Selasa, 03 Desember 2013

Wisata Gunung Haruman

Seorang petani menghentikan aktivitasnya. Ia tampak heran melihat empat orang asing menyusuri tepian jalur tanam kebunnya. Satu dari empat orang tadi bertanya tentang jalur menuju puncak gunung tempat kebun si petani terhampar. Sang petani mengiyakan bahwa keempatnya tinggal lurus terus untuk mencapai puncak. Kalau turun melalui jalur di depannya, mereka bisa tiba di kebun binatang Cikembulan Kecamatan Kadungora Garut. Empat orang ayah-anak itu lalu melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Haruman. Rangkuman petualangan empat pendaki Haruman itu terangkum dalam deretan foto berikut.


Gunung Haruman berdiri setinggi 1300 meter. Berlokasi di antara Kecamatan Cibiuk dan Kadungora Kabupaten Garut, puncak gunung ini digunakan sebagai landasaan paralayang. Di puncak sana kabarnya juga ada sebuah batu mirip kuda yang dipercaya berasal dari masa prasejarah
Di bawah rimbun pepohonan itu terdapat makam Syeh Jafar Sidiq, salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Kecamatan Cibiuk dan Limbangan. Tokoh yang juga dikenal dengan nama Sunan Haruman ini juga berhubungan dengan asal mula nama sebuah daerah di selatan pulau Sumatera. Baca kisah lengkapnya disini
Rumah miring di perkampungan kaki Gunung Haruman
Beristirahat di saung petani
Bermain undur-undur di saung
Undur-undur dipercaya sebagai obat diabetes. Menurut penelitian yang diberitakan di situs ini,
konsumsi hewan ini memang berkhasiat menurunkan kadar gula darah tikus percobaan.
Tapi menurut dokter di berita itu juga, pengobatan diabetes dengan undur-undur tidak dianjurkan
Melewati perkebunan untuk menuju puncak
Pandangan dari ketinggian
Meski belum mencapai puncak, pemandangan dari atas sini sudah memanjakan mata
Jalur pendakian menuju puncak tertutup. 
Mungkin karena jarang yang mendaki lewat jalur Cibiuk
Memutuskan untuk kembali turun
Di perjalanan pulang, kembali bertemu dengan visual indah kaki Gunung Haruman
Jalan menuju Desa Cipareuan. Pinggiran jalan ini dipenuhi tumbuhan berbunga kecil. Kupu-kupu sayap hijau banyak beterbangan disana. Beberapa diantara mereka terbang berpasangan
Melewati warga yang sedang bertani dan menikmati kebersamaan di ladang
Kupu-kupu sayap hijau di jalur menuju Desa Cipareuan
Sebelum pulang, menyempatkan diri mampir ke rumah makan diatas kolam berbunga teratai. Menu utama disini Sambal Cibiuk, yang disantap bersama iringan kecipak ikan nila dari kolam di bawah saung tempat makan
Inilah Sambal Cibiuk. Campuran tomat muda, daun kemangi, sedikit terasi dan cabe menghasilkan sensasi rasa yang khas. Rumus campuran sambal ini diciptakan oleh Raden Ajeng Fatimah, salah satu istri Syeh Jafar Sidiq
Kenyang bersantap siang, belaian angin dari sawah di sekitar rumah makan membuat mata berat
Mereka pun kembali ke rumahnya di Limbangan, dengan menumpangi andong, 
kereta kuda yang disebut sado oleh warga sana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar