Selasa, 12 Juli 2011

Fusion Music Festival 2011 (Hari Kedua)

Sebelum menjelajahi hari kedua Fusion Music Festival 2011, saya tampilkan dulu tweet yang dikicaukan panitia di pos terakhir pagelaran itu.

Semua pihak tentu menyayangkan insiden diatas. Tapi sudahlah, kita masih punya mocca, blabla seperti yang dijanjikan panitia. Mari simak aksi mereka.

Panggung ballroom menjadi pemantik acara. Jika amplifier di ruang ini sudah memanas, maka itu tandanya kartu domino pertama telah dijatuhkan, rangkaian pengisi acara lain akan menambah riuhnya Fusiomusic 2011. Adalah Kuas Cielo, band tuan rumah yang terdiri dari kawanan lima orang itu melontarkan balak nada pertama. Beberapa lagu mereka tiupkan di antara hembusan AC yang memadati panggung indoor itu. Karakter vokal yang menempati oktaf atas menjadi ciri tersendiri band yang berulang tahun di penampilannya hari itu. Kontemplatif dan megah adalah dua kesan yang timbul dari karya mereka. Tolong beri ruang, Kuas Cielo akan menghajar hari.






Urungnya kehadiran Glenn Fredly memang berkontribusi terhadap timbulnya 'titik hitam' penyelenggaraan acara. Apalagi Music For Sale juga batal mengisi acara dengan motif yang belum saya ketahui hingga sekarang. Tapi jangan khawatir, kita masih punya hamparan putih yang lebih banyak dari titik tadi, tengok saja susunan acara di bawah ini. Jumlah artis yang hadir masih lebih banyak. Masih banyak cara untuk bersenang-senang.


Antrian kedua di belakang Kuas Cielo dihuni sebuah band bernama Djuanda. Tak banyak hal unik yang saya dapati dari mereka. Djuanda sepertinya cocok dinikmati mereka yang juga audiens setia American Idol (Djuanda memainkan salah satu lagu yang aslinya dibawakan alumni kontes itu).
Siang itu Bogor cerah. Warna-warni yang muncul pasti akan terlihat serasi. Flavalicious MAX!! membuktikannya. Tampil dengan kombinasi warna-warna tajam, komplotan tukang gebuk ini tampil memukau. Siapa sangka alat-alat yang sejatinya bukan instrumen musik, mereka modifikasi menjadi sumber nada. Peraih hat trick IPB Art Contest ini mengawali hari kedua di panggung outdoor Fusiomusic dengan atraksi instrumental-kinestetik-vokal selama rentang puluhan menit jatah penampilannya. Tak banyak musisi yang memiliki konsep seperti yang mereka praktikkan, sementara menjadi unik dan menyandang gelar one and the only adalah salah satu syarat seorang seniman untuk tetap eksis. Semoga Flavalicious bisa membuktikannya hingga belas-puluh tahun mendatang.












Flavalicious MAX!! from rheza ardiansyah on Vimeo.

Geser kiri dari panggung Flava, saya mendapati band di bawah ini. Jazz adalah warna yang mereka tampilkan. Menyanyikan lagu musisi lain masih jadi trik yang mereka tampilkan dari atas pentas.

Jika di hari pertama banyak pria yang betah menyaksikan Raisa, maka giliran banyak wanita yang tertahan di hadapan panggung Arlan hari berikutnya.

Satu lagi band jazz yang tampil di Fusiomusic 2011, JAR Project namanya. Mereka tampil di panggung yang sehari sebelumnya diinjak /RIF yang hanya menyanyikan satu lagu.


Warna musik lain Fusiomusic makin beragam dengan tampilnya Jelang UAN. Kelompok yang menyanyikan lagu-lagu parodi ini sukses mengukuhkan diri sebagai musisi humoris. Agar interaksi dengan audiens berlangsung secara 2.0, Jelang UAN membekali penonton dengan contekan lirik lagu yang mereka bawakan.

Jelang UAN from rheza ardiansyah on Vimeo.




Andai saja kamu ada di ballroom sekitar sejam sebelum jeda maghrib, kamu akan menemukan band ajaib ini. Everyday namanya. Soal musik oh sudahlah tidak usah kita ragukan lagi. Kamu yang tidak tahan ingin bergoyang bersama mereka sebaiknya meminta teman untuk menemani, karena meski musiknya memang danceable, tak ada audiens yang berani menemani pengisi acara menari mengikuti irama. Panggung yang mereka injak saat itu adalah panggung terakhir untuk nama Everyday. Ucup dan kawan-kawan akan berganti nama. Entah jadi apa nama baru band itu nantinya. Entah apa juga alasan yang melatari penggantian nama itu. Saya yakin pergantian nama band itu tidak ada kaitannya dengan perubahan nama Peterpan. :D

Everyday from rheza ardiansyah on Vimeo.





Warna langit perlahan menjadi biru suram, hari mulai gelap. Sementara itu Souljah masih asyik bergoyang dengan ska-reggaenya. Saat Mars Jangkrik mulai dinyanyikan hingga beberapa baris awal, terjadi sebuah keanehan. Cek saja video di bawah ini.

Stopped Souljah from rheza ardiansyah on Vimeo.

"Ini acara teraneh yang pernah dihadiri Souljah," ujar vokalis pria. Pernyataan itu muncul sebagai ekses dari penghentian penampilan Souljah di Mars Jangkrik tadi. Pasalnya, Mars Jangkring berderik bersamaan dengan kumandang adzan.

Souljah from rheza ardiansyah on Vimeo.
















Kembali ke ballroom adalah satu-satunya pilihan saat semua panggung outdoor sibuk dengan soundcheck. Band yang (sayangnya) saya lupakan namanya ini begitu ramai dengan penonton. Mereka membawakan musik yang kental aroma jazz, meski masih musik aransemen ulang. Ternyata, penyanyi band ballroom ini adalah penyanyi di panggung outdoor yang tampil setelah Flavalicious. Pemain gitar di panggung outdoor tadi adalah pemain gitar di hari pertama yang memakai kaos Lamb of God dan memainkan jazz. Bassis di panggung outdoor tadi juga pernah bermain bass juga kemarin siang dan tadi siang. Apalagi peniup saksofon. Kemunculannya yang tak jarang menyiratkan bahwa tak banyak musisi yang bisa memainkan istrumen itu. Benarkah demikian? Banyak sekali ternyata irisan antar band yang tampil dalam wujud personil-personilnya. Saya tak berani berspekulasi tentang alasan terjadinya fenomena ini, silahkan menebak-nebak. :D

Kalau di negeri bule sana ada Boyz II Men, Bogor punya Boyz II Boys. Boyz yang terakhir tadi adalah kelompok musik yang dipadu dengan aksi beatbox. uniquely creative. Melalui akun twitternya, panitia mengklaim audiens yang menyaksikan kelompok vokal ini melebihi audiens yang menikmati RAN, bahkan dua kali lipatnya. Oh ya?

Boyz II Boys from rheza ardiansyah on Vimeo.



Mocca tampil setelah Boyz II Boys gulung panggung. Penampilan band yang hendak vakum ini dihiasi guyuran hujan. Arina dan kawan-kawan berhasil menyihir tak sedikit penonton yang rela basah-basahan demi menyaksikan aksi pujaan mereka.














Mocca - Lucky Me (Live From Fusion Music Festival 2011) from rheza ardiansyah on Vimeo.



Kita akhirnya tiba di penghujung acara. The Extra Large diberi kehormatan menjadi juru khatam. Duet dengan Pandji Pragiwaksono adalah puncaknya. Rapper multitalenta itu tampil enerjik diantara para personil band yang semua bajunya berukuran XL atau mungkin lebih besar.


The Extra Large feat. Pandji from rheza ardiansyah on Vimeo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar