Kamis, 17 September 2015

Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz: Menjelajahi Sugapa


Sugapa adalah salah satu dari delapan distrik atau kecamatan di Kabupaten Intan Jaya. Ia berada di pusat kabupaten, sehingga kantor pemerintah kabupaten, pasar, bandara, ada di distrik itu. Setibanya di Sugapa, saya dan para peserta ekspedisi carstensz beristirahat di rumah milik Maximus Tipagau, pemandu pendakian kami. Tak lama duduk diam, Maximus mengajak kami berkeliling Sugapa.



Maximus berteriak-teriak. Katanya, itu tanda buat warga di seberang lembah bahwa kami akan menuju ke sana. Meski tidak ada yang menjawab teriakan kami, suara bernada sederhana itu terus digaungkan. Setelah menuruni bukit, kami tiba di sungai wabu. Dari kejauhan, sudah tampak blok-blok kecil di pinggirannya. Ternyata setelah didekati, itu batu kali yang ditumpuk. Warga Sugapa yang mayoritas suku moni menjualnya seharga 300 ribu per tumpukan. Kami pun terus menyusuri sungai itu, hingga bertemu Octavianus Sondegau, kepala suku moni. Saya pun sempat mewawancarai pria sepuh beristri dua puluh itu. Usai merekam pembicaraan itu, anak-anak suku moni mulai mengekori kami.



Di sebuah tepian sungai, seorang anak memberikan saya sebilah batu. Awalnya saya heran, apa maksud anak itu menunjukkan batu kali. Ternyata, di bagian dalam batu yang pecah itu, terlihat kilauan logam. Indah sekali. Alam Papua memang kaya. Menurut staf khusus presiden Lenis Kogoya, di dalam buku Rekam Jejak Sebuah Refleksi yang ditulis oleh seorang warga Intan Jaya dan dibagikan ketika upacara 17 Agustus, Intan Jaya kini menjadi objek eksplorasi perusahaan tambang PT Freeport. Semoga kekayaan alam Intan Jaya juga turut menyejahterakan warganya.


Melewati sebuah jembatan rusak pembatas antar distrik
Beberapa kali, sepatu saya buka karena harus menyeberang sungai. Setelah beberapa kali melintasi aliran air, kami tiba di garis finish. Masih sungai wabu yang sama, tapi peruntukannya beda. Di sana, kami berenang. Menyenangkan sekali berenang di air dingin berarus cukup kuat itu. Setelah selesai berenang, anak-anak melempari pucuk pohon paku dengan batu. Yang tembakannya mengena, dia menang. Lemparan batu Maximuslah yang ternyata mematahkan pucuk itu. Semua pun bersorak. Selanjutnya, kami menghangatkan diri di sekeliling sebuah perapian.



Etape terakhir penjelajahan di Sugapa adalah sebuah jalan setapak yang di kiri kanannya jurang. Saya berlari di sana, dan kamera udara merekamnya. Alhasil, gambar itu pun mendapat respon positif setelah tayang. Meski mungkin saja yang merespon negatif juga ada, tapi tidak disampaiknya. Hehe.
Sore itu berakhir dengan wawancara bersama Maximus. Selain menceritakan tentang dirinya, ia juga memaparkan cita-cita untuk menjadikan Intan Jaya maju, terutama melalui sector pariwisata yang diuntungkan karena kabupaten itu menjadi jalur pendakian ke puncak tertinggi di Indonesia, puncak Carstensz. []




























Tim liputan Metro TV berhalangan ikut sampai puncak Carstensz karena keterbatasan waktu. Sulung, wartawan Sinar Harapan dan Afif dari Detik News menempuh jalan melalui distrik Ugimba dan berhasil mencapai puncak.
*sebagian foto milik Brian Media Indonesia

2 komentar: