Sabtu, 11 Juni 2011

Beastly: Saat Judul Tak Mencerminkan Isi




Sabtu malam boleh menyombongkan dirinya sendiri. Jika minggu malam sarat dengan persiapan menuju rutinitas seminggu setelahnya, sementara kamis malam lekat dengan kesan mistis, malam minggu selalu identik dengan kebebasan dan relaksasi. Kesan malam minggu lalu diperkuat dengan perjalanan hedonistik yang saya lewati bersama Van, Maul, Aria, Oka dan Fikri. Hari itu Asphoria tampil di acara Green Living Movement. Berkah dari penampilan itu adalah diskon tiket nonton di bioskop 21. Tanpa tunda lama, secarik kertas potongan harga itu kami tukar dengan tiket menonton film berjudul Beastly.

Beastly dipilih karena judulnya yang garang. "Ini pasti film horor/thriller yang sarat kejutan," begitu saya pikir sebelumnya, setelah melihat tokoh yanng botak dan bertato di poster. Kami memasuki arena sinema 10 menit setelah film baru diputar. Kutukan mulai dihujamkan ke tokoh utama, ia mulai berpenampilan seram. Yes, this is the beginning. Di sebuah skena, ditampilkan adegan yang memperlihatkan si tokoh utama yang kedatangan tamu. Ia lalu mengecek siapa yang bertamu melalui celah intip di pintu (benarkah istilah "celah intip" itu?haha). Saya kira si tamu akan menempelkan pistolnya di mata si buruk rupa, atau mendobrak pintu dengan paksa, atau menusukkan pedang dari balik pintu hingga menusuk si tokoh utama. Bahkan Oka menyangka bahwa si tamu adalah dukun yang hendak mengusir kutukan yang diderita Kyle, si tokoh utama. Ternyata dia adalah seorang guru yang buta. Guru itu diutus ayah Kyle untuk menemaninya dan mengajarkan beberapa pelajaran hidup. beberapa pelajaran memang tersampai secara eksplisit, tersurat. Si buta jelas2 menyatakan bahwa ia tidak peduli dengan bagaimana orang memandangnya, ia lebih peduli dengan bagaimana ia memandang dirinya sendiri. Si Kyle juga menantang penyihir dengan kata que sera sera. Karenanya saya baru tahu kalau que sera sera itu kurang lebih artinya tidak takut menjadi jelek. Que sera sera pertama kali saya ketahui dari sebuah video yang menampilkan anak2 penyandang disabilitas yang bernyanyi bersama.

Hingga film berakhir, adegan sadistik yang kami harapkan tak kunjung hadir. Ya, kami salah pilih film. Tapi topik mengenai kode2 yang diperlihatkan di film itu malah jadi topik gunjingan kami setelah keluar bioskop. Setelah Kyle dikutuk, tubuhnya dipenuhi coreng luka, tato2 berbentuk seperti akar, dan tulisan arab di alisnya. Saya dan lima pemuda lain yang turut saat itu malah berspekulasi tentang apa maksud dibaliknya. Bahkan saat kutukan itu menghilang, tato di tangan Kyle membentuk figur satu mata yang mengedip. The All Seing Eye, begitu tebakan kami menganalisanya. Jumlah hitungan yang terhenti di 12, music scoring hingga puisi yang ada di film itu jadi topik bahasan kami yang berkumpul di warkop sekitar GOR Padjadjaran. Sayangnya, tiga hal tadi tidak saya sadari karena saya tertidur di tengah pertunjukan. Namanya juga film teenlit, saya memaklumi diri. Saya jadi ingat pengalaman ketika menonton The Expendables di bioskop. Saat itu saya hanya menikmati beberapa menit awal film. Sisanya saya habiskan dengan tidur di kursi nyaman bioskop itu dan baru bangun setelah film usai. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar