Kamis, 02 April 2015

Festival Buku + Membaca = Leipzig

Tugas liputan saya ke Jerman dilakukan sendiri. Biasanya untuk pengambilan gambar, ada camera person tersendiri. Tapi bagaimana pun itu tetap pengalaman menyenangkan 
Enam hari di pertengahan Maret itu saya bertugas liputan ke kota Leipzig Jerman. Sebelum tiba di kota tujuan, saya transit di bandara kota Frankfurt. Seraya menunggu jadwal penerbangan berikutnya, saya cicil beberapa stock shot. Di ruang tunggu itu ada seorang wanita sedang membaca buku tebal. Suasana itu kontras dengan yang dilakukan calon penumpang lain: ada yang main handphone, duduk-duduk aja, ngobrol, dll. Tak yakin dengan etika pengambilan di negeri panser itu, saya iseng nanya ke petugas di meja resepsionis: bolehkah saya mengambil gambar orang membaca di ruangan ini? Dia jawab, boleh ambil suasana ruang tunggu, tapi jangan orangnya. Hehe. 

Saya jadi ingat cerita seorang kawan ketika liputan di Papua. Orang Papua pegunungan yang ia liput, minta bayaran tiap kali dirinya direkam. Biar gak kena tagihan, dia berkilah bahwa yang ia rekam dengan videonya adalah gunung dan pemandangan di sekitar si orang Papua itu, padahal tentu saja bukan hanya itu. Apa hubungannya sama orang Jerman? Saya jadi kepikir kalau orang yang lagi baca itu marah karena saya rekam, saya tinggal bilang kalau bukan dia kok yang diambil gambarnya. Muehehehe. Tapi saya telat. Begitu kamera keluar dari tas, panggilan naik pesawat sudah datang. Jadilah saya harus cari momen orang membaca lain. Kenapa harus orang membaca? Karena tugas liputan saya ke Leipzig berkaitan dengan itu: Indonesia, buku, kebiasaan baca, festival, dan hal lain di sekitar ketiganya.


Saya, Seno (RCTI) dan Mbak Lian (PIH Kemendikbud) mewawancarai Pak Ahmad Tohari setelah ia mengisi acara diskusi tentang buku Ronggeng Dukuh Paruk
Setiap tahun pada bulan Maret, di kota Leipzig dihelat festival buku yang dihadiri puluhan negara. Indonesia salah satu di dalamnya. Keikutsertaan Indonesia adalah rangkaian dari promosi dunia kepenulisan Indonesia yang sedang naik daun. Pada bulan Oktober mendatang, Indonesia akan hadir di Frankfurt Book Fair, festival buku terbesar di dunia. Kehadiran Indonesia bukan keikutsertaan biasa. Negara kita akan berstatus tamu kehormatan. Dengan predikat itu, Indonesia akan menempati sebuah gerai luas sehingga promosi literasi (dan identitas keindonesiaan lain) akan sangat masif dipaparkan ke hadapan masyarakat penyuka buku dari berbagai Negara. Oke, sekarang kita balik lagi ke Leipzig, kota tempat digelarnya Leipzig Buchmesse atau Leipzig Book Fair. Festival buku di Leipzig, disebut-sebut sebagai yang terbesar di Jerman, sementara Frankfurt Book Fair terbesar di dunia. Kehadiran saya di kota kelahiran komposer masyhur Johann Sebastian Bach ini, adalah untuk meliput Leipzig Book Fair. Dalam tugas peliputan itu, saya mendapat kesan tentang kuatnya kebiasaan baca orang Jerman. Berikut ini buktinya.


Sore itu saya menumpangi tram menuju stasiun pusat kota Leipzig. Seorang remaja wanita kemudian masuk di sebuah stasiun. Rambut kuningnya terlihat serasi dengan jaket ungu yang ia kenakan. Ia kemudian duduk di sebuah sudut tram, lalu pandangannya merunduk. Sebuah buku jadi pusat perhatiannya selama melaju membelah kota. Dari jauh, saya melihat sampul buku itu berwajah seseorang: Frankenstein. Kali lain saya hendak menuju stasiun pusat menggunakan kereta. Di kursi tempat calon penumpang menunggu, pemandangan serupa terlihat. Seorang wanita tekun membaca seakan dunia adalah ia dan bukunya. Maka kesimpulan saya hampir bulat, bahwa membaca adalah kata sifat yang melekat di orang jerman.


***


Aula depan Leipzigger Messe lebih terang dibanding balai lainnya. Saya kagum sekali dengan kemegahan produk arsitektur itu. Ketika menuruni tangga, perhatian saya dicuri seorang remaja wanita yang berkumpul bersama teman-temannya. Ia berbeda. Sementara yang lain asik bercengkerama, yang satu ini merunduk menghadap buku tebalnya. Dalam kamera posisi merekam, saya berbincang dengan dia. Antje Wiedersich namanya.

What are you reading?
I'm reading city of heavenly fire.
What is it about?
It is the end of the book series. It's called xxxxx (ngomong Bahasa Jerman gak ngerti. Haha). And they are shadow hunters, hunt demons to make the world safety.
It's a thick book
Yes. It is.
How many pages?
It is 892. Wow
How long you finish this book?
Three days
Eight hundred pages for three days. So, it's about two books in a weeks?
Sometimes, if I have time yes
What's your favourite book?
Monetary. Yes. And I also read Sherlock Holmes
You read a lot.
Yea
What the world would like if there is no book?
It wouldn't be a good world.


***


Langkah saya kemudian tiba di bagian depan gedung. Seorang anak terlihat berdiri menunggu seseorang. Sebuah buku berwarna pink tampak erat ia genggam. Orang yang ditunggunya kemudian datang. Rupanya anak itu datang bersama keluarga besarnya: ayah, ibu, kakak, kakek dan nenek. Mereka sengaja datang ke Leipzig Book Fair dari Bavaria, kota di selatan Jerman. Tanpa banyak babibu, saya langsung todongkan kamera dan rekam sebuah pembicaraan dengan ayah si anak.

Does your kids love reading?
Yes of course, she's not in school yet but she loves reading already. And he is in first class. He loves reading too. He write some stories too. 
Do you insist them to read or they like it by themselves?
Nonono, by themselves
What's the book are you reading? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
It's called mia and me
How old are you? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
Six
What's the book you love the most? (saya nanya ke anak perempuan, lalu ayahnya menerjemahkan)
The stories about little horses
What about you? (saya nanya ke anak laki-laki)
Star wars
Wooo give me hi five
*tosss
See youuu
See youuu


Kami akhirnya terpisah. Tapi itu sementara. Karena secara tak sengaja, kami jumpa lagi di tram. Di sanalah terjadi perbincangan lebih panjang. Dari sana tahulah saya bahwa nama bapak yang diwawancara tadi adalah Sebastian Fickert. Ia bercerita bahwa pernah menempuh sejumlah perjalanan internasional, belum termasuk Indonesia. Kecintaannya pada Jepang, negara yang pernah ia kunjungi, diekspresikan dengan memberikan nama Naomi untuk si bungsu yang sedari tadi tak melepas buku berwarna merah mudanya. 


Jan, kakak Naomi, adalah anak yang tampak selalu ingin tahu. Tiap kali saya berbicara dengan ayahnya dalam bahasa inggris, ia selalu minta diterjemahkan. Ditanya soal sepak bola, Jan mengaku menggandrungi Bayern Muenchen. Pemain favoritnya, Mueller. Saya kemudian singgung gol Mueller sewaktu piala dunia 2014 lalu, ketika ia membawa timnya menjadi juara dunia. Jan girang membicarakan idolanya, sementara sang ayah tampak heran. Ia lalu bertanya, bagaimana kita biasa berkomunikasi setiap hari? Saya jelaskan bahwa orang Indonesia berbahasa Indonesia, bahasa khas negara kita sendiri. Dia kemudian bertanya lagi, kok saya bisa berbahasa inggris? Saya jawab singkat, karena saya wartawan. 


“Dan ini adalah palu saya.” Canda saya memperlihatkan kamera sambil melirik Jan.

Anak itu bercita-cita jadi hakim. Saya juga beri Jan kesempatan untuk ambil foto saya dengan kamera itu. Bahkan kami sempat berfoto selfie. Tapi sayang, SD Card yang menyimpan foto itu kadung saya kembalikan ke kantor, dan sudah hilang datanya. 


Saya penasaran dengan buku-buku Fickert. Ia kemudian memberi tahu saya dimana bukunya bisa didapat selama Leipzig Book Fair berlangsung. Ia pun memperlihatkan sebuah buku dari tas yang ia jinjing. Judulnya Ararat. Sebastian mengaku menyesal hanya membawa satu buku yang ia pakai untuk disunting ulang. Istri Fickert kemudian berbicara sesuatu dalam bahasa jerman. Saya gak ngerti. Tapi kemudian saya “dipaksa” untuk menerima buku satu-satunya yang ia punya. Saya nyatakan bahwa saya merasa terhormat menerimanya. Setelah membubuhkan tanda tangan, buku bercoret koreksi di sembarang halaman dan berpenanda di halaman tertentu itu jadi milik saya. Tram yang kami tumpangi kemudian tiba di hauptbahnhof, stasiun pusat kota. Kami pun turun bersamaan. Mereka pulang ke rumah di Bavaria, saya ke Berlin. []

Suasana tangga ikonik simbol Leipzig Book Fair


Buku tentang Habibie terpampang di sebuah gerai penerbit buku Jerman.
Seno membantu saya mengambil gambar untuk kisah tentang transportasi Leipzig yang teratur. Saya sedang menunjuk papan penunjuk kedatangan tram yang akurat. Di sana tertulis waktu kedatangan tiap rute tram

Saya difotokan Mas Ilham (Kompas) di aula Leipzigger Messe

6 komentar:

  1. Berkumis sekarang ja? hihi
    Senangnya baca post ini, liputan ke luar kenal orang-orang dari belahan bumi yang lain sungguh luar biasa ya.
    Seharusnya pas bapak itu tanya, kok kamu bisa bhasa Inggris jawab aja, di Indonesia hampir 9 tahun wajib belajar bahasa Inggris pak, haha..

    Sukses teruuus!!

    BalasHapus
  2. Kaaaaak, lo makin hitz abis! :")
    Makin ganteng kumisan pasti windy makin cinta. hahaha
    anyway, such an honour banget ya pasti kak bisa dateng kesana dengan misi mulia, berbagi cerita dan liputan buat masyarakat tanah air. Lanjutkan!

    BalasHapus
  3. whuaaa,,,,reza kuerenn yah,,,btw jawabanya vita kocak abis ttg bisa b ing,,hahhaa

    BalasHapus
  4. Hai Reza! Wah, menarik nih kok kita bisa nyambung lagi ya, kamu berarti kemarin ke Leipzig sama CEO ku, Mba Sari Meutia dari Penerbit Mizan hehe. Sukses terus ya Reza :)

    Anti

    BalasHapus
  5. mabuuu, itu gara2 cukur kumis gw ketinggalan. hahahaha. bener juga harusnya gw bilang 9 tahun berbahasa inggris gitu ya, pasti indonesia lebih WUAAAAH di mata si bapak itu.

    suci, iya pengalaman berharga banget waktu ke sana, pengen lagi, hahaha.

    biah iya si mabu emang suka out of the box kocak

    kak antiii, wah bu sari iya aku ketemu beliau sempat satu trem, ngobrol beberapa hal. seru. salam buat bu sari :)

    BalasHapus
  6. Kata Mba Sari, dia kaget kamu wartawan Metro, kirain masih mahasiswa katanya :p

    BalasHapus