Sepekan lalu saya bertugas di Makassar, meliput kisah tentang inovasi di bidang pelayanan kesehatan bernama telemedika. Di metropolitannya Indonesia timur itu, seorang pasien bisa mendapat pelayanan kesehatan dari dokter spesialis hanya dengan mengunjungi puskesmas. Cerita lengkapnya nanti saja kamu tonton di program 360 Metro TV.
Dalam misi meliput telemedika itu, saya secara aneh berjumpa dengan beberapa Irma. Aneh sekaligus unik. Narasumber utama saya namanya Pak Idar. Dia punya asisten bernama Irma. Dengan Irma itulah saya berkomunikasi. Suatu ketika saya juga berjumpa dengan kepala dinas kesehatan kota, asistennya juga namanya Irma. Jadi ketika mau ketemu Pak Idar kesulitan ketemu Irma pertama karena ternyata berbeda dengan Irma kedua.
Lain hari saya juga menjumpai kepala puskesmas yang namanya Irma. Ketika saya tanyakan ke seorang petugas di sana, dia bilang itu kebetulan aja. Bukan berarti Irma nama khas Makassar.
Makassar tanpa ketika saya hampir mendarat
Tongkrongan gaul anak Makassar: tempat ngopi di pinggir pantai
Melintasi benteng rotterdam
Menunggu keberangkatan ke pulau seberang sambil gegambaran
Kesibukan di dermaga
Menggambar di atas kapal
Suasana sebuah siang di kedai kopi Phoo Nam. Kedai kopi ini terkenal. Kopinya enak
Sketsa lain. Di kantor dinas kesehatan kota
Ketika mengunjungi kantor Metro TV biro Makassar, hujan deras turun di luar. Ini penglihatan ketika hujan mulai reda
Yang berbaju putih itu Pak Amir, pengemudi mobil yang saya sewa untuk liputan. Dia selalu dikira seorang tionghoa, karena memang sipit, Padahal dia asli Sulawesi. Pria kelahiran 1955 ini tinggal berdua dengan istrinya. Mereka tidak punya anak.
Pagi ketika saya hendak kembali ke Jakarta melalui bandara Sultan Hasanuddin
Ini foto tim serbu api saat berusaha menyampaikan solusi ke presiden tentang penjagaan lahan & pemadaman api di lahan gambut. Saksikan kisah mereka nanti malam jam 21.05 di program 360 metro tv
Rangkuman kisah menyebalkan tentang mengapa dua wartawan tidak saling berkomunikasi untuk mengantarkan presiden kepada relawan yang dicarinya. Sementara para relawan juga ingin bertemu presiden mereka
Sisi Relawan
Sirine meraung sedari jauh. Deretan kendaraan mengular beriringan. Hari itu, presiden berkunjung ke Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Di kilometer tiga puluh, sekelompok orang berkerumun di tepian jalan. "Kalau pak presiden mampir kesini kira2 bakal seperti apa situasinya?" Saya bertanya. "Kalau beliau masuk sini ya mungkin pemikiran beliau akan berbeda, instruksinya juga lebih ke sifatnya yang merakyat dan melibatkan banyak pihak untuk bisa terlibat. Karena kalau dia kanal, masyarakat kan nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi kalau kegiatan sumur bor masyarakat kecil pun yang memiliki lahan kecil juga bisa menjaga lahannya supaya tidak terbakar." Januminro Busal menjelaskan panjang lebar.
Pria yang biasa dpanggil Janu itu adalah pemilih puluhan lahan di Kabupaten Pulang Pisau. Sementara lahan dan hutan di sekitarnya terbakar, wilayah milik Janu tetap sehat. Contohnya area yang ada di kilometer 30 tadi. Bahkan Janu punya istilah sendiri untuk kawasannya yang satu itu: jumpun pambelom, yang artinya hutan sumber kehidupan. Di jumpun pambelom, kehidupan asli hutan sekunder memang terjaga lestari. Berbagai jenis tanaman tetap tumbuh. Dari pasak bumi hingga pohon ulin. Jumpun pambelom juga menjadi area pelarian orangutan setelah mereka terpojok karena habitat aslinya terbakar atau dibakar. Di sebuah bagian hutan, terlihat jelas batas dampak yang timbul akibat bencana kebakaran lahan. Satu sisi, tumbuhannya berwarna coklat bercampur jelaga hitam, sementara di sisi lain, hijau pepohonan masih bertahan. Apa rahasianya? Rupanya ia sumur bor.
Sumur bor yang dikembangkan Janu, berfungsi sebagai hidran hutan. Terhubung ke permukaan dengan sebuah pipa, air dari kedalaman 20an meter selalu siap untuk dimuntahkan. Zat pembasah itu nantinya bisa dipakai untuk menyemprot langsung kobaran api, atau pun membasahi parit alias kanal pemutus rambatan api. Pembuatan sumur bor dilakukan oleh para relawan. Meski diinisiasi oleh warga setempat, relawan yang kemudian bernama tim serbu api itu berasal dari berbagai daerah. Saya menemui seorang yang berasal dari Banjarmasin. Kala itu ia sedang membangun sumur bor bersama relawan dari Bandung. Kali lain saya mewawancarai relawan lain dari Bogor. Kisah tentang mereka memang dramatik dan heroik. Daurie Bintang, relawan yang jadi narasumber saya, berkisah panjang lebar tentang betapa ia dan sejawatnya musti melawan banyak hal: panasnya kobaran api, serangga penggangu, hingga laku picik pembakar lahan. Atas kerja bersama itulah, 72 sumur bor telah dibangun untuk melindungi 2000 hektar lahan. Janu dan Daurie kemudian hakul yakin, jika TNI dan aparat pemerintah lain dilibatkan, akan ada lebih banyak sumur bor yang berfungsi mencegah sekaligus menjinakkan kebakaran lahan. Hingga kemudian, presiden berkunjung ke Pulang Pisau. Mereka ingin menyampaikan langsung ke pemimpin negara, bahwa sistem sekat kanal kurang ampuh tanpa sumur bor yang telah mereka kembangkan.
Setelah rombongan presiden melintas ke arah Tumbang Nusa, mereka punya satu kesempatan terakhir: mencegat presiden saat rombongannya mengarah ke bandara. Kala pusaka itu kemudian tiba. Spanduk telah sedia terbentang. Selang pemadam api beratraksi bak air mancur, berusaha menarik perhatian. Dari sayup hingga nyata, suara sirine terdengar. Satu per satu mobil melintas, hingga sebuah sedan ber-plat Indonesia-1 melaju. Penumpang di baris belakangnya terlihat beranjak dari jok. Itulah Presiden Jokowi. Mobil itu kemudian melambat. Sayang, tak ada yang berinisiatif mengejar. Saya sendiri ragu. Sebagai peliput, peran saya hanya memfigura mereka. Jika jadinya saya yang mengejar mobil presiden yang melambat dan memastikannya berhenti, akan terlihat aneh di depan kamera yang sedari tadi merekam. Sayangnya, rombongan itu akhirnya berlalu. Mimpi relawan untuk menyampaikan aspirasi pemadaman api, otomatis pupus. Pak Janu menunduk lesu. Pundaknya melorot. Meski telah menyampaikan ide tentang sumur ke menteri kehutanan dan lingkungan hidup, rupanya ia belum puas untuk menyampaikan idenya langsung ke sang pengambil keputusan tertinggi negara ini. Ikhtiar Pak Janu wajar, karena hingga kini, bantuan dari kementerian itu baru sebatas sekian puluh titik sumur bor. Akhirnya, mimpi membuat ratusan sumur bor lain, mesti bergantung lagi ke pundak relawan.
Sisi Kepresidenan
Pesawat kepresidenan mendarat di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya. Dua hari belakangan lapangan terbang itu baru beroperasi lagi setelah beberapa hari berurutan, hujan menghapus kabut asap yang membuat penerbangan langsung ke ibu kota Kalimantan Tengah itu mustahil dilakukan. Turun dari burung besi yang sebelumnya membawa saya ke Amerika (bersama presiden tentunya), saya langsung menuju mobil yang disediakan khusus bagi rombongan presiden. Saya ikut serta, sebagai pewarta. Pertama, sebuah sekolah dasar jadi lokasi kunjungan. Anak-anak SD itu kembali ke kelas mereka setelah lebih dari sebulan belajar di rumah. Sementara siswa di daerah lain bersiap menghadapi UTS, mereka akan melewatkannya. Bencana kabut asap tidak membuat tes itu bisa digelar. Bagaimana mungkin setelah libur 35 hari, begitu masuk langsung ujian?
Kunjungan presiden berikutnya, adalah sepetak luas lahan gambut yang sebelumnya pernah ditinjau sang kepala negara. Lokasinya ada di dekat sebuah jembatan panjang yang membentang 12 kilometer. Presiden Jokowi meninjau pembuatan kanal bersekat yang nantinya berguna untuk menyetop penyebaran kebakaran di lahan gambut. Puluhan menit berlalu, rombongan kami kembali ke arah berlawanan, hendak pulang. Di perjalanan, laju rombongan kendaraan melambat. Tak ada reaksi aneh di dalam mobil yang saya tumpangi. Suasana di kanan jalan juga lengang-lengang saja. Perjalanan berlanjut.
Kilometer berlanjut, menit berlalu, telepon berdering. Ajudan presiden. "Itu tadi temen Metro TV yang sama relawan itu siapa? Pak Jokowi mau ketemu, tadi mau turun tapi ragu-ragu".
"Coba saya tanya teman kontri di sini ya," jawab saya yang tak tahu harus jawab dengan nama siapa. Di sisi lain telepon, kontributor Metro TV Palangkaraya mengiyakan bahwa itu kamerawannya. Padahal beberapa hari kemudian barulah saya tahu, itu bukan kru kontributor. Nomor sang kontributor kemudian saya setor ke si asisten pribadi presiden, plus meme tentang relawan yang menyediakan rekening khusus untuk para donatur menyumbang. Presiden memang sebenarnya berniat untuk menemui para relawan pemadam kebakaran. Sang asisten pribadi, bahkan berusaha mencari-cari kontak kelompok itu di internet. Sayangnya, entah mengapa, pertemuan itu tidak terwujud. Perjalanan berlanjut. Rombongan presiden kembali ke ibu kota. []
Hari terakhir sebelum pulang dari Jerman, para wartawan yang bertugas utama meliput Frankfurt Book Fair, menyempatkan diri berkunjung ke kota Heidelberg. Kota ini dijangkau selama satu jam perjalanan dengan bis dari Frankfurt. Meski ada insiden kecil, tapi kunjungan kami tetap memuaskan. Mengambil jadwal perjalanan jam 7 pagi, saya dan Andra ternyata salah memesan tiket. Alhasil baru dua jam kemudian kami bisa berangkat. Tonggi mengorbankan diri menemani kami.
Di Heidelberg, kami mengunjungi kastil dan jembatan. Tentu juga menikmati indahnya jalan berbunga di sekitar dua lokasi itu. Kisah lengkapnya simak melalui foto dan video berikut:
Berfoto setelah memasuki gerbang kastil
Masih setelah gerbang masuk kastil, tapi background-nya ganti. Hehe
Pintu di sebelah kiri foto itu adalah jalan menuju sebuah gentong besar tempat menyimpan anggur. Gede banget gentongnya
Di pelataran kastil yang jadi semacam tempat strategis untuk melihat kota Heidelberg dari atas
Di tempat yang sama dengan sebelumnya, tapi ganti bekgron. Hehe
Jembatan di sungai atas sungai Neckar
Ini sungai Main di Frankfurt. Pinggiram sungai jadi tempat terbuka yang selalu bisa dinikmati untuk berbagai aktivitas. Dari anak sampai dewasa, dari nongkrong sampai jogging.
Jalan tol di Jerman
Sebuah patung menghiasi jembatan
Jembatan, sungai, kastil dan Heidelber memang tempat cocok buat pacaran
Pemandangan dari jalan
Gang di kota Heidelberg
Bunga-bunga di pot jalan menyelingi warna musim gugur
Ngecek hasil foto
Panenjoan
Lorong kereta yang mengangkut pengunjung kastil ke atas
Suasana sungai Main di pagi hari
Kesibukan di stasiun kota Frankfurt
Adi, Cindy, saya. Difoto Tonggi. Bawaan saya memang paling ribet. Hehe
Sambil main sambil kerja
Semalam sebelumnya kami makan bersama di restoran Malaysia. Bercanda sampe rahang saya pegal. Sebelum berpisah kami berfoto berlatar haupfbahnhof atau stasiun pusat kota.
Pak Ahmad Tohari beralan menuju ruang tunggu penerbangan. Kami berjumpa lagi untuk tujuan serupa: menghadiri festival buku di Jerman
Saya sangat beruntung. Awal tahun lalu saya berkesempatan tugas liputan ke Jerman (tugas liputan luar negeri pertama saya). Kala itu, saya meliput kegiatan Leipzig Book Fair yang juga diikuti Indonesia. Beberapa bulan setelahnya, ada lomba liputan dengan tema "aku dan buku". Hasil liputan dari Leipzig dan Banten, saya ikutkan dan ternyata menang. Hadiahnya? Liputan ke Frankfurt Book Fair. Dengan demikian, dua kali sudah saya mengunjungi negeri panser itu. Ini kisah bagaimana perjalanan saya ke sana:
Saya membawa bekal novel Kubah gubahan Pak Ahmad Tohari. Rupanya di bandara ketemu beliau lagi. Pas sudah. Pak Tohari tanda tangani novel saya. Pada kesempatan sebelumnya, kumpulan cerpen Senyum Karyamin punya saya juga sudah dilegalisir sama penulis bergaya tutur khas ini. Waktu liputan Leipzig Book Fair, kami berbagi ruang istirahat.
Singgah di Abu Dhabi ketika tengah malam, sementara besok paginya kami para wartawan akan langsung bekerja untuk meliput upacara pembukaan Frankfurt Book Fair. Beberapa dari kami mencari posisi nyaman untuk menabung tenaga sementara beberapa lainnya jalan-jalan keliling bandara ini. Sekitar 3-4 jam setelahnya, perjalanan kami berlanjut
Ruang merokok di bandara. Beberapa orang delegasi Indonesia yang berangkat bersama saya heran kok gitu amat ruang rokoknnya. Hehe
Akhirnya kami tiba di Jerman. Saya sangat antusias dengan pepohonan yang warnanya seperti lampu lalu lintas: merah, kuning, hijau
Begitu melihat taman, saya selalu ingat pacar saya. Hehe
Suasana jalan menuju hotel tempat saya menginap di Offenbach
Musim gugur adalah warna pepohonan yang tidak seragam dan udara yang cukup dingin. Sejak belum berangkat panitia ingatkan bahwa nanti kami bisa terganggu dengan udara dingin itu. Saya bawa long john, dan nggak kepake. Hehe. Ternyata tidak terlalu dingin Meskipun yaaa, memang dingin dan tetap perlu baju hangat
Selama di Jerman, kamu akan menikmati layanan transportasi umum yang nyaman, terutama karena tepat waktu. Ada papan pengumuman yang menunjukkan kapan kereta kita akan tiba. Peta juga tersedia. Gratis pula. Tapi selama acara Frankfurt Book Fair berlangsung. Hehe. Cuma di kota Frankfurt lagi. Hehe
Seni jalanan tidak pernah mati
Kereta melintas kawasan perkebunan
Beginilah kira-kira bagian dalam keretanya. Tempat Mas Joko (pria bertopi) duduk sebenarnya area khusus pembawa sepeda (dan sepedanya tentu saja), tapi karena kosong ya tempati saja. Bebas. Petugas juga tidak selalu mengecek karcis kita. Jadi kalau pun nggak beli karcis, bisa naik dan turun di tempat tujuan. Asal nggak ketahuan. Tapi sekalinya kena pengecekan dan gak punya tiket, ucapkan selamat tinggal ke uang 60 euro
Sebuah toko yang sering saya lewati dari hotel menuju stasiun
Kondisi jalan malam hari
Stiker, mural dan grafiti tidak susah kita temukan di tempat umum
Suasana di depan bandara Frankfurt
Ini foto ketika turun dari pesawat di Abu Dhabi dalam perjalanan pulang ke Indonesia
Saya menggambar sketsa interiror bandara Abu Dhabi
Bulan desember nanti, akan diputar seri ketujuh film star wars. meskipun saya belum menonton enam seri sebelumnya, saya sudah tahu inti cerita kisah yang justru diawali episode keempat ini. saya pun antusias untuk menonton keenam film yang sudah saya siapkan, sebelum desember nanti nonton yang ketujuh. nah di sela penantian itu, ketika mengunjungi frankfurt book fair, saya melihat seseorang mengenakan tote bag bergambar empat tokoh star wars. dan tidak cuma satu orang, tapi dua. bahkan beberapa saya lihat ada juga yang pakai tas bertanda kertas yang distepler itu. saya pun berkesimpulan: tas bagus itu, gratis. haha.
Kita semua mafhum bahwa manusia, kita semua, secara naluriah hidup dengan apa yang disebut prinsip ekonomi. dengan prinsip itu, kita akan berusaha mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil mungkin. barang gratisan jelas memenuhi kriteria itu. apalagi bagus. maka saya berikhtiar untuk memiliki tas star wars itu.
pertama saya tanya ke seorang penyandang tas. ia bilang tasnya ada di hall 3. dari hall 4 tempat saya berada saat itu, saya langsung beranjak. Buru-buru. Karena menurut orang yang saya tanya, "masih ada". artinya terbatas dong. iya tentu saja. haha. setibanya di hall 3 setelah naik turun eskalator dari hall sebelah, kok nggak ada rame-rame. aneh juga, biasanya justru para fans berkerumun atau setidaknya berseliweran dengan tanda khusus. saya pun keliling di bagian buku komik. belasan menit mencari, tempat yang dimaksud tidak ada. Lalu ada seorang ibu bermata kecil yang memakai tas itu. Aha, ini dia petunjuk berikutnya. Namun ketika saya tanya dia malah tidak tahu. masa ditanya dapet itu dari mana dia nggak tau. haha. mungkin dia nggak ngerti bahasa inggris. oke, akhirnya kami berpisah setelah saya ucapkan arigatou dan dia membungkuk.
saya pun kembali ke pintu masuk setelah lumayan keliling ke beberapa lorong. Peta yang ada di depan sana saya periksa. Tapi kok nggak ada nama Disney atau Lucas Film, produsen produk Star Wars. Saya tanya ke petugas di bagian ticketing, dia nggak tau. Untung ada dua pemuda di area penitipan barang yang mencangklong tas start wars itu. Ini dia. Mereka ternyata nggak yakin juga tadi dapetnya di mana. Hehe. Ternyata perjuangan mendapatkan tas star wars gratis nggak semudah yang saya kira. Saya menyerah? Oh tidak. Dua abang-abang itu lalu menuju pintu masuk, dari sana dia menunjuk sebuah gerai. Di sanalah saya bisa meminta. Ya, meminta secara khusus karena memang tidak terlihat dari luar. Saya paham, dan langsung mengeksekusi perintah.
Setibanya di gerai yang dimaksud, saya tidak langsung utarakan pemaksudan. Saya pancing dengan meminta katalog produk perusahaan percetakan buku itu. Dia ngasih beberapa lembar, tapi tanpa tas. Hahahaha. Sial. Lalu ekor mata saya menangkap sebuah dus yang diisi sesuatu berwarna hitam. Aha. Itulah tas yang saya cari. Kali ini saya tidak lagi berimplisit. Langsung saya bilang "apakah ini bisa dibungkus dengan tas itu?" Semoga itu terdengar cukup halus sebagai tanda meminta. Hehe. Akhirnya katalog itu dibungkus ke dalam tas hingga akhirnya ia berpindah tangan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya. "Finally you found it!" kata pemuda yang tadi memberi arahan. "Thank you so much!" ujar saya berteriak. Mukanya keburu berpaling sembari menyusun langkah cepat sebelum saya teriak lebih kencang: "May the force be with you!" []
Anak kecilnya bingung
Sebuah tembok di dekat stasiun pusat kota Frankfurt