Tampilkan postingan dengan label nirvana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nirvana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Keydo


Buku yang terakhir saya baca adalah novel berjudul Keydo. Keydo adalah buah karya bunda Tatty Elmir. Novel itu menceritakan kisah seorang wanita bernama Keydo yang digambarkan dengan begitu inspiratif. Novel 380 halaman itu bercerita tentang perempuan, cinta dan para pahlawan di jalan sunyi. Perempuan yang dimaksud dalam novel itu diantaranya adalah Ibu Roos, Mama Dobon, dan tentu saja Keydo serta banyak tokoh-tokoh wanita lain yang begitu inspiratif. Tak hanya perempuan sebenarnya, semua tokoh dalam tokoh ini digambarkan dengan sikapnya yang perlu diteladani. Berikut saya paparkan pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari novel itu:

Budaya
Budaya minang dan papua begitu fasih dijelaskan disini, bahkan sampai menyeberang ke Amerika sana, ke baduy-nya orang Amerika yang sarat dengan nilai kesederhanaan.

Paradigma baru
Novel ini juga menawarkan pembaca paradigma baru dalam menyikapi suatu hal. Misalnya ketika nenek yang biasa mendongeng untuk Keydo dan teman-temannya tidak suka dengan legenda Malin Kundang. Belakangan terungkaplah bahwa si nenek tidak menyukai sikap ibu Malin yang begitu mudah main kutuk-mengutuk, padahal jelek/bagus seorang anak justru karena ibu/orang tuanyalah yang mendidik.

Menambah pengetahuan
Pembaca juga disuguhkan informasi-informasi tambahan dengan pemakaian istilah dari berbagai bidang keilmuan yang penjelasannya ada di footnote di halaman yang sama.

Pencarian pasangan
Sebenarnya banyak sekali nilai-nilai luhur yang bisa kita petik dari novel ini, namun saya beru sadar untuk mencatat posisi kearifan dalam peta dunia novel itu setelah tiba di pertengahan buku. Di sektor awal novel, penjelasan filosofis tentang pencarian jodoh dijelaskan secara holistik, tak hanya dilihat dari sisi warna pink saja. Menurut novel ini, ketahanan negara akan bermula dari ketahanan keluarga, sementara ketahanan keluarga akan ditentukan melalui kualitas proses pencarian jodoh. coba tengok halaman 267. Disana dijelaskan bagaimana prinsip Kinang yang rela berjibaku demi mendapatkan hati Keydo. "Mutiara berkelas hanya akan diraih jika kita mengusahakannya dengan totalitas," begitu petikan dalam novel yang menggambarkan bahwa untuk mencapai sang pujaan hati memang dibutuhkan usaha yang tidak sedikit. Pemaparan di dalamnya akan memperkuat perjuangan para pria yang sedang memperjuangkan diri untuk calon wanitanya dan membuat pria yang telah jatuh-bangun untuk wanita yang telah ia dapat untuk bersyukur. "Beratnya perjuangan akan setara pula nantinya dengan besarnya komitman," demikian paragraf motivatif itu ditutup. Penulis juga memberi bocoran mantra sakti di halaman 321. "Kinang tahu persis, wanita adalah makhluk yang mudah terpengaruh dengan ekspresi verbal, mudah terpesona dengan kata-kata, dan akan selalu terkenang dengan kalimat indah. Karena itu wanita mudah dirayu". Ya ya, now we see. :D

Ganti lirik lagu
Beberapa waktu lalu saya bersama Mas Mo berkunjung ke kediaman keluarga bunda Tatty Elmir, penulis novel ini. Rumah yang juga menjadi base camp para aktivis Forum Indonesia Muda (di novel itu Zamrud Khatulistiwa menjadi semacam analogi fiktif dari FIM) itu terasa hangat dengan gelak tawa dan nyanyian merdu serta lantunan musik pengiring. Para aktivis yang berkumpul disana memang sering berkespresi di sela mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang mereka rencanakan atas nama FIM. Di suatu kesempatan, kami menyanyikan lagu Cintaku milik Chrisye. Di sebuah penggalang liriknya, lagu itu berbunyi "indahnya, nikmat bercinta". Saat semua bernyanyi, bunda kami itu melantunkan lagu dengan lirik berbeda. "indahnya, kumpul bersama," lantunnya.

Gambaran kehati-hatian bunda Tatty dalam menyanyikan sebuah lirik lagu juga tergambar di novel Keydo. Di paragraf akhir halaman 303, Kinang menolak tawaran Keydo untuk menyanyikan lagu 'You Light Up My Life', 'You are My Everything', atau 'Bulan Tolonglah Beta' karena lagu itu menurut Kinang musyrik. Sekali lagi, pembaca belajar untuk tidak meremehkan departemen lirik dalam sebuah konstruksi lagu. Lirik memang bukan hanya pewarna nada. Pesan di dalamnya tak jarang justru menjadi nilai utama dari sebuah sajian musikal. Coba cek tautan berikut. Di sana dipaparkan bagaimana lagu yang dibawah Justin Bieber justru menyimpan pesan tertentu. Entah itu disengaja atau tidak, kenyataannya demikian pentinglah si lirik itu. Karenanya, saya juga kadang mengganti lirik yang kiranya tidak layak dilafalkan dengan kalimat lain yang sevokal. Contohnya ketika saya menyanyikan lagu Stay Away milik Nirvana. Di akhir lagu itu, Kurt Cobain mendendangkan lirik berbunyi 'God is gay'. Meski sudah tidak meyakini esensi dari pernyataan itu, tetaplah rasanya enggan menyebutkan kalimat itu. Kalimat 'try to stay' selalu saya gunakan untuk mengganti lirik aslinya. Selain masih enak dinyanyikan (karena hampir tidak mengubah susunan komponen huruf vokalnya), lirik baru itu juga sudah punya arti yang lebih aman. Namun kadang saya tetap menanyikan lagu-lagu yang sarat dengan F words, karena toh konteksnya juga menempatkan lirik sebagai bagian dari musik yang dibebaskan dari belenggu nilai. Saat bunyi jreng dibunyikan misalnya, bunyi itu tidak memiliki arti khusus yang mengikat, malah multitafsir. Demikian pula dengan nyanyian 'nanana' atau bahkan kata 'yeah' hingga kata 'anjing' sekalipun. Semua tentu bergantung pada pendengar dan pelantun yang menginterpretasikan makna sebuah lirik. Artikel menarik yang mengajarkan saya perbedaan berpikir secara tekstual dan kontekstual bisa teman-teman akses disini.

Pemilihan lirik lagu
Saat membaca lembar demi lembar Keydo hingga kata 'TAMAT', saya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat di Jakarta. Halaman 306 tiba saat saya duduk diatas sebuah metromini di bilangan Jakarta Selatan yang diramaikan dengan nyanyian seorang pengamen yang menyanyikan lagu Last Child yang menceritakan betapa menderitanya seorang anak jalanan yang tidak merasakan kehangatan keluarga. Di halaman itu, Kinang bertutur bahwa terkadang imajinasi dan proses kreatif seorang seniman bisa melenakan. Saya lalu mengaitkan proses penggubahan lagu tadi dengan pangsa pasar yang dituju. Lagu murung tadi seperti sengaja didramatisir agar para pengamen lebih menghayati dan nyaman dengan lagu yang dibawakannya sehingga sering dibawakan saat mereka mencari nafkah. Dengan demikian, warga Jakarta yang familiar dengan pengamen dan nyanyiannya, juga akan tak asing dengan lagu itu, sehingga popularitas musisi juga meningkat dan berujung pada kesuksesan musisi tadi untuk menyebarkan musiknya.

Pengamen memang selalu menjadi pengiklan gratis bagi para musisi. Sayangnya, tak banyak pengamen yang memilih lagu-lagu dengan pesan positif untuk dinyanyikan ke audiensnya, atau malah yang disayangkan adalah masih kurangnya musisi yang menggubah musik dengan muatan positif dalam karyanya. Ya, itu tugas kita, menggubah karya yang bermuatan postif dan tepat sasaran.

Mengimbangi hegemoni laki-laki
Halaman 298 menceritakan sebuah adegan yang unik. Dalam sebuah arena pernikahan, penghulu mempersilahkan mempelai wanita untuk mencium tangan suaminya. Si pria malah meraih tangan istrinya, menariknya ke dada, ke hidung, lalu diciumnya tangan istrinya itu untuk 'menghilangkan titah kelaziman semata yang menunjukkan hegemoni laki-laki'. (dikutip dari novel dengan sedikit perubahan.hehe).

Throw away society
Tak sedikit tokoh-tokoh dalam Novel Keydo yang sebenarnya juga hadir di dunia nyata, tentu dengan nama berbeda meski dari nama tokoh itulah saya menyimpulkan hal diatas. Elly Kisman contohnya, saya yakin nama itu muncul dari tokoh pejuang moralitas bangsa, ibu Elly Risman. Selain ibu Elly Risman, ada pak Jose Rizal yang di novel digambarkan juga sebagai aktivis kemanusiaan, begitu juga dengan pak Buchori Nasution dan bu Ratna Megawangi yang hadir dengan nama yang sedikit dimodifikasi.

Di halaman 307, Keydo mengulas pemaparan ibu Elly Kisman tentang throw away society yang belakangan meracuni gaya hidup kita. Gaya hidup konsumtif ini menerapkan prinsip langsung buang meskipun kerusakan yang jadi latar belakang pembuangan itu masih bisa diperbaiki. "Jika ada makanan tak enak atau rusak sedikit, langsung dibuang semua. Begitu juga pakaian, tas, sepatu, perabot rumah tangga, bahkan juga pasangan hidup. Menemukan sedikit kesalahan atau kekurangan langsung dibuang. Tak aneh jika angka perceraian kian hari kian meningkat tajam," tutur Keydo mengingatkan pembaca.

Dari pencarian hingga menyikapi kehilangan
Bunda Tatty Elmir begitu bertahap mengajarkan cara untuk membangun ketahanan nasional tadi dengan penjelasan membangun ketahanan keluarga yang lengkap dari mencari pasangan hingga seandainya kehilangan pasangan. Di babak-babak awal, alur cerita novel terkesan dipilih sehati-hati mungkin untuk menunjukan cara sehat melakukan relasi intergender dengan mengikuti norma arus utama. Di halaman 310, premis yang saya pegang bahwa novel ini berusaha untuk tetap ada di jalur aman tergoyahkan juga. Penulis bercerita melalui Mama Dobon tentang vaginismus, sebuah kondisi yang perlu diantisipasi para pasangan muda. Pemaparan tentang vaginismus itu juga menggambarkan bahwa bunda Tatty tidak terikat dengan norma konservatif yang menganggap tabu pembicaraan mengenai hal-hal privat, apalagi urusan reproduksi, padahal hal itu perlu diketahui. Pernyataan saya diatas bahwa novel ini bisa menambah banyak pengetahuan makin terbukti dengan adanya pemaparan ini.

Poin dominan
Aspek terbanyak yang menjadi daya tarik bagi saya saat melahap lembar demi lembar Keydo adalah serbuan informasi yang bertubi-tubi. Penulis seakan representasi dari suku yang menghuni Papua sekaligus duta budaya tanah minang merangkap bagian vital masyarakat suku Amish. Puisi karya Taufiq Ismail yang bertengger di lembar keenam bagi saya seperti air yang mencampuri segelas kopi yang memperkuat sensasi hambar. Bagaimana tidak, sastrawan senior itu membocorkan akhir cerita novel yang saya baca secara linear dari halaman awal itu. Hehe. Jika seandainya saya membaca puisi itu setelah khatam ber-Keydo, mungkin baru kepuasan saya sempurna. Sensasi ending kisah Keydo pasti akan terasa seperti saat saya mengetahui siapa sebenarnya Zachary Solomon di novel Lost Symbol. Grafik alur yang disajikan Keydo saya rasakan seperti ketika membaca Larung karya Ayu Utami yang menanjak perlahan namun dipotong tebing curam di puncaknya yang tertinggi. Novel ini akhirnya saya nikmati seperti ketika saya membaca Dunia Sofi yang kaya pengetahuan tentang filsafat, alih-alih duduk di atas jalan pikiran Sofi yang mencari tahu siapa pengirim surat-surat di novel itu. Novel dengan tema hubungan asmara dan lika-likunya akan selalu menyisakan dua pilihan, mereka bersatu ataukah berpisah, namun justru bagaimana cara mereka bersatu atau berpisah itulah sektor yang akan kita nikmati sebagai pembaca.


Novel sulung bunda Tatty Elmir secara keseluruhan sangat indah. Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang yang selalu haus untuk mengisi hidupnya dengan esensi-esensi positif. (rhezaardiansyah)

Kamis, 02 Juni 2011

Meme Game Bagian 2

Inilah Meme Game bagian kedua. Meme bagian pertama sudah saya publikasikan tengah bulan Mei lalu. Teman-teman bisa baca edisi pertama meme game saya disini. Di meme game bagian pertama, saya cerita banyak tentang cassette player saya yang ganas. Inilah penampakannya.

Disana saya juga bercerita bahwa pembahasan lagu-lagu dalam tulisan ini dikhususkan seputar koleksi kaset saya. Inilah koleksi kaset-kaset yang saya maksud.

Di bagian terakhir ini, saya mulai dari pertanyaan nomor 16. Let’s go!

1. Song u used to love but now hate

Dewa, Dua Sedjoli. Haha. Lagu itu kan dulu wah banget ya, rasanya semua ABG pasti suka. Sekarang? Udah ah ga usah dibahas lagi. Haha.

2. Song that u hear often on a radio

Linkin Park, Place For My Head sama Somewhere I Belong. Lagu itu sering saya request di radio Dos-Q FM. Waktu itu SMP, sekarang Dos-Q FM udah ga ada.

3. Song that u wish u heard on a radio

Lagu apa aja terserah, saya sudah jarang denger radio. Haha.

4. Song from ur fave album

Album terbaik saya sepanjang masa adalah Reanimation, Linkin Park. Lagu paling bagus judulnya PPR:KUT. Album Linkin Park yang pertama saya beli ya album ini. Sejak terakhir Meteora, saya berhenti langganan Linkin Park.

5. Song that u listen when angry

Slipknot lah. Slipknot saya kenal pertama kali sekitar kelas 3 SMP, Tri yang ngenalin, dia teman sebangku saya. Dia minjemin VCD bajakan slipknot sama kaset album Iowa yang bau sleeve-nya sangat khas. Sekarang kabarnya slipknot lagi galau, gara2 ditinggal mati bassisnya, Paul Gray.

6. Song that u listen when happy

Wah macem-macem kalau lagi seneng, saya pilih SUM 41 aja, album All Killer No Filler, judul lagunya Fat Lip. Seperti yang pernah saya ceritakan di edisi pertama, tiga album SUM 41 ini saya dapat dari Tri, tapi ga langsung saya putar tiga kaset itu, saya masih ‘judge an album by it’s sleeve’. Tapi pikiran saya baru terbuka setelah memainkan sebuah game PS 2 tentang permainan voli pantai, lagu latarnya SUM 41, Fat Lip. Nah dari situ saya buka telinga untuk tiga album band asal Kanada itu, ternyata bagus semua. Album SUM 41 ini juga menginspirasi tulisan saya tentang inner beauty.

7. Song that u listen when u sad

Box Car Racer dong, suasananya pas. Lagu Sorrow kerasa lebih memprihatinkan :p

8. Song that u want to play when wedding

Ga ada di koleksi kaset saya. Lagu sundaan lah paling. Haha. Sama lagu Andy McKee yang judulnya Rhylin.

9. Song that u want to play at ur funeral

Kagak ada juga, solawatan lah paling. Haha.

10. Song that makes u laugh

Nirvana, Hairspray Queen. Di lagu ini Cobain nyanyinya ngasal banget, tapi malah jadi unik. Ada satu lagi, masih lagunya Nirvana di album Incesticide, judulnya Aero Zeppelin. Suara ‘aih’-nya Cobain suka bikin ketawa.

11. Song that u can play on an instrument

Yang paling suka saya bawain lagunya Good Charlotte, judulnya Girl and Boy. Kuncinya Cuma G-A bolak-balik, reffnya D-D/C#-G. Petikan gitarnya juga enak, liriknya simpel.

12. Song that u wish u could play

Lagunya Spunge, judulnya Roots. Itu lagu ska campur punk, saya taunya dari album kompilasi Wired-Up 2. Kaset album ini punya Sadang sebenarnya, tapi ada di saya. Hehe. Di album kompilasi ini Cuma lagu ini yang suka disetel bolak-balik.

13. Song from ur childhood

Yang diatas itu lagu masa kecil saya semua. Haha. Kalau mau lebih kecil lagu, lagu Michael Learns To Rock yang judulnya Sleeping Child boleh lah dikenalkan lagi :D. Lagu itu membawa saya kembali ke usia sekitar 2 tahun saat saya tinggal di sebuah desa kecil dan terpencil di selatan Garut bernama Bungbulang. Disana saya sekeluarga tinggal di sebuah rumah angker. Salah satu memori primitif yang masih saya ingat adalah ketika saya digendong seseorang yang saya tidak ingat siapa dia ke lantai atas. Saya dibawa ke balkon dan dijorokkan ke bawah ke arah sumur di bawahnya, untung ga diceburin. Saya lalu dihadapkan ke langit dengan mega terang yang merah menyala, setelah itu ga inget lagi.

14. Song fave at this time last year

Tahun lalu udah ga denger kaset lagi. Kalau begitu kita mundur ke 3 tahun yang lalu OK. Kayaknya itulah saat terakhir saya dengar lagu melalui kaset. Kaset yang saya dengar adalah Orginal Soundtrack 12 am punya Van. Lagu yang paling saya incar di album itu adalah lagu Hiburan Ringan milik Koil. Sebenarnya album itu udah saya kenal sejak SMA, Zot waktu itu setel di kosan. Setibanya di IPB, saya kangen lagu Hiburan Ringan yang keren itu. pas ngobrol-ngobrol sama Van, dia punya kasetnya, langsung lah saya pinjam. Di asrama tentu saja tidak ada cassette player. Coba tebak, dimana saya memainkan kaset itu? jawabannya adalah di perpustakaan LSI IPB. Di lantai 2 waktu itu, ada sebuah ruang audio yang isinya banyak tape recorder dan kaset2 belajar bahasa inggris dan media belajar audio-visual lain. Sekarang ruangan itu jadi tempat tesis dan disertasi, tape2 itu dipindah ke bawah, ke ruang yang banyak cermin itu. Nah ceritanya demi mendengar lagu-lagu itu, saya pergi ke perpus. Saya masukkan kasetnya, pasang headset, naikkan volume suara. Ternyata headset yang saya pakai ada gangguan, saya ganti lah dengan headset lain di ruangan itu. Saya lupa pencet pause dulu, langsung cabut aja tu headset, jadinya suara otomatis keluar dari speaker yang gede-gede itu dengan volume maksimal dan intro lagu koil yang pas distorsinya itu langsung terdengar di seantero jagat perpustakaan LSI, saya sendiri kaget banget, apalagi mungkin orang yang ga terbiasa dengan musik begitu. Spontan saya pencet tombol stop, suara bising pun lenyap, saya melepas nafas lega. Lalu saya berbalik ke belakang, melihat bagaimana kira-kira respon orang. Setelah berputarnya kepala saya, seorang ibu datang mendekati, saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk seramah mungkin. Si ibu hanya melihat, tanpa ngomong apa-apa, tanpa menampakkan ekspresi lanjutan. Kaset langsung saya ambil, saya tinggalkan perpustakaan itu dan tidak lagi memutar kaset disana. haha

Selasa, 17 Mei 2011

Meme Game

Ini adalah meme game yang pernah saya ceritain di twitter.

Permainan ini saya ketahui dari sebuah blog bernama parallel lines. Harusnya kan per hari, tapi ribet ah kalau per hari. Hehe. Saya juga mengajak teman2 yang baca tulisan ini untuk membuat tulisan serupa :)

Seperti yang saya bilang waktu itu, pembahasan meme game saya mau difokusin ke koleksi kaset, sambil mengenang masa kejayaan si perekam berbentuk pita. Tapi kalau mentok ga ada pilihan lain, saya bakal bahas di luar koleksi, boleh ya. Hehe. Here they are:

1. your favorite song :

Susah buat milih kategori ini, banyak banget soalnya. Untuk memilih satu lagu favorit ini, saya ambil kaset yang pertama saya beli dan pilih satu lagu paling saya suka. Ayo ada yang mau nebak album apa dan band apa yang saya beli? Dia adalah Red Hot Chili Peppers album By The Way. Saya beli kaset itu pas SMP, dibeliin dan dianter sama bokap. Hehe. Kaset itu saat ini nasibnya mengenaskan, pitanya kusut gara-gaya tape yang saya pake udah berumur sehingga mempengaruhi kinerjanya. Semua lagu di album itu saya suka, bahkan lagu terakhir, Venice Queen sampe menginspirasi kedatangan RHCP di IPB :D. Cerita lengkap tentang lagu itu ada disini. Tapi kalau harus milih satu yang paling wah, The Zephyr Song pilihan saya. Lagu itu adalah alasan kenapa kaset itu saya beli. Let’s fly on our zephyr ;)

2. your least favorite song

Buat yang satu ini, saya pilih lagu dari kaset terakhir yang saya beli. Dia adalah Endank Soekamti dengan albumnya yang bertajuk sssttt...!!!. Kaset itu saya beli tanggal 2 Juni 2007. Kenapa saya inget? Karena di dalam sleeve kaset itu ada sayembara, katanya buat yang mau jadi anggota kamtis family dan dapet souvenir, daftar sebelum tanggal 1 Juni 2007. Waktu itu sehari setelah batas akhir pendaftaran. Oke, lagu yang paling saya suka di album ini adalah Asu Tenanan. Waktu itu saya belum ngerti tu lagu nyeritain apa, tapi setelah tanya-tanya arti lagu berbahasa jawa itu, saya akhirnya tau. Musiknya punk khas Endank Soekamti, liriknya jowo banget, di akhir lagu ada outro instrumen gamelan kayak lagu Pagi Yang Menakjubkan-nya Sheila On 7. Pokoke lagu iki asu tenanan :D

3. a song that makes you happy

Lagu yang bikin saya seneng adalah Geek Stink Breath punya Green Day. Seperti yang sudah teman-teman ketahui, tape saya itu agak gimana gitu sehingga jika dan hanya jika kaset dimainkan disana maka risiko pitanya kusut itu cukup besar. Pas saya lagi nyetel lagu Geek Stink Breath di album International Superhits, pitanya kegulung kusut di dalem, nyangkut ke head tape, saya tarik kan susah, diakalin sedemikian rupa sehingga putuslah pitanya, padahal baru beli kemarinnya itu, sial. Pulang sekolah saya nyari lagi kaset itu, dan ternyata udah ga ada. Saya emang agak telat waktu itu ngoleksi Green Day. Skuad pimpinan Billy Joe itu waktu itu baru keluarin American Idiot, nah saya nyari album lama, ya jelas susah. Akhirnya saya nyerah, beli American Idiot aja, setidaknya sama-sama Green Day. Pas tu kaset dibungkus, ternyata International Superhits ada di rak sebelah. Masif terima kasih dihaturkan buat sohib saya Hamim yang waktu itu nganter beliin tu kaset. Setidaknya setelah denger lagu ini jadi inget dulu dikasih akses ke karya favorit dan perjuangannya cukup berkesan.

4. a song that makes you sad

Ada album yang bikin saya sedih. Ga sedih sih, menyesal lah tepatnya. Saya beli kaset Sex Pistols album Kiss This, dan saya menyesal karena saya Cuma bisa menikmati dua lagu pertama di album itu, God Save The Queen sama Anarchy In UK. Sisanya, ga saya denger lagi, ga seselera. Haha. Padahal waktu mau beli kaset itu saya bingung antara Sex Pistols itu sama kaset The President of United States of America. The President of USA ga kebeli sampe sekarang, jadinya tau Cuma dua lagu, Video Killed The Radio Star sama Peaches.

5.a song that reminds you of someone

Blink 182, Always. Lagu ini ngingetin saya ke Raindy Sofyandi yang mengenalkan Blink 182. Kami pernah sesekolah camping waktu SMA, pas ada penampilan seni tiap kelas, Raindy nyanyiin lagu ini. Dia juga penggemar berat Guns N Roses, sementara saya gila Nirvana. Jelas kami saling ejek senior masing-masing, wong Axl sama Cobain kan ga akur, tapi kami punya titik temu, Blink 182 ini. Saya denger Blink 182 pertama kali album Blink 182. Telat yah, itu karena sebelumnya saya apriori sama sebuah karya. Kalau udah dilabeli ‘pop’ meskipun ada embel-embel punk-nya, saya jadi ogah. Tapi sekarang sadar, ga menilai sebuah karya dari judulnya, apalagi dari genrenya. Nah, yang menarik dari album itu adalah, saya harus beli 2 kaset dengan judul yang sama karena kaset Raindy pitanya kusut pas dipinjem (jadi harus saya ganti) dan satu kaset lagi buat saya sendiri. Hehe.

6. a song that reminds you of somewhere

Ah, tentu saja prelude 3.0, The Blister Exist sama Three Nil di album The Subliminal Verses-nya Slipknot. Lagu-lagu itu adalah 3 lagu pertama yang dipasang di album itu sebelum Duality. Dulu di Metro TV ada acara musik tuh jam setengah 4 sore, apa ya judulnya lupa. Nah ada video Duality punya Slipknot, saya suka, beli kasetnya. Saya kurang jago ngapalin judul lagu, jadinya 3 lagu itu dilabeli bukan dengan judul, tapi dengan sebuah situasi saat era pertama kali saya tiba di Intan Kos, kosan saya waktu SMA. Kaset itu sering saya setel tiap pagi, jadi ngena banget sama suasana Intan Kos yang serba hijau, berbahan dominan kayu, bau nasi goreng buatan ibu kos. Uuuuuuuhhhhh.....

7.a song that reminds you of a certain event

Lagunya Nirvana, Smells Like Teen Spirit. Ada dua kejadian yang ‘lagu ini banget’. Pertama, perpisahan SMP. Saya manggung bawain lagu itu sama Aing Pendukung Persib punya PAS Band. Di sesi lagu pertama dalam album Nevermind itu, Adam malah joget dangdut di panggung, Ridwan on fire banget nyanyinya, Abeng yang ngenalin saya ke bang Cobain main bass, Zam-zam main gitar anteng, Andi oh tentu saja jadi Dave Grohl jadi-jadian, dan saya untuk pertama kalinya lompat sambil main gitar. Hihi. Gaya itu terinspirasi dari sebuah skena di video klip Points Of Authority-nya Linkin Park. Sejak saat itu, gaya loncat-loncat sambil main gitar cukup fasih saya praktikkan, meskipun waktu perpisahan SMA pas bawain Punk Hari Ini kaki saya keseleo pas loncat, sampe bengkak. Untung langsung dibenerin, kalau telat katanya waktu itu bakal sulit sembuh. Untung, untung. Nah kejadian kedua gara-gara lagu itu adalah aksi perusakan tape saya yang jadul itu. Haha. Jadi ceritanya saya suka Nirvana setelah dipinjami kaset Nevermind sama Abeng. Kaset itu saya balikin dan saya beli yang baru. Baru aja beli, saya udah siap tuh ngulik lagu pertama, Smells Like Teen Spirit, tapi kok lama mulainya. Pas saya cek ternyata tombol record kepencet, artinya sekian bagian lagu pertama hilang dong. Marah banget saya, langsung ambil gunting, pijit tombol record tanpa kaset di dalem, pas muncul semacam alat gitu, langsung saya potong pake gunting, dan tanpa pikir panjang saya buang ke tempat sampah. Saya kembali ke hadapan tape itu dan meratapi nasib Nevermind saya yang baru aja dibeli.

8. a song that you know all the words to

What We’re All About judulnya. Lagu ini pertama saya kenal dari video klip OST Spiderman lalu lagu ini ada juga di album kompilasi OST Spiderman punya Ridwan, teman sekamar saya di Intan Kos. Lagu ini juga muncul di album Half Hour of Power yang saya dapat dari hasil barter majalah Hai dengan 3 album SUM 41 punya dia. Saya sengaja ngapalin liriknya saking suka sama lagu ini. Hehe. Lagu ini pernah dibawakan waktu seleksi PPAN. Lagu hiphop yang saya bisa nyanyiin paling lagu-lagu Linkin Park, lagu ini, sama lagu Breakstuff-nya Limp Bizkit. Masa di seleksi bawain Breakstuff yang penuh dengan f words. Hehe.

9. a song that you can dance to

Dance saya paling ngangguk-ngangguk, dan lagu yang bikin saya begitu ya lagunya Rancid, Out Of Control. Singkat lagunya, temponya cepet, nyanyi teriak-teriak dan sewot, cepet banget si Lars Frederiksen nyanyi. Kaset itu sebenarnya saya beli dengan niat coba-coba. Waktu itu nama Rancid sering saya denger, tapi ga tau lagunya kek mana. Pas album Indestructible ada di rak toko kaset, coba lah saya beli, ternyata ajib semua.


10. a song that makes you fall asleep

Apa ya? Dewa album Cintailah Cinta. Haha. Waktu SMP saya cukup sering tidur siang, dan lagu pengiring tidur itu ya lagu-lagunya Dewa itu.


11.a song from your favorite band

Nirvana adalah band yang albumnya paling banyak saya koleksi. Lagu favorit Nirvana yang saya pilih di sesi ini adalah Breed. Ga ada matinya tu lagu. Pertama kali saya denger lagu itu di acara band 17-an di Kampung saya. Waktu itu pemain bass yang nyanyiin lagu ini pake sarung, balik ngaji kayaknya dia, eh langsung nge-Breed. Atau mungkin karena berkah pengajian, lagu itu langsung saya suka. Haha. Breed ada di album Nevermind yang semua lagunya ga ada yang gagal, bagus semua. Gambar di bawah ini adalah cuplikan video saat Nirvana membawakan lagu itu


12. a song from a band you hate

Band yang ga saya suka apa ya? Ga ada di koleksi kaset saya pastinya. Baiklah saya pilih Guns N Roses, soalnya mereka rival Nirvana. Haha. Ngga lah bukan itu alasannya. Ga suka aja sama suara melengkingnya si Axl Rose. Dandanannya juga menor gitu, berlebihan. Ironisnya, waktu saya masih kos di Pioneer, poster Axl Rose ukuran A2 bonus majalah Trax dipajang di kamar, kalung salib yang dia pake dilipat sama Van. Lagu dari band yang tidak saya sukai adalah Knockin’ On Heaven’s Door yang slow tapi melengking :p

13a song that is a guilty pleasure.


Muse, Time Is Running Out. Waktu itu saya pinjem kaset Absolution punya Winda, eh kasetnya (seperti biasa) kusut pas bagian lagu itu. Saya minta maaf ke Winda, dia bilang ga usah diganti. Hehe. Makasih ya Winda, semoga Tuhan mengganjar dia dengan koleksi karya musik yang lebih banyak :D

14. a song that no one would expect you to love

Lagu Westlife yang judulnya Loneliness Knows Me By Name. Haha. Lagunya bagus, saya suka. Itu kasetnya saya punya. Di sleevenya ada tanda tangan mereka lagi. Unyuk sekali ya Westlife itu, sekalian aja tambahin cap jempol, cap bibir sama cap tiga jari :p

15. a song that describes you

Nirvana, In Bloom. Apalagi pas bagian reff, “he’s the one who likes all our pretty songs and he likes to sing along and he likes to shot his gun but he don’t know what it means”. Di SMA suka Nirvana itu dikit banget, bahkan di kelas kayaknya saya yakin I’m the only one who loves Nirvana. Makanya “he’s the one who likes all our pretty songs” rasanya pas, “he likes to sing along” juga iya, “he likes to shot his gun” ini paling ga saya banget :D. “he don’t know what it means” merujuk ke lagu-lagunya kali yah, saya belum paham arti semua lagu Nirvana itu, nanti ya mungkin pas udah gede. Hehe. Ada lagi ni kenangan menarik tentang SMA dan Nirvana. Waktu kelas satu, di jendela belakang ada poster Shevchenko. Bukan poster sih, kliping lah. Nah si Sheva lalu diganti sama gambar Cobain yang diprint di kertas HVS.



Sisa pertanyaan kita lanjutkan di sesi berikutnya OK ;)