Selasa, 17 Februari 2015

Arung Jeram di Sungai Citarik





Hari Sabtu lalu, untuk pertama kalinya, saya bermain arung jeram. Lokasinya di Sungai Citarik Sukabumi. Saya ke sana bersama Suci, Windi, Feby, Amin, dan Vinna. Kami berangkat jam 7 dari rumah Windi di Tajur Bogor, dan tiba di tujuan tiga jam kemudian. Sebenarnya kami sudah pesan untuk mulai rafting jam 13:00, tapi ternyata bisa dimajukan jadwalnya. Secara keseluruhan, saya puas dengan pelayanan dan pelaksanaan arum jeram dengan menggunakan salah satu operator itu. Tiket berarung jeram di sungai ini saya beli sewaktu hadir di travel fair sekitar November tahun lalu. 
"Sudah tahu kan, yang sakit jantung dan sakit asma gak boleh ikutan?" kata seorang petugas. "Kalau sakit hati gimana?" Tanya Feby bercanda. "Langsung sembuh!" Tawa kami pun pecah. Demikianlah suasana persiapan kami sebelum bersiap menerjang jerang. Setelah minum teh hangat, kami diajak ke sebuah pos untuk memakai pelampung, helm, dan membawa dayung. Dari tempat itu, kami dibawa dengan sebuah mobil bak. Setibanya di pos keberangkatan, dua perahu karet sudah menanti. Saatnya kami beraksi.

Usai menempuh sembilan kilometer sungai Citarik, kami disuguhi menu makan siang ala sunda. Paduan nasi pulen, sayur asem, paha ayam kampung yang digoreng kering, tahu dan tempe goreng, karedok, kerupuk, ikan asik kering, kerupuk dan sambal yang dimakan di atas daun pisang itu, bikin pengen nambah. Tapi saya gak nambah. Haha. Setelah kenyang, kami ganti baju dan memilih foto yang disediakan di sebuah gerai khusus. Harganya 20.000 rupiah per foto untuk dicopy dalam bentuk CD. Minimal beli lima jadi satu CD harganya setidaknya 100.000. Relatif murah untuk dibayar patungan dan untuk makin mengembangkan ekonomi masyarakat di sekitar sungai citarik. 

Sungai ini memang jadi berkah buat warga sekitarnya. Setelah dikembangkan jadi tempat wisata, banyak yang menggantungkan sumber penghasilan dari bisnis itu. Misalnya, pemandu wisata orang sana, yang juga atlet olah raga air. Mobil bak yang digunakan untuk mengangkut wisatawan juga milik warga. Operator wisata menyewa dari mereka tiap hari. Saking terberdayanya warga lokal, kata pemandu wisata saya, Kang Abu, warga sekitar sudah ada yang pegang posisi manager. Oh iya, Kang Abu ini atlet nasional arung jeram loh. Bulan Oktober nanti, dia juga akan ikut kejuaraan internasional arung jeram di Sungai Citarik. Mau nyoba jeram sungai sekelas kejuaraan internasional? Datanglah ke Citarik.

Itu saya yang badannya condong ke luar perahu karet. Rasanya saya pengen jatuh dari sana dan menghanyutkan diri. Haha. Meskipun yang ini asik, sepertinya body rafting lebih menyenangkan
Di beberapa kesempatan saya nyalakan kamera dan merekam video. Kalau pakai jasa perekam video dari operator, biayanya 500 ribu rupiah.
Sungai Citarik ini bersih, tak ada sampah, tak ada aktivitas yang mengganggu kegiatan wisata air. Menyenangkan
Dari markas operator, kami diangkut dengan mobil bak ini ke titik awal pengarungan. Mobil ini milik warga setempat yang disewakan ke operator.
Setiba di titik keberangkatan, dua perahu karet siap menanti
Foto ini diambil menggunakan kamera Amin. Kita bisa juga minta tolong ke pemandu wisata yang ada di perahu lain untuk ambilkan foto
Di sejumlah titik, ada fotografer di pinggir sungai yang menangkap momen seru seperti ini
Foto yang dijepret tim operator selanjutnya dijual di gerai khusus dengan harga 20.000 per foto dalam bentuk data digital.
Untuk foto dengan kualitas seperti ini, rasanya harga itu sepadan. Apalagi itu digunakan buat mengembangkan ekonomi lokal
Saya pakai baju tanpa lengan, akibatnya, bagian pundak terbakar. Rasanya perih sampai tiga hari setelahnya. Hehe
Selain menerjang jerang, kami juga dikenalkan ke berbagai lokasi menarik di sepanjang sungai. Misalnya air terjun kecil
Di akhir pengarungan, kami berfoto bersama
Ada beberapa operator arung jeram di sekitar sungai citarik. Yang satu katanya fokus di pelayanan akomodasi yang maksimal, yang lain ada yang bilang jago di permainan airnya ketika kita berarung jeram
Garis finish. Di sinilah arung jeram sepanjang 9 km selama sekitar dua jam itu kami tempuh
Setelah berganti baju, sebelum pulang
Suasana tempat makan siang dan gerai foto
Suasana toilet pria. Mandi di bawah guyuran air di bawah sinar matahari menghasilkan pelangi yang terbentuk seperti mengelilingi kita. Di bagian kanan tebing dan hutan
Setibanya di garis finish, kami disuguhi minum air kelapa muda, langsung dari batoknya
Kami berfoto bersama pemandu wisata, Kang Abu dan Kang Dewa. Abu adalah atlet arung jeram nasional. 
PIntu masuk toilet dan gerai oleh-oleh
Ruang resepsionis (bawah) yang gaya arsitekturnya mirip leuit atau tempat menampung gabah khas suku sunda

Rabu, 11 Februari 2015

Menikmati Pulau Tak Berpenghuni di Bolmut


Menuju Bolmut

Hamparan biru di balik jendela pesawat kini berbatas. Saya kemudian melihat atol yang melingkar. Ia lalu bergeser hilang. Posisinya di panggung yang tampak dari udara itu digantikan Gunung Manadotua dan Pulau Bunaken. Beberapa menit kemudian, saya menapak Bumi Kawanua, Manado. Inilah titik singgah pertama saya untuk menuju Pulau Bongkil, pulau terluar Indonesia di Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara (Bolmut). Kabar beredar, indahnya Bongkil bukan main-main. Posisinya yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi yang berbatasan dengan Filipina, membuat Bongkil perlu mendapat perhatian khusus. 

Enam jam perjalanan darat adalah menu pertama saya. Jarak 314 kilometer itu kami lalui di pesisir utara pulau Sulawesi. Untuk menuju Bolmut dari Manado, kita bisa menumpang bis. Ongkosnya sekitar 175 ribu rupiah per orang. Pilihan lainnya, kita juga bisa menyewa sebuah taksi gelap, demikian warga sekitar memberi nama. Taksi gelap yang dimaksud, tak lain adalah mobil carteran sekelas mini van. Yang unik dari tumpangan ini, kita dipatok harga beragam angka. Jika anda duduk di samping pak supir, tarifnya 100 ribu. Nominalnya menjadi 90 ribu jika Anda ada di baris kedua, dan 80 ribu untuk posisi bontot. Kalau anda sudah duduk nyaman, saatnya menikmati perjalanan.

Dua kabupaten akan dilewati dalam perjalanan menuju Bolaang Mongondow Utara atau Bolmut. Visualisasi beragam, juga akan kita jumpai saat melewati Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow sebelum tiba di Bolmut. Dari jalan berkelok yang diapit tebing dan jurang berujung laut, hingga bukit berpuncak tumpul yang diselimuti rumput lembut hijau, lengkap tersedia. Bukan tidak mungkin juga perjalanan Anda nanti diinterupsi kawanan sapi yang menjamah jalan raya. 

Ketika berada di Minahasa Selatan, saya sempat mampir ke sebuah kedai kopi. Kios Topas namanya. Tempat ini tidak terlihat layaknya kedai biasa. Ketika hanya melihatnya dari luar, saya sempat mengira ini toko sembako. Tapi coba Anda cicipi kopinya. Kopi susu yang saya pesan sudah berwarna cokelat di bagian atas cangkir. Susu kental manis terlihat mengendap di dasarnya. Setelah saya aduk dan cicipi, toples berisi gula di atas meja tak lagi berguna. Yang jadi perhatian saya di atas sana, cuma sebuah bakpau. Ini bukan sembarang bakpau. Bagian dalamnya berisi kacang hijau yang telah menghitam. Sebelum berada di pusat bakpau, si kacang hijau disangrai dulu, baru kemudian dilumatkan. Biapong namanya. 

Saya terjaga ketika langit sudah gelap. Pening dan mual masih sedikit tersisa, buah dari perjalanan berkelok empat jam terakhir. Kini kami sudah ada di kabupaten tujuan, tepatnya di Desa Sang Tembolang Kecamatan Sangko, Bolmut. Suara deburan ombak kemudian menyusup lembut dari bagian belakang kedai kopi sederhana kami singgahi. Suara lain dari seberang jalan adalah nyawa dari syahdunya malam di Tanah Minahasa itu, suara kolintang. 

Adalah Lasarus Lutia. Petani berusia 61 tahun inilah sosok di balik si bunyi kolintang. Ditemani sang anak, istri dan cucu, Lutia memainkan sejumlah lagu dengan alat musik buatannya. Dari Teluk Bayur, Anging Mamiri, hingga Halo-Halo Bandung, khatam dibunyikan dalam versi khas dengan tangannya yang dirambati urat. "Saya main kolintang ini untuk melupakan kesusahan," ujarnya spontan. Di pelataran rumah panggungnya yang tak luas, Lutia menunjukkan kolintangnya yang lain. Ada tujuh kolintang yang ia simpan, tujuh kolintang berbagai jenis yang biasa rampak dimainkan jika lengkap anak-anaknya sedang ada di rumah. Semua ia buat sendiri. "Dibuat dari kayu bintang kulit hitam," katanya membocorkan rahasia. Sebuah harmonika biasa ia gunakan buat menentukan nada dasar. Jika masih terasa sumbang, Lutia mengiris perlahan bagian belakang bilah kayu hingga nada dasar sempurna tercipta. Lutia mengaku tak jarang memainkan kolintang di gerejanya, meski sebenarnya ada perasaan malu. "Ini kaki-kakinya saja belum ada," ujarnya merasa kekurangan. Pesimisme pria asal Sangihe ini berubah menjadi ungkapan sumringah ketika saya menjabarkan kemungkinan jika kisahnya dipaparkan media. Harap di air muka Lutia berkata, "lestarikan kolintangku!"



Pulau Bongkil

Pasir putih atau bongkil. Demikian orang Buol memberi nama pulau itu dengan bahasanya. Pulau Bongkil berjarak sekitar 15 mil dari dermaga Boroko di Kecamatan Kaidipang, Bolmut. Sebelum 2012, Pulau Bongkil terdaftar milik Kabupaten Gorontalo Utara. Kini, Kabupaten Bolmut adalah yang bertanggung jawab atas pulau kecil terluar Indonesia itu. Gelar pulau kecil terluar tersemat di nama Pulau Bongkil karena ia berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi, batas antara Indonesia dan Filipina. Sayangnya potensi pulau tak berpenghuni ini belum maksimal dioptimalkan. 

Kapal berkekuatan 150 tenaga kuda yang saya tumpangi, tiba di muka pulau. Belum ada perjalanan kapal rutin ke Pulau Bongkil. Kali itu saya menumpang kapal patroli polisi laut. Selain menumpang (kapal patroli atau kapal nelayan), menyewa kapal seharga sekitar 400 ribu rupiah per hari juga bisa kita lakukan. Singkat cerita kami kemudian sudah tiba. Sebuah kerangka dermaga berbahan kayu berdiri ringkih tak bisa digunakan. Beruntung ada seorang nelayan yang baru saja akan  bertolak dari Pulau Bongkil. Atas bantuannya, kami pun berlabuh. Di pulau tak berpenduduk itu, ada sebuah bangunan yang biasa digunakan para nelayan untuk beristirahat. Bangunan serupa rumah ini penuh goresan vandal. Dengan kaca jendela pecah dan pintu tak berdaun, nelayan atau siapa pun yang memanfaatkan tempat ini tentu tak akan nyaman. Belum lagi tak berfungsinya sebuah mercusuar. Dengan tinggi sekitar sepuluh meter, ia tak punya sumber penerangan. Padahal peran lampu mercusuar penting sebagai penanda pulau di kala malam, dan petunjuk bagi pelaut yang berlayar ketika langit gelap. 

Ada satu hal lagi yang terlewat dari pulau landai yang habis dikitari selama kurang dari setengah jam ini: bendera. Tak ada Sang Saka Merah Putih di Pulau Bongkil. Meski ada prasasti yang ditinggalkan sebagai oleh-oleh survey pada tahun 2011, keberadaan bendera tentu akan mempertegas kepemilikan pulau ini. Pemerintah setempat berjanji segera mengibarkannya di sana. Ancaman lain yang dihadapi Bongkil dan perairan di sekitarnya, adalah kerusakan ekosistem akibat penangkapan ikan dengan bahan peledak. Polisi air yang bertugas pun tak bisa banyak berbuat. Kekurangan alat pertahanan dan personil malah membuat mereka terancam dibom para nelayan nakal itu. “Karena mereka takut ditangkap jadi untuk melakukan pengejaran kita gak bisa karena keterbatasan BBM,” ujar Brigadir Ari Wibowo, salah seorang personil polisi air.

Di tengah kerentanan yang melingkupi Pulau Bongkil, tak bisa dipungkiri bahwa kalau jadi tempat wisata, pulau ini punya potensi. Jika saat itu waktu saya masih cukup banyak, berkemah tentu akan sangat menyenangkan. Selain pesisirnya yang fotogenik, dangkalnya laut di sekitar pulau dan tenangnya gelombang, menggoda saya untuk membasahi diri. Maka jika Anda mengunjungi Pulau Bongkil, masukkan satu kata ini ke dalam daftar hal yang wajib dilakukan: berenang. []

Perjalanan menuju Bolaang Mongondow dari Manado

Pelabuhan Boroko

Seorang penjual ikan menunggu kapal pengangkut ikan merapat

Rangka kapal di Dermaga Boroko

Sebuah pantai di Bolaang Mongondow
Matahari terbit di Dermaga Boroko
Kepiting berlarian di pantai
Saya setelah berenang ria di pantai pulau Bongkil
 
Nelayan mulai menjemput rezekinya

Perlahan mentari terlahir di Dermaga Boroko

Pulau Bongkil

Pulau Bongkil

Seorang nelayan sehabis singgah di Pulau Bongkil

Menara Pulau Bongkil
Sebuah kedai kopi di Amurang

Sebuah bukit di Bolaang Mongondow Utara
Bukit surganya hewan ternak
Suasana klasik di Amurang

Sabtu, 07 Februari 2015

Why Do We Love Violence?



      I have just watched two movies, Nightcrawler and The Purge 2: Anarchy. Those movies was impressed me that human, is like a wolf to another, homo homini lupus. Nightcrawler told about a man who survived living in California by became a video journalist. Louis Bloom, a character roled by Jake Gillenhaal, formerly a jobless who stole and sold his illegal goods. Until one night, he saw a video journalist that was captured one accident moment. He was tried to became a part of that journalist team. But he was refused. Later on, that refusing guy become Lou’s enemy. As the story goes, Lou was learned by himself. He was recruited a high school graduated boy, Rick. Lou and Rick then seek and record several moments. Crashing cars, shooting murder, burnt home, etc. In their everyday activities, Rick paid unfairly. Lou then do anything to make his recording became exclusive shot by ignoring the journalism ethics. The way he tried to reach his ambition is the point of this movie. Once I learned, TV can make you mad.



Another movie that I’ve just saw, is The Purge 2: Anarchy. This is the sequel of a movie told a story about future of America. In early 2020’s, there are one day in a year called the purge. Every citizen allowed to do criminal act along those 12 hours. In the first movie, we served the story about how someone who saved a black skinned man, has to got a pressure from group of people who tried to kill that man. In this second movie, the story gone in the street. There were troops tried to kidnap somebody in the house, a mom and daughter. Then they saved by someone who wanted to get his revenge. In another place, there were a couple who trapped in the street because their car is broken, sabotaged by a masked group of people. Right after the purge started, those couple became a wanted one. They hid in the car owned by a man who saved a mom and her daughter. The rest of the film, told about how they survive the purge from two group that case them.


Those movies remind me that USA is a scary country. I mean, people there can easily have a gun. Shooting gun crime seems quite happen not seldomly. The movie that shows how easy it is to own a gun in US, is Bowling For Columbine. That documentary movie made by Michael Moore, also shows why americans feel secure by having a gun. Then I remember the quote said that naturally, when somebody faces a bad situation, somebody else will hope a worse thing to happen. Is that true? I’m not sure. But then my mind get back to yesterday, in the editorial meeting. There was a story about tires’ nipple raid. My manager said that don’t show the picture of the raid, but show the video of people mad because their tires become deflated. Why he said that? Because viewers love that. The rating will gained. Then why our society loves bad news? I don’t know exactly why. But we can point at our unconscious mind. Sigmund Freud said that human behavior defined by something like an iceberg. The tiny part that can been seen on the surface, is a conscious mind. The bigger part that lies under water, is an unconscious mind, and this mysterious part contribute bigger to our behavior. So, why do we love violence? we don’t know, we do it unconsciously. []



Selasa, 03 Februari 2015

Tiga Tahun JDP 7 Metro TV




Satu Februari, bagi kami JDP 7 Metro TV, adalah hari istimewa. JDP 7 adalah para reporter yang direkrut Metro TV melalui sebuah program bernama Journalist Development Program (JDP). Kami bersembilan belas adalah generasi ketujuh. Satu februari lalu kami berulang tahun ketiga. Untuk merayakan itu, yang kami lakukan adalah berkumpul, bertukar kado, dan curhat. Sayangnya gak semua hadir.



Setelah semua yang bisa datang sudah hadir, acara pun dimulai. Kado berbungkus kertas koran terkumpul di tengah meja. Kado yang terkumpul itu adalah benda-benda yang dirasa paling menggambarkan si empu kado. Kalo kata Charlen, kadonya harus yang “Njrit jadi kangen doi guah”. Kami pun berdiri. Beriring lagu cap cip cup, kado bergilir dari tangan ke tangan. Begitu hitungan berakhir di angka tujuh, berakhir pula putaran itu. Kado yang dipegang di tangan, itulah hadiah buat si pemegang, entah dari siapa. Satu persatu, kami membuka kado, menebak siapa pemberinya, menanyakan kenapa si pemberi menghadiahkan itu dan menjawab sebuah pertanyaan serupa: “setelah tiga tahun ini, lalu bagaimana?”




Siapa dapat apa? Yarnes dapat G-string pemberian Rangga. Rangga memang orangnya tidak biasa. Dalam arti positif ya. Dia gokil. Kalau on cam, atau person to camera, atau melaporkan sesuatu di depan kamera, dia berani untuk bertindak ala anak kecil yang keranjingan dengan mainan barunya, lalu heboh sendiri dengan laporan tentang konser Metallica-nya. Yarnes, tanpa diduga membungkus kadonya dengan pengemasan paling rapi. Padahal orangnya juga slengean. Haha. Dia menghadiahkan bingkai foto. Dan tanpa sengaja Rangga juga yang terima.




Aci, dia dihadiahi kutek pemberian Dinda. Kutek memang Dinda banget. Dia bercita-cita punya salon kuku. Aci sendiri ngasih sun glasses, dan itu juga dia banget. Aci lama tugas di program traveling, jadi cocok. Zaki dapat satu set cangkir dan kopi pemberian Vira. Alasan pemberian cangkir cokelat Vira, dibercandain sama Zaki. Vira sendiri dapet pistol-pistolan berpeluru karet. Lengkap dengan target sasarannya. Zaki yang ngasih. Lalu Randy. Dia dihadiahi pisang. Awalnya kami bingung apa maksudnya pisang plastik itu, lalu sadarlah kami bahwa itu bingkai foto yang lengkap dengan foto kami saat di masa pelatihan dulu. Trifty yang ngasih. Seperti biasa, Trifty selalu mencairkan suasana dengan guyonannya. Apalagi kalau ditimpali Randy yang juga iseng. Malam itu, restoran bercahaya temaram itu berisik karena kami. Randy menghadiahi Anggi dengan satu set gigi palsu.




Sementara satu set berisi enam gigi palsu dikantongi, Anggi menghadiahkan sebuah kaos. Trifty yang dapatkan kaos itu. Katanya itu merk kaos yang selalu dipakai Anggi. Charlen dapat hadiah paling besar. Keliatannya seperti roti tawar sebungkus, tapi ternyata setelah kertas Koran dikoyak, di dalamnya satu set meal box plus botol minum dan tas jinjingnya. Rangga juga yang ngasih hadiah itu. Dia memang siapkan dua hadiah. Karena kasih dua hadiah, Rangga juga dapat dua hadiah, dari Yarnes dan dari saya. Saya menghadiahkan sebuah buku. Tapi bukunya belum di-print. Haha. Pada tahun 2012, saya menulis semua kisah liputan saya. Lalu kumpulan tulisan itu dibundel dan dijuduli Jurnal Jurnalis. Karena si Jurnal Jurnalis belum dicetak, secara simbolik saya kasih Rangga buku Manis Getir Skripsi. Saya sendiri janji buat kasih dia buku yang sebenarnya di awal Februari ini. Lalu saya dapat apa? CD Sheila On 7. Senang banget saya dapat itu. Siapa yang ngasih? Tentu saja Charlen sang Sheila Gank. Saking senang dan berkesannya, saya ceritakan soal hadiah itu di posting khusus. Hehe.




Selain bertukar kado, kami masing-masing ditanya, mau lanjut di Metro TV atau gimana? Rata-rata sih bilang pada mau keluar. Haha. Kebanyakan bilang mau lanjut sekolah. Saya sendiri bilang entah sampai kapan mau jadi wartawan, tapi setidaknya saya bilang malam itu, saya merasa nyaman menjadi wartawan. Beberapa waktu setelahnya, saya malah mikir jangan-jangan saya terjebak di zona nyaman dan rawan terlena. Haha. Sekitar jam 11 malam, pertemuan kami berakhir. Saya, Zaki, Vira, Yarnes dan Anggi barengan naik taksi. Di perjalanan, Anggi bilang kalau saat dubbing, suara saya sebaiknya direndahkan lagi, apalagi saya ada di grup 3 yang kental berita politik. “Kayaknya itu udah suara terendah gue deh,” saya defensif. “Terus apa lagi Gi yang kurang?” Saya kemudian sadar, bahwa berminat saja tidak cukup. Masih banyak yang harus saya pelajari dan perbaiki, kalau memang benar-benar serius mau jadi wartawan TV yang bagus. []









Sheila On 7 dan Nostalgia Tentang Fanatisme

Dari tempat inilah kisah ini bermula. Di sebuah tempat reparasi alat elektronik harapan saya berlabuh. Semoga sebuah walkman SONY yang dibeli 14-an tahu lalu itu bisa diperbaiki. Saya ingin merasakan sensasi itu lagi. Sensasi menikmati musik sebagai sebuah album. Kala itu tahun 2000. Saya kelas 5 SD. Teman sekelas saya memperkenalkan musik yang kemudian mengalahkan potensi fanatisme saya ke klub sepak bola Liverpool. Maksudnya gini. Rasanya periode usia ketika itu adalah masa saat kita mengenal sesuatu, menyukainya, lalu mengidolakannya, dan belajar tentang fanatisme. Saat itu kesukaan saya ada dua, main bola dan musik. Di kamar saya waktu itu ada poster full team Liverpool, ada Zinedine Zidane, ada Robbie Fowler, selain poster Sheila On 7 yang jumlahnya lebih banyak. Haha. 


Kaset pertama yang saya beli adalah album Kisah Klasik Untuk Masa Depan-nya Sheila On 7. Saat itu saya sampai belajar gitar dari lagu Tunggu Aku di Jakarta. Bahkan waktu majalah Fantasi rilis edisi khusus Sheila On 7, saya memaksakan beli ke pasar yang relative jauh lah dari sekolah dan rumah. Luar biasa, konyolnya. Hahahaha. Singkat cerita, saya kemudian minta dibelikan album pertama Sheila On 7, dapetnya CD. Saya pikir saat itu “wah ini pasti semua lagu ada video klipnya nih”. Eh, ternyata semua cuma suaranya. Yaiyalah. Hahaha. CD itu kemudian hilang dipinjam teman waktu SMP. Dia mengganti debut album band asal Jogja itu dengan kaset. Tanggal 7 Desember 2002 album 07 Des rilis, saya beli juga. Tiga album itu kemudian menemani masa peralihan saya dari bocah ke remaja. Dan seperti layaknya album dan musik lain, Sheila On 7 adalah penanda momen. Tiap lagu dan album punya kisahnya tersendiri. Nah begitu Sheila On 7 buat album OST 30 Hari Mencari Cinta, hubungan kami mulai longgar, saya cuma cukup tahu saja waktu itu sama lagu-lagunya. Meskipun gak bisa dipungkiri juga, album itu memang bagus. Versi rekam ulang lagu lama lebih enak. Saya paling suka lagu Untuk Perempuan. 

Tahun berganti, Anton keluar, Sakti jadi ustad, Linkin Park naik daun, saya kenal Slipknot. Ada buku musik MBS (Musik Book Selection), saya lalu tahu Silverchair, lalu Kurt Cobain, dan lain-lain. Sheila On 7 perlahan terlupakan. Akhir masa SMP sampai awal masuk SMA, saya benar-benar punya selera musik baru. Singkat cerita tibalah kita di era ketika kaset sudah jadi barang yang tidak populer. Saya dan Charlen, teman sekantor, suatu hari terlibat dalam sebuah pembicaraan ringan. Kami mengobrol tentang Sheila On 7, band yang pernah saya idolakan dan Charlen idolakan sampai sekarang. Saya dan Charlen ketika itu begitu bersemangat mengomentari album pertama yang kesannya begitu meledak-ledak, anak muda pemberontak banget tapi ada sisi bijak dan rapuhnya. Lihat lirik lagu Bobrok misalnya, lalu tengok Perhatikan Rani, terus Berai, Dan, serta Terlintas Dua Kata. Lalu di album kedua mereka lebih personal. Lagu macam Sephia, Sahabat Sejati, Kisah Klasik Untuk Masa Depan, rasanya begitu berpusat pada seseorang dengan kehidupannya. Di album 07 Des, Sheila On 7 hadir dalam artwork yang rasanya musiknya banget. Kesannya teduh dan megah. Sebuah payung melindungi bola dunia yang berbunga. Ciri yang paling khas di album ini adalah suara orkestra. Meskipun suara benda gesek bukan hal asing (di lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki ada sesi orkestra juga), tetap album 07 Des rasanya beda dengan si album cikal. Album berikutnya, saya angkat tangan. Gak ngikutin banget soalnya. Charlen justru mengidolakan album Pejantan Tangguh. Iya sih beberapa lagu memang keren di album itu, macam Khaylila’s Song, Itu Aku, Pemuja Rahasia. Tapi saat itu saya malah khusyuk dengerin Pejantan Tambun-nya Endank Soekamti. Haha. 

Saya lalu pingin tahu gimana album teranyar mereka rasanya. Musim Yang Baik adalah album ke-8 Sheila On 7 sekaligus album terakhir mereka bersama Sony Musik yang membesarkan mereka sejak penghujung millennium ke-20. Jadi, album ini pasti spesial. Ini album penanda zaman. Charlen bilang sih bagus-bagus aja. Dia sendiri seingat saya sulit menggambarkan segimana bagus album ini. Pokoknya bagus. Haha. Nah lalu saya terpikir buat beli kaset album Musim Yang Baik dan perbaiki Walkman. Malangnya, si Walkman rusak total dinamonya. Gak ada lagi pabrik Sony di Indonesia. Beli baru? Males mending jajan yang lain. Wasalam lah intinya sama perkasetan. Artinya saya juga gak bisa menikmati Sheila On 7 sebagaimana ia dulu saya kenal pertama kali. Tapiiii, sebuah kejutan tiba. Dalam acara perayaan tiga tahun JDP 7 Metro TV, saya beruntung dapat hadiah yang paling menggambarkan Charlen. Apa yang paling Charlen banget? Apa lagi kalau bukan Sheila On 7? Dan di sinilah saya sekarang, dilatarsuarai lagu Belum ketika menulis ini. Tentu saja itu dari album Musik Yang Baik, album yang beberapa waktu lalu saya ingin miliki, tapi tertunda karena saya lebih milih beli dua CD lain duluan. Hehe.




Gimana rasanya Musim Yang Baik? Charlen gak salah. Bagus. Keren. Album ini tetep Sheila On 7 banget. Secara keseluruhan memang suara gitarnya lebih tipis karena cuma Eross yang ngisi. Tapi bukan berarti itu jelek. Justru Eross jenius karena menggunakan efek gitar crunch yang beridentitas blues di musik pop rock. Lagu-lagunya punya suasana beda-beda sih. Saya belum begitu mengenali sebuah lagu sehingga bisa tahu judul lagunya. Tapi memang tiap titel khas sih. Misalnya lagu Musim Yang Baik itu kayak lagu Cemburu-nya Dewa di album Bintang Lima, atau kayak lagu Saat Aku Lanjut Usia-nya Sheila On 7 di album 07 Des. Lagu Lapang Dada memang cocok jadi single utama. Saya pertama kali riset tentang album ini, dapetnya lagu bervideo klip pernikahan ini. Yang juga unik dari album SO7 ini, adalah lagu penutup yang benar-benar bernada menutup. Lagu Sampai Jumpa di album Musim Yang Baik ini punya nyawa serupa Selamat Tidur di album Kisah Klasik… dan Saat yang Tepat Tuk Berpisah di 07 Des. 

Soal pengemasan album, saya juga harus sematkan pujian khusus. Sebelum kocokan hadiah di acara JDP 7 tadi, saya lagi baca majalah Rolling Stone edisi Januari 2015. Ada wawancara vokalisnya FSTVLST, Farid Stevy Asta, yang juga bikin desain sampul album Musim Yang Baik. Duh saya makin penasaran dan takjub. Unik aja gitu, Sheila On 7 selalu ngajak seniman dari tempat mereka lahir di dua album terakhir buat bikin desain sampul. Album Berlayar, dibuat oleh Wok The Rock, si empunya Yes No Wave Records, netlabel berciri khas musik eksperimental dari Jogja. Di album Berlayar, seniman bernama asli Woto Wibowo itu menghadirkan lagi seni kruistik yang belakangan ini rasanya kurang popular. Nah di album ini, Farid menggambarkan Musim Yang Baik dengan bunga sepatu yang bermekaran. Desain kertas liriknya juga unik. Mereka disebar per lembar. Maka dengan lembaran lirik ini, sebenarnya cover si album juga bisa berubah bergantung ikon lirik mana yang kamu simpan di tumpukan terdepan dan nongol di lingkaran di halaman bungkus si CD. Ini kayak albumnya Escape-nya Endah N Rhesa yang juga bisa ganti, antara yang bernuansa siang, atau nuansa malam.
Akhirul kalam, di daftar putar saya sekarang ini, deretan lagu dari album Musim Yang Baik berjejer bersama lagu-lagu album Destinasi Empat-nya Sentimental Moods dan Profanatik-nya DeadSquad yang baru saya beli. Jadi, tanpa walkman dan kaset pun bisa aja sih kita menikmati sebuah musik per album. Justru inilah saatnya untuk membuat penanda momen baru, dengan cara menikmati yang juga beda. []

Sabtu, 31 Januari 2015

Berkenalan Dengan Estetika Banal



“Apa yang kamu lihat dari foto ini?” Tanya pria bertopi itu. Saya kemudian menafsirkan sekenannya, “yang satu lari sebagai hobi, yang lain lari sebagai kewajiban”.  Dia tidak menyalahkan, pun tak menyebut jawaban saya betul sepenuhnya. Pria tadi, yang juga melingkarkan syal kain tenun di lehernya, kemudian memaparkan bahwa ada makna lain yang sebenarnya ingin dia sampai melalui foto itu. 


Sebuah foto memperlihatkan seorang perempuan berbaju olah raga lengan terbuka. Dengan topi Santa Klaus, ia berlari di sebuah jalan ibu kota. Di seberangnya, barisan tentara juga berlari, beberapa di antara mereka curi pandang ke si perempuan. Di belakang si tentara sebuah ucapan selamat natal dan tahun baru besar terpampang. Ternyata cara tafsir saya terlalu sederhana. Sang fotografer, Erik Prasetya, memaknai rekaman peristiwa itu sebagai mahalnya bayaran atas sebuah rasa aman. Bahwa agar si perempuan merasa nyaman merayakan natal dan tahun baru, atau jogging dengan busana demikian, perlu pengamanan yang jumlahnya juga diperlihatkan di foto. Dari momen itulah kemudian saya sekali lagi dibuat berdecak kagum dengan karya fotografi. Betapa ia multitafsir dan tetap indah. Yang juga membuat saya terkesan, adalah kisah dibalik fotografi jalanan dan tantangannya.


Adalah Erik Prasetya, seorang fotografer yang mendalami dunia pengabadian momen selama setidaknya 25 tahun terakhir. Ia pernah dinobatkan sebagai satu dari 20 fotografer Asia berpangaruh tahun 2012 oleh organisasi Invisible Photographers Asia. Erik kemudian menawarkan sebuah pendekatan fotografi bernama estetika banal. Dengan estetika banal, gerak manusia dan elemen keseharian yang banal atau terkesan biasa, ditampilkan dalam sebingkai keindahan. Estetika banal, juga jadi tajuk pameran foto Erik Prasetya. Sejumlah figur ditampilkan sejak 17 Januari 2015 dalam Galeri Salihara yang melingkar. Foto yang dijepret tahun 1990an berwarna hitam-putih. “Ini (foto hitam-putih) proyek pribadi. Saat itu saya sebagai profesional selalu bekerja dengan warna. Assignment-ku minta warna, sehingga ada rasa kalo pake warna itu kerja profesional, bukan buat saya. Yang kedua hitam putih itu filmnya murah”, ujarnya menjelaskan.


Meski ada yang hitam-putih dan banyak juga yang berwarna, foto Erik bernyawa sama: jalanan. Lokasi semua fotonya adalah jalan. Dari jalanan itu pula berbagai makna dan kisah ia perlihatkan. Misalnya, sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita berambut hijau, bertengger di sebuah jembatan penyeberangan dengan novel filsafat Dunia Sofi di tangannya. Bibir yang hampir tersungging direkam sebagai respon dari senyum yang lebih mengembang dari seorang pria di depannya. “Kalau saya selalu berusaha menebak apa yang akan terjadi. Sebelum terjadi saya harus tahu kejadian berikutnya”, ujar pria asal Padang Sumatera Barat ini mengawali kisah. “Saya foto sekali. Saya ingin lihat reaksi dia, ternyata dia cuek. Kemudian dia berdiri dan menyender. Saya set ukuran, jarak. Udah betul. Bergitu saya lihat gerombolan orang turun, nah ini momen saya. Nah inilah (jadinya). Tapi ini kan yang berhasil, yang gagal banyak juga”.


Pameran estetika banal, bagi Erik Prasetya adalah pertanggungjawaban. “Setiap tahun bikin semacam pertanggungjawaban, catatan tentang Jakarta. Tahun ini saya bikin street, rain and style, paling tidak 40 post card tiap tahun. Nanti setelah 3-4 tahun jadi buku dengan tema lain”, Erik menjelaskan. Selain melalui pameran foto, ia juga meluncurkan sebuah buku kolaborasi dengan istrinya, Ayu Utami. Tentang isinya, ia hanya menarangkan bahwa buku berisi 13 subjudul itu tentang pencarian estetika Erik dan Ayu. Judulnya Banal Aesthetics and Critical Spiritualism.


Buku ini dirilis pada 31 Januari 2015 sore di Serambi Salihara, bersamaan dengan penutupan pameran dan penerbitan buku pertama dari seri novel berjudul besar Spiritualisme Kritis yang digubah Ayu Utami. Titel pertama seri tersebut berjudul Simple Miracle: Doa dan Arwah. Seri spiritualisme kritis itu sendiri berarti bahwa kisah yang dihadirkan Ayu dalam seri bukunya, akan mengupas hal-hal spiritual yang dikaitkan dengan logika berpikir rasional. “Seri spiritualisme kritis adalah refleksi tokoh Parang Jati di seri Bilangan Fu”, ujar sosok yang kisah hidupnya dituliskan sang istri Ayu Utami dalam novel Cerita Cinta Enriko itu menutup percakapan. []