutin nama di dada seorang polisi disana. Jelas dia makin kesel. Haha. Live report dari posko malam itu terancam gagal.

Pak kombes nyuruh saya duduk di depan dia. Dengan muka serius, kombes tanya apa benar saya ga ingat dia, padahal dia yakin saya pernah wawancara dia.

Saya bilang iya pernah, tapi yang ga ditayangkan. Pertemuan soal pantauan udara maksud saya.

Nada bicaranya sedikit meninggi. "Pernah, wawancaranya ditayangkan. Kamu rheza kan?" Saya kaget sekaligus malu.

"Kamu pernah liputan ke bandung kan?"

"Pilkada jabar?"

"Bukan, Susno"

Itu dia. Saya bulatkan mulut bilang o panjang. "Itu Ferry pak". Saya bilang kalo saya sama Ferry itu emang suka ketuker. Pak De Suharno nambahin, meyakinkan pak kombes kalau saya bukan reporter yang beliau kenal saat kasus Susno Duadji yang nolak ditahan. Setelah semuanya jelas, barulah kabud humas polda jawa barat itu kasih tau nama lengkapnya, kombes pol martinus sitompul.

Tentang Orang Tua

Pak martin akhirnya bersedia diwawancara. Setelah live show, kami berdua ngobrol-ngobrol, soal kemiripan saya dan Ferry, soal beliau yang orang tuanya masih ada, sehat dan usianya 80an tahun, soal saya, live report dan orang tua.

Pak martin ingetin saya buat jangan lupa kontak orang tua, kabari kalau mau live. "orang tua kita tu seneng pas liat kita, mereka bakal tau kabar kita. Lihat tangan saya, ini saya merinding ceritain ini. Intinya yang membuat mereka sehat dan panjang umur kan rasa bahagia", saya mengiyakan dalam hati, pak martin benar.

Nyampe SNG, saya telepon orang rumah. Tanya soal live saya barusan. Meskipun ga ngabarin, mama ternyata nonton dan ngoreksi. Saya bilang selanjutnya kalau mau live, saya ngasih tau. Besoknya saya live lagi, orang rumah ga dikasih tau. Besoknya juga begitu sampe tugas di program Holtra habis. Haha.