Kamis, 19 April 2012

Elora



Kata Elora berasal dari bahasa Yunani yang berarti titik cahaya. Empat belas penulis yang disatukan dengan latar belakang institusi pendidikan yang sama, mengartikan elora dalam sebuah buku. Dengan sub judul "Karena Cinta Tak Selalu Berwujud Bunga", Elora berisi empat belas kisah tentang bagaimana para penulisnya mendefinisikan cinta sebagai titik terang, dalam sebuah paparan. Elora adalah buku terbitan pertama komunitas Author of The Dream (ATD). Dalam rilisan perdananya itu, ATD menghimpun dan menghadirkan kreasi para penulis yang semuanya sedang dan telah menempuh studi di Insitut Pertanian Bogor (IPB). Pembuatan buku ini bermula dari pesan beruntun melalui email, yang kemudian menjadi nyata dalam obrolan di pertemuan fisik hingga akhirnya karya mereka nyata ada dalam wujud buku. Untuk terbitan karya pertamanya, para awak ATD sepakat untuk meniupkan ruh bernama cinta dan menjudulinya dengan sebutan Elora.

Elora dimulai dengan kisah puitis karya Turasih bertajuk Lasut. Sebenarnya slogan Karena Cinta Tak Selalu Berwujud Bunga tak sepenuhnya berlaku di buku ini. Turasih menghadirkan kisah yang ibarat mawar. Kata-katanya jadi mahkota, alurnya si duri bunga. Lalu berlanjutlah ke kisah kedua. Disana ada "Cinta Repot"-nya Ranitya Sari. Pembaca yang merasa terlalu abstrak membaui bunga kata Turasih, bisa terobati dengan kisah lugas yang dituturkan Sari. Penulis yang sedang jatuh cinta dengan Chansung dan Choi Seunghyun ini juga menambahkan informasi yang ia dapat di bangku kuliah. Tulisan Sari ini Informatif dan naratif.

Galau di Gelombang, itulah tajuk tulisan karya Anatola Essya Angesti. Kisah pendek ini bertutur tentang dinamika hubungan intergender sepasang kekasih yang (sepertinya) kira-kira berusia belasan tahun. Aisyah Noor kemudian berbagi kisah berwarna pink tentang pendamping wisuda. Kisahnya terbungkus dalam Love Letter from Arjuna. Keberadaan mereka yang tidak sempurna, kadang membuat kita berpikir justru betapa sempurnanya mereka. Cinta Untuk Si Bisu dan Tuli yang ditulis Valentina Sokoastri menggambarkan hal itu. Wujud cinta yang diceritakan di buku ini, juga dicurahkan dalam deskripsi pesona Indonesia khas penulis. Lovenesia adalah tulisan yang dimaksud. Karya Risna Amalia ini tampil lebih nyata karena disertai foto-foto. Dody Setiawan adalah mahasiswa jurusan Meteorologi di IPB. Sepertinya latar belakang pendidikannya begitu berpengaruh terhadap materi yang ia sampaikan di Handprint: Bukti Cinta Untuk Bumi. Dody bertutur dengan begitu ilmiah, tentu tetap tidak melepas cinta sebagai dasar pijakannya. Meski bukan terbit di bulan Ramadhan, Selamat Ramadhan Bu Ni tetap tampil relevan dengan mengisahkan betapa sosok Bu Ni yang diceritakan memang layak dikenang. Rinaldy Ardana Harahap-lah yang menceritakan kisah itu. 

Karena ditulis oleh para penulis yang terkait dengan IPB, akan tak sempurna rasanya bila tak ada yang menceritakan "kisah cinta"-nya selama berbaju mahasiswa. Jihan ternyata mengisahkan cerita berbalut jas almamater yang akan segera ia tanggalkan. Scrispy adalah kisah tentang skripsi yang ia jalani dengan penuh penghayatan. Abdul Haris Nasution merenungi sumber pancaran cinta yang ia rasakan, ibu. Simak buah pikirannya dalam Dari Ibu Untuk Indonesia. Tulisan berikutnya masih bertema sentral ibu. Kali ini Andika Tri Saputra yang bercerita. Ia bertutur dalam tajuk "Kado Pandawa". Di tulisan kedua belas, Rheza Ardiansyah mengajak pembaca menengadah ke langit malam, menyusuri lorong di sebuah panti asuhan, hingga menemukan "Celah Pencapaian" yang mungkin juga dimiliki bukan hanya oleh tokoh di kisahnya saja, tapi juga kita semua. Judulnya hanya satu tanda baca, "?". Tulisan itu digubah Chrismaspoy Bintari. Isinya tentang sebuah dialog tentang keluhan dan harapan. Elora kemudian ditutup dengan Live Your Life karya Irvan Setya Adji. Irvan mengaduk pengalaman pribadi yang dicampur pemaknaan tentang jalan hidup pasca kehidupan kampus. Alhasil, racikannya bisa jadi membuat kita menjalani hidup yang manis, dengan menjalani hal-hal yang kita cintai.

Perbedaan suasana tiap titel bisa jadi kekurangan dari buku 124 halaman ini. Singkatnya kerangka cerita juga bagi beberapa pembaca mungkin menjadikan tidak sempurnanya kepuasan membaca. Meski demikian, buku ini sangat bernilai koleksi karena akan dikenang sebagai buku pertama yang memadukan tulisan-tulisan penulis yang terikat dalam satu naungan almamater kampus Institut Pertanian Bogor.


4 komentar: