Jumat, 07 Agustus 2009

susu bahaya, fluoride juga bahaya?

ada sebuah info yg bikin gw penasaran, silahkan dibaca dulu.


Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis?
Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan?
Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah.

(Catatan Dahlan Iskan, Jawa Pos Edisi 15 Mei 2009)


untuk memasatikan validitas berita diatas, gw nanya ke pak rizal damanik, salah satu ahli gizi di ipb. sayangnya, pak rizal ga baca artikel ini lengkap, beliau baca beberapa bagian aja yg menurut gw ga mewakili isi keseluruhan berita itu. menurut beliau, berita itu ga bener. nyatanya susu itu bahan makanan yg kaya zat gizi. kita jangan langsung percaya sama berita macem itu, apalagi sumbernya koran. banyak motif org bikin artikel di koran. royalti, popularitas, sensasi, dll. trus gw nyanggah, "tapi kan pak, sumber di berita itu cukup ilmiah, ada percobaan hiromi, ada percobaan ini-itu, dll." then he said, "tapi paparan artikel diatas itu dasar pemikirannya perbandingan hewan-manusia. manusia & hewan, jelas beda. kalo mau disama-samakan, kenapa cuma satu aspek saja".
what do you think guys?

setelah topik pertama tadi, gw konfirm lagi soal bahaya fluoride yg ada di artikel ini. mangga atuh diaos heula.


Bahaya Flouride
Message: (Sumber :
www.mail-archive.com/kimia_ui
@yahoogroups.com/msg00203.html)

Sebelum anda membaca tulisan dibawah ini, yg
mungkin anda tidak percaya,
lakukan ini:
Masuk ke Google.com, lalu ketiklah kata kunci
Fluoride! Lalu anda
(harusnya) akan terbelalak kaget. Atau buka
www.fluoridedebate.com.

Robert Carlton,Ph. D., mantan ilmuan EPA AS
di 'Marketplace' Perusahaan
Broadcast Canada, pd 24 November 1992
menyebut Fluoridasi adalah KASUS
PENIPUAN ILMIAH TERBESAR DI ABAD INI!!!
(situs anglicancommunion.org)

Agustus 2002, BELGIA MENJADI NEGARA
PERTAMA DI DUNIA yg MELARANG
penggunaan berbagai suplemen FLUORIDE, tablet,
obat tetes, permen karet,
dll yg berfluoride DITARIK DARI PASARAN
KARENA BERACUN dan menyebabkan
RESIKO BESAR bagi kesehatan fisik maupun
psikologis. Keputusan ini
dikeluarkan Menteri Kesehatan Masyarakat Federal
(www.shirleys-wellness-cafe.com/#belgium)

FLUORIDE TIDAK MEMBERI EFEK
MENYEHATKAN DALAM MENCEGAH
KERUSAKAN GIGI
DAN
TULANG PADA MANUSIA. Th 1990 Dr. John
Colquhoun melakukan penelitian
pada
60.000 anak sekolah dan tidak menemukan
perbedaan kerusakan pada gigi
antara yg menggunakan fluoride dan yg tidak,
bahkan itu ia menemukan
sejumlah anak pada wilayah yg diberi fluoride
menderita keropos gigi yg
disebut FLUOROSIS.

98% wilayah Eropa Barat telah menolak fluoridasi
air, termasuk Austria,
Belgia, Denmark, Prancis, Italia, Luxembourgh,
Jerman, Belanda,
Finlandia, Swedia dan Norwegia.

Fluoride adalah zat kimia kunci dalam
memproduksi BOM ATOM!!! Fluoride
sangat esensial untuk memproduksi Bom Uranium
dan Plutonium untuk
membuat
senjata nuklir selama Perang Dingin. Salah satu
zat kimia yg dikenal
PALING BERACUN adalah FLUORIDE, yg muncul
secara cepat sebagai racun
kimiawi dari program bom atom Amerika serikat,
baik untuk pekerjanya
maupun masyarakat sekitar.
(Situs
rvi.net/~fluoride/fluoride_teeth_atomic_bomb_.htm)

Sebagian besar bangsa Eropa, termasuk Jerman,
Belanda, Swedia, dan
Prancis MELARANG PENGGUNAAN FLUORIDE
dalam tempat-tempat kesehatan
masyarakat. (situs
chemtrailpatrol.com/cpr_fluoride_menu.htm)

Efek biologis Fluoride
(dlm buku Flouride the Aging Factor-Dr.John
Yiamouyiannis):
- Gigi Fluorosis (keropos) merupakan tanda
pertama kontaminasi fluoride.
- kerusakan gigi (pada stadium lanjut-gigi bergaris-
garis gelap terlihat
seperti lubang) dan gigi tanggal.
- penelitian di Cina, pemberian fluoride dg dosis
rendah pun telah
menyebabkan berkurangnya kecerdasan pada
anak-anak
- Penuaan Dini
- Aborsi Spontan
- Tulang yang rapuh
- Kanker,-Fluoride bersifat Carcinogenic
(PENYEBAB KANKER): Departemen
Kesehatan New Jersey mengkonfirmasi bhw terjadi
peningkatan 6.9% kasus
tulang melengkung akibat kanker tulang pada anak
muda dalam komunitas yg
menggunakan fluoride, dan peningkatan 5% dalam
SEMUA JENIS KANKER dalam
komunitas yg menggunakan Fluoride. Dean Burk,
Kepala Bagian Kimia
Institut Kanker Nasional mengakui dlm dengar
pendapat dengan kongres,
bahwa SEDIKITNYA 40.000 KEMATIAN KARENA
KANKER di tahun 1981 BERKAITAN
DENGAN FLUORIDE! Burk menyatakan bahwa
FLUORIDE LEBIH MENYEBABKAN KANKER
DAN MERUPAKAN
PENYEBAB TERCEPAT DARI PADA ZAT KIMIA
LAINNYA.

Ternyata capek juga lho menulisnya.
Silahkan anda teruskan pencariannya ya? Dan
kolo udah capek juga, silakan buang pasta gigi
anda jauh-jauh, dan tolong beri tahu semua orang
yg anda sayang.

Solusinya?

Yg sudah saya temukan saat ini, pembersih dan
penjaga kesehatan mulut yg tidak mengandung
fluoride, alkohol, sodium lauryl sulfate, dan sorbitol
(bahan2 berbahaya yg umum dlm pasta gigi/
mouthwash) adalah mouthwash
dari Mustika Ratu-Indonesia, dengan 2 pilihan,
yaitu cengkeh dan sirih.
(ini sama sekali bukan promosi), tapi bentuk pasta-
nya belum saya
temukan. Atau pilihan lain yang paling aman,
adalah menggunakan kayu
siwak.

Regards/
Fuji Helly Handiana



nah, kalo buat info ini, beliau (mr damanik) agak open minded. apalagi gw sodorin info tambahan tentang info serupa dari ebook karya jerry d. gray, "kebohongan media amerika". "nah, kalo ini agak make sense, coba saya minta file-nya, nanti saya pelajari dulu," tandas sang dosen merangkap ahli gizi yg juga bidan hewan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar