Tampilkan postingan dengan label koil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Meme Game Bagian 2

Inilah Meme Game bagian kedua. Meme bagian pertama sudah saya publikasikan tengah bulan Mei lalu. Teman-teman bisa baca edisi pertama meme game saya disini. Di meme game bagian pertama, saya cerita banyak tentang cassette player saya yang ganas. Inilah penampakannya.

Disana saya juga bercerita bahwa pembahasan lagu-lagu dalam tulisan ini dikhususkan seputar koleksi kaset saya. Inilah koleksi kaset-kaset yang saya maksud.

Di bagian terakhir ini, saya mulai dari pertanyaan nomor 16. Let’s go!

1. Song u used to love but now hate

Dewa, Dua Sedjoli. Haha. Lagu itu kan dulu wah banget ya, rasanya semua ABG pasti suka. Sekarang? Udah ah ga usah dibahas lagi. Haha.

2. Song that u hear often on a radio

Linkin Park, Place For My Head sama Somewhere I Belong. Lagu itu sering saya request di radio Dos-Q FM. Waktu itu SMP, sekarang Dos-Q FM udah ga ada.

3. Song that u wish u heard on a radio

Lagu apa aja terserah, saya sudah jarang denger radio. Haha.

4. Song from ur fave album

Album terbaik saya sepanjang masa adalah Reanimation, Linkin Park. Lagu paling bagus judulnya PPR:KUT. Album Linkin Park yang pertama saya beli ya album ini. Sejak terakhir Meteora, saya berhenti langganan Linkin Park.

5. Song that u listen when angry

Slipknot lah. Slipknot saya kenal pertama kali sekitar kelas 3 SMP, Tri yang ngenalin, dia teman sebangku saya. Dia minjemin VCD bajakan slipknot sama kaset album Iowa yang bau sleeve-nya sangat khas. Sekarang kabarnya slipknot lagi galau, gara2 ditinggal mati bassisnya, Paul Gray.

6. Song that u listen when happy

Wah macem-macem kalau lagi seneng, saya pilih SUM 41 aja, album All Killer No Filler, judul lagunya Fat Lip. Seperti yang pernah saya ceritakan di edisi pertama, tiga album SUM 41 ini saya dapat dari Tri, tapi ga langsung saya putar tiga kaset itu, saya masih ‘judge an album by it’s sleeve’. Tapi pikiran saya baru terbuka setelah memainkan sebuah game PS 2 tentang permainan voli pantai, lagu latarnya SUM 41, Fat Lip. Nah dari situ saya buka telinga untuk tiga album band asal Kanada itu, ternyata bagus semua. Album SUM 41 ini juga menginspirasi tulisan saya tentang inner beauty.

7. Song that u listen when u sad

Box Car Racer dong, suasananya pas. Lagu Sorrow kerasa lebih memprihatinkan :p

8. Song that u want to play when wedding

Ga ada di koleksi kaset saya. Lagu sundaan lah paling. Haha. Sama lagu Andy McKee yang judulnya Rhylin.

9. Song that u want to play at ur funeral

Kagak ada juga, solawatan lah paling. Haha.

10. Song that makes u laugh

Nirvana, Hairspray Queen. Di lagu ini Cobain nyanyinya ngasal banget, tapi malah jadi unik. Ada satu lagi, masih lagunya Nirvana di album Incesticide, judulnya Aero Zeppelin. Suara ‘aih’-nya Cobain suka bikin ketawa.

11. Song that u can play on an instrument

Yang paling suka saya bawain lagunya Good Charlotte, judulnya Girl and Boy. Kuncinya Cuma G-A bolak-balik, reffnya D-D/C#-G. Petikan gitarnya juga enak, liriknya simpel.

12. Song that u wish u could play

Lagunya Spunge, judulnya Roots. Itu lagu ska campur punk, saya taunya dari album kompilasi Wired-Up 2. Kaset album ini punya Sadang sebenarnya, tapi ada di saya. Hehe. Di album kompilasi ini Cuma lagu ini yang suka disetel bolak-balik.

13. Song from ur childhood

Yang diatas itu lagu masa kecil saya semua. Haha. Kalau mau lebih kecil lagu, lagu Michael Learns To Rock yang judulnya Sleeping Child boleh lah dikenalkan lagi :D. Lagu itu membawa saya kembali ke usia sekitar 2 tahun saat saya tinggal di sebuah desa kecil dan terpencil di selatan Garut bernama Bungbulang. Disana saya sekeluarga tinggal di sebuah rumah angker. Salah satu memori primitif yang masih saya ingat adalah ketika saya digendong seseorang yang saya tidak ingat siapa dia ke lantai atas. Saya dibawa ke balkon dan dijorokkan ke bawah ke arah sumur di bawahnya, untung ga diceburin. Saya lalu dihadapkan ke langit dengan mega terang yang merah menyala, setelah itu ga inget lagi.

14. Song fave at this time last year

Tahun lalu udah ga denger kaset lagi. Kalau begitu kita mundur ke 3 tahun yang lalu OK. Kayaknya itulah saat terakhir saya dengar lagu melalui kaset. Kaset yang saya dengar adalah Orginal Soundtrack 12 am punya Van. Lagu yang paling saya incar di album itu adalah lagu Hiburan Ringan milik Koil. Sebenarnya album itu udah saya kenal sejak SMA, Zot waktu itu setel di kosan. Setibanya di IPB, saya kangen lagu Hiburan Ringan yang keren itu. pas ngobrol-ngobrol sama Van, dia punya kasetnya, langsung lah saya pinjam. Di asrama tentu saja tidak ada cassette player. Coba tebak, dimana saya memainkan kaset itu? jawabannya adalah di perpustakaan LSI IPB. Di lantai 2 waktu itu, ada sebuah ruang audio yang isinya banyak tape recorder dan kaset2 belajar bahasa inggris dan media belajar audio-visual lain. Sekarang ruangan itu jadi tempat tesis dan disertasi, tape2 itu dipindah ke bawah, ke ruang yang banyak cermin itu. Nah ceritanya demi mendengar lagu-lagu itu, saya pergi ke perpus. Saya masukkan kasetnya, pasang headset, naikkan volume suara. Ternyata headset yang saya pakai ada gangguan, saya ganti lah dengan headset lain di ruangan itu. Saya lupa pencet pause dulu, langsung cabut aja tu headset, jadinya suara otomatis keluar dari speaker yang gede-gede itu dengan volume maksimal dan intro lagu koil yang pas distorsinya itu langsung terdengar di seantero jagat perpustakaan LSI, saya sendiri kaget banget, apalagi mungkin orang yang ga terbiasa dengan musik begitu. Spontan saya pencet tombol stop, suara bising pun lenyap, saya melepas nafas lega. Lalu saya berbalik ke belakang, melihat bagaimana kira-kira respon orang. Setelah berputarnya kepala saya, seorang ibu datang mendekati, saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk seramah mungkin. Si ibu hanya melihat, tanpa ngomong apa-apa, tanpa menampakkan ekspresi lanjutan. Kaset langsung saya ambil, saya tinggalkan perpustakaan itu dan tidak lagi memutar kaset disana. haha

Sabtu, 05 Maret 2011

Hope

Jarum pendek dan jarum panjang sudah berimpit vertikal mengarah angka 12 saat angkot yang saya tumpangi menembus basahnya Bogor pasca guyuran hujan sepanjang separuh Sabtu itu. Sekitar 15 menit kemudian Saya dan Agus Surachman tiba di terminal Bubulak Bogor, di pos penghentian bis Trans Pakuan yang terlihat tak seperti biasanya. Siang itu tak ada bis yang terlihat siap untuk berangkat. Tak lama kemudian tibalah bis yang kami nantikan. Setengah jam sebelum acara yang kami tuju dimulai, akhirnya bis itu berangkat. Jam satu siang itu, akan diadakan workshop perfilman di kampus IPB Baranangsiang. Tertarik dengan titel “workshop”, saya mengorbankan kehadiran di seminar kepemimpinan dan wirausaha oleh Fakultas Ekologi Manusia dengan menghadirkan Rokhmin Dahuri yang juga digelar siang itu.


Saya dan Agus tiba di lokasi acara 15 menit setelah event itu direncanakan digelar. Ternyata acara yang dimaksud bukan sebuah workshop yang menawarkan luaran berupa skill teknis, melainkan screening beberapa film. Selain berjumpa dengan Attar Fariduddin dan Dony P. Herwanto, saya juga bertemu dengan Bang Beruk, senior di organisasi Music Agriculture X-pression (MAX!!). Seniman dengan rambut bak sarang lebah yang saya sebut belakangan, menyatakan bahwa film yang akan ditayangkan hari ini adalah film tentang Koil. Kening saya berkerut. Koil punya film? Mungkinkah film ini yang dimaksud? Mungkinkah film yang dimaksud adalah tayangan ulang konser tunggal band asal Bandung itu? Saya makin tak sabar jika memang film Koil yang akan ditampilkan.


Beberapa film pendek yang ditayangkan di awal acara diacu berdasarkan kisah 140 karakter dari @fiksimini. Menu utama pertama adalah film bertajuk Mengejar Impian besutan Nia Dinata. Film dokumenter itu bercerita tentang pengalaman beberapa anak sekolah yang berusaha mengejar impian mereka menempuh pendidikan tinggi melalui (inilah yang saya sayangkan) beasiswa Sampoerna. Kehadiran beasiswa Sampoerna dan Sampoerna Academy (SMAN 10 Malang) seakan menyatakan bahwa film itu adalah iklan (atau memang itu pesan sponsor?). Saya akhirnya memilih berpaling ke buku yang saya bawa. Selain karena pencantuman merek itu, gaya dokumenter yang disajikan juga terasa kurang natural. Bayangkan adegan seorang pedagang cilok yang bertutur pada anaknya bahwa di sebuah SMA, ada program beasiswa. Tragisnya, adegan itu mengesankan bahwa ada skenario yang menjadi penuntun. Tapi entahlah, itu hanya pandangan saya sebagai penonton yang awam dengan film, dan tentu saja kalaupun saya berani memberi rating, pemeringkatan itu belum terlalu layak diperhitungkan. Saya beri nilai satu dari lima bintang untuk Mengejar Mimpi.


Film selanjutnya akhirnya bergulir. Sebuah karya dokumenter yang dibidani Andibachtiar Yusuf berjudul Hope lalu diputar. Hope tersusun dari tiga sub judul. Sesi pertama berjudul The Majorities To Die For. Babak ini bercerita tentang betapa fanatiknya para simpatisan partai besar saat pemilu 2004. Di sesi berikutnya tampillah tim barongsai Indonesia yang menyandang gelar juara dunia dalam bidang kompetisi asal China itu. Kisah membanggakan itu tersusun dalam rubrik The Minorities. Sesi terakhir kemudian membuat saya merasa beruntung hadir di tempat itu. The Nation merupakan sesi paling buncit sekaligus klimaks film itu. Subjudul The Nation menghadirkan dua selebritis yang membahas topik kebangsaan.

The Nation berisi perbedaan paradigma dua tokoh musik Indonesia tentang kondisi negeri. Figur pertama yang dimaksud adalah Julius Aryo Verdijantoro, vokalis grup musik Koil yang lebih dikenal dengan nama Otong. Rupanya ini yang dimaksud Beruk. Anehnya, hingga akhir acara gitaris Johny The Good itu tak kunjung terlihat. Baiklah, mari kita kembali ke film Hope. Otong dikenal sebagai mesin yang menggerakan band rock asal kota kembang itu. Selain produktif bermusik, Otong juga membuka usaha penjualan busana bernama God Incorporated di Bandung. Dalam film itu diperlihatkan Donnijantoro (adik Otong sekaligus gitaris Koil) memamerkan sebuah desain kaos Koil berjudul Sistem Kepemilikan. Bagian depan kaos putih itu bergambar lukisan mooi indie khas anak-anak yang menurut Doni (demikian gitaris Koil itu biasa dipanggil) adalah penampakan yang selalu sama dibuat hampir semua anak Indonesia untuk menyatakan gambar pemandangan. Di langit dalam gambar itu tertulis kalimat “ini negara bodoh yang sangat kubela”. Doni menyatakan bahwa gambar itu dibuat oleh anak Otong. Di bagian punggung kaos juga tertulis kalimat yang sama, tertulis rapi dengan bentuk khas karya anak-anak yang baru belajar menulis. “Ini juga anaknya Otong yang bikin, terus gua scan, ditempel disini,” papar Doni. Adegan yang kemudian muncul adalah tingkah seorang anak lelaki bernama Al. Tahun 2010 lalu ia berusia 10 tahun. Bocah itu tak lain adalah anak tertua Otong. Dengan penuh rasa percaya diri, Al lalu memperlihatkan gambarnya yang lain. Selain Otong dan Doni yang sukses mengelola distro, ditampilkan pula Leon Ray Legoh yang sedang asyik memasak bersama koki lain yang juga mengenakan baju hitam keluaran God Inc di dapur restoran miliknya.

Salah satu sumber inspirasi Otong dalam membuat lirik lagu adalah status Twitter orang lain


“Selalu saja ada sesuatu yang salah dengan Indonesia, apa sebenarnya yang menyebabkan hal itu?” “Karena lu kerjanya cuma ngomong doang, ga berbuat sesuatu untuk memperbaiki kesalahan itu.” Dialog singkat itu dituturkan Pandji Pragiwaksono, seorang rapper yang juga dikenal sebagai pencetus Indonesia Unite dengan slogannya yang sakti, Kami Tidak Takut. Tokoh multitalenta lulusan ITB itu dikenal sebagai figur yang menyuarakan optimisme tentang Indonesia. Pasca peristiwa peledakan hotel JW Marriott, Pandji melihat fenomena munculnya citra negatif yang melekat di Indonesia. Melalui misi untuk meredam citra negatif itu dengan ekspos kelebihan bangsa, Pandji terus berjuang di bawah bendera Indonesia Unite, hingga membentuk forum Provocative Proactive, menggubah lagu nasionalis, serta upaya lain untuk mengharumkan nama bangsa.

Dalam sesi selanjutnya, sebuah topik nasionalisme dibahas menurut perspektif personal antara Otong dan Pandji. Tengok saja bagaimana mereka memandang potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Otong berikrar bahwa jika ia jadi presiden suatu saat nanti, ia tak akan merusak alam untuk tujuan kesejahteraan. Yang akan ia lakukan adalah mendukung berkembangnya potensi seniman-seniman bangsa seperti seni debus, seni tari, dan lain-lain. Senada dengan Otong, Pandji juga mengiyakan pentingnya kualitas SDM bangsa Indonesia sebagai modal peningkatan martabat bangsa di mata dunia.


Otong cenderung berbicara sebagai insan nusantara yang pesimistis. “Indonesia itu persis kayak Amerika di era Jimmy Carter,” ucap Otong dalam pemaparannya. “Saat pemerintah mencanangkan program hemat energi, semua komponen negara kompak mendukung. Setelah Carter turun tahta, program itu lalu dihapuskan karena ada deal dengan perusahaan minyak tertentu,” pungkas vokalis berambut panjang itu. Di lain pihak, Pandji berpesan bahwa jika ada hal yang tidak kita sukai dengan negeri ini, maka ubahlah. Jangan biarkan kita dan cucu kita menjadi generasi penggerutu.

Penonton lalu diberi paparan adegan bentrok di Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu silam. Selain itu aksi suporter yang tiba-tiba memasuki lapangan saat timnas Indonesia sedang berlaga juga turut ditampilkan. Saat digelandang aparat, ‘suporter nasionalis’ itu meminta maaf. “Sama Laos dan Myanmar aja kalah. Ga tau apa yang salah [dengan sepak bola kita],” Tutup suporter itu menyayangkan keadaan.

Atas berbagai minus dan plus Indonesia, Pandji berharap agar setidaknya 50 tahun ke depan semua komponen bangsa tahu apa yang harus dia lakukan untuk Indonesia. Sementara itu Otong menyatakan bahwa hidup ini hopeless, nikmati saja yang sudah ada. “berterimakasihlah ke Tuhan. Itu pun kalo kita percaya Tuhan. Kalo percayanya ke setan ya berterimakasihlah ke dia,” tutur Otong.


***


Bagian akhir dari acara hari itu adalah diskusi tentang film Hope bersama sutradaranya sendiri, Andibachtiar Yusuf. Sutradara yang akrab dipanggil Ucup itu menjawab berbagai pertanyaan audiens dengan gaya yang natural dan blak-blakan. Saat seorang penonton bernama Rheza Ardiansyah (ehm, that’s me) bertanya tentang alasan mengapa Koil dipilih sebagai corong yang menyuarakan nasionalisme, bukannya Jeruji yang juga memiliki pesan serupa tapi dengan kemunculan yang mungkin lebih awal, Ucup dan kamerawan yang hadir bersamanya (moderator lupa mengenalkan pembicara, bahkan ia lupa mengenalkan diri sendiri) menyatakan bahwa Koil dipilih karena tim pembuat film sudah memiliki relasi yang baik dengan mereka, sehingga memudahkan proses produksi film.

Saya baru menyadari bahwa titik tekan Otong dan Pandji tentang solusi membangun bangsa berasal dari teropong yang berbeda, setelah sang sutradara menyatakan perbedaan solusi itu. Otong menyatakan bahwa dengan berjuang bagi diri sendiri maka kita telah berjuang untuk bangsa, sedangkan Pandji menghimbau persatuan nasional. Kurang kontrasnya perbedaan pendapat itu mungkin disebabkan oleh adanya kesepahaman dua narasumber terhadap topik tertentu (contoh: tentang SDM Indonesia), sehingga kurang menajamkan perbedaan cara untuk mencapai tujuan sama kedua narasumber. Jika di film Prison and Paradise karya Daniel Rudi perbedaan pendapat Imam Samudra dan Ali Imron yang semula sepaham mampu menjadi daya tarik tersendiri, maka daya tarik film Hope ini adalah pola pikir narasumber yang out of the box, tanpa terlalu menonjolkan perbedaan antara keduanya. Saya setuju dengan pernyataan sutradara jebolan Jurnalistik Universitas Padjadjaran itu bahwa film ini tidak memiliki pesan khusus, namun memiliki statement yang menjadi identitas film.

Hal lain yang saya sayangkan adalah Leon Ray yang hanya ditampilkan saat memasak, tidak diberi kesempatan (tidak diminta) bertutur. Padahal satu kalimat yang menyatakan bahwa ia memiliki sebuah restoran dan juga mempekerjakan beberapa karyawan akan terasa lebih dari cukup untuk memotivasi penonton bahwa industri kreatif di sisi lain juga memiliki nilai penyerapan tenaga kerja yang tinggi. “Soalnya di Koil itu juru bicaranya Otong. Waktu itu Adam juga ada, katanya biar Otong aja yang bicara. Pengakuan Otong yang menyatakan tak bisa bermusik itu benar, karenanya personil lain fokus ke karya musik mereka,” demikian pemaparan sang pengambil gambar. Menanggapi pertanyaan tentang kepuasannya terhadap karya sendiri, Ucup mengaku tidak puas dengan rilisnya karya berbudget 50 juta ini. “Seperti ga kemana-mana,” katanya. Baiklah, tiga setengah bintang untuk Hope, selamat.

Film inspiratif itu juga tersaji dalam bentuk DVD. Di bagian belakang kemasan DVD itu tampak Otong dengan kaos hitamnya yang bertuliskan “ini negara bodoh yang sangat kubela”. Di samping Otong berdiri Pandji dengan kaos merah yang bertuliskan “kami tidak takut”. Ya, kami tidak takut dengan kondisi aktual negara bodoh yang kami bela ini, karena kini kami tahu solusinya. Kami harus menggalang kebersamaan dan memulai upaya peningkatan kualitas bangsa dari diri sendiri.

Sabtu, 26 Februari 2011

Konser Tunggal Koil

Lazimnya, sebuah konser digelar akhir pekan. Selain memungkinkan dihadiri lebih banyak orang, malam hari weekend juga dirasa lebih nyaman diisi dengan aktivitas hiburan. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan hari untuk pelaksanaan konser ini, namun malam jumat itu rasanya tak terasa beda dengan akhir pekan dalam hal jumlah audiens hingga animo penonton. Konser tunggal Koil seakan menjadi alat uji kesetiaan Killer untuk mengapresiasi musisi acuan mereka. Bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), konser tunggal grup musik rock asal kota kembang itu sukses digelar. Acara dimulai sekitar pukul 19.45, meleset kurang lebih 45 menit dari jadwal yang dipublikasikan. Otong vokalis Koil melalui akun twitternya @midiahn pernah mengajukan semacam retorika, “siapa sebenarnya yang menyatakan bahwa ini adalah konser tunggal?”. Pernyataan itu tervisualisasi dengan penampilan vokalis 70’s Orgasm Club di awal acara. Ia tampil solo menyanyikan beberapa lagu yang diiringi gitar akustik yang dimainkannya sendiri. Usai hidangan pembuka itu, barulah kuartet rocker itu memulai goresan sejarah. Rangkaian lagu mereka lantunkan, tentu dengan kejutan lagu lama yang jarang dibawakan di atas panggung. Kejutan lainnya adalah hadirnya Risa Saraswati sebagai backing vocal di beberapa lagu. Penyanyi yang juga berkarya di proyek solonya yang bernama Sarasvati itu ternyata berulang tahun di malam itu. Tampil di konser tunggal Koil pasti menjadi hadiah dengan kesan tersendiri bagi eks-vokalis Homogenic itu.

Bukan Koil namanya jika tidak berbagi rezeki. Di kesempatan berbahagia itu, mereka membagi 2 sepatu boots kepada dua orang Killer yang beruntung tiket pre-sale-nya terpilih Leon dari toples undian. Angkuy, salah satu personel duo Bottlesmoker bahkan menilai Visual: A+ | Lighting: A+ | Audio: A | Crowd: A | Concept: Ultra A double + | Perform: A+. Agar meriahnya konser itu tergambar jelas, nanti kita tengok visualisasinya melalui foto-foto yang saya ambil dari shaf terdepan. Di akhir acara, Adam Vladvamp berhasil saya ajak diskusi. Berikut ulasan pembicaraan saya dengan bassis Koil yang juga bermusik di Kubik itu.

Sejak kapan persiapan konser ini dimulai?
Tanda OK-nya ga lama, paling ada waktu sebulan. Sebulan lebih lah.
Apa rencana KOIL setelah konser tunggal ini?
Album baru paling
Taun ini?
Taun ini, April kali ya
Gratis lagi? [tertawa]
Semoga, lebih seneng gratisin soalnya. Jaman sekarang [enaknya] gratisin aja lah. Yang penting konser pada dateng. Itu aja buat kita sih.
Apa tips buat teman-teman yang baru ngeband?
Jangan nyerah, nekat aja. Mainin lagu yang lu suka. Konsisten lah. Saya salut sama orang-orang yang konsisten. Kayak Edane, Gue seneng Edane, padahal musiknya gue ga terlalu suka, tapi karena kekonsistenan mereka, jadi gue salut sama orang-orang yang konsisten.
Ada pesan untuk pecinta musik di IPB?
Undanglah KOIL main di IPB [tertawa]

Dari kiri: Achmad Fauzan Alfansuri, Adam Joswara, Rheza Ardiansyah (saya)

Ada satu lagi cerita menarik yang saya alami. Beberapa hari sebelum konser dimulai, ada pengumuman bahwa pihak media yang ingin meliput acara konser itu, dipersilahkan mengirim email ke panitia. Menghadiri konser atas nama media tentunya menyimpan pesona tersendiri. Selain akses masuk melalui freepas, wartawan juga biasanya memiliki area spesial untuk kepentingan peliputan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengirim email, bersaksi bahwa saya adalah reporter sekaligus fotografer Koran Kampus IPB yang ingin meliput jalannya acara. Di akhir surat itu, saya nyatakan bahwa tiket telah saya miliki. Kalimat terakhir itulah yang kemudian menjadi sumber penyesalan saya. Panitia membalas email yang saya kirim dan menyatakan bahwa jika memang sudah punya tiket, silahkan masuk saja dengan fasilitas tiket itu. Wartawan tidak memiliki tempat khusus untuk meliput, sehingga disatukan dengan audiens yang lain. Andai saja saya tidak menyertakan kalimat terakhir itu, mungkin email balasan itu berbunyi "silahkan datang lebih awal untuk menerima kartu pers", sehingga dengan begitu, saya punya oleh-oleh tambahan berupa setidaknya kartu pers konser tunggal itu. Gagal meraih kartu pers, saya pun tak lantas menyerah. Barisan pertama sisi kiri panggung saya tempati agar akses untuk merekam adegan melalui kamera bisa saya maksimalkan. Beberapa saat setelah konser dimulai, seorang reporter dari gigsplay.com memohon izin agar kami bisa bertukar posisi secara bergantian, saya pun mengiyakan, bahkan saya sediakan tempat di samping kanan untuk dia. Sang reporter tak lama kemudian mendapat panggilan telepon dan meninggalkan area di samping saya setelah berpesan agar saya menjaga area itu untuk dia setelah kembali nanti. Nyatanya si reporter tak kunjung kembali, saya bersikeras mempertahankan posisi itu demi amanat yang ia pikulkan, bahkan saya hampir terlibat konflik dengan penonton militan yang ingin mengambil alih tempat itu. Ternyata, si reporter sudah tiba di seberang pagar, tepat di bibir panggung bersama reporter dari media lain. Saya cek ponsel, ternyata tak ada panggilan dari nomor asing yang saya harap panggilan dari panitia yang berbaik hati ingin memberi kartu pers ke wartawan yang mendaftar melalui email. Saya akhirnya harus puas dengan posisi akhir di barisan penonton, tidak bersama rekan wartawan yang begitu leluasa merekam aksi dari berbagai sudut panggung. Meski demikian, saya cukup puas dengan apa yang saya alami malam itu. Sudahlah, mari simak kronologi petualangan saya di konser indah itu.

Di pintu masuk, penonton diberi sajian aksi pemain biola klasik


Inilah suasana arena pesta, sekitar satu jam sebelum konser berlangsung

Gambar ini diambil dari bangku penonton di depan panggung


Properti panggung

Dari samping panggung

Para Killer menunggu acara dimulai

Properti panggung

Anto Arief, si apetizer konser

Foto diatas sepertinya cocok dijadikan latar belakang template presentasi power point

Adam Vladvamp

Adam Vladvamp

Dari belakang lilin

Mengajak menyanyi bersama

Moog di dekat Adam sepertinya hanya hiasan panggung

Penghormatan pertama

Siluet

Otong sempat mengupdate akun Twitternya dari atas panggung

Otong saat bercanda dengan audiens

"Ayo angkat tangan, siapa yang tidak bermain Twitter?" begitu kira-kira kata Otong

Adam Vladvamp juga salah satu personel Kubik

Pengeras suara di hadapan saya siap merekam suara Killer untuk bernyanyi bersama

"Black Light" Shines On 1

"Black Light" Shines On 2

Donijantoro

Sinar hitam telah menyala

Blacklight in black and white

Additional Keyboardist

Doni adik Otong

Leon mengambil undian

Leon Ray Legoh, drummer yang juga seorang koki

Adam lelah

Otong bersedekah

Otong memperkenalkan Risa Saraswati


Sumringah, setelah dinyanyikan lagu selamat ulang tahun

Otong berkhotbah

Otong memang selalu berkesperimen dengan aksi panggung (tarian di panggung)

Doni diangkat ke posisi kakaknya sebagai vokalis

"Selamat Malam Jumat!" sapanya malam itu

Adam lagi, Adam lagi

Otong sedang serius

Adam lagi, Adam lagi

Posisi Adam berdiri tepat berada di depan saya

Adam memainkan tuts piano imejinernya

Leon turut meresapi lagu yang dibawakannya

Saya mendapat oleh-oleh pick gitar Doni Toro di Javarockinland 2010

Scream

Siluet

Suasana panggung


Otong kakak Doni

Berbagi stick dan pick

Mendokumentasi diri

Penghormatan terakhir

Adam Vladvamp

Tak ada aksi banting gitar, tapi bass boleh dipukul-pukulkan ke moog

Akhiri dengan selebrasi

Lilin perdamaian sudah dinyalakan dengan susah payah, mari jaga agar tetap menyala

Kondisi venue pasca acara

Koil saat diwawancara televisi lokal di ruang artis